Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

KUMPULAN PENGADUAN DAN KELUHAN IMAM ALI AS DALAM NAHJUL BALAGHAH



Penduduk Kufah Yang Tidak Setia

“Ya Allah, Tuhanku, mereka letih dengan saya dan saya letih dengan mereka. Tukar mereka bagi saya dengan yang lebih baik, dan tukarlah saya bagi mereka dengan yang lebih buruk. Ya Allah, larutkanlah hati mereka seperti garam larut dalam air. Demi Allah, saya berhasrat kiranya saya hanya mempunyai seribu orang berkuda Bani Firas ibn Ghanm” (seperti kata sang penyair):
Bila kaupanggil, mereka datang padamu Berkuda seperti awan musim panas.
(Sesudah itu Amirul Mukminin turun dari mimbar).[1]

Apa Yang Aku Dapatkan Dari Umat

“Saya sedang duduk ketika tidur menyusuli saya. Saya melihat Rasulullah saw muncul di hadapan saya, lalu saya berkata, "Ya Rasulullah, betapa besar kebengkokan dan permusuhan yang harus saya hadapi dari manusia." Rasulullah saw menjawab, "Mohonlah (kepada Allah) agar keburukan menimpa mereka." Tetapi saya katakan, "Semoga Allah akan menggantikan mereka bagi saya dengan yang lebih baik, dan menggantikan saya bagi mereka dengan yang lebih buruk."” [2]

Kecelakaan Bagi Kalian

“Celaka bagi Anda. Saya telah capai mencela Anda. Apakah Anda menerima kehidupan duniawi ini sebagai ganti kehidupan yang akan datang? Atau kehinaan sebagai ganti kehormatan? Bilamana saya mengundang Anda berjihad melawan musuh Anda, mata Anda berputar seakan-akan Anda berada dalam cengkeraman maut, dalam ketidaksadaran di saat-saat terakhir. Permohonan saya tidak Anda pahami, dan Anda hanya terpukau. Seakan-akan hati Anda dipengaruhi kegilaan sehingga Anda tidak mengerti. Anda telah menghilangkan kepercayaan saya untuk selamanya. Tidaklah Anda merupakan suatu dukungan bagi saya untuk diandalkan, bukan pula sarana bagi kehormatan dan kemenangan. Anda ibarat unta-unta yang kehilangan pelindungnya, sehingga apabila mereka dikumpulkan dari satu sisi mereka tersebar menjauh dari sisi lain…”[3]

Hatiku Dipenuhi Darah Dari Kalian

“Semoga Allah memerangi Anda; Anda telah mengisi hati saya dengan nanah dan memuat dada saya dengan keberangan. Anda membuat saya meminum tegukan-tegukan penuh kesedihan satu demi satu…”[4]

10 Orang Dari Kalian Dengan 10 Orang Dari Mu’awiyah

“Demi Allah, saya ingin Mu'awiah bertukaran dengan saya seperti dinar dengan dirham sehingga ia mengambil dari saya sepuluh di antara Anda dan memberikan kepada saya satu dari mereka.
Wahai penduduk Kufah, saya telah mengalami dalam diri Anda tiga hal dan dua lainnya: Anda tuli walaupun Anda bertelinga, bisu walaupun bercakap, buta walaupun bermata. Anda bukan pendukung yang sebenarnya dalam pertempuran, dan bukan pula sahabat yang dapat diandalkan dalam kesedihan.” [5]

Wahai Orang-orang Yang Celaka Apa Yang Kalian Nantikan?

“Saya berhadapan dengan manusia yang tidak menaati bila saya perintahkan, dan tidak menyahut bila saya memanggilnya. Celakalah Anda! Apa yang Anda nantikan untuk bangkit pada Jalan Allah? Tidakkah iman menggabungkan Anda bersama-sama atau rasa malu membangunkan Anda? Saya berdiri di antara Anda sambil berteriak, tetapi Anda tidak mendengarkan perkataan saya, dan tidak menaati perintah-perintah saya…”[6]
Di Manakah Saudara-saudaraku?
“Di manakah saudara-saudara saya yang mengambil jalan (yang benar) dan melangkah dalam kebenaran? Di manakah 'Ammar? [7] Di manakah Ibn at-Tayyihan? [8] Di mana Dzusy-Syahadatain? [9] Dan di manakah yang lain-lain seperti mereka di antara para sahabat tnereka yang telah membaiat sampai mati dan yang kepalanya (yang tertebas) dibawa kepada musuh yang keji?” [10]
Kemudian Amirul Mukminin menggosokkan tangannya ke janggutnya yang mulia lalu menangis dalam waktu lama. [11]
Apa Yang Diinginkan Usman Dariku?
Ketika Utsman ibn Affan dikepung, Abdullah ibn Abbas membawa sepucuk surat kepada Amirul Mukminin dari Utsman di mana ia mengungkapkan keinginan agar Amirul Mukminin pergi ke kebunnya Yanbu' supaya usul yang sedang diperbincangkan untuk menjadikannya khalifah mereda. Atasnya Amirul Mukminin berkata kepada Ibn Abbas:
“Wahai Ibn Abbas! Utsman hanya hendak memperlakukan saya sebagai unta penarik timba air agar saya maju dan mundur dengan ember. Sekali ia mengirim pesan bahwa saya harus pergi, kemudian ia mengirim pesan bahwa saya harus kembali. Sekarang, lagi ia mengirim pesan kepada saya supaya saya pergi. Demi Allah, saya terus melindunginya sampai saya takut kalau-kalau saya menjadi pendosa.” [12]
www.balaghah.net

1. Nahjul Balaghah, Khutbah ke-25.
2. Khutbah ke-70.
3. Khutbah ke-34.
4. Khutbah ke-27.
5. Khutbah ke-97.
6. Khutbah ke-39.
7. Ammar ibn Yasir ibn 'Amir al-'Ansi al-Madzhiji al-Makhzûmi masuk Islam di masa dini, dan Muslim pertama yang membangun mesjid dalam rumahnya sendiri di mana ia beribadah kepada Allah. (Ibn Sa'd, ath-Thabaqât al-Kubra, III, bagian I, h. 178; Usud al-Ghâbah, IV, h. 46; Ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 311).
Ammar masuk Islam bersama ayahnya Yasir dan ibunya Sumayyah. Mereka mengalami siksaan di tangan kaum Quraisy karena masuk Islam. Ayah dan ibu 'Ammar syahid dalam siksaan, lelaki dan wanita pertama yang syahid dalam Islam.
Banyak hadis diriwayatkan dari Nabi saw mengenai kebajikan, perilakunya yang menonjol dan amal perbuatannya yang mulia, seperti hadis yang diriwayatkan dari Nabi oleh A'isyah dan lain-lainnya bahwa Nabi telah bersabda, bahwa Ammar dipenuhi dengan iman dari ubun-ubun kepalanya sampai ke tapak kakinya. (Ibn Majah, as-Sunan, I, h. 65; Abu Nu'aim, Hilyah al-Auliyâ', I, h. 139; al-Haitsamî, Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 295; al-Istî'âb, III, h. 1137; al-Ishâbah, II, h. 512)
Dalam sebuah hadis lain Nabi berkata tentang Ammar, "Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ammar. la berpaling ke mana saja kebenaran berpaling. Ammar dekat kepadaku seperti dekatnya mata dengan hidung. Sayang, suatu kelompok pendurhaka akan membunuhnya." (ath-Thabaqât, jilid III, bagian i, h. 187; al-Mustadrak, III, h. 392; Ibn Hisyam, as-Sîrah, II, h. 143; ibn Katsir, Târîkh, VII, h. 268, 270)
Juga dalam hadis mutawatir dan dikenal luas yang telah disalurkan oleh al-Bukhârî (dalam ash-Shahîh, VIII, h. 185-186), Tirmidzi (dalam al-Jami' ash-Shahîh), Ahmad ibn Hanbal (dalam al-Musnad, II, h. 161, 164, 206; III. h. 5, 22, 28, 91; IV, h. 197, 199; V, h. 215, 306, 307; VI, h. 289, 300, 311, 315), dan semua periwayat hadis dan sejarawan menyalurkan melalui 25 sahabat bahwa Nabi bersabda, "Sayang! suatu kelompok pendurhaka yang menyeleweng dari kebenaran akan membunuh Ammar. Ammar akan menyeru mereka ke surga dan mereka menyerunya ke neraka. Pembunuhnya dan orang-orang yang merebut senjata dan pakaiannya akan berada di neraka."
Ibn Hajar al-'Asqalani (dalam Tahdzîb at-Tahdzîb, h. 409; al-Ishâbah, II, h. 512) dan as-Suyûthî (dalam al-Khashâ'ish al-Kubrâ, II, h. 140) mengatakan, "Riwayat hadis (tersebut di atas) ini adalah mutawâtir." Yakni, hadis itu diriwayatkan secara berurut-turut oleh sekian banyak orang sehingga tidak ada keraguan mengenai keasliannya.
Ibn Abdul Barr (dalam al-Istî'âb, III, h. 1140) mengatakan, "Hadis itu mengikuti kesinambungan tanpa putus dari Nabi, bahwa beliau berkata, “Suatu kelompok pendurhaka akan membunuh Ammar”, dan ini adalah suatu ramalan dari pengetahuan rahasia Nabi dan tanda kenabiannya. Hadis ini termasuk yang paling sahih dan yang tercatat secara paling tepat.
Setelah wafatnya Nabi, Ammar termasuk penganut dan pendukung terbaik Amirul Mukminin as dalam masa pemerintahan ketiga khalifah pertama. Dalam masa kekhalifahan Utsman, ketika kaum Muslim memprotes kepada Utsman terhadap kebijakannya dalam pembagian harta baitul mal, Utsman berkata dalam suatu pertemuan umum bahwa uang yang berada dalam perbendaharaan adalah suci dan adalah milik Allah, dan bahwa dia (sebagai khalifah Nabi) berhak untuk membelanjakannya menurut yang dianggapnya pantas. Utsman mengancam dan mengutuk semua yang hendak memprotes atau menggerutu atas apa yang dikatakannya. Atasnya, Ammar ibn Yâsir dengan beraninya menyatakan keberatannya dan mulai menuduh kecondongannya yang telah mendarah daging untuk mengabaikan kepentingan rakyat umum; ia menuduhnya telah menghidupkan adat kebiasaan kaflr yang dihapus oleh Nabi. Atasnya Utsman memerintahkan supaya ia dipukuli, dan beberapa orang dari kalangan Bani Umayyah, kerabat Khalifah, segera menyerang Ammar yang mulia itu, dan khalifah itu sendiri menyepak kemaluan Ammar dengan kaki bersepatu, yang menyebabkan ia menderita hernia. Ammar pingsan selama tiga hari dan dirawat oleh Ummul Mu'minin Ummu Salamah di rumahnya (Ummu Salamah). (al-Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf, V, h. 48, 54, 88; Ibn Abil Hadid, III, h. 47-52; al-Imâmah was-Siyâsah, I, h. 35-36; al-'lgd al-Farîd, IV, h. 307; ath-Thabaqât, III, bagian i, h. 185; Târîkh al-Khamîs, II, h. 271)
Ketika Amirul Mukminin menjadi khalifah, Ammar adalah salah seorang pendukungnya yang paling setia. la ikut serta dalam semua kegiatan sosial, politik dan militer dalam masa itu, terutama dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin.
Namun, Ammar gugur dalam Perang Shiffin pada 9 Safar 37 H. dalam usia lebih sembilan puluh tahun. Pada hari syahidnya, Ammar ibn Yasir menghadap ke langit seraya berkata, "Ya Allah Tuhanku. Sesungguhnya Engkau tahu bahwa apabila aku mengetahui bahwa kehendak-Mu supaya aku menerjunkan diri ke Sungai (Efrat) dan tenggelam, aku akan melakukannya. Ya Allah Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa apabila Engkau rida sekiranya aku menaruh pedang di dada dan menekannya keras-keras sehingga keluar di punggungku, aku akan melakukannya. Ya Allah Tuhanku! Aku tidak mengira ada sesuatu yang lebih menyenangkan bagi-Mu daripada berjuang melawan kelompok berdosa ini, dan apabila kuketahui bahwa suatu perbuatan lebih Engkau ridai, aku akan melakukannya."
Abu Abdur-Rahman as-Sulami meriwayatkan, "Kami hadir bersama Amirul Mukminin di Shiffin di mana saya melihat Ammar ibn Yasir tidak memalingkan wajahnya ke sisi mana pun, atau ke wadi-wadi (lembah) Shiffin melainkan para sahabat Nabi mengikutinya seakan-akan ia merupakan suatu panji bagi mereka. Kemudian saya mendengar Ammar berkata kepada Hasyim ibn 'Utbah (al-Mirqal), "Wahai Hasyim, menyerbula ke barisan musuh, surga berada di bawah pedang. Hari ini saya menemui kekasih saya, Muhammad dan partainya."
"Kemudian ia berkata. 'Demi Allah, sekiranya pun mereka membuat kita lari hingga ke pepohonan kurma Hajar (sebuah kota di Bahrain), namun kita dengan yakin bahwa kita benar dan mereka salah.'
"Kemudian Ammar melanjutkan (berkata kepada musuh):
Kami menyerangmu (dahulu) untuk (beriman) pada wahyu
Dan kini kami menyerangmu untuk tafsirnya;
Serangan yang memisahkan kepala dari tumpuannya;
Dan membuat kawan lupa akan sahabat setianya;
Sampai kebenaran kembali kepada jalannya."'
Lalu ia (as-Sulami) berkata, "Saya tidak (pernah) melihat para sahabat Nabi terbunuh pada saat mana pun sebanyak terbunuhnya mereka pada hari ini."
Kemudian Ammar memacu kudanya, memasuki medan pertempuran dan mulai bertempur. la bersikeras memburu musuh, melancarkan serangan demi serangan, dan mengangkat slogan-slogan menantang sampai akhirnya sekelompok orang Suriah yang berjiwa kerdil mengepungnya pada semua sisi, dan seorang lelaki bernama Abu al-Ghadiyah al-Juhari (al-Fazari) menimpakan luka padanya sedemikian rupa sehingga tak dapat ditanggungnya lalu ia kembali ke kemahnya. la meminta air. Semangkuk susu dibawakan kepadanya. Ketika Ammar melihat mangkuk itu ia berkata, 'Rasulullah telah mengatakan yang sebenarnya.' Orang bertanya kepadanya apa yang dimaksudnya dengan kata-kata itu. la berkata, 'Rasulullah telah memberitahukan kepada saya bahwa rezeki terakhir bagi saya di dunia ini adalah susu.' Kemudian ia mengambil mangkuk susu itu, meminumnya, lalu menyerahkan nyawanya kepada Allah Yang Mahakuasa. Ketika Amirul Mukminin mengetahui kematiannya, ia datang ke sisi Ammar, menaruh kepalanya ke pangkuannya sendiri dan mengucapkan elegi yang berikut, "Sesungguhnya seorang Muslim yang tidak sedih atas terbunuhnya putra Yasir, dan tidak terpukul oleh petaka sedih ini, tidaklah ia beriman yang sesungguhnya.
"Semoga Allah memberkati Ammar di hari ia masuk Islam, semoga Allah memberkatinya di hari ia terbunuh, dan semoga Allah memberkati Ammar ketika ia dibangkitkan kembali.
"Sesungguhnya saya mendapatkan Ammar (pada tingkat sedemikian) sehingga tiga sahabat Nabi tak dapat disebut tanpa Ammar kecuali dia adalah yang keempat, dan empat nama dari mereka tak dapat disebut kecuali Ammar sebagai yang kelima.
"Tak ada di antara para sahabat Nabi yang meragukan bahwa bukan saja surga sekali atau dua kali dilimpahkan dengan paksa kepada Ammar, melainkan ia mendapatkan haknya atasnya (berkali-kali). Semoga surga memberikan kenikmatan kepada Ammar.
"Sesungguhnya dikatakan (oleh Nabi), 'Sungguh, Ammar bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ammar."'
Lalu Amirul Mukminin melangkah maju dan melakukan salat jenazah baginya, dan kemudian dengan tangannya sendiri ia menguburkannya.
Kematian Ammar menyebabkan gejolak besar pada barisan Mu'awiah pula, karena ada sejumlah orang terkemuka yang berperang pada pihaknya berpikiran bahwa peperangan Mu'awiah melawan Amirul Mukminin adalah perjuangan yang benar. Orang-orang itu mengetahui akan ucapan Nabi bahwa Ammar akan dibunuh oleh suatu kelompok yang berada di pihak yang batil. Ketika mereka melihat bahwa Ammar telah terbunuh oleh tentara Mu'awiah mereka menjadi yakin bahwa Amirul Mukminin pastilah di pihak yang benar. Kecemasan di kalangan para pemimpin maupun prajurit tentara Mu'awiah diredakan olehnya dengan argumen bahwa justru Amirul Mukminin yang membawa Ammar ke medan pertempuran dan karena itu ialah yang harus bertanggung jawab atas kematiannya. Ketika argumen Mu'awiah disebutkan kepada Amirul Mukminin, ia mengatakan bahwa seakan-akan Nabi harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Hamzah karena beliau yang membawanya ke Pertempuran Uhud. (ath-Thabari, at-Târîkh, I, h. 3316-3322; III, h. 2314-2319; Ibn Sa'd, ath-Thabaqât, III, bagian i, h. 176-189; Ibn Atsîr, al-Kâmil, III, h. 308-312; Ibn Katsir, at-Târîkh, VII, h. 267-272; al-Minqarî, Shiffin, h. 320-345; Ibn 'Abdil Barr, al-Istî'âb, III, h. 1135-1140; IV, h. 1725; Ibn al-Atsir, Usd al-Ghâbah, IV, h. 43-47; V, h. 267; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balâghah, jilid V, h. 252-258; VIII, h. 10-28; X, h. 102-107; al-Hakim, al-Mustadrak, III, h. 384-394; Ibn 'Abdi Rabbih, al-'Iqd al-Farîd, IV, h. 340-343; al-Mas'ûdî, Murûj adz-Dzahab, II, h. 381-382; al-Haitsamî, Majma' az-Zawâ'id, IX, h. 292-298; al-Balâdzurî, Ansâb al-Asyrâf (biografi Amirul Mukminin), h. 310-319.
8. Abul-Haitsam (Malik) ibn Tayyihân al-Anshari adalah salah seorang dari kedua belas pemimpin (naqîb) kaum Anshar yang bertemu dengan Nabi pada pertemuan 'Aqabah yang pertama, dan termasuk yang hadir dalam pertemuan 'Aqabah yang kedua di mana ia memberikan baiat Islam kepada Nabi. la hadir dalam Pertempuran Badr maupun tempat-tempat pertemuan kaum Muslim di masa hidup Nabi. la termasuk di antara para pendukung setia Amirul Mukminin, yang hadir dalam Pertempuran Jamal dan Perang Shiffin, di mana ia gugur sebagai syahid. (al-Istî'âb, IV, h. 1773; Shiffin, h. 365; Usd al-Ghâbah, IV, h. 274; V, h. 318; al-lshâbah, III, h. 341; IV, h. 312-313; Ibn Abil Hadid, X, h. 108-109; Ansâb al-Asyrâf, h, 319)
9. Khuzaimah ibn Tsabit al-Anshari dikenal sebagai Dzusy-Syahadatain karena kesaksiannya dianggap Nabi sama dengan kesaksian dua orang. la hadir dalam Perang Badr dan pertempuran-pertempuran lainnya maupun tempat-tempat pertemuan kaum Muslim di masa Nabi. la termasuk di antara orang yang paling dini menunjukkan keterpautan kepada Amirul Mukminin, yang juga hadir dalam Perang Jamal maupun Perang Shiffin. 'Abdur-Rahman ibn Abi Laila meriwayatkan bahwa ia melihat seorang lelaki dalam Perang Shiffin memerangi musuh dengan amat gagah berani; ketika ia ditegur karenanya, ia berkata,
"Saya adalah Khuzaimah ibn Tsabit al-Anshari. Saya telah mendengar Nabi berkata, 'Berjihadlah, berjihadlah, di sisi 'Ali.'" (al-Khathib al-Baghdâdî, Mawadhdhih Auhâm al-Jam' wa at-Tafriq, I, h. 277).
Khuzaimah gugur dalam Perang Shiffin segera setelah gugurnya ‘Ammar ibn Yasir.
Si pembohong terkenal, Saif ibn 'Umar al-Usayyidi at-Tamimi, telah mengada-adakan seorang Khuzaimah lain dan mengklaim bahwa dialah orang yang gugur di Shiffin, dan bukan Dzusy-Syahadatain. At-Thabari mengutip cerita palsu itu dari Saif tanpa disengaja atau sebaliknya, dan melaluinya cerita itu mempengaruhi beberapa sejarawan yang mengambil dari Thabari. (Untuk rujukan selanjutnya, lihat al-'Askari, Mi'atu wa Khamsun Ashhâbî Mukhtalag, II, h. 175-189).
Setelah menolak cerita itu, Ibn Abil Hadid berkata, "Lagi pula, apa perlunya bagi orang-orang yang hendak membela Amirul Mukminin untuk membesar-besarkan kebanggaan mengenai Khuzaimah, Abul Haitsam, 'Ammar dan lain-lain. Apabila orang memperlakukan lelaki (Amirul Mukminin) ini dengan adil dan melihatnya dengan mata yang sehat, pastilah mereka akan menyadari bahwa sekiranya ia sendirian pun di (satu pihak) dan seluruh manusia (di pihak lain) memeranginya, ialah yang akan berada dalam kebenaran dan seluruh yang lainnya dalam kebatilan." (ath-Thabagât, III, bagian i, h. 185, 188; al-Mustadrak, III, h. 385, 397; Usd al-Ghâbah, II, h. 114; IV, h. 47; al-Istî'âb, II, h. 448; ath-Thabari, III, bagian i, h. 2316, 2319, 2401; al-Kâmil, III, h. 325; Shiffin, Ansâb al-Asyrâf, h. 313-314).
10. Di antara orang yang hadir dalam Perang Jamal di pihak Amirul Mukminin terdapat 130 peserta Perang Badr dan 700 orang yang hadir dalam Baiat Ridhwan. (adz-Dzahabi, Târîkh al-Islam, II, h. 171; Khalifah ibn Khayyath, at-Târîkh, I, h. 164). Orang yang terbunuh dalam Perang Jamal di pihak Amirul Mukminin sekitar 500 orang sedang pihak Jamal 2.000. (al-'Iqd al-Farîd, IV, h. 326).
Di antara yang hadir di Shiffin di pihak Amirul Mukminin terdapat 80 orang pahlawan Badr dan 800 yang hadir di Baiat Ridhwan. (al-Mustadrak, III, h. 104; al-Istî'âb, III, h. 1138; al-Ishâbah, II, h. 389; at-Târîkh al-Ya'qubi, II, h. 188).
Di pihak Mu'awiah 45.000 orang terbunuh sedang di pihak Amirul Mukminin 25.000 orang. Di antara yang syahid (dari pihak Amirul Mukminin) terdapat 25 atau 26 peserta Perang Badr dan 63 atau 303 orang peserta Baiat Ridhwan. (Shiffin, h. 558; al-Istî'âb, II, h. 389; Ansâb al-Asyrâf, h. 322; Ibn Abil Hadid, X, h. 104; Ibn Katsir, VII, h. 275; Târîkh al-Khamîs, II, h. 277).
Di samping orang-orang yang menonjol dan para sahabat Amirul Mukminin yang terkemuka seperti Ammar, Dzusy-Syahadatain dan Ibn Tayyihan, yang gugur sebagai syahid di Shiffin adalah:
i. Hasyim ibn 'Utbah ibn Abi Waqqash terbunuh pada hari yang sama dengan Ammar. la pembawa panji tentara Amirul Mukminin pada hari itu.
ii. Abdullah ibn Budail ibn al-Warqa" al-Khuza'i yang pernah menjadi komandan sayap kanan dan pernah pula sebagai komandan infantri pasukan Amirul Mukminin.
11. Khutbah ke-182
12. Khutbah ke-240.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+1 =