Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Menurut sebagian orang, pernyataan Al-Qur'an bahwa tiada satu pun yang mampu membuat teks tandingan untuknya bukanlah hal yang spesial, karena ada juga teks-teks lain yang tidak tertandingi sampai sekarang, seperti puisi Hafiz dan Sa'di, seperti juga kary


Jawaban:

Tantangan Al-Qur'an tidak terangkum dalam kerangka kata dan keindahan sastra, asas tantangan itu berhubungan dengan hakikat alam semesta, fakta sejarah para nabi, dan ketelitian petunjuk manusia yang dilukiskannya dalam bingkai yang luar biasa, bingkai yang dari satu merupakan prosa yang tidak punya restriksi sajak dan jajaran, di sisi lain umpama puisi yang mengandung estetika, kemulusan, dan intonasi yang sangat istimewa, sehingga praktis tidak pernah membosankan pembaca atau pendengarnya.
Banyak tema yang diusung Al-Qur'an, ia suguhkan hakikat yang paling baik untuk manusia, hakikat yang tidak terbiasi sedikit pun oleh cela, kerusakan atau kebatilan. Ditambah lagi dengan cita rasa manis dan kesegarannya sehingga terciptalah sebuah ramuan yang membuat semua orang –atau jin- terpaku dan tidak berdaya untuk membikin karya tandingannya.
Kemukjizatan Al-Qur'an, minimalnya termanifestasi dalam empat keriteria yang istimewa:
1- Kefasihan kata dan statistika ungkapan;
2- Retorika makna dan puncak kandungan;
3- Kehebatan yang luar baisa dalam menyusun tema;
4- Keluarbiasaan metode dan gaya.
Empat faktor itu terhimpun jadi satu dalam Al-Qur'an sehingga berpengaruh besar pada jiwa manusia, menjamin kenikmatan tersendiri bagi siapa saja yang membacanya, dan menjanjikan kelembutan hati serta kelapangan dada bagi manusia. Manusia, menurut Syahid Mutahhari, takkan pernah mampu menciptakan geometri yang luar biasa –seperti- di dalam Al-Qur'an. [1]
Lain halnya dengan karya prosa atau puisi manusia, masing-masing darinya mempunyai keunggulan di sisi yang terbatas. Sebagai contoh Hafiz unggul di ghazal irfani (puisi gnostis), Firdausi di syair kepahlawanan, Sa'di di puisi nasihat, dan Maulawi di analogi sufistik. Setiap dari mereka jawara dan juara di bidang tertentu, itulah yang tidak memungkinkan perbandingan di antara mereka; tidak bisa dinyatakan bahwa Hafiz dibandingkan Firdausi atau Sa'di lebih hebat daripada Maulawi dalam berpuisi. Untuk pula ketika Ali bin Abi Thalib (as.) ditanya oleh massa soal siapakah pujangga arab yang paling unggul? Jawabnya, 'Pujangga-pujangga arab itu tidak bertarung di medan yang sama sehingga bisa ditentukan siapa yang lebih unggul daripada selainnya. Tapi, kalau pun terpaksa harus memilih siapa, maka raja penjahat [Imraul Qais] lah orangnya.' [2]
Oleh karena itu, pertandingan antara pakar sastra dan pujangga harus terfokus pada ranah tertentu seperti Al-Qur'an, jika memang mereka mengaku diri mampu menandinginya maka mereka harus membuat sebuah teks yang memuat hakikat dan rahasia alam semesta, nilai moral, hukum, dan sejarah, itu pun dengan sistematika dan intonasi yang berimbang. Dalam pada itulah bisa dibandingkan antara teks buatan mereka dan Al-Qur'an, dan sudah barang tentu orang yang ahli sekaligus jujur dan netral pasti dapat merasakan betapa jauhnya jarak antara dua teks tersebut.
Mengingat keterbatasan ruang pembahasan kita sekarang, kami cukupkan hanya dengan membawakan sebuah contoh yang kongkrit dalam hal ini:
Pada tahun 1912 M., percetakan Inggris – Amerika di Bulaq Mesir menerbitkan surat edaran yang mengandung kritikan terhadap Al-Qur'an dan penolakan atas statusnya sebagai mukjizat yang tidak tertandingi sampai sekarang. Menurut surat edaran itu, surat Al-Fatihah (Al-Hamdu) tidak memenuhi syarat kefasihan yang memadai, di dalamnya terdapat pengulangan-pengulangan yang tidak berarti, bukan saja bisa kita buat surat yang sejajar dengannya bahkan yang lebih baik daripada itu pun kita bisa membuatnya.
Surat edaran itu menyebutkan:
"Betapa indahnya pernyataan sekelompok penentang sisi kemukjizatan Al-Qur'an, mereka mengatakan bahwa seandainya penulis Al-Qur'an ini menggantikan isi surat Al-Fatihah dengan kalimat:

اَلحَمدُ لِلرَّحمَانِ رَبِّ الاَکوَانِ اَلمَلِکِ الدَّیَّانِ لَکَ العِبَادَةُ وَ بِکَ المُستَعَانِ اِهدِنَا صِرَاطَ الاِیمَانِ.

niscaya itu akan jauh lebih baik, lebih singkat, terhindar dari kata-kata yang tidak perlu atau berlebihan, dan juga dari sajak-sajak yang murahan seperti (رَحِیم) atau نَستَعِین. " 3
Pertama-tama yang perlu diperingatkan di sini adalah telah disepakati oleh semua ulama dan Muslimin bahwasanya ayat (بِسمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِیم) termasuk dalam surat Al-Fatihah. Ayat ini mengandung makna-makna yang sangat hebat dan penting, sementara penulis artikel Husn Al-Îjâz lalai akan ayat tersebut dan tidak berusaha membuat tandingannya. Anggap saja itu tidak begitu penting untuk kita bahas sekarang, dan lebih baik kita teliti kalimat-kalimat tandingan yang dibuat oleh si penulis.
1. Pada kalimatnya yang pertama, keahlian penulis tidak lebih dari sekedar mengubah kata (الله) dan menggantikannya dengan kata (الرحمن); dia mengira bahwa kata (الله) di sini tidak diperlukan dan untuk mempersingkat kalimat cukup dengan menyebutkan kata (الرحمن) yang menurutnya mengandung seluruh makna yang terkandung dalam kata-kata (الله) dan (الرحیم) pada ayat ketiga surat Al-Fatihah.
Padahal, banyak sekali makna yang akan hilang disebabkan oleh pengubahan dan penggantian itu; di sini Al-Qur'an ingin menerangkan sebuah hakikat bahwa semua pujian khusus untuk Allah swt., selain itu ia juga hendak menjelaskan bukti dan masing-masing sebab pujian untuk-Nya. berdasarkan itulah maka kata (الله) harus disebutkan di sana, begitu pula halnya dengan kata (الرحمن) dan (الرحیم) dalam kapasitasnya sebagai dua sifat Allah swt. yang berbeda satu sama lainnya –dari sisi konsep-.
Pemuji keberadaan tertentu, adakalanya memujinya karena kesempurnaan yang dimiliki oleh keberadaan tersebut, adakalanya dia memujinya karena ingin mengungkapkan rasa terimakasih atas nikmat-nikmat yang dianugerahkannya, adakalanya dia memujinya karena mengharapkan nikmat dan karunia darinya, dan adakalanya pula dia memuji karena takut dari siksanya. Kata (الله) mengisyaratkan pada motivasi yang pertama, kata (رَبِّ العَالَمِینَ) motivasi yang kedua, kata (الرحمن الرحیم) motivasi yang ketiga, dan kata (مَالِكِ یَومِ الدِّین) mengisyaratkan pada motivasi yang keempat. Dengan penjelasan ini, Al-Qur'an ingin menegaskan bahwa apa pun motivasi seseorang untuk memuji keberadaan tertentu, mau tidak mau dia harus memuji Allah swt. yang Maha Sempurna, Maha Pencurah Nikmat, Maha Pemberi, dan Maha Pembalas. Oleh karena itu, segala puja dan puji tiada lain hanya untuk Allah swt.
Dengan demikian, jelas sekali hubungan antara ayat ini dengan ayat ini dengan ayat-ayat yang selanjutnya. Sedangkan apabila kata (الله) tersebut dibuang dan digantikan dengan kata (الرحمن) maka terputuslah hubungan makna antara kalimat (اَلحَمدُ لِلرَّحمن) dan kalimat (رَبِّ الاَکوَان).
2- Pada kalimat yang kedua juga keahlian penulis tidak lebih dari sekedar mengubah kata (العَالَمِین) dan menggantikannya dengan kata (الاَکوَان). Setiap pembaca yang teliti pasti bisa merenungkan betapa selarasnya sifat Allah (رَبّ العَالَمِین / Tuhan alam semesta) dengan kalimat (اَلحَمدُ للهِ / Segala puji bai Allah) dan sifat (الرَّحمنِ الرَّحِیم / Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang). Ditambah lagi bahwa kata (العَالَمِین) menunjukkan makna alam-alam yang beragam dan makhluk-makhluk yang mempunyai perasaan. Sedangkan kata (الاَکوَان) tidak bisa menunjukkan makna seperti itu secara jelas.
3- Penulis artikel Husn Al-Îjâz berdugaan bahwa kalimat (اَلحَمدِ لِلرَّحمنِ / Segala puji bagi Yang Maha Pengasih) meliputi juga makna kata-kata (الرَّحمنِ الرَّحِیمِ). Dia tidak tahu bahwa kata (الرَّحمنِ) menunjukkan luasnya rahmat Ilahi bagi semua orang bahkan seluruh makhluk Tuhan, sedangkan kata (الرَّحِیمِ) menunjukkan rahmat-Nya yang abadi dan kekal khusus bagi orang-orang yang baik atau beramal saleh.
Selain itu, penggunaan kata (الرَّحِیمِ) –yang menunjukkan rahmat khusus- di sini menjadi pengantar ayat setelahnya (مَالِكِ یَومِ الدِّین). Oleh karena itu, meskipun dua sifat itu (الرَّحمنِ الرَّحِیمِ) terkandung di dalam ayat pertama surat Al-Fatihah (بِسمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِیم) akan tetapi pengulangannya di sini memiliki urgensitas tersendiri.
4- Pada tahap berikutnya, penulis bisanya cuma mengubah sifat (مَالِكِ یَومِ الدِّین) dan menggantikannya dengan kata (اَلمَلِكِ الدَّیَّان). Pengubahan ini bukan saja membuat tandingan yang lebih berkualitas, bahkan telah menyingkirkan poin-poin penting yang disampaikan oleh ayat Al-Qur'an tersebut; surat Al-Fatihah diwahyukan dalam rangka mengajarkan pokok-pokok ajaran Ilahi kepada umat manusia, ayat-ayat pertama yang menyebutkan nama istimewa dan tiga dari sifat Allah swt. hendak menjelaskan pokok ajaran Islam yang pertama, yaitu tauhid atau ke-Esa-an Allah swt. dan bahwasanya pujian hanya milik-Nya. Adapun ayat (مَالِكِ یَومِ الدِّین) menerangkan pokok ajaran Islam yang kedua, yaitu hari kiamat atau kebangkitan. Lalu, ayat-ayat setelahnya menerangkan pokok ajaran Islam yang ketiga dengan bersandarkan pada ayat-ayat yang sebelumnya, yaitu pokok kenabian.
Sedangkan kalimat tandingan yang dibanggakan oleh penulis artikel Husn Al-Îjâz tidak lebih dari menyebutkan dua sifat lain Allah swt., tapi tidak bisa memberikan makna yang dalam sebagaimana tertera di atas, tidak pula mempunyai hubungan yang tepat dan teliti dengan ayat-ayat sebelum atau sesudahnya. Kepemilikan khusus Allah swt. atas hari kebangkitan membuka tema baru bahwa seorang hamba mau tidak mau harus beribadah hanya kepada dan untuk Allah swt., dalam pada ini juga dia harus senantiasa memohon bantuan dari-Nya dan tunduk di hadapan-Nya.
5- Untuk ayat selanjutnya, penulis itu mengubah ayat (اِیَّاكَ نَعبُدُ وَ اِیَّاكَ نَستَعِین / Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon bantuan) dan menggantikannya dengan kalimat (لَكَ العِبَادَةُ وَ بِكَ المُستَعَان). Ayat buatan penulis ini dibuat dalam rangka meringkas, tapi pada kenyataannya tidak demikian, bahkan memiliki satu kata tambahan yang berlebihan. Selain itu, banyak sekali poin-poin yang sangat penting dalam ayat Al-Qur'an yang tidak mungkin dimengerti dari ayat buatan tersebut, seperti poin penting yang hanya bisa dimengerti dari kata (نَعبُدُ) dan kata (نَستَعِین) serta pengulangan kata (اِیَّاكَ). Perincian semua itu akan memakan banyak tempat dan waktu di sini, bagi yang menginginkannya kami sarankan untuk melihat kitab-kitab tafsir Al-Qur'an.
6- Ayat buatan (اِهدِنَا صِرَاطَ الاِیمَان) yang diajukan sebagai ganti dari ayat Al-Qur'an (اِهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِیمَ / Tunjukilah kami jalan yang lurus) mengusung makna yang sedikit sekali jika dibandingkan dengan ayat Al-Qur'an tersebut. Selain bahwa kata (الصِّرَاطَ المُستَقِیمَ) lebih luas daripada kata (صِرَاطَ الاِیمَان / jalan iman).
Setelah itu, penulis tidak lagi membuat ayat tandingan untuk ayat-ayat surat Al-Fatihah yang selanjutnya, dia mengira bahwa kata (صِرَاطَ الاِیمَان) sudah cukup untuk mengisyaratkan makna ayat-ayat itu. Padahal, ayat-ayat tersebut membimbing hamba dan pesuluk jalan yang lurus selangkah demi selangkah sampai pada kedekatan di sisi Allah swt., ditambah lagi bahwa dari sudut pandang pendidikan, pengajuan model yang benar atau teladan dan peringatan tentang bahaya model yang menyimpang menaruh dampak yang sangat besar dalam mendidik, membina dan mengembangkan manusia. Dan semua ini tidak terkandung di dalam ayat buatan اِهدِنَا صِرَاطَ الاِیمَان . 4
Perlu diketahui bahwa sejak awal lahirnya agama Islam sampai sekarang, banyak juga contoh-contoh ayat palsu yang dibuat untuk menandingi Al-Qur'an, tapi di mata orang-orang yang berakal dan ahli sastra ayat-ayat palsu itu tampak sekali kelemahan dan kekurangannya.
Antara lain, untuk ayat suci Al-Qur'an
وَ لَکُم فِی القِصَاصِ حَیَاةٌ یَا اُولِی الاَلبَاب [5]

ada yang berusaha menandinginya dengan kalimat (قَتلُ البَعضِ اِحیَاءٌ لِلجَمِیعِ)!! atau kalimat
اَکثِرُوا القَتلَ لِیَقِلُّ القَتل!! [6]

Untuk ayat suci Al-Qur'an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ قَاتِلُواْ الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلِيَجِدُواْ فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [7]

ada yang berusaha membuat tandingannya dengan kalimat
یَااَیُّهَا العَاقِلُونَ لَا تَقتُلُوا الَّذِینَ یَلُونَکُم مِنَ المُخَالِفِینَ وَ لیَجِدُوا فِیکُم رَحمَةً وَ الاِنسَانِیَّة وَ اعلَمُوا اَنَّ اللهَ مَعَ العَادِلِین!!

Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa tantangan Al-Qur'an tidak terbatas pada dimensi metode verbal dan sastra, akan tetapi meliputi juga dimensi gaya istimewa Al-Qur'an dalam menjelaskan hakikat dan kenyataan, ketidakterkurungan dalam irama atau sajak tertentu, namun pada saat yang sama tetap berada pada puncak keindahan prosa dan puisi, ketelitian, kelembutan dan keelokan yang luar biasa. Sudah barang tentu keistimewaan ini tidak terdapat dalam buku-buku karya manusia bahkan kitab samawi yang lain. Bahkan, Nabi Muhammad saw. sendiri –selaku pembawa wahyu itu- tidak mampu membuat tandingannya, hadis-hadis beliau sendiri atau bahkan hadis qudsi juga berbeda sekali dengan Al-Qur'an dan tidak sejajar dengannya.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. J.Subhani: Ilohiyot, jld. 2, hal. 145, cetakan ke-II; M.Mutahhari: Majmu'eh_e Otsor, jld. 2, hal. 125.
2. S.M.R.Musawi: Nahj Al-Balâghoh, hikmat ke-455.
3. N.H. Dzahir: Al-Îjâz fî Ibthôl Al-I‘jâz, Al-Amerikaniah Mesir (Bulaq), Al-Mathba'ah Al-Ingliziyah, 1912 M.
4. Untuk keterangan terperinci tentang poin-poin penting di dalam ayat-ayat terakhir surat Al-Fatihah, anda bisa dapatkan juga di dalam kitab-kitab tafsir Al-Qur'an, begitu pula di dalam kitab Sir Al-Sholâh.
5. QS. Al-Baqarah [2]: 179.
6. M.H. Makrifat: Al-Tamhîd, jld. 5, hal. 60.
7. QS. Al-Taubah [9]: 123.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
10+3 =