Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

PANDANGAN MUTHAHHARI TENTANG AGAMA, SEJARAH, AL-QURAN, DAN MUHAMMAD
(“Yang Tak Terpikirkan” bagi Progresivitas dan Dinamisitas Islam)


Muhammad Ja’far


Tulisan ini mencoba untuk mengungkapkan sisi kritis pemikiran Murtadha Muthahhari yang selama ini relatif kurang (tidak) terungkap yang memakai pola "jarak jauh" dan "jarak dekat". Padahal, justru pada bagian-bagian itulah "energi" progresifitas, dinamisitas, dan kreativitas pemikiran Muthahhari bagi masa depan Islam menemukan titik tekannya. Istilah penulis. bagian-bagian tersebut adalah "Yang Tak Terpikirkan", penanda sesuatu yang "terlewatkan", kurang diapresiasi, dan minim ditindaklanjuti dari rangkaiaan pemikiran keislaman Muthahhari.

TERKAIT dengan sosok Muthahhari, harus dipahami bahwa Muthahhari adalah seorang ulama sekaligus filosof hasil produksi iklim cakrawala dunia Syi’ah yang menempatkan filsafat sebagai salah sarli sentra pemikiran keagamaan. Selain itu, Muthahhari juga adalah produk iklim ijtihad yang “pintunya” tidak pernah tertutup. Dua hal ini adalah kelebihan yang berkembang di dunia Syi’ah tetapi tidak kita temukan dalam dunia Suni. Latar belakang historis iklim intelektualnya ini, secara tidak langsung, kemudian menempatkan Muthahhari sebagai sosok pemikir yang menempatkan peran filsafat pada posisi yang sangat vital dan penting. Pada hampir semua bukunya, Muthahhari menegaskan secara seksama bahwa peran filsafat harus ditempatkan secara signifikan pada posisi yang strategis. Penekanan Muthahhari secara maksimal pada filsafat ini terkait erat dengan pandanganya tentang peran akal atau rasio. Bagi Muthahhari, rasio adalah potensi besar yang dimiliki manusia, yang bukan hanya menjadi pembeda fundamental eksistensialnya dengan makhluk yang lain (binatang) tetapi juga menjadi titik dasar perbedaan aksidental antara keduanya. Dengan optimalisasi ekspresi potensi rasionya, manusia bisa menggapai dinamisitas, progresivitas, serta kreativitas dalam hidupnya. Dengan kekuatan rasionya, manusia dapat menjemput kemajuan dan meraih dinamisitas hidupnya. Karena itu, filsafat, sebagai sebuah disiplin ilmu yang berdiri di atas fundamental kekuatan nalar rasio, kemudian mendapatkan tempat yang cukup istimewa dalam semua lini konsepsi pemikiran Muthahhari. Filsafat, oleh Muthahhari, sangat ditekankan penggunaannya.
Walaupun Muthahhari sangat menekankan upaya optimalisasi potensi rasio melalui “kendaraan” filsafat tetapi hal itu tidak menempatkannya pada posisi yang timpang dengan cara menafikan potensi spiritualitas pada diri manusia. Muthahhari terap mempertahankan aspek spiritualitas pada diri manusia. Muthahhari sering mengajukan kritik keras kalangan yang sepenuhnya bertumpu dan berorientasi pada rasio, tanpa mempertimbangkan sisi spiritualitas manusia. Menurut Mutahhahri, selain akan berakibat pada kekeringan dan kegersangan jati diri manusia sebagai akibat dari pemujaan pada materi secara absolut, hal itu juga akan mengakibatkan terjadinya degradasi moral.
Akan tetapi, dalam pandangan Muthahhari, spiritualitas juga harus ditempatkan secara proporsional sebab spiritualitas yang tidak ditunjang oleh kekuatan dasar rasionalitas, bagi Muthahhari, akan mengantarkan umat Islam pada stagnasi atau kejumudan sebab sebagian aspek kehidupan manusia merupakan problem faktual yang hanya bisa dihadapi dengan kekuatan nalar rasio. Jika dimonopoli oleh perangkat spiritualitas, maka aspek tersebut kemudian bukan hanya tidak akan terselesaikan tetapi akan semakin menggumpalkan dan menambah kompleksitas problem tersebut.
Oleh karena itu, bagi Muthahhari, semuanya harus ditempatkan dan dihadapi secara proporsioanal sesuai dengan perangkat khususnya. Apa yang berkaitan dengan rasio, maka harus dihadapi dan diselesaikan dengan kekuatan nalar rasio, demikian juga dengan aspek yang menjadi “jatah” sisi spiritualitas manusia. Dalam satu kalimat, saya hendak menyimpulkan bahwa apa yang hendak ditegaskan Muthahhari adalah: berikanlah apa yang menjadi bagian analisis rasio, sebagaimana engkau juga harus mernberikan segala aspek yang menjadi otoritas ketajaman spiritualitas. Tak boleh ada dominasi serta monopoli yang satu atas yang lainnya, yang bisa berakibat pada ketimpangan pemikiran keislaman.

Menggulirkan Progresivitas, Dinamisitas, dan Kreativitas Islam: Perspektif Muthahhari

Dari paparan di atas, saya akan melangkah lebih jauh pada upaya eksplorasi bagian-bagian yang menjadi dasar potensi tercapainya dinamisitas, progresivitas, serta kreativitas Islam dalam pemikiran-pemikiran Muthahhari. Dalam berbagai kesempatan pidato dan beberapa bukunya, Muthahhari memaparkan hasil diagnosisnya perihal latar belakang penyebab terjadinya kemunduran dan kelemahan pengaruh ajaran Islam. Dari hasil diagnosis Muthahhari perihal kemunduran atau kelemahan pengaruh ajaran Islam, dalam bukunya Jejak-jejak Ruhani (1996) dan Perspektif al-Quran tentang Manusia dan Agama (1998), saya menyimpulkan beberapa poin yang menjadi hipotesisnya.
Secara umum, Muthahhari menilai bahwa penyebabnya terletak pada cara pandang umat Islam sendiri terhadap pokok-pokok ajaran agamanya, bukan pada ajaran Islam itu sendiri secara substansial sebab, dalam pandangan Muthahhari, sebagai sebuah konsepsi, Islam sudah sangat komprehensif dalam menyediakan “amunisi” bagi para penganutnya untuk menghadapi segala bentuk problematika tantangan hidup. Sekarang, semuanya bergantung pada umat Islam sendiri dalam memanfaatkan “amunisi” tersebut.
Salah satu bentuk kesalahan dalam memosisikan, memahami, serta memfungsikan konsep ajaian Islam adalah dengan menempatkannya sebagai sebuah tata nilai yang membelenggu. Menurut pandangan Muthahhari, bukanlah Islam yang berisi ajaran yang membelenggu melainkan umat Islam sendirilah yang memahami ajaran-ajaran Islam secara sempit sehingga secara tidak langsung menjadi tali pembelenggu bagi kebebasan dan kreativitasnya. Islam adalah sebuah konsep yang universal dan komprehensif. Jadi, jika Islam difungsikan secara tepat, kita akan merasakan betapa Islam memiliki fungsi yang justru menentang segala bentuk pengikatan dan pembelengguan.
Muthahhari menolak dikotomi yang selama ini berkembang umum bahwa berpegang secara teguh pada ajaran Islam berarti kerelaan untuk selalu tertinggal dengan berbagai bentuk perkembangan zaman dalam semua dimensi kehidupan; dan mengikuti perkembangan zaman berarti keharusan untuk meninggalkan dan menanggalkan keislaman kita. Menurut Muthahhari, dikotomi ini tidak berdasar. Islam hadir tidak untuk ikut larut dalam kubangan perkembangan zaman sebab bukan tidak mungkin zaman akan berkembang mengarah mengikuti ego negatif manusia sehingga menimbulkan berbagai ekses negatif secara global. Demikian sebaliknya, Islam juga tidak hadir untuk menghadang dan mengekang laju gerak perkembangan zaman.
Bertolak dari sini, maka menurut saya, Islam bagi Muthahhari kemudian bergantung sepenuhnya pada bagaimana ia dipahami. Jika dipahami, diposisikan, serta difungsikan sebagai belenggu, pembunuh kreativitas, serta tali pengikat, maka konsepsi ajaran Islam akan berfungsi seperti itu. Akan tetapi, jika umat Islam memahami, memosisikan, serta memfungsikan rangkaian ajaran Islam secara proporsional, maka apresiasi Islam terhadap kebebasan, pregresivitas, kreativitas, dan dinamisitas akan dirasakan manfaatnya oleh Muslimin sendiri. Dan, itu hanya bisa tercapai, menurut Muthahhari, jika umat Islam sendiri selalu berusaha menyelami kedalaman dan mengarungi keluasan, universalitas, dan komprehensivitas ajaran Islam. Namun demikian, menurut saya, persepsi tentang Islam yang membelenggu dan membebaskan tentu tidak sama pada tiap-tiap individu atau kalangan. Membelenggu atau membebaskan bagi satu pihak Muslimin belum tentu demikian bagi pihak Muslimin yang lain.
Dalam Jejak-jejak Ruhani (1996) subbab Hal-hal yang Memperlemah Pengaruh Ajaran Agama Islam, Muthahhari menganalisis lebih jauh bahwa salah satu ekses kesalahan memosisikan, memahami, dan memfungsikan agama (Islam) adalah digunakannya agama sekadar sebagai obat penenang psikologik-mental tatkala seseorang menghadapi kemiskinan material. Menurut Muthahhari, pemfungsian agama sebagai obat penenang batin akibat dari kemiskinan material adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan keberagamaan umat manusia umumnya dan Muslimin khususnya. Akibatnya, fungsi dan peran agama (Islam) akhirnya hanya bersifat temporal dan aksidental. Hal itu menjadi temporal karena jika tekanan psikis telah hilang, pada saat itu juga ajaran agama (Islam) tidak akan digunakan dan diperlukan lagi. Dan, hal itu menjadi aksidental karena konsep ajaran agama (Islam) digunakan pada saat tertentu sesuai dengan kebutuhan psikis manusianya. Muthahhari mengakui fenomena ini terjadi dalam kehidupan umat Islam dan itulah yang menjadi salah satu faktor signifikan yang memperlemah ajaran agama Islam.
Lebih jauh, dalam analisisnya, Muthahhari menilai pola pikir keagamaan yang tidak kritis, fatalistik, dan cenderung menggunakan agama sekadar sebagai obat psikis, seperti itu, akan dengan mudah dimanipulasi oleh penguasa untuk menancapkan kuku kuasanya. Dalam keadaan seperti itu, agama akan dengan mudah dijadikan alat untuk meraih dan melanggengkan kekuasaan yang menindas, otoriter, dan totaliter.
Menurut Muthahhari, inilah titik tekan kritik serta penolakan Karl Marx terhadap agama, yaitu ketika agama dijadikan sebagai alat manipulasi, dominasi, serta manipulasi sosial sementara penganutnya menikmati ajaran agamanyasebagai candu. Dalam Perspektif al-Quran tentang Manusia dan Agama (1998) bab Manusia dan Keimanan, subbab Agama: Fitrah Manusia, Muthahhari menandaskan secara tegas bahwa kesalahan mendasar dan fatal Marx adalah ketika mencampuradukan antara agama sebagai sebuah konsep dan tindak manipulasi yang dilakukan oleh penguasa sekaligus pemeluknya terhadap agama itu sendiri. Artinya, Muthahhari tidak menutup kemungkinan terjadinya fenomena sebagaimana yang dikatakan Marx. Bahkan, hal itu sangat mungkin terjadi dalam realitas sosial-politik ketika Marx hidup sehingga menciptakan kesan negatif Marx terhadap agama.
Akan tetapi, upaya generalisasi antara agama sebagai sebuah konsep dengan hasil pemahaman penganutnya serta fenomena manipulasi para penguasa atas agama sebagai alat politik adalah sebuah kesalahan besar sebab sebagai sebuah konsep, agama, dalam hal ini Islam, justru hadir dengan mengusung visi dan misi pembebasan manusia dari keterkungkungan hidupnya. Islam justru hadir sebagai sebuah teologi yang membebaskan manusia dari keterbelengguan, baik keterbelengguan secara politis maupun sosial-material. Dalam aspek politis, agama (Islam), menurut Muthahhari, hadir dengan visi dan misi untuk membebaskan umat manusia dari segala bentuk penindasan politik oleh para penguasa yang otoriter, bukan justru sebaliknya sebagaimana yang diagitasikan Marx.
Oleh karena itu, jika agama teryata dimanipulasi menjadi alat kekuasaan, maka itu tak lain adalah bentuk penyimpangan agama.
Dan, dalam kondisi demikian, menurut Muthahhari, kita bukan justru menancapkan kesan negatif pada agama dan meninggalkannya tetapi justru harus berusaha untuk menegakkan kembali panji agama yang telah diselewengkan. Di sisi lain, pemanfaatan agama hanya sebagai obat penenang akibat kesulitan material, bagi Muthahhari, sangat tidak tepat dan salah satu bentuk kejahilan dalam memahami dan memfungsikan agama sebab, pada dasarnya, dalam agama justru terkandung visi dan misi mulia untuk memacu para penganutnya agar mencapai progresivitas dalam meraih kekayaan material.
Jadi, menurut Muthahhari, semua fenomena kesalahan dalam memahami fungsi agama (Islam) tersebut tidak boleh dijadikan sebagai parameter dalam menilai fungsi dan posisi serta dalam memahami konsepsi agama (Islam). Bagi Muthahhari, secara tegas harus ditarik garis demarkasi yang jelas antara agama (Islam) sebagai sebuah konsep utuh dengan kesalahan para pemeluknya dalam memahami, memosisikan, dan memfungsikannya. Jika umat Islam memosisikan, memahami, dan memfungsikan ajaran Islam sebagai belenggu, maka hal itu tidak dapat digeneralisasi pada Islam sebagai sebuah agama sebab setiap individu Islam berhak dan berpotensi untuk memahami, memosisikan, serta memfungsikan agama Islam secara berbeda, termasuk sebaliknya, yakni memosisikan, memahami, dan memfungsikan ajaran Islam sebagai energi pembebasan.
Akan tetapi, menurut saya, bukankah Islam tercermin melalui persepsi, interpretasi, serta praktik pemeluknya? Lalu, manakah Islam yang masih utuh sebagai sebuah agama? Bukankah semua tak lain merupakan hasil interpretasi dan persepsi tiap-tiap individu, pihak, atau kelompok?
Jika kemunduran pengaruh ajaran Islam, menurut Muthahhari, secara mendasar diakibatkan oleh kesalahan umat Islam dalam memosisikan, memahami, serta memfungsikan agama Islam itu sendiri, lalu apa yang harus dilakukan Muslimin untuk mengembalikan energi progresivitas, dinamisitas, serta kreativitas Islam sebagai sebuah agama, baik pada tataran wacana maupun, terutama, praktis? Dari beberapa buku Muthhahari, saya menyimpulkan beberapa hal yang menurut Muthahhari menjadi kesalahan fatal umat Islam dalam memahami ajaran agamanya. Secara kategoris, kesalahan tersebut terjadi pada tiga ranah: 1) kesalahan dalam memandang dan memosisikan sejarah; 2) kesalahan dalam memosisikan dan memandang al-Quran; serta 3) kesalahan dalam memosisikan dan memandang sosok Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul.
Di sini saya akan menguraikan cara pandang baru atas sejarah, al-Quran, dan Nabi Muhammad yang ditawarkan oleh Muthahhari. Khusus untuk persoalan cara pandang terhadap al-Quran dan Muhammad, pembahasannya cenderung lebih filosofis dan saling terkait. Karena itu, saya akan menyatukannya dalam pembahasan Muthahhari tentang kaitan antara Imajinasi dan Realitas sebab, dalam analisis Muthahhari, persoalan tentang imajinasi dan realitas terkait dengan cara pandang umat Islam tentang al-Quran dan Muhammad selama ini.
Selain itu, saya juga mencoba untuk membandingkan pemikiran Muthahhari tentang ketiga hal tersebut dengan pemikiran atau pandangan kalangan yang sering diidentifikasi sebagai Islam liberal, modernis, literal, dan konservatif tentang ketiga hal tersebut sebab, menurut analisis saya, dalam batas-batas tertentu pandangan berbagai aliran pemikiran keislaman aktual-kontemporer tersebut dapat dikorelasikan dan dikomparasikan dengan gagasan Muthahhari tentang tema yang sama. Berikut uraiannya.

Tentang Sejarah

Sejauh analisis Muthahhari, ketidaktepatan sikap Muslimin secara umum dalam membaca dan mendudukkan sejarah secara proporsional menjadi pemicu signifikan terjadinya kemunduran dan kelemahan pengaruh ajaran agama Islam. Ketidaktepatan atau ketakproporsionalan tersebut terjadi dalam bentuk tidak adanya kritisisme dalam membaca sejarah masa lalu.
Saya akan mengutip sebait pernyataan Muthahhari tentang hal ini dalam Perspektif al-Quran tentang Manusia dan Agama (1998), bab Islam: Ideologi Universal dan Komprehensif. Di situ, Muthahhari berkata sebagai berikut.
“Karena fitrahnya, jika menghadapi suatu pemikiran atau gagasan tertentu yang telah diterima oleh generasi-generasi terdahulu, manusia cenderung menerimanya tanpa bertanya. Al-Quran (QS. an-Nisa: 170) menyuruh kita untuk tidak menerima kepercayaan-kepercayaan dan gagasan-gagasan yang pernah diterima oleh para leluhur kita tanpa menimbangnya dengan kearifan dan juga mengingatkan kita untuk menumbuhkan pemikiran bebas di dalam menilai kepercayaan-kepercayaan masa lampau.”
Secara khusus, dalam pandangan saya, Muthahhari memiliki penilaiaan bahwa sikap obsesif pada masa lampau, tidak kritis akan sejarah, telah dan dapat terjadi dalam dua ranah, yaitu: pemikiran dan tindakan.
Pertama, dalam ranah pemikiran keagamaan, tidak adanya sikap kritis pada pemikiran-pemikiran keagamaan para tokoh terdahulu sangatlah rentan. Hal ini dipicu oleh penokohan dan penyakralan atas pemikiran tokoh tersebut. Tumpulnya sikap kritis dalam tradisi pemikiran keagamaan biasanya terjadi sedemikian akutnya hingga mencapai tarat yang sangat kronis sebagai pemicu terjadinya stagnasi (pemikiran) agama. Apa yang menjadi produk pemikiran para tokoh terdahulu kemudian diterima secara taken for granted tanpa kritisisme, padahal konteks saat dahulu pemikiran tersebut lahir tentu berbeda dengan kondisi saat ini. Sebuah pemikiran atau gagasan berisi sebuah konsep tentang bagaimana kita hidup dan menyediakan solusi bagi problem yang dihadapi dalam realitas konteks tersebut. Jika konteksnya telah berkembang, tentu dapat dipastikan bahwa konsep tentang hidup yang dibutuhkan juga adalah konsep yang telah dikembangkan. Demikian juga dengan problem yang dihadapi tentu telah mengalami kompleksitas. Kita tidak dapat menghadapi konteks dan problem aktual saat ini dengan konsep pemikiran yang tercipta pada masa lampau. Konsep pemikiran masa lalu dapat diapresiasi jika telah melalui proses relevensi dan korelasi. Itu artinya bahwa kritisisme perlu diterapkan.
Kedua, sikap tidak kritis juga melanda kita dalam hal menerima segala bentuk tindakan keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Apa yang dilakukan oleh orang terdahulu, serta merta kita tiru dan terapkan pada kondisi realitas saat ini, terutama yang berbentuk tradisi, padahal seharusnya kita mampu mengkritisi semua itu sesuai dengan kapasitas intelektual kita dan berusaha menyesuaikannya dengan kondisi tempat kita hidup saat ini sebab bagaimanapun, keduanya berada pada dua zaman dan tempat yang berbeda sehingga realitas faktual yang dihadapi juga tentunya berbeda. Segala bentuk tradisi masa terdahulu yang menurut standar kritisisme kita anggap tidak baik dan tidak lagi relevan dengan konteks saat ini, maka hal itu tidak perlu kita lanjutkan sebagai sebuah tradisi. Kita harus mampu bersikap tegas dan selektif dalam memilah dan memilih.
Muthahhari sangat menekankan sikap kritis dalam membaca dan mendudukkan sejarah. Tujuannya adalah agar umat Islam dapat meneruskan segala bentuk pemikiran dan tindakan sesuai dengan perubahan konteks zaman. Jika ini berhasil dilakukan, maka itu berarti jaminan akan tercapainya progresivitas, dinamisitas, serta kreativitas. Demikian juga sebaliknya, sikap patuh sepenuhnya pada apa yang dihasilkan pemikir terdahulu dan tindakan yang dijalankan oleh orang-orang terdahulu, dalam pandangan Muthahhari, akan menjadi batu penghambat terjadinya progresivitas, dinamisitas, serta kreativitas dalam pemikiran dan kehidupan aktual umat Islam.
Pada bagian lain, dalam penegasannya tentang kritisisme dalam membaca dan mendudukkan sejarah masa lampau, Muthahhari mengingatkan kita untuk menumbuhkan pemikiran bebas di dalam menilai kepercayaan-kepercayaan masa lampau. Sejauh interpretasi saya, ini menyiratkan pandangan Muthahhari bahwa dalam membaca, memahami, dan menginterpretasikan sejarah, tidak tertutup kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat. Perbedan tersebut dapat terjadi dalam semua aspek sejarah, mulai dari perbedaan menilai benar tidaknya apa yang terjadi dan dilakukan oleh orang-orang pada masa lampau, perbedaan dalam menilai relevan tidaknya apa yang diwariskan dari masa lampau tersebut, atau juga perbedaan dalam menilai bagaimana warisan masa lampau tersebut harus diperlakukan, baik itu seputar pemikiran saja maupun tindakan yang telah menjadi tradisi. Perbedaan dalam menilai masa lampau tersebut harus diapresiasi bukan justru direpresi sebab di sanalah letak energi progresivitas, dinamisitas, dan kreativitas Islam di masa depan, yaitu dari dasar keberagaman dalam menilai masa lampau. Dari keberagaman itulah, berarti masa lalu dibaca secara kreatif.
Bertolak dari sini, maka saya mencoba mengorelasikan pandangan Muthahhari ini dengan fenomena munculnya kalangan Islam tradisionalis-konservatif dan Islam modernis, yang keduanya memiliki titik pandang yang berbeda dalam membaca dan mendudukkan sejarah masa lampau. Saya mencoba untuk mencari titik korelatif antara pandangan Muthahhari tentang kritisisme sejarah dengan pandangan kedua kelompok tersebut.
Tradisionalisme adalah sebuah identifikasi terhadap satu kelompok yang dasar pemikiran serta tindakannya didominasi oleh konstruksi pemikiran dan tindakan orang-orang terdahulu, tanpa disertai proses kritisisme dan seleksi. Mereka menerima dengan apa adanya apa yang dipikirkan dan menjadi tradisi nenek moyangnya. Adapun kalangan modernis lebih bersikap kritis dalam membaca, mendudukkan, serta menerima apa yang diproduksi pada masa lampau. Kalangan ini tidak menerima serta merta apa yang dihasilkan para leluhurnya pada masa lalu tanpa melalui proses seleksi secara kritis. Selain itu, mereka selalu mengedepankan apa yang disebut dengan kontekstualisasi, yaitu sebuah upaya untuk senantiasa menyesuaikan apa yang didapat dan dibaca dari masa lalu dengan konteks zaman saat ini.
Menurut saya, ditilik dari pandangan Muthahhari tentang kritisisme sejarah, tentu sikap kalangan modernis lebih dekat dan menunjukkan kesamaan dengan Muthahhari sebab, secara mendasar, keduanya sama-sama menekankan arti penting dan keharusan sikap kritis dalam membaca, mendudukkan, serta memahami masa lampau. Adapun sikap kalangan tradisionalis yang cenderung pasif dalam membaca, mendudukkan, dan memahami sejarah tentu tidak akan disepakati Muthahhari.
Namun demikian, sejauh analisis saya, tampaknya ada sedikit perbedaan antara pandangan Muthahhari dengan kalangan modernis tentang sejarah, yaitu dalam hal menempatkan segala hal yang berasal dari dunia Barat. Secara faktual, kalangan modernis sering diidentikkan sebagai kubu yang banyak mengapresiasi, mengakomodasi, atau bahkan mengadopsi segala sesuatu yang berasal dari Barat sebagai bentuk ekspresi sikap kritisnya akan sejarah masa lampaunya sendiri. Kalangan modernis memiliki pandangan bahwa Barat telah lebih jauh mencapai progresivitas sehingga apa yang diproduksinya, baik dalam bentuk pemikiran maupun tindakan, lebih mencerminkan keselarasan dengan konteks modern saat ini. Maka dari itu, kalangan ini cenderung menerima secara tidak kritis segala hal yang berasal dari Barat, bahkan menjadikan Barat sebagi kiblat dalam menjalani proses dan mencapai progresivitas, dinamisitas, dan kreativitas. Yang menarik dari fenomena ini adalah bahwa sikap kritis yang diaplikasikan kalangan modernis dalam membaca dan mendudukkan sejarah masa lampau mereka (Islam) sendiri tidak (atau minimal kurang) teraplikasikan pada saat mereka membaca dan mendudukkan sejarah Barat. Seakan hanya terjadi “transformasi” sikap tidak kritis: sikap tidak kritis kalangan tradisionalis pada masa lampau diterapkan oleh kalangan modernis ketika mereka membaca, memahami, dan mendudukkan sejarah Barat. Demikian sebaliknya, penolakan kalangan tradisionalis pada semua yang berasal dari Barat diimplementasikan oleh kalangan modernis dengan cara menolak segala bentuk tradisionalisme mereka di masa lampau. Sikap kritis kalangan modernis seakan tiba-tiba menjadi tumpul ketika berhadapan dengan sejarah Barat. Padahal kita tahu bahwa konteks di Barat secara faktual berbeda dengan di tiap-tiap negeri Islam (Timur). Yang terjadi hanyalah pengagungan dan pemujian besar-besar serta berlebihan atas sejarah Barat.
Pada titik inilah, dalam analisis saya, Muthahhari menegaskan perbedaan mendasarnya dengan kalangan modernis. Muthahhari memiliki sikap yang kritis terhadap Barat. Muthahhari tidak serta merta silau pada apa yang diproduksi sejarah Barat. Bagi Muthahhari, dalam pandangan saya, sikap tidak kritis kepada sejarah Barat akan sama berbahayanya dengan sikap pasif terhadap sejarah Islam sendiri, bahkan mungkin dalam batas-batas tertentu akan lebih mengancam dan memberikan dampak negatif sebab, secara mendasar, ada bagian tertentu yang menjadi perbedaan mendasar antara keduanya. Sikap kritis Muthahahri ini tercermin dari kritik kerasnya terhadap beberapa pemikiran para pemikir Barat. Dan, yang paling konkret adalah kritiknya atas paham materialisme yang berkembang di Barat. Inilah pandangan Muthahhari secara umum tentang sejarah.

Tentang Al-Quran

Tentang masalah pemosisian al-Quran dan sosok Muhammad oleh umat Islam, eksplorasi Muthahhari cenderung lebih filosofis, yaitu berkaitan dengan pembahasan tentang imajinasi dan realitas.
Eksplorasi filosofis ini kemudian digunakan Muthahhari sebagai perspektif dalam menganalisis faktor kelemahan ajaran Islam terkait dengan pemosisian serta pembacaan Muslimin atas al-Quran dan Nabi Muhammad.
Menurut pandangan Muthahhari, imajinasi merupakan sifat dasar yang dimiliki manusia. Bagi Muthahhari, imajinasi menjadi positif sejauh dimanfaatkan untuk memotivasi manusia agar meraih apa yang diimajinasikannya tersebut. Selain itu, imajinasi juga akan memiliki nilai positif jika dimanfaatkan sebagai kerangka konseptual dalam proses manusia untuk meraih apa yang diimajinasikannya tersebut. Jadi, sebagai sebuah planning dan motivator, imajinasi penting untuk dikembangkan.
Namun, imajinasi akan menjadi sesuatu yang negatif jika justru menciptakan “jarak” antara si manusia yang berimajinasi dengan realitas faktual yang dihadapinya. Dengan kata lain, karena memang merupakan pengembangan daya khayal, maka jika tidak dimanfaatkan dengan baik, imajinasi akan menyeret manusia yang berimajinasi tersebut pada sebuah dunia yang jauh dari realitas faktual yang dihadapinya. Ia tenggelam dalam indahnya lautan imajinasinya, padahal berada dalam sebuah realitas nyata yang tidak seindah imajinasinya. Dan, seandainya ia hendak merealisasikan imajinasinya tersebut dalam realitas nyata, maka hal itu harus disertai dengan upaya dan usaha konkret. Imajinasi tidak akan pernah menjadi nyata jika manusianya tidak berusaha untuk merealisasikannya dengan langkah konkret.
Selain itu, imajinasi juga akan berekses negatif jika justru menyeret manusianya pada sikap pengabaian dan pelalaian atas realitas faktual yang dihadapinya. Imajinasi memiliki daya tarik yang kuat. Karena itu, jika manusianya tidak mampu mengendalikannya, maka imajinasi tersebut akan membuat manusianya cenderung abai dan lalai akan realitas yang dihadapinya. Ia tenggelam dalam keindahan dunia imajinasi dan mengabaikan segala problem krusial yang berada di hadapannya dan harus segera diselesaikannya. Pengabaiaan dan pelalajari atas realitas faktual dengan selalu tenggelam dalam indahnya dunia imajinasi ini juga dapat terjadi karena si manusia tersebut berusaha untuk melarikan diri dari berbagai problem yang dihadapinya dalam kenyataan hidupnya. Dalam konteks ini, imajinasi dimanipulasi menjadi “pelarian”. Jika justru imajinasi memicu hal demikian, maka itu menjadi kealpaan tersendiri.
Penelusuran filosofis Muthahhari tentang keterkaitan antara imajinasi dengan realitas faktual tersebut, menurut analisis saya, kemudian digunakan Muthahhari untuk membaca fenomena yang berkembang dalam dunia pemikiran Islam dalam memosisikan dan menempatkan al-Quran dan Nabi Muhammad. Bagaimana umat Islam memosisikan keduanya, bagi Muthahhari, merupakan salah satu titik tolak penting bagi masa depan pemikiran keislaman. Bagaimana umat Islam memosisikan keduanya akan menunjukkan bagaimana mereka membaca, menafsirkan, memahami, dan mencerna apa yang tertuang dalam al-Quran dan tercermin pada diri Muhammad. Dan, masa depan eksistensi serta pengaruh Islam, menurut pandangan Muthahhari, bergantung sepenuhnya pada bagaimana umat Islam membaca diri Muhammad dan menafsirkan apa yang terkandung di dalam al-Quran tersebut.
Sejauh analisis Muthahhari, ada dua cara umat Islam dalam memosisikan al-Quran, yaitu: memosisikan al-Quran dengan pola “penglihatan jarak jauh” dan “jarak dekat”. Kedua pola tersebut memiliki ciri, asumsi, dan metode yang bertolak belakang dalam memahami kandungan isi al-Quran. Pertama, jika diposisikan dengan pola penglihatan jarak jauh, menurut pandangan Muthahhari, itu artinya bahwa al-Quran ditempatkan pada sebuah tempat yang demikian istimewa dan eksklusif. Bagi Muthahhari, hal itu wajar dan proporsional sebagai sebuah bentuk respeksivitas terhadap sebuah kitab suci. Namun, akan menjadi tidak tepat dan tidak proporsional jika pengistimewaan dan pengeksklusifan terhadap al-Quran tersebut justru menciptakan “jarak” renggang antara al-Quran itu sendiri sebagai sebuah rujukan utama umat Islam dengan Muslimin itu sendiri. “Jarak” yang dimaksud di sini sama halnya dengan jarak antara imajinasi dan realitas faktual sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya oleh Muthahhari. Dalam pola penglihatan jarak jauh, menurut Muthahhari, al-Quran ditempatkan pada sebuah tingkat yang tinggi (atau rendah?) hingga sama dengan imajinasi. Argumentasi yang diajukan adalah karena al-Quran adalah sebuah mukjizat dan sebuah kalam Ilahi.
Dalam pandangan Muthahhari, ini merupakan salah kaprah dalam memosisikan al-Quran. Fenomena ini berkembang luas dalam dunia pemikiran Islam di sepanjang zaman dan berbagai tempat. Bagi Muthahhari, bagaimana umat Islam dapat menarik manfaat dari studi al-Quran, jika al-Quran itu sendiri berada dalam dunia imajinatif umat Islam? Bagaimana umat Islam dapat mempelajari al-Quran jika mereka memosisikan al-Quran pada sebuah “tempat” hingga mereka sendiri tidak dapat “menjangkaunya”? Menurut Muthahhari, jika dengan cara ini umat Islam bermaksud menunjukkan penghormatan serta pengagungan yang besar pada al-Quran, maka pada dasarnya hal itu secara tidak langsung merupakan bentuk perendahan, penghinaan, dan pengerdilan atas makna dan posisi al-Quran. Bagi Muthahhari, cara tersebut justru merupakan bentuk kebodohan umat Islam karena, dengan cara seperti itu, mereka tidak akan pernah dapat memanfaatkan keajaiban dan “harta tersembunyi” yang terkandung dalam al-Quran. Akibatnya, segala bentuk pengetahuan yang terkandung dalam al-Quran tidak akan pernah dapat tergali dan diketahui karena umat Islam sendiri menempatkan al-Quran dalam sebuah dunia imajinatif yang tak terjangkau. Menurut Muthahhari, pola pandang jarak jauh itulah yang selama ini berkembang dalam umat Islam sehingga wajar adanya jika munculnya jarak antara umat Islam dengan kitab sucinya sendiri, yang kemudian menjadi faktor vital terjadinya kemunduran pengaruh ajaran Islam.
Dalam Jejak-jejak Ruhani (1996), Muthahhari mengatakan sebagai berikut.
“Terdapat kelompok yang senang pada al-Quran tetapi tidak mau melihat dan menyaksikan keagungan dan kemukjizatan al-Kitab suci ini dari jarak dekat. Dalam pandangan mereka, keagungan yang dimiliki kitab ini mereka meletakkan di balik awan dan ketinggian langit. Demikian tingginya hingga tidak dapat mereka pahami. Dalam pandangan mereka, al-Quran memiliki ketinggian dan keagungan tetapi tetap menjadi sesuatu yang majhûl dan tidak diketahui.”
Kedua, pola penglihatan jarak dekat. Ini adalah pola pemosisian terhadap al-Quran yang direkomendasikan Muthahhari untuk mengatasi kemunduran Islam. Bagi Muthahhari, umat Islam hadir dan hidup dalam sebuah realitas, demikian juga dengan al-Quran. Al-Quran bukan sebuah kitab imajinatif. Al-Quran hadir dan ada dalam kapasitas fungsinya sebagai panduan hidup Muslimin. Karena itu, al-Quran tidak boleh ditempatkan dalam posisi imajinatif sebab Muslimin bukan berada dalam dunia imajinatif tetapi dunia realistis sehingga apa yang terkandung dalam al-Quran akan dapat dipahami oleh muslimin jika al-Quran ditempatkan pada posisi yang sama dengan umat Islam itu sendiri, yaitu realitas. Jika al-Quran diyakini sebagai sebuah panduan hidup umat Islam, maka Muslimin harus menggunakannya dalam realitas faktual tempat mereka hidup. Dengan cara itulah, dalam al-Quran akan ditemukan signifikansi dan daya gunanya. Penempatan al-Quran dalam realitas, bukan imajinatif, itu artinya memosisikan al-Quran dalam pola pandang jarak dekat, sebagaimana dekatnya umat Islam itu sendiri dengan realitas yang dijalani dan dihadapinya. Pengembalian pengaruh dan kebesaran Islam sebagai sebuah agama adalah dengan mengembalikan al-Quran pada realitas Muslimin.

Berikut pandangan Muthahhari.
“Ketahuilah, pemikiran bahwa seseorang tidak memiliki hak untuk mempelajari (tadabbur) isi al-Quran adalah satu tirai penutup yang sangat tebal. Dan hal itu menjadi penghalang antara al-Quran sendiri dengan orang yang memiliki pemikiran seperti itu.”
Bertolak dari perspektif al-Quran sebagai dunia imajinatif dan dunia realistis, kalangan Islam liberal memosisikan, menginterpretasikan, dan membaca al-Quran dengan lebih mengedepankan pendekatan kontekstual. Mereka tidak terpaku pada apa yang terungkap secara literal dalam teks al-Quran tersebut, sebagiamana yang menjadi ciri khas pola pembacaan dan penafsiran kalangan Islam literal. Kalangan Islam liberal mengapresiasi dan mengakomodasi faktor konteks yang menyertai proses terciptanya sebuah teks. Dengan kata lain, pola tafsir yang mereka gunakan sebagai pendekatan adalah kontekstual. Ini pandangan umum kalangan Islam liberal. Hal ini berbeda dengan Islam literal yang mengabaikan faktor tersebut dan hanya terpaku pada teks. Dari sini, kita dapat melihat bahwa pandangan Muthahhari lebih cenderung merepresentasikan kalangan Islam liberal. Namun demikian, dalam beberapa aspek, terdapat juga perbedaan mendasar antara keduanya. Misalnya, berbeda dengan kalangan Islam liberal yang cenderung sepenuhnya berorientasi pada konteks, Muthahhari masih memberikan proporsionalitas pada pola analisis teks sebab, dalam pandangannya, hal itu merupakan bagian yang tidak dapat diabaikan. Kemukjizatan al-Quran sebagian juga berada pada aspek tersebut. Jadi, dalam hal ini, tampak bahwa Muthahhari berada di tengah-tengah titik ekstrem kalangan Islam liberal dan literal.

Tentang Muhammad

Perspektif tentang imajinasi dan realitas sebagaimana di atas juga digunakan Muthahhari untuk menganalisis pandangan Muslimin tentang Muhammad saw. Menurut Muthahhari, sosok Muhammad sebagai nabi dan teladan dapat diposisikan dalam dua pola pandangan yang berbeda: jarak dekat dan jarak jauh. Pola pandangan jarak jauh adalah sebuah metode pembacaan diri Muhammad sebagai sebuah sosok imajinatif. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad ditempatkan tidak sebagai sosok individu realistis melainkan sebagai sosok imajinatif. Imajinatif di sini dekat pada kecenderungan “superiorisasi” Muhammad. Muhammad diimajinasikan sebagai sosok super yang secara eksistensial memiliki perbedaan mendasar dengan manusia biasa lainnya, demikian juga dengan segala bentuk aktivitasnya. Semua dipandang dalam konteks superiorisasi.
Menurut Muthahhari, pola pandang atau pendekatan yang seperti ini dalam memosisikan Muhammad bukan hanya salah dan akan memberikan ekses negatif tetapi juga akan menarik konsekuensi logis yang vital bagi visi kenabian Muhammad. Penempatan Muhammad dalam kerangka pola pandangan jauh, atau dengan kata lain superiorisasi Muhammad, sama artinya dengan pengingkaran tentang antropomorfisme Muhammad sebagai seorang manusia. Dan, pengingkaran pada sisi antropomorfis Muhammad berarti sebuah sikap kontradiktif dengan apa yang tertuang dalam al-Quran bahwa Nabi saw adalah manusia biasa. Bagi Muthahhari, penegasan al-Quran bahwa Nabi adalah seorang manusia biasa dari “jenis kamu” bukannya tidak memiliki landasan epistemologis dan argumentasi yang kuat. Penegasan itu memiliki nilai korelatif dengan fitrah manusia yang selalu mendambakan dan menuntut hadirnya seorang “sosok teladan” yang juga dari spesies yang sama. Itu semua sebagai bukti penegasan konsepsional bahwa misi dan visi kenabian adalah realistis, tidak imajinatif sehingga tidak ada ruang bagi manusia untuk melayangkan gugatan dan pengingkaran terhadap visi dan misi kenabian tersebut.
Jika Nabi Muhammad kemudian diposisikan dalam pola pandang jarak jauh, maka bagi Muthahhari, itu sama artinya dengan memberikan ruang bagi manusia untuk mengingkari, menolak, serta menggugat visi dan misi kenabian. Padahal, menurut Muthahhari, terciptanya ruang tersebut sebenarnya diakibatkan oleh pola pandang yang salah dari umat Islam dalam memosisikan Muhammad sebab, secara fundamental, al-Quran, menurut Muthahhari, menegaskan antropormisme Muhammad. Inilah konsekuensi logis pertama dalam pandangan Muthahhari tentang akibat pola pandang jarak jauh dalam memosisikan Muhammad.
Di sisi lain, menurut Muthahhari, pola pandang jarah jauh dalam memosisikan Muhammad, secara tidak langsung, akan “memasukkan” Muhammad ke dalam dunia imajinatif. Muhammad dianggap sebagai sosok manusia yang hanya bersemayam dalam imajipasi manusia biasa. Jika ini terjadi, maka dampaknya, menurut Muthahhari, sangatlah fatal, yaitu bahwa visi, misi, dan posisi primordial Muhammad, sebagai seorang sufi teladan, menjadi hilang dan tidak berfungsi. Bagaimana umat Islam dapat meneladani Muhammad jika, dalam kognisi mereka, Muhammad diasumsikan sebagai sosok imajinatif, sosok yang segala prestasi dan aktifitasnya tidak dapat ditiru hanya dengan mengandalkan potensi manusia biasa. Menurut Muthahhari, umat Islam tidak akan pernah dapat meneladani Muhammad karena, secara kognitif, Muhammad diposisikan dalam dunia imajinatif sedangkan Muslimin sendiri berada dalam dunia realitas. Bagaimana dua dunia tersebut dapat bertemu? Ini merupakan salah satu ekses negatif yang paling vital dari pola pandang jarak jauh dalam memosisikan Muhammad.
Berikut kutipan pernyataan Muthahhari.
“Dengan begitu, kita telah meletakkan satu hijab yang sangat tebal antara kita dengan Rasulullah. Perilaku dan kehidupan Rasul tidak akan menjadi contoh bagi kita dan kita tidak akan mati berpikir tentang kehidupan beliau hingga dapat mengambil manfaat dari kehidupannya itu. Sesungguhnya Rasul adalah manusia yang telah sampai menapak derajat kenabian. Namun karena beliau adalah seorang manusia maka beliau dapat menjadi guru, pendidik, dan pemberi petunjuk bagi manusia. Namun karena kita mempunyai kecenderungan untuk melihat sesuatu yang nyata dan jauh, kita dibatasi oleh satu ungkapan, “Janganlah engkau bandingkan pekerjaan-pekerjaan orang suci dengan dirimu.” Di sini kita telah menciptakan jarak yang sangat jauh antara kita dengan sumber petunjuk, yaitu para nabi dan rasul.”
Itulah pandangan Muthahhari tentang perubahan yang harus segera dilakukan umat Islam dalam memosisikan al-Quran dan Muhammad, yakni dari pola pandang jarak jauh dalam memosisikan keduanya menjadi pola pandang jarak dekat. Dengan jalan ini, maka kemajuan Islam akan dapat diraih. Inilah salah satu rekomendasi pembaharuan pemikiran Islam ala Muthahhari.

Penutup

Itulah sudut “yang tak terpikirkan dari Muthahhari” yang selama ini jarang dijamah. Padahal, di situlah letak titik tekan energi progresivitas, dinamisitas, dan kreativitas pemikiran Muthahhari bagi masa depan Islam. Selama ini, yang tampak dari Muthahhari cenderung sisi spiritualitas-mistisismenya yang kemudian menciptakan kesan kuat bahwa Muthahhari tidak memberikan proporsi yang memadai pada upaya progresivitas, dinamisitas, dan kreativitas Islam dalam cakrawala dunia kontemporer. Padahal, jika kita menganalisis secara mendalam pemikiran-pemikiran keislamannya, Muthahhari justru memberikan perhatian penuh dan dominan pada upaya pencapaian progresivitas, dinamisitas, serta kreativitas Islam pada setiap kurun zaman dan tempat sehingga Islam bukan justru menjadi agama terbelakang, melainkan terdepan.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
8+4 =