Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah ayat-ayat al-Qur’an tetap menjadi rumus untuk selamanya Atau ada kemungkinan rumus-rumus itu termaknakan؟


Jawaban:

Dengan lajunya roda zaman dan semakin bertambahnya tingkat keilmuan manusia maka jendela-jendela baru menuju makrifat-makrifat al-Qur’an mulai terbuka, sebagian hadis mengatakan bahwa ada ayat-ayat al-Qur’an yang baru bisa dimengerti maknanya yang dalam oleh manusia-manusia akhir zaman. Salah satu contoh, tafsir al-Mizan menukil sebuah hadis dari kitab Ushulul Kafi bahwa Imam Ali Sajjad as. berkata: “Sesungguhnya Allah swt. tahu bahwa akan datang di akhir zaman nanti kaum yang ahli dan mendalami, oleh karena itu Allah swt. menurunkan ayat قُل هُوَ اللهُ اَحَدٌ dan ayat-ayat dari surat al-Hadid sampai firmannya yang berbunyi
عَلِیمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ”.[1]

Hal ini merupakan satu di antara sisi-sisi istimewa kemukjizatan al-Qur’an, dia senantiasa memberikan pesan segar bagi manusia pada setiap periode kehidupannya dan tidak akan pernah mengalami kelusuhan (kekunoan). Peningkatan kemampuan ilmiah manusia dan penambahan kapasitasnya dalam menangkap makrifat-makrifat Ilahi disebabkan oleh proses kesempurnaan ilmu-ilmu humaniora dan perkembangan sains. Kenyataannya, sebagian ayat al-Qur’an tidak bisa dimengerti oleh masyarakat terdahulu atau mungkin lebih tepatnya mereka hanya memahaminya secara dangkal, sementara ayat-ayat itu bagi orang-orang yang berilmu dan bermakrifat di masa sekarang adalah sangat berarti, kunci, dan mencerminkan sisi kemukjizatan al-Qur’an. Salah satu contoh ayat yang bagi muslimin terdahulu bahkan kontemporer adalah rumus adalah:

﴿ وَ یَسئلُونَکَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِن اَمرِ رَبِّي وَ مَا اُوتِیتُم مِنَ العِلمِ اِلَّا قَلِیلًا ﴾ / الاسراء: 85

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kalian tidak diberi ilmu melainkan sedikit”. (QS. al-Isra’: 85). Tapi sekarang, sebagian ulama terkemuka –di antaranya adalah Allamah Thaba’ Thaba’i– menerangkan maksud ayat ini berlembar-lembar.
Selain itu, perkembangan sains dan berlalunya zaman membuktikan kesesuaian sebagian ayat al-Qur’an dengan realitas yang telah ditemukan, dan itu menjadi salah satu bukti kemukjizatan ilmiah al-Qur’an, seperti ayat:

﴿ رَبِّ المَشَارِقِ وَ المَغَارِبِ ﴾ / المعارج: 40

Artinya: “Tuhan timur-timur dan barat-barat”. (QS. al-Ma’arij: 40). Ayat ini secara tidak langsung menyatakan adanya timur dan barat lebih dari satu yang berpusat di bumi. Begitulah seterusnya penyingkapan makrifat dan maksud yang lebih jelas dari dalam ayat-ayat al-Qur’an sejalan dengan perkembangan sains. Oleh karena itu, mengingat bahwa perkembangan pengetahuan manusia serta penambahan koleksi penemuan-penemuannya efektif sekali dalam membersihkan hal-hal kepercayaan atau pemahaman yang fiktif dan sangat membantu dalam membantah kritikan-kritikan interpretatif maka sebagian ulama besar mewasiatkan agar tafsir baru al-Qur’an senantiasa ditulis dalam selang waktu berapa tahun –sebagaimana dinukil dari Allamah Thaba’ Thaba’i–, begitu pula mengingat pengaruh perkembangan zaman dan transformasi budaya masyarakat serta munculnya tantangan-tantangan baru bagi generasi yang baru terhadap benak peneliti dan penafsir al-Qur’an maka sudah menjadi keharusan makrifat-makrifat al-Qur’an yang mendalam dieksplorasi secara gigih dan kemudian dikonsumerisasikan dengan format dan bahasa yang kontemporer.
Update tafsir al-Qur’an dengan diilhami oleh transformasi budaya dan pengetahuan terkadang disebut dengan “Tafsir Kontemporer” [2]. Tentunya ini merupakan motivasi yang penuh berkah dan manfaat tapi dengan syarat bidang-bidang epistemologis ilmu dan agama tetap diperhatikan dan dijaga secara baik serta menghindari pemaksaan hal-hal yang ilmiah atau pemahaman pribadi atas ayat-ayat al-Qur’an. [3]

Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Al-Mizan: jilid 19, halaman 154.
2. Sayid Muhammad Ali Iyazi, Qur’on wa Tafsire Ashri.
3. Untuk lebih jelasnya Anda bisa merujuk pada referensi berikut:
a. Tafsirul Mizan: jilid 3, halaman 28-135;
b. Mahdi Hadawi Teherani, Mabonie Kalomie Ijtihod;
c. Ali Rabbani Gulpaigani, Makrifat Syenosi;
d. Hadi Makrifat, at-Tamhid, jilid 6;
e. Muhamad Ali Ridha’i, Tafsire Ilmie Qur’on.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+1 =