Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |

|

ASING DI BARAT


Yahaya Bono

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Hakikat Islam dan budaya serta peradabannya telah banyak menarik manusia-manusia yang berhati terbuka dari berbagai penjuru dunia kepada dirinya, Profesor Doktor Yahaya Bono adalah satu di antara mereka, aslinya dia seorang muslim Prancis dan sekitar tiga belas tahun yang lalu dia datang ke Iran dan memilih tempat tinggal di kota suci Masyhad. Dia mendapat hadiah istimewa atas nama pembantu Al-Qur’an karena telah menerjemahkannya ke bahasa Prancis. Itulah perkenalan singkat tentang dia, dan sekarang marilah kita berbincang-bincang dengan dia soal peradaban Barat dan kebangkitan pemikiran agamis.

Sebelumnya, saya ingin mengenal anda lebih jauh, untuk itu saya mohon anda perkenalkan diri terlebih dulu.

Saya sekarang berusia 46 tahun, ketika berusia sekitar dua puluh dua tahun saya masuk Islam dan Syiah, dan tiga belas tahun yang lalu saya datang dan tinggal di sisi Imam Ali Ridha as. Di sana, saya banyak menimba ilmu dari Sayid Jalaludin Asytiyani. Desertasi doktoral saya, di Jurusan Ketuhanan, adalah tentang karya-karya filsafat dan irfan Imam Khomaini, sidangnya saya lakukan di Univesitar La Sorbonne Prancis. Sekarang, saya sedang sibuk menerjemahkan Al-Qur’an beserta tafsir dan penelitian tentang ayat-ayatnya, jilid pertama sudah terbit dua tahun yang lalu dan karena itu saya mendapat hadiah istimewa atas nama pembantu Al-Qur’an. Pekerjaan ini tidak saya lakukan sendirian, melainkan saya dan Jawad Hadidi bersama-sama melakukannya, tapi sayang beliau telah meninggal dunia, dan insyaAllah saya akan lanjutkan sendiri pekerjaan itu yang sekiranya tiap dua tahun sekali akan terbit satu jilid lagi.
Di samping itu, saya juga aktif menulis dan bersiaran untuk program-program keagamaan radio dan televisi Prancis, saya juga membuat situs syiah yang mana untuk sementara ini merupakan situs syiah berbahasa prancis yang paling bermutu.

Mengingat kajian anda lebih terpusat pada filsafat dunia Islam dan anda sendiri hidup di Barat serta mengajukan sidang disertasi di Universitas La Sorbonne Prancis, apalagi Negara Prancis adalah awal semua perubahan kontemporer di Barat. Menurut anda, Apa topik yang utama dan asasi dari Peradaban Barat yang memisahkan dia dari Peradaban Timur?

Peradaban Barat lebih menekankan individualisme daripada humanisme, walaupun di sana dua-duanya adalah prinsip; kenyataannya mereka beralih dari pandangan dunia teosentris kepada pandangan dunia humanis yang mendudukkan manusia pada posisi poros segala sesuatu, dan setelah melewati beberapa jenjang perubahan mereka sampai pada individualisme. Atas dasar itu kita menyaksikan peradaban barat atau lebih tepatnya kita sebut dengan peradaban modern; karena meskipun peradaban ini bermula di Barat akan tetapi sekarang sudah merobek batas-batas teritorial dan hampir di semua belahan dunia ada.
Walaupun Peradaban Barat merupakan pengecualian di antara semua peradaban akan tetapi dia berdiri sendiri di hadapan semua peradaban itu, dan menarik untuk kita ketahui bahwa dari satu sisi orang-orang Barat relativis dan meyakini nilai segala sesuatu adalah relatif akan tetapi dalam hal ini hanya satu peradaban yang mereka terima dan sama sekali tidak menyinggung keberagaman atau menganggap peradaban-peradaban yang lain. Komentar-komentar mereka tentang peradaban non-insani tajam sekali, contoh mereka mengatakan, “sebagian orang di Afrika masih hidup di zaman batu, sebagian yang lain seperti orang-orang muslim masih hidup di abad-abad pertengahan, dan hanya kita orang barat yang berhasil menginjakkan kaki ke abad XX, oleh karena itu kita harus membantu orang lain agar mereka bisa keluar dari lingkungan mereka sekarang dan melangkahkan kaki ke abad XX.” Pada dasarnya mereka tidak meyakini kesatuan ruh dalam peradaban-peradaban sehingga dengan kesatuan itu semua peradaban layak untuk dihormati dan ruang-ruang dialog pun terbuka lebar.

Di kalangan intelektual yang meneliti dunia Barat, ada dialog hangat tentang apakah peradaban hanya sebuah wadah yang bisa kita isi sesuka hati atau apa saja yang nampak di sana pasti bersumber dari batin dan inti sari awalnya, oleh karena itu tidak mungkin fenomena itu dipisahkan dari sumbernya. Dengan kata yang lain, apakah ada hubungan antara peradaban sebagai bentuk material yang menata urusan rakyat dengan ideologi yang terbentuk pada awal kemunculannya ataukah tidak?

Tentu ada! Fenomena material dan teknologi bukanlah sesuatu yang sama sekali terpisah dari dasar dan ruh sebuah peradaban.
Ribuan tahun manusia melihat air mendidih di atas ketel tapi tidak seorang pun dari mereka berpikir untuk membuat mesin uap. Revolusi teknologi bermula sejak manusia mulai membuat mesin. Orang-orang Barat pada waktu itu, termasuk di antaranya penemu mesin uap, tidak melihat lingkungan alam dan dunia sekitarnya sebagai manivestasi Tuhan, buku untuk dipelajari dan menempuh perjalanan menuju Tuhan, atau semacam wahyu, melainkan mereka memandang alam luar adalah tambang potensi dan kemampuan yang harus dijinakkan oleh tangan kita, manusia. Yakni, tujuan di sini adalah mengelola alam, mencari kekuasaan dan menambahnya. Dan menurut istilah yang ilmiah, alam adalah himpunan yang paling besar dari berbagai tambang energi yang harus kita gunakan sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk kepentingan kita sendiri.
Ada perbedaan yang mendasar antara mental masyarakat pada masa itu dengan mental masyarakat pada peradaban-peradaban sebelumnya; dulu, manusia memandang alam sebagai manivestasi Tuhan dan perwujudan sebuah kitab atau kalimat samawi yang harus dimanfaatkan dalam rangka kesempurnaan dan kemajuan manusia, dan bukan untuk kepentingan-kepentingan material atau keinginan hawa nafsu.

Kita sekarang sedang menyaksikan dua macam kebanalan di Barat; yang pertama di bidang kekuasaan, yaitu imperialisme, dan yang kedua di bidang perilaku, yaitu dekandensi moral. Apakah dua hal itu bisa kita sebut dengan anak peradaban, ideologi dan mental barat?

Sudah pasti imperialisme adalah anak kandung individualisme; khususnya pola pikir bahwa hanya ada satu peradaban, dan demi kesejahteraan masyarakat, peradaban itu mau tidak mau kita suapkan kepada mereka walau kadang terpaksa harus dengan kekerasan. Menurut mereka, kami berada setingkat di atas semua masyarakat dunia yang lain dan oleh karena itu kami berhak merebut sumber-sumber alam mereka untuk kepentingan kami sendiri. Tapi untuk menipu kalangan awam, mereka menyebutnya dengan bantuan untuk naik ke abad XX. Itulah sebabnya imperialisme modern sama sekali tidak sama dengan Perang Salib atau pendudukan Amerika Latin pada abad pertengahan. Mungkin saja bisa dicarikan satu dua titik kesamaan akan tetapi dari sisi infrastruktur sama sekali tidak ada kesamaan, bahkan Mongol pun tidak memiliki infrastruktur seperti itu.
Imperialisme modern memiliki infrastruktur modern yang seratus persen tergantung pada pandangan dunianya sendiri; memang ada beberapa unsur lain seperti kekerasan gereja yang menimbulkan reaksi tersebut, akan tetapi bagaimanapun juga dasar baru bangunan ini bukan peningkatan manusia, melainkan segala sesuatu harus berujung pada materi, dan tujuannya tidak lain adalah mencari kehinaan sebanyak mungkin dan sekuat yang bisa kita bayangkan; karena jika kita meyakini sebuah batasan dan tolok ukur maka berarti kita telah mengambil definisi yang terbatas itu dari tempat lain –padahal tidak ada lagi tempat yang lain–.
Ketika manusia menempati posisi Tuhan dan materi merupakan satu-satunya kenyataan yang diakui, maka wajar saja jika tidak ada satu pun tolok ukur yang bisa diterima. Undang-undang materi yakni penurunan, dan bukan sekedar penurunan tapi penurunan yang maksimal dengan daya tarik dan kecepatan yang tertinggi. Kalau anda ingin mengatakan bahwa orang yang lemah juga memiliki hak-hak tertentu, kata-kata anda ini tidak akan menemukan celah di tengah undang-undang material, hanya orang-orang yang meyakini sumber wahyuni dan ilahi yang dapat mengutarakan kata-kata seperti itu, dan sumber itu merupakan asas norma-norma etika yang tidak material. Kalaupun ada satu dan dua materialis yang berkata seperti itu, sebetulnya mereka sedang mengulang sisa-sisa leluhur mereka, karena dasar-dasar yang baru sama sekali tidak bisa menampung kata-kata seperti itu.
Undang-undang materi mengatakan yang kuat harus mengalahkan yang lemah. Mesin ekonomi harus berputar, bahkan kalau perlu korbankan saja tujuh ratus ribu orang demi perputaran mesin, sebesar apapun korban itu tidaklah penting. Yang penting adalah kecepatan harus bertambah dan yang kecil serta yang lemah harus segera digilas, oleh karena itu tidak mungkin membangun etika berdasarkan teori-teori materialis. Yang ada hanyalah nilai-nilai kontrak dan kesepakatan, itupun kapan saja dan di mana saja seseorang bisa menolaknya dan mengatakan saya ingin berbuat berdasarkan undang-undang yang lebih kuat dan yang lemah. Semua itu karena tidak ada dasar bangunan yang Ilahi, hanya ada dasar kontrak dan kesepakatan.

Sejak dua dekade yang lalu, kita menyaksikan semacam kebangkitan pemikiran-pemikiran agama dan kecenderungan pada masalah-masalah spiritual serta religius, khususnya di Amerika yang terbilang sebagai teladan Peradaban Barat untuk negara-negara yang lain. Dan hal yang lebih menarik lagi bahwa arus ini semakin hari semakin kencang, apalagi setelah runtuhnya blok timur dan hancurnya Uni Soviet, Barat sekarang melihat Islam sebagai saingannya. Menurut Anda, apa yang menimbulkan arus semacam ini di Barat?

Kamu telah menyinggung persoalan yang penting sekali. Sepertinya, orang pertama yang mengutarakan analisa ini secara teoritis dan kuat sebelum terjadi di alam nyata adalah René Guénon dan tentunya dia bersandar pada ajaran berbagai agama sekaligus juga pada pembuktian rasional.
Materialisme telah menutup pintu-pintu langit kepada manusia, tapi jangan lupa bahwa keterbatasan ini tidak mungkin selama-lamanya, oleh karena itu untuk keberlangsungannya setan tidak boleh nganggur, melainkan dia harus membuka pintu agama-agama yang terbalik atau malakut yang terjungkir. Konsep Dajjal, adalah materialisme yang anti agama, membawa agama yang terbalik dan memainkan peran sebagai nabi yang terbalik di hadapan imam dan keadilan. Itulah sebabnya, jenjang materialisme tidak bisa dianggap sebagai jenjang dekadensi manusia yang paling akhir. Jenjang materialisme selanjutnya yang diterangkan oleh René Guénon adalah jenjang terbukanya seluruh pintu yang lebih rendah buat manusia.
Menurut René Guénon, di jenjang keterbukaan pintu itu, Ya’juj dan Ma’juj akan memasuki kancah –tentunya menurut versi Taurat- dan agama-agama eklektis (atau agama hasil mencomot sana dan mencomot sini) menjamur di mana-mana. Di milenium ketiga (new age) ini, tidak ada titik kesamaan antara agama eklektis manapun kecuali dalam dua hal, yang pertama adalah memadukan antara spiritualitas dan sains tanpa mempedulikan persoalan syariat, dan yang kedua adalah reinkarnasi yang kira-kira semua agama itu meyakininya.
Umumnya agama-agama ini, yang banyak di dapati khususnya di Prancis dan Amerika, sibuk dengan prasikologi atau penghadiran arwah dan ramalan. Mereka punya sekitar dua ratus majalah dan koran. Khususnya di kalangan protestan yang sebelumnya juga pernah punya pengalaman mirip agama dan di luar gereja yang resmi. Bahkan mungkin mereka punya dua puluh atau sampai tiga puluh nabi yang baru. Sekarang, di Amerika saja ada dua puluh sampai tiga puluh orang kristen yang mengaku sebagai nabi; tentu ini adalah salah satu pintu yang dibuka oleh setan untuk menyesatkan manusia. Ada juga kelompok lain yang cenderung ketimur-timuran, mereka mencampur aduk yoga dan ajaran-ajaran indian lalu menyebutnya sebagai agama yang baru. Intinya, kecenderungan pada agama ini tidak terbentuk dalam agama-agama samawi, bahkan gereja tradisional sendiri mengecamnya, apalagi agama Islam.
Menurut saya, kecenderungan masyarakat kepada agama ini sama sekali tidak memberikan berita gembira tertentu, tapi menunjukkan sampainya jenjang baru yang jauh-jauh sebelum ini telah dikabarkan oleh René Guénon dengan berdasarkan bukti-bukti rasional.

Itu artinya anda memandang kecenderungan pada agama sebagai langkah berikut dari kebanalan yang disebabkan oleh materialisme barat atau sebaliknya, anda melihatnya sebagai langkah kembali pada agama?

Menurut saya, sama sekali bukan langkah kembali melainkan titik yang lebih rendah dari dekadensi dan materialisme, dan sebetulnya merupakan titik kehancuran dan kelelehan dalam hal-hal yang berada di jenjang setelah akal sebagai sarana. Menurut saya sama sekali bukan merupakan tanda peningkatan.

Apa argumentasi anda?

Pertama, agama-agama itu eklektis dan tidak ada penggunaan akal atau perbuatan sesuai niat yang benar dan sah, semua berdasarkan perasaan manusia, baik para nabi dan tokoh program-program itu maupun para pengikut mereka sama-sama menetap di jenjang indra dan tidak mungkin sampai kepada jenjang penggunaan akal, apalagi ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi.

Apa anda tidak memandang arus-arus itu berarti akhir sejarah Peradaban Barat?

Pastinya akan mengarah ke sana, tapi berapa usia barat yang masih tersisa adalah sesuatu yang belum bisa dipastikan; karena mungkin suatu hari agama terbalik dan dusta mereka berubah menjadi global dan paulus atau nabi besar salah satu dari arus terjungkir dan dusta ini berhasil menguasai semuanya, ini bukan hal yang jauh dari kemungkinan.

Berarti menurut anda, kecenderungan baru terhadap agama ini adalah satu bentuk kemunculan Dajjal?

Iya, semua ini merupakan Dajjal-dajjal kecil yang menjadi pengantar munculnya Dajjal besar.

Menurut anda, apakah masyarakat barat masa kini tidak merasa frustasi terhadap materialisme dan merasakan lelah karena hidup di lingkungan sana?

Jelas masyarakat barat mengalami semacam keletihan, itulah sebabnya berbagai perangkap dipasang di mana-mana. Contohnya, kelompok hippies adalah orang-orang barat yang terbaik dan hendak melakukan kritik, tapi tak lama kemudian mereka terjerat oleh narkoba.

Kalau begitu, menurut anda barat sedang menghadapi jalan buntu dan krisis yang serius?

Sudah barang tentu. Tapi persoalannya adalah mereka sedang menghidangkan spiritualitas palsu kepada orang-orang yang haus spiritualitas, begitu pula mereka menyodorkan nafsu kepada orang-orang yang mencari ruh.

Di dalam peradaban-peradaban yang terdahulu, tidak ada pembagian sesuatu kepada hanya dua macam materi dan non materi, melainkan kepada tiga macam materi, jiwa, dan ruh; adapun di zaman modern, karena lama terkurung dalam materi akhirnya menjadi sulit untuk membedakan mana hal yang berhubungan dengan jiwa dan mana yang dengan ruh, akhirnya segala sesuatu yang non material, baik itu berhubungan dengan ruh ataupun tidak mereka menyebutnya dengan spiritualitas; bahkan hal-hal seperti sihir menurut definisi mereka masuk kategori spiritualitas.
Akhir-akhir ini, di Amerika persoalan tentang kedatangan Almasih dan persiapan untuk itu naik ke permukaan, bahkan pandangan ini sampai bisa disaksikan dalam kebijakan-kebijakan politis dan sepak terjang pemerintah. Contohnya, hari ini, ada berita yang dimuat oleh salah satu situs warta berita bahwa walikota New York pergi ke Baitul Maqdis dan ke tembok ratapan. Apa pendapat anda tentang gelombang dan tindakan semacam ini serta dampak-dampaknya?

Mereka sedang mempersiapkan kedatangan satu Dajjal yang mereka tempatkan pada posisi Almasih dan atas nama itulah mereka berusaha memperdaya masyarakat agar mau menerimanya. Pada kenyataannya, ini adalah sambungan dari gerakan setanik perang adidaya yang dimulai dengan revolusi Prancis. Meskipun sebelumnya ada latar belakang akan tetapi perubahan besar dan ledakan itu terjadi pada zaman tersebut.
Tentu jelas bahwa dari satu sisi gelombang kedua terhitung sebagai anak gelombang yang pertama akan tetapi dua gelombang ini sama sekali berbeda dari sisi sumber keagamaannya, karena peradaban agamis yang mendominasi masyarakat Prancis adalah peradaban agama Kristen Katolik yang berseteru hebat melawan kelompok Protestan sampai mereka terpaksa hijrah ke Amerika, dan peradaban agamis Amerika berdasarkan Protestanisme. Itulah sebabnya tidak bisa kita katakan motivasi agamis dua gelombang ini saling menyempurnakan, contoh kita katakan bahwa Prancis penentu garis Amerika. Pada dasarnya, terbentuknya peradaban agamis di Amerika merupakan sebuah pelampiasan rasa muak terhadap peradaban Katolik dan pemerintah diktator gereje abad-abad pertengahan. Karena perbedaan di sumber keagamaan inilah dua gelombang ini berselisih bahkan dalam hal kemunculan kembali Almasih; yakni, sisi-sisi berlebihan dan kekerasan yang dapat disaksikan di kalangan protestan sehingga mereka terdorong untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk melangsungkan perang dunia, tidak akan pernah dapat disaksikan di kalangan katolik.
Tidak betul jika semua cela dialamatkan kepada gereja dan lembaga tradisional. Protestanisme itu sendiri merupakan salah satu dimensi perubahan peradaban modern dalam rangka individualisme. Protestanisme adalah sebuah kebangkitan melawan otoritas penuh paulus, dan kelompok Ortodoks juga sepakat dengan mereka dalam hal kenapa paulus harus tunggal?!
Sebagaimana yang mereka tuliskan, Protestanisme memiliki hubungan yang erat sekali dengan peradaban Kapitalisme di Jerman dan Inggris.

Sebaiknya kita kongkritkan pembahasan ini. Di dalam literatur dan mazhab Protestan, dengan mudah kita dapat menyaksikan bibit-bibit keagamaan Yahudi dan metafisika Perjanjian Baru.

Memang benar! Perjanjian Baru di tengah mazhab Protestan lebih penting daripada dia di tengah mazhab Katolik.

Kenapa bisa begitu?

Saya tidak tahu apa sebabnya. Sebatas pengetahuan saya, hal itu betul-betul nyata dan bahkan menurut berbagai bukti hal itu semakin menguat bersamaan dengan lahirnya peradaban modern.
Contohnya, di dalam agama tradisional manapun, kaya tidak pernah menjadi tolok ukur perhatian dan pilih kasih Tuhan, akan tetapi orang-orang yahudi punya pandangan demikian. Al-Qur’an, di dalam ceritanya tentang Talut, telah menyinggung mental orang-orang yahudi yang mengatakan, “bagaimana mungkin Talut yang miskin akan menjadi panglima kita”, lalu Tuhan menjawab hal itu berdasarkan kebagusan memilih dan pilihan yang terbagus, dan harta sama sekali bukan tolok ukur keunggulan. Menarik juga untuk diketahui bahwa pandangan seperti ini juga ada di kalangan protestan, yaitu orang miskin berarti orang yang dimurkai oleh Tuhan, sebaliknya orang kaya berarti orang yang disayang dan diperhatikan oleh Tuhan.

Kita menyaksikan ada tiga kelompok di antara orang-orang protestan; yang pertama adalah protestanisme tradisional yang biasanya mereka disibukkan oleh perdebatan yang keliru dengan kelompok lawan, lalu protestanisme radikal, dan protestanisme garis keras. Apa perbedaan di antara mereka dan kelompok mana yang berambisi untuk menguasai dunia dan memaksakan pendapatnya kepada dunia?

Sekarang ini, kelompok-kelompok lebih baru yang lebih berambisi untuk mencari kekuasaan. Di tengah mazhab Protestan Tradisional, kita bisa menyaksikan kelompok-kelompok mistik yang bersih dan sama sekali tidak menerima mesin.
Protestanisme yang terbentuk dalam gereja Loutherian bukan topik pembahasan kita sekarang, meskipun pada awalnya mereka monoteis akan tetapi ketika pandangan-pandangan mereka diajukan sehingga otoritas tunggal pun tersingkir dan secara terang-terangan mereka mengatakan bahwa siapa saja berhak menarik kesimpulan sesuai dengan dirinya sendiri dari Almasih dan agama Kristen, maka akibatnya adalah setiap orang mengibarkan bendera sendiri dan mengumpulkan beberapa orang di sekitarnya lalu membuat kelompok baru. Pada umumnya kelompok-kelompok itu muncul di Amerika, dan titik kesamaan mayoritas mereka adalah, meskipun mereka sering menekankan berita gembira-berita gembira Perjanjian Lama akan tetapi secara mutlak bisa dikatakan bahwa anda tidak akan menyaksikan rasionalitas, spiritualitas dan keruhanian baik dalam keyakinan maupun dalam ritual ibadah mereka. Tentunya mengingat kelompok protestan punya penekanan tersendiri terhadap etika maka di tengah mereka dapat disaksikan sebuah etika sensasional yang berasaskan pada perasaan dan terkadang ramalan-ramalan Perjanjian Lama serta Perjanjian Baru mempunyai pengaruh nyata di dalam etika tersebut.

Sekarang ini masyhur bahwa banyak di antara pejabat gedung putih dan Amerika Serikat –periode Bush- yang termasuk kelompok protestan garis keras atau biasa disebut dengan fondamentalis yang punya keyakinan kuat tentang armagedon. Gaya bahasa politik mereka penuh dengan kata-kata dalam Injil dan Taurat seperti tuan, kehendak dan ikhtiyar, mereka membela Israel tanpa batas, bahkan Condoleezza Rice di sela-sela pidatonya mengatakan, “Keamanan Israel adalah kunci keamanan dunia.” Menurut anda, apa yang menyebabkan pejabat-pejabat tinggi Amerika begitu gigihnya membela Israel? Apakah itu semacam transaksi poliltik atau mungkin memiliki latar belakang agama dan sejarah?

Sulit sekali untuk memisahkan dua hal tersebut, karena tidak bisa dipastikan apa maksud yang berkembang dalam kepala dua belah pihak itu. Tapi yang pasti adalah latar belakang keagamaan dan ideologi di balik kenyataan itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan landasan utama mazhab-mazhab yang menyimpang ini adalah ramalan bahwa sebelum Almasih muncul orang-orang yahudi harus sudah berkumpul di Palestina, setelah itu kita akan menyaksikan kemunculan Almasih, dan setelah dia muncul orang-orang yahudi akan terbagi menjadi dua kelompok, satu kelompok mengimani Almasih dan menjadi kristen dan kelompok yang lain mengingkarinya sehingga mereka pun akan binasa sama dengan umat islam dan musuh-musuh Almasih yang lain.

Apa hal ini diyakini oleh orang-orang Kristen Zionis?

Iya, mayoritas mereka punya keyakinan seperti itu.

Artinya, anda ingin mengatakan bahwa tidak setiap orang Protestan adalah Kristen Zionis?

Betul, mereka adalah kelompok khusus di antara Protestan.

Apa yang membedakan mereka dengan Protestan lainnya?

Di kalangan kelompok Protestan, hanya mereka yang berkeyakinan bahwa semua orang Yahudi harus kembali ke Palestina. Adapun selain mereka tidak begitu peduli dengan topik ini, padahal ada di dalam Alkitab.

Dalam penjelasan tentang ciri-ciri kelompok Protestan, sering terdengar pembicaraan mengenai kesucian, apa maksud dari pembicaraan itu?


Maksudnya adalah larangan untuk menakwilkan teks-teks agama dan menafsirkannya. Artinya, jika di dalam teks agama disebutkan bahwa hanya seratus empat puluh ribu orang yang akan masuk surga maka hanya sejumlah itulah yang akan masuk ke sana, dan seseorang tidak berhak menafsirkan bilangan itu sebagai bilangan simbolik.

Apa dampak keyakinan seperti itu dan apa bahayanya?

Itu hanya kejumudan dalam lahir, dan pola seperti itu ada juga di tengah kelompok Syi’ah maupun Ahlisunnah. Tidak ada bahaya besar yang bisa dibayangkan, tapi untuk saat-saat ini sebagian ramalan di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang hanya dipandang secara lahir terkadang membuat susah orang-orang lain.

Tidakkah menurut anda ramalan-ramalan ini tidak sejalan dengan kenyataan-kenyataan yang ada, dan akibat pemahaman yang salah terhadap –seperti– kemunculan kembali Almasih berikut semangat yang kaku dan penuh kebohongan maka diambillah kebijakan-kebijakan politik yang salah?


Sudah barang tentu kesalahan itu sangat membahayakan; tapi problem itu tidak bisa dikatakan muncul akibat pola pandang yang jumud dalam sisi lahir sebuah teks, karena sebelumnya juga banyak orang yang berpola pandang jumud tapi pada saat yang sama mereka tidak menarik kesimpulan-kesimpulan seperti itu. Kita tidak tahu persis siapa yang telah menciptakan pola pandang yang keliru ini, tapi mungkin sekali hal itu tergolong inspirasi jahat setan, dan kemudian ramalan-ramalan yang mengandung kemungkinan banyak arti ini –seperti puisi Hafiz atau ramalan Michel de Nostredame- disalahgunakan oleh orang-orang Yahudi.

Jika demikian, maka hal itu bisa dikritik dari dua sisi, yang pertama dari sisi kebenaran proses periwayatannya, dan yang kedua dari sisi kebenaran isinya?

Iya, memang demikian, itulah sebabnya mayoritas orang-orang kristen tradisional hanya memiliki bagian teks yang mengatakan bahwa Isa akan datang dan perang akan terjadi, akan tetapi mereka tidak berurusan kapan, di mana, kenapa dan bagaimana semua itu terjadi.

Otomatis mereka tidak mempersiapkan diri untuk kejadian-kejadian yang akan datang itu.

Sama sekali.

Berarti menurut anda telah ada jarak antara keyakinan dan kewajiban yang muncul dari keyakinan tersebut, padahal kita menyaksikan sesuatu yang berbeda di tengah orang-orang kristen zionis, menurut mereka semua sarana dan prasarana kemunculan Almasih harus diatur dan diprogram oleh Almasih itu sendiri.

Iya, pandangan seperti di samping baru, pengikutnya juga lebih sedikit jika dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain, tapi pada saat yang sama pengaruh mereka lebih besar daripada yang lain.

Orang-orang seperti Donald Rumsfeld dan Richard Perle mendukung pandangan itu.

Memang mereka mendukung pendapat itu, tapi mereka bukan bagian dari kelompok itu. Feld sendiri orang yahudi. Kalau Condoleezza Rice memang anggota kelompok itu.

Sekarang ini, apakah orang-orang yahudi dan orang-orang kristen mempercayai kristen zionis?

Orang-orang yahudi sebetulnya hanya menunggangi mereka, karena jangankan sependapat dengan orang-orang kristen bahkan pada dasarnya mereka sama sekali tidak meyakini Almasih.
Orang-orang kristen meyakini armagedon, pemusnahan Masjidil Aqsa dan pembangunan ulang tempat peribadatan Sulaiman, dalam hal ini orang-orang yahudi sependapat dengan mereka. Berbeda dengan dua hal yang terakhir, hal pertama tidak ada di dalam Perjanjian Lama dan merupakan bagian dari ramalan Yohanes yang hanya diyakini oleh orang-orang kristen. Mereka sependapat hanya dalam kandungan Perjanjian Lama.

Apakah orang-orang Yahudi menerima keberadaan orang-orang Kristen?

Sebetulnya sama sekali tidak.

Seberapa jauh mereka menerima Injil?

Sama sekali tidak menerimanya. Baik empat injil bagian maupun ramalan-ramalan Yohanes dan surat-surat Paulus, semuanya mereka ingkari, bahkan –nauzu billah– mereka sampai melecehkan Nabi Isa as.
Mereka menyebut Nabi Isa as. sebagai pembohong, dajjal dan setan. Mereka mengatakan, beliau adalah anak seorang perwira romawi yang menjalin hubungan gelap dengan wanita pelacur –nauzu billah– yang bernama Maryam, lalu dia mengaku dirinya sebagai raja yahudi, dan Joda adalah orang yang berkhianat. Semoga Tuhan melaknat siapa saja yang meyakini dusta-dusta itu dan menyebarkannya.

Apakah cerita ini ada di dalam Taurat?

Tidak, cerita ini tidak ada di dalam Taurat. Ini dongeng palsu yang menurut orang-orang yahudi adalah cerita nyata tentang Isa Almasih as. Cerita ini ada di buku lain yang berjudul karya-karya Syiwa, salah satu buku yang paling laris di kalangan para pendeta yahudi, cerita yang disebut dengan kebohongan besar oleh Al-Qur’an ini ada di dalam buku itu.

Yahudi dan Krsiten sama-sama meyakini kedatangan Almasih di akhir zaman, apakah fakta Almasih yang mereka yakini adalah satu?

Tidak, seratus persen berbeda. Orang-orang kristen berkyakinan Isa Almasih akan datang kembali, sedangkan orang-orang yahudi menyebut Isa as. adalah orang yang terkutuk. Lebih menarik lagi bahwa sebagian orang kristen zionis juga menyebut orang yahudi adalah terkutuk, keyakinan mereka hanya sampai batas bahwa demi kedatangan Almasih kembali orang-orang yahudi harus dipulangkan ke tanah Palestina; tidak lebih dari itu. Yang jelas, ikatan yang kita saksikan di antara umat yahudi dan kristen zionis adalah sebuah penyalahgunaan dua belah pihak demi keuntungan bersama.

Gelombang ini mulainya dari mana, apakah dari pihak kristen atau sebaliknya, ini merupakan tipu muslihat yahudi untuk menyalagunakan keberadaan kelompok kristen?

Dua-duanya sama-sama mungkin, entah orang yahudi yang telah merancang muslihat itu lalu orang lain yang melaksanakannya, atau itu merupakan inspirasi setanik yang mendorong sebagian kelompok kristen ke arah tersebut.

Di negara-negara timur, termasuk di antaranya Iran, ada keinginan yang kuat di tengah masyarakat untuk berhijrah ke Barat. Sedangkan anda berbuat sebaliknya. Seandainya seorang pemuda bertanya apa gerangan yang membuat anda meninggalkan Barat beserta kemajuan sains di sana dan memilih untuk datang ke Iran, apa jawaban anda?

Ada dua hal, yang pertama, saya merasa asing di Barat, sebaliknya saya merasa senang, tenang dan seperti tanah air sendiri di sisi Imam Ali Ridho as. Adapun yang kedua, saya pernah hidup di berbagai negara, tapi saya tidak pernah melihat masyarakat seperti masyarakat Iran yang ahli berpikir dan menganalisa.
Kalau anda bangun di pagi hari dan kemudian naik taksi, anda akan menyaksikan semua orang dari supir taksi sampai lapisan masyarakat yang lain sama-sama membicarakan persoalan-persoalan dalam dan luar negeri, bukan sekedar membicarakan tapi juga dibarengi dengan analisa sifulan apa yang telah dia perbuat, ada apa dengan Amerika dan lain sebagainya; adapun di barat dan eropa, masyarakatnya tidak memperhatikan apa-apa selain sepakbola, joget dan sebagainya.
Di awal kedatangan saya ke Iran, ada orang yang bertanya kepada saya: kenapa kamu minum kopi? Saya jawab: saya suka. Orang itu berkomentar: sejak kapan ‘saya suka’ jadi alasan?! Komentar dia membuat saya kesal. Tapi setelah saya pikir sedikit, ternyata omongan orang itu bukan tanpa perhitungan. Padahal selama saya hidup di barat, tidak ada seorang pun yang bertanya kepada saya kenapa kamu melakukan perbuatan ini atau kenapa kamu tidak melakukan perbuatan itu?

Apa itu cukup menjadi alasan untuk meninggalkan Barat?

Tidak, Imam Ali Ridho as. sendiri sudah cukup untuk menjadi alasan saya meninggalkan Barat. Satu hal lagi yang ingin saya tambahkan bahwa di Iran ada kegelisahan Islami dan pemikiran Islami yang sungguh-sungguh, meskipun terjadi perselisihan pendapat akan tetapi beda halnya dengan negara-negara lain yang hanya ada segelintir orang yang beraktifitas di bidang ini. Di Iran, kajian-kajian Islami betul-betul diseriusi.
Menurut saya, sebagaimana bangsa Iran telah membangun peradaban pertama Islam di bidang syiah dan ahlisunnah, baik di Iran maupun Irak, pada masa yang akan datang juga merekalah yang membangun masa depan dunia Islam.
Di bidang syiah sudah sangat jelas dan tidak perlu lagi penjelasan, adapun di bidang ahlisunnah sebaiknya saya ingatkan sedikit bahwa seluruh buku induk hadis Ahlisunnah yang dikenal dengan nama Sihah Sittah (enam buku hadis sahih), karya-karya tafsir mereka yang paling berharga seperti Zamkhsyari dan Fakhrur Razi, buku sastra dan bahasa seperti Ibnu Mandzur, Jauhari dan lain sebagainya, semuanya adalah hasil aktifitas intelektual bangsa Iran.
Kesimpulannya, setelah kemunduran dan ketertindasan dalam kurun waktu yang lama, Islam ingin kembali menghirup nafas yang segar dan berdiri sendiri, dan itu tidak mungkin terjadi kecuali dengan bantuan bangsa Iran, dan menurut saya di sini merupakan pusat pergolakan besar di dunia Islam bahkan di seluruh dunia, itulah sebabnya saya memilih tempat ini daripada kota Madinah yang menyimpan manusia-manusia suci di jantung kota, saya tidak memilih Madinah karena selain arwah manusia-manusia suci tidak ada hal lain yang menyegarkan ruh manusia di sana.

Terima kasih banyak atas waktu dan kesempatan yang anda berikan kepada kami, semoga anda senantiasa sukses dan bahagia.






Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
3+5 =