Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

JIHAD AN-NAFS: PROSES PENJELMAAN MANUSIA MALAIKAT



Ada fenomena menarik belakangan ini. Yakni maraknya pusat-pusat kajian tasawuf di tanah air, terutama di kota-kota besar. Sebagian orang memandang euforia spiritualitas seperti itu merupakan perkembangan positif ke arah “kembalinya” orang-orang kota ke kehidupan spiritual; setelah merasa “jengah” dengan kehidupan serba materi. Kehidupan keberagamaan seperti itu telah memperoleh momennya untuk hidup kembali, kata mereka.
Tetapi, kita patut bersikap kritis, kalau tidak skeptis, atas perkembangan di atas. Tentunya. manakala kita mencermati hal itu dari dekat. Di situ kita akan melihat bahwa orientasi materi mereka pada dasarnya tidaklah beranjak dari tempat semula. Tak ada yang berubah, kecuali kemasan dan polesan “spiritual”-nya yang baru dan trendy. Parahnya, euforia seperti itu membawa pula dampak yang negatif. Nilai-nilai spiritual yang berada pada tataran maknawi dan malakuti mengalami proses materialisasi. Proses penemuan dan pencarian diri, misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa fisik: pengasingan diri, kerja fisik yoga, latihan pernafasan, dan lain-lain.
Nah. di tengah menjamurnya korupsi makna spiritual seperti itu, kehadiran buku yang bersumber dari ceramah-ceramah seorang ustadz akhlak asal Hauzah Ilmiyyah Qum ini akan mampu menjadi obat penyembuh. Ia akan membawa manusia menjadi insan malakuti yang sebenarnya, menjadi hamba Allah swt, bukan sebaliknya, menjadi hamba dunia. Ayatullah Husain Madzahiri adalah nama yang tak asing lagi bagi kalangan pelajar di kota ilmu tersebut. Ceramah-ceramah akhlaknya senantiasa dipadati pengunjung.
Beliau adalah pembimbing spiritual yang sebenarnya. Dengan gaya bahasa yang khas, kata-katanya menyentuh hati para pendengar, dan ―dalam hal tulisan― pembacanya. Ditambah kisah-kisah teladan dari zaman Rasulullah saww, para Imam Ahlul Bait Nabi, dan para sahabat mereka, ia selalu mengutip para gurunya, Ayatullah Borujerdi, Allamah Thabathaba’i, dan terutama, Pemimpin Revolusi Islam dan guru kesayangannya, Imam Khomeini.

Membaca buku ini, lembar demi lembar, pembaca akan diajak pada upaya untuk membangun sisi-sisi spiritual dari kehidupan. Jihad an-Nafs, yang merupakan judul asli buku ini, merupakan tema sentralnya. Beliau menyebutkan bahwa manusia memiliki dua dimensi, dan ini merupakan kelebihan manusia dibanding semua makhluk lain. Dimensi pertama, materi, yang di dalam filsafat dinarnakan juga dengan “dimensi hewani”. Dari dimensi ini, manusia tak lebih dari seekor hewan dalam arti yang sesungguhnya, alias tak berbeda sama sekali dengan keberadaan hewan-hewan lain. Pada dimensi yang lain, manusia juga memiliki spiritualitas. Dimensi ini merupakan dimensi malakuti, yang dalam filsafat dinamakan dengan “ruh”. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa manusia terdiri dari “ruh” dan jism (jasad). Akal, ruh, nurani, akhlak, dan hati, semuanya mempunyai arti yang sama, yaitu tertuju pada sisi spiritual manusia. Kesempurnaan manusia terjadi melalui perpaduan komposisi ini. Oleh karena eksistensi malaikat hanya berdimensi spiritual saja, maka dia tak dapat dilihat, dan tak akan bisa kesempurnaan disaksikan padanya (hal. 33).
Dalam diri manusia, kedua kutub kekuatan tersebut saling berhadap-hadapan dan berkonfrontasi secara dahsyat, bak dua pasukan kuat dan besar yang saling bertempur dalam sebuah medan peperangan. Rasulullah saww menyebut peperangan ini sebagai “peperangan terbesar” (al-jihad al-akbar). Pertempuran ini berlangsung terus-menerus. Jika seseorang mampu meraih kemenangan melawan kecenderungan instinktualnya, kemudian menawan, membungkam, menjinakkan, dan mendidiknya, maka pada hakikatnya ia bakal mampu mencapaitempat mana saja yang dikehendaki. Kebahagiaan dunia dan akhirat bergantung pada hasil ini.
Tentu, kita harus memuaskan segenap dorongan instink. Kita tidak mungkin membunuh nafsu yang bersemayam dalam diri. Membunuh hawa nafsu, atau menjalani pola hidup kerahiban, bersikap fatal dalam menjauhi dunia (uzlah), dan hal lain yang semacamnya, jelas diharamkan dalam Islam. Malah amat kontras dengan semua itu, kita harus pula memanfaatkan dan, mengelola aspek instinktual. Hawa nafsu tak ubahnya seperti kuda liar yang harus dikendalikan dan ditunggangi. Inilah arti dari kemenangan. Yaitu, dapat menguasai nafsu ammarah (kecenderungan instink). Jika yang terjadi sebaliknya, yaitu mengalami kekalahan proses perseteruan, dan salah satu instink kita dapat menaklukkan dimensi spiritual, tentunya kesengsaraan dunia dan akhirat akan menjadi nasib kita (hal. 62).
****

Pada halaman-halaman berikut, bab demi bab, buku yang termasuk kategori tebal ini, berisi pembahasan sang Ayatullah tentang bagaimana kita dapat menang perang. Beliau menyatakan bahwa untuk mencapai itu, manusia harus memperoleh bantuan dari luar dirinya. Pertama, melaksanakan shalat. Beliau menyebut bahwa kewajiban shalat bisa menjadi penolong dalam hal tersebut. Dengan gaya penyampaian yang luar biasa, sesekali dengan ayat al-Quran, kisah (riwayat), bahkan syair, ulama yang juga pakar fiqih ini membawa kita pada keharusan dan nikmatnya berjuang mendekatkan diri pada Allah. Dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami, kita digiring pada suatu keadaan seolah-olah beliau sendiri hadir dan berbicara di hadapan kita.
Kekuatan penolong kedua yang disebutkan adalah “sabar”. Beliau kemudian membagi sabar ke dalam tiga bagian. Sabar ketika mendapatkan kesulitan, sabar dalam melakukan ibadah, dan sabar dalam menjauhkan diri dari maksiat. Selain itu, beliau juga merinci bagaimana memperoleh maqam sabar dan kenikmatan bagi orang yang mampu menggapainya. Yakni, Allah swt akan ber-shalawat kepadanya, seperti yang terjadi pada diri Rasul saww. Juga rahmat Allah akan senantiasa berlimpah kepadanya dan tangan pertolongan Allah akan senantiasa menaungi.
Kekuatan-kekuatan luar lain sebagai penolong kita, yang disebutkan dan dibahas guru akhlak ini, bab demi bab, adalah: tobat dan kelapangan dada. Pada bab berikutnya, dibahas masalah kifarat dosa dan ubudiyah kepada Allah swt. Pada bagian kedua buku ini, dibahas kekuatan berikutnya agar manusia mampu mengalahkan dimensi hewani, yakni berusaha dan ber-istiqamah dalam amal perbuatan, ikhlas, shalat malam, berlindung kepada al-Quran, doa, ber-tawassul kepada Ahlul Bait Rasulullah saww yang merupakan syarat-syarat pokok doa, mengingat Allah, dan ber-tawakkal kepada Allah.

*****

Hal lain yang perlu juga dibahas di sini, dan yang merupakan keistimewaan lain buku ini, adalah pembahasan penulis tentang tajassum al-‘amal (penjelmaan amal perbuatan). Al-Quran menyerupakan dosa dengan: kesulitan, musibah, dan rasa sakit. Yakni, dosa-dosa kita menjelma dalam bentuk fisik. Al-Quran menyatakan, “Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 110). Sesungguhnya dosa mendatangkan rasa takut bagi manusia, memicu keraguan yang tiada akhir, hingga akhirnya mencabik-cabik hati menjadi berkeping-keping.
Kata-kata “Disebabkan perbuatan mereka sendiri”, dan juga kata-kata “Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan,” artinya ialah manusia itu sendiri yang menyebabkan kesulitan-kesulitan bagi dirinya. “Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan” artinya, bahwa Anda sendiri lah yang telah membangun rumah jahannam dan penjara ini. Jika kehidupan Anda gelap dan menakutkan, maka Anda sendiri yang telah menjadikan hal itu bagi diri Anda.
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-menindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tidaklah ia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka tidaklah ia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS. an-Nur: 40)
Jika tangan pertolongan Ilahi tidak berada di atas kepala Anda, jika hidup telah kosong dari cahaya, jika dosa telah meliputi Anda dan telah menggiring ke suatu tempat dimana tangan pertolongan Ilahi tidak berada di atas tangan Anda, maka ketahuilah sesungguhnya hidup Anda tengah berada dalam kegelapan dan keadaan menakutkan. Al-Quran menyatakan bahwa kehidupan yang tanpa disertai Allah, kehidupan yang tanpa disertai hubungan dengan Allah, dan kehidupan yang dipenuhi dosa adalah kehidupan yang gelap dan menakutkan. (hal. 110-111)
*****
Pembahasan akhlak berbeda dengan pembahasan filsafat. Pembahasan filsafat sangat sulit dalam hal penjelasan dan penyampaiannya. Tapi pembahasan akhlak sangat mudah dalam hal penyampaian, hanya saja praktik dan pelaksanaanhya sangat sulit. Untuknya, diperlukan contoh, teladan, dan kecintaan pada seorang panutan. Itulah makanya dikatakan dalam sebuah riwayat, “Barangsiapa menangis, atau membuat orang menangis, atau juga memaksakan din untuk menangis bagi Husain as, maka surga wajib baginya.” (Tangisan dimaksud adalah tangisan untuk mengenang Tragedi Karbala, yakni pembantaian yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap al-Husain, cucu Nabi, beserta keluarganya pada tahun 61 H).
Untuk apa ganjaran yang begitu banyak ini diberikan? Ganjaran itu agar seorang muslim mempunyai hubungan dengan para imamnya yang mulia. Bila seorang muslim mempunyai hubungan dengan mereka, maka dia akan berusaha menyerupai dan mengikuti mereka. Ketika itulah muncul keterpikatan dirinya pada mereka, dan juga ketundukan dirinya pada perintah-perintah dan larangan-larangan mereka, yang pada dasarnya merupakan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah swt.
Seorang manusia yang membawa akar kecintaan kepada Ahlul Bait as di dalam dirinya, tidak ubahnya seperti gunung yang menyimpan tambang emas dalam perutnya. Untuk mengeluarkan emas dari perut gunung, maka diperlukan daya panas yang tinggi, yang dihasilkan dari api yang sangat panas. Dengan begitu manusia dapat mengeluarkan emas dari dalam perut gunung itu. Demikian juga kecintaan kepada Ahlul Bait yang ada dalam hati manusia; dia memerlukan faktor pembantu yang akan menyalakannya dan mengeluarkannya dari keadaan pasif menjadi aktif. (hal 328)
Karena itulah, buku yang sangat bermanfaat ini, pada bagian ketiganya, berisi tentang bagaimana mencintai Ahlul Bait Rasulullah saww. Di dalamnya, dikemukakan nash-nash al-Quran, hadis, riwayat para Ahlul Bait sendiri, dan penderitaan serta ketundukan mereka yang sempurna kepada Allah swt. Di bagian ini dibahas juga tentang perjalanan menuju Allah swt dan berbagai penghambatnya, seperti kelalaian, keraguan dan khayalan, nafsu ammarah, hasud, sombong, dan riya’; tidak ketinggalan tentang musuh lahir kita: setan. Pada bagian akhir ini juga dibahas kelahiran Rasulullah saww, musibah Fathimah az-Zahra as, keutamaan-keutamaan Imam Ali as, dan Imam Mahdi al-Muntadzar as.
Berkenaan dengan teknis penulisan, perlu ditekankan kembali bahwa buku ini adalah berasal dari ceramah-ceramah seorang ulama ‘irfan. Tentu bahasa yang digunakan adalah bahasa ceramah, bukan bahasa buku. Pengulangan demi pengulangan sering kali terjadi di sana sini. Tapi begitulah pembinaan akhlak, perlu pengulangan demi pengulangan, seperti yang dikemukakan sendiri oleh ulama rendah hati ini. Al-Quran yang mulia, karena diturunkan untuk membina akhlak manusia, juga sering melakukan pengulangan-pengulangan. Dan inilah, seperti yang dikatakan Imam Khomeini, bukti kesempurnaan al-Quran al-Karim.
Kiranya, pembaca perlu menikmati sendiri sajian Sang Ayatullah ini. Nikmatnya mereguk lembar demi lembar sumber keutamaan akhlak ini, akan menjadikan kita lupa, bahkan terhadap sejumlah kecil kesalahan ketik yang luput dari mala awas sang penyunting buku ini. Selamat berjuang!





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
8+6 =