Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah pemahaman pribadi tentang al-Qur’an adalah benar?


Jawaban:

Al-Qur’an adalah kitab dengan bahasa umum tapi berada di puncak kefasihan dan kejelasan makna. Itulah sebabnya kenapa masyarakat berbahasa arab yang hidup pada masa turunnya al-Qur’an dapat memahami berbagai makrifatnya tanpa merujuk kepada tafsir. Namun berhubung adanya kesamaran-kesamaran yang kemudian menghinggapi al-Qur’an maka untuk memahami isinya kita merujuk pada tafsir.
Al-Qur’an turun bersamaan dengan kejadian-kejadian pada waktu itu, dia menyoroti kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun masa dakwah Rasulullah saw. dan menyampaikan prinsip-prinsipnya yang kekal seiring dengan sikap Tuhan terhadap kejadian-kejadian tersebut, dan masyarakat arab yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw. mengalami kejadian-kejadian itu tapi generasi muslim setelah mereka lama kelamaan semakin terjauhkan darinya.
Dan mengingat masyarakat pertama yang diajak bicara, al-Qur’an juga menggunakan permisalan dan istilah-istilah yang ada di kawasan; meskipun demikian, pesan-pesan yang disampaikan bersifat universal dan tidak terkungkung pada kawasan tersebut. Hal itu karena seringkali pesan dapat dimengerti secara lebih baik apabila disampaikan dalam bentuk permisalan dan istilah yang digunakan setempat.
Selain itu, sebagian ibarat al-Qur’an berhubungan secara langsung dengan agama-agama samawi yang telah lalu. Oleh karena itu sudah menjadi keharusan dalam pemahaman al-Qur’an untuk mengenali kepercayaan Ahli Kitab dan isi kitab-kitab mereka serta referensinya.
Tentu jelas bahwa karena tidak adanya penguasaan terhadap hal-hal yang tersebut di atas maka muncul tabir-tabir kesamaran menyelimuti al-Qur’an. Di sini para mufasir berperan sebagai pembuka tabir-tabir itu agar maksud Allah swt. dapat disingkap dan ditangkap secara jelas. Pada hakikatnya mereka telah memudahkan pemahaman ayat-ayat al-Qur’an bagi kita.
Proses pemahaman maksud ayat-ayat al-Qur’an selain membutuhkan tafsir juga membutuhkan pada metode-metode lain seperti takwil dan tathbiq. Metode-metode itu di luar tema pembahasan kita sekarang. Intinya, pemahaman pribadi tentang al-Qur’an adalah benar dengan catatan tabir-tabir kesamaran tadi telah disibakkan. Dan telaah buku-buku tafsir dimaksudkan untuk penyibakan tabir-tabir tersebut, dan apabila sebuah ayat sama sekali tidak dihalangi oleh tabir maka tidak perlu juga merujuk pada buku tafsir.
Harus diingat bahwa al-Qur’an adalah hidayah (petunjuk) bukan berarti kita bisa memperoleh hidayahnya tanpa mengetahui bahasa yang digunakan dan menyentuh sumber-sumber yang ada di dalamnya, sama dengan penggunaan air dalam kapasitasnya sebagai modal utama kehidupan, terkadang untuk itu seseorang terlebih dahulu harus menggali sumur dan menyibak lapisan-lapisan tanah serta batu yang menutupinya.
Berdasarkan hal-hal yang tersebut di atas, menggapai makrifat-makrifat al-Qur’an sampai batat-batas tertentu adalah mungkin bagi semua orang, namun untuk memahami al-Qur’an —sebagai sumber utama makrifat agama— kita harus membekali diri dengan sarana dan prasarananya yang khas serta menguasai cara pemakaiannya, batasan penggunaannya, jangkauan pengaruh dan juga nilainya. Sarana-prasarana yang paling penting di antaranya adalah:

1. Literatur dan filologi

Langkah pertama dalam komunikasi dan untuk mengerti maksud pembicara adalah penguasaan terhadap kaidah-kaidah dasar yang berkaitan dengan bahasanya, dan penyimak harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang literatur yang digunakan oleh pembicara. Dan sehubungan dengan literatur arab, seseorang harus menguasai semantik, ilmu shalaf dan nahwu —yang menentukan posisi susunan kata dalam bentuk kalimat—, ilmu-ilmu ma’ani, bayan dan badi’ —yang mempelajari kaidah-kaidah penting dalam keindahan dan kefasihan kalimat—.

2. Mengetahui kontek (siyaq) isi al-Qur’an


Al-Qur’an memuat tanda-tanda (qorinah) bersambung dan terpisah, dan sebaik-baik cara untuk memahami maksud pembicara adalah meletakkan ucapan-ucapannya yang berbeda di samping yang lain lalu memperhatikan semuanya secara berhubungan antara satu dengan yang lain. Metode ini sangat berguna dalam penilaian dan pengambilan kesimpulan.

3. Sunnah manusia-manusia suci as.

Salah satu tugas Rasulullah saw. dan para imam suci as. adalah menerangkan maksud-maksud al-Qur’an;

وَ اَنزَلنَا اِلَیکَ الذِّکرَ لِتُبَیِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَیهِم [1]

(artinya: “Dan telah Kami turunkan al-Qur’an kepadamu supaya engkau jelaskan kepada manusia apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka”.). Allamah Thaba’ Thaba’i berkata: “Ayat ini merupakan bukti bahwa sabda Rasulullah saw. dalam menerangkan ayat-ayat al-Qur’an adalah hujjah atau bukti yang benar di sisi Allah swt.” [2] Sunnah dan ucapan insan suci as. dalam penafsiran al-Qur’an, pengajaran metodologi penafsiran al-Qur’an kepada masyarakat, penjelasan takwil al-Qur’an, dan pengajaran cara untuk sampai kepada batin-batin al-Qur’an mempunyai peran utama dalam hal ini.

4. Akal dan Pemikiran

Seorang mufasir atau orang yang ingin menggunakan al-Qur’an harus mempunyai akal yang aktif dan pemikiran yang kreatif agar dia dapat memakai sarana ini secara baik dan benar untuk menangkap makrifat-makrifat agama dari dalam ayat-ayat al-Qur’an; satu contoh berkenaan dengan makrifat-makrifat rasional al-Qur’an dia harus menguasai aksioma atau hal-hal rasional yang diakui oleh semua orang berakal serta menggunakannya dalam pemahaman atau penafsiran, dan berkenaan dengan makrifat-makrifat etika al-Qur’an dia juga harus menguasai sekaligus memperhatikan prinsip-prinsip moral.

5. Pandangan Menyeluruh

Anda tahu bahwa agama adalah sekumpulan keyakinan dan tuntunan-tuntunan yang selaras antara satu dengan yang lain, maka dari itu untuk memahami al-Qur’an setiap maklumatnya harus dipandang sebagai bagian dari seluruh ajaran agama —yang diperoleh dari sumber-sumber aslinya—. Pemahaman yang mendalam terhadap isi al-Qur’an membutuhkan usaha-usaha ilmiah yang panjang. Itulah sebabnya dari dulu mufasir yang sukses adalah mufasir yang mempunyai rekor ilmiah dan penelitian yang tinggi.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. QS. an-Nahl: 44.
2. Al-Mizan: jilid 12, halaman 261.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
3+7 =