Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

SYAFAAT (2)[*]


Najmudin Tabasi

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

PANDANGAN ULAMA TENTANG KEHIDUPAN SETELAH MATI

1. Seorang faqih bernama Abu Bakar al-Arabi berkata dalam karya yang berjudul « Fil Amad al-Aqsho fi Tafsir al-Asma’ al-Husna » : Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahli Sunnah tentang penghidupan kembali orang-orang mukallaf di alam kubur dan mereka akan ditanya di sana. [1]
2. Saifuddin Amidi berkata dalam karyanya « Abkar al-Afkar » : Sebelum munculnya penentang, para pendahulu ummat bersepakat bahwa orang mati akan dihidupkan lagi di kuburnya dan setelah munculnya orang-orang yang menentang, keyakinan ini masih menjadi keyakinan mayoritas ummat. [2]
3. Subki berkata : Ijma’ Ahli Sunnah membenarkan kehidupan di alam kubur, Imam al-Haramain menyatakan dalam karya as-Syamil : Salaf atau pendahulu ummat bersepakat tentang siksa kubur, penghidupan kembali orang mati di kuburan mereka, pengembalian nyawa ke tubuh mereka dan ... . Setelah menyebutkan pendapat-pendapat ini, Subki mengatakan bahwa kesimpulannya adalah nyawa akan dikembalikan ke tubuh, dan dia hidup lagi saat pertanyaan alam kubur, dan dia tidak keluar dari dua kemungkinan, diberi nikmat atau disiksa mulai dari saat itu sampai hari kebangkitan. [3]
4. Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Iqtidho’ as-Shirot al-Mustaqim: … sesungguhnya para syahid, bahkan semua orang beriman ketika diziarahi oleh seorang muslim seraya mengucapkan salam kepada mereka, mereka dapat mengetahui ziarah dan salam itu serta mereka menjawab salam tersebut, Samhudi mengatakan: kalau orang beriman saja bisa mempunyai pengalaman seperti ini apalagi penghulu para rasul Muhammad saw.. [4]
5. Ghazali mengisahkan suatu saat Muhammad bin Wasi’ berziarah di hari jumat, maka ada seorang berkata kepadanya: andai kau tunda ziarah ini sampai hari senin nanti? Dia pun menjawab : telah sampai kepadaku berita bahwa orang yang mati mengetahui peziarahnya pada hari jumat dan sehari sebelum serta sesudahnya. [5]
Syaikh Mansur berbicara tentang kehidupan setelah mati sebagai berikut: ada hadis dari Ibnu Abbas bahwa suatu kala Rasulullah saw. Melewati kuburan Madinah, maka beliau menghadap ahli kubur seraya bersabda : « Assalamualaikum wahai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian lebih dulu pergi dan kami akan menyusul ». Hadis ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dengan silsilah perawi yang bagus.
Dia menjelaskan bahwa peziarah kubur disunnahkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu, kemudian berdoa untuk dirinya dan untuk ahli kubur. Hendaknya dia menjaga keikhlasan, karena ikhlas adalah kunci pengabulan doa. Dari anjuran salam kepada ahli kubur bisa diketahui bahwa mereka dapat merasakan dan menyadari karena sesungguhnya kematian bukanlah ketiadaan mutlak, melainkan sebuah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain, tubuh boleh jadi hilang tapi nyawa masih memiliki perasaan sepenuhnya, entah itu berupa siksa yang dia rasakan atau nikmat sampai hari kebangkitan. [6]
Adapun mengenai hadis yang berbunyi “Allah pasti mengembalikan nyawaku kepadaku” dia terangkan maksudnya adalah Allah swt. mengembalikan lisan dan keterjagaanku setelah hanyut di alam malakut, karena pada hakikatnya para nabi adalah hidup di dalam kuburan mereka sebagaimana telah dijelaskan dalam bab hari jumat. [7]
Pada bab hari jumat dia nukil hadis Aus bin Aus dari Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya yang terutama dari hari-hari kalian adalah hari jumat, di hari ini Adam diciptakan, nyawa dicabut, terompet ditiup dan petir disambarkan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku di hari jumat, sesungguhnya shalawatmu dilaporkan kepadaku”, mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kita dilaporkan kepadamu sedangkan kamu telah rapuh. Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan tubuh para nabi”. Dia sebutkan hadis ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan Nasa’I dengan silsilah perawi yang shahih.
Dia menjelaskan juga bahwa dengan perintah Allah swt. beliau dapat mendengar dan bergembira, beliau hidup di dalam kubur dan merasa senang dengan shalawat orang-orang yang mengirimkannya kepada beliau, shalawat itu meninggikan derajat beliau sekaligus derajat mereka yang mengirimkannya… adapun di selain hari jumat, maka shawalat itu sampai kepada beliau melalui para malaikat khusus, sebagaimana perbuatan-perbuatan ummat juga dilaporkan oleh malaikat khusus kepada beliau di hari kamis. [8]
Ada hadis dari Abdullah bin Abi Awfa meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Perbanyaklah shalawat kepadaku di hari jumat karena sesungguhnya shalawat itu sampai kepadaku dan aku mendengar”. Hadis ini diriwayatkan oleh Syafi’I dan Ibnu Majjah. [9]
Di samping itu, saya tambahkan juga bahwa di alam barzakh, daya pengetahuan nyawa jadi lebih kuat daripada saat dia masih di dunia, terbukti Allah swt. berfirman:

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِنْ هذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَائَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ ﴿ ق: 22 ﴾

Artinya: “Sungguh engkau berada dalam kelalaian tentang ini, maka Kami bukakan darimu apa yang menutupimu sehingga penglihatanmu hari ini sangat tajam.” (QS. Qaaf: 22).
Melihat penjelasan di atas, muncul sebuah pertanyaan bukankah hadis nabi yang berisi “Allah pasti mengembalikan nyawaku kepadaku sehingga aku dapat menjawab salam” menunjukkan kehidupan sejenak yang tidak permanen. Masalah ini bisa dijawab dengan beberapa poin berikut:

1. Ada kemungkinan maksud dari pengembalian nyawa di dalam hadis ini adalah pengembalian spiritual, yakni sebelum ada salam dari orang lain, nyawa mulia beliau saw. aktif dalam kehadiran Allah swt. dan alam arwah yang jauh lebih tinggi dari alam dunia. Dan ketika ada yang mengucapkan salam, maka nyawa beliau kembali konsen ke alam dunia untuk menerima salam tersebut dan menjawabnya, itu berarti pengembalian nyawa adalah perhatian ruhani dan penurunan nyawa sampai ke lingkungan dunia manusia setelah hanyut dalam kehadiran Allah swt. dan alam yang lebih mulia –sebagaimana yang dikatakan pula oleh Subki–.

2. Kemungkinan lain adalah sebenarnya ungkapan di dalam hadis ini digunakan sesuai dengan kadar pemahaman audien tentang alam selain dunia, sehingga seakan-akan diperlukan pengembalian nyawa untuk bisa mendengar salam dan menjawabnya, yakni seakan-akan beliau bersabda demikian: aku mendengar salam itu dan aku jawab sepenuhnya. Dan ini menunjukkan terjadinya pengembalian nyawa mulai dari salam pertama kepada beliau. Dan tidak ada ungkapan dalam hadis ini yang menunjukkan pencabutan nyawa lagi, selain itu juga tidak seorang pun berpendapat terjadinya pengembalian nyawa dan pencabutannya lagi secara berulang-ulang yang berarti kematian-kematian yang tak terhitung untuk satu orang.
Kita percaya pada penginderaan orang mati seperti pengetahuan dan pendengarannya, kalau mayit biasa saja memiliki kemampuan seperti itu apalagi para nabi, hal ini diyakini pula dengan hidupnya kembali orang mati di dalam kubur sebagaimana dinyatakan oleh sunnah, dan tidak ada bukti yang menunjukkan kematian berikutnya buat mayit yang sudah dihidupkan lagi, sebaliknya yang ada adalah dalil-dalil yang menjelaskan nikmat atau siksa kubur, dan tentunya untuk merasa nikmat atau tersiksa diperlukan sebuah kehidupan walau dalam skala yang terbatas seperti kehidupan bagian manusia yang berguna untuk merasa, dengan demikian sebenarnya masalah ini tidak perlu lagi pada bayyinah seperti anggapan kelompok Muktazilah. [10]
Dapat disimpulkan bahwa jawaban pertama untuk perkataan Ibnu Taimiyah –yang melarang permintaan syafaat dari para nabi – adalah sesungguhnya mereka hidup di dalam kuburan. Oleh karena itu, permintaan syafaat kepada mereka tidak terhitung permintaan kepada mayit.
Adapun jawaban berikutnya adalah sesungguhnya para syahid tetap hidup sebagaimana ditegaskan oleh ayat suci Al-Qur’an:

وَ لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيآءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ ﴿ آل عمران: 169 ﴾

Artinya: “Dan janganlah kalian anggap mati orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya diberi rezeki.” (QS. ali Imran: 169).
Di sini jelas bahwasanya derajat kenabian lebih agung daripada derajat kesyahidan, dan tinta ulama lebih utama daripada darah syuhada[11]. Kalau orang yang gugur di jalan Allah swt. hidup, maka sudah pasti Rasulullah saw. juga hidup. Hal ini ditegaskan juga oleh Baihaqi di dalam kitab Al-I’tiqad: sesungguhnya para nabi as. setelah dicabut nyawa mereka akan dikembalikan lagi nyawa tersebut kepada mereka, dan mereka hidup di sisi Tuhannya diberi rezeki seperti syuhada yang hidup di sisi Allah swt. dan diberi rezeki. [12]
Jawaban ketiga untuk Ibnu Taimiyah: anggap saja kita sependapat bahwa mayit tidak bisa mendengar pembicaraan dan juga tidak mampu untuk memenuhi pesanan doa, akan tetapi perbuatan minta doa dari mayit sama sekali tidak berakibat fatal atau kekafiran karena perbuatan itu seperti halnya meminta orang buta untuk membaca dengan anggapan orang itu bisa melihat dan membaca.
Jawaban keempat adalah: perbuatan salaf –termasuk di antaranya sahabat nabi dan yang lain– meminta syafaat dan pertolongan serta memohon pada Rasulullah saw. untuk mendoakan mereka, padahal beliau sudah meninggal dunia bahkan perbuatan salaf ini tidak hanya ditujukan kepada Rasulullah saw. melainkan juga kepada orang-orang yang saleh, tentu saja perbuatan salaf ini menjadi bukti pembolehan dan pensyariatan. Adapun contoh-contohnya akan kita sebutkan nanti.
Jawaban kelima: sesungguhnya nyawa tetap kekal dan tidak hilang setelah kematian, nyawa tersebut masih bisa diminta dan didoakan. Berkenaan dengan ayat suci al-Qur’an yang berbunyi:

قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ ﴿ الإسراء: 85 ﴾

Artinya: “Katakanlah nyawa itu adalah urusan Tuhanku.” (QS. al-Isra’: 85)
Fakhrur Razi membawakan tujuh belas bukti kekalnya nyawa setelah kematian tubuh. Berikut ini di antara bukti-bukti yang dia ajukan:

1. Ucapan beliau as. pada pidato panjang yang berbunyi: “Sampai ketika mayit diusung di atas petinya, nyawa dia seakan mengepakkan sayap dan berkata: Wahai keluarga dan anakku, jangan sampai dunia mempermainkan kalian sebagaimana dia telah mempermainkanku…”. Ini merupakan penjelasan bahwa ketika tubuh manusia mati dan diusung dalam peti, dirinya tetap hidup dan mengerti … .

2. Firman Allah swt. yang berbunyi:
يَا اَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ. ارْجِعِيْ اِلَی رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةَ ﴿ الفجر: 27-28 ﴾

Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS. al-Fajr: 27-28).
Ayat ini menunjukkan bahwa sesuatu yang kembali kepada Allah swt. setelah kematian tubuh adalah tetap hidup ridha terhadap Allah swt. dan diridhai-Nya, dan sudah barang tentu yang ridha terhadap Allah swt. tiada lain adalah manusia, oleh karena itu manusia tetap hidup walau tubuhnya sudah mati … .

3. Ucapan beliau as. yang berbunyi: “Nabi-nabi Allah swt. tidak mati, melainkan mereka dipindahkan dari satu rumah ke rumah yang lain”, atau berbunyi “Barangsiapa telah mati maka sejak itu pula kiamatnya dimulai”, atau berbunyi “Kuburan adalah taman dari taman-taman surga atau sebaliknya lubang dari lubang-lubang neraka…”. Teks-teks hadis ini merupakan bukti bahwa manusia tetap hidup walau tubuhnya sudah mati … .

4. Firman Allah swt. yang berbunyi:

حَتَّی اِذَا جَاءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَ هُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ ﴿61﴾ ثُمَّ رُدُّوْا اِلَی اللهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ ﴿ الأنعام: 61-62 ﴾

Artinya: “Hingga bilamana kematian datang kepada salah seorang di antara kalian, utusan-utusan Kami itu mewafatkannya dan mereka tidak lalai. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah Tuhan mereka yang benar.” (QS. al-An’am: 61-62).
Ayat ini menjadi bukti pengembalian mereka kepada Tuhan mereka Allah swt. di saat tubuh mereka telah mati, itu berarti apa yang dikembalikan kepada Allah swt. berbeda dengan tubuh yang sudah mati.

5. Kita melihat bahwa berbagai bangsa di dunia mulai dari India, Romawi, Arab, Ajam serta penghulu berbagai agama seperti Yahudi, Kristen, Majusi, Islam dan begitu pula sekte-sekte yang lain, mereka bersedekah untuk orang-orang mereka yang sudah mati, mereka doakan baik dan mereka ziarahi. Kalau ternyata mereka tidak hidup setelah tubuh mereka mati, maka sia-sialah perbuatan sedekah untuk mereka, berdoa untuk mereka dan juga pergi ziarah kepada mereka. Oleh karena itu, kesepakatan bangsa, agama dan sekte dunia untuk menyedakahi orang mati, mendoakan, dan juga menziarahinya, menunjukkan bahwa fitrah mereka yang sejati dan sehat menjadi saksi sesungguhnya manusia adalah sesuatu selain tubuh, sesuatu itu tidak akan mati, dan yang mati adalah tubuh. [13]
Intinya; Fitrah yang sehat meyakini kehidupan nyawa setelah mati, dan Al-Qur’an serta sunnah mengakui kekekalannya. Dengan demikian, apa lagi penghalang dan bahaya yang ditakutkan dari permohonan doa dan syafaat kepada arwah baik yang mereka itu adalah hidup sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur’an, sunnah, dan fitrah? Apakah perbuatan ini menyebabkan bid’ah, kekafiran dan kesyirikan, atau sebaliknya pemikiran seperti itu muncul karena tidak merujuk kepada fitrah dan tidak merenungkan literatur Islam?

Kekekalan Nyawa dalam Pandangan Subki

Ketika Subki ditanya apakah arwah itu menghilang seperti tubuh? Dia menjawab: berbicara tentang arwah, adakalanya berdasarkan aliran hukama’ (para filsuf) dan adakalanya berdasarkan aliran mutasyarri’ (mereka yang memegang erat syariat dan bukti-bukti tekstual), … Permasalahan ini jika dipandang dalam aliran mutasyarri’ maka di situ ada kesepakatan pendapat bahwa nyawa tetap ada setelah berpisah dari tubuh manusia dan itu satu hal yang mungkin terjadi. Semua syariat menyatakan hal tersebut dan setahu saya dalam hal ini tidak ada perbedaan antara satu syariat dengan syariat yang lain, hanya saja Imam Fakhrud Din Razi berkata: Jika berbagai pandangan rasional di dunia ini digabungkan dengan kata-kata mayoritas nabi dan hakim, niscaya akan melahirkan sebuah kepastian dan keyakinan tentang kekalnya jiwa atau nyawa. Ungkapan mayoritas nabi sekilas menyiratkan tidak adanya kesepakatan di antara mereka tentang kekekalan nyawa. Tapi isyarat ini tidaklah wajar dan begitu berarti, saya yakin dia tidak bermaksud demikian karena di awal pembicaraan dia mengatakan bahwa para nabi memiliki pandangan yang sama tentang kekekalan nyawa.
Inilah kebenaran yang harus diyakini, keyakinan yang ditetapkan oleh syariat-syariat, kitab-kitab suci yang diturunkan, ayat-ayat al-Qur’an, dan hadis-hadis dalam jumlah besar yang tidak mungkin ditakwil, melainkan di situ ada kepastian makna dan maksud bahwa jiwa atau nyawa tetap hidup setelah berpisah dari tubuh, tidak seorang muslim pun yang meragukan hal ini, baik itu orang alim maupun orang awam. Bahkan lebih dari itu, menurut pengakuan mereka bahwa kehidupan arwah setelah berpisah dari tubuh tidaklah terbatas bagi orang-orang tertentu saja melainkan semua orang mati juga demikian, tubuhnya luluh dan nyawanya tetap hidup. Sebagian kelompok menyatakan adanya ijma’ pendapat dalam hal itu dan mereka memberikan komentar pada ayat yang berbunyi:

وَ لَا تَقُوْالُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيَاءٌ وَ لكِنْ لَا تَشْعُرُوْنَ ﴿ البقرة: 154﴾

Artinya: “Dan janganlah kalian katakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup tetapi kalian tidak menyadari.” (QS. al-Baqarah: 154).
Hukum ini tidak khusus untuk mereka yang terbunuh di jalan Allah swt. karena ayat ini dimaksudkan untuk menjawab orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan dan meyakini kematian manusia berarti hilang secara total serta tidak menyisakan bekas apapun berupa perasaan atau semacamnya sehingga berdasarkan ayat ini Allah swt. menolak kepercayaan mereka. Tentu saja kehidupan orang mati itu berbeda antara satu sama yang lain, kehidupan orang yang mati syahid lebih mulia daripada kehidupan orang yang mati mukmin dan tidak syahid, sementara level kehidupan orang yang mati kafir dan sedang disiksa berada di bawah kehidupan orang yang mati mukmin, hanya saja mereka sama dari sisi bahwa mereka tetap hidup, sebagian tubuh mereka ada yang usang, dan sebagian lagi ada yang tidak, sementara arwah mereka tetap dalam keadaan hidup. Inilah yang diajarkan oleh agama Islam. Apabila seseorang ingin menelusuri ayat-ayat suci al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad saw. yang berhubungan dengan masalah ini, niscaya dia akan menemukannya dalam jumlah yang sangat besar, dan tidak perlu lagi pembahasan ini lebih diperpanjang karena pada hakikatnya masalah ini merupakan sebuah kepastian dalam agama Islam. [14]
Lalu, apa alasan Wahabisme menyerang dan mengkafirkan orang yang mencari perantara dan memohon syafaat dari arwah para nabi, wali, dan orang saleh?! padahal berdasarkan bukti-bukti di atas, kehidupan arwah mereka adalah salah satu hal-hal yang pasti menurut agama Islam. Mungkin, alasan mereka menyerang dan mengkafirkan adalah kelalaian mereka dan tidak adanya mereka merenungkan ayat serta hadis, dan uzur orang lalai bisa dimaklumi jika dia memang betul-betul tidak mampu, tapi apabila kelalaian itu karena acuh tak acuh dan kecerobohan maka dia tidak bisa dimaafkan.
Jawaban keenam untuk Ibnu Taimiyah dan pengikutnya adalah sebetulnya keyakinan bahwa orang mati itu mendengar atau tidak mendengar, bukan termasuk ushuluddin atau pokok-pokok agama, tidak tergolong rukun agama dan juga tidak terhitung wajib dari sekian kewajiban yang ada dalam agama Islam sehingga apabila seseorang tidak mempercayainya berarti dia terjerumus dalam bid’ah. Orang yang percaya kalau orang mati itu mendengar, tidak keluar dari dua kemungkinan yakni kemungkinan pertama dia benar dan sesuai dengan kenyataan sehingga dia berhak menerima pahala yang setimpal dan kemungkinan kedua adalah dia salah karena kenyataannya adalah orang mati tidak bisa mendengar, tapi kesalahan dia dimaklumi dan dimaafkan berdasarkan hadis yang tercatat dalam kitab-kitab induk Shahih dan Sunan. [15] Oleh karena itu, keyakinan ini tidak menyebabkan seseorang menjadi musyrik atau telah berbuat dosa. Apa mungkin Fakrur Razi; seorang mufassir terkemuka[16] yang meyakini nyawa adalah tetap hidup dan inilah yang menjadi sisi pembenar doa untuk orang mati, ziarah kepadanya, nadzar, dan sedekah untuknya dinyatakan kafir, syirik, dan bid’ah!!? Para mufassir juga mengatakan bahwa ayat:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ ﴿ يونس: 92 ﴾

Artinya: “Maka pada hari ini Kami selamatkan engkau dengan badanmu.” (QS. Yunus: 92)
Ayat tersebut berisi pernyataan yang menjelaskan tentang adanya jiwa di balik tubuh manusia. [17]

Contoh Hadis tentang Syafaat

1. Anas bin Malik meriwayatkan dirinya memohon kepada Rasulullah saw. agar memberinya syafaat di hari kiamat, beliau menjawab: akan kupenuhi permintaanmu, Anas kembali bertanya: di mana aku akan memintamu? Beliau menjawab: di atas Shiroth. [18]

2. Suatu saat Sawad bin Qarib mendatangi Rasulullah saw. dan memohon syafaat kepadanya dalam bentuk puisi yang artinya: sedialah dirimu memberi syafaat kepadaku di hari yang tidak ada satu syafaat pun yang mencukupi Sawad bin Qarib kecuali syafaat darimu. [19]

Syafa’at dalam Sejarah Sahabat

1. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib as. selesai memandikan jenazah Rasulullah saw. dia berkata: demi ayah dan ibuku… engkau bagus saat hidupmu, dan bagus pula saat matimu… ingatlah kami di sisi Tuhanmu. [20]

2. Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar menyingkap penutup wajah beliau dan menciumnya seraya berkata seperti yang diucapkan Ali bin Abi Thalib as. [21]

3. Suatu saat ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah, masyarakat mengalami kekurangan hujan dan paceklik, maka Bilal bin Haris –salah seorang sahabat nabi– mendatangi kuburan Rasulullah saw. dan berkata: wahai Rasulullah saw. mintakanlah hujan untuk ummatmu karena sesungguhnya mereka telah hancur. Beliau menghampiri Bilal di dalam tidurnya dan memberitahukan bahwa mereka akan segera disirami hujan. [22]
Hadis ini menunjukkan beberapa hal di antaranya adalah permintaan seseorang kepada Rasulullah saw. yang berada di alam Barzakh untuk memohon hujan kepada Allah swt. Doa beliau kepada Allah swt. di alam barzakh bukanlah hal yang mustahil, dan sesungguhnya beliau –yang sedang berada di alam Barzakh– mengetahui permintaan orang yang berada di alam yang berbeda sebagaimana beliau mengetahui permintaan mereka saat masih di dunia. Dengan demikian maka keyakinan dan perbuatan ini bukan bid’ah, syirik, atau kafir.
Mungkin Anda berpikir bahwa permintaan syafaat kepada orang mati dilarang karena dikhawatirkan muncul perasaan menyembah pihak yang memberi syafaat. Pemikiran ini tidak benar karena di dalam permintaan syafaat kepada orang hidup pun ada kekhawatiran yang sama, lalu kenapa Anda memperbolehkan satu dan melarang yang lain? Apa alasan yang menepis kekhawatiran tersebut dari permintaan syafaat kepada orang hidup?
Semua bukti ayat, hadis, dan sejarah ini menutup semua jalan pemikiran Wahabisme yang mengharamkan permintaan syafaat kepada orang mati. Dan aneh sekali ketika mereka mengaku tidak ada bukti yang mencatat bahwa sahabat atau tabiin pernah meminta syafaat kepada orang mati.

Kritik dan Jawaban

Meskipun ada banyak bukti yang membenarkan syafaat, tapi masalah ini belum tuntas begitu saja. Ada beberapa kendala pemikiran seputar konsep syafaat yang mungkin mengganggu benak seseorang. Kendala-kendala itu adalah sebagai berikut:

1. Kalau memang perbuatan menghindarkan penjahat dari siksa adalah adil maka sebaliknya adalah zalim. Dan apabila menghindarkan penjahat dari siksa adalah zalim, bagaimana mungkin para nabi meminta hal yang zalim?.
Jawabannya adalah menghindarkan penjahat dari siksa bukan berarti membatalkan hukuman yang pertama atau menentang siksa dan yang sebenarnya dilakukan oleh para nabi adalah mengeluarkan terdakwa dari posisi orang yang wajar untuk disiksa serta memindahkannya ke posisi orang yang layak dikasihani. Dengan demikian, maka keputusan Allah swt. menyiksa pelanggar adalah keputusan yang adil, dan keputusan Dia untuk mengampuni orang yang disyafaati juga adil; karena masing-masing memiliki kondisi yang berbeda. Secara tidak langsung, di sini juga terdapat penghargaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada para nabi sebagai kekasih dan makhluk terdekat-Nya.

2. Salah satu konsekuensi syafaat adalah penyimpangan; karena perbuatan menghindarkan siksa dari pelaku dosa akan berujung pada suatu hal yang mustahil, yaitu menggagalkan tujuan Tuhan. Sementara, sunnah Allah swt. menuntut perbuatan-perbuatan-Nya terlaksana tanpa sedikitpun gangguan dan penyimpangan, dan apa yang sudah menjadi keputusan Allah swt. pasti berlaku sejalan dan tidak terkecualikan.
Jawabannya adalah Allah swt. enggan memberlakukan perkara kecuali dengan sebabnya masing-masing dan setiap keputusan pasti memiliki sebab tersendiri, tapi adakalanya di sana terdapat sebab-sebab lain dalam jumlah yang lebih besar menuntut hal yang berbeda dengan yang dikehendaki oleh sebab pertama, sehingga hal kedua yang menjadi kenyataan. Di samping itu, perlu ditambahkan juga bahwa sunnah Allah swt. bukan hanya satu melainkan ada banyak sunnah yang berdasarkan sifat-sifat Tuhan, masing-masing dari sunnah itu lengkap, sempurna dan universal. Sementara yang terjadi dalam syafaat tidak keluar dari kerangka sunnah Allah swt. secara umum, hanya saja ada perpindahan dari satu sunnah yang berdasarkan sifat Maha Pendendam kepada sunnah yang berdasarkan sifat Maha Pengampun dikarenakan kondisi manusia yang berubah setelah diberi syafaat.

3. Syafaat yang populer diperbincangkan berarti mendesak pihak yang dimintai syafaat di sisinya -seperti Allah swt.- untuk meninggalkan apa yang dia hendak lakukan, atau sebaliknya mendesak dia untuk melakukan apa yang ingin dia tinggalkan. Oleh karena itu, syafaat berarti campur tangan dalam kehendak Allah swt. serta keputusan-Nya, dan itu mustahil.
Kritikan ini dijawab bahwa syafaat bukan berarti perubahan dalam kehendak dan pengetahuan, melainkan perubahan dalam hal yang dikehendaki dan yang diketahui. Allah swt. mengetahui bahwa seseorang bisa memiliki kondisi yang berbeda-beda, maka suatu saat dia berada dalam kondisi tertentu dikarenakan sebab dan faktor-faktor tertentu pula sehingga Allah swt. pun menghendaki sesuatu yang sesuai dengan kondisi orang tersebut, tapi di saat yang lain dia mengalami kondisi yang berbeda karena munculnya sebab dan faktor-faktor lain sehingga Allah swt. menghendaki suatu yang berbeda dengan kehendak-Nya yang pertama.
Allah swt. berfirman:
كُلُّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَاْنٍ ﴿ الرحمن: 29 ﴾

Artinya: “Setiap hari Dia dalam urusan.” (QS. ar-Rahman: 29).
يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ الْكِتَابِ ﴿ الرعد: 39 ﴾

Artinya: “Allah hapuskan apa yang Dia kehendaki dan Dia tetapkan (apa yang Dia kehendaki) dan di sisi-Nya ada ummul kitab.” (QS. ar-Ra’d 39).

4. Janji-janji yang diberikan syafaat membuat orang berani untuk bermaksiat.
Kalau memang itu benar, tuduhan ini juga bisa diarahkan kepada salah satu ajaran Islam yang dikenal dengan taubat, betapa banyak ayat yang menunjukkan luasnya pengampunan dan kasih sayang Allah swt. yang dapat menghapus dosa-dosa, apakah ini juga dituduh sebagai penyebab orang menjadi berani berbuat dosa?!. Selain itu, janji syafaat akan menjadikan orang berani bermaksiat apabila syafaat tersebut mencakup semua pelaku dosa dengan segala kriterianya dan menghindarkan semua siksa dengan segala macam dan waktunya, tapi kenyataannya bahwa semua itu masih samar, tak seorang pun tahu apakah dirinya layak mendapat syafaat atau tidak? Tak seorang pun tahu apakah dosanya ini termasuk dosa-dosa yang bisa diselamatkan oleh syafaat ataukah tidak? Oleh karena itu, tuduhan bahwa syafaat membuat orang berani untuk bermaksiat adalah tidak benar.
Terlebih lagi apabila kita meresapi dalil-dalil syafaat yang menyinggung sebagian syarat-syaratnya, seperti Firman Allah swt. yang berbunyi:

يَوْمَ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمَانُ وَ رَضِيَ لَهُ قَوْلًا ﴿ طه: 109﴾

Artinya: “Pada hari itu tidak berguna syafaat kecuali bagi orang yang diizinkan oleh Yang Maha Pengasih dan Dia meridhai perkataannya.” (QS. Thaha: 109).

مَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ حَميْمٍ وَ لَا شَفِيْعٍ يُطَاعُ ﴿ غافر: 18 ﴾

Artinya: “Tiadalah bagi orang-orang zalim itu teman setia dan tiada pemberi syafaat yang dipatuhi.” (QS. Ghofir: 18).
Akan lebih baik, apabila pengkritik mau mengerti bahwa syafaat bukan penyemangat dosa melainkan faktor penting dalam menimbulkan rasa optimis terhadap masa depan. Seorang yang terjaga dari dosa dan kejahatannya, tidak boleh pesimis akan masa depan, peluang untuk merubah nasib masa depannya belum tertutup, pertama-tama dia harus merubah pola hidupnya dengan ketaatan kepada Allah swt., setelah itu sebaiknya dia berusaha meraih syafaat manusia-manusia suci untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah swt. dan menyelamatkannya dari siksa atas dosa-dosa yang pernah dia perbuat. [23]

5. Kenapa tidak Allah swt. saja yang secara langsung mengampuni dosa-dosa manusia, dan tidak perlu lagi adanya perantara atau pemberi syafaat?!
Alam semesta diciptakan untuk manusia dengan sistem sebab dan akibat, sehingga manusia harus memenuhi kebutuhannya melalui sebab-sebab yang sudah ditetapkan. Termasuk di antaranya ketika seseorang hendak memenuhi kebutuhan spiritualnya maka dia juga harus mencari jawabannya sesuai dengan cara yang sudah ditetapkan, dan Allah swt. telah menetapkan makhluk-makhluk tertentu sebagai perantara untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia -seperti pengampunan dosa-, maka tidaklah benar menanyakan kenapa tidak Allah swt. saja yang secara langsung mengampuni dosa dan tidak perlu lagi pada pemeberi syafaat?!, sama halnya mempertanyakan kenapa tidak Allah swt. saja yang secara langsung menerangi bumi dan tidak perlu lagi pada matahari?!.
Allah swt. memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah berdosa agar mendatangi Rasulullah saw. dan memohon beliau untuk memintakan ampun buat mereka di samping mereka sendiri meminta ampun, Allah swt. berfirman:

وَ لَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَلَمُوْا اَنْفُسَهُمْ جَاؤُوْكَ فَاسْتَغْفَرُوْا اللهَ وَ اسْتَغْفَرَ لَهُم الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوْا اللهَ تَوَّابًا رَحِيْمًا ﴿ النساء: 64 ﴾

Artinya: “Dan sungguh kalau mereka ketika menganiaya dirinya, mereka datang kepadamu lalu mereka meminta ampun kepada Allah, dan rasul pun memintakan ampun bagi mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa’: 64).
Cara seperti ini selain efektif untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia, juga merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan bagi mereka yang diberi hak untuk memberi syafaat.

6. Menurut kesaksian al-Qur’an, Allah swt. menyatakan orang-orang yang meminta syafaat di zaman Rasulullah saw. sebagai musyrik:

وَ يَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ مَالَا يَضُرُّهُمْ وَ لَا يَنْفَعُهُمْ وَ‌يَقُوْلُوْنَ هؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ ﴿ يونس: 18 ﴾

Artinya: “Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak mendatangkan mudarat dan tidak mendatangkan manfaat, dan mereka berkata mereka (berhala) itu adalah pemberi syafaat (penolong) kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18).
Memang tidak diragukan lagi bahwa orang-orang musyrik pada zaman itu meyakini berhala-berhala sembahan mereka mempunyai posisi sebagai pemberi syafaat, tapi perlu juga diperhatikan bahwa ayat ini menjelaskan penyembahan mereka terhadap berhala-berhala tersebut di samping meyakininya sebagai penolong atau pemberi syafaat. Dua hal yang bersamaan inilah membuat mereka tercela dan tergolong orang-orang musyrik. Di samping itu, mereka meyakini syafaat yang dimiliki berhala sembahan mereka adalah tanpa batas dan syarat, padahal Allah swt. tidak pernah memberikan kedudukan seperti ini kepada siapa pun, itulah kenapa mereka terhina. Adapun apabila seseorang meyakini kedudukan pemberi syafaat ini dimiliki oleh orang-orang yang ditentukan Allah swt. dan penggunaannya pun sesuai dengan izin Dia serta tidak sampai batas penyembahan, maka itu boleh dan dibenarkan.

7. Al-Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa syafaat adalah hak istimewa Allah swt. Oleh karena itu, dilarang meminta syafaat kecuali kepada-Nya:

قُلْ للهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا ﴿ الزمر: 44 ﴾

Artinya: “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah semua syafaat itu.” (QS. az-Zumar: 44).
Pada mula dan hakikatnya syafaat adalah milik Allah swt. semata, karena itu berpengaruh dalam menentukan nasib manusia dan terhitung pengejawantahan sifat Tuhan Yang Maha Pengatur. Namun, hal ini tidak bertentangan dengan syafaat nabi, wali, orang saleh atau yang lain karena syafaat mereka tidaklah independen, melainkan sepenuhnya tergantung pada izin dan kehendak Allah swt. Kenyataan ini digambarkan oleh al-Qur’an sebagai berikut:
مَنْ ذَا الَّذيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ اِلَّا بِاِذْنِهِ ﴿ البقرة: 255 ﴾

Artinya: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. al-Baqarah: 255).

مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْ بَعْدِ اِذْنِهِ ﴿ يونس: 3(

Artinya: “Tidak seorang pun sebagai pemberi syafaat kecuali sesudah izin-Nya.” (QS. Yunus: 3).

Syafa’at dan Ummat
Untuk melengkapi tulisan ini, ada baiknya kita menyimak perkataan ulama sebagai perwakilan ummat Islam tentang syafa’at.
Abu Mansur Maturidi (w. 333H) mengomentari ayat:

وَ لَا يَشْفَعُوْنَ اِلَّا لِمَنِ ارْتَضَی ﴿ الأنبياء : 28 ﴾

Artinya: “Dan mereka tidak dapat memberikan syafaat melainkan bagi siapa yang diridhoi-Nya.” (QS. al-Anbiya’: 28).
Ayat tersebut di atas merupakan bukti syafaat yang diterima menurut agama Islam. [24]
Tajuddin Abu Bakar Kullabadzi (w. 380H) berkata: ulama sepakat bahwa wajib bagi seorang muslim untuk meyakini semua yang difirmankan Allah swt. tentang syafaat dan dipertegas oleh hadis-hadis… . [25]
Syaikh Mufid (336-413H) berkata: Syiah Imamiyah sepakat bahwa di hari kiamat nanti Rasulullah saw. akan memberi syafaat kepada sekelompok orang yang berbuat dosa besar, begitu juga Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan imam-imam yang lain. Dan berkat syafaat mereka maka Allah swt. menyelamatkan banyak orang yang berdosa dari neraka. [26]
Syaikh Thusi (385-460H) berkata: menurut mazhab Syiah Imamiyah, Rasulullah saw., sebagian dari sahabat beliau, para imam suci as., dan kebanyakan orang mukmin yang saleh diberi izin untuk memberi syafaat. [27]
Abu Hafs Nasafi (w. 538H) berkata: syafaat para rasul dan orang islam yang baik untuk orang yang berdosa adalah terbukti melalui hadis-hadis mustafidh –hadis yang jalur perawinya banyak, tapi tidak sampai batas hadis mutawatir–.[28] Taftazani yang mengomentari tulisan Nasafi, membenarkan perkataan ini sepenuhnya. [29]
Qadhi Iyadh bin Musa (w. 544H) berkata: mazhab Ahli Sunnah meyakini syafaat baik melalui bukti-bukti rasional maupun dalil-dalil tekstual berupa ayat dan hadis yang membenarkannya. [30]
Qadhi Baidhawi menafsirkan ayat:
وَ اتَّقُوْا يَوْمًا لَا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَ لَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ ﴿ البقرة: 48 ﴾

Artinya: “Dan Takutlah kalian akan suatu hari yang seorang pun tidak dapat membela orang lain sedikit jua, dan tidak dapat diterima daripadanya syafaat.” (QS. al-Baqarah: 48).
Bahwasanya sebagian orang beranggapan kalau ayat ini merupakan bukti yang menafikan adanya syafaat untuk pelaku dosa besar, padahal perlu diketahui bahwa ayat ini khusus untuk orang-orang kafir, karena banyak sekali ayat dan hadis yang menunjukkan adanya syafaat untuk ummat Islam. [31]
Fattal Nisyaburi berkata: tidak ada perbedaan pendapat di antara muslimin bahwa syafaat adalah hal yang nyata dan terbukti untuk menggugurkan bahaya dan siksa. [32]
Ibnu Taimiyah Harrani (728H) berkata: Rasulullah saw. mempunyai tiga macam syafaat di hari kiamat … macam yang ketiga adalah syafaat bagi mereka yang berhak masuk neraka Jahannam. [33]
Nidzamuddin Qowsyaji (879H) berkata: muslimin sepakat terhadap adanya syafaat karena Firman Allah swt.:

عَسَی اَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُوْدًا ﴿ الإسراء: 79 ﴾

Artinya: “Semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra’: 79). [34]
Sya’rani Hanafi berkata: sungguh Rasulullah Muhammad saw. adalah pemberi syafaat pertama di hari kiamat … . [35]
Allamah Majlisi (1110H) berkata: mengenai syafaat, tidak ada perbedaan pendapat di antara muslimin karena tergolong hal-hal yang pasti menurut agama Islam, dan yang dimaksud dengan syafaat di sini adalah di hari kiamat nanti Rasulullah saw. akan memberi syafaat kepada ummatnya dan bahkan kepada ummat-ummat sebelumnya juga … . [36]
Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1206H) berkata: syafaatnya Rasulullah saw., nabi-nabi yang lain, malaikat, wali Allah, dan anak kecil adalah sesuatu yang terbukti berdasarkan hadis-hadis yang ada … . [37]
Itulah sekilas pandangan ulama terdahulu sampai sekarang yang mencerminkan keyakinan ummat Islam dan satu-satunya yang bisa kita tangkap di saat membaca atau mendengar fatwa sumbang yang dicetuskan oleh Wahabisme mengingkari syafaat dan mengharamkan permohonan syafaat dari Rasulullah saw. atau yang lain adalah fatwa seperti ini menunjukkan mufti yang tidak menguasai sumber-sumber hukum Islam dan tidak mempunyai maklumat yang cukup tentang sejarah sahabat. Satu lagi bahwa fatwa ini tergolong kata-kata tanpa dasar pengetahuan.
* Tulisan ini disadur dari dua tulisan berjudul syafaat yang termuat dalam dua kitab: Rawafaid al-Iman ila Aqa’id al-Islam, Najmuddin Tabasi, hal. 13-35. Wahabiyat, Ali Asghar Ridhwani, hal. 447-470.
Rowafidu al-Iman fi Aqo’idi al-Islam, karya Najmuddin Thabasi, Penerjemah: Nasir Dimyati ; Qum: 2006

1. Syifa’ as-Siqam: 204.
2. Wafa’ al-Wafa’: 4/1351.
3. Wafa’ al-Wafa’: 4/1412.
4. Wafa’ al-Wafa’: 4/1351.
5. Wafa’ al-Wafa’: 4/1412.
6. At-Taju al-Jami’u lil-Ushul: 1/381.
7. At-Taju al-Jami’u lil-Ushul: 1/291.
8. At-Taju al-Jami’u lil-Ushul: 1/292.
9. Ibid.
10. Wafa’ al-Wafa’: 4/1355.
11. Kanz al-Ummal: 10/141 hadis ke28715. Bihar al-Anwar: 2/14 menukil dari Amali karya Syaikh Shaduq. Teks yang dimuat oleh kitab Kanz al-Ummal adalah sebagai berikut:
يُوْزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ وَ دَمُ الشُّهَدَاءِ فَيُرَجَّحُ عَلَيْهِمْ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ عَلَی دَمِ الشُّهَدَاءِ
Artinya: “Di hari kiamat, tinta ulama akan ditimbang dengan darah syuhada, dan ternyata tinta ulama lebih unggul daripada darah syuhada”.
12. Wafa’ al-Wafa’: 4/1355.
13. At-Tafsir al-Kabir: 21/41.
14. Fatawa as-Subki: 2/636.
15. Shahih Bukhari: 9/193, Kitab al-I’tishom. Shahih Muslim: 5/131, Kitab al-Aqdhiyah.
Ini menurut kitab-kitab Ahli Sunnah, adapun di dalam literature hadis Ahlulbait as., tidak ada teks yang serupa, itu berarti teks tersebut tidak bisa diterima secara sanad hadis (silsilah perawi hadis). Bahkan, berdasarkan dasar-dasar ilmu hadis mereka sendiri, sanad hadis-hadis ini juga bermasalah, karena di silsilah perawinya disebutkan salah satunya adalah Amr bin Ash, dan dia tidak diketahui identitasnya. Selain itu, sebagian jalur silsilah perawi hadis-hadis ini juga mengalami kebuntungan yang di dalam ilmu hadis disebut dengan irsal. Anda bisa lihat lebih lanjut dalam kitab Umdah al-Qari: 25/67.
16. Dia adalah Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Husein bin Hasan at-Taymi at-Thabari ar-Razi, akidahnya Asy’ari dan fikihnya Syafi’i, dia dikenal dengan Imam Fakhr ad-Din dengan julukan Ibnu al-Khathib... (Al-Kuna wal-Alqab: 3/13).
17. Penjelasan lebih lanjut bisa Anda baca dalam kitab Tafsir al-Mizan: 10/121.
18. Al-Jami’ as-Shohih: 4/621 hadis ke2433.
19. Ad-Durar as-Sinniyah: 29. Kasyf al-Irtiyab: 263. Al-Isobah: 2/96. Lihatlah kitab Usud al-Ghabah:3/375.
20. Amali Syaikh Mufid: 105. Bihar al-Anwar dari Amali tersebut: 22/527.
21. Kasyf al-Irtiyab: 265 menukil dari Khulashah al-Kalam liZaini Dahlan.
22. Fath al-Bari: 2/398. As-Sunan al-Kubra: 3/351. Wafa’ al-Wafa’: 4/1374.
23. Untuk lebih rincinya, Anda bisa merujuk pada tafsir al-Mizan karya Allamah Husein Thaba’ Thaba’I jilid 1 hal 168.
24. Ta’wilatu Ahli as-Sunnah: 148.
25. At-Ta’arruf li Madzhabi Ahli at-Tasawwuf: 54-55.
26. Awa’il al-Maqalat: 15.
27. At-Tibyan: 1/213-214.
28. Al-Aqaid an-Nasafiyah: 148.
29. Ibid.
30. Syarh Shohih Muslim, Nawawi: 3/35.
31. Anwar at-Tanzil: 1/152.
32. Raudhah al-Wa’idzin: 406.
33. Majmu’ah ar-Rasa’il al-Kubra: 1/403.
34. Syarh Tajrid: 501.
35. Al-Yawaqit wal-Jawahir: 2/170.
36. Bihar al-Anwar: 8/29.
37. Al-Hadiyyah as-Sinniyah: 42.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+10 =