Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

ADIL DAN BIJAKSANA


Tim Akhlak

Inshaf atau berbuat adil dan memperhatikan keadilan adalah salah satu dasar dan pokok akhlak Islam dalam bermasyarakat. Hubungan sifat adil dalam masyarakat ialah apa yang kita ketahui tentang kebenaran dan keadilan itu harus kita terapkan meskipun hal itu terhadap diri kita sendiri. Dengan kata lain, setiap apa yang kita sukai dan mengharapkannya dari orang lain, kemudian mereka berbuat untuk kepentingan kita, maka dengan senang hati kita berbuat untuk mereka, kita menunaikan hak mereka.
Masalah keadilan dan menjaganya dalam hubungan bermasyarakat dari sisi tersebut (berbuat benar dan adil) mempunyai peranan penting, agar kehidupan sosial manusia dapat berjalan dengan baik dan benar, dan memperhatikan hak-hak semua orang harus memiliki dasar dan ukuran yang kuat yang dapat memutuskannya. Dasar dan ukuran itu bagi setiap orang atau kelompok tidak harus berbeda dengan yang lain. Lebih jelasnya ialah bahwa tidak diperkenankan bagi sekelompok orang di masyarakat yang hanya bersepakat bilamana dasar dan ukuran itu bermanfaat bagi diri mereka. Dan jika itu merugikan diri mereka, mereka mengajukan perubahan. Di sinilah, letak permasalahan mendasar, bahwa kebanyakan manusia paling ahli menjelaskan tentang kebenaran, tetapi pada praktiknya, bila hal itu merugikan diri mereka, mereka tidak melaksanakannya dan tidak ada rasa tanggung jawab.
Dalam hal ini, Imam berkata, “Wilayah definisi dan pengertian kebenaran adalah paling luas dari segala sesuatu, namun dalam pengamalannya adalah paling sempit dari segala sesuatu.” (al-Bihâr, juz 27, bab 13, hadis ke-14)
Maksudnya adalah orang-orang sangat mampu berbicara tentang hak dan kebenaran dan menjelaskannya dengan panjang lebar. Namun pelaksanaannya dalam memperhatikan dan menunaikan hak orang lain adalah kosong dan amat sulit bagi mereka.
Dari sini, tentang masalah tersebut dalam sumber Islam (Al-Quran dan hadis) adalah sangat penting dan diperhitungkan. Amat ditekankan agar orang menjaga kesadaran dalarn hubungan dengan masyarakat. Beberapa ayat Al-Quran menyatakan bahwa letak yang paling sensitif dan yang paling kukuh adalah keadilan dan kebenaran, yaitu sekiranya menjaga keadilan dan kebenaran itu menuntut diri kita atau keluarga dan kerabat kita, maka dalam situasi seperti ini sikap tersebut berarti harus mengesampingkan kepentingan dan keuntungan yang bersifat pribadi dan ini sulit sekali dijalankan. Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS al-An’am:152)
Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi. maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS an- Nisa’:135)
Simaklah ayat ini, bahwa setelah Allah swt. menekankan agar memperhatikan keadilan, kemudian menyebutkan dua hal yang penting, yaitu pertama, boleh jadi memperhatikan kebenaran dan kesadaran akan membawa mudarat bagi diri manusia dan keluarganya. Dalam kondisi seperti ini, perlu diingatkan agar jangan sampai seseorang mementingkan kepentingan dan keuntungan pribadi atas nama keadilan dan kesadaran.
Kedua, sering terjadi kita memandang sepihak dalam memperhatikan kebenaran dan keadilan. Contohnya, boleh jadi kita diperkenalkan kepada orang yang miskin, yang menyatakan bahwa kebenaran berpihak kepadanya padahal sebenarnya kebenaran bukan di pihaknya, atau karena mengharapkan kekayaan orang kaya, maka kebenaran berada di pihaknya. Padahal, kebenaran bukan di pihaknya. Dalam ayat setelahnya, Allah juga menekankan dan mengancam agar jangan sampai kita memberi kesaksian karena kekayaan, atau kemiskinan yang bertentangan dengan keadilan dan kesadaran.
Dalam ayat lain yang berkenaan dengan itu, Allah menyatakan, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Maidah:8)
Dalam ayat ini dapat juga diperhatikan bahwa Allah swt. setelah memerintankan agar berbuat adil, lalu menegaskan agar jangan sampai kita karena maksud buruk terhadap orang lain, keluar dari wilayah keadilan. Mengapa ini sering terjadi pada umat manusia? Karena amarah dan rasa dendam, ia berbuat buruk terhadap sesama. Dan biasanya dalam situasi seperti itu, mustahil mereka atau mereka sangat sulit memperhatikan keadilan dan kebenaran.
Selain dalil ayat, juga banyak dalil hadis Nabi dan para imam suci as. seputar keutamaan, kedudukan, dan anjuran untuk menjaga keadilan dan kebenaran serta dampak-dampaknya.
Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang paling adil adalah orang yang dirinya rela karena kerelaan orang lain dan ia tidak rela kerena ketidakrelaan orang lain.” (al-Bihâr, juz 75, bab 35, hadis ke-l),
Beliau juga bersabda, “Sesiapa yang membantu orang fakir dan ia berbuat keadilan terhadap orang itu, maka dialah orang mukmin yang hakiki.” (al-Bihâr, juz 75, bab 35, hadis ke-5)
Dalam hadis lain, Imam Ali as. menyatakan bahwa berbuat adil adalah sumber kemuliaan, “Sesiapa yang bersikap adil terhadap dirinya dan kepada manusia niscaya akan Allah tambahkan kemuliaannya.” (hadis no. 25)
Dengan memperhatikan pengertian sikap adil pada awal pelajaran ini, dalam hadis diterangkan tentang batas dan eksistensi sikap adil. Imam Ali as. dalam wasiatnya kepada putranya, Imam Hasan Mujtaba as., berkata, “Wahai anakku! Jadikanlah dirimu sebagai tolok ukur bagi orang di sekitarmu dan bagi orang selainmu. Maka apa yang kamu cintai, cintailah untuk orang lain. Dan apa yang kamu benci, maka bencilah untuk orang lain. Janganlah kamu berbuat aniaya sebagaimana kamu tidak suka dianiaya dan berbuat baiklah sebagaimana kamu suka diperlakukan dengan baik. Apa yang kamu pandang buruk dari orang lain maka pandanglah keburukan dari dirimu, relakanlah orang-orang sebagaimana yang mereka relakan darimu. Dan jangan kamu katakan apa yang tidak kamu ketahui dan katakanlah apa yang kamu ketahui, dan janganlah kamu lakukan kepada orang lain apa yang tidak kamu sukai.” (hadis 21)
Banyak sekali riwayat tentang sikap adil yang menyatakan, “Sikap adil manusia terhadap dirinya.” Ibarat ini telah disebutkan dalam sebuah hadis Nabi saw. di awal pembahasan. Juga dalam sebuah hadis dari Imam Ali as. yang maknanya adalah ketika kita dengan orang lain memutuskan suatu perkara, maka kita memprioritaskan orang lain. Setiap kebenaran di pihak kita, maka kita menyampaikan kebenaran itu kepada orang lain. Di sisi lain, kita juga melontarkan peringatan kepadanya. Sampaikanlah kebenaran kita dan tidak selamanya kebenaran itu di pihak kita, tetapi setiap kesalahan berada di pihak kita, maka kita biasanya mempertahankannya dengan berbagai alasan agar kita tidak dikenakan sanksi.
Imam Ali dalam suratnya yang terkenal kepada Malik al-Asytar mengatakan, “Bersikaplah adil terhadap dirimu kepada Allah dan kepada manusia dan terhadap kerabat dan orang-orang yang dekat denganmu.” Diterangkan pula dalam beberapa ujaran-ujaran singkat (kalimat al-qishar) Imam [dalam Nahj al-Balâghah] tentang dampak-dampak sikap adil, antara lain:
l-“Sikap adil akan melestarikan rasa cinta.”
2-“Sikap adil dapat melunakkan hati.”
3-“Sikap adil akan mengangkat perselisihan dan melahirkan kebersamaan.”
4-“Sikap adil melahirkan ketentraman.”
5-“Sikap adil dapat melestarikan kebersamaan.”
6-“Orang yang bersikap adil memiliki banyak pecinta dan pembela.”

Anjuran Akhlak

Dari semua pembahasan dalam pembahasan ini, telah dijelaskan melalui dalil ayat dan hadis tentang sikap adil dan bijaksana serta memperhatikan sikap tersebut dalam hubungan sosial. Dapat kami petik sebuah kesimpulan bahwa sikap adil (inshaf) adalah tidak membedakan antara orang lain dengan dirinya dalam semua urusan hak-hak sosial. Semua dampak, hasil dan nilai dari sikap ini terwujud dalam suasana yang tidak membedakan antara satu dengan yang lain di tengah kaum mukmin dalam masyarakat Islam. Maka, sebagaimana yang dikatakan Imam Ali as., dapat dipastikan akan adanya kedamaian, kebahagiaan, kebersamaan, dan kasih sayang serta keakraban dalam masyarakat. Namun, hal yang penting di sini ialah bahwa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah merupakan perkara moralitas yang sangat kukuh. Faktor yang menyebabkan itu adalah karena adanya mencintai diri sendiri. Manusia pada hakikatnya mencintai dirinya dan ia menginginkan sesuatu untuk dirinya. Oleh karena itu, sulit sekali menghilangkan sifat yang melekat ini. Imam Shadiq as. berkata, “Maukah aku kabarkan kepada kalian kewajiban dari Allah yang paling berat bagi makhluk-Nya? (Kemudian Imam menyebutkan tiga kewajiban yang paling pertama adalah) bersikap adil terhadap masyarakat.” (al-Bihâr, juz 69, bab 38, hadis ke-89)
Sebuah riwayat menceritakan, “Sebagian sahabat yang setia kepada Imam Shadiq as. menulis surat menanyakan tentang persoalan yang mereka hadapi. Melalui seseorang yang bernama Abdul A’la (surat itu) dikirim ke Imam di Madinah. Mereka juga berpesan kepadanya untuk bertanya langsung kepada Imam tentang hak-hak yang harus dipenuhi oleh seorang Muslim terhadap orang lain.
Ia berkata, “Aku bertemu dengan Imam Shadiq as. dan aku sampaikan surat (mereka) kepada beliau. Kemudian aku menanyakan soal hak-hak orang mukmin dan menunggu jawaban dari Imam. Dan beliau menjawab semua pertanyaanku kecuali satu pertanyaan yang belum terjawab.”
“Suatu hari ketika aku ingin pulang dari Madinah, aku menemui Imam untuk mengucapkan selamat tinggal. Kembali aku tanyakan, “Pertanyaanku belum engkau jawab!”
Imam berkata, “Aku takut bila hakikat ini aku katakan, kalian tidak mengamalkannya dan keluar dari agama kalian.”
“Di antara tugas-tugas syariat yang paling berat yang diwajibkan bagi hamba-hamba-Nya ialah tiga perkara: pertama, menjaga sikap adil dan bijaksana antara sesama; kedua, tidak mempersulit saudaranya yang Muslim dan memperhatikan keadaan mereka; ketiga, mengingat Allah dalam segala hal. Maksudnya bukanlah orang yang selalu mengucapkan subhanallâh dan alhamdulillâh, tetapi maksudnya adalah bilamana ingin mengerjakan hal yang haram, di saat itu, ia mengingat Allah dan ia meninggalkan perbuatan itu.”
Karena itu, memperhatikan sikap adil dan bijaksana terhadap orang lain, dalam pandangan Imam as., adalah tugas terberat (manusia). Karena itu pula, bersikap adil memerlukan perjuangan dan pengorbanan melawan hawa nafsu. Dan dengan usaha serta sabar, maka tahap demi tahap akan mampu mengalahkan hawa nafsu, yang jika yang benar di pihak orang lain, maka ia harus mengutamakannya dari dirinya sendiri.

Etika Islam; Penerbit Al-Huda, Jakarta; Juli 2003/ Jumadil Ula 1424 H.; Hal. 106 – 113.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+10 =