Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

PENETRASI ISRAILIYAT MEMPENGARUHI KEBUDAYAAN ISLAM


Hamid Muhammad Qasimi

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Pengantar

Sejak terbitnya mentari Islam penerang dunia di aurora jazirah Arab menghidupkan kembali tubuh mati kemanusiaan dengan cahaya kehidupannya dan merubah tanah rawa septik adat istiadat buruk Jahiliyah menjadi taman bunga menawan budi pekerti yang mulia dan manusiawi, para penentang agama Ilahi ibarat kelelawar penyembah malam tidak tahan memandang cahaya ini, mereka kerahkan semua kekuatan untuk mencegah iluminasi mentari dunia tapi firman Allah swt. menegaskan:

یُرِیدُونَ لِیُطفِئُوا نُورَ اللهِ بِاَفوَاهِهِم وَ اللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَ لَو کَرِهَ الکَافِرُونَ ﴿ الصف: 8 ﴾


Artinya: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka sedang Allah menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya”. (QS. as-Shaf: 8).
Musuh-musuh Islam setelah mengalami kegagalan beruntun dalam konfrontasi militer dan kekerasan maka mereka memilih metode baru perlawanan. Target mereka adalah pengaburan paras Islam yang cemerlang dengan cara distorsi dan pemutarbalikan hakikat, mereka bertekad untuk menampilkan supersisi (ketakhayulan) ajaran-ajaran agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. agar dapat membubarkan pengikut-pengikutnya dari sekeliling lentera yang terang dan terus berupaya menggambarkan agama Islam di mata umum sebagai agama yang bertentangan dengan dasar-dasar rasional dan pengetahuan.
Di tengah ini, kelompok Yahudi yang merupakan musuh-musuh terluka Islam dan keagungan mereka hancur akibat muncul dan tersebar luasnya agama Islam yang juga telah menggulung tikar nilai-nilai keunggulan yang mereka buat-buat menyimpan dengki yang dalam terhadap Islam sehingga mereka tidak pernah menyia-nyiakan peluang untuk konspirasi dan komplotan anti Islam, dan salah satu kemahiran jahat mereka adalah mengontaminasi sumber jernih tuntunan agama Islam dengan kebohongan dan dongeng-dongeng fiktif serta embel-embel hasil mentalitas mereka yang sakit atau berasal dari kitab-kitab suci! mereka yang telah mengalami distorsi. Dan untuk memetamorfosa konsep-konsep Islam dan tuntunan serta hukumnya mereka lontarkan keraguan-keraguan dan tebarkan kebohongan di kalangan umat Islam serta kontaminasi sebagian besar dari konsep-konsep agama Islam dengan supersisi-supersisi dan karangan mereka sendiri. Karangan-karangan berupa hadis palsu, dongeng atau cerita fiktif – baik itu bersumber dari pihak Yahudi ataupun pihak lain – secara terminologis disebut dengan israiliyat.
Perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi lebih licik dari sekedar menjalankan misi dan merealisasikan rencana-rencana jahatnya dengan mengenakan baju kebesaran Yahudi, karena itu ulama Yahudi menyebarkan supersisi dan dongeng mereka di kalangan umat Islam dengan menggunakan selimut Islam dan bersikap seperti orang-orang muslim yang suci, mereka memanfaatkan prasangka baik sebagian khalifah dan penguasa zalim terhadap diri mereka untuk menyemarakkan pasar dusta yang mereka sebarluaskan dan menamakan cerita-cerita palsu itu di kalangan umat Islam dengan tafsir Qur’an.
Kajian seputar israiliyat dan pengaruhnya terhadap berbagai bidang budaya Islam mempunyai sejarah yang panjang dan tragis membuat setiap orang yang simpatik dan peduli hanyut dalam penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Sayangnya, israiliyat yang berhasil menembus pori-pori literatur tafsir, hadis, sejarah, dan teologi Islam menjadi pegangan musuh-musuh Islam baik yang dikenal maupun tidak, untuk melanggar zona kehormatan Islam dan dengan membesar-besarkannya mereka meracuni kesucian budaya Islam.
Artikel ini di samping berusaha mendefinisikan israiliyat lebih jelas dan mengenalkan referensi-referensinya berusaha pula meneliti faktor-faktor penetrasi israiliyat ke dalam budaya Islam.

DEFINISI ISRAILIYAT

Van Flowtan menjelaskan bahwa ulama Islam menggunakan istilah israiliyat ini untuk semua kepercayaan non-Islami khususnya kepercayaan, dongeng, dan supersisi yang disisipkan oleh kelompok Yahudi dan Kristen ke dalam agama Islam pada abad pertama hijriah.[1]
Dr. Alu Ja’far menjelaskan menurut terminologi ahli tafsir dan hadis israiliyat mencakup semua cerita fiktif dan dongeng yang menyusup ke dalam literatur hadis dan tafsir Islam kendati tidak bersumber dari kelompok Yahudi dan Kristen. [2]
Satu peneliti lagi menuliskan bahwa israiliyat adalah istilah yang digunakan oleh para cendekiawan muslim untuk sekumpulan kabar dan cerita Yahudi atau Kristen yang menyusup ke dalam peradaban Islam setelah masuknya sekelompok orang Yahudi dan Kristen ke dalam agama Islam atau lebih tepatnya pura-pura menjadi orang muslim. [3]
Dr. Muhammad Husein Dzahabi mengajukan definisi yang lengkap untuk istilah israiliyat, dia mengatakan: meskipun sekilas kata israiliyat mengacu pada penetrasi budaya Yahudi ke dalam tafsir Qur’an akan tetapi yang sebenarnya kita maksudkan dari kata israiliyat ini adalah konsep yang lebih luas dan komprehensif, yaitu impressionabilitas (hal mudah dipengaruhi) literatur tafsir Islam terhadap budaya Yahudi dan Kristen dan dominasi dua budaya ini – atau budaya-budaya yang lain – terhadap tafsir-tafsir Qur’an. Hanya saja, berhubung dari awal muncul dan mendunianya agama Islam kelompok Yahudi di samping populasinya lebih banyak daripada sejawat mereka juga lebih sering berinteraksi dan bermasyarakat sehingga – dibaningkan Kristen atau kelompok-kelompok yang lain – penetrasi kebohongan dan pengaruh mereka terhadap tafsir Qur’an dan literatur Islam lainnya lebih banyak daripada yang lain. [4]

REFERENSI ISRAILIYAT

Israiliyat berasal dari dua sumber utama yaitu:
1. Kitab-kitab suci Yahudi dan Kristen yang telah mengalami distorsi
Banyak sekali riwayat-riwayat israiliyat yang berasal dari referensi-referensi Yahudi dan Kristen yang tidak luput dari distorsi, jika diperhatikan secara seksama maka akan mudah dimengerti bahwa cerita fiktif, dongeng, dan kebohongan-kebohongan yang termuat dalam kitab-kitab suci mereka sisipkan ke literatur-literatur Islam khususnya tafsir Qur’an dengan membubuhkan warna-warni dan pelumas agar mudah diterima oleh muslimin.

2. Fantasi dan pendongengan ahli kitab yang pura-pura masuk Islam
Satu lagi sumber utama israiliyat adalah fantasi dan pendongengan orang-orang Yahudi dan Kristen yang baru masuk Islam seperti Ka’bul Akhbar, Wahab bin Munabbih, Tamim Dari, Abdullah bin Salam, dan kawan-kawan seagama mereka.
Ketika mereka melihat sebagian muslimin yang sederhana siap untuk mendengarkan supersisi dan cerita-cerita fiktif maka mereka menggunakan daya kreativitas mereka secara maksimal untuk mengarang dongeng-dongeng baru dan bahkan tidak pernah ditemukan dalam literatur ahli kitab. [5]
Sering kali mereka menjadikan kisah-kisah al-Qur’an termasuk di antaranya cerita-cerita singkat tentang para nabi sebagai bahan awal pekerjaan mereka yang selanjutnya mereka selipkan komentar dan perincian seperti panjang dan lebarnya Nabi Adam; panjang, luas, dan ketinggian bahtera Nabi Nuh; serta petualangan binatang-binatang yang ada di sana, nama tongkat Nabi Musa, jenis, dan ciri-cirinya, jenis pohon yang dengan perantara itu Allah swt. berkomunikasi dengan Nabi Musa, ciri-ciri naga yang muncul dari tongkatnya Nabi Musa, ciri-ciri peti perjanjian, panjang, lebar dan jenisnya, nama anjing Ashabul Kahfi dan warnanya serta hal-hal serupa lainnya yang dominan produk pikiran dan fantasi mereka yang kemudian disampaikan secara teliti. Kebanyakan dongeng-dongeng ini bisa ditemukan di sela-sela buku sejarah dan tafsir Qur’an yang apabila dikoleksi akan menghasilkan kitab berpuluh-puluh jilid.

Faktor Dan Lahan Penetrasi Israiliyat Terhadap Budaya Islam

Sudah barang tentu pelacakan faktor dan tempat lahirnya israiliyat serta hadirnya penebar dongeng dan fiksi di tengah arena umat Islam menduduki urgensitas tersendiri, sebaliknya ketidakpedulian terhadap berbagai arus yang berakibat terbuka lebarnya gerbang budaya Islam untuk supersisi israiliyat sampai merusuk ke jantung masyarakat Islam sama dengan menutup mata dari realitas bahwa sejarah Islam telah mengalami dan menyaksikan kejadian-kejadian yang menyakitkan ini.
Faktor-faktor utama penetrasi israiliyat ke dalam budaya Islam dapat disimpulkan pada beberapa hal sebagai berikut:

1. Kehadiran ahli kitab[6] di Jazirah Arab pra Islam

Kendati pada waktu itu paganisme (religi! penyembah berhala) mendominasi mayoritas bangsa arab dan menyebar sampai ke jantung Jazirah Arab akan tetapi dua agama Yahudi dan Kristen – dibanding agama-agama lainnya – menduduki posisi yang layak diperhitungkan, dan perkenalan serta pergaulan kaum arab dengan pengikut agama-agama ini mempunyai peran penting dalam transmisi budaya ahli kitab kepada bangsa arab pra ataupun pasca munculnya agama Islam.
Dr. Taha Husein setelah meneliti berbagai lahan perkenalan bangsa arab dengan agama Yahudi dan Kristen menuliskan: oleh karena itu, anggapan bahwa bangsa Yahudi pada masa itu hidup terasing dari berbagai bangsa dan agama lainnya serta tidak tahu menahu akan kondisi bangsa-bangsa jiran adalah keliru, sebab dua agama Yahudi dan Kristen tidak turun dari langit kepada penduduk utara dan selatan Jazirah Arab melainkan datang melalui relasi dan komunikasi yang mereka jalin dengan bangsa-bangsa beradab jiran, sebagaimana tidak diragukan lagi bahwa sebagian masyarakat yang bersebelahan dengan negara Iran dan sedikit banyak berada di bawah kekuasaan pemerintah Iran mengenal bahkan memeluk religi Zoroaster. [7]
Pergaulan dan interaksi ini menjadi lahan yang mendukung untuk penyebaran budaya ahli kitab di tengah masyarakat arab pra Islam, dan disebabkan oleh kelemahan budaya yang dominan di antara bangsa arab jahiliyah pada waktu itu – yang akan kita kaji lebih lanjut pada faktor kedua – maka mereka paling banyak dipengaruhi oleh kepercayaan, adat istiadat dan tradisi ahli kitab khususnya berupa dongeng dan cerita-cerita fiktif yang populer di antara mereka.
Dalam hal ini Dr. Dzahabi menuliskan: pada masa jahiliyah, bangsa arab sering berimigrasi ke arah timur dan barat Jazirah Arab. Al-Qur’an juga menceritakan Quraisy di musim dingin mereka berimigrasi ke Yaman sedangkan pada musim panas mereka berimigrasi ke Syam, dan pada waktu itu penduduk Yaman dan Syam adalah ahli kitab yang mayoritasnya adalah Yahudi. Tentunya terjadi banyak pertemuan antara arab jahiliyah dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di kota-kota tersebut dan pertemuan-pertemuan ini – baik terjadi di dalam atau di luar Jazirah Arab – memainkan peran penting dalam penetrasi budaya Yahudi ke arab jahiliyah yang pada waktu itu terhitung sangat lemah dari sisi peradaban akibat gaya hidup mereka yang bedouin (badui) dan primitif. Dan mestinya arab jahiliyah tidak banyak menyerap budaya Yahudi karena keterbatasan kultural mereka pra Islam dan area perluasan komunkasi kultural antara mereka berdua sangatlah terbatas. [8]

2. Kelemahan budaya arab

Mayoritas penduduk Jazirah Arab adalah badui (pengembara padang pasir) yang umumnya asing dari ajaran-ajaran rasional sementara hal-hal seperti pertikaian antar suku dan balas dendam menyita ruang pikiran mereka. Pertikaian, perang, dan kontroversi permanen tidak menyisakan peluang bagi mereka untuk memikirkan kepercayaan religus. [9]
Akalnya arab jahiliyah mengejawantah dalam puisi, bahasa, pribahasa dan narasi … mereka tidak tahu akan ilmu pengetahuan dan filsafat karena kehidupan sosial mereka tidak sesuai untuk dua hal tersebut. Disiplin ilmu mereka terbatas pada genealogi dan prakiraan cuaca. [10]
Sekilas pandang ke arah supersisi yang populer di tengah arab jahiliyah mengantarkan kita pada ketidakmampuan mereka dalam menyelidiki fenomena-fenomena dan menyingkap sebab-sebabnya, itulah yang mendorong mereka untuk menguasai disiplin-disiplin ilmu perdukunan, mengenal roman muka, peramalan berdasarkan pada terbang dan nyanyian tertentu burung-burung, dan lain sebagainya; pengetahuan mereka dalam mengenali sebab-sebab sangat sederhana sekali. [11]
Ungkapan-ungkapan yang digunakan oleh sebagian ayat-ayat Qur’an[12] dan hadis[13] tentang bangsa arab era jahiliyah mengilustrasikan rendahnya kultur mereka yang terkatung-katung dalam pusaran arus kebodohan dan tersesat di sahara fantasi dan supersisi.
Tidak adanya sokongan kultural bagi arab jahiliyah sangat berpengaruh dalam impresionabilitas mereka terhadap ahli kitab yang pada waktu menduduki posisi keilmuan yang istimewa di kalangan orang arab. Ahli kitab tidak henti-hentinya membanggakan diri di hadapan arab jahiliyah karena mereka mempunyai pusaka religius dan kultur serta pengetahuan tentang cerita-cerita para nabi, nasib para raja, kisah-kisah menarik tentang penciptaan alam dan lain sebagainya, selain itu mereka bangga karena mempunyai syariat agama dan beberapa kitab yang mereka nisbatkan pada Tuhan dan nabi-nabi. Salah satu faktor yang secara istimewa berpengaruh dalam penerimaan kultur Yahudi yang senantiasa menjadi klaim kebanggaan dan kehormatan adalah kabar gembira munculnya seorang nabi baru yang ciri-cirinya bisa ditemukan dalam kitab-kitab mereka, berita gembira sekaligus ciri-ciri nabi baru itulah yang menjadi andalan cerita Yahudi kepada arab jahiliyah. [14] Di samping itu mereka (ahli kitab) juga mengklaim diri mereka sebagai wali Tuhan, kekasih, dan pilihan-Nya; dengan alasan ini mereka merekomendasi kedudukan istimewa untuk diri mereka sendiri.
Banyak sekali bukti dan riwayat sejarah yang menunjukkan dominasi kultural ahli kitab terhadap arab jahiliyah dan membenarkan klaim sebagian peneliti yang mengatakan arab di hadapan ahli kitab seperti murid di hadapan guru, mereka menuruti perbuatan ahli kitab dan menjadikan mereka sebagai sumber budaya dan pengetahuan. [15] Contohnya dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa sebagian sahabat mengatakan: kami pada era jahiliyah memandang besar orang-orang Yahudi karena kami tergolong ahli syirik (orang-orang musyrik) sementara mereka adalah ahli kitab, mereka mengatakan kepada kita kalau mereka sedang menanti kedatangan (pengutusan) seorang nabi yang masa kemunculannya akan lama dan kita akan hancurkan kalian (orang-orang musyrik) sebagaimana kaum Ad dan Eram. [16]
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa: sekelompok penyembah berhala dari kalangan Anshor hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi yang tergolong ahli kitab, mereka meyakini kedudukan ilmu tersendiri bagi orang-orang Yahudi serta mengikuti mereka dalam bertindak. [17]
Suhaili pengarang buku Rawdlu al-Anf menuliskan: di antara suku Aus dan Khazraj terdapat orang-orang yang memeluk agama Yahudi dan sebagian wanita mereka ada juga bernazar jika mereka punya anak atau jika bayi mereka tetap hidup maka akan mereka masukkan ke agama Yahudi, alasan mereka adalah orang-orang Yahudi di sisi mereka adalah ahli ilmu dan kitab. [18]
Teks-teks sejarah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi memiliki tempat-tempat khusus di Jazirah Arab untuk ulama dan tokoh Yahudi mengajarkan hukum-hukum syariat Yahudi, sejarah umat terdahulu, peristiwa para nabi terdahulu dan ajaran-ajaran Taurat, tempat-tempat ini di kalangan masyarakat arab terkenal dengan sebutan madaris, baytul madaris, atau madarisy yang berarti sekolahan atau tempat belajar. Bukti-bukti riwayat dan sejarah mencatat bahwa sebagian pembesar Mekkah dan Yatsrib (Madinah) sering datang dan pergi ke tempat-tempat ini untuk menanyakan hal-hal seputar kisah para nabi, umat terdahulu atau topik-topik lainnya kepada ulama Yahudi dan mereka pun menjawab sesuai dengan yang akrab di benak mereka, dan inilah jalur lintasan dan popularitas cerita-cerita fiktif dan dongeng-dongeng ke tengah masyarakat arab. [19]
Ibnu Katsir dalam buku tafsir Qur’annya menukil dari Ibnu Abbas berkata bahwa Quraisy mengutus dua orang di antara mereka yang bernama Nadhr bin Hatits dan Aqabah bin Abi Mu’ith kepada ulama Yahudi di Madinah untuk menanyakan prihal Muhammad saw. dan ciri-ciri beliau, mereka beralasan ulama Yahudi tersebut masuk kategori ahli kitab pertama dan mereka mengetahui beberapa ilmu para nabi yang kami tidak tahu akan ilmu-ilmu itu. [20] Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika orang-orang kafir Quraisy pergi menuju orang-orang Yahudi untuk mencari solusi, mereka mengajukan tiga pertanyaan untuk ditanyakan kepada nabi yaitu masalah ruh, Dzul Qarnain, dan Ashabul Kahfi. [21]
Contoh-contoh ini secara jelas menunjukkan bagaimana Quraisy, sebagai suku arab terbesar dari sisi kesucian yang menamakan dirinya ahli keteguhan dalam beragama, betul-betul tunduk di hadapan orang Yahudi. Setelah munculnya Islam, dominasi kultur ini terus berlanjut dan muslimin melestarikannya melalui penukilan kisah-kisah Taurat, Injil dan kata-kata mutiaranya.
Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Darami dalam kitab Musnadnya menukil lewat jalur Amr bin Dinar dari Yahya bin Ja’dah[22] bahwa: ada sekelompok umat Islam mencatat sebagian apa yang mereka dengar dari orang-orang Yahudi, melihat gejala itu maka Rasulullah saw. bersabda: “cukuplah kesesatan bagi umat yang menjauh dari apa yang dibawakan oleh nabinya dan di saat yang sama mereka mengarah pada apa yang dibawakan orang lain”, ketika itu turunlah ayat:

اَوَلَم یَکفِهِم اِنَّ اَنزَلنَا عَلَیکَ الکِتَابَ یُتلَی عَلَیهِم ﴿ العنکبوت: 51 ﴾


Artinya: “Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan Kitab kepadamu yang dibacakan kepada mereka” (QS. al-Ankabut: 51).
Data-data menunjukkan bahwa ahli kitab berusaha keras untuk merebut posisi di tengah masyarakat baru dengan bermodalkan pengetahuan terdahulu dan penetrasi kultur mereka sebagai peninggalan era jahiliyah. Teks-teks religius mereka mempunyai banyak kesamaan dengan agama Islam dan ini menjadi peluang besar yang mereka gunakan secara maksimal untuk mengklaim diri menguasai berbagai informasi di bidang tafsir Qur’an. Bahkan dengan alasan adanya informasi tentang pengutusan Rasulullah saw. di teks religius mereka, mereka perluas penetrasi kultur itu seakan-akan di kitab-kitab suci mereka terdapat juga banyak informasi tentang arus pergolakan masyarakat Islam, peristiwa para khalifah, perang dan berbagai kejadian lainnya. Dari satu sisi, sikap muslimin yang percaya dengan hal-hal seperti ini memudahkan misi ahli kitab. [23]
Salah satu penulis Mesir menjelaskan dampak-dampak negatif cerita-cerita fiktif dan dongeng yang disisipkan oleh ahli kitab pasca kemunculan Islam sebagai berikut: banyak sekali kisah-kisah Taurat, supersisi, dan aneka ragam dongeng telah dipopulerkan oleh orang Yahudi dan Kristen di tengah orang-orang musyrik yang bermental sederhana sebelum Islam datang, dan ketika datang Islam dihadapkan pada supersisi dan dongeng yang sejak dulu mengakar di kalangan arab jahiliyah dan dianggap sebagai kebenaran yang pasti sehingga tidak seorangpun pada waktu itu yang berpendapat atau mengeritik. Oleh karena itu peran Islam dalam meluruskan kepercayaan supersitif (takhayul) atau menolaknya secara total menghadapi beragam kesulitan. [24]
Kendatipun berkenaan dengan tulisan di atas harus dikatakan bahwa pandangan ini tidak sepenuhnya obyektif dia menyepelekan peran Rasulullah saw. dan para Imam suci as. beserta pengikut-pengikut mereka dalam memerangi kebohongan-kebohongan israiliyat dan pelaku-pelakunya, namun tidak sepatutnya pula dilalaikan bahwa dampak-dampak pahit yang menimpa masyarakat Islam melalui cerita-cerita fiktif, lagenda dan dongeng ahli kitab pada masa awal kemunculan Islam –sebagaimana diisyaratkan oleh penulis di atas – adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri dan ada banyak bukti yang menjadi saksi klaim ini.
Satu hal lagi yang membantu penyebaran israiliyat atau dongeng dan cerita fiktif ahli kitab adalah masuknya sebagian ulama Yahudi dan Kristen secara pura-pura ke agama Islam sehingga dengan menggunakan baju keislaman bahkan dengan baju kesahabatan Rasulullah saw. mereka dapat dengan sangat mudah menyuapkan keyakinan-keyakinan supersitif dan produk mentalitas mereka sendiri atas nama riwayat dan hadis ke mulut muslimin, dengan demikian mereka berhasil menodai sumber jernih kebudayaan Islam dengan dusta dan imajinasi mereka. Faktor lain yang mendukung diterimanya israiliyat dan karya ahli kitab yang berpura-pura muslim adalah anggapan mayoritas muslimin bahwa ahli kitab yang muslim tadi setingkat dengan sahabat Rasulullah saw. dan menempati kedudukan yang tinggi padahal mereka tidak menyadari niat-niat jahat ahli kitab tersebut.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. di sela-sela pembicaraannya menyinggung topik pemalsuan hadis yang dipelopori oleh wajah-wajah berpura muslim sebagai berikut: salah satu kelompok yang menukil hadis dari Rasulullah saw. adalah orang-orang munafik yang secara lahir bertampang Islam akan tetapi mereka sengaja berdusta pada beliau saw. dan andaikan masyarakat mengetahui kalau mereka sedang berbohong niscaya hadis palsu itu tidak mereka terima, tapi masyarakat malah mengatakan mereka adalah sahabat Rasulullah saw., mereka pernah melihat beliau dan juga mendengar sabda-sabda beliau. Oleh karena itu masyarakat menerima hadis-hadis yang mereka nukil padahal dalam al-Qur’an Allah swt. sudah merinci sifat-sifat sahabat yang munafik dan mengungkap kebohongan mereka … komplotan munafik dan pendusta ini masih hidup setelah wafatnya Rasulullah saw., mereka menempelkan diri ke pejabat-pejabat kesesatan dengan dusta dan fitnah, para pejabat itulah yang kemudian memberi jabatan kenegaraan dan kekuasaan terhadap massa kepada komplotan tersebut sehingga dengan cara demikian mereka suburkan dunia mereka dan masyarakat senantiasa hidup di bawah penguasa duniawi dan hanya sebagian kecil saja yang dijaga oleh Allah swt. dari ketergantungan dunia. [25]

3. Peran pendongeng dan pengarang cerita dalam penyebaran israiliyat

Mengingat bahwa sejak dahulu kala cerita merupakan sarana yang efisien untuk mempengaruhi pendengar atau pembacanya maka pelopor israiliyat juga menggunakan sarana ini secara optimal untuk meraih target mereka yang kemudian lambat laun mereka telah menjadi poros utama pembuatan cerita-cerita palsu sekaligus penyebarannya.
Walaupun pada era jahiliyah pra kemunculan Islam banyak sekali legenda dan dongeng yang populer di tengah arab jahiliyah tapi yang sebetulnya mendukung perkembangan aktivitas kelompok pendongeng pasca kemunculan Islam adalah kesenangan yang cukup tinggi masyarakat awam bahkan sahabat Rasulullah saw. itu sendiri terhadap cerita dan hikayat tentang kaum atau bangsa-bangsa lain.
Dalam sebagian buku-buku tafsir Qur’an terdapat riwayat-riwayat yang menjelaskan sya’nun nuzul (salah satu alasan turunnya) ayat ketiga surat Yusuf adalah adanya sekelompok sahabat Rasulullah saw. yang karena terbiasa mendengar cerita-cerita Bani Israil dari orang-orang Yahudi Madinah – yang besar kemungkinan hal itu dikarenakan pandangan mereka pra kemunculan Islam terhadap orang-orang Yahudi – maka mereka minta untuk mendengar cerita-cerita itu dari Rasulullah saw..
Salah satu riwayat itu menyebutkan bahwa sahabat meminta Rasulullah saw. untuk membawakan kisah-kisah. Dan untuk menjawab permintaan ini turunlah ayat yang berbunyi نَحنُ نَقُصُّ عَلَیکَ اَحسَنَ القَصَصِ ; Kami menceritakan kisah-kisah terbaik kepadamu. [26] Dalam riwayat lain Sa’d bin Abi Waqash mengatakan: setelah al-Qur’an turun secara berturut-turut dan senantiasa dibacakan oleh Rasulullah saw. kepada masyarakat maka mereka berkata: “Oh, andai saja kau ceritakan kepada kita” apa yang akan terjadi, ketika itu maka turunlah ayat [27] نَحنُ نَقُصُّ عَلَیکَ اَحسَنَ القَصَصِ . Diriwayatkan pula bahwa sahabat meminta kepada Rasulullah saw. untuk mengutarakan hal yang setingkat di atas hadis dan setingkat di bawah al-Qur’an kepada mereka, dan maksud mereka dari hal tersebut adalah cerita-cerita, ketika itu maka turunlah ayat [28] نَحنُ نَقُصُّ عَلَیکَ اَحسَنَ القَصَصِ .
Dr. Jawad Ali mengatakan: dari data-data yang meriwayatkan sikap sahabat yang bersikeras dan menekan Rasulullah saw. untuk bercerita dapat disimpulkan kesenangan sahabat yang luar biasa terhadap cerita-cerita jahiliyah dan kisah-kisah yang pernah dibawakan orang Yahudi. [29] Lebih menarik lagi bahwa orang-orang seperti Nadhr bin Harits pada masa hidupnya Rasulullah saw. memanfaatkan faktor ini, yakni kegemaran masyarakat mendengar cerita-cerita jahiliyah, dongeng, dan legenda yang dia pinjam dari berbagai kaum dan bangsa – khususnya Yahudi –, untuk memerangi Islam dan menandingi al-Qur’an.
Setelah Rasulullah saw. wafat dan tenggelamnya kasih sayang kenabian dari cakrawala Islam terjadilah hampa kebudayaan besar yang menyelimuti masyarakat Islam, salah satu alasannya adalah politik para penguasa yang keliru pada waktu itu, mereka mengisolir ulama yang sebenarnya dan tidak memalingkan muka dari mereka dalam menyelesaikan problem-problem intelektual dan kebudayaan masyarakat Islam. Selanjutnya, dengan tujuan menyibukkan masyarakat dengan masalah-masalah yang marginal dan tidak urgen serta mengisi hampa kebudayaan yang sedang melanda, badan penguasa mengambil metode baru yang bukan saja memberikan kenikmatan fantasi kepada masyarakat melainkan juga sama sekali tidak bergesekkan apalagi bertentangan dengan keuntungan para penguasa pada waktu itu. Metode itu adalah pengizinan ulama ahli kitab yang pura-pura masuk Islam untuk mengumbar cerita-cerita, dengan cara ini apa saja yang mereka inginkan dari legenda, dongeng, dan bualan-bualan lainnya mereka sebarkan di antara masyarakat; cara ini mengusung fantasi masyarakat sampai ke cakrawala yang jauh dan berdebu kemudian melepasnya di sahara impian dan lautan alpa yang tiada batas.
Ahli kitab lebih layak dan mahir dalam menjalankan tugas ini daripada orang lain mereka lebih bisa daripada yang lain untuk merealisasikan tujuan-tujuan penguasa karena sejak dahulu mereka dihormati bangsa arab dan berhasil meraih kepercayaan bangsa arab terhadap diri dan ilmu mereka, dan meskipun sudah ada upaya yang maksimal dari Islam tapi kepercayaan yang tak berdasar ini masih terpatri dalam hati orang-orang yang sakit dan lemah.
Ulama ahli kitab berhasil dengan sukses menjalankan misi yang diserahkan kepada mereka, hampir semua target pemerintah, penguasa dan juga tujuan mereka sendiri dapat terrealisasi setelah kerja keras siang dan malam. Kalau sebelumnya mereka beraktivitas secara sembunyi-sembunyi adapun sekarang mereka melakukannya secara terang-terangan dan bahkan sesuai dengan permintaan rezim penguasa.
Ulama ahli kitab memainkan perannya di bawah naungan sirkuler resmi dari pemerintah dan mereka menjajah masjid-masjid umat Islam terutama masjid Rasulullah saw. di Madinah, di tempat itulah mereka menyibukkan masyarakat dengan kisah-kisah bani Israil atau topik apa saja yang sesuai dengan selera masyarakat dan searah dengan tujuan mereka. [30]
Tamim Dari – orang Kristen baru masuk Islam – yang terhitung orang terbaik Madinah di mata khalifah kedua, [31] meminta izin kepada Umar untuk membuka kedai cerita dan Umar pun mengizinkannya, sejak itu Tamim setiap hari jum’at membawakan cerita-ceritanya di masjid Rasulullah saw. [32] dan Umar sendiri menghadiri acara Tamim sambil menyimak cerita-ceritanya. [33]
Pada kenyataannya faktor utama pemaduan kedai cerita dan israiliyat adalah aktivitas penceritaan yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh Tamim Dari – orang Kristen yang baru masuk Islam –, hal yang sama dikerjakan pula oleh Ka’bul Akhbar – orang Yahudi yang baru masuk Islam – di Syam, bahkan anak tiri Ka’b yaitu Tabi’ bin Amir yang dia didik secara langsung dan dia ajari kitab-kitab langit juga bercerita untuk para sahabat Nabi saw. [34]
Para peneliti menerangkan bahwa fenomena penceritaan pada masa awal munculnya Islam merupakan gerakan yang terpengaruh oleh budaya ahli kitab dan selama berabad-abad bahan asli penceritaan ini adalah kisah-kisah para nabi atau semacamnya yang diceritakan oleh ahli kitab. Penceritaan atau pendongengan telah mendampingkan budaya tersendiri di sisi kebudayaan Islam, dan meskipun sebagian ulama agama Islam menentang gelombang ini tapi berkat dukungan sebagian khalifah dan ahli hadis akhirnya dia berhasil menembus ke bagian paling dalam masyarakat muslim dan meninggalkan dampak-dampak negatif pada kebudayaan Islam.
Kriteria paling penting dari cerita-cerita ini – yang semestinya cerita adalah historis dan faktual – adalah jaraknya yang jauh dari kenyataan, tentunya cerita-cerita itu dipaparkan atas nama fakta dan kenyataan. Hal yang penting bagi para pencerita ini adalah cerita-cerita mereka disenangi oleh masyarakat walaupun tidak sesuai dengan kenyataan. Di saat yang sama tujuan yang mereka tampilkan dari penceritaan ini adalah nasihat untuk masyarakat. [35]
Dr. Ahmad Amin menuliskan: riwayat-riwayat Yahudi dan Kristen serta dongeng bangsa-bangsa lain menembus dunia Islam melalui kanal penceritaan atau pendongengan. Semaraknya penceritaan ini menyebabkan bertambah banyaknya kebohongan dan pemalsuan hadis serta pemutarbalikan fakta sejarah sehingga para peneliti terjerembab pada kesulitan yang sangat dan jalan kebenaran jadi terhalang. [36] Dia menyebutkan dua sumber utama penceritaan dan pendongengan yang biasanya nama mereka tercatat dalam buku-buku hadis, tafsir, dan sejarah yaitu Wahab bin Munabbih dan Ka’bul Akhbar. [37]
Hana Fakhuri menuliskan: lewat kanal cerita dan pendongengan inilah kebanyakan legenda bangsa-bangsa lain dan riwayat-riwayat Yahudi dan Kristen merembai dunia Islam padahal banyak sekali dari cerita-cerita ini – yang kemudian diwarnai oleh supersisi – pada mulanya diambil dari cerita-cerita kitab suci dan al-Qur’an. Dengan demikian maka penceritaan dan pendongengan telah menjadi profesi yang mencampuradukkan hakikat dengan takhayul dan agama dengan legenda. [38]
Abu Zahrah ketika menerangkan penentangan Ali bin Abi Thalib as. terhadap kelompok pencerita dan pengusiran mereka dari masjid-masjdi menuliskan bahwa: aksi ini dikarenakan mereka (pencerita) menyebarkan cerita-cerita fiktif dan dongeng yang diambil dari agama-agama terdahulu dan sudah mengalami distorsi kepada masyarakat. Abu Zahrah melanjutkan: besar kemungkinan cerita-cerita inilah sebab utama penetrasi israiliyat ke dalam buku-buku tafsir Qur’an dan sejarah Islam. [39]

4. Pemerintahan Dinasti Umayyah dan peran mereka dalam penyebaran israiliyat

Dengan kependudukan Muawiyah di kerajaan dan kepenguasaan Dinasti Umayyah terhadap masyarakat Islam maka kebudayaan Islam dan nilai-nilainya berjalan mundur dan sebaliknya terjadi reinkarnasi tradisi jahiliyah. Di lingkungan inilah orang-orang yang sakit, pemalsu hadis, pendongeng istana, penebar israiliyat, Kristen romawi, kalah politik, dan sisa-sisa kafir Quraisy seperti lalat-lalat yang mengelilingi kue kedudukan dan kebesaran penguasa-penguasa Umayyah masing-masing mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari meja hidangan yang terhampar luas ini.
Selain itu mayoritas penguasa Umayyah adalah orang-orang yang tidak berilmu maka mereka menghadap ke ahli kitab, penyair, orator, dan pencerita untuk memenuhi hampa intelektual yang sedang melanda masyarakat Islam; sebaliknya ahli kitab, penyair, orator, dan pencerita tersebut masing-masing sebisa mungkin menebarkan bualan dan kebohongan di kalangan muslimin serta merusak wajah kehormatan Islam yang terang benderang.
Dr. Ahmad Amin menuliskan deskripsinya tentang satu sudut dari era kegelapan Dinasti Umayyah sebagai berikut: pemerintahan Dinasti Umayyah sama sekali tidak membantu penyebaran ilmu pengetahuan, yang populer dari mereka hanyalah sastra dan teknik penceritaan yang diresmikan oleh pemerintah. Mereka membukakan gerbang istana bagi para penyair dan orator serta menugaskan para pendongeng di masjid-masjdi yang sudah ditentukan. Mereka sama sekali tidak memperhatikan ilmu pengetahuan dan filsafat; yang menjadi faktor kejumudan ini adalah hal-hal sebagai berikut:
Faktor pertama adalah asas pemerintahan Dinasti Umayyah yaitu tekanan dan kekerasan. Untuk melestarikan asas tersebut mereka membutuhkan pada keberadaan para penyair dan orator karena puisi dan orasi pada waktu itu seperti penulisan surat pada masa kini, maka dari itu para penyair yang menutup mulut untuk pujian-pujian terhadap Dinasti Umayyah tidak akan mendapatkan posisi di sisi mereka seperti penyair-penyair yang memuji keluarga Ali atau keturunan Zubair, mereka merasa cukup hanya dengan keselamatan dari murka Bani Umayyah.
Faktor kedua adalah kondisi Bani Umayyah yang primitif, jahiliyah dan kasar, serta tidak pernah merasakan nikmatnya ilmu pengetahuan dan filsafat; mereka lebih memperhatikan pidato yang fasih. Mas’udi mengatakan: Abdul Malik bin Marwan pada masa kekuasaannya menyukai puisi, sanjungan, dan roman sebagai dampaknya pejabat-pejabat negara juga mengikutinya dalam menyukai puisi, sanjungan, dan roman; dan bahkan umumnya Dinasti Umayyah adalah seperti demikian. [40]
Dalam hal ini Ahmad Amin setelah mengecualikan Khalid bin Yazid bin Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz mengatakan: dan karena kita telah kecualikan Khalid dan Umar maka kita tidak akan melihat karya apapun dari khalifah-khalifah Dinasti Umayyah di bidang filsafat, ilmu pengetahuan, dan sejarah serta tidak menyaksikan motivasi untuk para ulama. [41]
Pada masa kekuasaan Muawiyah, pasar pemalsuan hadis mencapai puncak kesemarakannya. Mulailah pengarangan hadis untuk mengutamakan ini dan mencela itu, kemudian semua hadis-hadis itu mereka alamatkan dari Rasulullah saw. dan berhubung kebiasaan pada waktu itu hadis tidak ditulis melainkan berpindah dari dada perawi ini ke benak perawi itu maka setiap orang menambahkan atau mengurangi hadis tersebut sesuai dengan kehendak masing-masing. Dalam buku-buku induk hadis kita melihat bab tersendiri berjudul fadla’il atau keutamaan-keutamaan yang dominan hadis-hadis palsu berkumpul di sana. [42]
Ibnu Arafah mengatakan: mayoritas hadis-hadis yang mengumbar keutamaan bagi sahabat nabi saw. pada periode kekuasaan Dinasti Umayyah adalah palsu karena mereka ingin sekali menghina dan melecehkan Bani Hasyim. [43]
Ibnu Abil Hadid mendaftar nama-nama sahabat dan tabiin yang diangkat oleh Muawiyah untuk membuat hadis-hadis palsu[44] kemudian dia menerangkan peran bawahan Muawiyah dalam pembuatan hadis-hadis palsu tentang keutamaan sahabat dengan tujuan mendekatkan diri mereka kepada Dinasti Umayyah. [45]
Berkenaan dengan gelombang hadis-hadis palsu yang khusus untuk keluarga Muawiyah dan dibuat untuk memperkuat pondasi kekuasaannya ada sekelompok hadis yang menarik untuk diperhatikan secara terpisah yaitu hadis-hadis tentang keutamaan kota Syam (sebagai domain pemerintahan Muawiyah) dalam jumlah yang banyak. Begitu banyaknya hadis-hadis palsu ini, yang dominan diprakarsai oleh Ka’bul Akhabr – orang Yahudi yang baru masuk Islam –, sehingga Ibnu Asakir seorang diri dalam bukunya yang berjudul Tarikhu Madinati Dimesyq (sejarah kota Damaskus) mengumpulkan hadis-hadis penyanjung kota Syam sampai seratus lima puluh halaman. [46]
Dengan demikian maka Muawiyah dan penguasa-penguasa Dinasti Umayyah yang lain yang membolehkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka telah mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari hadis-hadis palsu yang dibuat oleh ulama Yahudi dan Kristen yang baru masuk Islam (atau berpura-pura muslim) beserta pemalsu-pemalsu lain dan budak hawa nafsu dari pihak keluarga.
Tentunya lahan penetrasi israiliyat ke dalam kebudayaan Islam tidak terbatas pada faktor-faktor tersebut di atas melainkan ada faktor lain yang menyediakan ruang gerak merayap israiliyat ke dalam masyarakat muslim, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Larangan penulisan hadis nabi saw. selama abad pertama hijriah yang dari satu sisi menghilangkan bagian besar dari literatur Islam dan di sisi lain berlanjut dengan popularitas israiliyat, fantasi, dan pikiran-pikiran yang menyimpang di kalangan masyarakat muslim.
b. Ringkasnya cerita-cerita Qur’an dan perincian kitab-kitab terdahulu.
c. Kejumudan sekelompok penafsir Qur’an dan ahli hadis dalam seleksi penerimaan riwayat.
d. Kemenangan umat Islam dan penaklukan negara-negara lain yang berdampak komunikasi dan pergaulan muslimin dengan bangsa-bangsa asing dan terpengaruh oleh keyakinan, tradisi, dan adat istiadat mereka.
e. Penerjemahan karya-karya ilmiah, filsafat, dan sastra dari bangsa-bangsa lain terutama Taurat, Injil, kitab-kitab manichaisme dan ??? ke dalam bahasa Arab yang kemudian mengenalkan masyarakat muslim dengan cerita-cerita, dongeng, legenda dan supersisi lain yang termuat di sana dan selanjutnya merembasi teks-teks agama Islam.
f. Tidak adanya standar dan tolok ukur yang teliti untuk mengidentifikasi israiliyat atau hadis-hadis palsu pada masa awal pembentukan buku-buku induk hadis.
g. Penjauhan orang-orang yang haus ajaran murni Islam dari sumber-sumbernya yang jernih yaitu Ahli Bait suci Rasulullah saw. karena faktor politik tertentu yang sedang diterapkan oleh para penguasa pada waktu itu.
Dan masih banyak lagi faktor lain yang di luar kapasitas tulisan ringkas ini, pendaftaran faktor-faktor itu membutuhkan karya buku tersendiri yang besar harapan kami para peneliti dan cendekiawan melangkah lebih efektif dalam mengenalkan umat Islam pada bahaya dan dampak-dampak negatif israiliyat melalui kajian komprehensif menyoroti topik ini dari berbagai sudut pandang, selanjutnya berupaya keras untuk menjaga peninggalan Islam yang berharga dari sengatan distorsi dan segala bentuk pemutarbalikan dengan cara purifasi (penyucian) peninggalan Islam dari israiliyat dan pemalsuan yang sangat disayangkan sekali telah bercampur dengan agama Islam.


1. As-Siyadatu al-Arabiyah wa as-Syi’atu wa al-Isroiliyyatu fi Ahdi Bani Umayyah, hal. 109.
2. Atsaru at-Tathowwuri al-Fikri fi at-Tafsiri fi al-Ashri al-Abbasi, Alu Ja’far, hal 121.
3. Al-Alusi Mufassiron, Muhsin Abdul Hamid, hal. 319, dinukil dari kitab: al-Isroiliyatu wa Atsaruha fi Kutubi at-Tafsir, hal 73.
4. At-Tafsiru wa al-Mufassirun, Muhammad Husein adz-Dzahabi, jilid 1, hal. 165.
5. Muhammad Rasyid Ridho dalam kitab tafsir al-Manar, jilid 4, hal. 268 menuliskan: kadang-kadang komplotan Yahudi menyuntikkan supersisi dan hasil mentalitas mereka sendiri ke benak muslimin agar muslimin mencampurnya dengan agama dan memasukkannya dalam kitab-kitab mereka. Itulah alasan kenapa kita menemukan israiliyat dan supersisi dalam kitab-kitab muslimin yang bahkan tidak pernah termuat dalam Perjanjian Lama (Taurat).
6. Dalam terminologi Qur’an, ahli kitab adalah Yahudi dan Kristen, kendatipun sebagian ulama Islam mengategorikan kelompok-kelompok lain yaitu Majusi dan Shaibin dalam ahli kitab.
7. Oyineh ye Islom, Thoha Husein, hal. 9.
8. Al-Isroiliyatu fi at-Tafsiri wa al-Hadits, Dzahabi, hal 22-23.
9. Torikh e Siyosi ye Islom, jiild 1, hal. 125.
10. Fajru al-Islam, Ahmad Amin, hal. 48.
11. Sikulujiyat al-Qissoti fi al-Qur’an, hal. 317 dan 138, buku ini menyebutkan contoh-contoh kepercayaan supersitif yang popular di kalangan arab jahiliyah.
12. Al-Qur’an di dalam surat Jum’ah ayat kedua menyebut arab jahiliyah dengan sebutan-sebutan seperti ummiyyin (orang-orang yang buta huruf dan tidak terpelajar) atau orang-orang yang tidak diragukan lagi hidup dalam kesesatan.
13. Sebagian hadis menukil bahwa Rasulullah saw, bersabda: aku ditutus kepada ummat Umayyah atau bersabda: kami adalah umat Umayyah yang tidak bisa berhitung dan menulis. (Shahih Bukhari- kitabu as-Shoum, begitu pula kitab Jami’nya Tirmidzi, kitabu Abwabi al-Qiroat. Selain itu keriteria, situasi dan kondisi arab jahiliyah dijelaskan oleh Amirul Mukminin as. sebagaimana termuat dalam kitab Nahju al-Balaghoh, ceramah ke25, 94 dan 187.
14. Al-Isroiliyatu fi at-Turatsi al-Islami, hal. 87.
15. Ibid, hal. 90, as-Shohihu min Siroti an-Nabiyyi al-A’dzomi, jilid 1, hal. 95.
16. Sirotu Ibni Hisyam, jilid 2, hal 166: Tafsiru Thobari, jilid 1, hal. 324.
17. Tafsiru Ibni Katsir, jilid 3, hal. 261.
18. Dinukil dari: fi al-Fikri ad-Dini al-Jahiliy qoblal Islam, hal. 62.
19. Al-Mufassholu fi Tarikhi al-Arabi Qobla al-Islam, jilid 6, hal. 550 dan 557.
20. Tafsiru Ibni Katsir, jilid 3, hal 71 dan 72.
21. Ibid.
22. Lubabu an-Nuqul, hal. 167, dinukil dari: Torikh e Siyosi ye Islom, jilid 1, hal. 151.
23. Torikh e Siyosi ye Islom, jilid 2, hal. 87 dan 88.
24. Al-Bidayatu al-Ula lil Isroiliyati fi al-Islam, karya Husni Yusuf al-Athyar, hal. 6.
25. Nahju al-Balaghohi, pidato ke201, Ushulu Kafi, jilid. 1, hal. 62.
26. Tafsir Thobari, jilid 12, hal. 90.
27. Tafsir ad-Duru al-Mantsur, jilid 4, hal. 2; Tafsir Thobari, jilid 12, hal. 90.
28. Tafsir ad-Duru al-Mantsur, jilid 4, hal 3 dan 4.
29. Al-Mufassholu fi Tarikhi al-Arobi Qobla al-Islam, jilid 8, hal. 372.
30. As-Shohihu min Siyroti an-Nabiyyi al-A’dzomi, jilid 1, hal 122-124.
31. Al-Ishobatu fi Tamyizi as-Shohabah, jilid 1, hal. 215.
32. Ibid, hal. 183, 184 dan 186.
33. Al-Qoshshos wa al-Mudzakkirini, hal. 29.
34. Tahdzibu al-Kamal, jilid 4, hal. 314; dinukil dari: Qesseh Khonon dar Torikh e Islom wa Iron, hal. 70.
35. Qesseh Khonon dar Torikh e Islom wa Iron, hal 8.
36. Fajru al-Islam, hal 160-161.
37. Ibid.
38. Al-Jami’u fi Tarikhi al-Adabi al-Arobi, hal. 328.
39. Tarikhu al-Madzahib al-Islamiyah, jilid 1, hal. 115; dinukil dari Qesseh Khonon dar Torikhe Islom wa Iron, hal. 71. lihatlah pada kitab Tarikhu al-Adabi al-Arobi, jilid 1, hal. 128, dan al-Isroiliyatu fi at-Turotsi al-Islami, hal. 101.
40. Fajru al-Islam, hal. 164.
41. Ibid.
42. Torikh e Tahlili ye Islom, hal. 187.
43. Fajru al-Islam, hal. 213.
44. Syarhu Ibni Abi al-Hadid, jilid 4, hal. 110-154.
45. Ibid, jilid 11, hal. 44 dan 45.
46. Lihatlah buku: Tarikhu Madinati Dimesyq, jilid 1, hal. 24-169.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
3+7 =