Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

SABAR


Tim Akhlak



Umat manusia, dalam kesehariannya, selalu melakukan interaksi sosial. Setiap individu memiliki karakter yang khas serta mempunyai watak, tabiat, perangai, perilaku dan cara berpikir yang berbeda. Dari sekian banyak perilaku dan akhlak itu, ada yang tercela dan menyakiti hati orang lain. Perbuatan dan perlakuan yang buruk ini menimbulkan sikap-sikap yang tidak berkesan. Lalu yang harus diperhatikan ialah apa langkah kita dalam menghadapi perilaku yang buruk ini?
Jalan pertama ialah memutuskan hubungan dengan orang-orang yang berperangai dan berlaku buruk, dan hanya menjalin hubungan dengan orang-orang yang berperangai baik. Dengan jalan ini, manusia dapat hidup bersama dengan bahagia dan damai. Namun, jalan ini mustahil ditempuh karena tidak mudah menemukan orang-orang yang diinginkan. Pada dasarnya, manusia di dunia ini mempunyai tabiat, kepribadian, dan perangai yang bermacam-macam. Keanekaragaman ini ada di semua tempat. Oleh karena itu, jarang sekali ditemukan dua orang yang memiliki satu pandangan dalam segala hal, dan mereka bertemu satu sama lain dalam pencariannya. Satu hal lagi bahwa kebutuhan sosial manusia tidak sekadar berhubungan dengan orang-orang tertentu, di samping itu (tidak diketahui) bahwa dalam sebuah masyarakat, kita tidak berurusan dengan yang lain dan memutuskan hubungan dengan mereka, apakah mereka pun memutuskan hubungan dengan kita. Karena itu, gagasan ini tidak dapat dilakukan.
Jalan kedua, kita bersikap menentang keras dalam menghadapi orang yang berperilaku buruk dan tercela. Kita mengubah perilaku buruk mereka dan bila perlu mengadakan perdebatan dengan mereka, supaya mereka menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan berbuat buruk lagi. Jalan ini mungkin pada awalnya adalah baik. Karena itu, dipandang sebagai satu-satunya jalan yang terbaik, hanya sikap otoriterlah yang disepakati dan setelah itu diperkirakan orang tidak mau lagi berlaku buruk terhadap yang lain atau tidak membalas orang yang bersikap kasar dan memaksa dirinya. Hanya dengan cara ini, semua orang akan hidup damai, tentram dan makmur. Namun, cara ini jelas tidak realistis dan mustahil. Dengan mengkaji sejarah beraneka ragam masyarakat, dapat kita temukan bahwa ketika api kemarahan masyarakat berkobar, maka secara bertahap akan mucul peperangan, pertikaian dan banyak menumpahkan darah serta berbagai kasus pembunuhan. Pada akhirnya, ketika peperangan menimbulkan pihak yang kalah dan menyerah kemudian mengubur api dendam dan kemarahan, maka kapanpun akan terjadi peperangan untuk yang kedua kalinya. Di saat mengkaji akar-akar permusuhan, akan kita lihat bahwa masalah kecil dan sepele, dampak dari sikap kasar dan tidak ramah satu sama lain, secara perlahan akan menjadi masalah besar dan semakin tajam. Akhirnya dua pihak saling berperang. Hal lain yang harus diperhatikan ialah ketika langkah yang ditempuh adalah dengan kekerasan dan pemaksaan, maka secara alami mereka menghadapi kita dengan sikap yang serupa. Bilamana perlakuan kita terhadap rnereka buruk, maka mereka akan melawan kita dengan hal yang sama. Dalam gambaran ini, harus kita terima bahwa dengan cara kekerasan, tidak seorang pun yang akan merasa aman dan masyarakat akan saling mencela, bertikai dan bermusuhan. Jelaslah bahwa hal ini akan mengantarkan kita kepada kesengsaraan dan marabahaya. Maka dapat kita simpulkan bahwa jalan yang kedua ini tidaklah benar.

Lalu Apa Jalan Penyelesaiannya?

Jalan keluarnya menurut Islam adalah sikap sabar, tabah dan meredam kemarahan.
Dalam menjelaskan ini, ada tiga hal yang kami terangkan:
l-Kedudukan marah dan emosi dalam pandangan Islam, dan memanfaatkan kekuatan emosional;
2-Nilai dan pentingnya sabar, tabah serta meredam kemarahan menurut ajaran Islam; dan
3-Pandangan Islam tentang sikap sabar dan kedudukan sabar di dalam bermasyarakat serta metode dan langkah para pemuka agama dalam menghadapi perilaku buruk orang lain.

Bagian Pertama: Marah

Banyak riwayat dan hadis yang menyatakan bahwa marah adalah perbuatan tercela dan berlawanan dengan norma agama, dan Islam menyarankan agar kaum Muslimin menjauhi sifat ini. Kali ini, beberapa riwayat tentang marah yang merupakan kunci dari keburukan adalah sebagai berikut:
Imam Shadiq as. berkata, “Marah adalah pintu segala keburukan.” (al-Bihâr, juz 73, bab 132, hadis ke-4)
Imam Ali as. pernah berkata, “Marah adalah keburukan. Jika engkau lepaskan, ia akan membinasakan.” (al-Mustadrak, juz 12, bab 53, riwayat no. 13376)
Beliau juga berkata, “Marah akan menghancurkan pelakunya dan membongkar cela-celanya.” (al-Ghurar, juz 2, h.31)
Beliau berkata, “Marah memunculkan dendam kesumat.” (al-Ghurar, juz 2, h.155)
Dalam riwayat lain di bawah ini marah dinyatakan sebagai penyulut api.
Rasulullah saw. bersabda, “Marah adalah sulutan api setan.” (al-Bihâr, juz 73, bab 132, hadis 15)
Imam Ali as. berkata, “Marah adalah api yang menyala. Barangsiapa menahannya berarti telah memadamkannya dan barangsiapa melepaskannya maka dialah yang pertama menyulutkan api dengannya.” (al-Mustadrak, juz 12, bab 53 riwayat no. 13376)
Beliau juga berkata, “Waspadalah terhadap marah! Sesungguhnya marah adalah salah satu tentara besarnya iblis.” (al-Bihâr, juz 32, bab 29, hadis ke-707)
Dalam riwayat lain, marah adalah bagian dari kegilaan. Imam Ali as. berkata, “Jauhilah marah! Karena marah awalnya gila dan akhimya adalah penyesalan.” (al- Mustadrak, juz 12, bab 53, riwayat no. 13376)
Beliau pernah berkata, “Marah adalah bagian dari gila. Sebab, pelakunya akan menyesal dan jika tidak menyesal, maka kegilaannya semakin kuat.” (al-Bihâr, bab 132, hadis 20)
Dan beliau berkata, “Marah dapat merusak akal dan jauh dari kebenaran.” (al-Mustadrak, juz 12, bab 53, riwayat no. 13376)
Begitu pula, Imam Shadiq as. pernah berkata, “Sesiapa yang tidak pernah mengalahkan kemarahannya niscaya tidak pernah mempunyai akalnya.” (al-Bihâr, juz 73, bab 132, hadis ke-33)
Setelah kita mengetahui dari riwayat hadis-hadis, bahwa marah adalah perbuatan buruk dan hina, pada bagian lain menahan marah merupakan perbuatan yang berkesan dan terpuji. Imam Ali berkata, “Penguasa yang terbaik adalah yang mampu menguasai kemarahannya.”
Beliau juga berkata, “Orang yang paling mampu berjalan dan berkata yang benar adalah orang yang tidak pernah marah.”
Atau beliau berkata, “Menanglah atas setan bagi orang yang mengalahkan kemarahannya dan menanglah setan atas orang yang dikuasai oleh kemarahannya.” (Ghurar al-Hikam, juz 2, h.274)
Imam pernah berkata, “Marah adalah musuh maka jangan sampai ia menguasai dirimu.”
Beliau berkata pula, “Sesiapa yang dikalahkan oleh kemarahan dan hawa nafsunya maka ia tergolong binatang.”
Dalam riwayat lain, orang yang mengalahkan kemarahannya adalah manusia yang terkuat. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang kuat bukan orang yang jago gulat tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya di saat marah.” (al-Bihâr, juz 77, bab 7, hadis ke-l)
Beliau pernah bersabda, “Yang benar-benar pemberani, yang benar-benar pemberani, yang benar-benar pemberani adalah orang yang sedang marah, ia geram sekali dengan mukanya yang merah padam serta tubuhnya bergetar, kemudian ia melumpuhkan kemarahannya.”
Imam Ali as. berkata, “Orang yang paling kuat adalah orang yang kuat menahan marahnya.”
Imam Baqir as. pemah berkata, “Tiada kekuatan seperti menahan marah.” (al-Bihâr, juz 78, bab 22, hadis ke-l)
Berikut ini adalah sebuah kisah yang disadur dari sejarah kehidupan Rasulullah saw.
Seorang Arab badui datang berkunjung ke Madinah dan menemui Rasulullah untuk mendengarkan pesan dan nasihat beliau. Kepadanya, Nabi bersabda, “Jangan marah!” Rasulullah mengatakan tidak lebih dari itu dan orang itu mengatakan, “Aku merasa puas dengan kata yang singkat ini.” Ketika ia telah kembali ke kampung halamannya, ia mendengar bahwa karena kebodohan sebagian orang dari sukunya yang merampas harta milik suku lain, terjadilah pertikaian, pertentangan, dan dua kabilah itu saling bertikai, beradu, dan melukai satu sama lain. Mendengar berita itu, ia langsung melompat, menyandang pedang dan siap berperang. Namun di tengah kondisi seperti itu, ia teringat pesan Rasulullah saw. yang mengatakan, “Jangan marah!” Karenanya ia berpikir, “Mengapa mesti mengumbar kemarahan, bertikai dan saling membunuh?” Setelah merenungkan, lalu ia berdiri di hadapan kepala-kepala suku lawan dan mengusulkan, “Bagi semua yang dirugikan dan dilukai, maka ia harus mendapatkan ganti rugi dari pelakunya dengan hartanya dan tidak harus menumpahkan darah seperti ini!”
Mendengar usulan orang itu, maka kemarahan pihak lawan menjadi reda. Dan mereka mengatakan, “Kami juga memiliki kemuliaan yang telah Anda katakan itu, karena itu kami juga akan menyampaikan kebenaran kami.” Begitulah yang terjadi, bahwa sabda Rasulullah saw. yang amat singkat itu telah mematikan api peperangan dan permusuhan yang sedang berkobar.
Dari riwayat ini, maka marah ada dua sisi. Yang pertama adalah marah itu perbuatan tercela, dan yang kedua mengendalikan marah adalah perbuatan terpuji. Ada juga sisi yang ketiga, yaitu anjuran marah dan orang yang menampakkan kemarahannya. Namun, riwayat tentang ini haruslah diperhatikan bahwa marah macam ini mempunyai alasan dan tujuan, yaitu marah yang benar dan di jalan Allah swt.
Tentang marah macam ini, Imam Ali as. berkata, “Barangsiapa yang mengasah senjata kemarahannya karena Allah niscaya akan mampu mengalahkan orang-orang kuat yang batil.” (al-Bihâr, juz 71, bab 89, hadis ke-6)
Beliau juga berkata, “Sesiapa yang bermusuhan dengan orang-orang fasik dan marah karena Allah niscaya Allah akan marah karenanya dan meridhainya di hari kiamat.” (al-Bihâr, juz 68, bab 27, hadis ke-17)
Ketika Imam menyampaikan salam perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar di saat ia akan diasingkan dari Madinah, beliau berkata kepadanya, “Wahai Abu Dzar! Engkau marah karena Allah maka mohonlah kepada yang karena-Nya engkau marah! Sesungguhnya orang-orang takut kepadamu karena dunia mereka, sedangkan engkau takut karena agamamu, maka tinggalkanlah apa-apa yang di tangan mereka yang mereka takut kepadamu karenanya. Dan menjauhlah dari mereka karena takutmu atas agamamu. Alangkah butuhnya mereka kepada sesuatu yang engkau cegah diri mereka, dan alangkah cukupnya engkau dari apa yang mereka cegah dirimu. Kelak engkau akan tahu siapa yang beruntung dan siapa yang paling rugi. Seandainya langit dan bumi tertutup bagi seorang hamba, kemudian ia bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan sungguh tiada yang dapat menyenangkan hatimu kecuali kebenaran dan tiada yang mengkhawatirkan melainkan kebatilan, andai engkau rela dengan dunia mereka niscaya mereka akan selalu mencintaimu dan andai engkau mempunyai utang dunia kepada mereka niscaya mereka akan melindungimu.”
Nabi Musa as. dalam munajatnya, bertanya, “Siapakah kerabat-Mu yang Engkau lindungi di bawah ‘Arsy-Mu di hari tiada perlindungan melainkan perlindungan-Mu?”
Allah swt. berfirman, “Orang-orang yang marah di kala larangan-larangan-Ku mereka halalkan, laksana macan di kala terluka.” (al-Bihâr, juz 13, bab 11, hadis ke-42)
Dari riwayat ini, maka dapat disimpulkan bahwa kekuatan emosional yang Allah karuniakan kepada manusia berguna agar kita mampu menjaga keutuhan, kehormatan, dan kemuliaan agama. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan kekuatan ini untuk melawan orang-orang yang menentang agama dan ajaran suci Nabi. Dalam rangka mernbela urusan ini, kita harus memanfaatkan sifat marah dengan sebaik-baiknya. Seorang Muslim sadar bahwa dirinya tergadai oleh nikrnat-nikmat Allah dan mendapatkan kemuliaan dari agama Allah, maka pada hakikatnya musuh Allah adalah musuh dirinya dan orang yang menentang hukum dan agama Allah berarti orang menentang kehormatan dirinya. Karena itu, seorang Muslim dalam semua kondisi di saat agama Allah dikecam dan hukum-hukum agama ditentang, dalam kondisi apapun, orang-orang mukmin ditugaskan oleh Allah untuk membelanya. Mereka memperlihatkan kemarahan mereka karena Allah memberi perintah kepada Nabi-Nya saw. agar bersikap keras dan marah terhadap orang-orang munafik dan kafir. Firman Allah, “Wahai Nabi! perangilah orang-orang kafir dan munafik, dan bersikaplah keras terhadap mereka.” (QS at-Taubah:73)
Demikian halnya salah satu sifat orang-orang mukmin dalam Al-Quran disebutkan, “Bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS al-Fath:29)
Adapun bersikap marah dan dendam terhadap saudara seagamanya adalah perbuatan tercela dan dilarang. Pada riwayat di bagian pertama, hal tersebut telah kami paparkan, yaitu yang menerangkan bahwa orang-orang mukmin diperingatkan agar dalam bentuk apapun tidak bermusuhan satu sama lain.
Setelah kita mengetahui bahwa marah diperbolehkan hanya terhadap para musuh, dan tidak terhadap orang-orang mukmin, berikut ini, kita ketengahkan bagaimana pandangan Islam tentang sikap dalam menghadapi perilaku kawan dan saudara seiman yang menyimpang.
Sebagaimana tersebut di atas, dalam hal ini Islam memberikan pandangan bersabar, memaafkan, dan menahan marah. Menurut Islam, untuk menghadapi banyak perselisihan dan perbedaan, penyimpangan moral dan pemahaman yang salah di tengah masyarakat adalah dengan bersabar dan memaafkan tanpa harus ribut, saling berdebat bahkan terkadang sampai terjadi pertikaian, dan tanpa harus mendatangi hakim. Dalam sumber-sumber Islam, di samping diterangkan nilai kedudukan sabar dan sabar dipandang sebagai sifat orang-orang mukmin yang sempurna, diterangkan pula buah hasil dari sifat sabar dan menahan marah.
Di dalam Al-Quran, Allah swt. menyatakan bahwa sabar dan maaf merupakan dua sifat yang kokoh (QS Ali Imran:134).
Dalam ayat lain, Allah mewasiatkan bahwa kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan, tetapi harus dibalas dengan sikap yang baik (QS Fushshilat:34-35).
Oleh karena itu, Allah swt. memberi petunjuk bahwa dengan sabar dan ketabahan, maka kebencian berubah menjadi rasa cinta dan sayang. Di saat pertikaian terjadi, maka guncangan jiwa yang harus diredam bukan dengan memusuhi dan memerangi.
Diriwayatkan, suatu hari seseorang di hadapan Imam Ali as., mencela dan menghina budaknya yang bernama Qanbar. Supaya orang itu diam, maka Qanbar menghampirinya. Pada saat itu, Imam berkata, “Tahanlah hai Qanbar! Biarkanlah orang ini, sebab hal ini akan membuat Allah senang dan menyebabkan setan sedih serta membencimu. Demi Tuhan yang menumbuhkan bebijian dan menciptakan manusia! Tiada seorang mukmin yang membuat Tuhan tidak meridhainya sebagaimana dengan kesabarannya ia diridhai dan setan resah sebagaimana dengan diamnya (menahan marah) setan menjadi resah. Dan Dia tidak mengganjar orang-orang bodoh sebagaimana dengan ketidakpeduliannya Dia memberinya pahala.”
Sekarang akan kita kaji kesabaran, ketabahan dan menahan marah dalam pandangan orang-orang suci as. Beberapa riwayat hadis tentang hal ini akan menerangkan tiap keutamaan dari dua:sifat tersebut. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama kandungan-kandungan beberapa riwayat berikut ini:
Imam Ali as. berkata. “Tabah adalah sebuah tabir yang menutupi kehancuran.” (Nûr al-Haqiqah dan Nûr al-Hadiqah, h.213)
Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Tabah adalah sebuah cahaya yang hakikatnya adalah akal.”
Beliau juga berkata, “Tiada kemuliaan yang lebih tinggi daripada sifat tabah.” (al-Bihâr, juz 71, bab 93, hadis ke-32).
“Belajarlah tabah karena sesungguhnya tabah itu teman dan wakil orang mukmin.” (al-Bihâr, juz 79, bab 16, hadis ke-140)
Beliau pernah berkata, “Aku wasiatkan kepadamu sifat tabah, karena sesungguhnya tabah itu buah ilmu.” (al-Bihâr, juz 71, bab 93, hadis ke-35).
Dalam riwayat lain beliau berkata, “Sungguh menakjubkanku seseorang yang dikendalikan oleh ketabahannya di kala ia marah.” (al-Bihâr, juz 71, bab 93, hadis ke-13)
Sebuah riwayat dari Imam Shadiq as. telah menjawab pertanyaan, “Apakah dalam menghadapi perilaku yang buruk, dengan memaafkan dan menahan marah tidak menyebabkan kehinaan?” Seorang lelaki datang kepada Imam Ja’far Shadiq as. dan berkata, “Antara aku dan sekelompok orang berselisih tentang suatu masalah. Aku berniat untuk meninggalkan keributan, namun mereka mengatakan kepadaku, “Jika meninggalkan keributan ini, Anda akan merasa hina.” Tentang hal ini bagaimana menurut Imam?”
Imam menjawab, “Sesungguhnya orang yang hina adalah orang yang lalim.” (al-Mahajjat al-Baidha, juz 5, h.313)
Dari semua riwayat dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan kasih sayang dan persaudaraan antara orang-orang mukmin adalah dengan menghindari permusuhan dan pertikaian antara mereka. Pemuka agama mengajak orang-orang mukmin agar bersabar dan meredam api kemarahan dalam menghadapi perilaku yang tak pantas dan kesalahpahaman. Memaafkan itu sarat dengan nilai dan secara alami, banyak memiliki dampak positif, baik dari sisi duniawi maupun dari sisi ukhrawi.

Sikap yang Sabar

Dalam pembahasan ini, akan kami bawakan beberapa contoh sikap dan perilaku para pembesar agama dalam menghadapi tingkahlaku buruk dan keburukan moral orang lain. Sehingga, di samping dapat kita ketahui bahwa, pertama dengan kesabaran mereka mampu memberantas perilaku yang buruk dan mengubahnya menjadi perilaku yang baik. Kedua bahwa cara yang benar dan merupakan akhlak yang baik adalah sikap bersabar. Kemudian akan kita ketahui dampak-dampak positif dari sabar dan menahan marah. Pada contoh pertama, kami mengutip cara dan metode Rasulullah saw. dalam menghadapi perselisihan umatnya.
Aus dan Khazraj adalah dua kabilah besar di Madinah. Di zaman jahiliyah, dua suku ini saling bertikai dan berperang satu sarna lain, dan saling membunuh. Setelah Nabi saw. hijrah ke kota itu, berkat Islam dan Nabi yang agung, maka mereka bersepakat untuk berdamai, bersaudara, dan saling menyayangi. Dua kabilah ini hidup dengan tentram.
Pada suatu hari, Syas bin Qais, salah seorang sesepuh Yahudi di Madinah duduk bersama orang-orang yang terdiri dari dua kabilah ini. Ia merasa iri ketika melihat mereka berbicara satu sama lain dengan lembut dan penuh kasih sayang, akrab dan akur. Karena hal ini, timbul gagasan untuk menceraiberaikan mereka. Ia lalu mengutus seorang pemuda Yahudi agar duduk bersama mereka dengan tujuan mengingatkan kembali masa yang disebut dengan Yaum Bughats, yang di kala itu terjadi perang besar antara mereka dan banyak sekali dari dua kabilah tersebut yang terbunuh.
Pemuda Yahudi itu telah melakukan tugasnya, sehingga lambat laun timbullah pergolakan antara mereka. Mereka satu sama lain geram dan marah, dan hendak saling bertikai. Kemudian mereka bangkit dari duduk dan siap menghunuskan pedang. Berita kejadian ini menyebar hampir di seluruh kota dan secara bertahap orang-orang yang lainnya dari masing-masing kabilah menyusul mreka. Ketika berita ini sampai di hadapan Rasulullah saw., beliau bergegas mendatangi mereka dan berteriak kepada mereka, “Hai kaum Muslimin! Allah! Allah! Apakah kalian telah kembali ke cara kejahiliahan saat aku berada di antara kalian, setelah Allah swt. memberi petunjuk bagi kalian kepada Islam dan memuliakan kalian dengannya, setelah memutuskan kalian dari urusan jahiliah dan menyelamatkan kalian dari kekufuran serta menjadikan kalian saling menyayangi?”
Perkataan Rasulullah saw. tersebut mampu meredam dua pihak yang saling bertengkar dan marah. Akhirnya, mereka membuang senjatanya ke tanah dan menyatakan kepada Nabi saw. bahwa rnereka menyesali apa yang diperbuat dan patuh kepada Nabi. Dengan demikian, api fitnah yang disulut oleh seorang pemuda Yahudi itu menjadi padam.
Dalam riwayat lain dikisahkan, “Seorang Arab badui datang ke Madinah dan masuk ke Masjid dengan maksud meminta uang kepada Nabi saw. Ia masuk ke masjid saat Nabi sedang duduk bersama para sahabat. Orang Arab itu mengatakan keperluannya dan Nabi memberinya uang. Tetapi, orang itu merasa tidak cukup dan mengeluarkan kata-kata yang tak pantas serta mencela Nabi. Maka para sahabat naik pitam dan hendak melawannya. Namun Rasulullah mencegah mereka. Kemudian saat itu, Rasulullah mengajaknya ke rumah beliau dan memberinya lagi uang untuk keperluannya. Melihat kondisi kehidupan Nabi saw., orang Arab dusun itu salah sangka bahwa ia menduga kehidupan Nabi seperti kehidupan raja-raja. Kehidupan Nabi ternyata biasa dan sangat sederhana. Pada saat itu juga, orang Arab itu meminta maaf dan mengucapkan terimakasih. Rasulullah berkata kepadanya, “Kemarin kamu di hadapan para sahabatku mengatakan kata-kata kasar kepadaku. Tetapi, sekarang ketika aku sendirian, kamu mengucapkan terimakasih kepadaku. Aku khawatir mereka menyakiti kamu. Jika kamu mau, ucapkanlah terimakasih seperti yang kamu lakukan saat ini.” Orang Arab itu setuju.
Di hari berikutnya, Rasulullah membawanya ke masjid dan mengatakan kepada mereka, “Lelaki ini ingin mengutarakan terimakasih kepada kita, bukankah begitu?”
“Ya benar!” katanya. Sekali lagi, di hadapan para sahabat, ia berterimakasih kepada Rasulullah. Kemudian Nabi menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Perumpamaan aku dan orang ini, ibarat seseorang yang untanya kabur. Orang-orang ingin menolong si pemilik unta dengan mengejar untanya, dan mereka berteriak, namun perbuatan ini membuat unta berlari semakin kencang. Karena itu, si pemilik meminta mereka agar jangan membantu mengejarnya supaya untanya bisa kembali dengan sendirinya. Cukup dengan membawa rumput tanpa harus menjerit dan menyodorkannya di hadapannya. Ketika unta sibuk makan rumput, maka dengan mudah ditarik untuk pulang. Sekarang apabila kemarin aku membiarkan kalian, maka pasti orang ini, karena sikap kasarnya, akan terbunuh di tangan kalian, namun dengan sikap lembut dan sopan, aku mampu membuat dirinya sadar.”
Kisah yang lain adalah tentang sikap dan perilaku Imam Hasan al-Mujtaba as. Suatu hari seorang lelaki, penduduk Syam, melihat Imam berkendaraan dan ia mencaci Imam habis-habisan. Imam diam saja dan tidak membalas apa-apa. Namun ketika orang itu diam, Imam menghampirinya dan mengucapkan salam kepadanya. Imam tersenyum dan berkata, “Wahai kisanak! Aku kira Anda orang asing dan Anda salah jalan. Jika Anda perlu sesuatu akan kubawakan kepada Anda. Jika Anda ingin petunjuk jalan akan kuantarkan. Jika Anda perlu bantuan akan kutolong, dan jika Anda lapar akan kuberi makan. Jika Anda tidak mempunyai baju akan kuberi baju. Jika Anda butuh perlindungan akan kulindungi dan apa keperluan Anda akan kubawakan. Jika tujuan Anda kepada kami sebagai tamu, kami sambut kedatangan Anda. Pokoknya, tempat dan sarana terserah keinginan Anda.”
Mendengar sikap beliau yang lembut dalam bertutur kata dan sopan, ia malu dan menangis, serta berkata, “Aku bersumpah! Anda adalah khalifatullah di muka bumi ini. Allah Maha Mengetahui dimana Dia menurunkan risalah-Nya, Anda dan ayah Anda, selama ini adalah makhluk Allah yang paling aku benci, namun sekarang kalian adalah orang yang paling aku cintai.” Demikianlah dengan sikap sabar, Imam begitu mudah menyadarkan orang yang merupakan musuh paling fanatik, yang terpengaruh oleh propaganda-propaganda Bani Umayyah dan mengubahnya menjadi orang yang sangat mencintai beliau.

Etika Islam; Penerbit Al-Huda, Jakarta; Juli 2003/ Jumadil Ula 1424 H.; Hal. 79 – 95.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+2 =