Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa sebabnya al-Qur’an menerangkan berbagai tema pembahasan secara terpencar?


JAWABAN:

Soal ini di samping mengandung pertanyaan juga mengandung sebuah pernyataan, yaitu ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan tema-tema pembahasannya secara terpencar, padahal pernyataan ini tidak sepenuhnya benar jika diterapkan ke seluruh ayat al-Qur’an.
Dengan mempertimbangkan tujuan-tujuan khusus al-Qur’an dalam memberi hidayah kepada umat manusia, maka banyak dari surat al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap sehingga ayat-ayatnya terpadu di sana. Contohnya surat al-Alaq (surat pertama al-Qur’an); di sana Rasulullah saw. ditugaskan untuk mengajak umat manusia kepada Allah Yang Maha Esa dan taat kepada firman-firman-Nya, di saat yang sama telah dijelaskan juga kepada beliau bahwa tidak semua orang yang akan menerima ajakanmu ini; sebaliknya ada juga orang-orang yang akan menentangmu, tentunya Kami akan memberi pelajaran kepada mereka dan tugasmu sekarang adalah jangan sampai kamu terpengaruh oleh gelombang perlawanan ini melainkan taatlah hanya kepada Kami.
Contoh lainnya adalah surat al-Qalam (surat kedua al-Qur’an yang turun di Mekkah); surat ini menyebutkan gangguan kaum adikuasa dan borjuis terhadap Rasulullah saw. serta tuduhan “gila” yang mereka tujukan kepada beliau sekaligus jawaban atas tuduhan tersebut. Surat ini kemudian mengatakan bahwa tuduhan itu disebabkan oleh motivasi-motivasi tertentu dalam diri mereka lalu menerangkan apa tugas Rasulullah saw. di hadapan semua gangguan dan tuduhan itu serta pada akhirnya menyebutkan janji sikap Allah swt. terhadap mereka.
Sudah barang pasti keberagaman semacam ini tidak mengacau kesatuan tema surat-surat al-Qur’an; seperti halnya kita menyaksikan di dalam alam terdapat ruang yang alami, hutan, kebun, kawasan liar, lingkungan kota dan desa, dan pada saat yang sama kita menyaksikan unsur-unsur lain di tiap-tiap ruang tersebut akan tetapi hal yang dominan di sana adalah desa, kota, hutan atau kebun. Secara umum, keindahan masing-masing dari ruang-ruang itu terletak pada susunan dari bagian-bagian lain yang terdapat di dalamnya; kota tanpa ada pohon, binatang, air dan lain-lain tidaklah indah, hutan menjadi lebih indah dengan adanya kemah, binatang liar, burung, dan lain-lain. Apalagi selain memberikan keindahan, keterpencaran hal-hal tersebut memiliki dampak yang positif pada hutan atau kota. Oleh karena itu, seyogyanya tema-tema yang terpencar dilihat secara terkait dengan satu tema yang merupakan poros dan asli dalam setiap surat lalu menganalisa tema-tema yang beragam itu sesuai dengan tema aslinya.
Hal lain yang harus diperhatikan juga di sini adalah al-Qur’an merupakan kitab yang membangun manusia dan membina masyarakat. Dan tujuan ini bisa dicapai dengan cara membahas seluruh tema-tema yang bagaimanapun juga terkait dengan dua kategori pembangunan manusia dan pembinaan masyarakat.
Ada sebagian tema pembahasan al-Qur’an yang sejak semula dipaparkan oleh Allah swt. dan ada juga sebagian tema yang diajukan pada saat muncul pertanyaan atau kebingungan di tengah masyarakat atau juga pada saat kejadian-kejadian tertentu. Dalam pada ini, al-Qur’an selain tetap menjaga kesatuan universal tujuan-tujuan dalam tiap-tiap surat, dia juga menyinggung persoalan-persoalan tersebut, itulah salah satu sebabnya Rasulullah saw. diperintahkan untuk meletakkan ayat-ayat yang baru turun di sebagian surat yang sudah ditentukan.
Terakhir, perlu diketahui bahwa keberagaman tema di dalam ayat dan hadis selain untuk memberi pelajaran kepada manusia, juga untuk menarik dan mendidik mereka; dengan kata lain menggembirakan mereka, menakutkan mereka, memberikan harapan kepada mereka, mengobati mereka dan lain sebagainya, sedangkan secara umum pembagian tema dalam pembahasan lebih sesuai dengan tujuan pembelajaran. Itu berarti metode al-Qur’an dalam menerangkan berbagai konsep dan subjek pembahasan adalah khas; sebab dia mencampurkan secara terpadu sistem praktis, ideologi dan etika. Ini adalah cara yang terbaik untuk memberi hidayah kepad amanusia; contohnya di satu tempat al-Qur’an menerangkan hukum tertentu lalu dia menyinggung pembahasan tentang kiamat dan hari perhitungan, singgungan itu dia lakukan agar pendengar atau pembaca terdorong secara baik untuk mengambil sikap dan tindakan. Tentunya, di dalam al-Qur’an ada juga surat-surat tematis, contohnya ada surat yang secara khusus mengungkap kisah tertentu seperti surat Yusuf, ada surat yang secara khusus membahas tauhid, dan ada juga yang secara khusus membahas tentang kiamat. Tapi pada saat yang sama, ada sekelompok ayat-ayat lain yang memuat semua persoalan itu dalam satu sistem yang terpadu. Hal penting yang tidak boleh dilupakan dari al-Qur’an bahwa pada tahap awal al-Qur’an bukanlah kitab yang diturunkan untuk menerangkan berbagai persoalan, melainkan kitab yang diturunkan untuk memberi hidayah kepada manusia, itulah sebabnya Allah swt. memilih cara yang sesuai dengan fitrah manusia, perasaan, dan akalnya.

Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+10 =