Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |

|

SEMINAR - SYIAH DI AMERIKA


Muhammad Legen Hausen

Nasir Dimyati
(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

Pada tanggal 20 – 4 – 1385 Hs. Yayasan Syi'ah Syenasi menyelenggarakan seminar yang berjudul "Syi'ah di Amerika" di kota Qom, dan di antara pematerinya adalah Prof. Muhammad Legen Hausen, dosen muslim asal Amerika yang sekarang menjadi anggota dewan ilmu yayasan pendidikan dan penelitian Imam Khomaini. Berikut ini kami akan menghadirkan materi yang disampaikan olehnya untuk anda.

Komunitas Syi'ah Amerika

Komunitas Syi'ah di Amerika bisa dibagi menjadi dua kelompok: yang pertama adalah imigran-imigran syi'ah yang datang dari negara-negara muslim ke Amerika pada sekitar seratus delapan puluh tahun yang lalu. Kelompok yang kedua adalah penduduk Amerika yang memeluk agama Islam karena berbagai alasan, seperti tablig sufi. Pada umumnya, orang muslim di Amerika adalah berkebangsaan Afrika, mula-mula mereka bermazhab Ahli Sunnah, tapi kemudian banyak di antara mereka yang terpengaruh oleh gelora dan kepribadian Imam Khomaini ra. serta kemenangan revolusi Islam Iran sehingga berubah menjadi syi'ah.

Kelompok Pertama: Imigran Syi'ah

Imigran Syi'ah pertama di Amerika kurang-lebih seratus delapan puluh tahun yang lalu datang dari Libanon dan Siria, mereka memilih tinggal di kota Detroit Michigan, Ross, dan Dakota Utara. Kedatangan mereka tercatat antara tahun 1824 sampai 1878 M.
Pada tahun 1924 M., pemerintah Amerika menetapkan undang-undang Asian Exelusion Act yang secara resmi melarang masuknya orang Asia ke sana, undang-undang rasis ini melarang keras masuknya orang-orang Asia yang di mata mereka berwarna gelap dan secara kultural juga berbeda dengan orang kulit putih bangsa Eropa yang sudah menjadi penduduk Amerika.
Pasca perang dunia kedua, undang-undang ini dinetralisir sehingga orang-orang Asia, termasuk juga orang muslim sunni dan syi'ah, dapat hijrah ke Amerika. Komunitas terbesar Syi'ah Amerika tinggal di kota Detroit Michigan, sekitar tiga ratus ribu orang syi'ah berkebangsaan Arab tinggal sebagai warga negara Amerika di sana. Di bagian tenggara kota ini, mereka membangun pusat Islam yang terbilang sebagai salah satu masjid terbesar di Amerika pada tahun 1920 M. Pusat ini didirikan di dekat perusahaan mobil Ford Amerika, karena mayoritas imigran Arab ketika pertama kali masuk Amerika bekerja di perusahaan ini. Kelompok syi'ah ini sekarang dipimpin oleh Imam Hasan Qazweini yang lahir di Karbala dan pernah mengenyam pendidikan agama di kota Qom selama kurang-lebih 10 tahun, lalu dia berhijrah ke Amerika pada tahun 1992 M., di atas pintu gerbang masjid itu terpampang foto besar dia di samping foto George Bush.
Perlu kalian ketahui bahwa syi'ah imigran itu tidak semuanya berkebangsaan Arab, melainkan ada juga orang Iran, Pakistan dan lain sebagainya. Secara global, poin penting mengenai mereka adalah mereka pada umumnya tidak berkegiatan politik, mereka lebih cenderung mengadaptasikan diri dengan budaya dan adat istiadat Amerika, mereka ingin hidup seperti penduduk Amerika yang lain, Amerika mereka pilih bukan sebagai lahan penyebaran agama, melainkan tidak lebih dari tempat untuk mencari nafkah dan tempat tinggal yang layak bagi mereka. Meskipun dalam beberapa hal seperti acara pernikahan, perceraian, pemakaman jenasah dan lain sebagainya mereka tetap merujuk pada pusat-pusat islami.
Biasanya, pusat-pusat islami ini menjadi tempat pertemuan orang-orang sesama daerah, pendidikan bahasa nenek moyang dan lain-lain. Tapi ada juga pusat-pusat islami yang mengumpulkan muslimin tanpa predikat asal muasal, kebangsaan dan semacamnya; seperti pusat kebudayaan Islam Ayatullah Khu'i di New York yang acara-acaranya dihadiri oleh orang Iran, Irak, Libanon, Pakistan, dan penduduk asli Amerika sendiri, seperti juga pusat kebudayaan Imam Ali as. di New York yang meskipun mayoritas aktifisnya adalah orang Iran, tapi syi'ah bangsa-bangsa yang lain juga berdatangan ke sana.
Satul hal lagi yang ingin saya beritahukan tentang kegiatan politik imigran-imigran Syi'ah adalah di sana ada kelompok imigran syi'ah yang bekerjasama dengan mantan raja Pahlevi di California, ada yang mendukung Partai Kebebasan, ada yang membela garis revolusi Islam Imam Khomaini, dan ada juga kelompok munafik yang bahkan menjadi aktifis politik di Amerika sekarang.
Di samping pusat-pusat kegiatan yang dibina oleh para ruhani, ada juga pusat-pusat kegiatan mereka yang dikelola oleh orang-orang yang sama sekali tidak bernuansa ruhani, islami, atau syi'ah, bahkan terkesan anti ulama Islam dan secara politik pun anti pemerintahan Islam. Biasanya pusat-pusat kegiatan yang terakhir ini dipimpin oleh seorang dokter atau insinyur aktifis yang bahkan kadang-kadang juga menjadi imam shalat jamaah, padahal dia tidak tahu apa itu Islam, fikih dan semacamnya. Secara politis, pusat-pusat kegiatan yang terakhir ini murni liberal. Perempuan-perempuan yang aktif di situ tidak begitu menjaga jilbab, bahkan adakalanya mereka yang memimpin shalat jamaah dengan makmum laki dan perempuan.
Ratusan kelompok Syi'ah berkembang di Amerika; di antaranya kelompok Ansharullah, mayoritas anggotanya orang-orang kulit hitam dari bangsa Sudan dan Amerika sendiri, mereka mempunyai keyakinan yang aneh dan langka sekali. Pimpinannya sekarang orang Sudan, dia punya keyakinan bahwa Nabi Muhammad saw. dan imam-imam suci setelah beliau as. adalah orang kulit hitam, sementara orang-orang arab yang rasis lebih mebela Abu Bakar daripada Imam Ali as. hanya karena warna kulit Abu Bakar yang merah.

Kelompok Kedua: Orang Amerika Yang Syi'ah

Banyak juga orang-orang Amerika kulit hitam dan putih yang memilih mazhab Syi'ah karena berbagai alasan seperti tablig aliran sufi. Tasawuf di Amerika lebih sering disebarkan oleh kelompok Nikmatullahi Dr. Nur Bakhsy dan kelompok Syekh Fadhlullah Ha'iri Iraqi.
Para pengikut Dr. Nur Bakhsy telah mendirikan banyak biara di berbagai kota Amerika dan Eropa, secara umum mereka sama sekali tidak punya komitmen hukum-hukum lahiriah agama, beda halnya dengan para pengikut Syekh Fadhlullah.
Syekh Fadhlullah, pemimpin salah satu kelompok sufi ini mempunyai kisah tersendiri yang menarik untuk disimak. Dia adalah anak seorang ruhaniawan kota Najaf Irak, dia insinyur perminyakan, dan dia memulai penyebaran aliran sufinya di California. Dia memperkenalkan diri sebagai seorang sufi, setelah mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat luas, dia membeli tanah yang indah dan luas di sekitar kota Austin di Texas, lalu didirikanyalah pusat kegiatan yang dia beri nama Rumah Agama dan mencakup bagian-bagian seperti masjid, sekolah, dan kantor. Setelah meraih keberhasilan itu, dia ambil keputusan untuk menyingkirkan sikap taqiyahnya selama ini, keputusan itu diambilnya saat dia berada di puncak kegiatan dan kesuksesannya di bidang tersebut, yaitu pada dekade tujuh puluhan, kurang lebih 150 orang yang aktif berkegiatan di rumah agama yang didirikannya. Suatu hari, dia pergi ke masjid dan memerintahkan pengumandang adzan agar menyerukan "Asyhadu anna 'aliyan waliyyulloh" dan "Asyhadu anna 'aliyan hujjatulloh" setelah seruan "Asyhadu anna Muhammadar rosululloh". Setelah menunaikan shalat maghrib dan isya', dia dikerumuni oleh para pendukungnya yang kebingungan, maka secara resmi dia umumkan dirinya adalah orang syi'ah, tapi berhubung selama ini dia bersikap taqiyah maka tidak sempat untuk mengungkapkan mazhab yang dianutnya. Dia melanjutkan bahwa adapun sekarang, mengingat kita sudah memiliki pusat kegiatan sendiri dan tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu gugat, maka sikap taqiyah tidak diperbolehkan lagi.
Setelah kejadian ini, setengah dari pendukungnya berkurang, mereka meninggalkannya karena ternyata –menurut mereka- dia adalah seorang rafidhi atau pembangkang (Syi'ah). Sisanya tetap bersama dia dan memeluk mazhab Syi'ah serta berkegiatan di garis itu. Di antara kegiatan mereka adalah menerbitkan buletin Az-Zahra, begitu pula majalah yang bernama Nurudin. Lambat laun Syekh Fadhullah Ha'iri Iraqi ditekan dari berbagai sisi oleh pemerintah Amerika sehingga terpaksa meningalkan negeri itu dan pergi ke Inggris, adapun sekarang dia beraktifitas di Afrika Selatan. Pengikut-pengikut dia di Amerika masih tetap aktif, bahkan menjadi terkenal karena salah satu terbitannya yang populer, seperti terjemahan kitab Gulsyane Roz karya Syabestari, begitu pula karya-karya populer Haidar Amuli.
Banyak sekali kelompok sufi yang bercokol di Amerika, mereka bercabang-cabang, dan pada umumnya jarang di antara mereka yang berkegiatan politik, mereka lebih sering mengiginkan perjalanan ruhani dan penyibakan spiritual, mayoritas mereka adalah seniman, pujangga dan penulis, jarang di antara mereka yang saudagar, pengusaha atau sebagainya. Mereka tidak menyukai budaya yang sementara ini dominan di Amerika, mereka cenderung nonconformist dan tidak mau mengikuti adat istiadat yang populer di sana.
Di banding kelompok-kelompok yang lain, orang-orang syi'ah kulit hitam Amerika lebih anti terhadap politik Amerika, menurut mereka budaya Amerika adalah lalim dan menindas, oleh karena itu mereka menetangnya dengan cara apapun yang memungkinkan, bahkan dengan pola pakaian yang tidak wajar di kawasan. Orang-orang syi'ah Amerika yang berkebangsaan Afrika sangat menyukai aspek irfani (sufistik) Imam Khomaini.
Poin penting lain yang perlu diperhatikan di sini adalah orang-orang syi'ah Amerika yang berimigrasi ke sana dari negara lain cenderung berasimiliasi atau menyesuaikan diri mereka dengan budaya Amerika, sedangkan penduduk asli Amerika yang menjadi syi'ah senantiasa menentang pemerintah Amerika di bidang politik dan budaya. Dualisme ini terkadang membuat dua kelompok tersebut bersitegang.
Ada juga kelompok-kelompok Syi'ah lain yang aktif di Amerika, antara lain Khoja di New York yang terkenal dengan penerbitannya, satu contoh mereka menerbitkan buku Tahrike Tarsile Quran. Untuk pertama kalinya Aun Ali Khalfan, aktifis kelompok Khoja, menerbitakan Al-Qur'an terjemahan bahasa inggris –oleh penerjemah Syakir dan Mir Ahmad Ali- pada tahun 1988 M.
Selain pusat-pusat keislaman Syi'ah, ada juga lembaga lain Syi'ah di Amerika, contohnya di kota Medina di negara bagian New York dan berdekatan dengan pusat Kanada terdapat sebuah Hauzah Ilmiah atau lembaga pendidikan Islam yang tidak begitu besar. Contoh yang lain, North American Shia Itsna Asheri Muslim Comunication Organization yang didirikan pada tahun 1986 M. dengan visi mempersatukan orang-orang Syi'ah Amerika Utara, anggotanya adalah lembaga-lembaga atau organisasi Syi'ah dan bukan perorangan. Organisasi payung ini sangat membantu anggotanya di berbagai urusan agama, pendidikan, sosial dan ekonomi. Contoh yang berikutnya adalah The World Federation Khoja Shia Communities yang sementara ini dipimpin oleh Haji Husain Walaji. Dan masih ada lagi lembaga-lembaga lain yang juga aktif di Amerika.
Apa yang perlu kita amati secara cermat bahwa –menurut saya- perjalanan muslimin dan khususnya kelompok Syi'ah di Amerika mirip dengan perjalanan historis orang-orang yahudi di Amerika; maksud saya, orang yahudi di Amerika itu terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Ortodoks, Protestan dan Radikal. Muslimin juga terbagi menjadi tiga kelompok; ada yang betul-betul menjaga tradisi Islam agar tetap menjadi muslim yang sejati dan tidak terkontaminasi oleh budaya dominan di Amerika, mereka adalah para imigran muslim dan ada juga penduduk asli Amerika yang kemudian menganut agama Islam. Kelompok yang lain malah sebaliknya, mereka ingin hidup ala Amerika dan sebisa mungkin menyesuaikan diri mereka dengan budaya Amerika, menurut mereka norma-norma yang dominan di Amerika adalah norma yang sejati dan sesungguhnya. Jumlah mereka relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang pertama, dan itu wajar, karena memang secara praktis Islam lebih mudah daripada budaya Barat. Adapun kelompok yang ketiga, mereka tidak sekeras kelompok pertama dan juga tidak selembek kelompok yang kedua. Setelah kejadian 11 September, kelompok yang terakhir ini semakin membengkak jumlahnya, sebagian orang-orang Syi'ah sudah putus asa hidup di sana karena tekanan pemerintah Amerika yang menghimpit mereka, bagi mereka tidak ada harapan lagi untuk menyesuaikan diri dengan kultur dan politik Amerika, bahkan sejumlah dari mereka ada yang memilih untuk kembali ke negeri asalnya, sebagiannya lagi memilih untuk lebih sering berkumpul supaya hubungan mereka jadi solid dibanding sebelumnya, dan secara sosiologis entah apa yang akan terjadi pada mereka. Sebagian dari mereka bahkan ada yang menyatakan sikap setuju dan kerjasama dengan pemerintah untuk memerangi terorisme, salah satu kelompok muslim di sana menuduh terorisme adalah kelompok muslim lain yang radikal dan tidak akan pernah mau berdamai dengan Amerika. Kebanyakan penduduk Amerika sendiri tidak tahu kelompok-kelompok dalam tubuh muslimin, bahkan sebagian dari mereka tidak bisa membedakan antara orang sikh (penganut agama Sikhisme) dan muslim, sehingga kadang-kadang terjadi orang sikh dipukuli karena mengenakan sorban di kepala dan mereka mengira dia adalah muslim, akhirnya terpaksa untuk menyelamatkan diri orang-orang sikh memberi tanda yang lebih jelas mengatakan bahwa kami bukan orang muslim.
Haji Hasan Walaji yang saya sebutkan tadi, setelah kejadian 11 September dia mengeluarkan surat pernyataan yang mengecam terorisme dan mendukung perang anti terorisme, dengan itu dia ingin mengatakan bahwa dirinya senada dengan politik Bush, dia mengemontari perkataan Bush bahwa 'tidak semua orang muslim itu jelek' dengan berkata, 'sebagaimana orang-orang muslim yang lain, kita memandang Amerika sebagai tanah air kita sendiri, kita adalah orang muslim yang paling aktif dan kreatif dibandingkan dengan masyarakat muslim yang lain, kita harus membantu muslimin yang lain untuk dapat memahami norma-norma Amerika dan mengikis kebencian anti-Amerika yang bukan pada tempatnya.'
Demikian pula halnya dengan Imam Hasan Qazwaini, imam shalat jamaah di masjid terbesar Amerika di Detroit; setelah kejadian 11 September, dia menyatakan sikap mengecam kejadian ini melalui radio dan televisi, bahkan di gereja-gereja, menurutnya kondisi kehidupan muslimin di Amerika bagus sekali, dan sudah semestinya muslimin mencintai tanah airnya yang baru.
Secara umum, mereka ingin mengatakan kepada masyarakat Amerika bahwa jangan kalian takut pada kami, karena kami orang baik yang bekerja keras seperti kalian di sini, hanya saja mungkin kalian pergi ke gereja sedangkan kami pergi ke masjid, maka dari itu tidak seyogianya kalian mengganggu kami.
Pasca kejadian 11 September, orang-orang muslim di Amerika memperluas hubungan mereka dengan masyarakat non-muslim di sana, tapi bukan dengan maksud mengajak mereka untuk menganut agama Islam, melainkan untuk mengundang mereka datang ke pusat-pusat kegiatan dan pemikiran Islam dan mengenalnya lebih dekat. Meskipun menurut saya langkah ini agak terlambat, tapi berharga sekali. Kurang lebih semua masjid dan pusat-pusat keislaman di Amerika menjalankan program-program khusus untuk memperkenalkan akidah mereka kepada orang-orang non muslim.
Mengenai populasi muslimin dan jumlah aliran yang dianut oleh mereka di Amerika ada perbedaan pendapat, sebagian mengatakan bahwa muslimin di Amerika tidak lebih dari dua juta orang, padahal dengan melihat buku telepon saja anda bisa tahu nama orang muslim di sana lebih dari dua juta, mereka menghitungnya dengan cara mendata masjid-masjid dan pusat-pusat keislaman beserta anggotanya yang resmi, kemudian dijumlah dengan anak-anak mereka dan total akhirnya kurang lebih dua juta orang muslim di Amerika. Tapi sebagian lagi memperkirakan jumlah mereka sekitar delapan sampai sepuluh juta orang. Dan sebagian yang lain memperikirakannya kurang-lebih enam sampai tujuh juta orang. Adapun mengenai berapa jumlah orang syi'ah di antara mereka tidak ada statistik yang bisa kita jadikan pijakan.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
3+6 =