Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |

|

SYEKH KULAINI


Hasan Ibrahim Zadeh

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Dari kehidupan Tsiqatul Islam Kulaini tidak ada yang sampai kepada kita lebih dari "Al-Kâfî". "Al-Kâfî" adalah kartu identitas Syekh Kulaini, dan Kulaini harus ditonton dari layar kaca "Al-Kâfî". "Al-Kâfî" adalah puncak tinggi yang tanpa mendakinya seseorang tidak bisa menjadi mujtahid, samudera yang tanpa mengarunginya seseorang sulit sekali untuk memahami ajaran-ajaran agama. Iman, cahaya, zuhud, dan ketakwaan pengarang buku induk hadis Syi'ah yang paling penting ini –Tsiqatul Islam Kulaini– akan kita saksikan bersama secara nyata. Mari kita sama-sama hanyut dalam rumah dia dan memperkenalkannya kepada generasi muda Islam pada khususnya dan kepada dunia Islam pada umumnya agar mereka semua dapat merasakan hangatnya mentari hadis yang dia wariskan kepada kita.

Terbitnya Mentari

Pada saat tidak ada suara yang terdengar di dunia Islam kecuali suara tapal-tapal kuda Dinasti Abbasi, lahir seorang anak di salah satu desa di Iran yang merupakan jantung Syi'ah yang bernama Kulain, anak itu lahir di rumah yang sarat dengan kecintaan terhadap Ahlibait as. dan riwayat hidupnya melebur dengan gaib kecil Imam Mahdi af. Anak itu diberi nama Muhammad oleh ayahnya, Ya'qub bin Ishaq, dan untuk pertama kalinya anak itu mendengar suara azan dan iqomat yang pada waktu itu dikumandangkan oleh ayahnya di telinga sambil mengelus-elusnya. Kelas pertama Muhammad adalah pangkuan suci dan penuh kasih sayang ibunya. Muhammad menempuh jenjang-jenjang dasar ilmu-ilmu Islam di sisi ayah dan pamannya, Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Aban, yang merupakan guru ilmu hadis. Setelah melewati jenjang dasar pendidikan dan pengenalan awal dengan sumber-sumber ilmu rijal dan hadis, Muhammad berhijrah dari Kulain dengan bekal makrifat Ahlibait as. untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dalam dirinya, meneguk air segar dari lautan ilmu dan wahyu yang tidak terbatas, dan meraih kesempurnaan-kesempurnaan spiritual dan insani, langkah pertama hijrahnya adalah kota Rei. Meskipun jarak 38 kilometer antara desa Kulain dan kota Rei bagi Muhammad yang meninggalkan tempat lahirnya untuk selama-lamanya adalah jauh sekali dan sedihnya keterasingan dari keluarga sangat menyiksanya, akan tetapi semua itu mudah bagi orang seperti Muhammad Kualini yang melangkah dan hidup demi Allah swt.

Memilih Tujuan

Ketika Syekh Kulaini memasuki kota Rei, mayoritas penduduk kota itu bermazhab Hanafi dan Syafi'i. Namun karena di sekitar kota itu terdapat tokoh-tokoh Syi'ah, maka mayoritas pengikut Ahlisunnah di sana senantiasa dipengaruhi oleh akhlak dan sepak terjang islami mereka. Itulah sebabnya, kawasan ini lebih populer dengan sebutan kota Syi'ah. Rei pada kala itu adalah kota yang besar sekali, berbagai ideologi dan mazhab hidup bersama di sana secara damai dan tentram. Tapi kadang-kadang ketenangan itu dinodai oleh beberapa gerakan politik. Kelompok Isma'iliah lebih banyak menanamkan modalnya di sana dengan tujuan menguasai Iran, mereka bersikukuh untuk bertabligh dan menyebar luaskan pemikiran dan pendapat-pendapat mereka di sana. Oleh karena itu, kota Rei terkadang berubah menjadi titik perseteruan antara pemikiran dan pendapat kelompok Isma'iliah dengan pemikiran dan pendapat mazhab Syafi'i, Hanafi dan Syi'ah.
Kala itu, di samping menempuh jenjang pendidikannya, Syekh Kulaini bukan saja mengenal keyakinan dan pemikiran mazhab serta kelompok yang lain, akan tetapi dia juga menyingkap esensi yang sesungguhnya dari kelompok-kelompok yang sedang menyelewengkan Syi'ah dari rute yang sebenarnya. Dia telah mendiagnosa penyakit dan juga menemukan obatnya. Penyakit yang sedang dijangkiti oleh masyarakat kala itu adalah perpisahan mereka dengan sabda-sabda Ahlibait as., sedangkan obat penawarnya adalah menyampaikan sabda-sabda Ahlibait as. kepada mereka. Saat itu juga Syekh Kulaini memilih tujuannya dan terhindar dari keramaian dia telah menentukan jalannya serta memutuskan untuk mempelajari hadis dan menuliskannya. Itulah sebabnya dia duduk di bangku pelajaran guru-guru besar seperti Abu Hasan Muhammad bin Asadi Kufi [1] yang tinggal di kota Rei, di sana dia mempelajari hadis, menulis, mendiskusikan dan juga menunjukkan kelayakannya yang luar biasa di bidang itu. Dia menghabiskan mayoritas umurnya untuk hadis. Namun, walaupun demikian halnya, dia tidak acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat syi'ah saat itu. Dia bukan tipe orang yang menyendiri dan hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, melainkan pada saat-saat yang genting dia senantiasa bersama dan seirama dengan masyarakat syi'ah. Pada saat kelompok Qaramitah muncul ke permukaan dengan kepercayaannya yang mencampur adukkan kepercayaan Zoroaster, Manichaeism, dan Islam [2], dan dengan modal itu mereka menentang keyakinan dan hal-hal yang sakral menurut umat Islam, Syekh Kulaini dengan gagah berani mengkritik tajam kepercayaan mereka dan dia menulis buku "Al-Rodd 'Alâ Al-Qarâmithoh" untuk menyadarkan masyarakat –khususnya Syi'ah– tentang penyimpangan kelompok ini.
Era Syekh Kulaini seyogiyanya diberi nama Era Hadis. Karena kebangkitan untuk mempelajari dan menulis hadis bermula pada era itu dan meluas sampai ke seluruh penjuru pemerintahan Islam. Mereka yang haus ilmu hadis melompat dari satu kota ke kota yang lain dan dari satu pertemuan ke pertemuan yang lain untuk menemukan seorang periwayat dan mencatat hadis darinya serta menambahkannya ke dalam memori hadis mereka. Usaha Ahlisunnah pada era ini betul-betul kasat mata sehingga bisa dikatakan bahwa semua yang dimiliki oleh Ahlisunnah adalah berkat era ini. Di era yang kira-kira berlangsung selama satu abad ini, enam buku induk hadis Ahlisunnah yang lebih dikenal dengan nama "Shihâh Al-Sittah" ditulis, dicetak dan diajarkan.
Syekh Kulaini pada era ini sibuk sekali dengan mempelajari dan mencatat hadis. Pada era ini pula murid-murid Imam Hadi as., Imam Hasan Askari as., dan Imam Ridho as. masih hidup. Tapi sayangnya warisan literatur dari mereka tidak ada yang tersisa kecuali tulisan-tulisan pendek dan buku-buku kecil yang itu pun terpencar-pencar, dan kebanyakan dari tulisan pendek serta buku kecil itu hilang pada era itu juga.
Bahaya kepunahan dan kehancuran hadis mengancam warisan Nabi Muhammad saw. dan Ahlibaitnya as. yang sangat berharga. Karena bersamaan dengan kematian para pengusung hadis dan gaibnya Imam Mahdi af. maka masyarakat muslim –khususnya Syi'ah- akan kehilangan sabda-sabda yang sangat berharga tersebut. Syekh Kulaini mengenal zamannya yang sensitif ini dengan baik, dia tahu apabila Syi'ah mampu melewati periode ini dengan selamat maka untuk selamanya Syi'ah akan mampu menyelamatkan diri dari penyimpangan dan pencampur adukan pemikiran atau pendapat. Untuk menyempurnakan tujuan dan misinya yang besar, dia berhijrah lagi ke Qom yang merupakan kota para periwayat hadis dan murid-murid Ahlibait as.
Kala itu, para periwayat dan ahli hadis beraktifitas meriwayatkan hadis di masjid-masjid dan yayasan-yayasan yang biasa disebut dengan husainiah. Kebanyakan dari mereka terbilang sebagai periwayat terakhir yang mendengarkan hadis secara langsung dari lidah para imam suci as. Keberadaan mereka di kota Qom menjadi daya tarik yang mendatangkan para pecinta sabda Ahlibait as. dari berbagai penjuru dunia Islam ke kota ini, dan salah satunya adalah Syekh Kulaini. Dia mempelajari hadis dari para guru terkemuka seperti Ahmad bin Muhammad bin Isa Asy'ari, Ahmad bin Idris Qumi yang terkenal dengan gelar Mu'allim atau guru, Abdullah bin Ja'far Himyari –penulis buku "Qurb Al-Asnâd", dan putranya yang bernama Muhammad bin Abdullah Himyari. Jumlah guru dan periwayat yang dimintai pertolongan oleh Syekh Kulaini untuk mengembangkan ide Ilahinya ini sekitar tiga puluh orang. Sudah barang pasti semua tokoh itu berperan dalam membentuk kepribadian Syekh Kulaini.
Tapi, di antara mereka semua kita menemukan tokoh besar yang kita mengenal Syekh Kulaini melalui dia dan mengenal dia melalui Kulaini. Yaitu orang yang namanya terdapat dalam sepertiga silsilah sanad hadis "Al-Kâfî". Seorang tokoh terkemuka yang namanya menjadi kekal bersama "Al-Kâfî". Seorang periwayat dan ahli hadis yang bercahaya di sanad-sanad hadis yang jumlahnya lebih dari tujuh ribu seratus empat puluh (7140). [3] Dia adalah Ali bin Ibrahim Qumi yang kitabnya merupakan pondasi penafsiran-penafsiran Syi'ah. Mungkin jika Syekh Kulaini tidak mengitari dia seumpama kupu-kupu yang mengitari lilin dan meninggalkannya walau sesaat, ketika dia dalam keadaan sakit atau dalam keadaan sehat, di rumah ataupun di sekolah, maka hadis dan riwayat yang silsilah sanadnya berujung kepada dia akan hilang untuk selama-lamanya seperti karya-karya dia yang lain. Tapi untung sekali Syekh Kulaini tidak membiarkan samudera hadis ini begitu saja. Kulaini yang haus hadis Ahlibait as. meneguknya terus-terusan, bahkan tidak cukup dengan itu, dia telah mewariskan samudera kausar cinta ini untuk umat Islam –khususnya Syi'ah–.

Hijrah Selanjutnya

Meskipun Qom terhitung sebagai pusat kota Syi'ah dan selalu memuaskan semua orang yang mencari tutur kata Ahlibait as., akan tetapi kehausan Syekh Kulaini yang tak kunjung hilang ini mendorong dia untuk meninggalkan kota itu dengan harapan dapat menemukan riwayat dan hadis yang belum terdengar serta tercatat. Tak terbilang jumlah desa dan kota yang dia kunjungi, di mana saja ada periwayat hadis maka dia mempelajari hadis darinya. Kufah adalah di antara kota yang didatangi oleh Syekh Kulaini. Kufah, pada zaman itu, merupakan salah satu pusat pendidikan yang besar. Jarang sekali ada periwayat hadis dan peneliti yang tidak mengunjungi kota itu saat petualangannya dan menimba ilmu dari para ulama yang ada di sana.
Kota Kufah secara praktis telah menjadi tempat pertukaran pendapat dan titik tolak untuk dunia Islam sehingga semua orang bebas menyebarkan mazhabnya di sana. Itulah kenapa tiap-tiap penulis dan periwayat hadis dari berbagai mazhab Islam menyelenggarakan forum pelajaran dan diskusi serta menukil hadis mereka untuk yang lain. Ibnu Uqdah adalah seorang tokoh tersohor yang tinggal dan aktif di sana. Dia termasuk hafidz (penghafal riwayat dan hadis) terkemuka yang memiliki ingatan yang luar biasa kuat. [4] Banyak sekali tokoh-tokoh mazhab yang menimba ilmu darinya. Meskipun secara mazhab dia mengikuti aliran Zaidiyah Jarudiyah, akan tetapi ketakwaan dia yang dalam membuatnya menjadi periwayat hadis yang terpercaya dan semua mazhab menukil hadis darinya. Syekh Kulaini juga meriwayatkan banyak hadis dari tokoh terkemuka ini.

Tsiqotul Islam

Setelah memperoleh bekal ilmu dan hadis dari puluhan guru dan periwayat di berbagai kota dan desa pada waktu itu, Syekh Kulaini akhirnya sampai ke kota Baghdad. Di sepanjang petualangannya, dia memancarkan ilmu dan keutamaan serta memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang Syi'ah di benak setiap penduduk daerah yang dia kunjungi, itulah sebabnya ketika memasuki kota Baghdad dia bukanlah orang yang tak dikenal di sana. Orang-orang syi'ah bangga dengan kebesaran dia, dan Ahlisunnah juga memandangnya denga kaca mata sanjungan.
Takwa, ilmu dan keutamaan Tsiqotul Islam Kulaini membuatnya dalam waktu yang singkat disukai oleh semua orang, baik orang syi'ah maupun ahlisunnah sama-sama datang kepada dia untuk menanyakan masalah keagamaan yang mereka hadapi, bahkan mereka –ahlisunnah dan syi'ah– menerima fatwa-fatwanya, oleh karena itu pula dia dikenal dengan julukan Tsiqotul Islam. [5]
Tsiqotul Islam Kulaini adalah tokoh yang paling ternama pada eranya. Era yang merupakan puncak tertinggi usaha dan jerih payah para periwayat hadis dan ulama besar, bahkan era kehidupan empat wakil khusus Imam Mahdi af. Mengingat berbagai keterbatasan dan halangan sosial yang dihadapi oleh wakil-wakil khusus tersebut, maka tanggung jawab kultural dan intelektual Syi'ah dipikul oleh Tsiqotul Islam Kulaini.

Penulisan "Al-Kâfî"

Bagi Syekh Kulaini, kota Baghdad adalah tempat yang sesuai untuk menulis atau mengarang. Di sana dia berpeluang untuk menuangkan hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun dalam sebuah karya berseri. Dia tahu persis apa kekurangan dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat Syi'ah, dia menangkap bahwa dengan gaibnya Imam Mahdi af. dan tidak semua orang syi'ah bisa berhubungan langsung dengan wakil-wakil khusus beliau maka ada suatu kekuarangan asasi yang harus segera diselesaikan, yaitu tidak adanya sebuah buku besar yang memuat ajaran-ajaran Islam pada umumnya dan Syi'ah pada khususnya. Maka dari itu, dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyusun hadis-hadis yang telah dia kumpulkan dari berbagai penjuru dunia Islam dan mewariskan buku panduan yang berharga di sisi Al-Qur'an untuk umat Islam, yaitu buku panduan yang secara praktis menafsirkan Al-Qur'an dan menerangkan ajaran serta hukum yang disampaikan oleh Al-Qur'an secara universal.
Kumpulan kitab "Al-Kâfî" mencakup dua jilid Ushûl Al-Kâfî, lima jilid Furû‘ Al-Kâfî, dan satu jilid Roudhoh Al-Kâfî. Kitab ini memuat enam belas ribu seratus sembilan puluhsembilan hadis dari Nabi Muhammad saw. dan imam-imam suci as. Kitab ini adalah hasil jerih payah Syekh Kulaini yang tak kenal lelah untuk menyusunnya selama dua puluh tahun. Syekh Kulaini, dengan mengarang buku yang abadi ini, telah membuktikan keunggulan dan keutamaan ulama Syi'ah bukan hanya pada masanya melainkan untuk sepanjang sejarah Islam. Pekerjaan yang diselesaikan oleh Syekh Kulaini untuk Syi'ah dalam kurun waktu dua puluh tahun ini, dilakukan juga oleh enam tokoh ulama besar Ahlisunnah dalam kurun waktu satu abad untuk mazhab mereka. Kitab "Al-Kâfî" adalah buku yang paling penting dan berharga di antara kumpulan empat buku induk hadis Syi'ah yang biasa dikenal dengan sebutan Kutub Arba'ah. [6]
"Al-Kâfî" menerangkan nilai-nilai akhlak dan islami padahal masyarakat Eropa saat itu masih hidup dengan barbarianisme dan kebuasannya serta berjuang untuk tetap hidup dengan cara membunuh suku lain dan merampas harta mereka, yaitu ketika mereka masih bergelimang dalam kebodohan, tidak tahu apa itu ilmu pengetahuan, dan bahkan mereka menghakimi akal dan ilmu pengetahuan di pengadilan-pengadilan abad pertengahan yang menyelidiki keyakinan setiap orang. Bab pertama buku Syi'ah ini berjudul akal dan ilmu yang mengajarkan tauhid dan hujjah serta norma-norma Ilahi dan insani.
Kitab "Al-Kâfî" ini telah dikomentari dan diterangkan oleh berbagai tokoh dari sudut pandangnya masing-masing. Baik tokoh filsafat, irfan maupun tokoh fikih juga menuliskan komentar dan keterangan atas buku "Al-Kâfî", dan ini menunjukkan betapa besar buku ini. Buku-buku komentar dan keterangan "Al-Kâfî" yang paling tersohor di antaranya adalah: Mir'ât Al-'Uqûl karya Allamah Majlisi yang bersudut pandang fikih; Syarh Ushûl Al-Kâfî karya Mulla Sadra yang bersudut pandang filosofis dan irfan; dan Al-Wâfî karya Mulla Muhsin Faidh Kasyani; dan Syarh Ushûl Al-Kâfî karya Mulla Shaleh Mazandarani.

Metode Penulisan Syekh Kulaini

Metode Syekh Kulaini dalam menyusun hadis di setiap bab adalah meletakkan hadis-hadis yang lebih sahih dan jelas di bagian pertama dan kemudian secara berurut hadis-hadis yang setingkat di bawahnya dari sisi kesahihan dan kejelasan makna. [7] Di samping itu, Syekh Kulaini juga menunjukkan kreativitas lain yang tidak populer di kalangan ulama dan ahli hadis sebelumnya, yaitu menggunakan kata "Iddah" (sekelompok) [8] sebagai ganti dari perincian mata rantai sanad yang berujung pada periwayat akhir hadis, perincian seperi itu adalah kendala dalam periwayatan, makanya Syekh Kulaini menciptakan cara baru ini dalam periwayatan hadis karena di samping perawi-perawi –yang disebut dengan sekelompok– itu terkenal, cara ini juga mengurangi ukuran buku dan menghemat waktu.
Terkadang maksud dari "Iddah" atau sekelompok yang digunakan oleh Syekh Kulaini adalah sekelompok perawi yang meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Isa, terkadang dari Sahal bin Ziyad, dan terkadang pula dari Ahmad bin Muhammad Khalid Barqi. Masing-masing dari mata rantai perawi kelompok ini berbeda satu sama yang lain. [9] Contohnya, yang dimaksud oleh Syekh Kulaini dari "Iddah" atau kelompok perawi yang meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Isa adalah lima orang; Muhammad bin Yahya Aththar, Ali bin Musa Kamidani, Dawud bin Kurah, Ahmad bin Idris Ali bin Ibrahim bin Hasyim. [10]
Cara yang diciptakan oleh Syekh Kulaini ini efektif sekali untuk menyelesaikan kendala periwayatan hadis bagi para ulama dan ahli hadis, oleh karena itu Syekh Thusi di dalam kitab "Fihrist"nya dan Najasyi di dalam kitab "Rijâl"nya juga menggunakan cara ini. [11]
Kadang-kadang Syekh Kulaini menuliskan hadis tanpa nama penyampai hadis dan periwayatnya, contoh dia hanya menyebutkan, "Qod qôla al-'âlim." (sungguh seorang alim itu telah mengatakan) atau "wa fî hadîtsin âkhor." (dan menurut hadis lain). Menurut pernyataan sebagian ulama, hadis-hadis Kulaini yang seperti ini menunjukkan bahwa dia juga punya hubungan –langsung- dengan Imam Mahdi af., mereka mengatakan, "Mungkin sekali kitab Al-Kâfî ini telah sampai dan dikoreksi oleh Imam Mahdi af." [12] Bahkan diriwayatkan dari sebagian tokoh ulama bahwa Imam Mahdi af. bersabda, "Al-Kâfî kâfin lisyî‘atinâ."; kitab "Al-Kâfî" adalah cukup bagi syi'ah kami.
Syekh Kulaini selama hidupnya yang gemilang dan berbobot, di samping menulis kumpulan buku "Al-Kâfî" dia juga menulis karya-karya lain seperti "Al-Rodd 'Alâ Al-Qorômithoh" (Jawaban Atas Kelompok Qaramithah), "Tafsîr Ru'yâ" (Takbir Mimpi), buku kumpulan puisi tentang keutamaan Ahlibait as., buku "Rosâ'il A'immah as.", dan buku ilmu rijal.

Kegiatan Mengajar

Di tengah kesibukannya meneliti, menyusun dan menulis buku, Syekh Kulaini tidak lupa untuk mengajar murid-murid yang datang kepadanya di Baghdad untuk menimba ilmu. Keinginan hati dia yang paling dalam adalah menyukseskan murid-muridnya. Banyak sekali ulama besar yang meriwayatkan hadis dan menimba ilmu dia, di antaranya adalah Ahmad bin Ibrahim yang terkenal dengan julukan Ibnu Abi Rafi' Shaimari, Ahmad bin Ahmad Katib Kufi, Ahmad bin Ali bin Sa'ad Sa'id Kufi, Abu Ghalib Ahmad bin Muhammad Razi, Abdulkarim bin Abdullah bin Nashr Bazzar Tanisi, Ali bin Ahmad bin Musa Daqqaq, Muhammad bin Ahmad Sanani Zahiri, Abulfadhl Muhammad bin Abdullah bin Mutthalib Syaibani, Muhammad bin Ali Majiluwaih, Muhammad bin Isam Kulaini, Ja'far bin Muhammad bin Qulawaih Qumi –penulis buku "Kâmil Al-Ziyârôt"–, Harun bin Musa Til'akbari, Muhammad bin Ahmad Shafwani, dan Muhammad bin Ibrahim Nu'mani, penulis buku "Al-Ghoibah". [13]

Wafat

Setelah tujuh puluh tahun hidup penuh dengan usaha, kesulitan dan keterasingan untuk menulis kumpulan buku "Al-Kâfî" yang sangat berharga, Syekh Kulaini akhirnya meninggalkan dunia dan membubung tinggi ke alam yang lebih mulia. Mentari ini tidak terbenam, melainkan kitab "Al-Kâfî"nya yang beharga senantiasa menerangi dunia Islam Syi'ah. Meskipun dia hidup di kurungan dunia akan tetapi dia bernafas di angkasa surga, karena semua detik-detik hidupnya dia lalui bersama sabda-sabda Ahlibait as. Akhirnya, di bulan Sya'ban tahun tiga ratus dua puluh sembilan (329) dia wafat [14] dan oleh karena itu bukan hanya orang-orang syi'ah, melainkan pengikut mazhab-mazhab yang lain juga hanyut dalam duka sehingga seluruh Baghdad diwarnai oleh kesedihan. Abu Qirath Muhammad bin Ja'far Hasani [15], salah satu tokoh ulama di Baghdad mengimami shalat mayit untuknya dan masyarakat mengantar jenasah sucinya dengan penuh ratapan sampai ke gerbang Kufah Baghdad dan menguburkannya di sana.
Salam sejahtera untukk Syekh Kulaini saat dia lahir ke dunia, saat dia mencerahkan cakrawala dunia Islam, saat dia meninggalkan dunia, dan saat dia dibangkitkan kembali di sisi Tuhannya.


1. Ali Dawani: Mafokhere Islom, jilid 3, hal. 26.
2. Muhammad Jawad Masykur: Farhangge Firaqe Islomi, hal. 395.
3. Ayatullah Khu'i: Mu'jam Rijâl Al-Hadîts, jilid 11, hal. 194.
4. Ali Dawani: Mafokhere Islom, jilid 3, hal. 55.
5. Mirza Muhammad Ali Mudarris Tabrizi, jilid 5, hal. 79.
6. Tiga kitab yang lain adalah: Man Lâ Yahdluruhu Al-Faqîh, karya Syekh Shaduq; Al-Tahdzîb dan Al-Istibshôr, karya Syekh Thusi.
7. Syekh Kulaini: Ushûl Al-Kâfî, pengantar dan terjemahan Sayid Jawad Mustafawi, jilid 1, hal. 9.
8. Maksudnya, hadis ini diriwayatkan oleh sekelompok orang.
9. Roihânah Al-Adab, jilid 4, hal. 113.
10. Ibid., hal. 114.
11. Ibid.
12. Ibid., jilid 5, hal. 81.
13. Ali Dawani: Mafokhere Islom, jilid 3, hal. 27 dan 90.
14. Roihânah Al-Adab, jilid 5, hal. 80.
15. Ibid.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
5+4 =