Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

NAMA DAN SIFAT ALLAH DALAM AL-QURAN (2)


Sayyid Muhammad Husayni Bahesti

Arif Mulyadi

Allah dan Langit dalam al-Quran

Dalam al-Quran Allah telah dimaksudkan sebagai “Zat yang ada di langit.”

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku. (QS al-Mulk [67]:16-17)

Kita menemukan di dalam al-Quran sejumlah isu lain yang mempunyai hubungan yang dekat dengan isu ini.

Turunnya Wahyu dari Langit

Al-Quran mengatakan bahwa Allah “menurunkan wahyu” (dari langit). Jadi wahyu turun dari atas: Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepada kamu. (QS Ali Imran [3]:67)
Darimanakah wahyu itu turun? Dari langit. Itulah mengapa jin-jin menyembunyikan diri mereka sendiri untuk mencuri dengar sesuatu dari langit.

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita- beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan seperti itu, tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (QS al- Jinn [72]:8-9).
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,[1] dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (QS ash-Shaffat [37]:6-10)

Mikraj

Para malaikat dan nabi bermikraj kepada Allah.
Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir; yang tidak ada seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.(QS al-Ma’ârij [70]:1-4)
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin) Makkah hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha.[2] Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jbril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan—nya yang paling besar. (QS an-Najm [53]:11-18)

Menurut riwayat, mikrajnya Nabi acap kali disebut sebagai sejenis perjalanan ke langit.

Singgasana

Al-Quran mengingatkan manusia berkali-kali ihwal singgasana Tuhan.
Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung. (QS at-Taubah [9]:129)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy (berkuasa) untuk mengatur segala urusan. (QS Yunus [10]:3)
Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya (Singgasana-Nya) di atas air...(QS Hûd [11]:7)
Katakanlah: “Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arasy yang besar.” (QS al-Mukminûn [23]:86)
Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) Arasy yang mulia. (QS al-Mukminûn [23]:116)
Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan yang mempunyai Arasy yang besar. (QS an-Naml [27]:26)

Ayat al-A’râf [7]:54; Thâhâ [20]:5; as-Sajdah [32]:4; al-Hadîd [57]:4 ada dalam hal ini.

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat- malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya. (QS al-Mukmin [40]:7)
...Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arasy Thanmu di atas (kepala) mereka. (QS al-Haqqah [69]:17)
Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling Arasy ...(QS az-Zumar [39]:75)

Apakah Arasy Allah Itu dan Di Manakah Ia?

Selain ayat-ayat di atas yang menyangkut Arasy Allah, istilah “Arasy” telah digunakan dalam ayat-ayat lain juga:

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud...(QS Yusuf [12]:110)
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala Sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. (QS an-Naml [27]:23)

Dalam dua ayat ini dan ayat-ayat sejenis lainnya seperti an-Naml: 26, 38, 41, 42, istilah singgasana (arasy) digunakan dalam makna umumnya yakni sebuah kursi di mana para penguasa duduk dan memberi perintah kepada para agen mereka yang mengitarinya atau di bawah singgasana untuk menindaklanjuti perintah-perintah mereka (para penguasa).
Apakah ayat tentang singgasana Allah mengimplikasikan bahwa Allah duduk seperti para raja dunia, dan menurunkan perintah dari tempat duduk-Nya, dengan satu-satunya perbedaan bahwa singgasana-Nya amatlah besar sehingga mampu menampung kebesaran dan keagungan-Nya?
Dalam kitab Injil, “singgasana” telah dirujukkan kepada hal ini:

Tetapi Aku berkata kepadamu: Jangan sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya.[3]

Jika kita berusaha menangkap sebuah citra mental Tuhan dari frase yang disebutkan di atas di dalam Injil, kita melihat-Nya dalam sosok raksasa yang luar biasa besarnya yang kakinya, ketika ia duduk di langit, menahan bumi. Namun pertanyaan yang muncul adalah: apabila seorang pembaca Injil membaca ayat yang disebutkan di atas (dari Matius 5), benar-benar berpikir demikian, atau mengambil metafora atau simbol yang mengimplikasikan bahwa otoritas dan kekuasaan Tuhan meliputi semua langit dan bumi sebagaimana telah dilakukan oleh al-Quran: Kursi Allah meliputi langit dan bumi ...(QS al-Baqarah [2]:255). Kursi (Singgasana) merupakan bentuk lain dari ‘Arasy (Singgasana) yang sama.
Jika yang dimaksudkan kursi adalah arasy dan kursi adalah “kursi” yang ditempatkan di atas singgasana untuk penguasa yang duduk di atasnya, dengan para menteri dan punggawanya duduk atau berdiri di lantainya dan para pengunjung membungkuk di dekatnya (Allah akan tampak seperti seorang penguasa dunia yang besar). Tidak demikian. Ayat ini berarti bahwa seluruh alam semesta di bawah kekuasaan Tuhan.
Oleh sebab itu, istilah Arasy merupakan suatu metafor bagi kedaulatan mutlak dan kekuasaan Tuhan.[4] Al-Quran berfirman dalam surah al-A’raf [7]:11 (?): “Singgasana Allah di atas air sebelum penciptaan langit dan bumi.” Sebuah singgasana atau kursi tidak berdiri di atas air kecuali jika ia dalam bentuk sebuah perahu atau rakit. Ayat ini, dengan demikian, berarti bahwa langit dan bumi belumlah diciptakan dan alam semesta semuanya air. Allah memerintah tidak lain hanya di atas air.[5] Akan tetapi, setelah penciptaan langit dan bumi, pusat perintah Allah bergeser ke langit yang darinya Allah menjalankan kekuasaan-Nya pada langit dan bumi.
Dalam kebanyakan ayat al-Quran mengenai ‘Arasy Allah, kita harus —demi kemudahan kita— menerima pengertian ini, untuk istilah tersebut. Namun dalam kasus dua ayat berikut, yakni Muhammad [47]:7 dan al-Haqqah [69]:17, pengertian ini tidak diizinkan secara langsung, karena kita bisa menafsirkan dua ayat tersebut sebagai berikut:
Singgasana Allah ada dalam keadaan yang bisa dilihat dan bisa dipindahkan, karena pada Hari Kebangkitan, ia akan dipikul di atas kepala-kepala pengusung. Dengan demikian, sebagian Muslim menganggap Arasy Allah sebagai sebuah singgasana yang berharga yang ditata pada titik pusat tertinggi dari langit. Singgasana ini tersusun dari bahan-bahan dan permata-permata yang paling berharga,[6] dan pada masing-masing kakinya beberapa teks dilampirkan.
Tak syak lagi, para ulama Muslim dari sejak pagi-pagi telah mempercayai bahwa konsepsi telanjang semacam itu tidak selaras dengan kedudukan mulia Tuhan yang diperkenalkan al-Quran sebagai Wujud yang terbebas dari segenap kebebasan. Akan tetapi, bagaimanapun, menurut dua ayat di atas, singgasana (‘arasy) hanyalah sebuah ungkapan simbolis dari ketakterbatasan. Jadi, pertanyaan ini tetap tak terjawab, yakni apakah ‘arasy Allah itu dan dimanakah ia?

Pusat Perintah di Alam

Sebuah jawaban pasti dan jelas untuk pertanyaan “apakah singgasana Allah itu dan di manakah ia”, bukanlah tugas yang sulit. Jawaban paling jelas dan pasti untuk pertanyaan ini harus dicari dari kata “wahyu” (revelation). Namun sebagaimana telah kami katakan kita tidak bisa mendapatkan sesuatupun di balik butir ini bahwa: “Singgasana Allah adalah fakta yang bisa dilihat yang darinya Allah mengatur dunia, dan bahwa ia dipikul oleh sekelompok malaikat.”[7]
Mengandaikan jawaban jernih dan pasti untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu dari sumber sembarang selain “wahyu” akan sia-sia. Pengetahuan apapun tentang masalah ini: “Apakakah singgasana Allah dan di manakah ia” bukanlah ranah sains empiris ataupun ranah filsafat spekulatif. Sekarang, filsafat empiris dari banyak titik di bidang sains alam meminta kita memahami sesuatu secara imajinatif sebagaimana al-Quran tawarkan kepada kita tanda-tanda untuk visualisasi ‘Arasy.
Di dalam atom, proton diberi peranan penting di inti atom. Dalam sistem tata surya matahari merupakan pusat perintah dan sumber cahaya, panas, gas, dan pelbagai gelombang yang memudahkan wujud-wujud unsur-unsur lain di dalam sistem ini memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan seterusnya.

Pusat Perintah Tertinggi di Alam

Jika ada sistem sentral semacam itu dalam semua sistem tata surya yang mengandung galaksi-galaksi dan awan-awan, maka seluruh kosmos secara otomatis berada di bawah satu komando sentral tertinggi dimana semua perintah lain pada akhirnya berujung.[8] Misalnya, otak merupakan pusat perintah tertinggi pada manusia, dan semua perintah sekunder dan tersier yang keluar dari jaringan syaraf tulang belakang atau jantung dan lain-lain semula memancar dari otak.
Pusat perintah tertinggi ini, diasumsikan untuk seluruh alam, merupakan fakta konkret bahwa yang ada di langit pun bisa dipindahkan, memiliki hubungan istimewa antara dia sendiri dan Allah. Semua perintah Allah ke alam semesta mengalir dari pusat itu tanpa perlu mengandaikan ruang apapun bagi Tuhan. Sebagaimana sebagian orang berpendapat bahwa jiwa terpisah dari tubuh dan masih terkait dengan tubuh.

Pusat Perintah Tertinggi di Semua Wujud

Apabila kita menjadikan kosmos lebih besar ketimbang dunia fisik, maka adanya suatu argumen mengenai pusat tertinggi lainnya dengan sendirinya menjadi relevan. Pusat besar ini mengatur alam fisik dengan sendirinya. Dengan kata lain, alam fisik tersubordinasi pada pusat tertinggi tersebut. Dan, sesungguhnya apabila pengertian ‘Arasy dimaknai secara harfiah sebagai singgasana yang diperkaya dengan permata-permata yang di atasnya Allah bersemayam, itu tidak menurunkan pengertian metaforis apapun dari makna ‘Arasy sebagai kekuasaan-Nya. Kita bisa temukan semua sifat ‘Arasy di pusat tertinggi itu sebagaimana ditunjukkan dalam al-Quran. Dalam tradisi mistik Islam pun kita menemukan sejumlah penafsiran tentang ‘Arasy sebagai sebuah fakta yang solid. Dalam kata pengantar untuk Syarh-e Fushûs-e Qaisari, Qaisari mengatakan:

...Arasy merupakan manifestasi dari nama Yang Mahakasih dan Kursi (Singgasana) merupakan manifestasi dari Yang Maha penyayang...[9]
Hadis-hadis Islam pun secara umum menganggap ‘Arasy sebagai suatu fakta samawi yang konkret.

Doa dan Langit

Menyangkut gambaran yang diasumsikan sebelumnya ihwal ‘Arasy dengan menengadahkan tangan ke arah langit ketika berdoa, atau memandang ke arah langit ketika merenungkan Allah, menjadi mudah dipahami. Karena, langit tentunya merupakan lanskap keindahan, penuh rahmat Tuhan, dan tanda-tanda keagungan, kekuatan, kebijaksanaan, dan pengetahuan-Nya.

Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan-nya yang paling besar (QS an-Najm [53]:11-18)

Ia merupakan tempat yang darinya berbagai rahmat Tuhan seperti air, udara, gas-gas bermanfaat, panas, cahaya, dan ratusan materi bermanfaat lainnya tergantung di atas bumi dan penduduknya.

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. (QS adz-Dzâriyat [51]:22)

Oleh sebab itu, memusatkan perhatian kepadanya (langit) dan mengangkat tangan dalam berdoa ke arahnya, bahkan tanpa meyakini bahwa tempat Tuhan terletak di sana membantu dalam pengabulannya (oleh Allah).
Naiknya para malaikat atau nabi terletak dalam bentuk naik ke langit menuju pusat perintah Allah tertinggi, bukan untuk melihat-Nya atau menemui-Nya secara bersimuka. Akan tetapi, sesungguhnya untuk menyaksikan tanda-tanda keagungan-Nya yang memantulkan sifat-sifat ketuhanan.

Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhan-nya yang paling besar (QS an-Najm [53]:11-18)

Dalam penafsiran ayat 12 surat an-Najm, Thabarsi menulis sebagai berikut:

...Dan Abi al-Aliyah mencatat: Nabi Allah saw ditanya mengenai apakah ia melihat Allah di malam mikraj. Nabi saw menjawab, “Aku melihat sebuah sungai, kemudian tabirnya pada belakangnya, di batik tabir adalah sebuah keadaan cemerlang. Aku tidak melihat keadaan apapun lagi.”
Abathar dan Abi Sa’id al-Khudri juga berkata: Nabi saw ditanya mengenai firman Tuhan: “Hati ...melihat”. Dan beliau menjawab, “Aku hanya melihat seberkas cahaya.”
Namun Syabi merujuk ke ‘Abdullah bin Haris dan Ibn ‘Abbas, yang telah berkata, “Muhammad saw benar-benar melihat Tuhannya”. Kemudian ia merujuk ke Masruq yang telah meriwayatkan kepadanya percakapannya dengan ‘A’isyah.
Masruq telah bertanya setara langsung kepada ‘A’isyah menyangkut masalah ini, ‘A’isyah berkata kepadanya bahwa pertanyaannya membuat rambutnya berdiri. Masruq meminta kepadanya untuk menunggu sejenak dan membaca “wa an- najm...(demi bintang), ‘A’isyah kemudian berkata kepadanya untuk berhenti sejenak dan tidak membiarkan pemikiran Masruq mengembara. Nabi saw melihat Malaikat Jibril as dengan rupanya yang asli. Namun barangsiapa mengatakan bahwa Nabi saw telah melihat Allah, ia adalah pendusta. Allah Ta’ala mengatakan bahwa mata tidak mampu meliputi-Nya, namun Dia bisa memasuki mata...[10]
Sesungguhnya wahyu bisa turun dari langit ke bumi, karena penerima wahyu adalah Nabi saw. Pada akhirnya, dia adalah makhluk duniawi yang ditempatkan di bumi. Oleh sebab itu, baik ia mendengar wahyu Ilahi sebagai suara ataupun melihat dan membacanya dalam bentuk teks tertulis, Nabi menerima pesan itu dalam hatinya sebagai gejala spontan. Jadi, wahyu dalam bentuk ini bisa diturunkan dari langit (penurunan). Sementara itu, untuk mencari tahu wahyu diturunkan kepada Nabi, para jin secara diam-diam menyembunyikan diri di langit. Dalam hal ini, ayat-ayat al-Quran mengenai bagian ini bisa dengan mudah dipahami dan diterima tanpa menafsirkan konsep-konsep “penurunan”, “langit” dan kisah jin yang bersembunyi di langit. Sedemikian banyak penafsiran kitab suci yang digunakan sebagai kitab-kitab wahyu ilahi bisa diakui tanpa memerlukan interpretasi mereka.

Apakah Allah Mahahadir?

Dari sejumlah ayat dalam al-Quran dan perdebatan agama, kita menarik konsep tersebut sebagai Allah tidak di mana-mana melainkan di mana-mana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada... (QS al-Hadid [57]:4)
Sekelompok orang meriwayatkan ayat ini dengan gagasan sebagai berikut: “Allah di mana-mana”. Namun pemahaman yang lebih jeluk tentang al-Quran akan menunjukkan bahwa hal itu tidak demikian. Ada frase-frase tertentu dalam al-Quran yang menunjukkan bahwa Allah bersama orang-orang bajik, Allah bersama orang-orang yang sabar dan seterusnya.
Namun dalam setiap frase ini “Allah bersama...” digunakan untuk pengungkapan makna-makna tertentu. Dalam ayat al-Mâidah [5]:12; al-Anfâl [8]:12; Thâhâ [20]:46; Muhammad [47]:35; an-Nahl [16]:128; at-Taubah [9]:36, 40, ditunjukkan bahwasanya Allah merupakan penolong para pelaku kebaikan, orang yang bertakwa, sabar, dan kaum beriman.
Surah an-Nisâ’ [4]:108; al-Mujâdilah [58]:7 menjelaskan bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu dan tidak sesuatu pun yang luput dari perhatian-Nya.

Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS an-Nisâ’ [4]:108)

Perhatian yang dalam pada ayat di bawah ini juga menunjukkan bahwa pengertian semacam itu sejalan dengan ayat di atas:

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hadid [57]:4)

Akan tetapi dalam sejarah pemikiran Muslim kita menemukan kelompok atau orang tertentu yang menghubungkan ayat ini ke segala sesuatu lainnya.[11] Hadis panteistik dari aliran tasawuf mencoba membenarkan pandangannya dengan mengutip ayat berikut:

Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Hadîd [57]:4)
Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya...(QS al-Anfâl [8]: 24)
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (QS Qaf [50]:16)
...maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (QS al-Baqarah [2]:115)

Mereka mendakwa bahwa al-Quran pun mendukung keyakinan mereka akan imanensi Tuhan, dan dengan cara ini Allah merupakan seluruh alam semesta ini, dan bahwa setiap objek merupakan bagian dari-Nya.[12] Namun sebuah wawasan yang lebih dalam kepada ayat ini, ayat sebelum dan sesudahnya, menunjukkan bahwa sama sekali tidak satu pun dari ayat-ayat ini yang mengacu pada imamensi Tuhan.
Sesungguhnya, Surah al-Hadîd [57]:4 bertujuan untuk menjamin kaum Muslim sebuah kadar lebih penuh dari bantuan Allah dengan mengatakan bahwa: Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.
Surah al-Anfâl [8]:24 dan Qâf [50]:16 mencoba menekankan pada manusia bahwa Allah mengetahui semua yang tersembunyi maupun yang terbuka, terang-terangan ataupun rahasia. Surah al-Baqarah [2]:115 sesungguhnya menjelaskan kepada kaum Muslimin fakta bahwa Allah pemilik Masjid al-Aqsa sama dengan Allah pemilik Masjid al-Haram dan apabila kiblat (qiblah) Muslimin dipindahkan dari Masjid al-Haram, hal itu untuk menegaskan kemandirian penuh agama Islam, Nabi saw dan kitab sucinya, dan untuk membungkam pihak-pihak yang mengatakan bahwa Nabi saw hanya mengulang tradisi agama Yahudi. Oleh sebab itu, tak satu ayat pun dari ayat- ayat ini yang mendukung panteisme.
Bagaimanapun, apapun yang didiskusikan sebelumnya tentang Allah mengarah kepada pengertian bahwasanya Dia lebih tinggi dari segala sesuatu yang terikat dengan ruang dan waktu. Jadi, Dia tidak di langit atau di bumi ataupun di mana-mana.[13]

Masalah Bisa Dilihatnya Allah

Surah al-An’âm [6]:103 dalam konteks ini menyatakan: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui.
‘Allamah Hilli dalam kitab Kasyf al-Murâd-nya mengatakan:

Keniscayaan Wujud Allah juga mengimplikasikan sebuah penolakan akan kemungkinan bahwasanya Wujud-Nya bisa dilihat.[14]

‘Allamah lebih jauh mengatakan:
Ketahuilah, hampir semua filosof berpandangan bahwa Tuhan tidak bisa dilihat. Mereka yang menyandarkan jisim (jasad) kepada Allah, percaya bahwasanya Allah bisa dilihat. Akan tetapi, seandainya orang ini tidak menganggap Allah sebagai sebuah jasad dan menganggap-Nya sebagai Wujud Abstrak, niscaya mereka tidak menganggap mungkinnya untuk melihat Allah.
Tetapi golongan Asy’ariyah berpendapat sebaliknya dengan pendapat filosof tentang kemungkinan bisa melihat Allah. Mereka mendakwa bahwa meskipun Allah bukan sebuah jisim dan abstrak, Dia masih bisa dilihat.[15]

Asy’ari (h.330) dalam Maqâlat-nya mengatakan:
Mazhab-mazhab tertentu telah mengungkapkan keimanan mereka akan kemungkinan melihat Allah dalam ayat ini dengan sendirinya. Mungkin, Allah sendiri menunjukkan Diri-Nya Sendiri seperti salah satu dari orang yang berpapasan dengan kita di jalan.[16]
Sebagian dari mereka percaya akan kemungkinan Allah merasuk ke dalam materi. Acap kali mereka menyaksikan pria tampan yang bajik, mereka mengira bahwa Allah telah merasuk ke kerangkanya. Kebanyakan orang yang mengklaim bahwa siapapun bisa melihat Allah sekarang ini di dunia dan bahkan mengatakan bahwa berjabat tangan dengan Allah, menyentuh-Nya atau melihat- Nya secara sering adalah hal yang mungkin.[17]

Mereka lebih jauh mengatakan bahwa seseorang yang berhati lurus bisa bertemu dengan Allah di dunia ini dan akhirat kelak. Keyakinan ini telah dirujuk ke sebagian pengikut Misr dan Kahmas.
Ia pun dirujukkan ke ‘Abdul Wahidbin Zaid bahwa kemungkinan bisa melihat Allah berada dalam kadar yang sama dengan kebaikan seseorang. Artinya, semakin seseorang berbuat baik, semakin mungkin dia melihat Allah.
Sebagian pihak lain percaya bahwa kita bisa melihat Allah di dunia ini dalam mimpi namun tidak dalam keadaan terjaga.
Raqabah bin Musqalah telah berkata:

Aku melihat Allah dalam mimpi yang menyatakan bahwa Dia akan memberi kedudukan tinggi kepada Sulaiman Tihi karena dia (Sulaiman) telah melakukan shalat Shubuh dengan wudhu yang sama dimana ia melakukan shalat Isya-nya yang telat selama 40 tahun. Artinya, ia tetap terjaga sepanjang malam dan melanjutkan shalat hingga pagi.

Banyak orang yang tidak percaya klaim bahwa Allah bisa dilihat di dunia ini dan menegaskan: “Allah hanya bisa dilihat di akhirat.”[18]
Di bagian akhir dari jilid pertama buku ini, Asy’ari merumuskan gagasan “para pengikut hadis dan sunnah” sebagai berikut:

Para ahli hadis dan kelompok Sunni mengatakan bahwa Allah bisa dilihat pada hari keputusan seterang bulan purnama, namun hanya oleh orang yang beriman dan bukan oleh orang kafir karena akan tergantung sebuah tabir antara Allah dan orang kafir. Allah Mahabesar berfirman, “(Bukan demikian), yang benar; sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (QS al-Muthaffifîn [83]: 115)
Musa as meminta Allah agar Dia bisa dilihat olehnya sekarang ini di dunia. Namun Allah memperlihatkan keagungan-Nya pada gunung dan menghancurkan-nya untuk menunjukkan bahwa Dia tidak bisa dilihat di dunia ini, tetapi hanya bisa dilihat di akhirat.

Ini merupakan pandangan Asy’ari [dan para pendukungnya, tentunya]. Allamah Hilli mengherani ketika Allah tidak punya jisim menurut Asy’ari, namun Dia bisa dilihat entah di sini (dunia) ataupun di sana (akhirat).

Sebab Kemunculan Keyakinan Ini dan Keyakinan Sejenis di Antara Golongan Muslim

Suatu survei ihwal pilihan dan keyakinan orang-orang ini dan perbandingan mereka dengan yang dimiliki aliran-aliran non-Islam, menunjukkan bahwa mereka telah berada di bawah pengaruh keyakinan dan pemikiran non-Islam ketimbang ajaran Islam dan al-Quran. Hal ini menerangkan alasan mereka terlempar dari jalan nan lempang. Oleh sebab itu, pandangan Abu Hasan al-Asy'’ari sendiri mengenai melihat Allah tidak dipengaruhi oleh pandangan yang lain lantaran ia dan para pengikutnya senantiasa menekankan prinsip ini dengan merujuk pada “Kitab Suci” dan “Sunnah” dalam semua sains Islam sehingga mereka berhasil mencegah pengaruh intelektual yang menyimpang dari pihak luar. Kini pertanyaan yang muncul adalah: Faktor apakah yang menyebabkan mereka percaya terhadap mampunya manusia melihat Allah di akhirat? Secara mudah itu bisa dikumpulkan dari tulisan-tulisan mereka sendiri yang dimasukkan ke dalam keyakinan seperti itu yang merupakan potongan-potongan tertentu ayat al-Quran itu sendiri.
Berkali-kali al-Quran menyebut Hari Pengadilan sebagai hari pertemuan dengan Allah.

Dialah yang memberimu rahmat dan malaikat (memohonkan ampunan, untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah “Salam”, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (QS al-Ahzab [33]:43-44)

Banyak ayat al-Quran yang menceritakan pertemuan manusia dengan Allah pada Hari Keputusan seperti Surah al-Baqarah [2]:46, 223, 249; al-An’âm [6]:31, 154; at-Taubah [9]:77; Yûnus [10]:7, 11, 45; Hud [11]: 29; ar-Ra’d [13]:2; al-Kahf [18]:105, 110; al-Furqân [25]:21; al-Ankabût [29]:5, 23; ar-Rûm [30]:8; as-Sajdah [32]:10; al-Insyiqâq [84]:6. Cara menafsirkan ayat inilah yang membikin rancu. Akan tetapi, mereka benar-benar membincangkan pertemuan dengan Allah. Misalnya, dalam Surah al-Insyiqaq [84]:6, al-Quran mengatakan:

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.

Asy’ari dan kelompoknya mengatakan bahwa istilah “pertemuan” tiada lain bermakna saling berhadapan. Dengan kata lain, “melihat”. Dengan demikian, Hari Pengadilan merupakan hari melihat Allah. Dengan memperluas ayat-ayat khusus berikut, mereka yakin bahwa yang dimaksud dengan “pertemuan” adalah penglihatan nyata.

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS al-Qiyâmah [75]:22-23)

Tidak ada penolakan fakta bahwa apabila kita terlalu berkonsentrasi hanya pada ayat-ayat ini, kita pun akan mengira bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah secara langsung pada Hari Pengadilan. Akan tetapi, al- Quran pun memuat ayat-ayat lain yang membahas perihal “melihat Allah secara langsung” dengan mengajukan kemustahilannya dalam sebuah cara yang jelas dan khas.[19]
Nyatalah, bahwa untuk mempelajari ajaran al-Quran mengenai isu ini, di tempat pertama ayat-ayat ini harus dipertimbangkan. Dalam ayat ini, tuntutan vulgar semacam ini seperti “kami ingin melihat Allah” diusulkan dan dibantah berkali-kali.
Menurut fakta, pemahaman akan fakta-fakta non-empiris dan keyakinan terhadap eksistensi mereka senantiasa sulit bagi kaum skeptis dan orang yang berkeyakinan lemah. Sebagian penentang para nabi telah meminta melihat Allah secara langsung untuk menghilangkan keraguan dan kekafiran (tentang Allah).
Misalnya, bangsa Israel mendesak Musa as:
Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar; sedang kamu menyaksikannya. (QS al-Baqarah [2]:55)

Bangsa Israel begitu kukuh dalam pendirian mereka bahwa Nabi Musa as tidak punya alternatif selain membahas isu Allah.[20]

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (Diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan-Nya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS al-A’râf [7]:143).

Bangsa Arab juga mengajukan tuntutan yang sama kepada Nabi Islam saw agar mereka bisa meyakini Allah.
Dan mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur; lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. (QS al-Isrâ’ [17]:90- 92)
Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, “Hijran mahjûrâ.”[21] (QS al-Furqan [25]:21-22)

Membicarakan tuntutan dari mereka yang, pada masa Nabi saw, ingin melihat Allah, ayat-ayat ini menganggapnya sebagai petunjuk kebanggaan dan pemberontakan mereka. Dalam hal ini, Surah al-An’âm [6]:103 mengingatkan, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.”
Apakah ayat-ayat disebutkan di atas tidak menggiring pemikiran kita untuk meyakini bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata di dunia ini atau akhirat?
Sekarang, bagaimana pengertian pertemuan dengan Allah pada Hari Pengadilan? Mungkin ini berarti bahwa pada hari itu tak sebutir keraguan yang akan tinggal di benak seseorang ihwal keberadaan Allah, seolah-olah ia melihat Tuhan secara langsung.

Allah Maha Mengetahui (al-‘Alîm)

Allah mengetahui segala sesuatu. Karena kita manusia, seluruh alam dibagi pada dua bagian: alam gaib (ghayb) dan alam kasatmata (syahâdat). Akan tetapi, Allah mengetahui alam gaib dan alam kasatmata. Tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Alam secara keseluruhan terlihat oleh-Nya.

Yang mengetahui semua yang gaib dan yang tampak. Yang Mahabesar lagi Mahatinggi. (QS ar-Ra’d [13]:9)
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS Ali Imrân [3]:5)

Bahkan Allah mengetahui benda-benda terkecil di alam semesta, termasuk setiap perbuatan yang kita lakukan.

Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS al- Baqarah [2]:215)

Dan ilmu Allah merupakan ilmu hudhuri (knowledge of presence), sesuatu yang langsung diberikan. Ia merupakan pengetahuan dari seorang saksi yang menyaksikan Satu peristiwa dengan mata kepalanya sendiri untuk menegaskan dirinya sebagai saksi.

Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS Fushshilat [41]:53)

Sejak lama para filosof dan eksponen Islam telah mengira bahwa pengetahuan akan hal-hal partikular tidak sejalan dengan Zat Allah. Isu kontroversial ini —yakni inâyat Allah— telah menguasai pikiran mereka. Menurut mereka, pengetahuan Allah akan hal-hal partikular hanya dibenarkan melalui pengetahuan-Nya akan hal-hal universal.
Penghampiran ini tidak senapas dengan apa yang dikatakan al-Quran tentang ilmu Allah. Akhirnya, Mulla Shadra —karena ia menggunakan filsafatnya untuk menguraikan gagasan keniscayaan (necessity), kemungkinan (contingency), unitas, dan multiplisitas— menerapkan penghampiran yang sama untuk memaparkan bahwa pengetahuan sempurna Allah merupakan pengetahuan dengan kehadiran (pengetahuan langsung/al-‘ilm al-hudhûri) yang senapas dengan Zat-Nya. Dengan cara ini, ia telah memecahkan problem inâyat.
Bagaimanapun, al-Quran menekankan pengetahuan Allah dengan kehadiran (pengetahuan langsung) pada semua perkara di dunia dan menganggap Allah sebagai Yang Maha Mengetahui (khabîr), QS al-An’âm [6]:73; Maha Mengetahui (al-‘alîm), QS al-Baqarah [2]:32; Yang Sangat Mengetahui (‘allâm), QS al-Mâidah [5]:109; dan Allah Maha Mengetahui (‘alîman), QS an-Nisâ’ [4]:35; Allah Mahabijaksana (al-hakîm), QS al-Baqarah [2]:32. Dia mengendalikan dunia dengan cara sebaik-baiknya.

Allah Mahakuasa

Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu dan segala tindakan: Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS al-Baqarah [2]:20).
Dia memiliki kekuasaan dan kemampuan (QS al-Baqarah [2]:20; al-An’âm [6]:37).
Dia Mahakuat lagi Mahaperkasa [al-Qawwiy al-‘Azîz] (QS Hûd [11]:66).
Dia mempunyai kekuasaan tertinggi [al-Qahir/al-Qahhar] (QS al-An’âm [6]:61; Yusuf [12]:39).
Dia mempunyai kekuasaan dan kekuatan. Ketika Dia menginginkan sesuatu untuk terjadi atau setiap kerja dilakukan, cukuplah bagi-Nya mengatakan: “Kun” (Jadilah). Dan sekali itu juga terjadi. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah”! Maka terjadilah ia. (QS Yâsîn [36]:82)

Kehendak dan Maksud Allah: Ajal dan Takdir

Biasanya wujud-wujud yang mempunyai “kekuasaan” dan “kekuatan” mampu mewujudkan apa yang mereka kehendaki atau sebagian kehendak mereka dan bahkan mereka mampu melakukan upaya untuk memperolehnya. Ketika kita berusaha untuk mewujudkan kehendak kita dengan kesadaran: “Aku berniat melakukan beberapa pekerjaan”, maka “kehendak merupakan sebuah kesadaran dan keinginan kuat yang bisa efektif dalam mencapai tujuan- tujuan kita.”
Di antara wujud-wujud di dunia ini, binatang rasional setidaknya memiliki kemampuan dari kehendak ini, yakni ketika mereka mempunyai dorongan sesuatu dari mana mereka melakukan upaya-upaya sadar untuk mencapainya. Nah, manusia mendapatkan keuntungan ini lebih dari hewan-hewan lain.
Ranah kehendak manusia lebih luas ketimbang hewan-hewan lain. Itulah mengapa peranan pengetahuan dan kesadaran lebih kreatif dalam kehidupan manusia ketimbang yang ada pada hewan-hewan lain. Meskipun banyak aktivitas yang manusia sendiri lakukan tampaknya bukan tindakan kehendak, semisal: sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem pencernaan, kelenjar besar dan kelenjar kecil (yang menghasilkan zat kimiawi penting di dalam tubuh). Sistem-sistem fungsi ini bergerak secara tak sadar (reflek).[22] Bagaimanapun, cakupan perbuatan dengan kesadaran amat terbatas. Umpamanya, tidak ada perbuatan sengaja dari manusia yang bisa mempengaruhi rotasi sistem tatasurya atau bisa mendampaki ciri-ciri fisik turunan yang dengannya ia lahir. Dengan sendirinya, pengaruh “kehendak” atau “niat” dan manusia terbatas. Itulah mengapa kadang terjadi, siapapun yang memutuskan untuk melakukan sesuatu namun abai akan faktor-faktor yang ada di balik ruang lingkup pengetahuan dan kekuasaannya, mengakibatkan kehendaknya terhalang untuk terwujudkan. Akan tetapi Allah adalah Zat Yang Mahatahu dan Mahakuasa yang bisa melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. (QS Hûd [11]:108)
Mahakuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya. (QS al- Burûj [85]:16)

Tiada sesuatu pun yang mencegah-Nya untuk rnelakukan apa yang menjadi kehendak-Nya (QS Hûd [11]:33; Fâthir [35]:44 dan seterusnya).
Kehendak-Nya mengatur seluruh alam (qadha) dan sama sekali bukan kehendak selain Dia (QS al-Mu’min [40]:20). Setiap kali sesuatu bertindak atau bergerak, tindakan dan gerakannya berada dalam kerangka yang ditetapkan oleh Allah, lantaran Dia telah menempatkan batasan- batasan tertentu pada segala sesuatu (qadar) (QS al-Furqân [25]:2; Fushshilat [41]:10; ath-Thalâq [65]:3).
Manusia juga diperintah oleh hukum mutlak ini. Peran kemampuannya untuk mengembangkan dan menerima jalan kebenaran terbatas dan ditentukan oleh qadha dan qadar Allah. Dengan sendirinya, Allah menghendaki agar manusia dengan kehendak khusus dan pilihannya sendiri menentukan masa depan baik dan buruknya, keelokan dan keburukannya, kecerahan ataupun kemuramannya.
Bahkan dalam batasan-batasan ini, manusia ataupun maujud-maujud lainnya tidak bisa menganggap dirinya sendiri sebagai penguasa mutlak dan pasti dari yurisdiksi terbatas. Jika Allah menghendaki, Dia sanggup menjadikan manusia tidak berdaya dan tak efektif. sesungguhnya Tuhanmu benar-benar maha mengawasi (QS al-Fajr [89]:14)
Adalah mungkin bahwa perintah-Nya mencabut ikhtiar seorang individu atau kelompok arogan dalam suatu cara yang diingatkan dan harus memahami hatta dalam ranah kekuasaan dan kemampuan seseorang untuk membentuk dirinya sendiri. Ia harus selalu mencamkan bahwa kehendak dan tujuan Allah meliputi segala sesuatu dan mengatur di mana-mana.
Banyak contoh dalam al-Quran menyangkut perintah Allah semacam itu seperti ayat 17-32 Surah al- Qalam [68].

Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah), sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh memetik (hasil)nya di pagi hari. Dan mereka tidak mengucapkan, “Insya Allah”. Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Lalu mereka panggil-memanggil di pagi hari. “Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.” Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.” Dan berangkatlah mereka di pagihari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin), padahal mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya). Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” Mereka mengucapkan, “Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela mencela. Mereka berkata, “Aduhai celakalah kita. Sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu. Sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.

Allah Mahahidup (Al-Hayy)

Suatu wujud yang mempunyai kekuasaan berikut kesadaran dan kehendak disebut wujud yang hidup. Dengan cara yang sama, kita menetapkan seseorang atau masyarakat sebagai hidup berdasarkan pencariannya atau pencarian mereka dengan kesadaran dan pengetahuan. Lantas, mana bangsa yang lebih hidup? Sebuah bangsa yang bisa memeragakan kadar pencarian yang sadar dalam kehidupannya. Di antara makhluk hidup, manusia diberkati dengan ukuran kehidupan yang paling lengkap. Oleh sebab itu, pencarian sadar dalam kehidupannya adalah yang paling jeluk dan luas.
Sekarang, wujud manakah yang mempunyai aras tertinggi dari kegiatan sadar dan yang lebih besar ketimbang semua wujud aktif dan hidup lainnya? Tentu saja Allah. Allah Mahahidup dan memiliki perangkat kehidupan yang maksimum.

Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan melainkan Dia...(QS al-Mukmin [40]:65)

Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal), yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS al-Furqân [25]:58)
Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur (QS al-Baqarah [2]:255).
Alif Lâm Mîm. Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan al-kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya (QS Ali Imrân [3]:1-3)
Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. (QS Thâhâ [20]:111)

Kata al-Qayyum berasal dari akar kata yang sama dengan qiyâm, yang berarti berdiri. Kata al-Qâ’im, sebagai subjek, berarti orang yang berdiri. Sebab itu, penafsiran kata qayyûm berarti “berdiri secara kukuh”, atau dalam bahasa yang lebih jelas “yang tegak abadi”. Para mufasir memiliki pandangan yang berbeda seputar makna sifat ini dalam al-Quran. Thabarsi dalam Majma’ al-Bayân-nya, mengatakan:

Kata qayyûm berarti yang memelihara penciptaan, baik dalam penciptaan makhluk-makhluk atau dalam memberikan pemeliharaan kepada mereka dari hari ke hari. Sebagaimana dikatakan dalam ayat lain “Tiada makhluk melata di muka bumi yang pemeliharaannya tidak disediakan oleh Allah.” Pandangan ini diriwayatkan dari Qatadah. Apabila dikatakan bahwa qayyûm berarti bahwa Dia Mahatahu, maka itu diturunkan dan idiom bahasa Arab ini. Yakni, “orang ini mengetahui apapun yang ditulis dalam buku ini”. Di tempat lain, dikatakan bahwa qayyûm bermakna “yang hidup abadi”, yakni Dia yang selalu mencipta.
Pandangan ini dinukil dari Sa’id bin Jubair dan Dhahhak. Di tempat lain, dikatakan bahwa qayyûm berarti “ia yang mengawasi semuanya berdiri di atas kepala mereka sehingga membalas atau menghukum mereka menurut pengetahuannya.” Pandangan ini diriwayatkan dari Hasan al-Basri. Kata al-Qayyûm sejalan dengan semua penafsiran ini.[23]

Dalam diskusi filosofis, kata al-Qayyûm ini didefinisikan sebagai al-qâ’im bi adz-dzâti maqûmun lighayrihi, yang berarti “swamandiri dengan Zat-Nya dan pijakan bagi yang lain.” Yakni, keberadaan yang lain tergantung kepada-Nya, sebagaimana ungkapan “Kami tergantung pada Engkau karena Engkau mandiri.”
Mulla Shadra juga cenderung untuk menerima penafsiran yang sama usai mendiskusikan isu tersebut secara detail. Ia menyimpulkan bahwa istilah qayyûm adalah “Ia yang mandiri dimana semua yang lain tergantung kepada-Nya.”[24]
Dalam menafsirkan kata qayyûm, Sayyid Quthb mengatakan, “Yang tidak hanya menciptakan segala sesuatu, namun juga memeliharanya.”[25]
Allamah Thabathaba’i juga dalam tafsir al-Mizân-nya (jilid 2, h.347-8) telah menafsirkan kata itu dengan cara yang sama mengikuti versi Qatadah dalam Majma’ al-Bayân.
Kami berpendapat bahwa pengertian yang sama yaitu berdiri abadi (everstanding), maha mencukupi (ever-subsisting), dan maha mengawasi (ever-watch full) yang telah masuk ke dalam terjemahan bahasa Parsi tidak hanya senapas dengan makna harfiah turunannya dari qiyâm. Akan tetapi pengertian tersebut konsisten dengan penjelasan Surah al-Baqarah [2]:255 (Ayat Kursi) seputar penafsiran kata qayyûm. Istilah qayyûm dalam makna ini merupakan pelengkap untuk kata sifat yang sama al-Hayy dan ketinggian maknanya.
Seperti kita mafhum, semua makhluk hidup di bumi secara relatif membutuhkan tidur. Mereka harus hidup untuk memperkuat diri mereka sendiri demi kesinambungan hidup. Tidur diasosiasikan dengan kelemahan dan kelemasan otot-otot dan setiap binatang biasanya berbaring dan tidak bisa berdiri pada kakinya. Pada galibnya, dalam keadaan tidur yang panjang, sebagian energi vital terutama kemampuan untuk bergerak dan beraktivitas akan berada dalam keadaan semi-penundaan.
Al-Quran mengatakan. Allah Wujud hidup yang sempurna, yang modus wujudnya tidak menyisakan ruang bagi kelambanan. Dia Wujud yang tak pernah istirahat. Maha Mencukupi, dan Mahasadar. Tidur ataupun mengantuk tak pernah menimpa-Nya. Sebab itu, Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. Sekarang mari kita perhatikan kembali Ayat Kursi (2: 255) selengkapnya:

Allah, tiada ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.[26] Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

Anda telah melihat bahwa semua kesimpulan yang bisa ditarik dari ayat ini memperlihatkan hikmah dan kekuasaan mutlak Allah yang merupakan tanda terbebasnya Dia dari setiap kelemahan sekaitan dengan sifat hidup-Nya.

Allah: Maha Pengasih Maha Penyayang

Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS al-Fatihah [1]:1); Allah sangat penyayang (ar-Raûf) kepada hamba-hamba-Nya (QS Ali ‘Imrân [3]:30); dan “Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya” dan telah melimpahkan kepada kita nikmat tak terhitung (QS Ibrâhîm [14]:34; an-Nahl [16]:18); “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki” (QS adz-Dzâriyât [51]:58); “Dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki” (QS al-Jumu'ah [62]:11); “Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun” (QS an-Nisâ’ [4]:99); “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS al-Baqarah [2]:235).
“Mahasuci” (QS Saba’ [34]:40). Apabila seorang pendosa jatuh dalam kehidupan dosa dan ketaksucian (rijs) kemudian kembali kepada jalan Allah—yakni jalan kesalehan dan kebajikan (taubat dalam makna Islamnya), maka Allah kembali melimpahkan rahmat—Nya kepadanya dan “Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan...” (QS asy-Syûrâ [42]:25). Dia segera menerima taubat kesalahan orang-orang yang bertaubat (QS al-Baqarah [2]:160).

Allah

Tanda-tanda cinta dan rahmat Allah begitu merentang luas dan tak terhitung sepanjang alam semesta. Manusia seperti halnya makhluk lain menikmati rahmat Allah yang imanen ini dengan perbedaan bahwa manusia menikmati rahmat khusus Allah, yaitu kemampuan untuk maju atas usaha sendiri, sebuah proses sadar dari pertumbuhan-diri dengan pengetahuan membedakan baik dan buruk, keindahan dan keburukan, danjuga memiliki kekuatan untuk memilih satu dari dua pilihan itu.[27] Kesadaran pertumbuhan-diri dan kemampuan untuk melakukan pilihan dengan kondisi ini bahwa sedikitnya sebagian tindakan manusia akan menghasilkan akibat yang diharapkan dan sebagian membuahkan hasil yang tidak diinginkan. Akibat yang diinginkan baginya adalah menyenangkan dan membahagiakan, sementara akibat yang tak diinginkan baginya menyakitkan dan memunculkan penderitaan, hukuman, dan siksa keras Allah baginya. Keprihatinan dan kepedihan ini berkaitan dengan hilangnya akibat-akibat yang diinginkan, yakni “pahala” dan menghadapi akibat-akibat yang tak diingini yakni “hukuman”, bisa menstimulasi manusia untuk mengembangkan dirinya sendiri dan mengubahnya menjadi manusia yang layak mendapatkan pahala dan diselamatkan dari hukuman. Maka, eksistensi keprihatinan dan kepedihan semacam ini dalam diri manusia merupakan rahmat dari Allah yang akan disusul oleh hukuman dan murka Allah bagi mereka yang tidak bersyukur dan tidak berterima kasih. Wahai Engkau, yang rahmat-Mu mendahului murka-Mu (kutipan doa ‘Ali bin Abi Thalib yang diajarkan kepada Kumail bin Ziyad; —penj.).
Berpijak pada ini, al-Quran berkali-kali menukil angkara Tuhan yang menimpa mereka yang durhaka.

Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaan-Nya (QS al-Anfâl [8]:52)
Dan barangsiapa yang ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (QS Thâhâ [20]: 81)
Dan azab yang pedih (QS al-Muzzammil [73]:13)

Allah: Mahabesar, Mahasuci, Mahaagung, dan Maha Terpuji

Allah Mahatinggi [al-‘Aliyy] (QS al-Baqarah [2]:255), Mahabesar [al-Kabîr] (QS Luqman [31]:30), yang mahatinggi derajat-Nya [rafî’al-darajât] (QS al-Mukmin [40]:15), Mahaperkasa lagi Mahabijaksana [‘azîzun hakîm] (QS al-Baqarah [2]:209), Mahatinggi lagi Mahabesar [al-‘Aliyy al-‘Azhîm] (QS al-Baqarah [2]:255), Mahatinggi [al-Muta’âli] (QS ar-Ra’du [13]:9), Tuhan yang mempunyai kebesaran dan karunia [Dzi al-jalâli wa al-ikrâm] (QS ar-Rahman [55]:78), Maha Terpuji lagi Maha Pemurah [Hamîdun Majîd] (QS Hud [11]:73).
Dia Mahabesar, yakni Wujud yang membuat kebesaran dan keagungannya menjadi nyata dan semua tanda kebesaran yang bisa dilihat di alam semesta hanya milik-Nya semata (QS al-Jatsiyah [45]:37). Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah (QS Hud [11]:73).

Allah Mahaadil

Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku (QS Qâf [50]:29)
Dia selalu mengajak kepada kita untuk bertindak berdasarkan keadilan dan persamaan (QS an-Nahl [16]:90; al-A’râf [7]:29). Dia telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dalam bentuk semacam ini yang serasi dengan sistem wujud yang kukuh, yang di dalamnya semua harmonis dan saling melengkapi satu sama lain (QS al-Mulk [67]:3, al-A’lâ [87]: 2). Allah memberi pahala bagi perbuatan baik dan hukuman bagi perbuatan dosa di akhirat dalam bingkai sebuah sistem “aksi dan reaksi” yang teratur. Di akhirat kelak, manusia tinggal memanen buah-buah perbuatan yang telah ia semai di dunia ini. Dalam hal ini, ia memperoleh bahwa esensi individu dari wujudnya yang telah ia bentuk sendiri di dunia.[28] Setiap rasa manis dan asam yang diberikan kepada manusia di dunia lain merupakan hasil perbuatannya di dunia ini menurut mana dia mendapatkan keadilan penuh dan sempurna, tanpa reduksi apapun, tanpa diperlakukan secara zalim (QS al-Baqarah [2]:281; Ibrâhîm [14]:41; al-Mukmin [40]:17 dan seterusnya). Setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya (QS ath-Thûr [52]:21). Perkembangan-dirinya, entah ia dalam arah yang benar atau jalur yang lacur, dan ikhtiarnya untuk membangun lingkungannya sehingga lingkungan sosial dan fisik menjadi nyaman bagi kesejahteraannya, dan kesejahteraan lainnya membuka jalan bagi pertumbuhan diri manusia dalam arah yang benar.

Kesimpulan Akhir

Bagian ini terkait dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah di dalam al-Quran dengan acuan khusus pada perbuatan Allah. Siapapun bisa menemukan sejumlah Nama dan Sifat Allah lainnya yang lebih dari ratusan kata. Kita bisa menemukan banyak Nama dan Sifat Allah dalam doa-doa dan munajat. Umpamanya, seribu Nama dan Sifat Allah yang terdapat dalam munajat yang makruf sebagai Jawsyan al-Kabîr.[29]
Sebagian besar Nama dan Sifat yang disematkan kepada Allah ini merupakan gabungan kata-kata, entah kata-kata ataupun maknanya. Karena konotasi gabungan kata-kata sangatlah luas, seseorang tidak bisa yakin akan jumlah pasti untuk Nama dan Sifat Allah. Para teolog dan sufi pun menilai bahwasanya Nama-nama dan Sifat-sifat Allah itu tak terhingga.[30]
Ini merupakan rangkuman ajaran metafisika dari al-Quran sekaitan dengan ilmu Allah.[31] Jenis ilmu ini diturunkan dari sumber wahyu yang otentik. Di saat yang sama, ia dilambari oleh pengetahuan sadar manusia yang mencerap—melalui kontemplasi—tanda-tanda Allah dengan merenungkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Ini adalah sejenis pengetahuan yang bisa memuaskan secara relatif dahaga seorang manusia yang berhasrat akan signifikansi Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Demikian itu telah mendapatkan problem praktisnya yang kita hadapi, yakni mengorientasikari kehidupan.
Dalam penghampiran ini, tak ada ruang bagi pembahasan tak berfaedah dan sia-sia yang membahayakan kehidupan seorang individu juga masyarakat. Ini pelajaran yang harus kita pelajari untuk menghindari dan mencegah dari perselisihan tiada henti dan tak berguna dalam bidang metafisika. Diskusi dan kontroversi semacam itu tidak mengarahkan kita kepada kesimpulan yang pasti, karena sebagian besar pembahasan bersumber dari kejahilan dan prasangka.
Al-Quran mengecam orang-orang yang menerima metode ini secara khusus dalam isu-isu metafisika.

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS Ali lmrân [3]: 66)

Saya berdoa kepada Allah agar kita tidak dihitung sebagai salah seorang manusia seperti itu yang terlibat dalam pertikaian muspra. Akhir kata, alhamdulillâhi rabb al-‘alamîn.
Tuhan menurut Al-Quran: sebuah kajian metafisika; Penerjemah: Arif Mulyadi; Penerbit Al-Huda, Jakarta; Rajab 1424 H / September 2003 M.; Hal. 125 – 197.

1. Dan frase as-samâ ad-dunya, langit terdekat dalam al-Quran, orang bisa menyimpulkan bahwa al-Quran menganggap bahwa angkasa bersama bintang-gemintang ditempatkan dalam satu langit. Ia pun berada di langit pertama, langit terendah dan terdekat kepada kita. Maka, dari frase “tujuh langit” yang digunakan dalam banyak ayat al-Quran bukanlah kesan simbolik dan dalam arti hakiki menunjukkan jumlah langit yang spesifik, maka langit ini berbeda dari delapan atau sembilan langit yang dipercayai dalam astronomi klasik. Karena menurut doktrin tersebut, dari langit pertama hingga langit ke tujuh planet-planet ditempatkan. Langit ke delapan adalah tempat jasad-jasad baku, dan langit kesembilan berupa Atlas yakni tiada berbintang. Untuk informasi tentang hal ini, rujuk ulasan-ulasan dan buku-buku mengenai masalah ini, menurut doktrin tersebut.
2. Sidhratul Muntaha dalam ayat al-Quran ini sama dengan pohon someh (someh tree)di Upanishad, h.203
3. Injil Matius 5: 34-35.
4. Penggunaan istilah-istilah tak langsung semacam itu merupakan masalah biasa dalam tulisan-tulisan simbolis.
5. Ada pandangan yang sama dalam kitab Perjanjian Lama, Kejadian 1: 2-7.
6. Pandangan ini pun berakar dari kebudayaan pra-Islam. Umpamanya dalam Perjanjian Lama, Keluaran 24: 10, yang berbunyi: “Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.”.
7. Sekalipun kita menjumpai hadis-hadis dari Nabi saw dan para imam as mengenai konsep singgasana, namun menambahkan hadis-hadis tersebut dan investigasi tentang otentisitasnya di luar cakupan tulisan ini.
8. Teori ini lebih kurang dekat dengan teori-teori ilmiah dengan merujuk pada buku Science for the Intelligents, h.27-113.
9. Untuk klasifikasi terperinci ihwal nama Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan wacananya tentang Rahmat Suci dan Rahmat Yang Paling suci di halaman-halaman sebelumnya.
10. Qaisari, Syarheh Fushûsh-e Qaisari, h.20.
11. Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jilid 9, h.175.
12. Ini merupakan salah satu pengertian panteisme yang menyulitkannya untuk membedakannya dengan doktrin materialistik tertentu menyangkut dunia.
13. Dengan kala lain, sebetulnya Allah ada di mana-mana hanya saja Dia tidak “bersemayam”" atau terikat di dalamnya—penerj.
14. ‘All amah Hilli, Kasyf al-Murâd, h.182.
15. Ibid., h.182-184.
16. Barangkali kebanyakan dari masalah ini bersumber dari Taurat, karena ada beberapa contoh dalam kitab Taurat (Perjanjian Lama) pasal Kejadian dan Keluaran bahwa Allah telah menemui Ibrahim dan Ya’qub.
17. Asy'ari, Maqalat Al-Islamiyah" l.
18. Ibid., h.321-322
19. Seperti Surah al-An’âm 6.: 103 dan al-A’râf 7J: 143.
20. Insiden tersebut dikisahkan dalam Surahan-Nisâ' 4.: 153.
21. Ini suatu ungkapan yang biasa disebut oleh orang Arab di waktu menemui musuh yang tidak dapat dielakkan lagi atau ditimpa suat bencana yang tidak dapat dihindari. Ungkapan ini berarti: Semoga Allah menghindarkan bahaya ini dariku—penerj.
22. Tak syak lagi bahwa fungsi masing-masing sistem terkait dengan sistem syaraf. Bahkan anatomi lanjutan percaya akan pusat komando bagi setiap sistem menempati satu bagian di otak. Akan tetapi setiap gerakan terkait dengan perintah dari otak yang tidak bisa disebut gerakan sukarela. Bagaimanapun, sebagian orang bisa mengendalikan diri mereka sendiri secara sengaja dengan latihan dan asketisme. Mereka bisa mengendalikan sebagian sistem peredaran darah. Kontrol semacam itu, jika itu benar, amatlah terbatas dan merupakan pengecualian dan tidak bisa berlaku bagi setiap orang.
23. Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jilid 2, h.362.
24. Mulla Shadra, Tafsîr Mullâ Shadrâ, h.305-306.
25. Sayyid Quthb, Fi Zhilâl al-Qur’ân, 1: 419.
26. Surah al-Baqarah 2.: 117; Ali lmrân 3.: 47; an-Nahl 16.: 40; Maryam 19.: 35; al-Mukmin 40.: 68 ada dalam konteks ini. Dalam ayat-ayat tertentu ditekankan tentang noktah ini bahwasanya Allah, dalam kelanjutan perintah-Nya, diminta dari semua jalan.
27. Inilah ciri yang sama yang membedakan filosofi eksistensi yang kiwari disebut eksistensialisme: Eksistensi manusia mendahului esensinya, dan bahwa esensi manusia ditumbuhkan dan dibentuk oleh dirinya sendiri.
28. Pernyataan ini tampaknya mengacu kepada teori gerakan substansial yang digagas oleh Mulla Shadra dalam buku Al-Asfâr al-Arba’ah. Lewat teorinya ini, Mulla Shadra ingin membuktikan bahwa pada intinya substansi manusia dimungkinkan sekali bisa berubah. Tidak hanya satu substansi, bahkan manusia pun dimungkinkan untuk memiliki berbagai substansi. Apabila perbuatan bajik dilakukan secara tunak, maka substansi manusia di akhirat nanti tiada lain adalah kebaikan itu sendiri. Demikian pula sebaliknya—penerj.
29. Sebuah kumpulan doa dan munajat yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada ‘Ali bin Abi Thalib—salam atasnya—yang memuat seribu nama Allah. Biasanya doa ini dibacakan pada malam-malam tertentu seperti malam al-Qadar (laylat al-qadr) dibulan Ramadhan—penerj.
30. Qaisari, Syarh Fushûsh-e Qaisari, h.20.
31. Dalam karya ini isu-isu utama seperti ilmu Allah, keadilan Allah, dan seterusnya dikaji secara ringkas, sekalipun setiap isu menuntut diskusi terperinci dalam format buku bebas yang berjilid-jilid. Syukurlah, baru-baru ini beberapa buku penting telah ditulis dalam hal ini meski hanya berkaitan dengan sebagian isu ini oleh ulama yang mempunyai kemampuan menulis yang baik. Kami berharap karya-karya yang membahas aspek-aspek lain dari tema ini akan lebih banyak lagi ditulis dan diterbitkan.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
8+10 =