Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa sebabnya al-Qur’an memuat ayat-ayat mutasyabih


JAWABAN:

Ada satu mukadimah yang terlebih dahulu harus diperhatikan sebelum menjawab pertanyaan ini, yaitu kenyataan bahwa manusia saling memahami dan memindahkan maksud serta pemikirannya melalui penggunaan kata-kata.
Allah swt., yang mengutus para nabi dari jenis manusia untuk memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya, menyampaikan tuntunan-tuntutan wahyu-Nya dengan menggunakan kata-kata yang sama tapi dalam bentuk pilihan kata dan susunan kalimat yang luar biasa fasih. Adapun faktor-faktor yang mengategorikan ayat tertentu sebagai mutasyabih

1. Makna yang menjulang.


2. Kata-kata homonim.

Kehomoniman kata merupakan salah satu faktor ayat yang menggunakan kata-kata itu menjadi mutasyabih; karena penggunaan kata homonim membuat ayat menjadi mungkin untuk artikan tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh penggunanya. Satu contoh ayat

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا مریم 41-42

Artinya “Dan ingatlah tentang –berita– Ibrahim di dalam Kitab, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat benar lagi seorang nabi. Ketika dia berkata “aba”nya, hai ayahku kenapa engkau menyembah sesuatu yang tiada mendengar dan tiada melihat dan tiada memberi pertolongan kepadamu sedikit pun”. (QS. 19 41-42).
Kata أب adalah homonim antara makna bapak, kakek dan paman. Kehomoniman kata ini menjadi faktor kemutasyabihan ayat ini, itulah sebabnya sebagian orang keliru dalam memahami maksud ayat tersebut sehingga mengatakan bahwa bapaknya Nabi Ibrahim as. adalah seorang penyembah berhala dan musyrik.

3. Penyingkatan dalam ungkapan.

Faktor lain yang terkadang menyebabkan ayat menjadi mutasyabih adalah penyingkatan dalam bertutur; satu contoh ayat

وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا الفجر 22

Artinya “Dan datanglah Tuhanmu sedang malaikat berbaris-baris”. (QS. 89 22).
Berdasarkan ayat-ayat lain seperti ayat 88 surat al-Mukmin dapat dimengerti bahwa ada kata yang disembunyikan di dalam ayat 22 surat al-Fajr tersebut, yaitu kata أمر, dan penyingkatan kalimat di dalam ayat ini terkadang dipahami secar keliru oleh sebagian orang seakan-akan Allah swt. terbatas oleh ruang tertentu.

4. Perdebatan.

Sebagian ayat yang sekarang biasa dikategorikan sebagai ayat mutasyabih pada mulanya tidak mutasyabih dan umat Islam yang ikhlas serta terhindar dari latar belakang pemikiran yang menyesatkan dapat memahaminya secara baik dan benar serta tidak ada kesamaran di dalamnya. Akan tetapi setelah munculnya berbagai perdebatan dan banyak sekali istilah mentah yang tersebar maka kejelasan sebagian ayat al-Qur’an jadi kabur bagi orang-orang yang hanyut dalam perdebatan dan istilah tersebut. Satu contoh ayat

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ القيامة 22-23

Artinya “Wajah-wajah –orang mukmin– pada waktu itu berseri-seri. Dan melihat kepada –keagungan–Tuhannya”. (QS. 75 22-23).
Berdasarkan penggunaan Bahasa Arab secara umumnya, kalimat seperti ini dipahami sebagai penglihatan terhadap keagungan dan kebesaran Tuhan, tapi lambat laun akibat munculnya perdebatan-perdebatan tentang Tuhan maka sebagian orang keliru dalam memahami ayat ini sehingga beranggapan bahwa Allah swt. betul-betul bisa dilihat dengan mata kepala manusia.

5. Ta’ridh.

Ta’ridh adalah salah satu teknik balaghah dan kefasihan yang digunakan oleh al-Qur’an untuk menyampaikan pesannya secara tidak langsung kepada yang dimaksud. Di dalam teknik ini, terkadang perintah, larangan, ancaman, dan lain sebagainya digunakan oleh penutur yang secara lahiriah ditujukan kepada seorang tertentu, tapi pada kenyataannya tutur itu dimaksudkan untuk selain dia. Satu contoh kepada Rasulullah saw. difirmankan bahwa Hai nabi! Kalau kamu menyekutukan Tuhan maka amal-amalmu akan hangus dan tidak berpahala. Firman seperti ini menyeru Rasulullah saw. tapi pada kenyataannya firman ini dimaksudkan untuk mereka yang musyrik.
Dari lima faktor yang tersebut di atas, faktor makna dan kandungan al-Qur’an yang menjulang merupakan faktor yang utama, karena dari satu sisi ajaran Ilahi yang menjulang itu harus disampaikan dan di sisi lain kata-kata yang umum digunakan oleh manusia memiliki banyak keterbatasan, khususnya jika dipandang dari sudut manusia itu sendiri, itulah sebabnya sebagian ayat al-Qur’an ada yang dikategorikan sebagai mutasyabih, tentunya harus juga diketahui bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada ayat yang tidak bisa dimengerti; bahkan ayat-ayat yang dikategorikan sebagai mutasyabih juga bisa dimengerti secara baik dan jelas oleh manusia jika disandingkan bersama ayat-ayat yang muhkam. [1]

Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1 Referensi:
A. Muhammad Hadi Makrifat, Ulume Qur’oni, Qom, Muasseseh Farhangi Intisyorot at-Tamhid, 1378, cetakan pertama, hal. 271-289.
B. Muhammad Baqir Sa’idi Rusyan, Ulume Qur’oni, Qom, Muasseseh Omuzesyi wa Pazhuhesyi Imam Khumaini, cetakan pertama, hal. 239.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+2 =