Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah tafsir simbolik adalah benar? Apa mungkin dinyatakan bahwa kisah Nabi Adam as. dan malaikat adalah simbolik?


Jawaban:

Pertama-tama harus diperjelas dulu bahwa terkadang yang dimaksud dengan simbol adalah penyampaian cerita dan penggambaran tokoh-tokoh sebagai sesuatu yang ideal dan sempurna tanpa peduli apakah sesuatu itu nyata di dunia luar atau tidak. Sebagaimana disebutkan, definisi simbolik adalah sesuatu yang tidak mempunyai nilai dan ketepatgunaannya yang khas melainkan sebuah tanda dan manivestasi sesuatu yang lain. Simbolisme juga merupakan cara yang muncul sekitar tahun seribu delapan ratus delapan puluhan di bidang literatur dan membuat sebagian penyair berkeyakinan bahwa puisi harus menyampaikan kondisi psikologis dan perasaan kepada pembaca atau pendengarnya melalui irama kata-kata.[1] Tapi terkadang yang dimaksud dengan simbol adalah penyampaian pesan khusus —di luar batas ruang dan waktu— dan menunjukkan paradigma yang sempurna dari segala sisi dalam bentuk sebuah cerita yang nyata dan penggambaran karakter yang sesungguhnya.
Dan berdasarkan posisi firman Tuhan, bukti-bukti sejarah, dan penjelasan dari Rasulullah saw. serta para imam suci as. apa yang termuat dalam al-Qur’an masuk kategori simbol yang kedua. Contoh paling jelas untuk cerita-cerita simbolik al-Qur’an adalah kisah penciptaan dan kekhalifahan Nabi Adam as. serta sujudnya para malaikat dan keangkuhan Iblis di hadapan beliau. Kendatipun cerita tentang Nabi Adam as. ini merupakan fakta yang pernah terjadi di alam nyata tapi kemampuan dalam mempelajari asma’ dan mencapai posisi kekhalifahan tidak terbatas pada pribadi beliau, sebagaimana juga penghormatan malaikat dan keangkuhan serta bisikan iblis tidak terbatas pada pribadi beliau, melainkan beliau diangkat dalam kisah itu sebagai simbol ke-Adam-an kedudukan insan di alam semesta. Allamah Thaba’ Thaba’i berkata: “Kekhalifahan yang disebutkan dalam kisah itu bukan milik khusus Nabi Adam as. melainkan anak-anaknya juga turut serta di dalam posisi itu. Dengan demikian maka arti dari pengajaran asma’ adalah: Allah swt. mengamanatkan ilmu ini pada manusia, dan dampak dari amanat itu secara bertahap senantiasa bermunculan dari makhluk ini.” [2] Allamah juga mengatakan: “Maka apabila pada hari itu malaikat diharuskan sujud pada Adam karena dia adalah khalifah Allah swt. di muka bumi, pada hakikatnya perintah sujud itu dimaksudkan untuk semua insan dan sesungguhnya sujud mereka di hadapan Adam karena pada waktu itu Adam menjadi perwakilan dan contoh dari jenis manusia”. [3]
Dengan penjelasan di atas, berarti al-Qur’an juga mengandung simbol-simbol yang sarat dengan hakikat dan kenyataan.
Mengingat malaikat dan setan di luar materi maka tidak sedikit dari para ahli yang meyakini simbolitas sujudnya malaikat, dialog yang berlangsung pada waktu itu, dan juga keangkuhan setan, menurut mereka cerita ini simbolik dan tidak nyata di alam luar.
Keyakinan mereka itu terbantah dengan penyerupaan diri malaikat dalam menjalankan misi Tuhan yang berulang kali disinggung oleh al-Qur’an. Dalam kisah Maryam as. Allah swt. berfirman:
فَاَرسَلنَا اِلَیهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِیًّا[4]
(artinya: “Lalu dia menyerupakan diri di hadapannya sebagai manusia sempurna”.). Begitu pula dalam kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Luth as. para malaikat yang ditugaskan oleh Allah swt. untuk menjalankan siksa Ilahi menyerupakan diri sebagai manusia dan bertamu pada kedua nabi tersebut. [5] Atas dasar itu, jika mereka lebih mengenali budaya al-Qur’an dan membebaskan diri mereka dari pagar materi yang sempit niscaya akan jelas bagi mereka bahwa simbolitas sebagian isi al-Qur’an selaras dengan realitasnya.
Salah seorang peneliti menyebutkan: “Al-Qur’an di samping dia membicarakan kenyataan di saat yang sama penjelasannya juga bersifat simbolik, artinya dia menyampaikan pesan-pesan hidayah dan pendidikannya dengan cara mengungkapkan kenyataan di luar, dengan ibarat yang berbeda dari jantung kenyataan dia membuka pintu ke arah hakikat-hakikat yang menjulang, dengan cara ini al-Qur’an menggabungkan kenyataan dan pesan secara bersamaan ..., contohnya firman Allah swt.
فَاخلَع نَعلَیکَ اِنَّکَ بِالوَادِ المُقَدَّسِ طُوًی[6]
(artinya: “Maka bukalah dua alas kakimu, sesungguhnya engkau berada di lembah Thuwa yang suci”.), secara dzohir (literal) ayat ini mengangkat masalah pelepasan dua alas kaki karena Nabi Musa as. sedang berada di lembah suci yang bernama Thuwa, dan di tempat suci dilarang mengenakan alas kaki. Memang benar makna lahiriah ini diperintahkan oleh Allah swt. tapi makna itu bukan sepenuhnya arti ayat tersebut melainkan ayat ini juga menunjukkan arti pelepasan dua rasa takut; yang pertama takut kehilangan istri yang pada waktu itu dalam keadaan hamil dan yang kedua takut pada fir’aun yang selalu memenuhi pikirannya”. [7] Secara dzohir memang dalam ayat ini tidak pembahasan tentang rasa takut, tapi kata na’laik mengandung dua makna: yang pertama adalah makna lahiriah, yaitu tata krama lahiriah menghormati tempat suci dengan cara melepas alas kaki, dan yang kedua adalah makna simbolik, yaitu tata krama spiritual dan pengosongan hati dari dzikir kepada selain Allah swt. (meskipun dia adalah istri atau musuhnya).
Harus diingat bahwa pemahaman simbolik dari ayat-ayat al-Qur’an tidak boleh mengorbankan realitas yang juga ingin disampaikannya, dan untuk menghindari penyimpangan atau pencampuradukan diperlukan adanya pengenalan yang cukup terhadap ayat-ayat yang lain serta sabda manusia-manusia suci as. dan perkataan para mufasir yang diakui.
Ada sebagian hadis yang menunjukkan makna lahir dan batin al-Qur’an; dan boleh dikatakan bahwa makna batin al-Qur’an adalah makna lazim yang masih segaris dengan makna lahiriah (literal) dan terkadang disebut dengan bahasa simbolik. Untuk mengetahui makna abstrak dan umum dari ayat-ayat al-Qur’an bukan saja membutuhkan ilmu yang lebih tinggi dari pengetahuan tentang makna lahiriah ayat, sabda manusia suci atau perkataan para mufasir, melainkan juga butuh pada ilmu pengenalan unsur-unsur asli yang membentuk kalimat dan pemisahannya dari unsur-unsur yang tidak asli serta tidak berhubungan dengan makna yang dikehendaki oleh ayat.
Selain itu, terkadang dalam bahasa simbolik ini, benak seorang mufasir yang sedang menelaah ayat tertentu melompat ke masalah yang lain, pelompatan atau perpindahan benak mufsir dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain bukan terhitung tafsir ayat tersebut, melainkan masuk kategori tada’i ma’ani. Satu contoh ketika Allah swt. memerintahkan Nabi Musa as. untuk pergi ke fir’aun karena dia sudah sangat durhaka, maka terkadang benak seseorang yang sedang membacanya terpanggil kepada arti pergilah ke jiwamu dan nasihatilah dia karena sungguh dia telah durhaka.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Reza Zamrudiyan, Farhangge Wozyehhoye Qable Urupo’i Dar Forsi.
2. Al-Mizan: jilid 1, setelah ayat yang bersangkutan.
3. Ibid. Begitu pula Tafsir Tartibi karya Abdullah Jawadi Amuli, berkenaan dengan surat al-Baqarah ayat 30-38.
4. QS. Maryam: 17.
5. Anda bisa dalam surat Hud dari ayat 69 sampai ayat 81.
6. QS. Taaha: 12.
7. Waliullah Naqi Pur, Tadabbur dar Qur’an, halaman 292.






Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+8 =