Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT QURAN


Lois Lamya Al Faruqi


Masyarakat Quran adalah sebuah masyarakat yang didasarkan atas tuntunan al-Quran, yang tidak hanya menjadi sumber pengetahuan utama tentang kepercayaan agama, kewajiban dan praktik, tetapi ia juga menjadi pembimbing, baik secara rinci maupun umum, dalam setiap aspek peradaban Islam. Girl masyarakat al-Quran, yang mempengaruhi perempuan, adalah: bahwa kedua jenis kelamin dipandang setara dalam hal status dan nilai; perintah untuk sebuah masyarakat yang berjenis kelamin ganda dan bukan sebuah masyarakat berjenis kelamin tunggal; penekanannya terhadap saling ketergantungan antaranggota masyarakat. Untuk menjamin saling ketergantungan ini, Allah Swt menetapkan tugas dan kewajiban timbal-balik dari beragam anggota keluarga; institusi keluarga besar; sifatnya yang patriarkal, yang meletakkan kepemimpinan utama dan peran pengambilan-keputusan dalam keluarga di tangan laki-laki.

TOPIK makalah ini dipilih atas dasar keyakinan bahwa kemanusiaan sekarang ini sedang menderita akibat sejumlah masalah sosial yang serius, yang terkait dengan perempuan dan hubungan antarjenis kelamin dalam masyarakat. Meskipun masalah ini mungkin lebih nyata, mengganggu dan melelahkan bagi beberapa di antara kita dibandingkan dengan yang lainnya, tetapi mungkin hanya sedikit daerah di dunia kontemporer ini yang penduduknya tidak merasakan sedikit banyaknya akibat dari masalah ini. Jadi, ada kebutuhan mendesak untuk mengeksplorasi kemungkinan solusi yang tersedia. Untuk studi ini, masalah perempuan terkait dengan al-Quran dan apa yang saya sebut dengan “masyarakat Quran”. Saya yakin al-Quran memberikan saran-saran yang paling kuat daya tahannya untuk reformasi sosial sekarang ini, yang dapat ditemukan dalam model atau literatur apapun.
Banyak di antara Anda mungkin akan bingung dengan judul maka1ah ini “Perempuan dalam Masyarakat Quran.” Anda boleh bertanya kepada diri Anda sendiri, “Mengapa ia tidak memberinya judul ‘Perempuan dalam Masyarakat Muslim’ atau bahkan ‘Perempuan dalam Masyarakat Islam’?” Izinkanlah saya untuk menjelaskan mengapa sebutan “Muslim” dan “Islam” tidak digunakan untuk makalah ini, dan bagaimana penggunaan sebutan yang agak tidak biasa, “masyarakat al-Quran,” dapat dibenarkan.
Setidak-tidaknya terdapat tiga alasan mengapa saya memilih judul itu. Yang pertama muncul dari keprihatinan terhadap banyaknya kepercayaan dan praktik yang disebut “Muslim” atau “Islam” tanpa mencerminkan nama-nama tersebut. Terdapat sekitar 40 negara di dunia yang mengklaim memiliki penduduk mayoritas Muslim dan dengan demikian menjadi masyarakat “Muslim” atau “Islam” teladan. Hal ini tentu menimbulkan banyak kebingungan ketika diajukan pertanyaan berikut: Wilayah mana yang paling mewakili masyarakat “Islam” yang benar? Di antara umat Muslim, pertanyaan itu paling sering dijawab dengan klaim bahwa masyarakat nasional atau regional mereka adalah yang paling sesuai dengan maksud Allah Swt.
Di sisi lain, kaum non-Muslim dan terutama para antropolog Barat, yang menjelajah dunia untuk meneliti kebiasaan dan adat istiadat orang, cenderung menganggap sama validitas tiap variasi dalam Dunia Muslim. Hal ini disebabkan ketaatan mereka terhadap apa yang saya sebut dengan “teori pengetahuan kebun binatang.” Penganut teori itu menganggap semua Muslim ― dan tentu saja perlakuan yang sama terhadap orang-orang non- Barat lainnya dapat dilihat ― sebagai spesies yang berbeda-beda di kebun binatang. Para pendukung “teori kebun binatang” turun ke lapangan, mencatat dan memotret setiap praktik aneh atau asing yang mereka lihat dan dengar; dan untuk mereka, itu merupakan Islam atau praktik Islam. Sebuah perjalanan ke bagian lain dari Dunia Muslim dengan alat pencatat dan pemotret yang tersedia di mana-mana, memunculkan sekumpulan bahan yang mendokumentasikan berbagai variasi adat istiadat yang semu. Tetapi hal itu adalah Islam atau praktik Islam bagi para penyelidik atau etnografer penganut “teori kebun binatang.” Terdapat sangat sedikit usaha untuk memahami Islam secara keseluruhan. Akibatnya, premis dasar skeptisisme dan relativisme ditegaskan dalam pikiran peneliti; dan ia pulang dengan meyakini bahwa tidak ada satu Islam, tetapi terdapat sejumlah besar Islam di dunia. Begitu pula, si peneliti melaporkan bahwa terdapat banyak gambaran dan definisi dari status serta peran perempuan dalam masyarakat Islam. Setiap definisi dan gambaran tersebut diberi nama “Muslim” atau “Islam” bahkan ketika kita sebagai umat Muslim berpendapat bahwa beberapa di antara praktik tersebut adalah distorsi atau perubahan dari prinsip-prinsip dan keyakinan kita, yang dilakukan oleh mereka yang tersesat atau yang tidak berpengetahuan.
Saya telah memilih sebutan “al-Quran” dalam pembahasan ini sebagian untuk menghindari kebingungan dengan gambaran dan kesalahpengertian yang beragam itu. Dengan cara ini, saya berharap dapat bergerak melampaui partikularisme dan relevansi terbatas dari “teori penelitian kebun binatang” ke arah penyajian yang menghindari fragmentasi seperti itu dan secara ideologis sesuai dengan resep Islam yang sesungguhnya. Dalam kaitannya dengan masalah yang begitu menentukan takdir dan keberadaan kita, kita tidak akan pernah puas hanya dengan laporan mengenai hewan-hewan manusia tertentu di “kebun binatang,” yang secara statistik adalah Muslim atau yang adat istiadatnya diberi nama “Islam.” Penamaan itu terkadang disalahgunakan. Di sisi lain, “al-Quran” adalah sebuah istilah yang tegas. Ia jelas sesuai dengan topik makalah ini.
Kedua, “masyarakat al-Quran” dinilai sebagai judul yang paling cocok untuk mengarahkan kita menemukan prinsip-prinsip inti dalam al- Quran itu sendiri yang menjadi kerangka dasar masyarakat kita di seluruh Dunia Muslim. Adalah masyarakat yang didasarkan atas prinsip-prinsip al- Quran yang menjadi tujuan kita semua, meskipun kita dari tahun ke tahun menyimpang tanpa sadar dari prinsip-prinsip itu. Apabila umat Muslim ingin menikmati masa depan yang sangat baik, maka kita semua harus bekerja untuk pencapaian sebuah masyarakat yang didasarkan atas tuntunan al-Quran. Bukan masyarakat Islam versi Indanesia, Pakistan, Saudi Arabia, Mesir atau Nigeria yang harus kita anggap sebagai norma yang tidak dapat disangkal, melainkan sebuah masyarakat yang benar-benar didasarkan atas ajaran-ajaran al-Quran Suci. Hanya di dalamnyalah kita dapat menemukan sehuah definisi yang tepat dari peran perempuan dalam masyarakat. Karena adalah ajaran-ajaran ini yang menjadi pokok persoalan makalah saya, maka “Perempuan dalam Masyarakat al-Quran” tampak menjadi judul yang paling sesuai.
Ketiga, dengan pemilihan judul ini saya berharap dapat menekankan bahwa kita harus menganggap al-Quran Suci sebagai pembimbing dalam setiap aspek kehidupan kita. Al-Quran tidak hanya menjadi sumber pengetahuan utama tentang kepercayaan agama, kewajiban dan praktik, tetapi ia juga menjadi pembimbing, baik secara rinci maupun umum, dalam setiap aspek peradaban Islam. Pada abad kemegahan yang lalu, ia menentukan kreativitas politik, ekonomi, sosial dan seni dari umat Muslim. Apabila kita ingin sukses sebagai anggota sebuah masyarakat Islam pada abad dan dasawarsa berikutnya, maka al-Quran harus menentukan pikiran dan tindakan kita lagi dengan cara yang inklusif. Dîn tidak hanya terbatas pada lima rukun Islam, yaitu syahadah, shalat, shiyain, zakat dan haji. Dîn sebenarnya tidak sama dengan istilah Inggris “religion,” karena signifikansi dari yang pertama masuk ke dalam setiap sudut dan celah keberadaan serta perilaku manusia. Tentu harus menjadi tujuan kita untuk menghubungkan setiap tindakan dengan Dîn kita. Kita hanya dapat melakukan hal ini apabila kita membiarkan al-Quran Suci menginformasikan dan memperbaharui setiap bidang kehidupan kita.
Sebagai satu langkah menuju hal itu, mari kita pertimbangkan apa yang diajarkan al-Quran kepada kita tentang masyarakat yang harus kita capai, dan mempertimbangkan pengaruhnya pada posisi perempuan. Apa ciri fundamental dari masyarakat al-Quran, yang secara khusus mempengaruhi perempuan?
Lima ciri ― yang tampak fundamental, sangat penting dan tak dapat dibantah ― dari masyarakat Quran akan dipertimbangkan. Meskipun mereka disajikan secara berurut, tetapi setiap ciri bergantung kepada ciri yang lain dan mempengaruhinya. Saling ketergantungan dari lima ciri tersebut menjadikan sulit pembicaraan tentang salah satu dari mereka tanpa menyebutkan yang lain, dan tentu saja mereka tidak akan dan tidak bisa ada dalam kondisi terisolir satu sama lain.

1. kesetaraan status dan nilai di antara kedua jenis kelamin

Ciri pertama dari masyarakat al-Quran, yang mempengaruhi perempuan, adalah bahwa kedua jenis kelamin dipandang setara dalam hal status dan nilai. Dengan kata lain, al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa perempuan dan laki-laki keduanya adalah makhluk Allah, berada pada tingkat nilai yang setara, meskipun signifikansi mereka yang sama tidak membenarkan klaim yang menyatakan kesamaan sempurna mereka. Kesetaraan laki-laki dan perempuan ini dapat dilihat dalam al-Quran di bagian yang menyinggung setidak-tidaknya empat aspek keberadaan dan interaksi manusia.

A. Persoalan Agama

Penegasan al-Quran yang pertama tentang kesetaraan laki-laki-perempuan terdapat dalam pernyataan yang menyinggung persoalan agama, seperti asal-usul manusia, atau imbalan dan kewajiban agama.

1. Asal-usul manusia.

Al-Quran tidak memiliki kisah yang ditemukan dalam Perjanjian Lama, yang memburukkan perempuan. Tidak ada petunjuk bahwa perempuan yang pertama kali diciptakan Tuhan adalah makhluk yang nilainya lebih rendah dan laki-laki, atau bahwa ia hanyalah sejenis anggota badan yang diciptakan dan salah satu tulang rusuk laki- laki. Sebaliknya, laki-laki dan perempuan diciptakan, kita membacanya, min nafsin wahidatin (dan jiwa atau diri yang satu) untuk saling melengkapi (QS. 4:1; 7:189). Sedangkan Taurat atau Perjanjian Lama menganggap Hawa sebagai perempuan penggoda di Taman Firdaus, yang membantu Setan memikat Adam untuk membangkang kepada Tuhan, al-Quran memperlakukan kedua pasangan itu dengan kesetaraan yang sempurna. Keduanya sama-sama berdosa; keduanya sama-sama dihukum oleh Tuhan dengan pengusiran mereka dan Taman Firdaus; dan keduanya sama-sama diampuni ketika mereka bertobat.

2. Kewajiban dan imbalan agama

. Al-Quran jelas menyatakan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam petunjuk-petunjuknya mengenai imbalan dan kewajiban agama. Kita membaca:
Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar dan tabah (dalam kebajikan), laki-laki dan perempuan yang sederhana, laki-laki dan perempuan yang memberi sedekah, laki- laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara (kesopanan mereka), laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar. (QS. 33:35)

B. Imbalan dan Kewajiban Etis

Kedua, al-Quran menyatakan kesetaraan laki-laki dan perempuan yang diinginkan kepada umat manusia dengan cara membangun imbalan dan kewajiban etis yang sama untuk perempuan dan laki-laki.
Dan barang siapa melakukan amal kebaikan, laki-laki dan perempuan, dan dia orang beriman, mereka akan masuk surga, dan tidak akan diperlakukan tak adil sedikitpun. (QS. 4:124)
Barang siapa mengerjakan amal kebaikan, laki-laki ataupun perempuan, dan dia beriman, pasti akan Kami beri ia kehidupan baru, suatu kehidupan yang baik dan bersih, dan akan Kami balas dengan pahala yang sebaik-baiknya sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 16:97)
Apabila Allah Swt belum menganggap kedua jenis kelamin dalam status dan nilai yang setara, maka pernyataan eksplisit seperti di atas tentang kesetaraan mereka dalam imbalan dan kewajiban etis niscaya tidak akan dicantumkan dalam al-Quran.

C. Pendidikan

Meskipun berbagai perintah yang lebih spesifik tentang kesamaan hak dari perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan dapat ditemukan dalam literatur hadis, al-Quran setidak-tidaknya menyatakan secara tidak langsung pencarian pengetahuan oleh semua Muslim, terlepas dari apa jenis kelaminnya. Sebagai contoh, ia berulang-ulang memerintahkan semua pembaca untuk membaca, mengucap, berpikir, merenung, dan juga untuk belajar dari tanda-tanda (ayat) Allah di alam. Nyatanya, wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw membahas pengetahuan. Dalam masyarakat al-Quran, tidak akan pernah terdapat pembatasan bahwa pengetahuan hanya untuk satu jenis kelamin. Adalah tugas setiap Muslim dan Muslimah untuk mencari pengetahuan di sepanjang hidup mereka, bahkan apabila hal itu akan mengarahkan si pencari ilmu ke Cina, begitu yang dikatakan kepada kita. Nabi saw bahkan memerintahkan budak-budak perempuan untuk dididik, dan ia meminta Shifa’ binti ‘Abdillah untuk memerintahkan istrinya Hafsah binti ‘Umar. Ceramah Nabi saw dihadiri oleh laki-laki dan perempuan; dan pada saat kematian Nabi, terdapat banyak ilmuwan perempuan.

D. Hak-Hak Hukum

Bukti keempat dalam al-Quran mengenai kesetaraan laki-laki dan perempuan terletak pada perinciannya tentang hak-hak hukum, yang dijamin bagi setiap orang sejak lahir sampai mati. Tidak seperti situasi di Barat, di mana sampai satu abad yang lalu seorang perempuan yang menikah tidak mungkin menyimpan hartanya sendiri, membuat perjanjian dengan orang lain, mengatur hartanya tanpa persetujuan suami, maka al-Quran menyatakan hak tiap perempuan untuk membeli dan menjual, untuk membuat perjanjian dan berpenghasilan, serta menyimpan dan mengelola uang dan hartanya sendiri. Selain hak-hak ini, al-Quran memberikan bagian dari harta warisan keluarga kepada perempuan (QS. 4:7-11), memperingatkan pencabutan haknya atas harta warisan (QS. 4:19), menyatakan bahwa mas kawin (mahr) perkawinannya adalah miliknya sendiri dan tidak akan pernah bisa diambil oleh suaminya (QS. 2:229; 4:19-21, 25) kecuali diberikan oleh si perempuan sebagai pemberian sukarela (QS. 4:4).
Sama seperti hak-hak istimewa lainnya, maka hak-hak perempuan ini membawa serta tanggung jawab yang setimpal. Apabila ia melakukan sebuah pelanggaran sipil, maka al-Quran mengatakan kepada kita bahwa dalam sebuah kasus yang sama, hukuman untuk perempuan tidak kurang dan tidak lebih daripada laki-laki (5:41; 24:2). Apabila ia dijahati atau dirugikan, maka ia berhak atas ganti kerugian, sama seperti laki-laki.
Sudah jelas bahwa al-Quran tidak hanya menyarankan, tetapi bahkan menekankan kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai sebuah ciri pokok masyarakat al-Quran. Pernyataan para kritikus non-Muslim bahwa Islam merendahkan perempuan ditolak secara empati oleh al-Quran. Yang juga ditolak adalah argumen dari orang-orang Muslim tertentu bahwa perempuan secara agama, intelektual dan etis lebih rendah daripada laki- laki, seperti yang dinyatakan oleh literatur Yahudi dan Kristen sebelumnya.

2. sebuah masyarakat yang berjenis kelamin ganda dan bukan sebuah masyarakat berjenis kelamin tunggal

Sekarang mari kita pertimbangkan ciri fundamental kedua dari masyarakat al-Quran, yang mempengaruhi posisi perempuan. Hal ini terlihat dari perintah untuk sebuah masyarakat yang berjenis kelamin ganda dan bukan sebuah masyarakat berjenis kelamin tunggal. Meskipun menganggap valid kesetaraan nilai di antara laki-laki dan perempuan, al-Quran tidak menganggap kesetaraan ini sebagai kesamaan jenis kelamin.
Mungkin Anda semua mengenal dengan baik gerakan kontemporer menuju sepatu dan pakaian berjenis kelamin tunggal, model rambut dan perhiasan berjenis kelamin tunggal, tindakan dan hiburan berjenis kelamin tunggal. Pada kenyataannya, di Amerika acap kali sulit memutuskan apakah kita melihat seorang laki-laki atau seorang perempuan. Hal itu merupakan akibat dari konsep kontemporer dalam masyarakat Barat, yang menyatakan bahwa hanya terdapat sedikit perbedaan anugerah fisik, intelektual dan emosional di antara kedua jenis kelamin, apabila perbedaan tersebut memang ada; dan dengan demikian, seharusnya tidak ada perbedaan fungsi dan peran mereka dalam masyarakat. Pakaian dan tindakan itu baru merupakan bukti permukaan dari keyakinan yang mendalam ini. Disertai dengan kemerosotan kualitas dan peran yang secara tradisional terkait dengan jenis kelamin perempuan, gagasan kontemporer itu telah menghasilkan sebuah masyarakat berjenis kelamin tunggal, di mana hanya peran laki-laki yang dihormati dan diikuti. Meskipun bermaksud untuk membawa kesetaraan yang lebih besar bagi perempuan, gagasan bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya setara, tetapi juga sama, sebenarnya telah mendorong peiempuan untuk meniru laki-laki dan bahkan menganggap rendah keperempuanan mereka. Jadi hal itu menciptakan sejenis chauvinisme laki-laki yang baru. Tekanan sosial yang besar telah mengakibatkan terlucutinya perempuan dari peran-tanggung jawab mereka, yang sebelumnya dilakukan oleh mereka, dan mereka dipaksa untuk menjalani kehidupan yang hampa dari kepribadian dan individualitas.
Sebaliknya, masyarakat yang didasarkan atas al-Quran adalah sebuah masyarakat berjenis kelamin ganda, di mana kedua jenis kelamin masing-masing diberikan tanggung jawab khusus mereka. Hal ini menjamin berfungsinya masyarakat dengan sehat demi kebaikan semua anggotanya. Pembagian kerja ini melimpahkan lebih banyak tanggung jawab ekonomi kepada laki-laki (QS. 2:233, 240-241; 4:34), sementara perempuan diharapkan memainkan peran mereka dalam melahirkan dan membesarkan anak (QS. 2:233; 7:189). Al-Quran, karena memahami pentingnya pembagian peran dan tanggung jawab yang saling melengkapi ini, mengurangi beban ekonomi yang lebih besar dari penduduk laki-laki dengan cara memberikan mereka bagian harta warisan yang lebih besar daripada perempuan. Di saat yang sama, ia memberikan hak atas biaya hidup kepada perempuan sebagai pengganti sumbangannya terhadap kesejahteraan fisik dan emosional keluarga serta perawatan yang ia berikan ketika membesarkan anak. Ideologi jenis kelamin tunggal menciptakan hubungan persaingan di antara kedua jenis kelamin, yang kita temukan di Amerika dan menjadi bencana bagi semua anggota masyarakat: kaum muda; kaum tua; anak-anak; orang tua; yang belum dan sudah menikah; laki-laki dan perempuan.
Sebaliknya, masyarakat berjenis kelamin ganda merupakan sebuah jawaban yang lebih alamiah untuk persoalan hubungan antarjenis kelamin, sebuah rencana yang mendorong kerjasama dan bukan persaingan di antara kedua jenis kelamin. Ia merupakan sebuah rencana yang telah dibuktikkan cocok di banyak sekali masyarakat dalam sejarah. Hanya baru-baru ini saja gagasan tentang non-diferensiasi atau kesamaan jenis kelamin menjadi unggul, dan itu terutama terjadi dalam masyarakat Barat. Bahkan bukti-bukti medis tentang perbedaan mental atau emosional di antara kedua jenis kelamin ditekan dalam penelitian Barat, karena hal itu mengancam kecenderungan pemikiran yang berlaku. Sampai kapan gerakan yang menjadi malapetaka sosial ini akan berlangsung sebelum ia ditolak sebagai bangkrut tidaklah diketahui. Tapi jelas, kita sebagai umat Muslim harus sadar akan berbagai kekurangan dan bahaya yang ditimbulkannya, serta menyadarkan masyarakat kita dan kaum muda akan bencana yang ditimbulkan olehnya.
Para pendukung masyarakat berjenis kelamin tunggal telah mengutuk organisasi manusia berjenis kelamin ganda sebagai berbahaya untuk kesejahteraan perempuan. Apabila berjenis kelamin ganda bermakna bahwa satu jenis kelamin lebih unggul daripada yang lain, maka situasi yang seperti itu bisa muncul. Tetapi dalam masyarakat al-Quran yang sesungguhnya, ke arah mana kita ingin bergerak, hal itu tidak dimungkinkan. Seperti yang telah kita lihat di atas, al-Quran mendukung dengan lancar kesetaraan status di antara perempuan dan laki-laki ketika ia mengakui perbedaan sifat-pokok dan fungsi mereka, yang relevan dan umum. Jadi meskipun mengakui kesetaraan agama, etika, intelektual dan hukum di antara laki-laki dan perempuan, al-Quran tidak pernah menganggap sama kedua jenis kelamin. Ia membenarkan pendirian ini dengan menetapkan beragam tanggung jawab dan ketentuan mengenai pewarisan serta biaya hidup yang sesuai dengan tanggung jawab tersebut.

3. saling ketergantungan antar anggota masyarakat

Ciri ketiga dari masyarakat Quran yang menyatakan posisi perempuan dengan tegas adalah penekanannya terhadap saling ketergantungan antaranggota masyarakat. Bertentangan dengan kecenderungan kontemporer yang menekankan hak-hak individu dengan mengorbankan masyarakat, maka kita menemukan al-Quran berkali-kali menekankan saling ketergantungan di antara laki-laki dan perempuan dan juga di antara semua anggota masyarakat. Sebagai contoh, istri dan suami, digambarkan sebagai “pakaian” (libas) untuk satu sama lain (QS. 2:187), dan sebagai teman yang hidup dan tinggal dalam kesentosaan (QS. 33:21; lihat juga 7:189). Laki-laki dan perempuan diarahkan untuk saling melengkapi, tidak untuk saling bersaing. Masing-masing adalah pelindung pasangannya (QS. 9:71). Masing-masing diserukan untuk memenuhi tanggung jawab tertentu demi kebaikan bersama dan kelompok yang lebih besar.
Untuk menjamin saling ketergantungan ini, yang sangat penting bagi kesejahteraan fisik serta psikologis laki-laki dan perempuan, Allah, dalam al-Quran Suci, menetapkan tugas dan kewajiban timbal-balik dari beragam anggota keluarga ― laki-laki dan perempuan, ayah dan ibu, anak-anak dan kaum tua, serta kerabat dari semua tingkat (QS. 17:23-26; 4:1, 7-12; 2:177; 8:41; 16:90; dan lain-lain). Perawatan dan perhatian terhadap anggota masyarakat lainnya sama-sama merupakan tugas seorang Muslim.
Kebaikan itu bukanlah karena menghadapkan muka ke timur atau ke barat; tetapi kebaikan ialah karena beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan para malaikat, dan Kitab, dan para nabi; Memberikan harta benda atas dasar cinta kepada-Nya, kepada para kerabat, kepada anak yatim, kepada fakir-miskin, kepada orang dalam perjalanan, kepada mereka yang meminta, dan untuk menebus budak-budak... (QS. 2:177)
Dengan demikian, al-Quran menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap masyarakat kepada seorang Muslim. Hal ini tidak dirasa atau dianggap sebagai represi terhadap individu. Sebaliknya, seorang Muslim secara konstan didorong dalam saling ketergantungan ini dengan merasakan manfaat yang dibawanya. Manfaat ekonomi, sosial, dan psikologis dari hubungan yang erat seperti itu dan dari perhatian di dalam kelompok sosial, menyediakan banyak sekali kompensasi bagi individu untuk menghaluskan aspirasi individualnya. Anonimitas dan kurangnya saling ketergantungan sosial di antara anggota masyarakat Barat kontemporer telah menimbulkan banyak permasalahan serius. Kesepian, kurangnya perawatan bagi kaum manula, jurang antargenerasi, tingkat bunuh diri yang tinggi, dan kejahatan remaja, semuanya dapat dilacak balik kepada kerusakan saling ketergantungan sosial yang semakin parah dan penyangkalan terhadap kebutuhan manusia untuk saling merawat.

4. keluarga besar

Terkait erat dengan saling ketergantungan adalah ciri fundamental keempat dari masyarakat Quran, yang berfungsi memperbaiki hubungan lelaki-perempuan. Inilah institusi keluarga besar. Selain anggota inti yang membentuk keluarga ― ibu, ayah dan anak-anak mereka ― keluarga Islam atau a’ilah juga mencakup kakek dan nenek, paman, bibi dan keturunan mereka. Biasanya keluarga Muslim “besar secara residensial”; yaitu, anggotanya hidup secara komunal dengan tiga generasi kerabat atau lebih di satu bangunan atau kompleks. Bahkan ketika versi residensial dari keluarga besar ini tidak dimungkinkan atau hanya dianut, hubungan keluarga yang menjangkau jauh di luar unit inti terlihat dalam ikatan psikologis, sosial, ekonomi dan bahkan politik yang kuat. Solidaritas keluarga besar ditentukan dan diperkuat oleh al-Quran Suci di mana kita menemukan referensi yang berulang-ulang mengenai hak-hak kerabat (QS. 17:23-26; 4:7-9; 8:41; 24:22; dll.) dan pentingnya memperlakukan mereka dengan kebaikan (QS. 2: 83; 16:90; dll). Pembagian harta warisan, tidak hanya untuk anggota keluarga inti tetapi juga untuk keluarga besar, ditentukan secara rinci (QS. 2:180-182; 4:33, 176). Hukuman yang mengerikan mengancam mereka yang mengabaikan ukuran-ukuran sokongan antarkeluarga ini (QS. 4:7-12). Jadi keluarga besar dalam kebudayaan Islam tidak hanya merupakan sebuah produk kondisi sosial, ia adalah sebuah institusi yang bergantung pada perkataan Tuhan itu sendiri serta ditopang oleh berbagai aturan dan nasihat dalam Quran.
Keluarga besar adalah sebuah institusi yang dapat menyediakan banyak manfaat untuk baik perempuan maupun laki-laki, ketika ia hadir bersama dengan ciri fundamental lainnya dari masyarakat Quran.
1. Ia menjaga pihak manapun dari sikap egois atau eksentrik, karena setiap individu tidak menghadapi hanya satu orang pasangan saja, tetapi menghadapi keseluruhan keluarga yang terdiri dari orang-orang sebaya, kaum tua dan anak-anak, apabila ia “keluar jalur.”
2. Ia memungkinkan perempuan untuk berkarir tanpa merugikan diri mereka sendiri, suami, anak-anak atau kaum tua mereka, karena selalu ada orang dewasa lain di rumah untuk membantu ibu atau istri yang bekerja. Perempuan karir dalam sebuah keluarga besar Islam tidak terkena beban. fisik dan emosional dari kelebihan-pekerjaan dan juga terhindar dari perasaan bersalah karena mengabaikan tanggung jawab keibuan, perkawinan atau keluarga. Pada kenyataannya, tanpa institusi keluarga yang seperti ini, mustahil membayangkan kemungkinan solusi untuk persoalan yang sekarang dihadapi oleh masyarakat Barat. Karena semakin banyak perempuan yang masuk ke dalam angkatan kerja, keluarga inti tidak dapat lagi memelihara kebutuhan para anggotanya. Kesulitan dalam keluarga dengan orang tua tunggal lebih besar ratusan kali lipat. Ketegangan yang diletakkan oleh sistem keluarga yang seperti itu pada perempuan yang bekerja, merusak individu dan juga ikatan keluarga serta perkawinan. Pembubaran keluarga disebabkan olehnya dan dampak sosial serta psikologis dari tingkat perceraian yang tinggi di Amerika dan negara-negara Barat lainnya semakin menjadi keprihatinan dan para dokter, pengacara, psikiater dan sosiolog serta tentu saja para korban yang tidak beruntung dari fenomena ini.
3. Keluarga besar menjamin kecukupan sosialisasi kepada anak. Nasihat ibu atau ayah di sebuah keluarga inti atau keluarga dengan orang tua tunggal akan sulit untuk diikuti oleh seorang anak yang tak patuh dan bandel, tetapi kombinasi tekanan dan beberapa anggota sebuah keluarga besaryang kuat adalah cara yang efektif untuk melawan non-konformitas atau pembangkangan.
4. Keluarga besar menyediakan keragaman sosial dan psikologis dalam persahabatan untuk orang dewasa dan juga anak-anak. Karena ketergantungan terhadap hubungan satu-dengan-satu tidak besar, maka tuntutan emosional kepada setiap anggota keluarga juga tidak besar. Ketidaksetujuan atau benturan di antara orang-orang dewasa, anak-anak atau di antara orang-orang dan generasi yang berbeda tidak akan mencapai tingkat kerusakan yang bisa terjadi dalam keluarga inti. Selalu terdapat anggota keluarga lain yang hadir untuk mengurangi rasa sakit dan memberikan nasihat yang menyembuhkan serra persahabatan. Bahkan ikatan perkawinan tidak terkena tekanan keras seperti yang terjadi dalam keluarga inti.
5. Keluarga besar atau a’ilah menghindari perkembangan jurang antargenerasi. Permasalahan sosial ini muncul ketika setiap kelompok umur menjadi begitu terisolasi dan generasi-generasi lainnya sehingga sulit untuk mencapai hubungan yang sukses dan bermakna dengan orang dari tingkat umur yang berbeda. Dalam a’ilah, tiga atau lebih generasi hidup bersama dan berinteraksi satu sama lain secara konstan. Situasi ini menyediakan pengalaman belajar dan sosialisasi yang bermanfaat untuk anak-anak serta menyediakan rasa berguna dan keamanan yang diperlukan untuk generasi yang lebih tua.
6. A’ilah menghapuskan permasalahan kesepian yang mewabah di antara para penduduk yang anonim dan terisolasi di pusat-pusat kota masyarakat kontemporer. Sebagai contoh, perempuan yang belum menikah, atau perempuan yang telah bercerai atau janda dalam sebuah keluarga besar Islam tidak akan pernah mengalami permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan yang sama dalam masyarakat Amerika kontemporer. Dalam sebuah masyarakat Quran, tidak terdapat kebutuhan untuk pembuatan kencan melalui komputer yang bersifat komersil, bar-bar dan perkumpulan untuk orang yang belum menikah, atau pengucilan warganegara usia lanjut di kompleks pensiunan atau rumah jompo.
Kebutuhan sosial dan psikologis para individu, apakah itu laki-laki atau perempuan, akan dipenuhi dalam sebuah keluarga besar.
Sejak ikatan perkawinan menjadi semakin rapuh dalam masyarakat Barat, maka perempuan cenderung menjadi korban utama dari perubahan ini. Mereka kurang mampu membangun kembali perkawinan atau ikatan lainnya dibandingkan dengan laki-laki, dan mereka lebih rusak secara psikologis akibat hal tersebut.
7. Keluarga besar memungkinkan pembagian perawatan orang- orang yang berusia lanjut secara lebih manusiawi. Dalam unit keluarga inti, semua perawatan orang tua istri atau suami yang sudah berusia lanjut menjadi tugas satu individu, biasanya ibu dari keluarga. Ia harus memberikan perawatan fisik ekstra dan juga kesejahteraan emosional kepada orang-orang yang berusia lanjut. Ini menjadi beban berat bagi seorang perempuan yang mungkin juga harus mengurus kebutuhan suami dan anak. Apabila ia seorang perempuan pekerja, maka beban yang ada bisa menjadi tak terkendali; dan orang-orang yang berusia lanjut ditempatkan di rumah jompo untuk menunggu kematian. Dengan pembagian tanggung jawab dan tugas, yang disediakan oleh keluarga besar, beban yang ada menjadi jauh lebih ringan.

5. sebuah organisasi keluarga yang patriarkal

Ciri fundamental kelima dan sebuah masyarakat Quran adalah sifatnya yang patriarkal. Bertentangan dengan tujuan gerakan Pembebasan Perempuan, al-Quran menuntut sebuah masyarakat yang meletakkan kepemimpinan utama dan peran pengambilan-keputusan dalam keluarga di tangan laki-laki.
Setiap masyarakat terdiri dari organisasi-organisasi manusia yang lebih kecil, pemerintah, partai politik, organisasi agama, perusahaan komersial, keluarga besar, dll. Setiap organ ini harus stabil, kohesif, dapat digerakkan apabila ia mau memberikan manfaat kepada para konstituennya. Untuk mencapai ciri-ciri ini, organisasi tersebut harus memberikan tanggung jawab utama kepada beberapa individu atau beberapa kelompok di dalam barisannya.
Dengan demikian, para penduduk bisa memilih, parlemen dapat membuat undang-undang, dan polisi bisa menegakkan hukum; tetapi pada akhirnya adalah kepala negara yang memikul beban mengambil keputusan-keputusan penting untuk negara, dan juga tanggung jawab atau restu, yaitu, pertanggungjawaban atas keputusan-keputusan tersebut. Begitu pula, pekerjaan di pabrik dikerjakan oleh banyak individu, tetapi tidak semua dari mereka bisa membuat keputusan akhir untuk perusahaan. Dan juga tidak semua pekerja diminta pertanggungjawabannya atas kesuksesan atau kegagalan organisasi.
Keluarga juga membutuhkan seseorang untuk memikul beban tanggung jawab pokok secara keseluruhan. Al-Quran telah memberikan peran ini kepada anggota keluarga laki-laki yang paling senior. Adalah pemberian kekuasaan dan tanggung jawab secara patriarkis inilah yang dimaksud oleh ungkapan seperti “wa lil rijali ‘alaihinna darajatun” (QS. 2:228; lihat supra, hlm. 40, 41) dan “al-rijalu qawwdmuna ‘ala al-nisa’i...” (QS. 4:34). Bertentangan dengan penggambaran yang keliru oleh musuh- musuh al-Quran, ungkapan itu tidak bermakna penundukkan perempuan di bawah laki-laki dalam sebuah kediktatoran berdasarkan gender. Penafsiran yang seperti itu menunjukkan pengabaian yang menyolok terhadap seruan al-Quran yang berulang-ulang untuk kesetaraan jenis kelamin dan terhadap perintahnya untuk berlaku baik dan menghormati perempuan. Sebaliknya, ungkapan yang menjadi permasalahan cenderung berfungsi untuk menghindari kebimbangan dan perselisihan internal demi kebaikan semua anggota keluarga. Hal itu menyokong sebuah masyarakat patriarkal.
Selain itu, kami akan memfokuskan perhatian kepada penggunaan kata “qawwarna” dalam pernyataan, “al-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’i...” (QS. 4:34). Jelas bahwa kara kerja “qawwarna,” darimana kata benda verbal “qawwamun” diturunkan, tidak mengimplikasikan kemaharajaan yang despotik. Sebaliknya, istilah itu merujuk kepada seseorang yang berdiri (dari qama, “berdiri”) untuk orang lain dengan cara yang protektif dan penuh kebajikan. Apabila yang ingin dimaksudkan adalah peran menguasai dengan keras atau otokrasi dari laki-laki yang membentuk sebagian dari masyarakat, maka masih banyak kata kerja turunan yang lebih sesuai, misalnya, “musaytirun” dan “muhayminun.” Contoh lain penggunaan al-Quran atas kata “qawwamun” menegaskan artinya sebagai pendukung dan bukan otoritarian atau tirani (lihat QS. 4:127-135; 5:9). Dengan demikian, pemberian arti yang berbeda kepada ungkapan yang dipermasalahkan tidak konsisten secara ideologis dan juga tidak mendapat dukungan secara linguistik.
Mengapa al-Quran memerintahkan kepemimpinan laki-laki untuk a’ilah, yaitu, sebuah keluarga yang patriarkal, dan bukan sebuah organisasi yang matriarkal? Al-Quran menjawab pertanyaan itu dengan cara berikut:
Laki-laki adalah pelindung dan bertanggung jawah terhadap kaum perempuan, karena Allah telah memberikan kelebihan (kekuatan) pada yang satu atas yang lain; dan karena mereka memberi nafkah dari harta mereka (untuk menyokong perempuan).... (QS. 4:34).
Dengan demikian, adalah tanggung jawab dan kontribusi fisik serta ekonomi yang menjadi alasan al-Quran untuk mengusulkan sebuah masyarakat yang patriarkal dan bukan sebuah masyarakat yang matriarkal.
Beberapa orang Barat, dihadapi oleh permasalahan-permasalahan masyarakat kontemporer, mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: Ke mana kita bisa meminta bantuan? Apa yang dapat kita lakukan di hadapan disintegrasi sosial sekarang ini? Ini merupakan masa keputusasaan dan pencarian, ketika masyarakat Barat terhuyung oleh pukulan disorientasi pribadi dan disintegrasi masyarakat yang semakin meningkat.
Apa yang harus kita lakukan sebagai umat Muslim untuk menolong mereka? Pertama-tama, kita harus membangun masyarakat Quran yang sesungguhnya di seluruh Dunia Muslim. Tanpa adanya hal itu, kita tidak dapat membangun akomodasi yang patut dan berkelanjutan untuk interaksi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Selain itu, kita tidak bisa mengharapkan adanya rasa hormat dan loyalitas generasi berikut kepada masyarakat kita dan berbagai institusinya, apabila masyarakat pseudo- Islam adalah satu-satunya yang mampu kita bangun dan pelihara. Berbagai tindakan dan institusi pseudo-Islam sebenarnya bersifat anti-Islam; karena mereka menjadi sebuah model yang tidak dapat dihormati, dan menggunakan nama “islam”, sehingga mempengaruhi pikiran banyak orang Muslim dan juga orang non-Muslim. Hal ini mengakibatkan beban berbagai institusi yang cacat dengan salah dipindahkan ke agama Islam itu sendiri.
Kita harus mendidik teman-teman Muslim kita―dan terutama kaum mudanya karena mereka yang akan menjadi pemimpin hari esok―dalam kaitan dengan pentingnya dan keberlanjutan tradisi Quran mereka tentang perempuan, keluarga dan masyarakat, Terlepas dari kegagalan berbagai pola sosial Barat alternatif sekarang ini, beberapa orang Muslim nampak sangat menginginkan merek Barat dalam hal kesetaraan jenis kelamin, gagasan jenis kelamin tunggal dan model perilakunya, penekanan yang berlebihan pada individualisme atau kebebasan pribadi dari tanggung jawab, dan sistem keluarga inti. Kita harus sadar dengan bahaya yang mengikuti gagasan dan praktik sosial seperti itu. Apabila akibat dari gagasan dan praktik ini tidak diperlihatkan dan dilawan, maka kita akan dikutuk dengan mendapat masa depan yang tak pantas karena eksperimen sosial yang seperti itu pada akhirnya akan gagal.
Tetapi bahkan hal itu belum menjadi alasan yang cukup bagi kita sebagai umat Muslim. Sebagai khalifah Allah di muka bumi (QS. 2:30), adalah tugas kita untuk prihatin terhadap seluruh dunia dan segenap makhluk Allah. Dengan mengingat perintah untuk menyebarkan kehendak Allah di setiap sudut bumi, kita tidak boleh lupa menyarankan atau menawarkan kebaikan yang kita ketahui kepada orang lain. Ini saatnya bagi Islam dan umat Muslim untuk menyajikan solusi mereka terhadap permasalahan masyarakat kontemporer, tidak hanya kepada umat Muslim, tetapi juga kepada umat non-Muslim. Hal ini dapat dan harus dilakukan melalui contoh hidup dari masyarakat Quran yang sesungguhnya, di mana permasalahan laki-laki dan perempuan teratasi. Hal itu juga harus dilakukan melalui diskusi-diskusi dan tulisan-tulisan yang informatif oleh para ilmuwan kita, yang bisa dibuat tersedia untuk umat Muslim maupun umat non-Muslim.
Tidak ada jalan yang lebih baik daripada mengabdi kepada kehendak Allah dan seluruh umat manusia. Tidak ada dakwah yang lebih baik daripada memberikan bantuan kepada para korban masyarakat kontemporer yang hidup dengan susah payah.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
5+4 =