Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

MENOLAK GAGASAN PERSAMAAN PRIA DAN WANITA


Bakri , M. Amin [*]


- Judul Buku: Hak-hak Wanita dalam Islam
- Penulis: Murtadha Muthahhari
- Penerbit: Lentera, Jakarta
- Cetakan: 2000
- Tebal: xxv + 265 hal.

MENGOMENTARI pertarungan antara pemikiran Barat dengan kehidupan intelektual dan politik Islam yang sudah berlangsung sejak jatuhnya Dunia Islam ke tangan penjajah, Muhammad Baqir al-Shadr pernah menulis:

Adalah suatu keharusan bagi Islam untuk menyatakan pandangannya dalam kancah pertentangan yang pahit ini. Pandangan itu harus kukuh, dalam, jelas, tegas, lengkap, dan komprehensif ―baik yang berhubungan dengan alam semesta, kehidupan, manusia, masyarakat, negara, maupun sistem lain ―sehingga umat dapat memproklamasikan kalimat Allah dalam pertentangan tersebut dan mengajak dunia untuk tunduk kepadanya, sebagaimana umat terdahulu telah melakukannya.

Apa yang ditulis oleh Murtadaha Muthahhari dalam buku, Hak-Hak Wanita dalam Islam, adalah salah satu dari karya yang dimaksudkan untuk tujuan seperti itu. Se'bagai karya yang lahir dari seorang ulama dan pemikir Islam yang integritas keilmuannya sangat dikagumi banyak orang, buku ini pantas untuk mendapat perhatian. Muthahhari bukan hanya seorang ulama tradisional yang menguasai khasanah ilmu-ilmu Islam klasik dari sumber yang paling asli, tetapi ia juga mumpuni dalam ilmu filsafat dan ilmu-ilmu Barat pada umumnya. Jalaluddin Rachmat memujinya:
Ia mengenal secara mendalam segala aliran filsafat sejak Aristoteles sampai Sartre. Ia membaca sebelas jilid tebal Kisah Peradaban, Kelezatan Filsafat, dan buku-buku lainnya yang ditulis oleh Will Durant. Ia menelaah tulisan Sigmund Freud, Bertrand Russel, Albert Enstein, Erich Fromm, Alexis Carrel, dan pemikir-pemikir lainnya dari Barat.

Tapi lagi-lagi sebagai bukti yang menunjukkan kepiawaiannya, Muthahhari sama sekali berbeda dengan para cendikiawan pesantren yang mempelajari Barat karena rasa rendah diri ―lalu dengan bangga mengutip argumen dan teori pakar-pakar barat, sementara malu menyebut pemikir-pemikir Islam ―Muthahhari malah tampil dengan suara Islam yang fasih serta “bertarung” secara dewasa dan elegan.
Perjuangan dan kesungguhan Muthahhari dalam pertarungan pemikiran (ghazwul fikri) melawan Barat itu diungkapkannya dalam karyanya yang terkenal yang berjudul Keadilan Ilahi (al-‘Adlul Ilahi):

Saya mulai menulis buku dan artikel kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Satu-satunya tujuan dalam tulisan-tulisan saya ialah untuk memecahkan masalah-masalah atau memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi Islam dalam zaman kita ini. Tulisan-tulisan saya meliputi masalah-masalah falsafah, sosial, erika, agama, dan sejarah. Walaupun pokok tulisan-tulisan itu mungkin tampak sama sekali berlainan, namun semuanya mempunyai satu tujuan... Islam merupakan agama yang tidak dikenal. Sebenarnya agama ini, sedikit demi sedikit, telah dijungkir-balikkan. Penyebab larinya sebagian orang dari Islam dalam situasi sekarang ialah metode pengajarannya yang salah. Agama suci ini paling dicederai oleh orang-orang yang mengaku pendukungnya. Disatu pihak serbuan penjajahan Barat dengan kekuatan-kekuatannya yang tampak dan tidak tampak dan dilain pihak kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-kekeliruan kebanyakan orang yang mengaku mendukung Islam dalam abad kita ini, yang menyebabkan pemikiran-pemikiran Islam diserang dari segala pihak, dari prinsip-prinsip sampai pada praktek-prakteknya. Itulah sebabnya maka saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan isu-isu ini sejelas mungkin.

Dalam “Islam dan Tantangan Zaman” (1996), Muthahhari menjelaskan bahwa tugas cendekiawan Muslim dalam menjawab tantangan zaman tersebut, bertumpu pada dua masalah penting yang menuntut pemecahan segera. Kedua masalah tersebut adalah: Pertama, pentingnya mengenal dan mengetahui secara benar ajaran Islam yang murni sebagai bentuk filsafat sosial dan keyakinan ketuhanan, aturan pola pikir, dan kepercayaan yang konstruktif, komprehensif, dan akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan. Kedua, pentingnya mengenal dan mengetahui kondisi dan tuntutan zaman. Demikian pula halnya dengan kemampuan membedakan dan memisahkan hasil-hasil kemjuan pengetahuan dan sains dari fenomena-fenomena menyimpang yang memicu tumbuh dan berkembangnya segala bentuk kemerosotan dan kemunduran.
Buku “Hak-Hak Wanita Dalam Islam”―pun ditulis oleh Muthahhari dalam kerangka tujuan yang sama dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Ia terinspirasi oleh ‘gugatan’ bertubi-tubi gerakan sosial Barat yang bertolak dari Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia terhadap ajaran ajaran Islam, terutama berkaitan dengan hak-hak dalam lembaga keluarga. Semboyan dan sekaligus senjata yang selalu digunakan oleh Barat dalam menyorot Islam, dalam pandangan Muthahhari, adalah “kebebasan” wanita dan “persamaan” hak-haknya dengan pria. Karena itu, ia kemudian terpanggil untuk memberikan jawaban dan sanggahan terhadap berbagai serangan dan sorotan yang diarahkan kepada Islam melalui pintu hak-hak wanita dalam sistem keluarga Islam. Buku ini merupakan kumpulan dari artikel-artikel karya Muthahhari yang sebelumnya diterbitkan dalam majalah Zan-e Ruz di bawah judul “Wanita dan Hak-Haknya dalam Islam”.
Muthahhari berpendapat, bahwa masalah yang paling mendasar mengenai sistem hak-hak keluarga, atau sekurang-kurangnya setaraf dengan masalah mendasar tersebut, adalah persoalan apakah system keluarga tidak bergantung pada sosial lainnya, dan apakah ia menggunakan logika dan tolok ukur yang khusus, yang berbeda dengan logika dan kriteria lembaga-lembaga sosial lainnya, atau apakah tidak ada perbedaan antara unit sosial ini dengan unit-unit sosial lainnya.
Bagi Muthahhari, alam telah memberi kepada pria dan wanita kecenderungan, sitar, serta tempramen yang berbeda-beda. Adapun struktur sosial keluarga, sifatnya adalah semialami dan semikonvensional; ia menempati posisi tengah antara struktur sosial instinktif dan struktur sosial berdasarkan konvensi. Muthahhari kemudian memperkuat argumennya dengan merujuk ke beberapa tulisan filosof terdahulu seperti Plato dan Ibnu Sina yang memandang falsafah kehidupan keluarga sebagai suatu cabang tersendiri, yaitu bahwa masalah kehidupan keluarga mempunyai logika dan kriteria tersendiri. Dengan berpijak pada pandangan dasar inilah Muthahhari kemudian mengkaji dan membahas berbagai masalah wanita dalam keluarga seperti persoalan melamar, perkawinan mut’ah, hak-hak keluarga, mahar, nafkah, warisan, perceraian dan poligami. Satu bagian khusus, membahas tentang Islam dan tantangan zaman.
Muthahhari berpendapat bahwa Islam mempunyai falsafah yang khas mengenai hak-hak keluarga bagi pria dan wanita, yang bertentangan dengan apa yang telah terjadi sejak empat betas abad terakhir ini serra yang sedang terjadi di masa ini. Islam tidak meyakini akan satu jenis hak, satu jenis kewajiban, dan satu jenis hukuman bagi pria dan wanita dalam segala hal. Islam memandang satu perangkat hak-hak dan kewajiban serta hukuman lebih cocok bagi si pria, dan satu perangkat lainnya lebih sesuai bagi wanita. Sebagai hasilnya, dalam beberapa hal Islam mengambil sikap yang sama terhadap wanita dan pria, dan dalam hal-hal lain Islam mengambil sikap yang berbeda-beda.
Semua pandangan tersebut bertitik tolak dari sumber paling penting Islam sendiri. Dalam al-Quran, menurut Muthahhari, tidak terdapat satu jejakpun tentang apa yang terdapat di dalam kitab-kitab suci lain: bahwa wanita diciptakan dari suatu bahan yang lebih rendah dari bahan untuk pria, bahwa status wanita adalah parasit dan rendah, atau bahwa Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk kiri Adam. Disamping itu, dalam Islam tidak ada satu pandangan pun yang meremehkan wanita berkenaan dengan watak dan struktur bawaannya.
Yang dijadikan pegangan dalam pandangan Islam ialah bahwa wanita dan pria―atas dasar kenyataan bahwa yang satu adalah wanita dan yang lainnya pria―tidaklah identik dalam banyak hal. Alam ciptaan menunjukkan bahwa dunia mereka tidaklah persis sama, dan watak serta pembawaan mereka tidaklah dimaksudkan supaya identik. Dari segi fisik, normalnya, pria bertubuh lebih besar daripada wanita, lebih tinggi, dan lebih kasar semen tara wanita lebih halus; suara pria lebih keras dan nadanya lebih kasar, sementara suara wanita lebih lembut dan lebih bermelodi; sementara perkembangan otot dan kekuatan badan pria lebih besar daripada wanita.
Dari segi psikis, pria lebih menyukai gerak jasmani. Sentimen pria bersifat menantang dan suka berperang, sementara wanita suka damai dan ramah tamah. Pria lebih agresif sementara wanita lebih tenang. Perasaan wanita lebih cepat bangkit daripada pria. Secara alami, wanita lebih cenderung kepada dekorasi, perhiasan, mempercantik diri, berhias dan berpakaian bagus. Perasaan wanita lebih mudah berubah dibanding perasaan pria. Wanita lebih menaruh perhatian pada keluarga. Dalam kegiatan yang didasarkan pada penalaran, dan dalam problema intelektual yang muskil, wanita tidak dapat menyamai pria. Tetapi dalam kesusasteraan, seni lukis, dan dalam segala hal yang berhubungan dengan estetika, wanita tidak ketinggalan dari pria.
Dalam interaksi antara keduanya, pria adalah budak nafsunya sendiri, sedang wanita berpegang pada cinta pria kepadanya. Seorang pria mencintai seorang wanita karena ia telah mengagumi atau memilihnya, sedang seorang wanita mencintai seorang pria karena ia telah melihat nilai si pria atau karena si pria sebelumnya telah menjanjikan kesetiaannya. Pria ingin menguasai wanita dan menggunakan kekuasaan atasnya, sedang wanita ingin menaklukkan hati pria dan menguasainya lewat hatinya. Pria berhasrat memeluk wanita, dan wanita ingin dipeluk pria. Wanita ingin melihat keperkasaan dan keberanian pria, dan pria ingin melihat keluwesan dan daya tarik pada diri wanita. Dorongan seksual pria bersuat agresif, sementara dorongan seksual wanita bersifat pasif dan menggoda. (hal.111)
Oleh karena ketidakidentikan tersebut, maka dalam banyak hal kewajiban dan hak keduanya tidak harus sama. Di Barat, menurut Muthahhari, orang sedang berusaha menciptakan keseragaman dan keidentikan dalam perundang-undangan, peraturan, dalam hal hak-hak dan tugas, antara pria dan wanita, dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang kodrati dan alami. Dan di sinilah letak perbedaan pandangan Islam dan sistem Barat. Berbeda dengan Barat yang mempersyaratkan keseragaman untuk kesederajatan, Islam justru memandang ketidakidentikan pria dan wanita sebagai karya utama alam yang paling menakjubkan, dan merupakan suatu pelajaran tentang keesaan Tuhan dan ilmu-Nya, suatu tanda akan kebijaksanaan dan keteraturan alam semesta, dan suatu kenyataan jelas yang membuktikan bahwa proses penciptaan bukanlah hanya sekadar berdasarkan kebetulan. Sachiko Murata (1992) melukiskan keharmonisan penciptaan tersebut dengan mengumpamakan bahwa hubungan antara langit dan bumi adalah hubungan antara yang dan yin, pria dan wanita, suami dan istri.
Dilihat secara keseluruhan, tema dan pembahasan yang ada didalam buku ini masih cukup relevan dengan masalah dan wacana (wanita Islam) saat ini. Karena buku ini ditulis lebih dari seperempat abad yang lalu, wajar saja jika banyak hal baru yang belum tersentuh, atau mugkin terdapat beberapa pembahasan yang terkesan out of date. Patut dicatat disini, bahwa gerakan feminisme Barat yang berkembang saat itu memang diwarnai oleh tuntutan kebebasan dan persamaan hak antara pria dan wanita dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Tetapi karena timbulnya kesadaran baru akan malapetaka ketidakseimbangan yang dihasilkan oleh gerakan tersebut, paradigma feminisme sejak tahun delapan puluhan telah berbalik mengunggulkan kualitas feminin serta memaksimumkan kembali perbedaan pria dan wanita. Buku ini memang belum sempat membahas perubahan tersebut.



*. Penulis adalah Koordinator Forum Diskusi KAFARAD Unisma Bekasi




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
10+6 =