Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

IRFAN ISLAMI PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN AHLULBAYT AS. (2)


Muhammad Hadi Abde Khuda’i

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Pencipta dan Ciptaan

Masing-masing kelompok dari ahli ilmu, filsafat dan irfan mempunyai ungkapan tersendiri berkaitan dengan relasi antara pencipta dan ciptaan. Ungkapan-ungkapan itu adalah penggerak dan yang digerakkan, efektif dan efek, sebab dan akibat, wajib dan mungkin, sesuatu dan bayangan, keindahan dan cermin, serta lautan dan basah (embun), adapun ungkapan yang paling jelas dan benar adalah digunakan oleh al-Qur’an yaitu “ayat”. Kitab suci ini puluhan kali menyebut alam dengan segala fenomenanya yang menakjubkan dengan ayat-ayat Tuhan, seperti dalam ayat:[1] وَ مُن آیَاتِهِ خَلقُ السَّمَاوَاتِ وَ الاَرضِ وَ مَا بَثَّ فِیهِمَا مِن دَابَّةٍ , artinya: “Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-)Nya penciptaan langit-langit dan bumi serta apa-apa yang Dia tebarkan pada keduanya berupa makhluk-makhluk melata”.
Ayat merupakan ungkapan paling sempurna yang bisa digunakan untuk selain Tuhan. Ciptaan-ciptaan adalah kata-kata eksistensial yang menunjukkan Pencipta dan ilmu, kekuasaan, keindahan serta kebesaran-Nya.
Kekayaan Tuhan dan kefakiran ciptaan adalah hal yang tampak sempurna dalam irfan Islam, di sana tidak ada nepotisme antara sebagian ciptaan dengan yang lain, tanpa terkecuali mereka membutuhkan Tuhan. Al-Qur’an berkata tentang manusia sebagai berikut: [2] یَا اَیُّهَا النَّاسُ اَنتُمُ الفُقَرَاءُ اِلَی اللهِ وَ اللهُ هُوَ الغَنِیُّ الحَمِیدُ , artinya: “Hai manusia, kalianlah yang butuh kepada Allah sedang Allahlah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. Al-Qur’an juga mengatakan: [3] اِنَّ اللهَ لَهُوَ الغَنِيُّ الحَمِیدُ , artinya: “Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji”., [4] وَ اللهُ غَنِيٌّ حَلِیمٌ , artinya: “Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantu.”.,[5] وَ رَبُّکَ الغَنِيُّ ذُو الرَّحمَةِ , artinya: “Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat”, [6] فَإنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ العَالَمِینَ , artinya: “dan bahwasanya Allah Maha Kaya dari semesta alam”,[7] وَ أنَّهُ هُوَ أغنَی وَ أقنَی , artinya: “Dan sesungguhnya Dia memberikan kekayaan dan kecukupan”. Alam dan adam (baca: manusia) di hadapan Allah swt. tidak lebih dari nol-nol yang dengan sendirinya tidak bernilai, tapi ketika mereka bersambung dan bergantung pada-Nya ketika itu pula mereka berharga.
Penghulu para syahid dan syahid para arif Imam Husein as. berkata dalam munajatnya sebagai berikut:

"إلهی کیف استعز و في الذلة أرکزتنی، أم کیف لا أستعز و إلیک نسبتني، ألهی کیف لا أفتقر و أنت الذي في الفقراء أقمتني، أم کیف أفتقر و أنت الذي بجودک أغنیتني"[8]


“Tuhanku! Bagaimana mungkin aku menunjukkan kemuliaan di saat Engkau pendamkan diriku dalam kehinaan, atau bagaimana mungkin aku tunjukkan kehinaan di saat Engkau sandarkan aku pada Diri-Mu. Tuhanku! Bagaimana mungkin aku tidak butuh di saat Engkau dudukkan aku di antara –makhluk-makhluk– yang membutuhkan, atau bagaimana mungkin aku nyatakan diriku miskin di saat Engkau kayakan diriku dengan kedermawanan-Mu”.
Bagus sekali ilustrasi yang beliau berikan tentang keagungan Tuhan dan kebutuhan insan, di satu sisi sepenuhnya kebaikan dan anugerah, dan di sisi lain sepenuhnya kebutuhan dan kekurangan. Ketika menyebut Allah swt. beliau berkata: أنت الذی أنعمت، أنت الذی أحسنت، أنت الذی أجملت ... , artinya: “Engkaulah yang memberi nikmat, Engkaulah yang berbuat baik, Engkaulah berlaku indah ...”, dan ketika menyebut dirinya beliau berkata: [9] أنا الذی أسأتُ، أنا الذی أخطأتُ، أنا الذی هممتُ , artinya: “Akulah yang berbuat buruk, akulah yang berbuat salah, akulah yang berniat untuk melanggar”.
Redaksi yang serupa juga dapat dilihat dalam munajatnya ayah beliau Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. yang bersedih dan menangis di hadapan Allah swt. seraya berkata: ...[10] مولای یا مولای أنت العظیم و أنا الحقیر و هل یرحم الحقیر إلا العظیم، مولای یا مولای أنت القوي و أنا الضعیف و هل یرحم الضعیف إلا القوي , artinya: “Tuanku oh Tuanku! Engkau Maha Agung sedangkan aku hina dan bukankah yang –dapat– merahmati –orang– hina hanya Yang Maha Agung. Tuanku oh Tuanku! Engkau Maha Kuat sedangkan aku lemah dan bukankah yang –dapat– merahmati –orang– lemah hanya Yang Maha Kuat?!”.
Imam Ali Sajjad as. berkata di dalam munajatnya: [11] یا غنی الأغنیاء ها نحن عبادک بین یدیک و أنا أفقر الفقراء إلیک فاجبر فاقتنا بوسعک سبحانک نحن المضطرون الذین أوجبت إجابتهم , artinya: “Wahai kekayaan para kaya, inilah hamba-hamba-Mu sedang berada di hadapan-Mu dan aku adalah orang yang paling membutuhkan di antara makhluk-makhluk yang butuh kepada-Mu, maka penuhilah kebutuhanku dengan luasnya anugerah-Mu, maha suci Engkau, kami adalah –hamba-hamba– tak berdaya yang Engkau haruskan diri untuk menerima mereka”.

Keagungan Tuhan dan Kekecilan Insan

Arif akan sampai pada tingkat dia hanya mengenal keagungan dan kebesaran hanya dalam Diri Tuhan Yang Maha Suci, menurut arif selain Dia di sisi-Nya adalah kecil. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thlalib as. di Perang Shiffin membawakan pidato yang hebat sehingga salah satu dari pengagumnya memuji beliau secara berlebihan, maka beliau berkata: إن مِن حق مَن عظم جلال الله في نفسه و جل موضعه من قلبه أن یصغر عنده لعظم ذلک کل ما سواه [12] , artinya: “Seyogyanya orang yang kebesaran Allah swt. agung di mata dia dan kedudukan Allah swt. tinggi di hati dia menilai selain Allah swt. kecil di sisinya karena keagungan dan ketinggian tersebut Dia.”
Arif terpikat oleh Tuhan, seluruh keberadaannya tenggelam dalam hebatnya kesempurnaan dan keagungan Dia sehingga dia tidak melihat apa-apa kecuali keberadaan tanpa batas Tuhan dan hanya kepada-Nya dia menundukkan kepala. Arif tidak lagi mengenal dirinya sendiri ataupun selainnya, hanya Dia yang dia kenal, dia melihat dirinya tidak lebih dari atom di sinar mentari, di samping memandang dirinya bagaikan serpihan kecil jerami di hadapan Yang Maha Besar dia juga memandang selain dirinya tidak lain hanyalah keberadaan yang sepenuhnya bergantung dan butuh kepada-Nya, begitu dalamnya makrifat itu sehingga dia berbicara dengan bahasa cinta menyebut Tuhannya:[13] سبحانک ما أعظم شأنک ... , artinya: “Maha Suci Engkau, alangkah agungnya Diri-Mu ... ”, dan tentang dirinya dia mengatakan: [14] و ما أنا یا سیدي و ما خطري , artinya: “–memangnya– apa diriku wahai Tuanku dan apa pentingnya aku”. Di tempat lain dia berkata: [15] عظم الخالق في أنفسهم فصغر ما دونه في أعینهم , artinya: “Pencipta di sisi mereka adalah agung, oleh karena itu di mata mereka semua selain Dia adalah kecil”.
Arif bingung di hadapkan dengan keagungan dan kemuliaan Tuhan, itulah sebabnya dia bermunajat: [16] فلسنا نعلم کنه عظمتک إلا نعلم انک حي قیوم , artinya: “–Tuhan!– kami tidak tahu hakikat keagungan-Mu, kami sekedar tahu bahwa Engkau Hidup dan Kekal –, kehidupan yang sejati dan abadi hanya untuk-Mu, adapun keberadaan-keberadaan yang lain berdiri karena-Mu–”.
Semua kekuasaan, kemuliaan, dan kepemilikan sifatnya bergantung, temporal dan relatif, adapun kenyataan, hakikat dan kelestarian hanya milik Allah swt.. Disebutkan dalam munajat: [17] کل عزیز غیره ذلیل و کل قوي غیره ضعیف و کل مالک غیره مملوک , artinya: “Semua yang mulia selain Dia adalah hina, dan semua yang kuat selain Dia adalah lemah, dan semua pemilik selain Dia adalah dimiliki”. Semua alam mau atau tidak mau, berada di bawah kekuasaan-Nya, al- Qur’an menyebutkan: [18] وَ لَهُ أسلَمَ مَن في السَّمَاوَاتِ وَ الأرضِ طَوعًا أو کَرهًا , artinya: “Padahal segala yang di langit-langit dan di bumi telah menyerahkan diri (Islam) kepada-Nya baik dengan suka maupun terpaksa”. Maka sudah barang tentu orang yang mengingkari Tuhan secara lisan pada hakikatnya sel-sel lidahnya berada di bawah kekuasaan Tuhan, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. berkata: کل شيء خاشع له و کل شيء قائم به، غنی کل فقیر و عز کل ذلیل و قوة کل ضعیف و مفزع کل ملهوف19 , artinya: “Segala sesuatu tunduk pada-Nya dan segala sesuatu berdiri karena-Nya, Dia adalah kekayaan (baca: yang mengayakan) semua faqir (yang membutuhkan), kemuliaan (baca: yang memuliakan) semua yang hina, kekuatan (baca: yang menguatkan) semua yang lemah, dan pelindung semua yang berduka”.

Buah Irfan

Irfan membuahkan banyak hal yang berharga seperti kemesraan dengan Tuhan, ketenangan hati, pasrah diri dan rela, pengabdian dan kepatuhan yang bisa dikatakan puncaknya adalah rindu dan cinta kepada Tuhan. Allah swt. berfirman:
وَ الَّذِینَ آمَنُوا أشَدُّ حُبًّا للهِ /البقرة: 165
“Dan orang-orang yang beriman mereka lebih dahsyat dalam mencintai Allah –daripada yang lain–[20]. Adapun sebaliknya, kebodohan akan membuahkan permusuhan, sebagaimana imam para arif berkata: [21] الناس أعداء ما جهلوا , artinya: “Manusia adalah musuh apa yang mereka tidak ketahui”. Iman yang merupakan fenomena irfan mempunyai hubungan erat dengan cinta. Fudhail bin Yasar bertanya kepada Imam Ja’far Shodiq as. apakah cinta dan benci merupakan bagian dari iman? Imam Shodiq as. menjawab: [22] هل الإیمان إلا الحب و البغض , artinya: “Bukankah iman tidak lain adalah cinta dan benci”.
Poros cinta dalam ideologi irfan adalah Tuhan. Hal itu disebutkan oleh Imam Sajjad as. di dalam doanya: [23] أسألک حبک و حب من یحبک و حب کل عمل یوصلني إلی قربک , artinya: “–
Tuhan!– dari-Mu aku mohon cinta-Mu kepadaku dan cinta siapa saja yang mencintai-Mu serta cinta perbuatan apa saja yang menyampaikanku ke dekat-Mu”. Doa ini menjelaskan cinta dalam tiga bagian sebagai berikut:
1. Cinta Tuhan
Cinta Tuhan adalah konsumsi jiwa arif, hati dia berada dalam aura cinta Tuhan seperti yang Allah swt. firmankan kepada Musa as.: وَ ألقَیتُ عَلَیکَ مَحَبَّةً مِنِّي وَ لِیُصنَعَ عَلَی عَینِي24 , artinya: “Dan Kulimpahkan kepadamu cinta dari-Ku dan supaya engkau diasuh di bawah penglihatan-Ku (pemeliharaan-Ku)”. Betapa bahagianya mereka yang diasuh secara khusus oleh Allah swt. dengan cinta-Nya.
Cinta Tuhan ibarat air jernih yang sampai pada tumbuhan dan membuatnya segar serta berkembang, ibarat madu manis yang tidak akan pernah terlupakan atau digantikan dengan yang lain, Imam Sajjad as. bersahaja dalam doanya:[25] من ذا الذي ذاق حلاوة محبتک فرام منک بدلا , artinya: “–Tuhan!– siapakah yang telah merasakan manisnya cinta-Mu lalu menerima ganti selain diri-Mu”. Kemesraan dengan Tuhan bagi pecinta Tuhan lebih manis daripada segala sesuatu, dia tidak akan rela menukarnya dengan mutiara apa saja, dia senantiasa merindukan Tuhan dan berbincang-bincang dengan-Nya serta memuja-Nya seperti yang kita saksikan dalam munajat Imam Husein as.:[26] یا من أذاق أحبائه حلاوة المؤانسة فقاموا بین یدیه متملقین , artinya: “Wahai Tuhan yang membuat para pecinta-Nya merasakan manisnya kemesraan –bersama Dia– sehingga mereka mencari muka di hadapan-Nya.”
Kebahagiaan dunia dan akhirat berada di bawah naungan cinta Tuhan, Imam Sajjad as. berkata: [27] وَ انهَج لِي إلی محبتک سبیلا سهلة أکمِل به خیر ادنیا و الآخرة , artinya: “–Tuhan!– bukalah jalan yang mudah untukku menuju cinta-Mu sehingga dengan itu aku sempurnakan kebaikan dunia dan akhirat.”
Dalam buku irfan, Kekasih adalah akhir perjalanan yang mencintai-Nya dan puncak harapan dia sebagaimana diungkapkan oleh Imam Sajjad as. di hadapan Allah swt.: [28] یا غایة آمال العارفین , artinya: “Wahai puncak harapan pecinta-pecinta-Nya”. Dengan keberadaan-Nya maka arif sang pecinta tidak akan memasrahkan hatinya kepada yang lain, bahkan sebaliknya dia terputus dari semua selain Dia dan menyambung dengan Sang Kekasih serta hanya Dia yang dia minta, Imam Sajjad as. bermunajat: [29] و فرّغ قلبي لمحبتک , artinya: “Kosongkan hatiku untuk cinta-Mu dari yang lain”. Dia ingin hatinya menjadi simpanan khusus cinta Tuhan,[30] و فرغت فؤاده لحبک , artinya: “Jadikan aku salah satu orang yang hatinya telah Engkau kosongkan untuk cinta-Mu dari segala sesuatu yang lain”.
2. Muara Cinta
Cinta bermula dari Tuhan dan berkembang pada pecinta. Salah satu nama-nama indah Tuhan adalah Wadud yang berarti pecinta atau lebih tepatnya yang sangat mencintai, al- Qur’an menyebutkan: [31] وَ هُوَ الغَفُورُ الوَدُود , artinya: “Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pecinta”. Nabi Syu’aib berkata kepada kaumnya: [32] وَ استَغفِرُوا رَبَّکُم ثُمَّ تُوبُوا إلیهِ إنَّ رَبِّي رَحِیمٌ وَدُودٌ , artinya: “Dan mohonlah ampun kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pecinta”. Sehubungan dengan Nabi Musa as. Allah swt. berfirman: [33] وَ ألقَیتُ عَلَیکَ مَحَبَّةً مِنِّي , artinya: “Dan Kulimpahkan kepadamu cinta dari-Ku”. Dan ketika Allah swt. memberikan berita gembira orang-orang mukmin masa depan Dia berfirman: [34] یُحِبُّهُم وَ یُحِبُّونَهُ , artinya: “Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”.
Syahid di jalan irfan dan keadilan, Imam Husein as. berkata dalam doanya:[35] و أنت الذي أزلت الأغیار عن قلوب أحبائک حتی لم یحبوا سواک و لم یلجأوا إلی غیرک , artinya: “–Tuhan!– Engkaulah yang menghilangkan segala sesuatu yang lain dari hati para pecinta-Mu sehingga mereka tidak mencintai selain-Mu dan tidak berlindung kepada selain-Mu.” Allah swt. dengan hujan rahmat-Nya, Dia menyucikan hati insan dari segala debu dan kotoran sehingga insan tersebut hanya mencintai-Nya, Dia pula yang menghindarkan insan itu dari kelalaian sehingga dia hanya hanya merindukan-Nya, hanya Dia yang memisahkan segala warna dari hati pecinta agar hanya warna Allah swt. yang menghiasinya: [36] وَ مَن أحسنُ مِنَ اللهِ صِبغَة , artinya: “Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya (gambar atau pewarnaan!) daripada Allah”. Dia swt. juga berfirman tentang cinta iman: وَ لکِنَّ اللهَ حَبَّبَ إلَیکُمُ الإیمَانَ وَ زَیَّنَهُ فِي قُلُوبِکُم وَ کَرَّهَ إلَیکُمُ الکُفرَ وَ الفُسُوقَ وَ العِصیَانَ37 , artinya: “Tetapi Allah telah menimbulkan cinta kalian kepada iman dan menjadikan iman itu indah di dalam hati kalian serta menimbulkan kebencian kalian kepada kekafiran dan kefasikan serta kedurhakaan”. Imam Ali Zainal Abidin as. berkata: الحمد لله الذي تحبب إلي و هو غني عنّي38 , artinya: “Puja kehadirat Allah yang menunjukkan cinta-Nya padaku padahal Dia tidak butuh apa-apa dariku.”
Secara global, fitrah insan dibangun atas dasar cinta Tuhan, tapi akibat dosa maka debu kelalaian menghinggapi hatinya bagaikan karat. Itulah sebabnya dia menjadi lalai, padahal cinta dan rindu Tuhan seperti cinta dan kerinduan anak terhadap ibunya yang sudah terpatri dalam fitrah penciptaan manusia sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali Zainul Abidin as.:[39] ابتدع بقدرته الخلق ابتداعا و اخترعهم علی مشیته اختراعا ثم سلک بهم سبیل إرادته و بعثهم في سبیل محبته , artinya: “Allah –swt.– menciptakan segala sesuatu dengan kekuasaan-Nya dan memakaikan baju keberadaan dengan kehendak-Nya, dan menggerakkan mereka di jalan keingingan-Nya, dan mengutus mereka di jalur cinta-Nya.”
3. Cinta Kekasih Tuhan
Iman adalah cinta Tuhan dan cinta pada kekasih Tuhan juga termasuk bagian dari iman sebagaimana difirmankan dalam al-Qur’an: وَ المُؤمِنُونَ وَ المُؤمِنَاتُ بَعضُهُم أولِیَاءُ بَعضٍ40 , artinya: “Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi kekasih sebagian yang lain”. Rasulullah saw. bersabda:[41] وُدُّ المؤمِن لِلمؤمِنِ في الله مِن أعظَم شعب الإیمان , artinya: “Cinta seorang mukmin terhadap mukmin yang lain untuk Allah dan di jalan-Nya adalah salah satu cabang iman yang terbesar”.
Jangan beranggapan bagaimana mungkin ada cinta pada yang lain di saat cinta pada Allah swt. memenuhi hati seseorang, karena cinta terhadap kekasih-kekasih Allah swt. bukan sejajar dengan cinta pada Allah swt. melainkan sepanjang vertikal cinta Allah swt. Imam Ja’far Shodiq as. berkata: ممن أحب لله و أبغض لله و أعطی لله فهو ممن کمل إیمانه , artinya: “Barangsiapa mencintai karena Allah dan membenci karena Allah serta memberi karena Allah maka dia tergolong orang-orang yang sempuna imannya”.
Suatu hari Rasulullah saw. bertanya kepada sahabatnya “Apakah pedoman iman yang paling kuat?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Di antara mereka ada yang menyebutkan shalat, dan sebagian lagi menyebutkan zakat, puasa, haji dan umrah serta jihad. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Masing-masing dari yang kalian sebutkan mempunyai keutamaan tersendiri, tapi itu semua bukan jawaban dari pertanyaanku”. Lalu beliau bersabda:[42] و لکن أوثق عُری الإیمان الحب في الله و البغض في الله و توالي أولیاء الله و التبرّي من أعداء الله , artinya: “Melainkan pedoman iman yang paling kuat adalah cinta untuk Allah, benci untuk Allah, mencintai –atau mengikuti– kekasih-kekasih Allah, dan menolak musuh-musuh Allah”.
Abu Bashir berkata aku mendengar Imam Ja’far Shodiq as. berkata: “Di hari kiamat, orang-orang yang saling mencintai untuk Allah akan berada di mimbar-mimbar cahaya sehingga cahaya wajah, cahaya tubuh dan cahaya mimbar mereka menerangi segala sesuatu, dan mereka diperkenalkan sebagai orang-orang yang saling mencintai (bersahabat) di jalur Ilahi”. [43]
Imam Sajjad as. menyebut orang-orang yang saling mencintai di jalan Allah swt. dengan figur-figur terkemuka di hari kiamat yang dikenal sebagai متحابون في الله (orang-orang yang saling mencintai di jalan Allah) [44]. Imam Baqir as. juga berkata: “Apabila kamu ingin tahu, apa ada kebaikan di dalam dirimu maka lihatlah hatimu, jika dia mencintai ahli taat kepada Allah dan membenci ahli maksiat kepada-Nya maka ketahuilah ada kebaikan di dalam dirimu dan Allah mencintaimu, adapun jika dia membenci ahli maksiat kepada Allah dan mencintai ahli taat kepada-Nya maka ketahuilah tidak ada kebaikan di dalam dirimu dan Allah membencimu”. Kemudian beliau berkata:[45] و المرأ مع من أحبّ , artinya: “Setiap orang selalu bersama yang dia cintai”.

Siapa Saja Yang Pantas Kita Cintai?

Mana kala poros dan tolok ukur cinta adalah Tuhan maka sudah seyogyanya kita perhatian siapakah yang Allah swt. senangi untuk kita cintai dan siapakah yang Allah swt. tidak senang untuk kita benci. Persoalan ini dijawab secara sempurna dan jelas oleh oleh al-Qur’an sebagaimana Anda bisa perhatikan dalam berbagai ayat:[46] إنَّ الله یُحِبُّ المُتَوَکِّلِینَ artinya:“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal”. [47] وَ أحسِنُوا إنَّ اللهَ یُحِبُّ المُحسِنِینَ , artinya: “Dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.[48] إنَّ الله یُحِبُّ التَوَّابِینَ , artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat”. [49] إنَّ الله یُحبُّ المُتَّقِینَ , artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa”. [50] إنَّ الله یُحبُّ المُقسِطِینَ , artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. [51] إنَّ الله یُحبُّ الَّذِینَ یُقَاتلُونَ فِي سَبِیلِهِ , artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya”.[52] وَ اللهُ یُحِبُّ الصَّابِرِینَ , artinya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar”. وَ یُحِبُّ المُتَطَهِّرِینَ53 , artinya: “Dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri”.
Adapun sebaliknya; [54] وَ اللهُ لَا یُحِبُّ المُفسِدِینَ , artinya: “Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan”. [55] إنَّ اللهَ لَا یُحِبُّ المُعتَدِینَ , artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas”.[56] وَ اللهُ لَا یُحِبُّ الظَّالِمِینَ , artinya: “Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang zalim”.[57] إنَّهُ لَا یُحِبُّ المُستَکبِرِینَ , artinya: “Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang sombong.” [58] إنَّهُ لَا یُحِبُّ الخَائِنیینَ , artinya: “Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang pengkhianat”. [59] إنَّهُ لَا یُحِبُّ المُسرِفِینَ , artinya: “Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan”. [60] إنَّ اللهَ لَا یُحِبُّ کُلَّ مُختَالٍ فَخُورٍ , artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencintai semua orang yang sombong lagi congkak”.

Cinta pada Perbuatan yang Disenangi Tuhan

Pecinta senantiasa memikirkan kepuasan dan kerelaan kekasihnya, tidak mungkin dia melakukan perbuatan yang tidak disenangi oleh kekasihnya. Itulah sebabnya insan yang mencintai Tuhan selalu melangkah di jalur keridhoan-Nya. Berkenaan dengan hal ini, al-Qur’an secara global menjelaskan jalur cinta dan keridhoan Tuhan sebagai berikut:
قُل إن کُنتُم تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِی یُحبِبکُمُ اللهُ[61]

“Katakanlah –wahai Rasulullah!– jika kalian –benar-benar– mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian”. Ayat ini menunjukkan beberapa poin di bawah ini:
1. Konsekuensi cinta Tuhan adalah mengikuti Rasulullah saw. –utusan-Nya–.
2. Hasil dari pengikutan pada Rasulullah saw. adalah Allah swt. juga akan mencintai insan yang mengikuti Rasulullah saw. tersebut.
3. Klaim cinta Tuhan tapi membangkang dari pengikutan pada Rasulullah saw. adalah klaim yang hampa dan batil. Ada ungkapan indah tentang hal ini dalam hadis: [62] تعصی الإله و أنت تظهر حبه , artinya: “Kamu membangkang pada Tuhan di saat kamu ungkapkan cinta pada-Nya.”

Motif Kepatuhan

Sebagian orang beribadah dengan motif ingin surga, sebagian lagi karena takut neraka. Adapun motivasi insan arif dalam beribadah adalah cinta dan terima kasih kepada Yang Haq, cinta dan terimakasih itu disebabkan oleh irfan dan kesadaran. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. berkata:[63] إن قوما عبدوا الله رغبة، فتلک عبادة التجار، و إن قوما عبدوا الله رهبة فتلک عبادة العبید، و إن قوما عبدوا الله شکرا فتلک عبادة الأحرار. artinya: “Sebagian orang menyembah Allah karena ingin pahala, itu adalah ibadahnya pedagang, sebagian lagi menyembah Allah karena takut, itu adalah ibadahnya budak, dan sebagian yang lain menyembah Allah karena bersyukur, maka itu adalah ibadahnya orang-orang yang merdeka”.
Para imam suci as. bermunajat di hadapan Allah swt.:[64] لم یکن لي حول فأنتقل به عن معصیتک إلا في وقت أیقظتني لمحبتک , artinya: “–Tuhan!– aku tak mempunyai daya untuk dapat dengan sendiri berpindah dari pembangkangan terhadap-Mu kecuali ketika Engkau bangunkan aku untuk mencintai-Mu”. Manusia ketika bermaksiat dia tenggelam dalam kelalaian, itulah kenapa dia terpikat dengan sesuatu yang majas, hanya saat Allah swt. membangunkannya dia tidak lagi menjual cinta Ilahi dengan cinta setan dan tidak menutupinya dengan fatamorgana serta tidak mendahulukan mimpi daripada anugerah yang sesungguhnya.
Di bawah sorotan cinta, insan yang arif lebih mendahulukan pahitnya harta yang halal daripada manisnya harta yang haram dan kesulitan daripada kenyamanan bahkan bagi dia hal itu lebih dia sukai. Seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf as. ketika diundang oleh peri-peri Mesir dia menundukkan diri di hadapan Allah swt. seraya berkata: [65] رَبِّ السِّجنُ أحَبُّ إلَيَّ مِمَّا یَدعُونَنِي إلَیهِ , artinya: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku”.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. berkata: و الله لأن أبیت علی حسک السعدان مسهّدا أو أجر في الأغلال مصدقا أحب إلي من أن ألقی الله و رسوله یوم القیامة ظالما لبعض العباد و غاصبا لشيء من الحطام66 , artinya: “Demi Allah, aku lebih suka bermalam di atas duri Sa’dan atau ditarik dengan belenggu dan rantai daripada aku menemui Allah dan Rasulullah di hari kiamat dalam keadaan aku telah berbuat zalim kepada sebagian hamba-hamba-Nya atau merampas sebagian harta dunia”. Beliau juga berkata:[67] إن أفضل الناس عند الله من کان العمل بالحق أحب إلیه و إن نقصه و کرثه من الباطل و إن جرّ إلیه فائدة و زاده , artinya: “Manusia paling utama di sisi Allah adalah barangsiapa yang lebih menyukai perbuatan yang haq (benar) daripada perbuatan yang batil meskipun dengan itu dia mendapatkan tekanan dan pengurangan dan meskipun dengan kebatilan dia bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak”.
Fokus yang lebih menarik untuk diperhatikan dalam perkataan imam di atas adalah ungkapan أحبّ yang berarti lebih menyukai atau lebih mencintai daripada. Memang itulah kenyataannya bagi insan yang mulia dan saleh, kesulitan di jalan Allah swt. lebih mereka sukai daripada harta berlimpah di jalan yang batil sebagaimana Ammar Yasir dan Maitsam Tammar sangat lebih menyukai olah jiwa dan qana’ah (karakter merasa cukup dan rela dengan apa yang seseorang peroleh) bersama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. daripada kedudukan dan harta di sisi Muawiyah.
Imam Sajjad as. berdoa kepada Allah swt. agar hatinya diletakkan di jalan menuju Tuhan yang paling Dia cintai: [68] و أجر به في أحب السبل إلیک . Beliau juga berkata sehubungan dengan tubuhnya: و استعمل بدني فیما تقبله مني و اشغل بطاعتک نفسي عن کل ما یرد علي حتی لا أحب شیئا من سخطک و لا أسخط شیئا من رضاک69 , artinya: “Gunakan tubuhku dalam hal yang Engkau terima dariku, sibukkan diriku dengan ketaatan pada-Mu daripada apa saja yang memalingkanku dari-Mu agar aku tidak mencintai sesuatu yang mengundang amarah-Mu dan tidak membenci sesuatu yang mengundang ridho-Mu”.
Pada bagian yang sebelumnya telah kami jelaskan siapa orang-orang yang dicintai oleh Allah swt. dan siapa orang-orang yang Dia benci. Cinta dan kebencian Allah swt. dikarenakan karakter baik atau buruk mereka. Ayat-ayat yang telah disebutkan di sana menjadi tolok ukur terbaik untuk menyukai karakter apa saja yang seyogyanya kita hiasi diri dengan itu dan menolak karakter apa saja yang seyogyanya kita hindari.

Rindu

Rindu adalah cinta yang dahsyat dan mendalam. Mungkin bisa dikatakan padanan rindu adalah firman Allah swt.: [70] و الذین أشد حبا لله , artinya: “Dan orang-orang yang beriman cinta mereka kepada Allah lebih dahsyat –daripada yang lain–.” Adapun di dalam hadis, kata rindu jarang sekali digunakan, di antaranya adalah:
1. Rasulullah saw. bersabda: [71] إن الجنة لأعشق من سلمان للجنة , artinya: “Sesungguhnya surga lebih merindukan Salman daripada Salman merindukan surga”. Salman adalah hiasan bagi surga sebagaimana sebagian orang merupakan hiasan dan kebanggaan bagi sebuah kedudukan dan bukan sebaliknya kedudukan tersebut menjadi hiasan dan kebanggaan bagi mereka.
2. Ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. melewati padang Karbala, beliau mencucurkan air mata seraya berkata: و مصارع عشاق شهداء لا یسبقهم من کان قبلهم و لا یلحقهم من کان بعدهم72 , artinya: “Di sini adalah tempat pembantaian para perindu yang syahid yang tidak didahului oleh orang-orang sebelumnya dan juga setelah mereka pun tidak ada orang yang mencapai kedudukan mereka”.
3. Imam Ja’far Shodiq as. berkata:

أفضل الناس من عشق العبادة فعانقها و أحبها بقلبه و باشرها بجسده و تفرغ لها فهو لا یبالي علی ما أصبح من الدنیا، علی عسر أم علی یسر[73]


artinya: “Manusia paling utama adalah barangsiapa yang merindukan ibadah dan mencintainya dengan hati, menjalankannya dengan tubuh dan menghabiskan waktunya untuk itu, dia tidak peduli bagaimana dia hidup di dunia ini, apakah dalam kesulitan atau dalam kenyamanan.”

Poin Penutup

Alasan kenapa kata rindu jarang sekali digunakan di dalam hadis, mungkin karena perkataan para imam suci as. adalah kosong dari segala hal yang bersifat berlebih-lebihan, kata rindu adalah kata yang tinggi yang tidak bisa digunakan untuk semua orang, melainkan hanya untuk mereka yang betul-betul terpikat oleh mihrab ibadah yang rindu mereka terhadap ibadah sudah menyatu dengan ruh mereka, bisa juga digunakan untuk mereka yang mengorbankan nyawa mereka di medan kesyahidan, yaitu mereka yang keberadaan mereka telah menyatu dengan ikhlas, itu pun bukan sekedar syahid melainkan para syahid di waktu Asyura dan di medan Karbala.


1. QS. As-Syura: 29.
2. QS. Fathir: 15.
3. QS. Al-Hajj: 64.
4. QS. Al-Baqarah: 263.
5. QS. Al-An’am: 133.
6. QS. Aalu-Imran: 97.
7. QS. An-Najm: 48.
8. Bagian dari Doa Arafah.
9. Doa Arafah.
10. Munajat di Masjid Kufah, dari Mafatihul Jinan.
11. Sahifah Sajjadiyah, doa ke10.
12. Nahjul Balaghah, pidato ke216.
13. Ibid, pidato ke 108/109.
14. Doa Abu Hamzah Tsumali, 30; Nahjul Balaghoh, pidato ke 184/193.
15. Nahjul Balaghoh, pidato ke 59/160. Sa’di berkata: hameh har ceh hastand az on kamtarand, keh bo hastiasy nome hasti barand, artinya: semua, apapun mereka pasti lebih sedikit dari-Nya, karena mereka menyandang nama keberadaan dengan keberadaan-Nya.
16. Ibid, pidato ke 160.
17. Ibid, pidato ke 64/65.
18. QS. Aalu Imran: 83.
19. Nahjul Balaghoh, pidato ke 109.
20. QS. Al-Baqarah: 165.
21. Nahjul Balaghoh, kata mutiara ke430.
22. Ushul Kafi, bab al-Hubbu fillah wa al-bughdlu fillah, hadis ke5.
23. Mafatihul Jinan, Munajat Muhibbin.
24. QS. Thahaa: 39.
25. Mafatihul Jinan, Munajat Muhibbin.
26. Doa Arofah.
27. Shohifah Sajjadiyah, doa ke21.
28. Mafatihul Jinan, Munajat Muhibbin.
29. Shohifah Sajjadiyah, doa ke21.
30. Mafatihul Jinan, Munajat Muhibbin.
31. QS. al-Buruj: 14.
32. QS. Hud: 90.
33. QS. Thaha: 39.
34. QS. al-Ma’idah: 54.
35. Doa Arofah.
36. QS. al-Baqarah: 138.
37. QS. al-Hujurat: 7.
38. Shohifah Sajjadiyah, doa pertama.
39. Doa Iftitah.
40. QS. at-Taubah: 71.
41. Ushul Kafi, jilid 4, bab al-Hubbu fillah wa al-Bughdlu fillahi.
42. Ibid, hadis ke6.
43. Ibid, hadis ke4.
44. Ibid, hadis ke8.
45. Ibid, hadis ke11.
46. QS. Aalu-Imran: 195.
47. QS. al-Baqarah: 195.
48. QS. al-Baqarah: 222.
49. QS. Aalu-Imran: 76.
50. QS. al-Ma’idah: 42.
51. QS. al-An’am: 4.
52. QS. Aalu-Imran: 146.
53. QS. al-Baqarah: 222.
54. QS. al-Ma’idah: 64.
55. QS. al-Baqarah: 19.
56. QS. Aalu-Imran: 57.
57. QS. an-Nahl: 23.
58. QS. al-Anfal: 58.
59. QS. al-A’raf: 31.
60. QS. Luqman: 18.
61. QS. Aalu-Imran: 31.
62. Tuhaful Uqul, hal. 303, diriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir as.
63. Nahjul Balaghoh, kata mutiara ke229.
64. Munajat Sya’baniyah.
65. QS. Yusuf: 33.
66. Nahjul Balaghoh, pidato ke224.
67. Ibid.
68. Shohifah Sajjadiyah, doa ke21.
69. Ibid.
70. QS. al-Baqarah: 165.
71. Safinatul Bihar, kata Isyq.
72. Ibid.
73. Ushul Kafi, terjemahan parsi Musthafawi, jilid 3, hal. 131.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
2+10 =