Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

GHIBAH


Tim Akhlak


Yang menjadi syarat utama bagi seorang Muslim dalam bermasyarakat ialah memelihara sifat-sifat tersanjung, antara lain sifat tawadhu, sikap adil, bermuka manis, menepati janji dan lain sebagainya.
Di sisi yang lain ada sifat-sifat tercela yang jika dipraktikkan akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran hubungan sosial antara orang-orang mukmin. Karena itu, menjauhi sifat-sifat ini merupakan bagian dari syarat etika sosial menurut ajaran Islam. Dan bagi orang-orang mukmin, menjauhi sifat-sifat tercela itu merupakan tugas syar’i. Bilamana perbuatan-perbuatan buruk itu dihindari dalam menjalin hubungan dengan yang lain, maka masyarakat dan hubungannya, pergaulan dan hidup berdampingan antar orang-orang mukmin akan menjadi jernih dan tentram.
Pada kesempatan kali ini kita akan membicarakan sifat-sifat yang kedua. Khususnya sifat-sifat yang paling penting untuk disadari.
Pertama dan yang terpenting dari kelompok perbuatan buruk itu ialah perbuatan mengumpat. Di bawah ini beberapa masalah yang akan kami bahas.

I. Pengertian Ghibah (Mengumpat)

Ghibah dalam bahasa ialah menjelekkan atau menceritakan keburukan orang lain di luar kehadirannya. Adapun makna secara istilah, ghibah dalam syariat dan akhlak Islam ialah membicarakan kekurangan dan aib saudara seagamanya di saat ia tidak hadir, dalam konteks ia akan sakit hati ketika ia mengetahui pembicaraan tentang dirinya, baik kekurangan sisi agamanya atau moralnya, atau sisi fisik, kata-kata sampai soal rumah, perabotan dan seterusnya.
Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Ghibah ialah singgunganmu tentang saudaramu yang tidak disukainya.”
Beliau ditanya, “Apakah termasuk ghibah jika aku bicara tentang saudaraku?”
Beliau menjawab, “Apabila kekurangan itu ada padanya, sungguh kamu telah mengumpatnya, dan jika tidak ada padanya sungguh kamu telah mencelanya.”
Diriwayatkan, sekelompok sahabat membahas tentang seorang lelaki di hadapan Nabi saw., di antaranya mereka mengatakan, “Orang itu sungguh lemah.”
Nabi saw. berkata, “Kalian telah mengumpatnya.”
“Kami bicara apa adanya tentang dirinya,” kata mereka.
Nabi berkata, “Jika pembicaraan kalian itu tidak ada
pada dirinya, berarti kalian telah menuduhnya.”
Imam Shadiq as. pernah berkata, “Ghibah ialah kamu berkata tentang saudaramu, yang aibnya ditutupi oleh Allah.” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-7)
Dengan memperhatikan secara saksama apa yang telah kami terangkan, dan yang telah kami bawakan dari riwayat hadis tentang ghibah, maka menjadi jelas bahwa masalah ghibah akan muncul di permukaan dengan syarat- syarat di bawah ini:
Pertama, ia bermaksud agar tersingkapnya aib yang dirahasiakan, dan jika tidak, maka aib-aib yang tampak tidak termasuk ghibah (meskipun di sisi lain bisa jadi perbuatan dosa).
Imam Musa Kazhim as. berkata, “Sesiapa yang menyebut kekurangan yang ada pada seseorang dari belakang dan orang-orang telah mengetahuinya, bukanlah perbuatan ghibah. Dan sesiapa menyebut kekurangan yang ada pada seseorang dari belakang dan orang-orang tidak mengetahuinya, maka ia telah melakukan ghibah, dan sesiapa yang menyebut kekurangan di luar diri seseorang, maka ia telah menuduhnya.” (hadis ke-6)
Kedua, di luar hal melontarkan aib atau kekurangan yang ‘ada pada diri seseorang’, bukanlah ghibah tetapi tuduhan yang tidak beralasan.
Ia bermaksud menyakiti seseorang di tengah orang-orang, namun apabila itu demi kebaikan (maslahat) dirinya maka bukan termasuk ghibah. Misalnya, menjelaskan cela (penyakit) seseorang untuk menyembuhkan sakit yang dideritanya.
Keempat, sasaran ghibah tertuju pada orang-orang mukmin (muslim), karena itu tidak masalah melakukan ‘ghibah’ kepada orang-orang kafir, musyrik, dan kaum ateis.
Kelima, orang yang di-ghibah jelas diketahui dan yang mendengarkan mengenalinya. Karena itu, jika membicarakan orang yang tidak dikenal, bukan termasuk ghibah.
Keenam, ghibah tidak dilontarkan pada orang yang jelas-jelas fasik dan fajir. Sebab, orang yang terang-terangan berbuat dosa dan keburukan itu tidak mempunyai harga diri dan masa bodoh dengan orang lain yang mengetahui perbuatan buruk dan dosanya.

II. Keharaman Ghibah

Untuk menjelaskan haramnya perbuatan dosa ini dan ukuran keburukannya dalam pandangan Islam, kami merujuk ayat-ayat dan riwayat hadis yang berkenaan dengannya.
Mengetahui ini merupakan hal yang harus, yang ukuran kemarahan, ketidakridhaan Allah, peringatan Nabi saw. dan para imam as. terhadap segala dosa, sifat-sifat tercela dan perilaku buruk dengan kata ibarat dan pemisalan, dapat dipahami dengan jelas.
Allah swt. berfirman, “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS al-Hujurat: 12)
Ayat ini memberi pemisalan bahwa orang yang digunjing ibarat orang mati dan perbuatan menggunjing ibarat memakan daging orang mati. Mungkin ibarat ini maksudnya adalah perbuatan menggunjing saudara seagamanya seperti membunuhnya dan memakan dagingnya setelah ia mati. Itu disebabkan bahwa dampak bagi orang yang di-ghibah itu membuat harga diri dan kehormatannya jatuh (di mata manusia) seperti tumpahnya darah, suliit diperbaiki kembali. Ketahuilah, pengharaman ghibah itu dalam rangka menjaga kehormatan kaum muslimin. Nilai nyawa dan harta orang muslim itu terhormat maka harga dirinya pun terhormat. Sebagaimana menumpahkan darah (membunuh) seorang mukmin itu adalah dosa besar, maka menumpahkan (menjatuhkan) kehormatannya, martabat dan kepribadiannya juga dosa besar.
Rasulullah saw. bersabda. “Darah, harta dan kehormatan seorang muslim atas seorang muslim yang lain adalah haram.” (Kanz al-lUmInal, juz 1, h.150. hadis ke-747)
Menggunjing itu, pada kenyataannya, menjatuhkan harga diri seorang muslim, lantaran menggunjing itu termasuk perbuatan mengoyak kehormatannya, sebagaimana halnya membunuh seorang mukmin dan merampas hartanya adalah mengoyak kehormatannya. Jadi, menjaga harga diri seorang muslim dan mempertahankan martabatnya serta menolak untuk menggunjingnya adalah tugas seorang muslim terhadap saudara muslim lainnya. Orang yang dengan baik menjalankan tugas ini akan meraih keridhaan Allah. Sebaliknya jika ia mampu melakukan tugas itu, namun ia tinggalkan nicaya kemarahan Allah akan datang.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesiapa yang di hadapannya seorang mukmin terhina dan ia mampu menolongnya tetapi tidak ia lakukan, maka Allah tidak akan menolong dirinya di hari kiamat dan menghinakannya di hadapan semua makhluk. (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-1)
Di sisi lain, Nabi saw. bersabda, “Sesiapa yang menjaga harga diri saudara mukminnya dalam ketidakhadiran (saudara)nya, niscaya Allah akan menjaga harga dirinya pada hari kiamat.”
Beliau juga bersabda, “Sesiapa yang menjaga harga diri seorang mukmin dalam ketidakhadirannya, maka Allah akan menyelamatkannya dari panasnya api neraka.” (al-Mahajjat al-Baidhâ, juz 5, hadis ke-261)
Ringkasnya, Al-Quran menjelaskan ghibah sebagai perbuatan yang sangat buruk dan menempatkannya sebagai dosa yang besar. Pernyataan hal seperti ini tidak pemah disebutkan dalam masalah dosa-dosa yang lainnya. Hal lain yang harus kami jelaskan dalam kaitannya dengan ayat di atas, ialah bahwa orang yang menggunjing kelak pada hari pembalasan disiksa, dengan siksaan berupa dipaksa memakan daging saudaranya yang telah mati.
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang memakan daging saudaranya di dunia (menggunjing saudaranya), maka pada hari kiamat ia akan didekatkan dengan saudaranya (yang digunjing), kemudian diperintahkan kepadanya, “Makanlah daging matinya sebagaimana telah kamu makan daging hidupnya!” Maka, ia pun memakannya dengan wajah terpaksa dan ia menjerit.”
Beliau juga bersabda, “Di satu malam, saat aku menjalani Isrâ, aku melewati satu kaum yang menutupi wajah-wajah mereka sendiri dengan kuku-kuku mereka. Aku bertanya, ‘Hai Jibril! Siapakah mereka ini?’
“Ia berkata, ‘Mereka adalah orang-orang yang mengumpat orang-orang dan akibatnya harga diri mereka sendiri jatuh.’” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-1)
Di antara riwayat yang menerangkan tentang dosa ghibah dan keburukannya ialah sebuah hadis Rasulullah saw. yang mengatakan bahwa perbuatan ghibah lebih buruk daripada berzina, “Jauhilah perbuatan ghibah! Karena ghibah itu lebih keji daripada perzinaan. Sesungguhnya seorang lelaki boleh jadi berzina kemudian bertaubat, dan Allah mengampuninya. Tetapi orang yang berbuat ghibah tidak terampuni kecuali mendapat maaf dari orang yang di-ghibah.” (satu rujukan dengan yang di atas)
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. mengatakan bahwa ghibah lebih buruk daripada praktik riba, “Satu dirham hasil riba seorang lelaki, di mata Allah dosanya lebih besar tigapuluh enam kali daripada dosa zina. Dan bentuk riba yang terburuk ialah jual beli harga diri seorang muslim.” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-1)
Bentuk keburukan ghibah yang lain ialah bahwa ghibah adalah salah satu mishdaq yang menyebarkan kekejian. Dan, dalam Islam menebarkan kekejian itu adalah dosa besar. Dalam hal ini Al-Quran telah menyinggungnya dalam ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiarkan di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS an-Nûr:19)
Imam Shadiq as. berkata, “Barangsiapa yang membicarakan aib seorang mukmin, menurut apa yang telah dilihat oleh matanya dan yang telah didengar oleh telinganya, maka ia tergolong orang-orang yang Allah Azza wa Jalla firmankan, ‘Mereka adalah orang-orang yang suka menyebarkan perbuatan keji.’” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-2)
Imam melanjutkan bahwa apa yang dilihat oleh matanya dan yang didengar oleh telinganya, yaitu melihat atau mendengar aib, perbuatan buruk yang pernah dilakukan seorang mukmin, dan orang-orang tidak mengetahuinya, kemudian ia menceritakan kepada mereka, maka inilah yang dimaksud ghibah. Oleh karena itu, pandangan Imam Shadiq as. bahwa setiap orang mukmin berbuat ghibah merupakan mishdaq bagi ayat tersebut.
Riwayat lain juga menerangkan tentang buruknya dosa perbuatan ghibah, yang diibaratkan ‘makanan anjing jahanam’. Imam Ali as. berkata, “Jauhilah perbuatan ghibah karena ghibah itu makanan anjing jahanam.” (juz 78, bab 20, hadis ke-2)
Imam Zain al-Abidin as. juga berkata, “Jauhilah perbuatan ghibah karena ghibah itu makanan anjing neraka. Dan, ketahuilah bahwa siapa yang banyak menyebut aib orang maka perbuatannya itu bersaksi atas kadar aib dirinya menurut aib (orang) yang ia sebut.” (juz 75, bab 66, hadis ke-8)
Dengan kata lain, kadar aib setiap orang bergantung pada sebutannya tentang aib orang lain. Imam Ali as. berkata, “Orang yang banyak aibnya, suka menyebarkan aib-aib orang dengan maksud supaya aib-aibnya sendiri tersingkap.” (al-Ghurar, juz 4, h.38) ,
Keterangan lain dari hadis-hadis menyebutkan bahwa perbuatan ghibah akan merusak agama, iman, dan kebaikan-kebaikan orang yang menggunjing. Imam Shadiq as. berkata, “Perbuatan ghibah adalah haram bagi setiap muslim dan ghibah itu melalap kebaikan ibarat api melalap kayu bakar.” (Kasyfu ar-Raibah, h.9)
Sebuah hadis yang dinukil dari Nabi saw. mengatakan, “Dampak ghibah dalam agama seorang muslim itu lebih cepat daripada dampak penyakit kusta pada seseorang.” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-1)
Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Di hari kiamat seseorang dihadapkan kepada Allah dan ketika disodorkan catatan-catatan amalnya (selama di dunia) tidak ada kebaikan di dalamnya. Ia berkata, “Tuhanku, ini bukan catatanku karena aku tidak melihat ketaatanku (amal ibadahku) di dalamnya!”
Kemudian ada yang menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak menyesatkan dan tidak akan lupa. Amal baikmu telah sirna disebabkan perbuatan ghibah-mu terhadap orang-orang.”
Kemudian giliran yang lain dihadapkan dan diserahkan catatan-catatan amalnya, ia melihat banyak amal ketaatan baginya. Ia berkata, “Tuhanku ini bukan catatanku karena aku tidak berbuat ketaatan (kepada-Mu).”
Lalu ada yang menjawab, “Ini disebabkan si fulan menggunjingmu, maka segala kebaikannya berpindah kepadamu.” (rujukan yang sama)
Seorang ulama, ketika diberitahu oleh seseorang bahwa si fulan menggunjingnya, tersenyum dan mengutus orang agar membawa bingkisan manisan di rumahnya. Beliau berkata kepadanya, “Aku mendengar bahwa sebagian amal kebaikannya (orang yang menggunjingku) telah dikirimkan ke catalan amalku. Karena itu, terimalah bingkisan manisan ini sebagai rasa terima kasihku (padamu).”

III Faktor Timbulnya Ghibah

Kita telah mengenal keburukan dosa ghibah dan haramnya serta dampak negatif yang akan muncul. Ghibah adalah sifat yang tercela di mata masyarakat, begitu pula tentang akibat dari perbuatan ini bagi si pelakunya di dunia dan di akhirat. Kemudian penting sekali, kita mengetahui faktor dan sebab adanya ghibah, yang (semoga) bisa membantu kita untuk menjauhi perbuatan keji ini.
Pada dasarnya, kalau tidak ingin jiwa kita dikotori oleh dosa ini dan agar terhindar jauh darinya, pertama-tama yang harus kita ketahui adalah masalah faktor-faktor munculnya sifat ghibah, dan harus jelas bagi kita bahwa atas dasar apa manusia berbuat ghibah dan membuka aib serta kekurangan orang? Ulama akhlak berpendapat ada delapan faktor:

1.Jiwa yang Terlelap

Kebanyakan orang yang berbuat ghibah membuka aib orang lain dengan maksud menutupi atau mengurangi aibnya sendiri, menjelaskan orang yang telah menzalimi dirinya kepada orang lain, disebabkan orang-orang menutup-nutupi dan meremehkan kesalahan mereka. Mereka mengetahui kesalahan, cela, dan dosa mereka. Untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang diperbuat, mereka membuka cela-cela orang lain dan membesar-besarkannya sehingga dengan cara ini mereka berkata kepada orang-orang, “Bukan aku saja yang berbuat kesalahan, tetapi si fulan lebih besar kesalahannya dan kesalahanku masih bisa dimaafkan,” walaupun batinnya menolak, dan merasa gelisah serta tersiksa. Dapat dibenarkan bahwa jika faktor itu yang membuat orang berbuat ghibah, maka dosa besar (itu) akan menambah dosa-dosanya semakin bertumpuk. Sebab, setiap orang bertanggung jawab atas amal perbuatannya, dan dengan anggapan bahwa orang lain lebih banyak dosanya ketimbang dirinya, maka sulit baginya untuk bertaubat, mengadakan perbaikan dan mengatasi beban dosanya yang amat berat. Jadi, dosa dan aib yang lalu masih tetap tersimpan dan tertindih oleh dosa besar ghibah.

2.Bangga Diri

Sebagian orang yang menceritakan aib dan cela orang lain di hadapan orang-orang, dengan melontarkan persoalan dan melecehkan orang itu, hendak menunjukkan bahwa dirinya adalah orang sempurna, mulia dan berpengalaman. Misalnya adalah dengan menjelaskan kepada mereka bahwa orang itu begini dan begitu, orang bodoh (dan sebagainya), tampak ingin menyampaikan ke dalam otak pendengar bahwa “aku paham tentang masalah itu dan aku tidak pernah mengalami cela yang demikian.”
Apapun sikap dan perilaku yang demikian itu, yang tergambar dalam otak pendengar sebagai ganti gambar sosok penyampai yang sempurna dan mulia adalah sebuah bentuk membanggakan dirinya sendiri.

3.Menghina

Ghibah biasanya terjadi dari perbincangan yang menyebut aib orang lain dalam rangka menghina mereka. Sifat buruk ini akan dibahas pada pelajaran 27 nanti.

4.Kedengkian

Faktor lain ialah rasa dengki. Ketika seseorang melihat bahwa dirinya dalam beberapa hal lebih rendah dan lemah daripada orang lain, sedangkan ia sendiri tidak mendapatkan kekuatan untuk meraih suatu kesempurnaan dan kemuliaan yang mereka miliki, maka ia merasa iri hati dengan mereka dan pada saat itu ia berusaha mencari kelemahan dan aib mereka, membanding-bandingkan kedudukan mereka di hadapan orang lain, sehingga dengan cara ini, ia memperoleh kemuliaan di mata orang-orang.

5. Sewarna dengan yang Lain

Kebanyakan perbincangan antarkawan yang sebagian mereka, teman dan kenalannya berkumpul dari jarak berjauhan, dari setiap pintu mereka berbincang-bincang, biasanya mendorong pada perbincangan tentang ini dan itu, tentang kebaikan dan keburukan orang. Untuk mengajak orang bicara, setiap orang membicarakan sesuatu, dan tanpa diduga untuk menyenangkan hati dan menghibur kawan bicaranya, ia mengumpat dan membuka aib orang. Pribadi seperti ini menyangka bahwa orang yang bukan termasuk kelompoknya, di matanya asing dan ‘tidak masuk dalam buku’ mereka. Kita mengetahui bahwa kesepakatan dan satu irama dengan yang lain dalam batas tertentu diperbolehkan apabila tidak sampai terjadi dosa dan haram. Sebenarnya kepuasan orang tidak harus menyebabkan kemarahan Allah. Al-Quran menerangkan, perkataan yang mengantarkan pada siksaan neraka adalah salah satu sebab jatuhnya mereka ke neraka, yang mereka itu adalah para penghuni neraka dan sesama teman dalam kebatilan.
Firman Allah, “Berada dalam surga mereka bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa, ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.’” (QS al-Muddatstsir:40-45)

6.Mengulurkan Tangan

Sebagian orang menyangka bahwa boleh jadi si fulan membicarakan tentang diri mereka mengenai suatu masalah di suatu tempat dan di hadapan orang-orang, hanya basa-basi saja karena ada maksud meminta sesuatu. Dan mereka melontarkan kekurangan dan aib dirinya, sampai pada kesimpulan bahwa perkataannya di hadapan orang-orang yang mendengarkannya adalah kosong belaka.

7.Merasa Heran

Sebagian orang sengaja menampakkan keheranan pada orang yang berlumuran dosa-dosa. Mereka mengatakan dibanding si fulan, ia jauh melakukan yang demikian. Jadi, ungkapan keheranan ini merupakan satu faktor bagi munculnya ghibah, karena: pertama, bisa saja tanpa menyebut nama sebagian orang, ia membenci perbuatan buruk dan dosa mereka. Kedua, harus diperhatikan bahwa jika dosa yang buruk dan melakukannya menyebabkan timbul rasa heran, maka menggunjing juga—yang merupakan dosa besar—akan menyebabkan keheranan yang lebih.

8.Merasa Kasihan

Seperti sebelumnya, sebagian orang membicarakan suatu roh atau dosa karena merasa kasihan, lalu menyebut nama seseorang, misalnya, “sialnya orang itu!”, “aku kasihan kepadanya karena ia telah berbuat dosa dan kesalahan.” Orang yang membicarakan (menggunjing)nya tidak tahu bahwa sebenarnya ia sendiri lebih butuh dikasihani, sebab: pertama, bahwa ia tidak berpaling dari roh dan kekurangan. Kedua, ia jadi menggunjing orang. Dan ketiga, ia juga melakukan dosa yang lain, yaitu menghina dan merendahkan orang mukmin yang sebelumnya telah membongkar tentang dirinya.

IV. Pengecualian

Ghibah itu pada batas tertentu dalam Islam merupakan dosa besar. Akan tetapi pada saat yang sama, dengan beberapa hal, ghibah diperbolehkan dan beberapa hal itu akan menghapus keburukan ghibah bagi orang-orang mukmin. Ia adalah sebagai berikut:

1.Pengadilan

Ada seseorang dizalimi, kemudian ia pergi ke pengadilan. Maka, dengan terpaksa ia (harus) menjelaskan orang yang berbuat aniaya kepadanya, yang tanpa menyampaikannya tidak akan ada keputusan dalam pengadilan. Karena itu, orang yang dizalimi mau tidak mau (harus) membuka kesalahan orang yang menzalimi dirinya. Mengenai hal ini, Allah swt. berfirman, “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nisâ’:148)
Dengan demikian, Allah swt. tidak menyukai ghibah kecuali dari orang yang dizalimi. Di satu segi, nilai dan kedudukan orang yang dizalimi lebih tinggi daripada harga diri dan martabat seseorang yang zalim walaupun ia seorang muslim. Masalah ini juga disebabkan keharaman dan keburukan ghibah tidak dapat dijadikan alat, yang jika perkara ini tidak terkecualikan, maka bisa dijadikan kesempatan bagi setiap orang untuk bisa merampas hak-hak orang lain. Dan ia (yang dizalimi) tidak dapat mengajukan haknya yang terampas di hadapan hakim.

2.Petunjuk dan Musyawarah

Manusia dalam menghadapi masalah-masalah bermusyawarah dan mencari petunjuk kepada orang lain. Ia membutuhkan petunjuk dalam menyelesaikan masalah keluarga atau masyarakat. Misalnya, ketika seseorang ingin menikah, maka ia akan mencari informasi kepada orang yang mengenal calonnya. Atau, ketika ingin menyerahkan tanggung jawab kepada seseorang, maka ia akan mencari tahu kepada orang-orang yang mengenal pribadi orang tersebut. Dalam hal ini, perkara yang maslahatnya lebih besar dan boleh jadi meninggalkan ghibah akan berakhir dengan kehancuran, maka membuka aib dan kesalahan orang bukan termasuk ghibah. Sebab, maslahat umum ketimbang masalah pribadi (menjaga harga diri) adalah lebih penting, dan dalam gambaran dua hal yang berlawanan ini, masalah pribadi tidak akan tampak.

3.Memberi Peringatan

Ketika menyaksikan perbuatan seseorang atau kelompok yang merusak masyarakat dan umat, dan apabila kejahatan mereka tidak disampaikan dan tidak diancam dengan akibat yang diperbuatnya, maka yang terjadi adalah orang-orang akan berpaling kepada mereka dan pada saat itu muncul di tengah masyarakat kerusakan yang amat besar. Mengenalkan orang-orang jahat dan menjelaskan niat buruk mereka, meskipun dengan mencela mereka, tetapi tindakan ini untuk maslahat masyarakat Islam, tidak terhitung ghibah.
Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu benci untuk menyebut keburukan seorang fajir, yang orang-orang tidak mengenalinya. Jelaskanlah tentang (keburukan) dirinya supaya orang-orang waspada darinya.” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-l)

4.Nahi Munkar

Dalam rangka memelihara keselamatan moral masyarakat dan untuk membersihkannya dari kemungkaran dan keburukan serta tempat maksiat, maka diharuskan bagi orang yang ahli masalah ini untuk menjelaskan tentang kemungkaran-kemungkaran kepada masyarakat dan tokoh-tokohnya. Dengan kerja sama mereka untuk menanggulangi dan memerangi kemungkaran serta mencegah orang berbuat maksiat, ia (terpaksa) melakukan hal yang tidak pantas. Dari sini, ia menjelaskan kejahatan-kejahatan dan orang-orang yang suka melakukan kejahatan walaupun dengan mengeluarkan kata cela tetapi demi maslahat umum, tidak termasuk ghibah.

5.Menimbang dan Membandingkan

Satu hal lagi demi maslahat sosial ialah menerangkan ciri dan cela sebagian orang, seperti masalah tentang pribadi penyampai kejadian, saksi di pengadilan dan lain-lain. Pasalnya, demi keadilan, untuk meyakinkan tentang pribadi orang-orang ini hanya dengan menyelidiki secara saksama keadaan, karakter dan perilaku mereka, maka mau tidak mau, ia harus menjelaskan cela-cela penyampai dan saksi. Sebab, menjaga kebenaran dan memahami keterangan mereka juga berarti menjaga kebenaran kasus yang dibahas. Maka, dalam hal ini tidak ada keburukan ghibah.

6. Julukan Terkenal

Dalam masyarakat, sebagian orang mempunyai ciri dan sifat yang dikenal akrab oleh orang. Tanpa menyebut julukan atau sifat mereka, tidak mungkin orang mengetahui siapa dia. Misalnya, si fulan yang matanya demikian, orang yang suka telanjang, Zaid yang pendek dan lain sebagainya. Dalam hal ini, meskipun orang yang pertamakali memberikan julukan (berkaitan dengan masalah tanâbuz bi al-qâb meletakkan julukan jelek kepada orang lain) itu berdosa, tetapi menyebut julukan seseorang yang sudah masyhur kepada orang lain, bukan termasuk perbuatan ghibah.

7.Tukang Bid’ah

Menjelaskan orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama, yang mempunyai maksud menyesatkan masyarakat dari jalan yang lurus dan benar, bukan hanya masalah tidak ghibah, tetapi sebuah tugas agama. Kaum Muslimin mendapatkan tugas mencegah perbuatan ini dengan berbagai cara yang bisa dilakukan, dan mereka tidak membiarkan ahli bid’ah sampai pada tujuannya. Dalam hadis, Nabi saw. bersabda, “Di manapun kamu melihat ahli bid’ah, selidikilah keburukan-keburukan mereka, celalah mereka sebanyak-banyaknya dan ungkapkanlah apapun yang kamu ketahui tentang mereka.”

8.Yang Terang-terangan Fasik

Menggunjing sebagian orang sesuai hadis-hadis diperbolehkan. Mereka adalah orang-orang yang terang-terangan berbuat kefasikan dan kekejian. Dan karena tidak tahu apa-apa tentang perilaku mereka, masyarakat tidak merasa resah. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga kriteria yang tidak ada ghibah bagi mereka: pengumbar nafsu, orang fasik yang mengumumkan kefasikannya dan pemimpin zalim.”
Beliau juga bersabda, “Jika orang fasik terang-terangan melakukan kefasikan, maka tiada penghormatan baginya juga tiada ghibah.” (al-Bihâr, juz 75, bab 57, hadis ke-33)

V. Mendengarkan Ghibah

Sebagaimana berbuat ghibah itu adalah hal yang buruk dan tercela, maka orang yang melakukannya menyebabkan kemarahan Allah, dan orang yang menyimak ungkapan ghibah juga tercela dan haram.
Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang mendengarkan ghibah adalah salah satu dari para peng-ghibah.” (al-Bihâr, juz 75, bab 66, hadis ke-1)
Imam Shadiq as. berkata, “Ghibah itu kufur dan yang menyimaknya serta yang menerimanya adalah musyrik.” (al-Mustadrak, juz 9, bab 136, hadis 10462)
Sebagian riwayat mengatakan bahwa “Bilamana satu majelis menggunjing seorang mukmin dan kamu hadir di sana, jika kamu mampu memprotesnya dan menjawabnya, maka wajib ia membela orang mukmin.”
Rasulullah saw. bersabda, “Sesiapa yang membela saudara seagamanya di hadapan ghibah yang didengarnya di satu majelis, niscaya Allah membelanya dari seribu pintu keburukan di dunia dan akhirat.” (juz 76, bab 67, hadis ke-30)
Jelaslah, bahwa di luar kemampuan dalam melawan ghibah dan menjawab ungkapan aib orang lain, maka wajib baginya keluar dari majelis tersebut.

Etika Islam; Penerbit Al-Huda, Jakarta; Juli 2003/ Jumadil Ula 1424 H.; Hal. 211 – 230.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
9+1 =