Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

FILSAFAT ETIKA SOSIAL ISLAM


Tim Akhlak


Kita tahu, di dunia ini tidak ada yang memiliki kesempumaan absolut kecuali para imam suci as. Artinya, semua manusia secara relatif mempunyai kelemahan dan kekurangan.
Untuk mengatasi semua itu dan agar dapat sampai kepada perkembangan dan kesempumaan hakiki, mereka satu sama lain saling membutuhkan. Seseorang tidak akan mampu menjalani hidup sendiri dalam memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan materi maupun maknawi, dalam arti dapat mewujudkan prinsip, cita-cita dan kesempurnaan, tanpa kehadiran seseorang yang lain walaupun hanya dalam pandangan dan bertukar pikiran. Kita mafhum, di satu sisi, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan materi dan duniawi, yang mau tidak mau ia harus berusaha memenuhinya. Sementara di sisi lain, terdapat kebutuhan-kebutuhan ruhani dan spiritual, yang tidak mungkin bisa dicapai sendiri.
Manusia memiliki kebutuhan berupa pengetahuan spiritual dan alam akhirat, yang hanya dapat dipenuhi dengan mempelajari ilmu, mencari pengalaman serta bekerja sama dengan orang lain. Dengan terangkatnya kekurangan-kekurangan, ia menjadi manusia sempurna. Demikian pula perlu diperhatikan, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut kita membutuhkan bantuan orang lain. Selain itu, kita menghadapi faktor-faktor yang menghambat dan merintangi kita dari jalan yang baik dan benar, berupa musuh-musuh kafir yang memerangi Islam dan kaum muslim, setan-setan yang dengan bujukannya hendak menyesatkan semua umat manusia dari jalan Allah swt. dan masalah-masalah serta cobaan yang menyibukkan kita dalam keadaan apapun.
Dalam rangka meningkatkan, mengembangkan, dan menyempurnakan diri, kita mau tidak mau perlu mencari jalan untuk mengatasi segala masalah tersebut. Semua itu merupakan faktor-faktor yang merintangi jalan kita. Untuk menyelesaikan semua masalah dan mengalahkan musuh serta setan, kita tidak mempunyai jalan lain. Hanya ada satu jalan, yaitu dengan menjalin persatuan, sehati dan sejalan di antara orang-orang mukmin serta menjauhi permusuhan, perpecahan dan fitnah. Dan mereka saling menggenggam tangan dalam satu barisan yang bersatu melawan para musuh, dan memerangi mereka baik ‘musuh luar maupun dalam’ (orang-orang kafir dan setan).
Rasulullah saw. bersabda, “Kaum muslim bagaikan satu tangan di hadapan para musuhnya.”
Apabila persatuan ini tidak ada, maka tidak akan ada kekuatan dan kemampuan untuk mengalahkan para musuh.
Karena itu, Allah swt. melarang orang-orang mukmin bertikai dan berpecah belah di antara mereka, yang menyebabkan lenyapnya kekuatan mereka. Dalam Al-Quran, Allah berfirman, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfâl:46)
Selain itu dikatakan, perpecahan adalah perkerjaan Fir’aun. Allah berfirman, “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan di antara mereka.” (QS al-Qashash:4)
Jelas, Fir’aun dan yang serupa dengannya, untuk dapat memenuhi keinginannya dan mendapatkan kekuasaan serta kedudukan atas umat manusia, ia harus membuat mereka terpecah-pecah menjadi beberapa golongan, dengan menciptakan perbedaan-perbedaan di antara mereka, mereka dipecah dan dicerai-beraikan, sampai benar-benar tidak mempunyai kemampuan untuk bangkit melawan kezaliman dan dianiaya para penindas, disebabkan perpecahan muncul di tengah mereka sendiri.
Dengan demikian, Al-Quran mengatakan, perpecahan dan permusuhan di antara orang-orang mukmin adalah amal perbuatan dan ambisi setan. Allah berfirman, “Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian...” (QS al-Mâidah: 91)
Imam Ali as. bersabda, ‘Tidak akan pernah bersatu suatu kaum dalam menyelesaikan perkara, kecuali mereka menjadi kuat dan bangunan-bangunan agama mereka kukuh tidak akan pemah memanfaatkan kekuatan itu kecuali, Allah menyingkirkan kesulitan mereka dan Allah menyelamatkan mereka dari cobaan-cobaan yang hina, dan Allah tunjuki mereka ke jalan petunjuk dan tujuan.”
Dalam Nahj al-Balâghah, dengan melihat sejarah umat-umat terdahulu, Imam Ali as. memperlihatkan kepada umat manusia agar mereka melihat hikmah persatuan dan kesesuaian, dan dampak perpecahan dan perceraian.
Khutbah beliau dalam kitab Nahj al-Balâghah yang dikenal dengan khutbah Qâshi’ah (Khutbah ke-191), mengatakan:
“Hati-hatilah! Kebinasaan yang dialami umat-umat dahulu, disebabkan perbuatan mereka yang buruk dan tercela. Ingatlah keadaan mereka ketika baik dan ketika buruk. Jauhilah menjadi kaum seperti mereka. Jadi, di manapun kalian berada, berpikirlah tentang perbedaan keadaan mereka, sehingga kalian memahami dan menyadari bahwa bila kaum itu unggul dan musuh-musuhnya kalah; keselamatan dan kedamaian mereka yang abadi; karunia dan nikmat mereka yang melimpah; dan derajat kemuliaan mereka kukuh, (semua itu disebabkan karena mereka) menjauhi perpecahan dan memperkuat tali kasih sayang, hubungan sehati dan saling mengingatkan akan cinta dan kasih sayang. Jauhilah.setiap perbuatan yang menyebabkan kehancuran dan kekuatan mereka. Faktor yang menyebabkan mereka hancur ialah kebencian hati, kekikiran, kedengkian, melecehkan dan merendahkan yang satu terhadap lainnya.
“Demikian pula, renungilah apa yang dialami orang-orang mukmin terdahulu, dan lihatlah bagaimana mereka menghadapi cobaan, ujian dan kesulitan. Apakah membuat mereka semakin tidak peduli dengan saudaranya yang lain? Bukankah kehidupan mereka lebih sulit daripada para penghuni bumi yang lain? Mereka tabah menghadapi siksaan-siksaan para Fir’aun. Mereka mengalami kehidupan yang sulit dan pahit. Mereka selalu dalam keadaan hina dan tertindas. Mereka tidak punya pilihan dan jalan keluar untuk membela diri mereka, sehingga Allah swt. memperhitungkan kesungguhan mereka dijalan yang mereka cintai dan ketabahan mereka dalam menghadapi berbagai kesulitan karena mereka takut kepada Allah, dan Allah bebaskan mereka dari cobaan dan musibah; memuliakan mereka yang dalam keadaan terhina; menenteramkan batin mereka yang dalam ketakutan, dan Allah menjadikan mereka para pemimpin dan manusia-manusia teladan dan mereka mulia dan agung di sisi-Nya sebelum mereka mengharapkannya.
“Karena itu perhatikanlah baik-baik, bahwa kemuliaan-kemuliaan itu tidak akan diperoleh, kecuali mereka sama-sama bersani, satu keinginan, satu kedamaian hati dan satu genggam tangan, saling membela dan membantu, dan saling peduli serta satu tujuan. Dengan adanya faktor-faktor tersebut, adakah di dunia ini raja dan penguasa manusia? Renungilah akibat dari apa yang mereka lakukan. Ketika di antara mereka terjadi perpecahan, maka kasih sayang mereka berserakan dan hancur, ucapan dan hati mereka berlainan, mereka menjadi golongan-golongan yang satu sama lain berselisih dan mereka sibuk dengan saling berperang, sehingga Allah mencopot pakaian kemuliaan mereka, dan mencabut kenikmatan-kenikmatan yang mereka ingkari, dan kini mereka tak ubahnya sebuah hikayat tentang catatan mereka yang menjadi renungan bagi kalian.”
Dengan mernperhatikan secara saksama keterangan- keterangan yang memukau dari Amirul Mukminin as. bahwa dalam pandangan beliau untuk mencapai kemuliaan, kekuatan, kemampuan dan kekeramatan serta dalam mengatasi berbagai kesulitan dan kepahitan, kemewahan dunia dan karunia Allah yang tak terhitung, bergantung pada persatuan, sehati dan sejalan. Sebaliknya, kehinaan, kekurangan dan kemiskinan, ketakutan dan kekalahan serta kebinasaan suatu umat disebabkan perpecahan, kebencian dan permusuhan, kekikiran dan menjauhnya mereka satu sama lain.
Secara keseluruhan, penjelasan tersebut menyimpulkan bahwa etika Islam bermasyarakat itu berlandaskan kukuhnya kemuliaan, kesucian dan cinta, persaudaraan dan saling menghormati, saling percaya dan ridha, saling membantu dan bahu-membahu. Semua nilai dan kedudukan ini adalah dalam rangka satu tujuan dan sebuah usaha untuk mencapai keridhaan Allah. Jadi, jika kita melihat bahwa Islam melarang pemeluknya berbuat ghibah, mencela dan menghina satu sama lain, hal itu disebabkan martabat dan harga diri orang-orang mukmin tetap terpelihara apabila mereka mencegah buruk sangka, kedengkian dan sebagainya. Agar jangan sampai muncul fitnah dan permusuhan di antara mereka. Jika mereka sendiri yang menginginkan berakhlak baik satu sama lain, bermuka manis dan bertutur sopan, itu didasarkan rasa kasih sayang dan cinta antara mereka. Apabila mereka saling mengunjungi dan menjumpai dan bekerja sama dalam mengatasi masalah dan kesulitan, serasa dalam suka dan duka, hal itu dalam rangka menambah kasih sayang dan cinta mereka sehingga persaudaraan dan persahabatan mereka langgeng.
Ringkasnya, dengan terjalinnya semua itu hanya ada satu bayangan dalam pikiran kita, yaitu mereka pasti bisa bersatu padu dan meraih kemuliaan. Selain itu, orang-orang mukmin secara perorangan dengan melalui jalan ini, akan sampai pada kesempumaan dan kebahagiaan manusiawi. Hanya dengan mengamalkan perilaku dan akhlak sosial yang tinggi, kaum Muslim mampu menjadi teladan bagi yang lain. Sebab, sebagaimana telah kita ketahui, Allah menginginkan umat Islam menjadi contoh, panutan dan suri teladan bagi semua umat agama.
Firman Allah, “Dan demikian, Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)-mu.” (QS al- Baqarah:143)
Jadi, jika umat Islam demikian adanya, maka “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia...” (QS Al-Imran:110)
Berdasarkan ayat tersebut, menjadi contoh dan panutan bagi umat manusia, karena perbuatan dan langkah mereka yang benar, manusiawi dan rasional, bijaksana dan identik dengan kemuliaan, serta mampu memikul risalah suci ini, sebagai perwujudan dari ayat, “Jadilah kamu petunjuk bagi umat manusia tanpa lisan kamu.”
Setiap perkataan akan mengandung nilai dan pengaruh jika selaras dengan perilaku dan perbuatan yang baik dan terpuji. Jadi, jika kita ingin Islam semakin kuat dan tinggi dari hari ke hari, kaum muslim setiap hari semakin mulia dan berwibawa, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia, umat-umat lain simpati terhadap Islam, dan ajaran-ajaran sucinya dapat didengar dengan tulus, maka dengan amal perbuatan yang baik dan benar dan sikap yang terpuji, kita harus menjadi contoh dan teladan bagi mereka.
Di luar gambaran tersebut, apabila kaum non-muslim menyaksikan kita tidak saling toleransi, tidak menghormati dan tidak saling menolong atau sesama kita saling menjatuhkan dan merendahkan, selain itu rasa kasih sayang dan cinta kita berganti menjadi kebencian dan permusuhan satu sama lain dan sebagainya, maka pastilah mereka (non-muslim) tidak akan percaya lagi dengan pesan-pesan suci Islam, ayat-ayat suci Al-Quran dan mereka akan menjaga jarak dengan umat Islam. Di satu sisi, para musuh juga bersemayam dalam tubuh umat Islam, mereka akan memanfaatkan situasi perpecahan, kebencian dan permusuhan kaum muslim dan mereka dengan mudah menghancurkan kita dan Islam.
Oleh karena itu, secara ringkas dapat disimpulkan, bahwa tujuan-tujuan etika Islam yang mendasar dalam bermasyarakat, ialah untuk:
1.Mewujudkan dan memelihara kekuatan, kemampuan, kemuliaan dan kesucian umat Islam melalui perwujudan persatuan dan kesatuan di antara kaum Muslim;
2. Berusaha mengajak semua umat menuju Islam melalui menjadi contoh dan dan suri teladan dalam sikap dan perilaku sosial;
3. Saling membantu dalam mewujudkan perkembangan dan keagungan kaum mukmin dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat;
Tiga tujuan ini bisa diterima dengan memelihara penghormatan kepada yang lain, memperhatikan hak-hak dan kehormatan sesama, kasih sayang dan cinta antara kaum beriman.

Etika Islam; Penerbit Al-Huda, Jakarta; Juli 2003/ Jumadil Ula 1424 H.; Hal. 267 – 275.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+3 =