Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah menurut undang-undang agama Islam pria dan wanita adalah sama Dan apakah wanita berhak ikut campur dalam politik serta pemerintahan dan dalam hal ini juga sama dengan pria?


JAWABAN:

Pada awal munculnya agama Islam, umat manusia meyakini salah satu dari dua pandangan tentang wanita. Kelompok pertama menyikapi wanita seperti binatang jinak. Bagi mereka, wanita bukan termasuk bagian dari masyarakat, tapi di saat yang sama jika dipelihara, ditaklukkan dan menguntungkan masyarakat. Kelompok yang kedua sedikit lebih beradab, mereka menyikapi wanita seperti organ yang cacat, bagi mereka wanita seperti anak kecil atau tawanan yang terbilang parasit dan sampingan yang menumpang dalam kehidupan masyarakat, mereka memiliki beberapa hak sesuai dengan kapasitas terbatas mereka, itupun hak-hak yang sepenuhnya dipegang oleh kaum pria.
Dalam pada ini, agama Islamlah yang untuk pertama kalinya di dunia manusiawi memproklamasikan keanggotaan sempurna wanita di dalam masyarakat dan menghormati tingkah-lakunya. Allah swt. berfirman di dalam al-Qur’an, surat Ali-Imran, ayat 195 “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan, -karena- sebagian kalian adalah dari sebagian yang lain”.
Hanya ada tiga subjek sosial yang menurut agama Islam wanita tidak berhak ikut campur di dalamnya pemerintahan, pengadilan, dan perang yang berarti pertempuran atau pembunuhan (dan bukan berarti di semua bagian yang masih berkaitan dengan perang). Hikmahnya adalah ―sebagaimana dapat disimpulkan dari referensi otentik agama Islam— jenis wanita adalah makhluk yang sentimental, adapun jenis pria adalah makhluk yang rasional. Sementara tiga subjek sosial tersebut berkaitan dengan pemikiran dan bukan perasaan. Dan sudah barang pasti makhluk yang sentimental sama sekali tidak seyogianya diikutcampurkan dalam urusan yang seratus persen rasional atau berdasarkan pemikiran, dan tentunya jika dipaksakan masuk di sana maka tidak akan berkembang. Sebaik-baik bukti untuk kenyataan ini adalah usaha kolektif dunia barat dalam menyamakan pengajaran dan pendidikan pria serta wanita. Kendati usaha itu sudah berlangsung cukup lama akan tetapi sampai sekarang pun tetap tidak mampu menciptakan perubahan statistik yang signifikan dari aktivitas wanita dalam tiga subjek sosial yang tersebut. Dan jika kita perhatikan indeks para jaksa yang jenius, politikus, dan panglima perang maka hasil yang kita peroleh adalah jumlah wanitanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan jumlah prianya, apalagi mau disamakan, berbeda halnya di bidang perawatan, tarian, bintang film layar lebar, lukisan, dan nyanyian. [N.D.].
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Pada tahun 1383 hijriah qamariah ada beberapa ilmuan iran yang berdomisili di New York AS. mengirimkan berbagai soal-soal mereka yang beragam di bidang keislaman kepada Ustad Allamah Husein Thaba’ Thaba’i, dan beliau menjawab semua soal-soal itu dan mengirimkannya dalam satu paket jawaban kepada mereka. Dan ini adalah salah satu soal-jawab tersebut.





Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+2 =