Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

NAMA DAN SIFAT ALLAH DALAM AL-QURAN (1)


Sayyid Muhammad Husayni Bahesti

Arif Mulyadi

Dalam proses mengetahui setiap realitas objektif, manusia memperoleh sejumlah kesan atau konsepsi mental yang jelas dan khusus, yang dengan sorotan darinya, ia bisa membedakannya dari fakta-fakta lain. Kadang-kadang, manusia mengasumsikan sesuatu di dunia ini, dan di saat yang sama, mengetahui bahwa sesuatu tersebut tidaklah nyata melainkan semata-mata objek imajiner. Ambil contoh, suatu desain arsitek yang telah ia siapkan untuk mengkonstruksi bangunan yang belum terwujud sampai sekarang. Ia baru menciptakan suatu bangunan yang bisa dikonstruksi sejalan dengan rancangannya. Dalam hal ini, manusia pun harus mempunyai ide yang jelas dan bening mengenai objek-objek imajiner dalam benaknya sehingga objek tersebut bisa dibedakan dari objek imajiner lainnya atau objek nyata yang telah ia ketahui.
Konsepsi atau kesan atas objek-objek semacam itu, baik yang imajiner maupun yang nyata, bisa diungkapkan melalui nama-nama alamiah atau inheren mereka. Perlu diperhatikan bahwasanya “nama-nama” ini bukanlah kata-kata ataupun istilah-istilah melainkan hanya citra atau gambaran, jelas atau samar, dari objek-objek dimana pikiran manusia telah membentuknya secara mental untuk mengidentifikasi sesuatu. Nama atau citra, ini memainkan peran yang sama sebagaimana yang dimainkan oleh kata dan istilah untuk menjadikan segala sesuatu logis adanya.
Ketika manusia hanya berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berpantang dari bertukar pendapat dengan orang lain, ia bisa menggunakan nama dan citra mentalnya yang pribadi dan tidak konvensional. Namun ketika ia melakukan kontak dengan pihak lain dan bertukar pandangan dengan mereka, ia terikat untuk menggunakan nama atau tanda umum untuk bangunan mentalnya mengenai objek-objek faktual atau imajiner dengan membiarkan orang lain memahami apa yang ada dalam pikirannya. lni merupakan kata dan istilah yang diciptakan manusia secara bertahap dengan sorotan mana mereka mendapatkan denotasi mereka. Rentang konotasi dari kata-kata yang diterima tersebut bergantung pada konvensi mereka. Simbol-simbol ini,[1] yakni kata-kata kenyataannya secara umum nama yang diterima, menunjukkan masalah-masalah riil atau hipotetis.
Dalam pengertian yang luas, semua kata termasuk kata benda, kata sifat, kata tambahan, kata penghubung, preposisi dan lain-lain adalah nama-nama (ism).[2] Dalam makna luasnya, nama berarti simbol. Penggunaan kata benda ini dibedakan dari kata kerja, artikel, kata sifat dan lain-lain yang sebagian besar terkait dengan klasifikasi terakhir kata dalam rangkaian perkembangan tatabahasa. Dari sana, ia terus mengalir dalam bidang-bidang lain seperti mistisisme, teologi (kalâm), dan lain-lain. Selanjutnya, ia mempengaruhi idiom bahasa percakapan. Dalam klasifikasi ini, setiap kata yang digunakan merujuk pada sesuatu, seseorang, tindakan, atau pernyataan yang disebut “kata benda” (noun). Dan setiap kata yang digunakan untuk menguraikan kualitas tertentu dari suatu maujud (existent) disebut “kata sifat” (adjective). Dengan demikian, Faraidun adalah ”kata benda”, lantaran kata ini digunakan untuk memikat perhatian seorang pendengar terhadap suatu wujud aktual dan objektif tanpa mempertimbangkan kualitas spesifiknya. Namun kata “berani” adalah kata sifat, karena ia menunjukkan kualitas khusus yakni keberanian dari seseorang (atau kekokohan sesuatu).

Nama dan Sifat Allah

Kita menjumpai berbagai Nama dan Sifat Allah dalam pembahasan teologi. Namun, sebelum melangkah lebih jauh memasuki rincian tema ini, akan lebih baik bagi kita untuk pertama-tama membahas isu-isu yang menyangkut konsep pembatalan (ta’thil) antropomorfisme (tajassum).
Tema diskusi ini adalah: apakah pengetahuan kita tentang Allah dapat sampai ke suatu tingkat yang di atas basisnya kita bisa menyandarkan kepada-Nya suatu nama tertentu atau nama-nama dan suatu sifat atau sifat-sifat, ataukah pengetahuan kita tentang Allah sampai ke tingkat ini dimana kita hanya bisa mengatakan bahwa “Dia adalah Dia”.

Pembatalan (Ta’thil)

Sekelompok pemikir menekankan pandangan bahwa manusia dalam upayanya untuk mengetahui asal-usul wujud bisa mencapai banyak pengetahuan ini hanya dengan mengatakan bahwa ada sumber dunia dan suatu sumber eksistensi, tanpa mempunyai pengetahuan yang pasti akan sumber tersebut dan sumber wujud.[3] Dalam bahasa yang berbeda, pelbagai nama telah diberikan kepada “realitas yang tidak diketahui” ini, namun semua kata ini adalah nama-nama dari suatu wujud dan “kata benda”, yakni semua ini semata-mata indikator dan beberapa konsepsi Realitas-Nya, yaitu sumber wujud. Sumber yang kita ketahui hanyalah Wujud-Nya. Kita tahu siapa “Dia” dan Dia bukan wujud imajiner. Tetapi, kita tidak punya pengetahuan minimal ihwal Hakikat-Nya. Semua nama ini memperlihatkan Wujud-Nya semata. Tidak lebih. Itulah mengapa ekspresi atau nama terbaik untuk sumber wujud adalah istilah “Dia” dan padanan katanya dalam bahasa lain seperti Huwa, Aw, dan seterusnya, yang tidak hanya menunjukkan Wujud-Nya, namun juga mengimplikasikan “ketidakterjangkauan“-Nya. Bagaimanapun, harus dicamkan bahwa bahkan istilah-istilah yang diketahui seperti Khuda, Allah, God, Brahma, Ahura Mazda dan lain-lain tidak lebih eksplisit ketimbang istilah “Dia” dan istilah padanannya.
Menurut para pemikir ini, setiap nama atau sifat yang diciptakan merujuk pada sumber keberadaan, dengan suatu pandangan untuk memaparkan-Nya dengan lebih baik, tidak hanya akan terasing bagi-Nya namun juga akan berakibat pada konsepsi-konsepsi keliru tentang sumber wujud. Menurut pandangan ini, aras tertinggi dan pengetahuan Sumber adalah mengakui bahwa “Dialah Sumber wujud itu” dan “Dia mendahului dan di balik semua konsepsi yang manusia benarkan”

Engkaulah di balik pencapaian semua imajinasi analogi dan khayalan, mendahului semua yang telah diucapkan dan apa yang telah didengar dan tertulis tentang-Mu.

Menurut pandangan ini, “pengetahuan sumber”, setelah membenarkan keimanan pada eksistensi sumber, membentang dalam satu arab yang sublim dan kesucian Tuhan di dalamnya mendahului dan melintasi semua konsep yang dihasilkan oleh pikiran manusia. Para filosof dan teolog (mutakallimun) menyebut doktrin ini “doktrin pembatalan” (ta’thil) karena ia berpendapat bahwa pemahaman dan intelek insan tidak bisa mencapai pengetahuan terkecil tentang-Nya oleh sebab itu dibatalkan.
Akan tetapi istilah pembatalan dalam tradisi Syi’i digunakan dalam makna lain. Dalam tradisi mereka, mereka menganggap pembatalan sebagai keyakinan bahwa dunia kosong dari Pencipta yang cerdas dan istilah “Tuhan” sama sekali kosong dari sifat apapun.
Al-Kulaini dalam kitabnya al-Kâfi meriwayatkan dari Hasan bin Sa’id:

Abu Ja’far Kedua [yakni Imam Kesepuluh, ‘Ali al-Hadi] ditanya: “Mungkinkah mengatakan bahwa Allah adalah ‘sesuatu’? Beliau menjawab, “Ya. Karena konsepsi (Tuhan) ini menempatkan-Nya di balik dua ekstrem: Ekstrem pembatalan dan ekstrem antropomorfisme.”[4]

Dalam hadis lain, kata-kata berikut diriwayatkan dari Imam al-Shadiq as:

...Karena penafian (semua sifat) mengarah kepada absurditas yang sama, yakni penafian eksistensi sejati Tuhan; dan petunjuk kedua mengarah kepada antropomorfisme.[5]

Syaikh al-Shaduq dalam kitabnya Asrâr al-Tawhid menukil hadis berikut:

‘Abdurrahim al-Qasir berkata, “Di depan ‘Abdul Malik bin A’yan, aku mengirim sejumlah pertanyaan kepada Abu ‘Abdullah sebagai berikut: “...mengenai eksistensi Tuhan Yang Mahasuci, apakah Dia memiliki bentuk khusus dan ciri-ciri tertentu? Karena itu, sudilah kiranya Anda –semoga Allah menjadikan diri saya sebagai pembela Tuan- menuliskan pandangan Anda tentang keyakinan yang benar mengenai masalah tauhid? Kemudian, ia [Imam ash-Shadiq] membalas suratku melalui ‘Abdul Malik bin A’yan sebagai berikut: “Semoga Allah merahmatimu. Engkau bertanya tentang keyakinan yang benar mengenai tauhid dan kepercayaan agama-agama sebelumnya kepada Tuhan. Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dia Mahatinggi dari segala sesuatu yang dikatakan tentang-Nya oleh para pengikut doktrin antropomorfisme. Mereka menjadikan-Nya seperti makhluk-Nya dan sifat-sifat palsu kepada Allah.
“Semoga Allah merahmatimu. Ketahuilah, keyakinan yang benar mengenai tauhid sama halnya dengan apa yang dijelaskan dalam al-Quran saat menguraikan Sifat-sifat Allah. Oleh sebab itu, menjauhlah dari kepercayaan pada absurditas dan kesia-siaan serta antropomorfisme. Tiada penafian ataupun perbandingan. Dialah Tuhan Yang Mahaabadi dan Wujud. Mahatinggi Allah dari segala sifat yang disandarkan orang kepada-Nya. Janganlah menentang al-Quran, sehingga engkau tersesat sesudah mendapat penjelasan.”[6]

Bisa dikatakan bahwa pembatalan dalam arti pertamanya secara alamiah dan logis mengarah kepada arti kedua juga. Kini pertanyaan yang akan muncul dengan sendirinya: siapa dan apakah rujukan kata ganti “Dia”. Kita bisa menggunakan kata ganti “Dia” untuk menunjukkan sebagian orang atau sesuatu yang telah kita ketahui dan bisa dibedakan dari wujud-wujud lain. Oleh sebab itu, jika kita mengatakan kita tidak mengetahui apapun tentang sumber wujud selain “Dia”, kita sedang menggunakan sebuah kata ganti yang tidak punya acuan atau dalam hal itu mempunyai rujukan yakni hipotetis imajiner. Jenis kritikan ini dilakukan oleh banyak pemikir materialis kontemporer terhadap teologi. Dengan demikian, jika benar Tuhan ada, setidaknya kita harus mempunyai sejumlah ide tentang Realitas- Nya untuk membedakan Dia dengan realitas-realitas lain yang kita ketahui agar kita tidak memusingkan-Nya dengan wujud-wujud lain.

Kritik terhadap Doktrin Ta’thil (Pembatalan)

Kritik mendasar atas doktrin ini adalah sebagai berikut:
Apabila ketakmampuan manusia menyangkut pengetahuan Tuhan sampai ke taraf ini dimana ia tidak bisa mengetahui apapun tentang Tuhan dan hanya bisa mengingat-Nya dengan kata “Dia” yang berarti “ambiguitas mutlak“, maka pertanyaannya adalah: bagaimana bisa orang mempercayai realitas-Nya. Ini berarti bahwa para pemikir besar tersebut yang telah menerima doktrin pembatalan telah jatuh kepada sejenis salah tafsir. Mereka disibukkan dengan pengetahuan esensi (ma’rifat be kunh) dan pengetahuan tanda-tanda (ma’rifat be vajh) atau aspek-aspek. Sesuatu bisa memiliki banyak tanda spesifik atau yang melaluinya kita bisa membedakannya dari objek-objek lain. Dalam hal ini, apabila kita menjadi akrab dengan salah satu dari tanda-tanda tertentu atau aspek sesuatu, kita akan berada dalam posisi untuk mengenalinya di tengah-tengah objek lain tanpa menunggu diberitahu semua aspek yang membedakannya dari wujud lain. Hal ini tidak hanya benar tentang Tuhan, namun juga untuk wujud-wujud lain.
Misalnya, Anda mempunyai dua anak dan Anda bisa secara mudah membedakan kedua-duanya. Namun apakah Anda dalam posisi mendakwa bahwa Anda diberitahu perihal semua ciri fisik dan psikologis mereka?
Oleh sebab itu, menyangkut kementakan (possibility) pengetahuan utuh tentang Tuhan yang serba-mencakup, bisa diakui bahwa kesanggupan manusia meraih pengetahuan semacam itu tidaklah mungkin dan pikirannya harus membebaskan semua ikhtiar untuk mengenal Allah secara komprehensif. Sebuah syair menyatakan:

Intelek bisa mengetahui Esensi-Nya
Jika jerami sampai di dasar samudra

Akan tetapi, sepanjang pemahaman tanda-tanda, Tuhan diperhatikan dalam sejumlah cara yakni jenis pengetahuan yang membedakan Wujud-Nya dengan selain Dia, maka siapapun harus memiliki jenis pengetahuan Tuhan ini. Sebagai suatu masalah prinsip, tanpa mengetahui jenis pengetahuan ini, adalah absurd membicarakan hal-ilwal Tuhan.
Oleh sebab itu, ketidakmentakan pengetahuan yang utuh mengenai Zat Tuhan tidak berarti kita tak mampu meraih jenis pengetahuan apapun tentang Allah. Akan tetapi, ada satu posisi tengah-tengah antara pengetahuan Tuhan yang utuh dan mutlak dan hal yang tak dapat dimengerti dari pengetahuan semacam itu. Agaknya, ada banyak posisi tengah semacam itu yang terbentang dari pengetahuan relatif hingga pengetahuan satu atau lebih dimensi Wujud Absolut.
Apabila kita menyelidiki masalah mengenal Tuhan secara lebih jeluk, nilai dan batasannya, ia mengarahkan kita kepada realisasi bahwa pengetahuan manusia akan alam korporeal ini pun tidaklah absolut, yakni kita tidak bisa mengetahui hakikat suatu objek. Pengetahuan ilmiah kontemporer juga membahas fenomena kontemporer semata dan bukan esensi maupun substansi dari suatu objek.
Sedemikian jauh pengetahuan akan sumber segala sesuatu diperhatikan, kita menjumpai batasan pengetahuan yang sama, dengan perbedaan bahwa kita menyadari bahwa tiap-tiap objek alam memiliki esensi yakni pemilik dan wadah penampakan. Namun pengetahuan kita akan Tuhan dan pantulan-Nya berikut fenomena membawa kita pada kesimpulan berikut bahwa Dialah Pelaku semuanya dan Pencipta segenap objek dan bukan sebagai pemilik ataupun wadah segenap objek.
Oleh sebab itu, seorang manusia yang berakal saat merenungkan Zat Tuhan, bisa mengakui ketakmampuannya secara tulus dengan mengatakan: “Aku tidak mengetahui apakah Engkau; Segala sesuatu adalah Wujud-Mu.”
Namun bilamana orang yang sama melihat cermin (alam) yang memantulkan citra dan tanda Tuhan, lantas menyadari tanda-tanda khusus Tuhan, secara alami ia berada dalam posisi memiliki sekian jenis pengetahuan. ihwal Tuhan. Nah, jenis pengetahuan ini jauh lebih baik ketimbang kesombongan mutlak tentang Tuhan. Kementakan ini memudahkannya untuk membincangkan tentang Wujud-Nya secara meyakinkan.
Oleh sebab itu, harus disimpulkan bahwa barangsiapa yang meyakini akan eksistensi Tuhan, dengan sendirinya memahaminya melalui, setidaknya, salah satu sifat-Nya yang senapas dengan cara tersebut melalui mana ia mencari Tuhan. Pengetahuan akan Tuhan ini bisa diasosiasikan dengan sifat-sifat Tuhan seperti Sumber, Pencipta, Pemberi rezeki, Pengendali, Wujud Wajib dan lain-lain.

Antropomorfisme (Tasybih)

Antropomorfisme adalah sebuah pendekatan yang berlawanan langsung dengan doktrin pembatalan (ta’thil). Dalam teori ini, Tuhan digambarkan seperti wujud lain yang terdiri dari bagian-bagian dan bentuk-bentuk, dan perbedaan antara Tuhan dengan wujud-wujud lain dianggap sebagai wujud dari tipe tersebut di level mana satu wujud mempunyai wujud lain.
Dalam pelbagai teks agama, kita menjumpai berbagai penafsiran yang menunjukkan pendekatan antropomorfistik.[7]

Kritik atas Doktrin Antropomorfisme

Kritik paling asasi atas antropomorfisme adalah bahwa paham itu menyesatkan karena dalam pendekatan ini sifat-sifat tersebut dibincangkan menyangkut Tuhan yang tidak setara dengan Wujud-Nya sebagai sumber keberadaan semua maujud dan Wujud Wajib. Umpamanya, dikatakan:
Dia adalah ruh agung dalam tubuh dunia ini[8]
Jika “Dia” adalah ruh dalam tubuh, di dunia ini, bagaimana mungkin Dia sumber eksistensi dunia ini yang merupakan tubuh-Nya?
Apakah jiwa tubuh ini atau apakah sebagian tubuh lain sebelumnya telah menciptakan tubuh (dunia) ini?
Pabila jiwa ini tidak beraga (bodyless), maka seharusnya ia tidak membutuhkan tubuh apapun. Dalam hal ini, dunia yang telah Dia wujudkan adalah makhluk-Nya dan bukan tubuh atau forma-Nya. Pabila Dia berada dalam forma lain, lantas apakah Dia sumber forma itu ataukah tidak, dan seterusnya.
Galibnya, sekiranya sumber dunia ini adalah sama dengan Eksistensi Tak Terbatas, maka kiranya keliru menganggap-Nya membentuk forma, dan sebagainya, karena hal-hal ini merupakan indikasi batasan-batasan, sementara Yang Tak Terbatas tidak punya batasan apapun.

Tidak Pembatalan Tidak Antropomorfisme Melainkan Pengetahuan Relatif

Dengan demikian, posisi benar yang bisa kita nyatakan adalah: tidak pembatalan ataupun antropomorfisme. Manusia tidak punya pengetahuan yang lengkap dan serba-mencakup perihal sumber wujud. Tetapi melalui ayat-ayat khusus-Nya yang manusia temui dalam penciptaan-Nya, ia bisa meraih sebagian pengetahuan berharga, meski relatif, ihwal Tuhan. Bagaimanapun, contoh apapun ihwal pengetahuan semacam itu bukanlah pengetahuan yang utuh ataupun mutlak adanya.
Tentu saja Dia punya semua aspek positif yang terpantul dalam pengetahuan semacam itu. Akan tetapi, di saat yang sama, Dia bebas dari semua aspek negatif yang terbatas ihwal pengetahuan relatif yang menyertai aspek positif.
Dengan demikian, nama-nama dan sifat-sifat terbaik tidak memadai untuk mengekspresikan karakter tak terbatas dari Wujud-Nya. Maka, kita bisa menggunakan nama-nama dan sifat-sifat terbaik hanya dengan syarat bahwa kita telah menyucikannya dari aspek-aspek negatif dan terbatasnya. Sebaliknya, ia akan memberi kita suatu gambaran salah dan terbatas mengenai Tuhan yang tidak senapas dengan “realitas-Nya”. Dari itu kita bisa katakan bahwa: Tuhan lebih tinggi dari nama atau sifat apapun. Ia tidak diuraikan dan taraf tertinggi pengetahuan tentang-Nya adalah dengan menganggap-Nya lebih tinggi dari pengetahuan apapun.

...kesempurnaan dalam hal mengimani keesaan-Nya adalah dengan menyucikan-Nya dan kesempurnaan kesucian-Nya adalah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sifat-sifat...[9]

Dari itu, menurut ungkapan “Kepunyaan-Nya adalah nama-nama paling indah”, maka kita harus menyadari untuk tidak menjadi seorang penyimpang:

Hanya milik Allah-lah al-asma al-husna, maka itu bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asma al-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS al-A’râf [7]:180)

Di sini, ia merupakan nama-nama terbaik; nama ini atau itu. Maka sia-sialah memperdebatkan masalah itu:

Katakanlah, “SerulahAllah atau serulah ar-Rahman atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma al-husna. (QS al-Isra [17]:110).

Dengan demikian poin utamanya adalah hindarilah nama atau sifat apapun kepada Tuhan yang mempunyai kesan negatif. Sebab, hal itu tidak selaras dengan kesempurnaan mutlak dan ketakterbatasan-Nya. Karena alasan ini, siapapun semestinya hati-hati dalam menggunakan kata-kata ketika memerikan perbuatan-perbuatan dan sifat-sifat-Nya. Jangan sampai keagungan-Nya dipengaruhi oleh bentuk ambiguitas manapun dan awan-awan kemutlakan dan ketakterbatasan-Nya.
Ketika kita mengatakan bahwa Tuhan melihat dan Dia menyaksikan perbuatan-perbuatan kita, kita gunakan kata “melihat” dengan pengertiannya yang sama tetapi dalam konotasi yang lebih luas ketimbang yang kita maksudkan dalam pengertian biasa.
Ketika kita katakan: Ahmad melihat perbuatan Anda, Anda artikan bahwa ia melihat sekilas kepada perbuatan Anda. Yakni, suatu gambaran dari tindakan Anda terpotret dalam matanya. Gambaran ini dialihkan ke pusat daya penglihatan melalui saraf-saraf, dan Ahmad dengan cara ini memperoleh gambaran dari perbuatan Anda dan beroleh pemahaman.
Sekarang, anggaplah Ahmad itu buta. Anda mungkin langsung bertanya: Andaikan Ahmad buta, bagaimana dia melihat perbuatan Anda? Di sini Anda bisa mengubah kata-kata Anda dan mengatakan: Saya salah. Namun jika upaya-upaya medis membuahkan hasil dengan menciptakan mata listrik bagi orang-orang buta untuk memudahkan mereka menerima gelombang-gelombang penglihatan dan mengirimkannya kepada pusat daya penglihatan tanpa melewati mata, maka mungkinkah masih tersimpan keraguan perihal jawaban dari pertanyaan berikut: “Ahmad buta. Bagaimana dia melihat perbuatan Anda?"
Akankah Anda menyerahkan tuntutan Anda dan mengatakan bahwa saya berada dalam kesalahan? Tentu tidak. Karena Anda bisa menjawab kepada penanya bahwa keberatan Anda adalah benar namun sebelum adanya temuan mata listrik, dan tidak sekarang. Selain itu, “melihat” tidak hanya terbatas pada mata alamiah. Apabila seseorang buta, pada dasarnya ia tidak buta lantaran ia sanggup melihat melalui mata listrik.
Dengan demikian, berkat temuan mata listrik salah satu keterbatasan kita, yakni tentang “melihat”, terhapus. Yakni, keterbatasan karena mata alamiah. Dengan temuan mata listrik tersebut, siapapun yang tidak punya mata atau menutup matanya masih bisa melihat sekitarnya.
Jika wawasan analitis ini diperluas, kita akan mulai menyaksikan bahwa banyak batasan tersebut yang muncul di benak kita dengan kata “melihat”, mereka tidak tercampur dalam mekanisme “melihat”, atau dalam hal mereka tercampur, mereka tidak memperhatikan isu mendasar dari melihat yang justru kita tekankan.
Butir pokok tentang konsep “melihat” adalah bahwa ia bisa memberi kita pengetahuan langsung dan handal yang tidak bisa diraih melalui kanal lain. Itulah mengapa kadang-kadang kata “melihat” dan derivasinya digunakan dalam arti “pengetahuan”. Misalnya, kita katakan: “Apa yang dilihat seorang pemuda di depan cermin, bisa dilihat juga oleh seorang tua di dalam air berlumpur.”
Seorang pemuda bisa melihat di dalam cermin dengan bantuan matanya. Namun dengan sarana apa, seorang tua bisa melihat dalam air berlumpur? Jawabannya adalah ia bisa melihat dengan pandangan kearifan yang dalam dan pengalaman dan bukan dengan pandangan mata lahiriah. Ini bisa berlaku pula dalam hal “mendengar”, “mencium aroma”, “menyentuh’. Butir utama dalam semua kasus ini adalah bahwa kita meraih “pengetahuan bening”. Namun, bisakah saya melihat suara seekor singa di dalam hutan? Jawabnya, tidak. Di sini saya harus mengatakan bahwa saya mendengar suara singa. Mengapa? Karena mendapatkan suara hanya mungkin melalui arti mendengar dan bukan melihat. Dengan demikian, arti mendengar dan melihat terkait pada gagasan cara mendapatkannya, apakah melalui cara mendengar ataukah melihat.
Hal itu kian jelas bahwa ada satu asas yang lebih luas untuk konsep “melihat”. Pertama-tama, kita menampilkan berbagai istilah untuk gagasan akuisisi guna mendapatkan bahwa berbagai jenisnya terkait pada jenis organ fisik yakni berbagai indra. Belakangan kita memperluasnya guna mendapatkan substitusi artifisial dan kita terapkan kata-kata yang sama. Namun perluasan ini mendapatkan ekstensinya lebih jauh, yaitu pengetahuan pasti, bening, dan langsung akan fakta-fakta melalui mata yang disebut “melihat” dan pemahaman yang pasti, jelas, dan faktual melalui telinga yang disebut “mendengar”. Semua ini disebut sedemikian secara independen perihal fakta-fakta apakah mereka diperoleh melalui organ-organ terkait ataukah sarana-sarana lainnya.
Dengan sinaran pengertian semacam itu, kita katakan: Tuhan melihat, Tuhan sedang melihat, Tuhan mendengar, Tuhan sedang mendengar dan seterusnya.
Oleh sebab itu, Tuhan melihat dalam arti Ia mengetahui apa yang kita lihat melalui indra penglihatan. Tuhan mendengar dalam arti Ia mengetahui apa yang kita peroleh melalui indra pendengaran. Sebagaimana dalam kata-kata ini: Tuhan Mahabaik, Tuhan nencintai, Tuhan tidak menyukai, Tuhan marah, Tuhan menginginkan, Tuhan membenci dan seterusnya merupakan kata-kata yang digunakan dalam makna yang tepat namun mengabaikan batasan-batasan tersebut yang biasanya muncul dalam benak kita ketika menggunakan istilah-istilah tersebut. Itulah mengapa pembatalan ataupun antropornorfisme tidak diterima dalam teologi dari perspektif Islam dan al-Quran.

Nama-nama dan Sifat-sifat Allah dalam al-Quran

Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS al-Hasyr [59]:22-24).

Kepunyaan-Nya adalah Nama-nama Terindah

Nama-nama utama dan sifat-sifat Allah di dalam al-Quran adalah sama dengan nama yang muncul dalam frase ini “kepunyaan-Nya adalah nama-nama paling indah”. Maka itu, apabila Anda renungkan setiap kebaikan dan manifestasi sempurna, tingkatan yang paling tinggi dari semuanya itu adalah demi Allah. Ambil contoh, kekuasaan dan efisiensi merupakan kesempurnaan dan Allah adalah Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa yang memiliki kekuatan paling tinggi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS al-Ankabut [29]:20)
Pengetahuan-Nya juga merupakan kesempurnaan-Nya dan Allah Maha Mengetahui di tingkatan yang paling tinggi. Ia mengetahui yang gaib dan yang nyata dan Dia mengetahui atas segala sesuatu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu (QS at-Taubah [9]:115)
Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata (QS ar-Ra’du [13]:9)

Kebijaksanaan juga merupakan kesempurnaan. Dalam hal ini, Allah Mahabijaksana. ...dan Allah Maha Mengetahui Mahabijaksana (QS al-Mumtahanah [60]:10).
Kebaikan terhadap yang lain juga merupakan kesempurnaan. Allah Maha Pengasih Maha Penyayang dalam level tertinggi. ...[Dia] yang paling mengasihi dari yang mengasihi (QS Yusuf [12]:64)
Maka engkau bebas untuk menyebut nama Allah dengan nama yang paling indah:

Katakanlah, “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asma al-husna. (QS al-Isra [17]:110).
Hanya milik Allah al-asma al-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asma al-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS al-A’râf [7]:180)

Keindahan dan Kesucian Allah

Allah memiliki setiap kesempurnaan pada arasnya paling tinggi. Maka itu, Dia terbebas dari segala jenis kebutuhan atau kekurangan. Sejumlah ayat al-Quran yang menyiratkan pujian kepada Allah menekankan kesucian dan kesempurnaan-Nya.

Allah Tidak Membutuhkan Apapun

Al-Quran menyatakan bahwa Allah bebas dari segala macam kelemahan dan kebutuhan, dan menekankan pada aspek ketakbutuhan-Nya sebagai suatu prinsip penting dalam teologi Islam. Dalam sinaran tersebut, siapapun bisa mengenali penyimpangan intelektual dan ideologis menyangkut gagasan Tuhan.

Allah Tidak Membutuhkan Seorang Anak

Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Allah mempunyai anak”. Mahasuci Allah. Dialah Yang Mahakaya. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa, yang tidak kamu ketahui (QS Yunus [10]:68)

Para pengikut agama-agama seperti Yahudi, Kristen, Zoroaster, Hindu, politeis dan lain-lain mengatakan bahwa Dia memiliki anak. Al-Quran mengangkat masalah ini dalam dua bentuk dan membantah kedua-duanya. Bentuk pertama adalah anak alamiah dan bentuk kedua adalah anak adopsi.

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan), “bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (QS al-An’am [6]:100-101)

Ayat-ayat ini dan sejumlah ayat al-Quran lainnya menafikan hubungan ayah-anak seperti itu dalam makna lazimnya, yakni hubungan dari seorang anak yang dilahirkan oleh Allah tidak selaras dengan kedudukan luhur Allah yang mengatakan bahwa kemunculan semua wujud berasal dari Allah dinilai sebagai memiliki hubungan antara Pencipta dan makhluk dan bukan dalam bentuk kelahiran.
Dalam keyakinan keagamaan purba, munculnya dunia dari sumber wujud dihitung sebagai dalam hakikat kelahiran atau pemisahan dari tubuh sang pencipta.
Penulis buku The Hindu Conception of the Diety berkata:

Tampaknya teori teologi yang paling tua tentang Tuhan bersumber dari usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan berikut: Darimanakah dunia ini berasal?

Itulah mengapa kitab Upanishad penuh dengan teori-teori perihal penciptaan seperti itu dimana setiap teori percaya bahwa sebab pertama adalah pencipta dunia ini dan kemudian berupaya membuktikan dan bagaimana itu tercipta:
Ada suatu teori kuno dalam Brhdaran Yaka yang mengatakan bahwa:

“Dunia pada awalnya hanyalah suatu Diri individual (Atman) dalam bentuk satu pribadi (purusha); ketika ia memandang ke sekelilingnya, tidak ada sesuatupun selain dirinya sendiri...ia ingin punya pasangan. Sesungguhnya, ia sebesar lelaki dan perempuan yang ada dalam pelukan mereka. Ia membagi dirinya pada dua bagian: pertama, suami (pati) dan, kedua, istri (patni). Keduanya melahirkan seorang manusia.
“Analogi ketat seperti itu dimana Tuhan telah dianggap seperti manusia dan penciptaan dalam bentuk kelahiran, yakni seperti reproduksi makhluk hidup, tampaknya merupakan salah satu doktrin tertua tentang penciptaan yang telah ditinggalkan untuk kita melalui Upanishad.”[10]

Kristen Katolik menganggap konsep kelahiran sebagai sesuatu yang lebih tinggi. ketimbang konsep “penciptaan” dan mereka mengutuk orang-orang yang percaya bahwa putra Tuhan ditiadakan:

...Kita beriman kepada Tuhan Bapak, Pencipta Mahakuasa semua yang gaib dan yang nyata, dan pada Tuhan Yesus, putra Tuhan, lahir dari seorang Bapak, putra istimewa yang dilahirkan dari esensi Bapak, Tuhan dari Tuhan, Cahaya dari Cahaya, Tuhan Nyata dari Tuhan yang nyata, yang dilahirkan, tidak diciptakan, dari esensi yang identik dengan esensi Bapak, dengan-Nya segala sesuatu mewujud yakni segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Ia turun dan memanifestasikan diri untuk menyelamatkan kita, umat manusia. Ia menjadi manusia, ia menderita dan, pada hari ketiga, ia bangkit dan naik ke langit. Ia akan kembali untuk memberi putusan kepada yang hidup dan yang mati. Dan kita beriman kepada Ruh Kudus dan gereja-gereja Katolik serta melaknat orang- orang yang mengatakan, “Suatu saat Yesus tidak ada” atawa percaya bahwa Dia bukanlah sesuatu sebelum Dia mewujud, atau bahwa Dia mewujud dari ketiadaan, serta melaknat mereka yang berpendapat bahwa Dia dari esensi lain atau putra Tuhan diciptakan sehingga Dia bisa berubah... (Suatu bagian dari surat resmi agama Kristen yang disepakati dalam Dewan Nicean kedua, Juni 325).[11]

Dalam agama Hindu, bukan saja “kelahiran dunia dari Tuhan” diciptakan, tetapi “kelahiran Tuhan itu sendiri” telah disebutkan. “Tuhan meliputi semua diameter surga.
Dia lahir dari keabadian. Dia ada di dalam rahim. Dia telah dilahirkan dan akan dilahirkan"...[12]
Penafsiran semacam itu bisa dibenarkan berdasarkan latar filosofis dan pandangan dunia Hindu, yang kadang-kadang merentang sampai ke monisme. Namun penerimaan interpretasi dan justifikasi semacam itu, jika memang benar adanya, bukan pada tataran masyarakat awam, yakni melampaui kapasitas intelektual bukan saja massa melainkan juga masyarakat golongan atas. Oleh sebab itu, ketika teologi pada umumnya mengajak orang-orang kepada-Nya, al-Quran menyeru dalam suatu pernyataan yang lengkap dan umum sebagai berikut:

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. (QS al-Ikhlash [112]:1-5).

Dengan merujuk pada apa yang kami sampaikan dari Upanishad, siapapun bisa memahami dengan mudah mengapa, dalam ayat ini, al-Quran mengatakan bahwasanya Allah “tidak beranak” ataupun “tidak diperanakkan”.
Al-Quran menilai semua gagasan ini sebagai tak beralasan dan tidak jujur dan mengatakan bahwa orang-orang yang menganggap hamba-hamba Allah yang merupakan makhluk-Nya sebagai suatu bagian dari Allah yang terpisah dari-Nya, secara terang-terangan mengikuti jalan hujatan.

Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (QS az-Zukhruf [43]:15)

Allah: Tidak Butuh Keimanan, Ibadah, dan Ketaatan Kita

Dan Musa berkata, “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS Ibrahim [14]:8)

Berkaitan dengan asas ketakbutuhan Allah, manusia harus mengetahui bahwa Dia tidak memerlukan keimanan kita atau ibadah atau ketaatan kita. Pabila Dia meminta keimanan, ibadah, dan ketaatan kita, maka sesungguhnya itu untuk kepentingan kita sendiri, bukan untuk-Nya.
Sekiranya seluruh alam semesta menjadi kafir dan tidak beriman, kemuliaan-Nya tidaklah runtuh.

Allah: Tidak Butuh Bantuan

Sejak masa gerakan Islam mencapai suatu tahapan penyempurnaannya, adalah penting bagi kaum Muslim untuk mengorbankan kehidupan mereka sendiri untuk menjaga Islam. Dan setiap kali ia menjadi tak terelakkan, mereka harus menghabiskan simpanan mereka, dan mengorbankan nyawa mereka di jalan Allah. Dalam hal ini, kaum kafir dan munafik mulai bikin rumor bahwasanya Tuhannya Muhammad itu miskin dan membutuhkan bantuan keuangan kita. Sebaliknya, Dia telah mengatakan kepada Nabi-Nya secara langsung:

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang- orang yang menyatakan, “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan catat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar; dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah olehmu azab yang membakar.” (QS Ali Imrân [3]:181)

Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa penilaian ini berasal dari kaum Yahudi, lantaran kejahatan besar berupa membunuh para nabi yang telah dirujukkan dalam ayat lain dalam al-Quran yang juga mengingatkan masa lalu mereka.
Dalam ayat berikut noktah ini telah diajukan dalam konteks bangsa Yahudi:

Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu“, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua Tangan Allah terbuka. Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS al-Mâidah [5]:64)

Melalui peracunan semacam itu, mereka berusaha untuk menggoyahkan bantuan keuangan orang-orang kepada gerakan Islam, dan, dengan demikian, menurunkan kecepatan, secara menakjubkan, ekspansi Islam. Al-Quran mengingatkan kaum Muslimin bahwasanya Allah yang mereka sembah tidak butuh kekayaan sedikit pun. Apabila Dia memintamu untuk menafkahkan hartamu di jalan kebenaran, hal itu untuk kemuliaan engkau sendiri dan untuk mencegah bahaya apapun dengan menjatuhkan dan membinasakan dirimu sendiri.

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Baqarah [2]:195)

Pabila seseorang menolak menaati titah-titah Tuhan dan mencegah dari menafkahkan harta di jalan Allah, siapapun dengan mudah menipu dirinya sendiri karena Allah tidak butuh satu bagian pun dari kekayaan seseorang.

Ingatlah kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir; dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-(Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (QS Muhammad [47]:38)

Allah: Di Atas Setiap Kebutuhan Pengorbanan Kita

Pandangan umum para penyembah berhala dalam hal pengorbanan berkaitan dengan penawaran mereka akan makanan yang lezat kepada dewa-dewa dan, dengan demikian, memenangkan kesenangan dan selera mereka. Kadang-kadang dengan tujuan yang sama mereka mengorbankan hewan-hewan dan menyerahkan bangkai-bangkainya kepada penjaga kuil, berharap bahwa mereka akan memberi makan mereka kepada para dewa. Namun al-Quran menyeru manusia untuk menyembah satu Tuhan yang tidak membutuhkan apapun, baik sandang itaupun pangan. Maka untuk apakah pengorbanan dalam Islam? Al-Quran menjawab pertanyaan ini sebagai berikut:

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu beroleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah- mudahan kamu bersyukur;
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya mengagungkan Allah terhadap hidayat-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Hajj [22]:36, 37)

Allah Tidak Membutuhkan Perang Suci Kita

Perintah untuk berjihad dan mengorbankan nyawa bukanlah karena Allah membutuhkan bantuan kita atau tidak bisa menyebarkan Kebenaran dan Keadilan tanpa jihad kita.
Tidaklah demikian. Dia Mahakuasa dan bebas dari setiap jenis kelemahan, ketakmampuan, dan kebutuhan. Jika Dia meminta kita untuk melakukan jihad melawan penindasan, kejahatan, dan segala keburukan lainnya, adalah karena dalam langkah perjuangan semacam itu kita bisa mengembangkan diri kita sendiri dan mencapai kesempurnaan insan paling tinggi.

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS al-Ankabût [29]:6)

Ketidakbutuhan Mutlak dari Allah

Ringkasnya, adalah kalian yang membutuhkan Allah. Dia tidak membutuhkan sesuatu pun dari kita.

Hai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS al-Fâthir [35]:15)

Allah Melampaui Ruang dan Waktu

Arti bebas dari “kemiskinan dan kebutuhan”, Allah pasti melampaui/tidak terperangkap ruang dan waktu. Karena, apapun yang terhampar dalam ruang berarti membutuhkan ruang tersebut; dan apapun yang termuat dalam waktu harus dianggap sebagai wujud yang hanya termuat dalam suatu kondisi tertentu.

Apakah Allah di Dalam Surga?

Ketika kita mengatakan Allah melampaui wujud di dalam ruang dan waktu, ini berimplikasi bahwa ruang—bumi, surga, atau kawasan Empyrean[13]—tidak bermakna bagi-Nya. Dia ada sebelum penciptaan segala sesuatu. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin menyebut semua penciptaan ini sebagai ruang dan bagian-Nya? Meskipun dalam pandangan sebagian besar orang terdapat hubungan yang istimewa antara Allah dan surga sehingga mereka mencari-Nya di surga. Pada saat shalat dan munajat, mereka melakukan pandangan mereka dan mengangkat tangan mereka ke arah langit, seolah-olah Allah di langit. Bahkan kaum kafir menganggap tempat-Nya ada di langit.
Al-Quran meriwayatkan kisah Fir’aun yang menantang Nabi Musa as dan berkata:

Dan berkata Fir’aun, “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta. (QS al-Qashash [28]:38)

Fir’aun mengira Allah ada di langit sehingga untuk mengetahui apakah khutbah Nabi Musa as itu benar ataukah salah dan juga untuk mengetahui apakah Tuhannya Musa ada di sana ataukah tidak, ia harus mencoba sampai ke langit. Tapi, bagaimana caranya pergi ke langit? Satu-satunya jalan keluar ditemukan dalam imajinasi Fir’aun adalah memesan pembangunan tempat yang sangat tinggi sehingga dari atapnya ia bisa melihat langit. Ia berharap bisa membangun jalan menuju langit dari sebuah istana yang lebih tinggi dari piramida dan kuil matahari Mesir.

Dan berkatalah Fir’aun, “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu. (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (QS al-Mu’min [40]:36-37)

Catatan Konsep Ini dalam Kitab-kitab Suci Selain Islam


Dalam Upanishad

Ajaran pokok Hinduisme didasarkan pada panteisme, bahwa langit dan bumi, tinggi dan rendah, serta manusia dan alam, semuanya menunjukkan kesatuan dalam keragaman dan keragaman dalam kesatuan. Hinduisme tidak menerima konsepsi bahwasanya alam terpisah dari Tuhan dalam bentuk Pencipta (Khaliq) dan ciptaan (makhluq). Meskipun demikian, kita menjumpai dalam Upanishad —yang tergolong sebagai salah satu kitab suci Hinduisme— pasase-pasase tertentu yang memerikan langit sebagai alam Brahma, apartemen emas ketuhanan dan lain-lain, dan dikatakan bahwa jiwa manusia setelah disucikan dari semua ketaksucian dan mencapai kesempurnaan, sampai ke langit dan bersatu dengan Brahma atau malah menjadi Brahma.

3. “Sesungguhnya tempat duduk diri adalah hati...sesungguhnya yang secara bertahap sampai ke realisasi ini naik ke alam langit.”
4. “Kini diri yang bercahaya dan tenang ini meninggalkan lubuk dengan segera dan mencapai kehidupan sublim; dengan demikian tampaknya ini bentuk nyatanya. Inilah apa yang disebut dengan diri. Ia abadi. Ialah Brahma.”
5. “Sesungguhnya ada tiga suku kata: Sat-ti-yam. “Sat” berarti wujud yang abadi; “ti” berarti mati; “yam” menggabungkan dan menyatukan keduanya, yang merupakan alasan ia disebut “yam” hari demi hari, sesungguhnya orang yang menyadari hat ini, sampai pada alam langit.”[14]
2. “...Semua kejahatan dipalingkan dari sana, karena alam Brahma bebas dari kejahatan.”[15]
3. “Akan tetapi hanya orang-orang itu yang akan punya akses ke alam Brahma yang telah menghidupkan kehidupan saleh dari seorang pencari ilmu-ilmu agama; hanya mereka yang akan mencapai alam Brahma. Mereka akan menikmati kebebasan (akan menikmati kebebasan mutlak) tak terbatas di semua alam.”[16]
“Sesungguhnya ada dua penghuni di alam Brahma yang berada di langit ketiga dan mereka itu adalah Aya dan Nya. Ada sebuah danau bernama Airamadya yang darinya terpancar rahmat dan kebahagiaan. Di sini ada pohon ara bernama Samasavana yang menghasilkan buah ara. Di sini ada benteng bernama Aparjitah; dan ada apartemen emas Tuhan.”
“Namun hanya mereka yang hidup dalam kehidupan saleh dari seorang penuntut ilmu-ilmu agama yang bisa menemukan dua orang penghuninya (Aya, Nya). Hanya dua oknum ini yang bisa memiliki alam Brahma. Mereka menikmati kebebasan tak terbatas di semua dunia.”[17]

Dalam Avesta

Dalam Avesta juga terdapat rujukan umum ke alam langit (jahan-e minawi). Kita mendapatkan karakter-karakter tertentu dari alam langit di dalam Avesta yang diuraikan melalui frase-frase seperti alam langit yang merupakan tempat kediaman Tuhan dan para malaikat pilihan-Nya.

Wahai Ahura, aku meminta kepadamu katakanlah kepadaku: Apakah aku yang menyucikan orang-orang bajik dari dosa dan membimbing mereka ke jalan yang lempang akan bisa —dengan izin Tuhan alam langit— memberi orang-orang ini kabar gembira bahwasanya mereka diizinkan untuk menempati rumah dimana wujud sepertimu, wahai Mazda, dengan Urdibehisth dan Bahman ada dalam tidur yang panjang?”[18]

Alam langit adalah alam yang berlawanan dengan alam fisik (the corporeal world).

Wahai Ahura Mazda! Limpahkan kepadaku rahmat Urdibehisth yang membebaskan orang-orang baik dan bijak, kesejahteraan di dunia alam, dunia dan akhirat; aku, bersama karakter baik, mendekatimu.[19]

Alam langit adalah alam Ahura Mazda yang diciptakan untuk mempahalai mereka yang berbuat kebajikan..

Para penyembah setan akan dihukum. Mintalah kepada Bahman agar dia membuka pintu-pintu alam langit yang abadi bagi mereka yang telah berjuang untuk menghapus kebatilan dan kejahatan serta mencari kejayaan kemenangan dan kebaikan.[20]

Alam langit adalah alam yang sama yang dinamai dalam bahasa Persia setelah Asman,[21] ruh pengawas alam langit.

Aku memuji Asman (langit) cahaya, suatu tempat yang lebih cocok bagi orang-orang bajik (behisth), tempat yang mengalirkan kebahagiaan; aku memuji Asmân.[22]

Perintah Ahura Mazda adalah berwatak Tuhan, yakni mereka diturunkan dari Asmân:

Jika wahai Izad (Tuhan), engkau tidak terhalang dari membantu dan memberi perlindungan kepada kami, dan dengan bantuan Urdibehisth, kami mendapatkan manfaatkan melalui pengaturan dan kekuasaan sfera langit, aku bisa berdiri bersama para pengikutku yang mendengarkan perintah langit dan bisa berperang melawan mereka semua yang kafir dan menghinakan hukummu dan bisa menjadikan usaha mengeliminasi mereka.[23]

Langit memberi rezeki kepada bumi:
Wahai Ahura! Aku meminta kepadamu, katakan kepadaku siapa yang memberi rezeki kepada langit di tempat mereka sehingga siang tidak jatuh. (23, 24).[24]

Rezeki ini melalui bantuan Farvahr, Yang Mahakuasa lagi Mahabaik.
Ahura Mazda berkata yang di alamatkan ke Septiman Zarduhst:

“Wahai Septiman! Sesungguhnya Aku menjadikanmu sadar akan kebesaran, kekuasaan, bantuan, dan dukungan atas kekuasaan, kebijakan, dan kebajikan Farvahrs, dan mengatakan kepadamu bagaimana keberhasilan dan kebaikan Foroheres yang buru-buru membantu dan mendukungku.”[25]
“Wahai Zahrdust! Adalah karena kekuasaan dan kebesaran mereka Aku memberi rezeki-rezeki kepada langit-langit tinggi sehingga dari ketinggian mereka mereka jatuh dan menyelimuti bumi dan semuanya itu menyerahkan diri kepadanya. Langit-langit yang ditegakkan oleh ruh-ruh angkasa dan yang stabil dan tersebar dari horizon ke horizon, laksana logam yang terang dan membentuk yang bisa dilihat di sfera langit ketiga di atas bumi. Langit yang seperti anyaman pabrik dengan bintang-bintang menghiasi di dalamnya Mazda, Mehr; Shan, dan Sepandarmedh. Langit yang awal dan akhirnya tidak bisa dimusnahkan.”[26]

Dalam Taurat (Perjanjian Lama)

Dalam Perjanjian Lama pun kita jumpai penafsiran yang sama mengenai langit yang merupakan singgasana Tuhan sebagai berikut:

Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur; dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh. Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas.
Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: “Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa. Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya supaya TUHAN jangan melanda mereka.” Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Tidak akan mungkin bangsa itu mendekati gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus.” Lalu TUHAN berfirman kepadanya: “Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun; tetapi para imam dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, supaya mereka jangan dilanda-Nya.”[27]
Berfirmanlah Ia kepada Musa: “Naiklah menghadap TUHAN, engkau dan Harun, Nadab, dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel dan sujudlah kamu menyembah dari jauh. Hanya Musa sendirilah yang mendekat kepada TUHAN, tetapi mereka itu tidak boleh mendekat, dan bangsa itu tidak boleh naik bersama-sama dengan dia.”[28]
Dan naiklah Musa dengan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel. Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah. Tetapi kepada pemuka-pemuka orang Israel itu tidaklah diulurkan-Nya tangan-Nya; mereka memandang Allah, lalu makan dan minum. TUHAN berfirman kepada Musa: “Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.”[29]

Disebutkan dalam banyak kesempatan setiap kali Tuhan mempunyai beberapa pekerjaan, Dia biasa naik dan turun (langit):

Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: “Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomorah dan sesungguhnya sangat berat dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; aku hendak mengetahuinya.” Lalu berpalinglah orang-orang dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN. Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?”[30]

Setelah melakukan pekerjaan itu Dia pun naik:

Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham.[31]
Lalu naiklah Allah meninggalkan Yakub dari tempat la berfirman kepadanya.[32]

Karena singgasana-Nya ada di dalam surga:
Maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di sorga, tempat kediaman-Mu yang tetap, dan Engkau kiranya mengampuni, bertindak, dan membalaskan kepada setiap orang sesuai dengan segala kelakuannya, karena Engkau mengenal hatinya—sebab Engkau sajalah yang mengenal hati semua anak manusia.

Dalam Injil

Tuhan di dalam Injil disebut berkali-kali sebagai “bapakmu yang ada di dalam surga.”

Kamu telah mendengar firman: “Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu di sorga....Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”[33]
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat oleh mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga...Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, dikuduskan nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Dan ampunilah kami akan kesalahan...[34]

Dalam Injil juga “surga” merupakan kerajaan Tuhan dan tempat akhir yang akan dituju manusia.

Berbahagialah orang yang dianiaya
Oleh sebab kebenaran
Karena merekalah yang empunya
Kerajaan Sorga.[35]
Tuhan menurut Al-Quran: sebuah kajian metafisika; Penerjemah: Arif Mulyadi; Penerbit Al-Huda, Jakarta; Rajab 1424 H / September 2003 M.; Hal. 125 – 197.

1. Konvensi-konvensi ini sebagian besar merupakan konvensi-konvensi sosial yang muncul secara bertahap dalam proses sosial dan tidak tercipta melalui persetujuan yang sampai di tengah-tengah sekelompok orang yang berpikir.
2. Ism (nama) diturunkan dari “simah” bermakna lambang.
3. Bagaimana bisa orang mengenali-Nya? Ialah semua yang orang bisa mengatakan “Dia” (Upanishad, hal.376).
4. Al-Kulaini, al-Kâfî, jilid 2, hal.82.
5. Ibid., hal.84.
6. Syaikh ash-Shaduq, Asrâr al-Tawhîd, hal.102
7. Untuk detail, lihat Maqâlât al-Islâmiyyin, jilid 1, hal.66.
8. Ini menunjuk kepada doktrin masyhur bahwa “Tuhan adalah rub dunia”. Doktrin ini pun terdapat dalam kitab Upanishad.
9. Nahj al-Balâghah, khutbah 1, 151.
10. Bharatan Kumarpa, The Hindu Conception of the Deity (London, 1934).
11. U. M. Miller, The History of the Ancient Church in the Empire of Rome and Iran, (Jerman, 1931), h. 245.
12. Upanishad, h.424
13. Ada tiga pengertian Empyrean: 1) tempat tinggal Tuhan dan malaikat; 2) surga tertinggi dimana unsur suci dari api dianggap ada pada mulanya; 3) langit yang bisa dilihat (peny.).
14. The Chandogya Upanishad, h.288.
15. Ibid., h.288.
16. Ibid., h.289.
17. Ibid.
18. The Avesta, 9: 69
19. Ibid., 2: 33.
20. Ibid., 8: 10.
21. Asmân adalah nama malaikat yang mengawasi langit (catatan kaki dalam Avesta).
22. Avesta, 27: 346.
23. Ibid., 14: 65-66
24. Ibid., 4: 68
25. The Avesta, 238: l-2-3
26. Ibid., 4. 68. Bandingkan hal ini dengan apa yang al-Quran katakan mengenai pemberi rezeki ini. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selainAllah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS al-Fâthir 35.: 41).
27. Alkitab, Perjanjian Lama, Keluaran, 19: 18-24.
28. Ibid., Keluaran 24: 1-2.
29. Ibid., Keluaran 24: 9-12.
30. Alkitab, Kejadian 18: 20-23.
31. Ibid., Kejadian 17: 22.
32. Ibid., Kejadian 35: 13
33. Injil Matius 5: 43, 44, 45, 48.
34. Ibid., 6: 1,9-12.
35. Ibid., 5: 10.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+10 =