Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

PRAKIRAAN DAN RAMALAN IMAM ALI AS DALAM NAHJUL BALAGHAH




1- Masa Depan Yang Terang:

“Dunia akan menunduk kepada kita setelah berkeras kepala seperti induk unta yang penggigit tunduk kepada anaknya. Kemudian Amirul Mukminin as mengutip ayat, "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)." “[1] [2]

2- Akhir Zaman (Tanda-tandanya):

“Segera akan tiba saat ketika ke-dudukan tinggi hanya akan diberikan kepada orang-orang yang mencemarkan orang lain, ketika orang-orang keji akan dianggap cerdas, dan orang adil akan dianggap lemah. Orang akan memandang sedekah sebagai kerugian, hubungan kekeluargaan sebagai (beban) kewajiban, dan ibadah sebagai dasar untuk mengklaim kebesaran di antara orang lain. Pada saat itu wewenang akan dilaksanakan melalui nasihat kaum wanita, mendudukkan anak-anak untuk jabatan tinggi dan pelaksanaan urusan pemerintahan oleh para banci.” [3]

3- Takdir Penduduk Kufah:

“Wahai Kufah, seakan-akan saya melihat Anda tenggelam seperti kulit bersamak dari pasar 'Ukkazh, [4] Anda akan dicukur oleh petaka dan ditunggangi malapetaka. Tentulah saya tahu[5] bahwa apabila seorang lalim berniat jahat bagi Anda, Allah akan menimpakannya dengan kecemasan dan melemparinya dengan seorang pembunuh (mengirim seseorang untuk membunuhnya).” [6]

4- Takdir Kota Bashrah:

“Demi Allah, kota Anda pastilah akan tenggelam sedemikian rupa sehingga seakan-akan saya melihat mesjidnya seperti bagian atas sebuah kapal atau seekor burung unta yang sedang duduk.” [7]

5- Takdir Penduduk Kota Bashrah:

“Celakalah bagi Anda, Bashrah, ketika suatu tentara pembawa bala dari Allah akan menimpa Anda tanpa (membangkitkan) debu jeritan. Penduduk Anda saat itu akan menghadapi kematian keji dan kelaparan yang mengerikan.” [8]

6- Penyerangan Mongol:

“Saya dapat melihat suatu kaum yang wajahnya seperti perisai yang diliputi kulit yang diserut kasar. [9] Mereka berpakaian sutra dan bulu domba, dan mencintai kuda-kuda yang hebat. Pembunuhan dan pertumpahan darah oleh mereka akan terjadi dengan bebas, hingga yang terluka akan berjalan di atas yang mati, dan jumlah orang yang melarikan diri kurang dari yang tertawan.” [10]

7- Hari-hari Yang Sulit:

“Suatu masa yang dahsyat akan menimpa manusia di mana orang kaya menahan miliknya dengan giginya (karena kekikiran) padahal mereka tidak disuruh berbuat demikian. Allah yang Mahasuci berfirman, "Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu." [11] Pada masa itu orang jahat akan naik sementara orang bajik akan tetap rendah, dan pembelian akan dilakukan dari orang-orang tak berdaya walaupun Rasulullah saw telah melarang membeli dari orang tak berdaya.” [12] [13]

8- Pemerintahan Mu’awiyah:

“Segera setelah saya, akan muncul pada Anda seorang lelaki dengan mulut lebar dan perut besar. la akan menelan apa saja yang diperolehnya dan akan menaruh serakah atas apa yang tidak diperolehnya. Anda harus membunuhnya tetapi (saya tahu) Anda tidak akan membunuhnya. la akan memerintahkan Anda untuk mencerca saya dan menyangkali saya. Tentang cercaan, Anda boleh mencerca saya karena hal itu berarti penyucian bagi saya dan penyelamatan bagi Anda. Mengenai penyangkalan, Anda tak boleh menyangkali saya karena saya dilahirkan dalam agama fitrah dan mendahului dalam menerimanya maupun dalam hijrah.” [14] [15]

9- Akibat Melalaikan Al-Qur’an Dan Masjid:

“Suatu saat akan datang ketika tak ada yang tertinggal dari Al-Qur'an kecuali tulisannya, dan tak ada (yang tertinggal) dari Islam selain namanya. Masjid di hari-hari itu akan sibuk dengan urusan pembangunan tetapi sepi dari bimbingan. Orang yang tinggal di dalamnya dan mereka yang mengunjunginya adalah yang terbumk di muka bumi. Dari mereka kejahatan akan muncul dan kepada mereka semua kebatilan akan berpaling. Apabila seseorang memisahkan diri darinya, mereka akan melemparkannya kembali ke situ; dan apabila seseorang melangkah mundur darinya, mereka akan mendorongnya kepadanya. Allah Mahasuci berfirman (dalam sebuah Hadits Qudsi), "Aku bersumpah demi Diri-Ku sendiri bahwa Aku akan mengirimkan kepada mereka suatu cobaan (fitnah) di mana orang yang sabar (halim) akan kebingungan," dan la akan berbuat demikian. Kami memohon keampunan Allah dari terantuk karena lalai.” [16]

10- Pemerintahan Imam Mahdi, Sang Penyebar Keadilan:

“Wahai kaumku, inilah saat bagi terjadinya setiap peristiwa yang dijanjikan dan mendekatnya hal-hal yang tidak Anda ketahui. Siapa saja dari antara kita yang ada di hari-hari ini akan bergerak melewatinya dengan lampu yang menyala dan akan melangkah pada jejak orang berkebajikan, untuk mengorak buhul, untuk membebaskan budak-budak, untuk memecahkan yang bersatu dan menyatukan yang terpecah. la akan tersembunyi dari manusia. Pengejar tidak akan mendapatkan jejak kakinya sekalipun ia memburu dengan matanya. Kemudian sekelompok orang akan ditajamkan seperti menajamkan pedang oleh pandai besi. Pandangan mereka akan dicerahkan oleh wahyu, (kehalusan) penafsiran akan dimasukkan ke telinga mereka, dan kepada mereka akan diberi minuman kebijaksanaan, pagi dan petang.” [17]

11- Pemerintahan Marwan Dan Keturunannya:

“Ya, ia akan mencari kekuasaan secepatnya seperti seekor anjing menjilat hidungnya, dan keempat putranya juga akan berkuasa. Rakyat akan menghadapi hari-hari sulit melalui dia dan anak-anaknya.” [18] [19]

12- Pemerintahan Hajjaj:

“Hati-hatilah! Demi Allah, seorang laki-laki tinggi yang bergaya melenggang dari Bani Tsaqif akan ditempatkan di atas Anda. la akan memakan habis tanaman-tanaman Anda dan melarutkan lemak Anda.” [20]
Sayid Radhi berkata: Dalam kalimat ini Amirul Mukminin merujuk kepada Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi dan ia mengalami insiden dengan "al-Khunfusa', yang tak perlu diceritakan di sini. [21]
www.balaghah.net

1. QS. Al-Qashash 28. :5.
2. Nahjul Balaghah, Hikmah ke-209.
Ucapan itu mengenai Imam Mahdi yang merupakan imam terakhir. Dengan kemunculannya, semua negara dan pemerintahan akan berakhir dan suatu gambaran lengkap yang disebutkan dalam ayat itu akan tampil menjadi kenyataan.
"Siapa pun yang mau, dapat memimpin dunia, tetapi pada akhimya kekuasaan akan berada di tangan keturunan 'Ali as."
3. Hikmah ke-103.
4. Di Zaman jahiliah biasa diselenggarakan suatu pasar tahunan di Makkah. Namanya 'Ukkazh di mana banyak diperdagangkan kulit yang telah disamak. Kemudian kulit samakan diatributkan pada pasar itu. Di samping jual beli, pertemuan kesusastraan juga dilaksanakan, dan orang-orang Arab biasa menarik kekaguman dengan membacakan karya-karya mereka. Setelah Islam, karena adanya pertemuan jemaah haji yang lebih baik, pasar itu lenyap.
5. Ramalan Amirul Mukminin itu terpenuhi kata demi kata. Dunia melihat betapa orang-orang yang melakukan kelaliman dan penindasan sewenang-wenang itu menghadapi kesudahan yang tragis, dan kehancuran mereka disebabkan oleh penumpahan darah dan pembunuhan yang mereka lakukan. Akhir kesudahan ibn Abih (anak dari ayah yang tak diketahui), ketika ia hendak mengucapkan pidato untuk mencemari Amirul Mukminin, ia tiba-tiba jatuh lumpuh, dan sejak itu tak pernah dapat meninggalkan pembaringannya. 'Ubaidillah ibn Ziyad, yang melakukan pcrtumpahan darah di sana, terserang penyakit kusta dan akhirnya tewas tcrbunuh oleh sebilah pedang ganas. Kekejaman al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi mengakibatkan nasib celaka. Ular menjalar masuk ke dalam perutnya, yang menyebabkan kematiannya setelah menanggung sengsara yang sangat. 'Umar ibn Hubairah al-Fazart mati sctelah lama menderita. Khalid ibn 'Abdillah al-Qasri menderita dalam penjara dan dibunuh dengan cara yang sangat buruk. Mush'ab ibn Zubair dan Yaztd ibn Muhallab ibn Abi Shufrah juga terbunuh dengan pedang.
6. Khutbah ke-47.
7. Khutbah ke-15.
8. Khutbah ke-101.
9. Ramalan Amirul Mukminin ini ialah tentang serangan kaum Tartar (Mongol) yang berasal dari gurun Mongolia di barat laut Turkistan. Suku-suku yang setengah liar ini hidup dengan menjarah, membunuh dan menghancurkan. Mereka biasa berperang di antara sesamanya dan menyerang daerah-daerah tetangganya. Masing-masing suku mempunyai pemimpinnya sendiri yang harus bertanggung jawab atas perlindungan bagi anggota sukunya. Jenghis Khan (Temujin) yang merupakan salah satu kepala suku yang berkuasa dan sangat gagah berani bangkit untuk mengorganisasi suku-suku yang terpecah belah itu untuk bersatu. Walaupun mulanya ditentang, ia berhasil menaklukkan mereka melalui keberanian dan kecerdikannya. Setelah mengumpulkan sejumlah besar rakyat di bawah panjinya, ia bangkit di tahun 606 H. (1208 M.) seakan badai lalu terus menguasai kota-kota dan menghancurkan penduduk hingga ia menaklukkan wilayah-wilayah sampai Cina Utara.
Ketika wewenangnya telah mapan, ia menawarkan perjanjian penyelesaian dengan 'Ala'uddin Kharazm Syah, penguasa negara tetangga Turkistan, dan melalui utusan ditetapkanlah suatu perjanjian dengannya bahwa para pedagang Tartar akan diperkenankan mengunjungi negerinya untuk berdagang, dan nyawa serta harta mereka tidak akan diganggu. Selama beberapa waktu mereka berdagang dengan bebas tanpa takul. Tetapi pada suatu ketika ‘Ala’uddin menuduh mereka melakukan kegiatan mata-mata, lalu merampas harta mereka dan me-nyuruh kepala suku Atrar membunuh mereka. Ketika Jenghis Khan mendengar tentang pelanggaran janji dan pembunuhan para pedagang Tartar itu, matanya berapi-api, tubuhnya gemetar karena berang. la mengirimkan pesan kepada ‘Ala’uddin supaya mengirimkan kembali barang-barang para pedagang Tartar itu dan menyerahkan kepadanya pemimpin Suku Atrar yang membunuh mereka. 'AIa'uddin yang sedang gila kuasa tidak mempedulikannya. Dengan pandangan picik ia bahkan membunuh utusan Jenghis Khan. Jenghis Khan kehilangan sabar. la bangkit dengan pedang di tangan, dan para pejuang Tartar menyerbu Bukhara dengan pasukan berkudanya. 'Ala'uddin keluar dengan 400.000 prajurit untuk menghadapinya, tetapi tak mampu menahan serangan pasukan Tartar yang tak berkeputusan. Setelah kalah hanya dalam beberapa serangan, ‘Ala’uddin lari ke Nisyabur menyeberangi sungai Jatarxes (Sihun). Orang Tartar menghancurkan Bukhara dan meratakannya dengan tanah. Mereka meruntuhkan sekolah-sekolah, mesjid, membakar rumah-rumah, membunuh laki-laki dan perempuan tanpa pilih bulu. Tahun berikutnya mereka menyerbu Samarkand dan menhancurkannya sama sekali. Setelah larinya 'Ala'uddin, putranya Jalaluddm Kharazm Syah mengambil alih kekuasaan pemerintahan. Orang Tartar memburunya pula, dan selama sepuluh tahun ia lari dari satu tempat ke tempat lainnya tetapi -tidak jatuh ke tangan mereka. Akhirnya ia manyeberangi sungai keluar dari kerajaannya. Dalam waktu itu orang Tartar berusaha keras untuk menghancurkan negeri yang berpenduduk dan memusnahkan manusia. Tak ada kota yang luput dari kehancuran dan tak ada penduduk yang lepas dari penindasannya. Ke mana saja mereka pergi, mereka mengacaukan kerajaan, menumbangkan pemerintahan, dan dalam waktu singkat mereka memapankan kekuasaannya di bagian utara Asia.
Ketika Jenghis Khan mati 622 H. (1224 M.). putranya Ogedei Khan menggantikannya. la mencari Jalaluddin dan berhasil membunuhnya di tahun 628 H. (1230 M). Setelah dia, Mongka Khan, putra anak Jenghis Khan yang lain, naik tahta. Setelah Mongka Khan, Kubilai Khan menggantikannya atas sebagian negeri dan kekuasaan atas Asia jatuh kepada saudaranya, Hulagu Khan. Setelah pembagian atas seluruh wilayah di antara para cucu Jenghis Khan, Hulagu Khan berpikir untuk menaklukkan wilayah-wilayah Islam. Ketika itu penganut mazhab Hanafi di Khurasan (Iran Timur) yang sedang bermusuhan dengan penganut mazhab Syafi’i, mengundangnya untuk menyerang Khurasan. Maka ia pun memimpin serangan ke Khurasan. Kalangan Hanafi yang berpikir bahwa mereka akan selamat dari serangan orang Tartar, membukakan gerbang kota. Tetapi orang Tartar tidak membeda-bedakan penganut mazhab Hanafi atau Syafi'i; mereka membunuh tanpa pilih bulu. Setelah membunuh sebagian besar penduduknya, mereka mendudukinya. Perselisihan penganut Hanafi dan Syafi'i membuka pintu baginya untuk menaklukkan 'Iraq. Akibatnya, setelah menaklukkan Khurasan, keberaniannya meningkat, dan di tahun 656 H. (1258 M). ia menyerbu Baghdad pada hari 'Asyura dengan membawa pertumpahan darah dan kehancuran. Orang Tartar terus dalam kesibukan membunuh selama empat puluh hari. Sungai darah mengalir di jalan-jalan dan semua lorong dipenenuhi mayat. Ratusan ribu orang menjadi umpan pedang sementara Khalifah Musta'shim Billah diinjak-injak sampai mati. Hanya orang-orang yang bersembunyi dalam sumur atau tempat-tempat di bawah tanah hingga tak kelihatan yang selamat dari maut. Itulah ke-hancuran Baghdad yang menggoncang kekhalifahan 'Abbasiah hingga ke akar-akarnya sampai tenggelam sama sekali.
Beberapa orang sejarawan menimpakan kesalahan atas kehancuran itu pada Ibn al-'Alqami (Abu Thalib, Muhammad ibn Ahmad al-Baghdadi), menteri Khalifah Musta'shim Billah, dengan mengajukan bahwa ia tergerak oleh orang Syi'ah pada umumnya dan karena kehancuran sektor al-Khark (dalam kota Baghdad), lalu ia mengundang Hulagu Khan melalui menteri Hulagu Khan yang ulama besar, Nashiruddin Muhammad ibn Muhammad ath-Thusi, untuk menyerbu Baghdad. Sekiranyapun demikian, tidak mungkin mengabaikan kenyataan sejarah bahwa sebelumnya Khalifah Nasir Lidinillah telah menginisiatifkan gerakan untuk menyerang wilayah-wilayah Muslim. Ketika para Syah Kharazm menolak untuk mengakui kekuasaan khalifah itu, ia mengirim pesan kepada Jenghis Khan untuk menyerbu Kharazm; dari situ orang Tartar mengerti bahwa tidak ada persatuan dan kerjasama di kalangan kaum Muslim. Setelah itu kaum Hanafi mengundang Hulagu Khan untuk menghancurkan kaum Syafi'i yang menyebabkan orang Tartar beroleh kekuasaan atas Khurasan, dan mempersiapkan diri untuk menyerbu Baghdad. Dalam keadaan demikian, sekadar menganggap Ibn al-'Alqami sebagai penyebab kehancuran Baghdad dan mengabaikan perbuatan Nasir Lidinillah dan perseteruan antara kaum Hanafi dan Syafi'i akan berarti menutup-nutupi fakta. Faktanya, penyebab kehancuran Baghdad adalah justru penaklukan Khurasan, yang penggeraknya yang sesungguhnya adalah para penduduk penganut Hanafi di situ. Dengan penaklukan inilah Hulagu Khan menjadi berani untuk menyerbu pusat Islam itu; tak mungkin hanya disebabkan oleh pesan satu orang maka ia menyerbu sebuah ibu kota tua seperti Baghdad, yang kekuatan dan kebesarannya telah membangkitkan kekaguman dan ketakutan di dalam hati sebagian besar dunia.
10. Khutbah ke-128.
11. QS. Al-Baqarah 2.: 238.
12. Pada umumnya pembelian dilakukan pada orang yang tak berdaya dengan memanfaatkan keperluan dan kesusahan orang itu, dengan harga rendah dan menjual kepada mereka dengan harga tinggi. Agama maupun moral dan etika tidak membenarkan pengambilan keuntungan dari kesusahan orang semacam itu.
13. Hikmah ke-468.
14. Tentang apa yang disinggung Amirul Mukminin dalam khotbah ini, sebagian orang mengira Ziyad ibn Abih, sebagian berpendapat al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqafi dan sebagian berpendapat Mughirah ibn Syu'bah. Tetapi kebanyakan pensyarah menganggapnya Mu'awiah, dan ini tepat, karena sifat-sifat yang digambarkan Amirul Mukminin sepenuhnya tepat bagi Mu'awiah sendiri. Sekali Nabi SAWW menyuruh memanggilnya dan kepada beliau dilaporkan bahwa Mu'awiah sedang sibuk makan. Kemudian kedua dan ketiga kali diutus seorang untuk memanggilnya, tetapi ia membawa kabar yang sama. Karena itu Nabi berkata, "Semoga Allah tak pernah memuaskan perutnya." Karena sumpah ini maka apabila ia telah capek makan, ia akan mengatakan, "Singkirkanlah! Demi Allah, saya belum kenyang, tetapi saya telah capek dan muak." Begitu pula, pencemarannya terhadap nama baik Amirul Mukirunin dan memerintahkan para pejabatnya untuk itu merupakan fakta-fakta yang diterima bulat oleh sejarah sehingga tak mungkin disangkal. Sehubungan dengan ini kata-kala yang demikian keji digunakan di mimbar mesjid sehingga Allah dan Rasul-Nya pun terkena. Demikianlah, Ummul Mu'mimn Salamah menulis kepada Mu'awiah, "Pastilah orang-orang Anda mencemari Allah dan Rasul, dan ini adalah karena Anda me-lemparkan cercaan kepada 'Ali dan orang-orang yang mencintainya, sedangkan saya menyaksikan bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya." (ul-'lqd al-Farid, III, h. 131).
Umar ibn 'Abdul 'Aziz mengakhiri kebiasaan mencerca Ali, dan mengajukan kalimat ini sebagai pengganti kalimat cercaan itu, "Sesungguhnva Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan bajik dan memberi kepada karib kerabat dan mencegah kejelekan dan kemungkaran dan pemberontakan; la menasihati kamu supaya kamu ingat. " (QS. An-Nahl 16.: 90)
Dalam Khotbah ini Amirul Mukminin telah memberi perintah untuk membunuhnya atas dasar perintah Nabi, "Apabila kamu melihat Mu'awiah di mimbarku, bunuhlah dia." (Kitab ash-Shiffin, h. 243-248; Syarh Ibn Abil Hadid. I, h. 348; Tarikh al-Baghdad. XII, h. 181; Mizan al-I’tidal, II, h. 128; Tahdzib al-Tahdzib, II, h. 428; V, h. 110: VII, h. 324).
15. Khutbah ke-57
16. Hikmah ke-369.
17. Khutbah ke-150.
18. Marwan ibn Hakam adalah kemenakan dan menantu 'Utsman. Karena badannya yang kurus tinggi ia dijuluki "Khaith Bathil" (benang kebatilan). Ketika 'Abdul Malik ibn Marwan membunuh 'Amr ibn Sa'id al-Asydaq, saudaranya Yahya ibn Sa'id mengatakan, Wahai, putra-putra Khaith Bathil (benang kebatilan), kamu telah memainkan penipuan pada 'Amr, dan orang-orang seperti kamu membangun rumahnya (kekuasaan) di atas penipuan dan penghianatan.
Walaupun ayahnya al-Hakam ibn Abi al-'Ash telah menerima Islam pada saat terbukanya Makkah, tetapi kelakuan dan perbuatannya sangat menyakiti hati Nabi. Karenanya Nabi mengutuknya. Beliau mengatakan, "Celaka akan menimpa umal-ku dari keturunan orang ini." Akhirnya, karena intrik-intriknya yang semakin meningkat, Nabi mengusirnya dari MadTnah ke lembah Wajj di Tha'if, dan Marwan pun ikut besertanya. Nabi tak mengizinkan mereka kembali lagi ke Madinah selama hidup beliau. Abu Bakar dan 'Umar pun berbuat demikian. Tetapi, 'Utsman memanggil mereka dalam tnasa pemerintahannya, dan mengangkat Marwan pada jabatan yang demikian tinggi seakan-akan kendali kekhalifahan berada di tangannya. Setelah itu keadaannya nampak senang; pada saat matinya Mu'awiah ibn Yazid, ia menjadi Khalifah kaum Muslim. Tetapi, baru memerintah selama sembilan bulan delapan belas hari, ia mati sementara istrinya menduduki bantal di atas kepalanya; ia tak melepaskan bantal itu sehingga ia mati.
Keempat anak lelaki yang disinggung Amirul Mukminin itu ialah anak-anak 'Abdul Malik ibn Marwan, yakni Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam, yang menjadi Khalifah susul-menyusul dan mewarnai lembaran sejarah dengan riwayat mereka. Sebagian pensyarah memandang rujukan ini kepada anak-anak Marwan sendiri yang bernama 'Abdul Malik, 'Abdul 'Aziz, Bisyr dan Muhammad. Di antara mereka, 'Abdul Malik menjadi Khalifah tetapi 'Abdul 'Aziz menjadi Gubernur Mesir, Bisyr Gubernur 'Iraq dan Muhammad menjadi Gubernur al-Jazirah.
19. Khutbah ke-73.
20. Khutbah ke-116.
21. Detail insiden ini ialah bahwa pada suatu hari al-Hajjâj berdiri untuk salat ketika al-Khunfusâ' maju kepadanya. Al-Hajjaj mengulurkan tangannya untuk menghentikannya tetapi ia menggigitnya sehingga tangan itu bengkak dan akhirnya ia mati karenanya.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
4+4 =