Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Pada masa kini, sudah banyak komputer pribadi, dan Al-Qur’an lebih tidak mungkin untuk diubah. Oleh karena itu, apa perlunya menghafal Al-Qur’an dan mengeluarkan biaya besar untuk itu?


Jawaban:

Ada poin-poin penting yang patut diperhatikan dalam pertanyaan tersebut:
Bila memang target yang sebenarnya hanyalah keterpeliharaan Al-Qur’an dari distorsi dan segala bentuk perubahan, maka tidak perlu lagi menghafal Al-Qur’an dan mengeluarkan biaya besar-besaran untuk itu! Akan tetapi, bukan itu saja tergetnya, melainkan masih banyak dampak positif lain yang muncul dari penghafalan Al-Qur’an. Di antaranya:

1- Ingat Allah swt.

Hafalan Al-Qur’an berpengaruh positif dalam ruh dan jiwa pelakunya, sehingga kapan saja ayat yang tepat pada saatnya terlintas dalam benak dia, atau kapan saja dia sengaja untuk mengingatnya dalam diri, niscaya dia akan dapat mengetahui apa yang harus dilakukannya ketika itu.
Contoh, berkenaan dengan bisikan setan dan gangguannya, Al-Qur’an mensinyalir firman Allah swt.:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ (الأعراف/ 7: 201)

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang taqwa apabila mereka terkena gangguan dari setan, mereka ingat kepada Allah, ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf [7]: 201).
Sebagaimana Anda perhatikan di atas, bisikan setan membuat jiwa seseorang bergejolak, dan ketika orang itu mengingat kembali ayat Allah swt. tersebut maka dia telah meredam gejolak negatif itu dan menerangi hatinya dengan cahaya Ilahi. Dan sudah barang tentu, keberadaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam komputer atau buku catatan tidak memberikan dampak positif seperti ini.
Secara umum, Al-Qur’an adalah faktor pengingat, [1] dan dampak-dampak pengingatan ini lebih mungkin untuk diperoleh melalui hafalan Al-Qur’an.

2- Kesembuhan dari penyakit spiritual.

Selain berperan sebagai pembimbing dan pemberi petunjuk di segala aspek kehidupan, Al-Qur’an juga memberikan dampak yang istimewa terhadap ruh manusia dan menyembuhkannya dari berbagai penyakit spiritual, seperti kesombongan, keangkuhan, ketakutan, kegelisahan hati, ketimpangan jiwa, buruk sangka kepada yang lain, dan lain sebagainya.
Salah satu ciri khas Al-Qur’an adalah bahasa perasaan dan pengaruhnya yang luar biasa terhadap perasaan setiap orang yang mendengarkannya. [2] Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ (يونس/ 10: 57)

Artinya: “Hai manusia sekalian, sungguh telah datang kepada kalian pengajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh penyakit-penyakit dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57).
Kesembuhan ini hanya akan diperoleh secara sempurna oleh seseorang ketika dia menghadiri jamuan Al-Qur’an dan menyuapkan obat-obat qur’anik pada dirinya.
Untuk itu, sangat disarankan agar minimal seseorang menghafalkan ayat-ayat yang berpengaruh sekali pada ruhnya dan efektif sekali dalam menyelesaikan kendala-kendala jiwanya, lalu sebisa mungkin untuk meningkatkan hafalan itu menjadi keyakinan hatinya, agar dengan demikian hati senantiasa sehat dan menyaksikan dampak-dampak kesembuhan yang selalu diberikan oleh Al-Qur’an kepadanya.
Boleh jadi sebab utama manusia-manusia suci as. berulang kali menyarankan hafalan Al-Qur’an kepada setiap orang adalah pembebasan dia dari ketimpangan, kerancuan, dan penderitaan-penderitaan ruh yang lain. Sebab, Al-Qur’an adalah Dzikir [3], sedangkan ketentraman hati terletak dalam Dzikir atau ingatan kepada Allah swt. [4]. Sebaliknya, berpaling dari dzikir kepada Allah swt. menjanjikan kehidupan yang susah dan penuh dengan himpitan serta kesulitan. [5]

3- Penelitian.

Al-Qur’an adalah kitab suci sepanjang zaman dan senantiasa proporsional dalam memenuhi kebutuhan intelektual manusia sepanjang masa. Kitab suci ini disusun sedemikian rupa sehingga selain mempunyai makna-makna lahiriah yang sangat berharga, dia juga menyuguhkan makna-makna batiniah yang sangat dalam.
Makna-makna batiniah ini jelas tidak bisa diperoleh hanya dengan menjangkau kata-kata Al-Qur’an melalui komputer atau buku kertas. Jalan utama menuju makna-makna batiniah Al-Qur’an adalah menyibak aneka hubungan antara ayat itu sendiri. Artinya, penelitian tentang Al-Qur’an tergantung sekali pada kelihaian benak seseorang dan kejernihan hatinya. Dan syarat ini lebih mungkin untuk diperoleh melalui hafalan Al-Qur’an serta keharmonisan seseorang dengannya. [6]
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Seperti ayat 55 surat Al-Muddatsir, 12 surat Abasa, 16 dan 41, 51, 54, 56 surat Maryam, serta ayat 24 surat Al-Ahzab.
2. Lih: Tafsire Qur’on, Syahid Mutahhari, jilid 10, bagian pertama.
3. Lih: QS. Al-Anbiya’ [21]: 50.
4. Lih: QS. Ar-Ra’d [13]: 28.
5. Lih: QS. Thaha [20]: 124.
6. Lihatlah referensi berikut:
a. Syahriar Parhizgar: Ceguneh Qur’on Ro Hifz Kunim, Namoyandegie Wali Faqih Dar Nirue Muqowemate Basij, 1371 Hs., cetakan pertama, hal. 22.
b. Ilyas Kalantari: Ahammiate Wa Rawesye Hifze Qur’on, Teheran, Intisyorote Bayon, 1342 Hs., cetakan pertama, hal. 9 – 21.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
4+3 =