Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

IRFAN ISLAMI PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN AHLULBAYT AS. (1)


Muhammad Hadi Abde Khuda’i

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

وَ اِذَا سَمِعُوا مَا اُنزِلَ اِلَی الرَّسُولِ تَرَی اَعیُنَهُم تَفِیضُ مِنَ الدَّمعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الحَقِّ یَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاکتُبنَا مَعَ الشَّاهِدِینَ [1]

Artinya: “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul engkau lihat air mata mereka bercucuran disebabkan mereka mengenal kebenaran seraya mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami termasuk orang-orang yang menjadi saksi”.”.
Irfan adalah cahaya kemuliaan dan kebesaran eksistensi, kilauan sinar Ilahi, puncak insani dan tujuan utama kehidupan.
Berbicara tentang irfan betul-betul sulit, memerlukan hati yang bersih dan manusia saleh yang telah sampai pada simbol dan rahasia keberadaan yang tertinggi. Allah swt. berfirman: [2] لَا یَمَسُّهُ اِلَّا المُطَهَّرُونَ (hanya orang-orang yang telah disucikan yang dapat menyentuhnya), membutuhkan penerbang tinggi agar dapat mengepakkan sayapnya ke langit yang menjulang, membutuhkan penyelam ulung agar dapat mencapai dasar yang paling dalam. Apalagi jika topik pembicaraanya adalah irfan islami, irfan yang murni, irfan yang bermuara pada wahyu dan disirami dengan air tauhid. Sudah barang tentu yang mampu berbicara akan hal itu hanya mereka yang terbang menjulang di langitan cinta dan irfan, dan jelas nyamuk kecil tidak dapat berbuat apa-apa di lautan tanpa batas ini, namun demikian [3] کُلٌّ یَعمَلُ عَلَی شَاکِلَتِهِ (setiap orang berbuatu menurut keadaannya).

Pengantar

Ada dua pendahuluan yang harus kita selesaikan sebelum memasuki pokok pembahasan, dua pendahuluan itu adalah:
1. Islam memiliki irfan.
2. Referensi irfan islami.

Pengantar Pertama: Irfan Islami

Konsep-konsep irfan secara khusus telah mengkristal dalam budaya al-Qur’an. Ayat-ayat kitab suci ini menyuarakan irfan yang paling dalam, baik dari sisi teoritis maupun praktis. Nama-nama Tuhan yang digunakan oleh al-Qur’an menceritakan kedalaman makrifat Islam, begitu pula ayat-ayat menjulang seputar tauhid dan sifat-sifat Tuhan yang lainnya menampilkan keagungan irfan yang dikandung oleh kitab suci ini. Kehadiran Tuhan dan ketergantungan semua yang ada pada-Nya adalah satu dari sekian banyak persoalan irfan yang diterangkan oleh al-Qur’an secara menarik sekali, sebagaimana persoalan jiwa dan kriteria-kriterianya serta metode penyucian dan pengembangannya dijelaskan secara baik oleh al-Qur’an.
Menyertai ayat-ayat itu doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dan para imam suci as., di dalamnya dapat disaksikan konsep-konsep tinggi yang mengenalkan irfan islami yang murni. Selain itu, pidato-pidato Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah, baik berkenaan dengan irfan teoritis maupun irfan praktis mempunyai keistimewaan tersendiri sampai bersinar seperti mukjizat. Dilanjutkan pula dengan sejarah hidup Rasulullah saw., imam-imam suci as., dan biografi sahabat-sahabat besar mereka yang masing-masing apabila dikaji akan mengenalkan pengkajinya kepada irfan islami.
Syahid Ayatullah Murtadha Mutahhari setelah mengajukan persoalan apakah irfan sudah ada dalam Islam secara sejati sebagaimana fikih dan tafsir atau tergolong ilmu-ilmu asing yang masuk ke sana seperti halnya kedokteran dan matematika, berkata: “Pada kuliah kali ini, kami akan memaparkan beberapa masalah secara global sekiranya cukup untuk menerangkan bahwa ajaran-ajaran asli Islam mampu menjadi petunjuk serangkaian makrifat yang mendalam tentang irfan teoritis dan irfan praktis. Adapun seberapa besar para arif muslim menggunakan makrifat-makrifat Islam tersebut secara benar atau sebaliknya sejauh mana mereka telah menyimpang darinya adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban panjang lebar dan jelas serta tidak mungkin kita bahas dalam kuliah singkat kali ini”. [4]
Setelah itu, Syahid Mutahhari mengisyaratkan sebagian ayat yang memuat poin-poin irfan yang mendalam, seraya berkata: “Ayat-ayat yang kami sebutkan dan tentunya ayat-ayat yang lain amat memadai untuk mengilhami spiritualitas yang agung dan luas berkenaan dengan hubungan antara manusia dan alam, manusia dan manusia, serta pada khususnya manusia dan Tuhan”. Pada akhir pembahasannya, Syahid Mutahhari mengingatkan beberapa ayat yang dipilih oleh Nicolson sebagai irfan dalam al-Qur’an.
Allamah Husein Thaba’ Thaba’i juga sangat membela kesejatian irfan dalam Islam, menurut dia kata ayat yang berulang kali digunakan oleh al-Qur’an untuk mengungkapkan ciptaan menunjukkan kedalaman irfan. Dia juga berpendapat bahwa keterangan-keterangan fasih Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. mengandung persediaan tanpa batas berupa hakikat-hakikat irfan dan kehidupan spiritual. [5]

Pengantar Kedua: Referensi Irfan Islami

Sudah sepatutnya untuk mengenal sebuah ideologi harus merujuk pada pemikiran dan perkataan-perkataan otentik ideologi tersebut. Adapun untuk mengenali sebuah masyarakat juga harus merujuk pada satuan atau person-person masyarakat tersebut. Itulah mengapa sewaktu kita ingin menyandarkan topik tertentu kepada Islam kita harus mendapatkannya dari al-Qur’an dan sabda Rasulullah saw. atau para penerusnya, sedangkan apabila kita hendak menyandarkannya kepada muslimin maka kita harus mendapati hal itu pada diri mereka. Kesimpangsiuran antara dua hal tersebut sering kali menimbulkan dampak negatif yang besar dan tak terbilang.
Misalnya, mengingat apa yang telah diisyaratkan sebelumnya berbicara tentang budaya Islam harus bersandar pada ayat al-Qur’an atau referensi dari manusia suci. Adapun berbicara tentang budaya muslimin harus menghadirkan data-data yang menunjukkan pandangan muslimin dan peran mereka sepanjang sejarah.
Ada banyak perbedaan antara budaya Islam dan budaya muslimin. Perbedaan-perbedaan itu adalah:
1. Budaya Islam kekal dan universal sedangkan budaya muslimin berbeda antara satu sama yang lain sejalan dengan perbedaan ruang dan waktu.
2. Budaya Islam mengungkapkan Islam yang murni sedangkan budaya muslimin boleh jadi merupakan gabungan dari Islam dan pemikiran-pemikiran atau tradisi-tradisi kuno dan kebangsaan masing-masing kaum yang beragama Islam.
3. Pengabdian pada budaya Islam adalah wajib bagi setiap muslim. Adapun pengabdian atau keterikatan pada budaya muslimin tidak wajib.
Satu contoh Anda bisa bandingkan antara dua hal kata dan susunan azan dengan arsitek pembangunan kubah dan menara masjid; yang pertama tergolong budaya Islam sementara yang kedua berhubungan dengan budaya muslimin di negara dan abad yang berbeda-beda. Banyak sekali contoh-contoh lain di berbagai topik seperti etika Islam, filsafat Islam, dan irfan Islam yang mungkin mempunyai banyak perbedaan dengan etika, filsafat, dan irfan muslimin.
Topik pembahasan kali ini adalah irfan Islam, maka sudah barang tentu harus dilandasi oleh referensi Islam yang otentik, karena selain itu dimungkinkan hasil yang keluar adalah kombinasi aneka pikiran dari berbagai bangsa yang berbeda-beda. Untuk itu, kita fokuskan referensi pembahasan kita pada kesaksian ayat dan hadis serta berupaya sebisa mungkin menghindari referensi-referensi yang lain.

Jalur-jalur Makrifat

Jalur-jalur makrifat bisa disimpulkan pada tiga: ilmu, akal, dan irfan. Jalur ilmu dimulai dengan indera dan disempurnakan oleh sains, sedangkan jalur akal berangkat dari pemikiran dan dibantu oleh logika dan argumentasi, adapun jalur irfan tumbuh dari fitrah dan intuisi serta berkembang dengan pembersihan diri dan ibadah.
Makrifat Ilahi merupakan semboyan makrifat-makrifat yang lain, namun demikian tiga jalur tersebut di atas bisa dijadikan sebagai jalur-jalur utama untuk mencapai hakikat yang sejati; contohnya untuk mengenali baiknya keadilan dan buruknya kezaliman seseorang dapat melalui tiga jalur, seorang ilmuan sampai kepadanya melalui jalur ilmu seperti yang dialami oleh sosiolog atau ahli hukum yang menemukannya dalam penelitian-penelitian sosialnya. Seorang filsuf mencapainya melalui analisisnya, dan orang yang saleh dan mulia merasakannya dengan fitrah yang bersih.
Orang ketiga merasakan baiknya keadilan dan buruknya kezaliman dengan intuisinya, karena itu pula dia membenci segala bentuk kezaliman. Fitrah dia yang bersih membuatnya tersiksa oleh penganiayaan merpati dan kelaparan seorang yang dijajah. Untuk itu dia tidak memerlukan pada bukti ilmiah atau argumentasi filosofis.
Memang benar ilmu dan akal juga bisa membuktikan baiknya keadilan dan buruknya kezaliman tapi boleh jadi seorang ilmuan terjebak oleh formula-formula ilmiah yang membingungkannya, begitu pula seorang filsuf ragu dalam kenyataan apakah bukti-bukti yang dia ajukan memenuhi syarat-syarat argumentasi atau tidak. Adapun seorang arif menyaksikan baiknya keadilan dan buruknya kezaliman sehingga tidak lagi ada kebingungan dan keraguan pada dirinya.
Tiga jalur ini tidak saling menyingkirkan, sebaliknya apabila jalur-jalur tersebut terhindar dari kesalahan maka mereka saling mendukung satu sama yang lain; yang satu mengantarkan seseorang pada kesaksian, yang kedua pada rasionalitas dan yang terakhir pada eksperimen. Masing-masing menyifati-Mu dengan bahasanya sendiri.
Dalam budaya Islam, masing-masing dari ilmu dan akal serta irfan mempunyai nilai tersendiri, masing-masing merupakan jalur yang berharga untuk menemukan hakikat, tidak ada pertentangan antara mereka bahkan sebaliknya mereka mengarahkan pada satu tujuan dan berakhir pada satu.
Al-Qur’an berkali-kali menghargai ilmu sebagaimana tidak jarang dia mengarahkan manusia pada akal dan pengaktifan potensi-potensi yang dimilikinya berupa pemikiran, perenungan dan perasionalan. Di samping itu al-Qur’an juga dipenuhi oleh konsep-konsep irfan. Berkenaan dengan ilmu, firman Allah swt. dalam al-Qur’an adalah:
اِنَّمَا یَخشَی اللهَ مِن عِبَادِهِ العُلَمَاءُ [6]


Artinya: “Sungguh yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah hanya orang-orang yang berilmu”.
Tentunya maksud ayat ini adalah ketakutan yang ditimbulkan dari kesadaran terhadap haibah dan keagungan Allah swt. yang hanya dimiliki oleh ulama. Adapun contoh ayat yang berkaitan dengan akal adalah:
اِنَّمَا یَتَذَکَّرُ اُولُوا الاَلبَابِ [7]


Artinya: “Sungguh hanya orang-orang berakal yang mengambil pelajaran”.
Sedangkan contoh ayat al-Qur’an tentang irfan adalah:
اَوَلَم یَکفِ بِرَبِّکَ اَنَّهُ عَلَی کُلِّ شَیءٍ شَهِیدٌ [8]


Artinya: “Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?!”.
Ilmu, akal, dan irfan adalah tiga lentera terang yang memberi petunjuk kepada manusia. Pada kesempatan kali ini kita hanya akan sekilas membincangkan jalur irfan, sedangkan penjelasan tentang dua jalur ilmu dan akal kita serahkan pada kesempatan yang lain. Perlu diingat bahwa tiga jalur makrifat ini milik untuk manusia-manusia biasa. Adapun para nabi mempunyai jalur istimewa yang jauh lebih unggul yang disebut dengan wahyu dan ilham. Mereka menerangi diri mereka sendiri dengan anugerah Ilahi sekaligus menerangi yang lain dengannya. Jalur wahyu adalah jalur yang terang bahkan menerangi dan sama sekali terhindar dari kesalahan. Itulah sebabnya dia menjadi tolok ukur semua makrifat yang lain, orang-orang selain para nabi bisa menggunakannya melalui pintu tekstual atau pendengaran dan penukilan.

Jalur Irfan

Irfan adalah jalur yang terang, menarik, dan dekat ke arah makrifat Ilahi. Alasannya karena jalur ini tidak mengandung perantara argumentasi. Matahari adalah petunjuk matahari itu sendiri sebagaimana imam orang-orang arif dan pemimpin orang-orang yang beriman berkata: [9] اعرفوا الله بالله , artinya: “Kenalilah Allah dengan Allah.” Beliau juga berkata dalam munajatnya: [10] یا من دل علی ذاته بذاته , artinya: “Wahai Yang Menunjukkan Dzat-Nya dengan Dzat-Nya.”
Makrifat irfani bersumber secara langsung dari anugerah Yang Maha Esa, keberadaan-Nya menjadi bukti Dia dan sama sekali bukan yang lain. Kenyataan itu disebutkan oleh tuan orang-orang arif dan hiasan orang-orang yang beribadah di dalam munajatnya: بک عرفتُک و انت دللتَنی علیک و دعوتنی الیک و لو انت لا انت لم ادر ما انت 11 , artinya: “Melalui perantara-Mu aku mengenal-Mu, Kamulah yang menunjukkan Diri-Mu padaku dan mengundangku kepada-Mu, andai bukan Diri-Mu maka aku tidak mengenal-Mu.”
Perhatian seorang arif terfokus pada Cahaya yang menyinari semua cermin keberadaan, pada Keberadaan tanpa batas yang mengadakan selain-Nya, dan pada Maha Kaya yang mengayakan selain Dia yang semuanya butuh. Oleh karena itu, menurut pandangan sang arif segala sesuatu membutuhkan kepada Tuhan dan Tuhan sama sekali tidak membutuhkan kepada selain-Nya. Syahidnya orang-orang arif dan penghulu semua syuhada’ Imam Husein as. berkata: [12] کیف یُستدلّ علیک بما هو فی وجوده مفتقر الیک , artinya: “Bagaimana mungkin mencari petunjuk untuk-Mu dari sesuatu yang keberadaannya membutuhkan kepada-Mu.” Beliau memandang Allah swt. lebih jelas daripada segala sesuatu dan Yang Ditunjukkan lebih terang daripada petunjuk-Nya. Beliau melanjutkan: أیکون لغیرک من الظهور ما لیس لک حتی یکون هو المظهر لک 13 , artinya: “–Ya Allah!– apa ada kejelasan bagi selain-Mu yang melebihi-Mu sehingga dia menjadi penerang-Mu?!”, متی غبت حتی تحتاج الی دلیل یدل علیک و متی بعدت حتی تکون الآثار هی التی توصل الیک 14 , artinya: “Kapan Kamu pernah absen sehingga membutuhkan kepada sesuatu yang menunjukkan-Mu, dan kapan Kamu pernah menjauh sehingga akibat-akibat menjadi pengantar kepada-Mu?!”
Seorang arif berada dalam aura cahaya Ilahi membuat dirinya bersinar karena radiasi cahaya Ilahi tersebut. Dia menyentuh cahaya terang itu dalam jiwa dan intuisinya, karena itu setelah dia sampai kepada Dia (yang ditunjuk!) maka tidak perlu lagi petunjuk atau argumentasi. Kenyataan ini nampak jelas dalam doa imam-imam suci as. seperti: فألحقنی بنور عزّک الأبهج فأکون لک عارفا و عن سواک منحرفا 15 , artinya: “–Ya Allah!– gabungkan aku dengan cahaya kemuliaan-Mu yang paling terang agar aku jadi arif (tahu) pada-Mu dan berpaling dari selain-Mu.”
Cahaya terang irfan menyinari hati seorang arif sampai dia dapat melihat keindahan Ilahi dan membuatnya senantiasa berada dalam keadaan hadir serta beribadah di sisi keagungan Allah swt.. Suatu saat ada seorang pendeta mendatangi Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. seraya bertanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu saat beribadah?”. Beliau menjawab: ما کنتُ أعبد ربّا لم أره artinya: “Aku tidak pernah menyembah Tuhan yang tidak kulihat”. Pendeta tersebut kembali bertanya: “Bagaimana kamu melihatnya?”. Beliau menjawab: [16]لا تدرکه العیون فی مشاهدة الأبصار و لکن رأته القلوب بحقائق الإیمان , artinya: “Mata kepala tidak dapat mencapai Dia di saat mata hati menyaksikan-Nya, tapi hati melihat-Nya dengan hakikat iman”. Riwayat ini jelas-jelas menyatakan ibadah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. berdasarkan kesaksian dan penglihatan, tapi bukan kesaksian dan penglihatan yang biasa melainkan kesaksian dan penglihatan yang berlandaskan irfan dan iman.
Ali bin Syu’bah Harrani menyebutkan dalam riwayatnya bahwa Imam Ja’far Shodiq as. berbicara sedikit tentang pengenalan Tuhan, beliau meolak makrifat yang jahiliyah tentang Tuhan, maka seseorang bertanya: “Bagaimana caranya bisa sampai kepada tauhid Ilahi?”. Beliau menjawab: باب البحث ممکن و طلب الخروج موجود، ان معرفة عین الشاهد قبل صفته و معرفة صفة الغائب قبل عینه , artinya: “Pintu pencarian masih terbuka dan jalan keluar dari problem masih ada, sesungguhnya –manusia– memperoleh makrifat tentang sesuatu yang hadir di hadapannya dengan diri sesuatu tersebut dan baru kemudian dia mengetahui sifatnya. Berbeda dengan makrifat yang dia peroleh tentang sesuatu yang absen dari hadapannya, pertama dia mengetahui sifat-sifatnya dan baru setelah itu dia memperoleh makrifat tentang diri sesuatu tersebut”. Seorang lagi bertanya: “Bagaimana sesuatu yang hadir itu dikenali dirinya terlebih dahulu sebelum sifatnya diketahui?” beliau menjawab:

تعرفه و تعلم علمه و تعرف نفسک به و لا تعرف نفسک من نفسک و تعلم ان ما فیه له و به کما قالوا لیوسف ءإنک لأنت یوسف قال "أنا یوسف و هذا أخی" فعرفوه به و لم یعرفوه بغیره و لا أثبتوه من أنفسهم بتوهم القلوب [17]


, artinya: “Mulanya kamu mengenali-Nya (Yang Hadir), dan kamu sadar akan ilmumu terhadap Dia, dan dengan perantara Dia kamu mengenali dirimu sendiri, dan kamu tidak mengenali dirimu dari sisi dirimu sendiri, dan kamu tahu bahwa apa yang ada pada dirimu adalah milik dan oleh Dia, –kemudian beliau memberi ilustrasi pengenalan Yusuf as. oleh saudara-saudaranya setelah melihatnya secara langsung– sebagaimana saudara-saudara Yusuf berkata kepadanya: “Apakah kamu adalah Yusuf?”. Kemudian Yusuf menjawab: “Aku adalah Yusuf dan ini adalah saudaraku”. Dengan demikian mereka mengenali Yusuf dengan dirinya dan bukan dengan selain dirinya serta bukan pula mereka buktikan pengenalan itu dengan anggapan jiwa mereka”. Dengan kata lain Imam as. berkata sebagaimana mereka mengenali Yusuf melalui diri Yusuf itu sendiri dan bukan dengan perantara yang lain, orang-orang arif juga setelah penyaksian mereka mengenal Allah swt. melalui Allah swt. itu sendiri dan bukan dengan perantara selain Allah swt.
Allamah Thaba’ Thaba’i mengomentari potongan kalimat Imam as. و تعرف نفسک به sebagai berikut: و انکشف له عند ذلک من حقیقة نفسه أنها الفقیرة إلی الله سبحانه المملوکة له [18] , artinya: “Ketika itu tersingkaplah bagi sang arif akan hakikat dirinya yang sangat butuh pada Allah swt. dan adalah milik Dia.” Allamah juga mengomentari potongan hadis Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. المعرفة بالنفس أنفع المعرفتین sebagai berikut: Tampaknya, maksud dari dua makrifat di sini adalah makrifat afaqi (alam luar) dan makrifat anfusi (dalam diri), dan beliau nyatakan makrifat anfusi lebih unggul daripada makrifat afaqi, hal itu karena di dalam makrifat anfusi terdapat ilmu hudhuri sedangkan di dalam makrifat afaqi terdapat ilmu hushuli, kemudian beliau melanjutkan:

"فإذا اشتغل الإنسان بالنظر الی آیات نفسه و شاهد فقرها الی ربها و حاجتها فی جمیع اطوار وجودها وجد أمرا عجیبا، وجد نفسه متعلقة بالعظمة و الکبریاء متصلة فی وجودها و حیاتها و علمها و قدرتها و سمعها و بصرها و ارادتها و حبها و سائر صفاتها و افعالها بما لایتناها بهاءً و سناءً و جمالا و کمالا من الوجود و الحیاة و العلم و القدرة و غیرها من کل کمال"[19]


“Sewaktu manusia aktif memandang ayat-ayat (tanda-tanda) dalam dirinya dan menyaksikan ketergantungan serta kebutuhan dia kepada Tuhannya dalam segala kondisi dan periode keberadaannya maka dia menemukan satu hal yang menakjubkan, dia mendapati dirinya bergantung pada Keagungan dan Kebesaran, baik dalam keberadaan maupun kehidupan, pengetahuan, kekuasaan, pendengaran, penglihatan, kehendak, cinta dan sifat serta tindakannya yang lain dia bersambung dengan Yang Tidak Terbatas dalam kemuliaan, keagungan, keindahan, keperkasaan, dan kesempurnaan dalam keberadaan, kehidupan, ilmu dan kekuasaan serta semua kesempurnaan yang lain”.
Memang benar, sang arif memandang dirinya menyambung dengan lautan cahaya yang tak berpantai, atom dalam sorotan mentari dan hanya sekedar cermin di hadapan sinar matahari yang terang benderang, di mana ada cahaya maka itu berasal dari cahaya Tuhan.
Anak didik ideologi wilayah dalam beberapa kasus mereka menunjukkan jalan menuju keberadaan Tuhan melalui irfan, contohnya adalah Mansur putera Hazim yang melaporkan hal itu kepada Imam Ja’far Shodiq as., dia berkata: “Aku telah berdebat dengan sekelompok orang dan aku katakan kepada mereka bahwa sungguh Allah swt. lebih mulia dan agung dari anggapan bahwa Dia dikenal melalui ciptaan-Nya, karena sebaliknya hamba-hamba dikenal melalui Allah swt.” Maka imam berkata kepadanya: “Semoga Allah swt. merahmatimu.” [20]
Bahkan lebih dari itu, irfan Ilahi tidak memerlukan makrifat terhadap para nabi dan wali, melainkan makrifat terhadap mereka butuh pada makrifat terhadap Tuhan sebagaimana disebutkan dalam sebuah doa: اللهم عرفنی نفسک فإنک ان لم تعرّفنی نفسک لم اعرف رسولک , artinya: “Ya Allah! Kenalkan aku pada Diri-Mu karena sesungguhnya apabila Engkau tidak mengenalkan Diri-Mu kepadaku maka aku tidak akan mengenal utusan-Mu.”

Muara Irfan

Seperti yang telah disinggung di atas, jalur irfan dimulai dari fitrah dan penciptaan manusia, dan semakin pembendaharaan fitrah manusia lebih jernih maka sejauh itu pula gemilang irfan bertambah sama halnya dengan karakter dan budi pekerti yang mulia, Allah swt. berfirman: اِنَّا هَدینَاهُ السَّبِیلَ اِمَّا شَاکِرًا وَ اِمَّا کَفُورًا [21] , artinya: “Sesungguhnya Kami menunjukkan jalan kepada manusia, adakalanya dia bersyukur dan adakalanya dia kufur.”
Kalbu bagaikan cermin yang semula cahaya Ilahi menyinarinya dan kemudian semakin dia mengkilat maka dia semakin efisien dalam meraih keuntungan dari cahaya tersebut dan puncaknya dia bisa sampai tenggelam dalam cahaya dan dia sendiri seutuhnya menjadi terang benderang, tapi sebaliknya manakala kalbu menjadi gelap karena ternodai oleh keraguan dan dosa yang pada akhirnya dia akan sama sekali terhalang dari cahaya Ilahi dan hanyut dalam kegelapan.
Menurut agama, semua insan dibekali dengan fitrah tauhid sejak awal dia membuka mata di dunia, sejak itu pula di dalam dasar diri dan intuisinya dia telah memiliki dorongan mencari Tuhan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw.: [22] کلّ مولود یولد علی الفطرة یعنی المعرفة بأن الله خالقه , artinya: “Semua yang lahir adalah dilahirkan atas dasar fitrahnya, dan yang dimaksud dengan fitrah adalah dia tahu bahwa Allah adalah penciptanya.”
Berbagai faktor seperti was-was, lingkungan, pendidikan yang salah, dan kelalaian dapat menyimpangkan insan yang lahir ke dunia, itulah sebabnya jika dia tetap teguh di atas fitrahnya maka indera batin ini akan berkembang, sebagaimana penghulu syuhada’ Imam Husein as. berkata setelah menghitung nikmat-nikmat Allah swt. khusus dalam tubuh manusia: حتی اذا اکتملت فطرتی و اعتدلت مرتی اوجبتَ علیَّ حجتک بأن الهمتنی معرفتک و روعتنی بعجائب حکمتک [23] , artinya: “Ketika penciptaanku telah sempurna dan tenagaku seimbang maka Engkau haruskan hujjah-Mu padaku dengan mengilhamiku makrifat terhadap-Mu dan membuatku terpikat oleh keajaiban-keajaiban hikmat-Mu.”
Petunjuk pertama datangnya dari sisi Dia dan tarikan pertama berasal dari Yang Dirindukan, karena jika tidak demikian sesungguhnya upaya pihak yang merindukan pasti mengalami kekalahan, Imam Husein as. berkata dalam doanya: [24] یا من هدانی للایمان قبل ان اعرف شکر الامتنان , artinya: “Wahai Tuhan yang telah menunjukkan iman padaku sebelum aku tahu berterima kasih atas suatu pemberian.” Begitu pula Imam Ali Sajjad as. berkata dalam doanya setelah mengingat penciptaan makhluk-makhluk: ثم سلک بهم طریق ارادته و بعثهم فی سبیل محبته [25] , artinya: “Kemudian Dia gerakkan mereka di jalan kehendak-Nya dan mengutus mereka di jalur cinta-Nya.”

Iman kepada Sembahan dan Cinta Penyembahan dalam Fitrah Manusia

Karakter dan keyakinan yang telah menyatu dengan fitrah dan penciptaan manusia tidak akan muat untuk dibingkai dengan ruang dan waktu. Itulah kenapa dapat disaksikan di sepanjang sejarah, di setiap ruang dan waktu sampai sekarang ada kerinduan untuk menyembah, dan tempat-tempat peribadatan, masjid-masjid, serta harta-harta wakaf untuk itu mengisahkan dorongan dalam diri manusia tersebut. Apabila kita pandang dunia secara luas dan dari segala arah niscaya kita akan menyaksikan jutaan hektar tanah spesial milik kerinduan untuk menyembah, baik itu dalam bentuk biara, gereja, atau masjid. Ditambah lagi dengan bermilyar-milyar harta yang telah diwakafkan untuk tempat peribadatan dan pusat-pusat khoiriyah di jalan Tuhan. Pengorbanan dan ketulusan ini ada di semua ruang dan pada semua waktu.
Kenyataan ini menceritakan dorongan dalam diri manusia yang senantiasa ada pada setiap abad dan di semua tempat, baik orang kulit putih maupun orang kulit hitam dan manusia pra sejarah maupun manusia abad dua puluh semuanya merasakan iman terhadap Tuhan (Yang disembah) dalam intuisi masing-masing mereka. Dan ini merupakan salah satu ciri terutama untuk mendeteksi nilai-nilai intuitif yang juga dapat membedakan mereka dari tradisi nasional atau adat istiadat berdasarkan kontrak, yakni yang kelompok pertama bersifat tidak terbatas sementara kelompok yang kedua terbatas oleh ruang dan waktu serta bangsa tertentu.

Siapakah Insan Yang Arif?

Irfan adalah kedudukan tinggi yang terletak di puncak hakikat sehingga tidak semua tangan dapat meraihnya, hanya penerbang-penerbang tinggi yang terbang dengan dua sayap makrifat dan ketaatan dapat menapaki jalur tersebut. Jalur itu menuntut hati yang mulia dan amal yang saleh agar dapat mendekati tujuan dan maksud keberadaan yang paling tinggi serta menduduki posisi kedekatan, Allah swt. berfirman:
یَومَ لَا یَنفَعُ مَالٌ وَ لَا بَنُونَ اِلَّا مَن أتَی اللهَ بِقَلبٍ سَلِیمٍ [26]


Artinya: “Pada hari yang tidak berguna harta dan anak, kecuali orang-orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat”.
Hati seorang arif tidak menyimpan harapan selain Tuhan, imam orang-orang arif dan amir orang-orang yang beriman Ali bin Abi Thalib as. mencucurkan air matanya sewaktu berdoa seraya bermunajat: یا غایة آمال العارفین [27] , artinya: “Wahai Puncak harapan para arif”. Dan di dalam Doa Jausyan Kabir disebutkan: [28] یا من هو منتهی همم العارفین , artinya: “Wahai Puncak tekad para arif”.
Minat arif hanya Tuhan semata, kebahagiaan dia tersimpulkan dalam munajat dengan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam doa: [29] یا سرور العارفین , artinya: “Wahai Kebahagiaan para arif”. Dia senantiasa merindukan Tuhan dan mendapati-Nya selalu bersama dia serta tidak akan pernah lalai dan jauh dari-Nya, disebutkan pula di dalam doa: [30] یا من لا یبعد عن قلوب العارفین , artinya: “Wahai Yang tidak jauh dari hati para arif”. Dia merdeka dari dua alam dan sama sekali tidak mempunyai ketergantungan kecuali kepada Tuhan, imam para arif berkata: [31] العارف من عرف نفسه فأعتقها و نزهها عن کل ما یبعدها , artinya: “Arif adalah orang yang mengenal dirinya maka dia segera membebaskan dan membersihkan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dia dari Tuhan”.
Bagi seorang arif, Tuhan bukan tidak dikenal sehingga dia harus berpegang teguh pada bukti, melainkan dia lebih mengenal Tuhan dari selain-Nya. Di dalam doa disebutkan: [32] یا معروف العارفین , artinya: “Wahai Yang Dikenal oleh para arif”. Seorang arif hanyut dalam cahaya Ilahi yang kilauannya mengakar di hati yang paling dalam, Imam Ali Sajjad as. berkata: و سبحات وجهه لقلوب عارفیه شائقة , artinya: “Dan cahaya kebesaran-Nya menerangi hati orang-orang yang arif terhadap-Nya”.
Beliau betul-betul mengetahui betapa manusia adalah mutiara yang berharga. Oleh karena itu, beliau tidak membiarkan hatinya tertawan oleh selain Allah swt.. Beliau sucikan hati dari segala non muhrim dan apa saja yang menjauhkannya dari Tuhan. Sifat ini melandasi pujian Allah swt. terhadap salah satu nabi-Nya yang besar yaitu Nabi Ibrahim as., Allah swt. berfirman: [33] اِذ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلبٍ سَلِیم ٍ , artinya: “Ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”. Hati Nabi Ibrahim as. terhindar dari noda, kesyirikan, dosa dan segala non muhrim lainnya.
Seorang arif tidak pernah puas dengan penenang apapun selain ketenangan bersama Allah swt., disebutkan dalam doa: [34] ومساکن ترضونها . Irfan mempunyai banyak tingkatan, dan tokoh-tokoh di jalur ini selalu memohon kepada Allah swt. agar mereka dianugerahi tingkatan irfan yang tertinggi dan permanen sebagaimana Anda bisa baca dalam munajatnya Imam Ali Sajjad as.: و اجعلنی من أخص عارفیک , artinya: “–Ya Allah!– jadikan aku salah satu dari arif-Mu yang istimewa.”

Poros Irfan

Kata pertama dalam irfan adalah pengenalan Tuhan dan pengesaan-Nya, imam para arif dan amir para mukmin Ali bin Abi Thalib as. berkata: اول الدین معرفته و کمال معرفته التصدیق به و کمال التصدیق به توحیده [35] , artinya: “Awalan agama adalah makrifat Tuhan, dan kesempurnaan makrifat tersebut adalah pembenaran-Nya, dan kesempurnaan pembenaran Dia adalah pengesaan-Nya”.
Pengesaan Tuhan atau tauhid merupakan mentari terang yang menyinari irfan Islam, kerangka dasar semua pemikiran religius, dan nyawa semua amal dan tuntunan Islam. Tauhid murni yang diperkenalkan oleh al-Qur’an menjelaskan puncak makrifat Islam. Al-Qur’an penuh dengan tauhid dan konsentrasi pada Tuhan swt. yang menempati tangga tertinggi irfan.
Salah satu nama Tuhan adalah Qoyyum, yakni keberadaan yang berdiri sendiri, kekal, ada karena dirinya sendiri sedangkan yang lain ada karena bergantung padanya, pemelihara segala sesuatu di alam penciptaan, dan segala sesuatu berada di bawah payung kekuasaannya. Al-Qur’an menyebutkan: [36] اَللهُ لا اِلهَ اِلَّا هُوَ الحَیُّ القَیُّومُ , artinya: “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi Berdiri Sendiri”. Kata Qoyyum mengikuti satu dari sekian bentuk mubalaghah (sangat); itu artinya keberadaan kaya Tuhan sama sekali tidak bergantung pada selain-Nya, sebaliknya semua keberadaan yang lain betul-betul miskin dan butuh pada-Nya.
Berkali-kali al-Qur’an menjelaskan hadirnya Tuhan secara permanen pada semua keberadaan sehingga setelah menyinggung ayat-ayat afaqi dan anfusi dia mengatakan: [37] اَوَلَم یَکفِ بِرَبِّکَ اَنَّهُ عَلَی کُلِّ شَیءٍ شَهِیدٌ , artinya: “Tidakkah cukup bahwa Tuhanmu sesungguhnya Dia menyaksikan (menghadiri) segala sesuatu”. Betapa agung dan menawan penjelasan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. tentang kehadiran Tuhan ini, dia mengatakan: ما رأیتُ شیئا الا و رأیت الله قبله و بعده و معه , artinya: “Aku tidak melihat sesuatu apapun kecuali aku melihat Allah sebelumnya dan sesudahnya serta bersamanya”.


1. QS. al-Ma’idah: 83.
2. QS. al-Waqi’ah: 79.
3. QS. al-Isra’: 84.
4. Osyno’I bo Ulume Islomi, bagian tentang irfan, Intisyarate Shadra, hal. 86.
5. Syi’eh dar Islom, Daftare Intisyorote Islomi, hal. 108-114.
6. QS. Fathir: 28.
7. QS. Ar-Ra’du: 19.
8. QS. Fusshilat: 53.
9. Ushul Kafi, jilid 1, Kitabu at-Tauhid, bab Annahu la yu’rofu illa bihi.
10. Du’a Shobah.
11. Doa Imam Ali Zainul Abidin as. yang dinukil oleh Abu Hamzah.
12. Doa Imam Husein as. di hari Arafah.
13. Ibid.
14. Ibid.
15. Munajat Sya’baniyah.
16. Ushul Kafi, jilid 1, Kitabu at-Tauhid- Fi Ibtholi ar-Ru’yah, hadis ke6.
17. Tuhafu al-Uqul, Intisyorote Ketobci, hal. 341.
18. Tafsir al-Mizan, jilid 6, hal. 175.
19. Ibid, jilid 6, hal. 171.
20. Ushul Kafi, jilid 1, Kitabu at-Tauhid, Babu Annahu La Yu’rofu illa bihi, hadis ke3.
21. QS. Al-Insan: 3.
22. Ushul Kafi, Kitabu al-Iman wa al-Kufr, Bab Fithrotu al-Kholqi ‘ala at-Tauhid, hadis ke4.
23. Doa Arofah.
24. Ibid.
25. Shohifah Sajjadiyah, doa yang pertama.
26. QS. As-Syuara’: 88-89.
27. Doa Kumail.
28. Doa Jausyan Kabir, no 99.
29. Ibid, no 52. Ibnu Sina juga menyinggung masalah ini di dalam kitab Maqomatu al-Arifin.
30. Ibid, no. 63.
31. Ad-Duroru al-Ghuror, dinukil dari Tafsir al-Mizan, jilid 6, hal. 173.
32. Doa setelah ziarah pada Imam Ali Ridha as.
33. QS. As-Shoffat: 84.
34. Mafatihu al-Jinan, lima belas munajat- bagian dari Munajat al-Arifin.
35. Nahjul Balaghoh, pidato 1.
36. QS. Al-Baqarah: 225.
37. QS. Fusshilat: 53.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
4+4 =