Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

AHLI BAYT YANG DIMAKSUD DALAM AYAT TATHHIR


Muhammad Ibrahim Jannati

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Menurut pernyataan al-Qur’an dan sunnah Nabi saw., Ahli Bayt mempunyai keutamaan-keutamaan tersendiri, maka itu sangat dirasa perlu untuk dicari –dengan berdasarkan bukti-bukti yang pasti— siapakah yang dimaksud dengan Ahli Bayt tersebut?. Dan pencarian itu akan membawakan hasil yang benar jika kita terlebih dulu mengingat secara ringkas dalil-dalil tentang kedudukan Ahli Bayt dan beberapa persoalan penting yang terkait.

1. Ayat Tathhir

Allah swt. berfirman:

اِنَّمَا يرِيدُ اللهُ لِيذهِبَ عَنکُمُ الرِّجسَ اَهلَ البَيتِ وَ يطَهِّرَکُم تَطهِيرًا / الاحزاب: 33.


Artinya: “Sesungguhnya Allah hanyalah hendak menyingkirkan kotoran dari kalian Ahli Bayt dan menyucikan kalian sesuci-sucinya”. (QS. 33: 33). Ada beberapa poin yang harus diperhatikan tentang ayat ini, yang pertama adalah arti kata tathhir, dan yang kedua adalah apa yang dimaksud dengan kehendak di dalam ayat tersebut.

2. Arti kata tathhir

Thoharoh masdar yang berasal dari akar kata thoharo dan berarti kesucian dari cacat dan kotoran material, spiritual, lahir, batin dan moral. Firman Allah swt. [1] وَ لَهُم فِيهَا اَزوَآجٌ مُطَهَّرَةٌ dan ucapan orang Arab "وَ قَومٌ يتَطَهَّرُونَ" atau "وَ امراَةٌ طَاهِرَةٌ" mempunyai arti yang sama dalam penggunaan kata-kata yang berakar dari kata thoharo tersebut. Itulah kesucian yang juga dimaksudkan oleh Ayat Tathhir, karena Allah swt. ingin menyucikan Ahli Bayt dari segala kotoran dan cacat material, spiritual, lahir, dan batin. Para ahli di bidang ilmu ushul mengatakan bahwa apabila sesuatu diucapkan tanpa disertai catatan tertentu maka maksud dari sesuatu itu bersifat umum, dan undang-undang ini juga berlaku dalam pembahasan kita sekarang.

3. Kehendak Allah di dalam Ayat Tathhir.

Irodah yang digunakan dalam Ayat Tathhir berarti kehendak formatif atau bersifat pengadaan dan bukan kehendak legislatif atau yang bersifat perundang-undangan. Dan tentunya kenyataan tidak akan menyimpang dari kehendak formatif Allah swt.:

اِنَّمَا اَمرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيئًا اَن يقُولَ لَهُ کُن فَيکُونُ / يس: 82.


Artinya: “Hanya sesungguhnya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia berkata kepadanya jadilah maka jadilah dia”. (QS. 36: 82).
Kata irodah sering digunakan oleh ayat al-Qur’an, umumnya kata itu digunakan dalam konteks penciptaan dan hanya di beberapa tempat saja kata itu digunakan dalam konteks perundang-undangan. Kata ini sebanyak 138 kali digunakan oleh al-Qur’an dan dari jumlah itu sebanyak 135 kali berarti kehendak formatif. Data ini sangat membantu kita untuk memahami kehendak formatif Tuhan sebagaimana tersinyalir dalam al-Qur’an. Adapun kata irodah di dalam ayat pensyari’atan wudhu’ dan mandi wajib, [2] يرِيدُ لِيطَهِّرَکُم ... dan " [3] يرِيدُ اللهُ بِکُمُ اليسرَ وَ لَا يرِيدُ بِکُمُ العُسرَ, bersifat legislatif karena di dalam ayat-ayat itu sendiri terdapat indikator kuat yang menunjukkan maksud perundang-undangan dari kehendak Allah swt. tersebut, indikator itu adalah perbuatan manusia yang merupakan duduk permasalahan dalam ayat.
Di sisi lain, para ahli di bidang ulumul Qur’an berpendapat bahwa ayat ini sebuah keistimewaan tersendiri bagi Ahli bayt, dan hal itu bisa menjadi sebuah keistimewaan jika makna yang dimaksud dari irodah di dalam ayat yang bersangkutan adalah kehendak formatif yang tidak akan menyimpang dari sesuatu yang dikehendaki. Pendapat ini didukung oleh beberapa bukti yang di antaranya adalah:

1. Jika makna irodah di dalam ayat itu adalah kehendak legislatif maka tidak ada bedanya dengan ayat tentang penysari’atan wudhu’ dan mandi wajib, itu berarti sebagaimana "يرِيدُ لِيطَهِّرَکُم ..." tidak menjelaskan keutamaan bagi seseorang, Ayat Tathhir pun tidak membuktikan keutamaan bagi Ahli Bayt.

2. Kehendak legislatif Allah swt. tidak terkecuali untuk Ahli Bayt melainkan luas dan mencakup semua orang, dan makna yang luas ini tidak bisa menjadi arti bagi Ayat Tathhir mengingat di sana terdapat kata "اِنَّمَا" yang merupakan kata pembatas yang paling kuat.

3. Hadis-hadis Nabi saw. tentang Keutamaan Ahli Bayt as.
Hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Ahli Bayt as. ada banyak sekali, dan hanya sebagian kecil saja yang bisa kami nukil dalam kesempatan yang singkat ini:
Rasulullah saw. bersabda:

اَحِبُّو اللهَ لِمَا يغدُوکُم مِن نِعَمِهِ وَ اَحِبُّونِي بِحُبِّ اللهِ وَ اَحِبُّوا اَهلَ بَيتِي لِحُبِّي [4]


Artinya: “Cintailah Allah swt. karena curahan nikma-nikmat-Nya, dan cintailah aku karena cinta pada Allah, dan cintailah Ahli Baytku karena cinta padaku”.

اِنَّمَا مَثَلُ اَهلِ بَيتِي فِيکُم مَثَلُ سَفِينَةِ نُوحٍ فِي قَومِهِ مَن رَکِبَهَا نَجَا وَ مَن تَخَلَّفَ عَنهَا غَرِقَ. [5]


Artinya: “Perumpamaan Ahli Baytku di antara kalian adalah seperti bahtera Nuh di antara kaumnya; siapa saja yang mengendarainya maka selamat dan siapa saja yang berpaling darinya maka tenggelam”.

وَ انَّمَا مَثَلُ اَهلِ بَيتِي فِيکُم مَثَلُ بَابِ حطَّةٍ فِي بَنِي اِسرَائِيل، مَن دَخَلَهُ غُفِرَ لَه. [6]


Artinya: “Perumpamaan Ahli Baytku di antara kalian adalah seperti pintu Hitthah di antara Bani Israil; siapa saja yang memasukinya maka dia mendapat pengampunan”.
Di dalam kitab Biharul Anwar diriwayatkan:
اِنَّا اَهلُ بَيتٍ اختَارَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَنَا الآخِرَةَ عَلَي الدُّنيا


Artinya: “Kami adalah Ahli Bayt yang mana Allah memilihkan akhirat untuk kami lebih daripada akhirat”.

اِنَّا اَهلُ بَيتٍ قَد اَذهَبَ اللهُ عَنَّا الفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنهَا وَ مَا بَطَنَ


Artinya: “Kami adalah Ahli Bayt yang mana Allah telah menyingkirkan segala hal yang keji dari kami, baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.
Diriwayatkan pula dalam kitab al-Mustashfa:

مَن سَرَّهُ اَن يحيا حَياتِي وَ يمُوتَ مَمَاتِي وَ يسکُنَ جَنَّةَ عَدنٍ غَرَسَهَا رَبِّي فَليوَالِ عَلِيا مِن بَعدِي وَليوَالِ وَلِيهُ وَليقتَدِ بِاَهلِ بَيتِي مِن بَعدِي، فَاِنَّهُم عِتَرَتِي خُلِقُوا مِن طِينَتِي وَ رُزِقُوا فَهمِي وَ عِلمِي، فَوَيلٌ لِلمُکَذِّبِينَ بِفَضلِهِم مِن اُمَّتِي القَاطِعِينَ فِيهِم صِلَتِي لَا انَالَهُمُ اللهُ شَفَاعَتِي. [7]


Artinya: “Barangsiapa yang suka hidup seperti hidupku dan mati seperti kematianku serta tinggal di surga Adn yang pohon-pohonnya ditanam oleh Tuhanku maka hendaknya dia mendukung Ali (dan menerima kepemimpinannya) dan mendukung para pendukung Ali, dan hendaknya dia mengikuti Ahli Baytku setelah aku meninggal, karena mereka adalah itroh(keluarga)ku yang diciptakan dari tanahku dan dianugerahi pemahaman serta ilmuku, maka celakalah sekelompok dari umatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutus hubungan kekeluargaanku, semoga Allah tidak memberikan syafa’atku kepada mereka”.
Hadis yang berikutnya adalah Hadis Tsaqolain, hadis ini dinukil dari berbagai jalur sahabat, dan hanya sebagiannya saja yang akan kami sebutkan di sini bersama teks hadis tersebut. Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اِنِّي تَرَکتُ فِيکُم مَا اِن تَمَسَّکتُم بِهِ لَن تَضِلُّوا بَعدِي: کِتابَ اللهِ حَبلٌ مَمدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ اِلَي الاَرضِ وَ عِترَتِي اَهلَ بَيتِي وَ لَن يفتَرِقَا حَتَّي يرِدَا عَلَيَّ الحَوضَ فَانظُرُوا کَيفَ تخلفُونَني فِيهمَا.


Artinya: “Sesungguhnya aku meninggalkan sesuatu di antara kalian yang apabila kalian berpegang teguh padanya niscaya setelah aku mati kalian tidak akan sesat, dua hal itu adalah kitab Allah yang merupakan tali yang memanjang dari langit sampai ke bumi, dan keluargaku Ahli Baytku, dua hal itu tidak akan pernah berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga, maka perhatikanlah bagaimana kalian menyikapi dua peninggalanku tersebut”.
Zaid bin Tsabit meriwayatkan juga dari beliau saw. bersabda:

اِنِّي تارِکٌ فيکُم خَليفَتَين کِتابَ اللهِ حَبل مَمدُود مَا بينَ السَّماء وَ الاَرضِ (اَو مَا بَينَ السَّمَاء اِلَي الاَرضِ) وَ عِترَتِي اَهلَ بَيتي وَ اِنَّهُما لَن يفتَرِقا حَتَّي يرِدا عَلَيَّ الحَوض.


Artinya: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua khalifah di antara kalian, dua khalifah itu adalah kitab Allah yang merupakan tali yang memanjang antara langit dan bumi (atau dari langit sampai bumi) dan keluargaku Ahli Baytku, sungguh dua khalifah itu tidak akan berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga”.
Di dalam buku induk hadis Shahih karya Muslim bin Hajjaj Nisyaburi diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اَيها النّاس انا بَشَرٌ مثلُکُم يوشَکُ اَن يأتِينِي رَسولُ رَبِي فَاُجِيب وَ انا تَارکٌ فيکُم الثَّقَلَين اَوّلهُمَا کِتَابُ اللهِ فيهِ النُّور خُذُوا بِکِتابِ الله وَاستَمسِکُوا بِهِ، فَحَثَّ عَلَي کِتَابِ اللهِ وَ رَغَّبَ فِيه ثُمَّ قالَ: وَ اهل بيتِي اُذَکِّرُکُم اللهَ فِي اهلِ بَيتي، اُذَکِّرُکُم اللهَ فِي اهلِ بَيتي، اُذَکِّرُکُم اللهَ فِي اهلِ بَيتي.


Artinya: “Hai manusia sekalian, aku juga manusia seperti kalian, utusan Tuhan (malaikat Izra’il) sudah hampir tiba padaku –dan memanggilku– dan aku pun menjawab panggilan itu, aku meninggalkan dua pusaka yang berharga di antara kalian, yang pertama adalah kitab Allah yang di dalamnya terdapat cahaya dan hidayah, maka berpegangteguhlah padanya”, kemudian beliau melanjutkan nasihat-nasihatnya berkenaan dengan al-Qur’an, lalu bersabda: “Pusaka yang berikutnya adalah Ahli Baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah berkenaan dengan Ahli Baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah berkenaan dengan Ahli Baytku, aku ingatkan kalian kepada Allah berkenaan dengan Ahli Baytku,”.
Di tempat lain hadis itu dinukil sebagai berikut:

اِنِّي قد ترکتُ فيکُم الثَّقَلَين احدهما اَکبَرُ مِن الآخرِ، کتاب اللهِ و عِترَتِي فانظروا کيف تخلفونَني فيهما، فانهُما لن يفتَرِقا حَتَّي يرِدا عليَّ الحوضَ ثم قال: اِن الله‏عز و جل مولايَ و انا مَولَى كلِّ مُؤمِن، ثم اَخذ بِيد عَلِيٍّ فقال:من كنتُ مولاه فهذا وليُّه اللهُمَّ وَالِ مَن والاه وعَادِ من عاداه؛ و قال: عليٌّ مع الحَقِّ‏ و الحقُّ مع عليٍّ يدُورُ معَه حيثُما دار و قال: اللهُمَّ اَدِرِ الحقَّ مع عليٍّ حيثُ ما دار؛ و قال: يا عمار، اِن راَيتَ عليًّا قد سلَك واديًا و سلك الناسُ واديًا غيرَه فاسلُك مع عليٍّ‏ ودَع الناسَ انَّه لم يدلك على ردًى و لن يُخرِجك مِن هُدًى. و قال له غيرُ مَرَّةٍ: حَربُك حربِي و سِلمُك سِلمِي. [8]


Artinya: “Sungguh saya telah meninggalkan dua pusaka yang berharga di antara kalian, yang satu lebih besar dari yang lain. Dua pusaka berharga itu adalah kitab Allah dan keluargaku. Maka perhatikanlah bagaimana kalian menyikapi dua pusaka itu setelah kematianku. Dua pusaka itu tidak akan berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga”. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah adalah tuanku, dan aku adalah tuan semua orang yang beriman”, lalu beliau merebut tangan Ali seraya bersabda: “Barangsiapa yang meyakini aku sebagai tuannya maka Ali adalah tuannya juga, ya Allah! cintailah siapa saja yang mencintai Ali dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya”, lalu beliau bersabda: “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali; ke mana saja Ali pergi maka kebenaran senantiasa mengitarinya”, dan bersabda: “Ya Allah! kelilingkanlah kebenaran bersama Ali ke mana saja dia pergi”, dan bersabda: “Hai Ammar! Jika kamu melihat Ali menempuh satu jalan sementara kamu saksikan orang-orang lain menempuh jalan yang berbeda maka ikutilah jalan yang ditempuh Ali dan tinggalkan mereka yang lain, karena Ali tidak akan mengarahkanmu kepada keburukan dan tidak akan menyimpangkanmu dari petunjuk yang benar”, beliau juga berulang kali bersabda kepada Ali: “Perang melawanmu sama dengan perang melawanku, damai denganmu sama dengan damai denganku”.
Beliau bersabda:

اَيُّها النّاس يُوشك اَن اُقبَض قبضًا سريعًا فينطلقُ بي وَ قَد قَدَّمتُ اِليكمُ القولَ مَعذِرةً اِليكم اَلَا اِنِّي مخلفٌ فيكم كتابَ ربّي عزّ و جلّ و عترتِي اهلَ بيتي ثُمَّ‏ اَخذ بيد عَلِيٍّ فَرفَعَها، فقال: هذا مع القرآنِ و القرآنُ مع عَلِيٍّ لَا يفتَرقان حَتى يَرِدا عليَّ الحَوضَ فاَسالُهما مَا خلفت فيهما.


Artinya: “Hai manusia sekalian! Sebentar lagi nyawaku akan dicabut secara cepat dan aku akan pergi dari sisi kalian, sungguh aku akan katakan sesuatu kepada kalian untuk menyempurnakan alasanku terhadap kalian, ketahuilah bahwa aku meninggalkan kitab Allah swt. dan keluargaku Ahli Baytku sebagai penerusku di antara kalian”, kemudian beliau merebut tangan Ali dan mengangkatnya seraya bersabda: “Ali ini bersama al-Qur’an, dan al-Qur’an bersama Ali, dua hal itu tidak akan berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga, dan aku akan menanyakan kepada mereka tentang apa yang terjadi terhadap mereka setelahku nanti”.
Beliau juga bersabda:

اِنّي اوشكُ اَن اُدعَى فَاُجيب وَ اِنّي تارِكٌ فيكمُ الثقلين كتابَ اللهِ عزّ وجلّ وَ عِترتِي، كتابُ اللهِ حبلٌ مَمدودٌ مِن السماءِ اِلى الاَرضِ وَ عترَتِي اهلَ بيتِي وَ اِنّ‏اللطيفَ اَخبرَني اَنّهما لَن يَفترِقا حَتّى يرِدا عليَّ الحوضَ فانظُرُوا كَيف تخلفونَنِي ‏فِيهما.


Artinya: “Aku akan segera dipanggil dari sisi Tuhan dan akupun menjawab panggilan itu, dan sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka yang berharga di antara kalian, dua pusaka itu adalah kitab Allah swt. dan keluargaku, kitab Allah adalah tali yang memanjang dari langit sampai ke bumi, adapun keluargaku adalah Ahli Baytku, dan sungguh Allah Yang Maha Lembut memberitahuku bahwa dua pusaka itu tidak akan berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga, maka dari itu perhatikanlah bagaimana kalian menyikapi dua pusaka itu setelah kematianku”.
Hadis Tsaqolain ini merupakan salah satu dari hadis-hadis yang dinukil oleh para mufasir, muhadis (ahli hadis) dan ahli bahasa dari kalangan Ahli Sunnah [9]. [10] Kitab-kitab tafsir yang menukil Hadis Tsaqolain di antaranya adalah: Tafsir Imam Fakhrur Razi[11], al-Kasyfu wal Bayan ‘an Tafsiril Qur’an karya Ahmad bin Muhammad Tsa’labi, Tafsir Isma’il bin Umar yang dikenal dengan Ibnu Katsir; al-Babut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil fit Tafsir karya Ali bin Muhammad Syafi’i yang dikenal dengan Khozin.
Para ulama atau ahli sejarah, bahasa dan rijal masing-masing menukil hadis ini dalam kesempatan yang mereka anggap tepat. Untuk informasi yang lebih lengkap Anda bisa merujuk pada risalah yang berjudul “Hadistus Tsaqolain” yang diterbitkan oleh Darut Taqribi Bainal Madzahibil Islamiyyah Mesir.
Hadis Tsaqolain di samping mempunyai teks yang kuat dia juga mempunyai silsilah perawi yang mutawatir. Penulis as-Showa’iqul Muhriqoh mengatakan: “Hadis Tsaqolain diriwayatkan oleh sekitar dua puluh sahabat Nabi saw.”. [12] Allamah Sayid Hasyim Bahrani berkata dalam Ghoyatul Marom: “Hadis Tsaqolain menurut jalur Ahli Sunnah mempunyai 39 sanad (silsilah perawi) dan menurut jalur Syi’ah mempunyai 82 sanad”.
Bagaimanapun juga Hadis Tsaqolain[13] "اِنِّي تارِکٌ فيکُم الثّقلين کتابَ اللهِ و عترتِي" termasuk hadis yang paling masyhur, dan kemasyhurannya disebabkan oleh perbuatan Rasulullah saw. yang menyabdakannya di berbagai tempat dan kesempatan yang sensitif, seperti di Haji Wada’, di Arafah, di Madinah ketika beliau hendak meninggalkan dunia yang fana, di Ghodir Khum, sewaktu pulang dari perjalanan haji yang terakhir, dan ketika pulang dari Tha’if.
Perbuatan Rasulullah saw. yang mengulang-ulang atau lebih tepatnya menekankan Hadis Tsaqolain membuktikan pentingnya isi hadis tersebut.

Makna Hadis Tsaqolain

Dari satu sisi Hadis Tsaqolain mengharuskan setiap orang untuk berpegang teguh kepada al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya, dan dari sisi yang lain hadis ini mewajibkan semua orang untuk mematuhi Ahli Bayt Rasulullah saw. Selain itu, ada juga beberapa hal yang bisa dimengerti secara jelas dari hadis ini:
a. Kemaksuman Ahli Bayt as. dan kesucian mereka dari dosa atau kesalahan;
Kesucian ini bisa dimengerti dari peletakan Ahli Bayt (itroh) di sisi al-Qur’an dan menyatakan mereka sebanding dengannya. Sudah barang tentu bahwa al-Qur’an sama sekali tidak membuka celah bagi kebatilan, Allah swt. berfirman:

لَا يَأتيهِ البَاطِلُ مِن بَينِ يَديهِ وَ لَا مِن‏خَلفِه / فصلت: 42.


Artinya: “Yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya”. (QS. 41: 42).
b. Ahli Bayt as. tidak mungkin terpisah dari al-Qur’an;
Potongan hadis "لن يفترقا حتي يردا علي الحوض" (mereka berdua tidak akan berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga) menegaskan bahwa Ahli Bayt as. tidak akan keluar dari garis al-Qur’an, baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja, karena jika kesalahan atau penyimpangan itu sampai terjadi pada diri mereka maka sabda Rasulullah saw. tersebut adalah tidak benar. Walaupun kesalahan yang disebabkan oleh kebodohan atau kelalaian serta kelupaan boleh jadi tidak termasuk perbuatan dosa, tapi bagaimanapun juga kesalahan itu terhitung perpisahan dari al-Qur’an. Itulah sebabnya ucapan "حَسبُنَا کتابُ الله" (cukup bagi kita kitab Allah; dan kita tidak butuh pada Ahli Bayt) adalah salah sebagaimana ucapan "حَسبُنا اهل البيت" (cukup bagi kita Ahli bayt; dan kita tidak butuh pada al-Qur’an) juga salah.
Bahkan, kata "لن" dalam sabda Nabi saw. menolak perpisahan Ahli Bayt dan al-Qur’an untuk selama-lamanya, itu artinya kebersamaan mereka berdua bersifat kekal dan selama-lamanya.
c. Jaminan hidayah;
Salah satu sabda Rasulullah saw. di Hadis Tsaqolain adalah "ما ان تمسکتم بهما لن تضلوا ابدا", artinya selama kalian berpegang teguh kepada dua pusaka tersebut maka kalian tidak akan sesat. Itu berarti berpegang teguh kepada al-Qur’an minus Ahli Bayt as. atau sebaliknya berpegang teguh kepada Ahli Bayt as. minus al-Qur’an tidak bisa menjamin kebahagiaan manusia dan keterhindarannya dari kesesatan, hanya dengan berpegang teguh kepada kedua-duanya manusia akan memperoleh hidayah yang sesungguhnya.
Sabda Rasulullah saw. "فانظروني کيف تخلفونني فيهما" (maka perhatikanlah bagaimana kalian menyikapi dua pusaka itu setelah kematianku) mendukung masalah di atas, dan makna sabda ini akan lebih jelas jika kita perhatikan riwayat yang dibawakan oleh Thabrani:

فلا تُقدموهما فتهلكوا و لا تقصروا عنهما فتهلكوا و لاتعلّموهم فانهم اَعلم منكم‏


Artinya: “Jangan kalian mendahului mereka karena dengan itu kalian akan hancur, jangan kalian melalaikan mereka karena dengan itu pula kalian akan hancur, dan jangan kalian mengajari mereka karena mereka lebih alim daripada kalian”. [14]
d. Keistimewaan ilmu Ahli Bayt;
Berdasarkan riwayat yang tersebut di atas, Rasulullah saw. menunjukkan keunggulan Ahli Bayt atas semua orang di segala bidang ilmu, itulah sebabnya beliau menekankan umatnya untuk mematuhi ajaran mereka seraya berdoa "الحمد لله الذي جعل فينا الحکمة اهل البيت" .

Ahli Bayt yang dimaksud oleh Ayat Tathhir

Persoalan bahwa Ayat Tathhir dan hadis-hadis yang tersebut di atas adalah menjelaskan keutamaan yang luar biasa bagi Ahli Bayt diterima baik oleh kalangan Ahli Sunnah maupun Syi’ah, akan tetapi berkenaan dengan personal mereka ada dua pendapat: Menurut Syi’ah Imamiah, keutamaan ini hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang maksum atau suci dari dosa dan kesalahan, mereka adalah para imam maksum as. dan Fatimah Zahra as.
Adapun menurut Ahli Sunnah, disesuaikan dengan pandangan-pandangan ideologis mereka, yang dimaksud dengan Ahli bayt di dalam Ayat Tathhir adalah istri-istri Rasulullah saw.
Tentunya pendapat yang kedua ini mengundang banyak kritikan, sebab kehendak formatif Allah swt. tidak mungkin menyimpang dari kenyataan, sejarah menjadi saksi bagaimana sebagian dari istri-istri Rasulullah saw. melanggar perintah dan larangan Allah swt., Aisyah setelah Rasulullah saw. wafat melanggar wasiat beliau sekaligus ayat al-Qur’an yang ditujukan kepada istri-istri beliau:

وَ قَرنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَ لَا تَبَرُّجنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الاُولَى‏ / الاحزاب: 33.


Artinya: “Dan tetaplah kalian di rumah kalian dan janganlah kalian berhias seperti orang-orang jahiliah dahulu”. (QS. 33: 33), dia keluar dari rumah dan mengerahkan pasukan untuk berperang melawan Amirul Mukminin Ali as., dialah penyebab terjadinya perang Jamal yang menjatuhkan ribuan korban, dia kalah dalam peperangan itu dan Amirul Mukminin Ali as. memulangkannya ke Madinah.
Ini bukan satu-satunya kesalahan Aisyah, di masa kekhalifahan Utsman bin Affan dia termasuk orang yang paling getol dalam memusuhi Utsman, dia pula yang rajin menggerakkan masa untuk menentang Utsman, dia tunjukkan baju Rasulullah saw. kepada masyarakat seraya berkata: “Baju Rasulullah masih belum usang tapi Utsman sudah berani menghapus sunnah beliau”. Aisyah tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan Utsman bin Affan bahkan menurut dia Utsman harus segera dibunuh, dia pun keluar dari Madinah menuju ke Mekkah sebagai langkah protesnya terhadap Utsman. Ketika sampai di Mekkah dia mendengar berita pembunuhan Utsman, dan karena dia beranggapan bahwa Thalhah akan menggantikan Utsman sebagai khalifah maka dia pulang ke Madinah dengan rasa gembira, tapi ketika dia melihat masyarakat berbaiat kepada Ali dia betul-betul gelisah seraya bersumpah bahwa Utsman terbunuh secara teraniaya, dia berbalik dari posisi sebagai penentang Utsman menjadi orang yang mengibarkan bendera keteraniayaan Utsman dan penuntutan balas atas darah Utsman, hal itu dia lakukan tidak lain adalah untuk menentang kekhalifahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.
Berdasarkan bukti terjadinya kesalahan atau bahkan pelanggaran yang disengaja, maka istri-istri Rasulullah saw. atau semua anggota keluarga dan yang berada di bawah tanggung jawab beliau tidak bisa menjadi maksud dari Ahli Bayt dalam Ayat Tathhir, dan tentunya ketaatan terhadap mereka tidak bisa menjamin seseorang terhindar dari kesesatan, karena itu sama dengan menapaki jalan orang-orang yang masih mungkin salah bahkan sudah terbukti bersalah atau melakukan pelanggaran secara sengaja. Ahli Bayt adalah manusia-manusia yang sepenuhnya menguasai firman-firman Allah swt. dan terjaga dari segala bentuk dosa, noda dan kesalahan, dan kriteria ini tidak dimiliki oleh semua anggota keluarga Rasulullah saw. melainkan hanya orang-orang tertentu di antara mereka.
Dari beberapa penelitian terbukti bahwa orang pertama yang mencetuskan pandangan Ahli Bayt adalah istri-istri Nabi saw. adalah Ikrimah dan Muqatil. Allamah Wahid mengatakan: “Ikrimah berteriak di tengah pasar sesungguhnya Ayat Tatthir turun berkenaan dengan istri-istri Nabi”. Di dalam kitab tafsir ad-Durul Mantsur disebutkan bahwa Ikrimah mengatakan: “Silahkan siapa saja bermubahalah denganku tentang Ayat Tathhir, menurutku ayat itu turun berkenaan dengan istri-istri Nabi”.
Dengan memperhatikan cara-cara yang digunakan oleh Ikrimah dalam menyatakan pandangan Ayat Tathhir turun berkenaan dengan istri-istri Nabi saw., begitu pula tantangan dia kepada yang lain untuk bermubahalah tentang masalah tersebut, setiap ahli dapat menangkap sebuah kenyataan di tengah masyarakat bahwa pandangan itu asing bagi mereka, masyarakat meyakini hal yang sama sekali berbeda dengan pandangan yang dicetuskan oleh Ikrimah tersebut, itulah sebabnya Jalaluddin Suyuthi meriwayatkan dalam kitab tafsirnya ad-Durul Mantsur bahwa Ikrimah berkata kepada masyarakat: “Yang dimaksud dengan Ahli Bayt di dalam Ayat Tathhir bukan seperti yang kalian ketahui sebelumnya, Ahli Bayt di sini adalah istri-istri Nabi”.
Para ahli ilmu rijal menyebutkan Ikrimah sebagai penentang Amirul Mukminin Ali as., banyak sekali hadis-hadis palsu yang dia karang dan kemudian dia alamatkan hadis-hadis itu kepada Ibnu Abbas, maka itu besar kemungkinan pernyataan dia di atas juga termasuk hadis-hadis palsu buatannya.
Selain itu, ucapan orang-orang seperti Ikrimah dan Muqatil tidak lagi berarti ketika dihadapkan pada hadis-hadis sahih dan terpercaya yang menentang ucapan mereka. Di dalam kitab tafsir Thabari diriwayatkan dari Abu Sa’id Khudri bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ayat Tathhir turun berkenaan dengan lima orang; aku, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein”. Diriwayatkan pula dari Ummu Salamah, Aisyah, dan Umar bin Abi Salamah bahwa Ayat Tathhir turun di rumah Ummu Salamah, pada waktu itu Rasulullah saw. mengumpulkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein serta menutupi mereka dalam satu selimut, lalu beliau bersabda “Mereka ini adalah Ahli baytku yang telah dihindarkan oleh Allah swt. dari kotoran dan dosa serta disucikan sesuci-sucinya”.
Tafsir ad-Durul Mantsur menukil dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. setiap hari selama sembilan bulan, tepatnya setiap kali datang waktu shalat, selalu menghampiri pintu rumah Ali bin Abi Thalib seraya bersabda:

السّلامُ عليكم و رحمة الله ‏و بركاتُه، اِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذهِبَ عَنكُمُ الرِّجسَ اَهلَ البَيتِ وَ يُطَهِّرَكُم تَطهِيرًا، اَلصَّلَاةُ‏ يَرحَمُكُمُ اللهُ كُلَّ يَومٍ.


Artinya: “Salam dan rahmat Allah serta berkah-berkah-Nya senantiasa tercurahkan kepada kalian, sesungguhnya Allah hanyalah hendak menyingkirkan kotoran dari kalian Ahli Bayt dan menyucikan kalian sesuci-sucinya, –telah datang waktunya– shalat, semoga Allah merahmati kalian setiap hari”, dan beliau mengulangi sabda itu sebanyak lima kali.
Di kitab yang sama Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. senantiasa menghampiri pintu rumah Fatimah sampai empat puluh hari, beliau mendoakan salam dan rahmat Allah swt. semoga selalu tercurahkan kepada Ahli Bayt seraya bersabda:

اِنَّمَايُرِيدُ اللهُ لِيُذهِبَ عَنكُمُ الرِّجسَ (اَهلَ البَيتِ) وَ يُطَهِّرَكُم تَطهِيرًا اَنَا حَربٌ لِمَن حَارَبتُم ‏وَ سِلمٌ لِمَن سَالَمتُم


Artinya: “Sesungguhnya Allah hanyalah hendak menyingkirkan kotoran dari kalian Ahli Bayt dan menyucikan kalian sesuci-sucinya, aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan aku berdamai dengan siapa saja yang kalian berdamai dengan mereka ...”.
Haskani di dalam bukunya Syawahidut Tanzil menukil dari Jami’ Tamimi yang menceritakan suatu hari aku beserta ibuku pergi menemui Aisyah, ibuku bertanya tentang Ali bin Abi Thalib kepada Aisyah dan Aisyah menjawab: “Apa yang bisa kamu bayangkan tentang seorang lelaki yang Fatimah adalah istrinya dan Hasan serta Husein adalah anak-anaknya, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri Rasulullah swt. menyelimuti mereka dengan kain seraya bersabda: “Ya Allah! mereka adalah Ahli Baytku, hindarkanlah kotoran dari mereka dan sucikan mereka sesuci-sucinya”.
Di kitab yang sama diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Ayat Tathhir turun kepada Rasulullah saw. di rumahku, pada waktu itu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein berada di sisi beliau, sementara aku berdiri di depan pintu rumah, aku katakan kepada Rasulullah apakah aku juga tergolong Ahli Baytmu? Beliau menjawab: “Tidak, kamu tergolong istri-istri nabi”.
Hadis-hadis seperti ini banyak sekali didapatkan dalam buku-buku Ahli Sunnah, tentunya artikel ini bukan tempatnya untuk menukil dan mengulas buku-buku tersebut.

Kesatuan Konteks

Salah satu persoalan yang muncul tentang Ayat Tathhir dan yang menyebabkan munculnya anggapan bahwa maksud dari Ahli Bayt di dalam ayat ini adalah istri-istri Nabi saw., adalah persoalan konteks ayat-ayat sebelum dan sesudah Ayat Tathhir. Menurut sebagian pendapat, ayat-ayat itu berbicara tentang istri-istri Nabi saw., dan kesatuan konteks ayat-ayat sebelum dan sesudah Ayat Tathhir menuntutnya juga berbicara tentang istri-istri Nabi saw.
Ada beberapa catatan penting yang melemahkan bahkan menolak pendapat di atas:
Pertama. Dalam percakapan bahasa Arab, kata ahl tidak digunakan untuk arti istri, dan kalaupun digunakan maka penggunaan itu bersifat majasi, di samping itu riwayat-riwayat juga membuktikan hal yang sama.
Di Sahih Muslim, bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib as. diriwayatkan:

ان زيد بن ‏ارقم سئل عن المراد باهل البيت، هل هم النساء، قال لا وايم الله، ان المراءه تكون مع الرجل، العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع الى ابيها و قومها


Artinya: "Suatu saat Zaid bin Arqam ditanya oleh seseorang tentang Ahli Bayt, apakah mereka istri-istri Nabi? Zaid menjawab: "Demi Allah Tidak, wanita hanya bersama lelaki dalam waktu yang sementara, dan ketika lelaki itu mencerainya maka dia kembali lagi kepada ayah dan sanak familinya".
Ummu Salamah meriwayatkan:

نزلت هذه الايه فى بيتى ... و فى البيت ‏سبعه ‏جبرئيل و ميكائيل و على و فاطمه و الحسن و الحسين و انا على باب الباب. قلت ‏ألست من اهل البيت؟ قال انك على خير انك من ازواج النبي

Artinya: "Ayat ini turun di rumahku, … dan pada waktu itu ada tujuh person di dalam rumahku, mereka adalah malaikat Jibrail, malaikat Mikail, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein, sedangkan aku berdiri di pintu rumah, lalu aku bertanya –kepada Rasulullah saw.– apakah aku termasuk Ahli Bayt? Beliau menjawab: "Kamu orang yang baik dan kamu termasuk istri-istri Nabi".
Kedua. Anggap saja jawaban yang pertama tidak diterima dan anggap saja arti kata ahl mencakup juga istri-istri, akan tetapi mengingat bahwa tidak ada seorang pun dari istri-istri Nabi saw. yang mengaku Ayat Tathhir turun untuk mereka, bahkan sebaliknya sebagian istri beliau seperti Ummu Salamah menyatakan ayat itu turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, maka anggapan itu dengan sendirinya tertolak, karena jika memang benar ayat itu turun untuk istri-istri Nabi tentu mereka akan selalu mengangkat keutamaan itu ke permukaan dan sama sekali tidak melalaikannya.
Sahih Muslim menukil riwayat dari Aisyah berkata:

خرج النبى(ص) غداه وعليه مرط مرحل من شعرا سود فجاء الحسن بن‏على فادخله ثم جاء الحسين فدخل معه‏ثم جائت فاطمه فادخلها ثم جاء علي فادخله ثم قال انما يريد الله ليذهب عنكم‏الرجس اهل البيت و يطهركم تطهيرا


Artinya: "Di suatu pagi, Nabi saw. keluar dari rumahnya sambil mengenakan kain yang terbuat dari bulu hitam, Hasan bin Ali menghampiri beliau maka beliau masukkan dia dalam kain itu, kemudian Husein datang dan beliau juga memasukkannya dalam kain, setelah itu Fatimah datang dan beliau juga memasukkannya dalam kain, dan yang terakhir Ali datang dan beliau pun memasukkannya dalam kain, lalu beliau bersabda Sesungguhnya Allah hanyalah hendak menyingkirkan kotoran dari kalian Ahli Bayt dan menyucikan kalian sesuci-sucinya".
Meskipun ada juga versi lain Hadis Kisa' (kain selimut) yang menyebutkan orang-orang selain yang disebutkan di atas, tapi versi hadis itu mempunyai sanad (silsilah perawi) yang lemah dan isinya juga tidak bisa dipertahankan.
Ketiga. Kesatuan konteks tidak bisa dijadikan standar untuk memahami ayat selama ada nash (teks yang sahih dan kuat) yang otentik, karena dengan adanya nash pendapat yang berdasarkan kesatuan konteks adalah salah dan terhitung sebagai ijtihad melawan nash.
Keempat. Kesatuan konteks bisa menjadi standar apabila himpunan ayat atau perkataan mempunyai keterikatan dan urutan yang pasti, sementara ayat-ayat al-Qur'an yang ada tidak dihimpun atas dasar sebab atau urutan turunnya ayat-ayat tersebut, maka itu dalam hal ini kesatuan konteks tidak punya kekuatan.
Sebaliknya Ayat Tathhir sendiri memisahkan dirinya dari konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dengan kata ganti yang dia gunakan; kata ganti yang digunakan oleh ayat-ayat sebelum dan sesudahnya serta berkenaan dengan istri-istri Nabi saw. adalah kata ganti majemuk untuk perempuan seperti فى بيوتـكن، لسـتن، ان‏اتقيـتن، فلا تخضعـن، قلـن و ... , sementara kata ganti yang digunakan oleh Ayat Tathhir adalah kata ganti majmuk untuk lelaki, yaitu عنـكم dan يطهركم .
Tidak menutup kemungkinan seorang keberatan atas pemaknaan Ahli Bayt kepada selain istri-istri Nabi saw. dengan alasan kalau saja Ayat Tathhir dipisahkan secara total dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya maka pemaknaan itu mudah diterima, tapi kita melihat bahwa Ayat Tathhir bukan ayat yang terpisah secara utuh melainkan satu bagian dari ayat, dan permulaan ayat itu bahkan mayoritas ayat sebelumnya juga berbicara tentang istri-istri Nabi saw., dan apabila kita paksakan bahwa potongan yang disebut dengan Ayat Tathhir tersebut terpisah dari ujungnya maka itu berarti adanya kalimat asing yang tanpa alasan di tengah kalimat yang lain, dan ini bertentangan dengan kefasihan ayat-ayat al-Qur'an.
Sekilas alasan itu mengenai sasaran, tapi jika diteliti lebih lanjut ternyata hal itu tidak mampu melandasi keberatan di atas, karena di samping bahwa memasukkan kalimat terpisah atau asing di tengah kalimat yang lain tidak selamanya bertentangan dengan kefasihan, al-Qur'an sendiri di beberapa tempat melakukan hal tersebut, seperti:

فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِن دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِن كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا / يوسف: 28-29


Artinya: "Maka tatkala suaminya melihat baju Yusuf terkoyak dari belakang, dia berkata 'Sesungguhnya perbuatan ini adalah sebahagian dari tipu-daya kamu, sesungguhnya tipu-daya kamu besar'. Hai Yusuf, berpalinglah dari ini". (QS. 12: 28-29). Kalimat " يوسف اعرض عن هذا" adalah contoh kalimat terpisah yang dimasukkan di tengah kalimat yang lain.

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِم بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ / النمل: 34-35


Artinya: "—Ratu— berkata 'Sesungguhnya raja-raja itu apabila memasuki suatu negeri mereka merusaknya dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina', dan demikianlah yang akan mereka perbuat. 'Dan sesungguhnya aku akan mengirimkan hadiah kepada mereka, lalu –aku— akan menunggu dengan apakah orang-orang yang diutus itu kembali'". (QS. 27: 34-35). Dua ujung ayat-ayat ini menukil perkataan Bilqis, tapi kalimat " و كذلك يفعلون" adalah kalimat terpisah yang dimasukkan di tengah perkataan Bilqis sebagai dukungan Allah swt. terhadap dia.
Adapun mengenai ayat-ayat yang sedang kita perbincangkan, mengingat bahwa konteks ayat-ayat itu sedang membicarakan istri-istri Nabi saw. maka ada kemungkinan muncul sebuah anggapan pembicaraan itu juga mencakup Ahli Bayt, oleh karena itu Allah swt. mengecualikan Ahli Bayt dari pembicaraan itu dengan kalimat pendek yang menjelaskan kedudukan, keagungan, kemuliaan, dan kesucian Ahli Bayt serta memisahkan mereka dari level istri-istri Nabi saw. Dan tentunya ini merupakan tujuan yang masuk akal untuk memasukkan kalimat yang terpisah di tengah kalimat yang lain dan sama sekali tidak bertentangan dengan kefasihan al-Qur'an.

Soal dan Jawaban

Kenapa sahabat-sahabat Nabi saw. tidak bertanya kepada beliau tentang Ahli Bayt as. dan beliau pun tidak memberikan jawaban yang terperinci?
Dengan mempelajari hadis-hadis yang terkait, khususnya hadis yang menceritakan Rasulullah saw. mendatangi pintu rumah Fatimah Zahra as. selama empat puluh hari sambil mendoakan salam dan rahmat Allah swt. bagi mereka, dapat ditarik kesimpulan bahwa di sisi para sahabat Nabi saw. Ahli Bayt bukan hal yang asing lagi, itulah sebabnya mereka tidak perlu lagi menanyakan siapakah yang dimaksud dengan Ahli Bayt beliau.
Ayat Mubahalah juga menunjukkan bagaimana Rasulullah saw. mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husein sebagai Ahli Baytnya untuk bermubahalah sehingga malaikat Jibril datang dengan menyampaikan Ayat Mubahalah yang berkenaan dengan Rasulullah saw. beserta Ahli Bayt beliau tersebut. Kejadian ini disaksikan oleh umum dan beritanya didengar oleh sahabat serta umat Rasulullah saw.
Muslim bin Hajjaj Nisyaburi mengatakan ketika ayat –Mubahalah–:

فَقُلْ تَعَالَوْاْ نَدْعُ أَبْنَاءنَا وَأَبْنَاءكُمْ وَنِسَاءنَا وَنِسَاءكُمْ / آل عمران: 61


Artinya: "Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian". (QS. 3: 61) turun, maka Rasulullah saw. mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husein seraya bersabda: " اللهم هؤلاء اهلي"; ya Allah! Mereka adalah Ahli Baytku". Riwayat yang sama juga dinukil oleh Tirmidzi, Hakim, Baihaqi dan lain sebagainya.
Masih banyak lagi hadis-hadis lain yang membuktikan bahwa Rasulullah saw. telah menentukan maksud dari Ahli Bayt beliau adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein sehingga muslimin pada waktu itu tidak perlu lagi bertanya siapa mereka.

Poin penting

Sebagai penutup, kami memandang harus untuk mengingatkan pembaca pada poin berikut: hadis-hadis yang tercantum maupun yang tidak tercantum di atas membuktikan Ahli Bayt Rasulullah saw. adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein, tapi kemudian muncul pertanyaan bagaimana dengan sembilan imam yang lain, apa buktinya mereka juga termasuk Ahli bayt beliau?
Pembuktiannya dengan hadis. Dan hadis tersebut ada dua macam: pertama. Hadis-hadis yang menyebutkan satu persatu nama para imam dan dinukil pula oleh kalangan Ahli Sunnah. Kedua. Hadis-hadis yang dinukil dalam buku-buku induk hadis Sahih dan Musnad dari kalangan Ahli Sunnah tapi hanya menyebutkan jumlah para imam tersebut adalah 12 dan tidak menyebutkan nama-nama mereka, misalnya:
Muhammad bin Isma'il Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya dari Jabir bin Samurah berkata:

سمعت‏ النبى(ص) يقول يكون اثناعشر اميرا فقال: كلمه لم اسمعها، فقال ابى انه قال: كلهم من قريش


Artinya: "Aku mendengar Nabi saw. bersabda: "Akan ada dua belas pemimpin" lalu beliau berkata sesuatu yang tidak bisa kudengar". Ayahku berkata: "Sesungguhnya beliau bersabda: "Semua pemimpin itu berasal dari Quraisy".
Dia juga menukil sabda Rasulullah saw.:

لا يزال الدين قائما حتى تقوم الساعة، اويكون عليكم اثناعشر خليفة كلهم من قريش.


Artinya: "Agama Islam senantiasa berdiri sampai bangkitnya hari kiamat atau telah lengkap dua belas khalifah di antara kalian, dan semua khalifah itu berasal dari Quraisy".
لا يزال هذا الامر في ‏قريش ما بقي من الناس اثنان


Artinya: "Urusan ini senantiasa ada di tangan Quraisy walaupun manusia hanya tinggal dua".
Dalam kitab Dala'ilus Shidq dinukil dari Musnad Ahmad bin Hanbal Syibani bahwa Ahmad bin Masruk berkata:

كنا جلوسا عند عبدالله بن‏مسعود و هو يقرئناالقرآن، فقال له رجل: يا ابا عبد الرحمان هل ساءلتم رسول الله كم يملك هذه‏الامة من خليفة؟ فقال عبدالله: ما سالني عنها احد منذ قدمت العراق قبلك، ثم‏قال: نعم و لقد ساكنا رسول الله اثنى عشر كعدة نقباء بنى‏اسرائيل


Artinya: "Suatu saat kami duduk bersama dengan Abdullah bin Mas'ud, dia membacakan al-Qur'an kepada kami, tiba-tiba ada seorang lelaki bertanya kepada dia: Wahai Abu Abdir Rahman! Apa pernah kalian bertanya kepada Rasulullah berapa jumlah khalifah yang dimiliki oleh umat ini? Abdullah bin Mas'ud menjawab: "Sejak aku datang ke Irak, tidak ada seorangpun yang menanyakan hal ini kepadaku selain kamu" lalu Abdullah bin Mas'ud berkata: "Iya –kami pernah menanyakannya– dan Rasulullah menyebutkan dua belas khalifah seperti jumlah pemimpin Bani Israil". Riwayat yang mirip juga dinukil oleh Abu Dawud, Thabrani dan lain-lain.
Kandungan hadis-hadis ini adalah:
1. Khalifah Rasulullah saw. tidak lebih dari dua belas orang;
2. Semua khalifah Rasulullah saw. berasal dari Quraisy;
3. Khalifah-khalifah itu sudah jelas dan sudah ditentukan melalui nash, karena penyerupaan mereka dengan pemimpin-pemimpin Bani Israil berarti kejelasan dan ketentuan mereka, Allah swt. berfirman:

وَلَقَدْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَآئِيلَ وَبَعَثْنَا مِنهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا / المائدة: 12


Artinya: "Dan sungguh Allah telah mengambil perjajian Bani Israil dan Kami telah mengangkat di antara mereka dua belas pemimpin". (QS. 5: 12).
4. Harus adanya khalifah Rasulullah saw. selama agama Islam masih ada di muka bumi dan sampai kebangkitan hari kiamat.
Hal ini sesuai dengan apa yang tertera dalam Hadis Tsaqolain bahwa "al-Qur'an dan Ahli Bayt tidak akan berpisah satu sama yang lain sampai mereka datang kepadaku di telaga".



1. QS. Al-Baqarah: 25.
2. QS. Al-Ma’idah: 6.
3. QS. Al-Baqarah: 185.
4. Sunanu Tirmidzi: 5/664/13789; Mustadroku Hakim: 3/150 dan 2/343; as-Showa’iqul Muhriqoh: bab 11, maqshod 2, hal. 171; Majma’uz Zawa’id: 9/168; Talkhishudz Dzahabi, Yanabi’ul Mawaddati, Tarikhul Khulafa’i dll.
5. Al-Mustadrok: 2/343; as-Showa’iqul Muhriqoh: bab 1/152; Majma’uz Zawa’id: 9/168; dll.
6. Majma’uz Zawa’id, Haitsami: 9/168; al-Mustadrok: 3/128; al-Jami’ul Kabir, Thabrani; al-Ishobah, Ibnu Hajar Asqalani; Kanzul Ummal: 6/155; al-Manaqib, Khorazmi: 36; Yanabi’ul Mawaddah: 149; Hilyatul Awliya’: 1/86; Tarikh, Ibnu Asakir: 2/95.
7. Al-Mustashfa: 1/136.
8. Rujuklah pada kitab Dala’ilus Shidq: 2/303.
9. Anda bisa lihat: Shohih, Muslim bin Hajjaj Nisyaburi: 4/36/1873; Khosoi’ishun Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib Nisyaburi yang lebih dikenal dengan Nasa’i; Sunan, Tirimidzi: 5/662/3786, 3788; Sunan, Abu Dawud dan Ibnu Majjah serta Darami; as-Showa’iqul Muhriqoh: hal. 122; Musnad, Ahmad bin Hanbal: 3/59/26, 17 dan 4/366 dan 5/189, 181; Ansabul Asyrof, Baladzeri: 2/110; al-Mustadrok, Hakim: 3/109, 126, 110, 148; Usudul Ghobah: 2/12; Mafatihus Sunnah: 4/190/4816; Majma’uz Zawa’id, Haytsami: 9/162; Tarikh, Khatib Baghdadi: 6/442; Fushulul Muhimmah, Ibnu Shabbagh: 22; Manaqib, Kharazmi: 93; Yanabi’ul Mawaddah, Qanduzi: 31; Tadzkirotul Khowash, Ibnu Jauzi: 322; Dzakho’irul Uqba, Muhibbud Din Thabari: 16; Nadzmu Duroris Sibthoin: 331; as-Siroh al-Halabiyah: Ali Halabi: 3/308; Nasimur Riyadh: 3/410; as-Sirotun Nabawiyah: 4/416.
10. Tafsir Fakhrur Rozi: 4/163.
11. As-Showa’iqul Muhriqoh: 8/163.
12. Hadis Tsaqolain dicatat oleh para ulama dari berbagai mazhab, maka itu siapa saja yang mengingkari kesahihan hadis ini adalah salah. Allamah Dzahabi, seorang ulama yang sangat selektif dalam menerima hadis, sama sekali tidak menemukan celah dalam hadis ini.
13. As-Showa’iqul Muhriqoh: hal. 148.
14. Shohih Muslim: jilid 7, hal. 148.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+9 =