Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Al-Qur’an turun selama 23 tahun dan susunan ayat-ayatnya tidak seperti yang ada sekarang; dan salah satu buktinya ayat-ayat pertama yang turun adalah إقرَأ بِاسمِ رَبِّکَ الَّذِي خَلَق ... . Dan pertanyaan yang muncul di si


Jawaban:

Ada dua pandangan para ahli Ulumul al-Qur’an tentang pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an dan pembukuannya:

Pertama: Pada Masa Hidupnya Rasulullah saw.

Menurut kelompok yang pertama ini, sejak zamannya Rasulullah saw. al-Qur’an sudah dibukukan dalam bentuk susunan ayat dan surat seperti yang ada sekarang. Mereka mengajukan beberapa bukti di antaranya:

1. Keterjagaan al-Qur’an dari bahaya perubahan tangan-tangan jahil tidak mungkin terjamin tanpa adanya pembukuan al-Qur’an pada zaman Rasulullah saw. masih hidup, karena selain beliau tidak ada orang yang mengetahui ciri-ciri khas al-Qur’an secara sempurna.

2. Tantangan al-Qur’an kepada yang lain untuk menyaingi dirinya mengharuskan adanya susunan ayat dan surat tersendiri yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

3. Sebagian riwayat menunjukkan bahwa sebagian sahabat pada zaman Rasulullah saw. bertugas melakukan pengumpulan dan pembukuan al-Qur’an. Sya’bi mengatakan: “Ada enam sahabat dari Anshar yang mengumpulkan al-Qur’an pada masa hidupnya Rasulullah saw., mereka adalah: Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Mu’adz bin Jabal, Abu Darda’, Sa’id bin Ubaid, dan Abu Zaid”.

Kedua: Setelah Rasulullah saw. Meninggal Dunia

Menurut kelompok yang kedua, pembukuan al-Qur’an terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw., karena jelas tidak mungkin pembukuan itu dilakukan pada zaman beliau mengingat kontinuitas turunnya wahyu al-Qur’an yang terus turun sampai hari-hari terakhir hayatnya Rasulullah saw. Dan perlu diingat bahwa berbeda antara penulisan ayat dan pembukuannya dalam bentuk satu kitab.
Pendukung pandangan ini berkeyakinan bahwa pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an terjadi dalam tiga tahapan:
Pertama: Peletakan ayat di sisi ayat-ayat yang lain sehingga membentuk surat-surat Al-Qur’an, dan ini terjadi pada masa hidup Rasulullah saw.
Kedua: Pengumpulan lembaran-lembaran yang tersebar menjadi satu sehingga menjadi kitab yang berjilid. Hal ini terjadi pada zaman kekhalifahan Abu Bakar.
Ketiga: Pengumpulan semua al-Qur’an yang tertulis dari seluruh penulis wahyu demi menyatukan tulisan al-Qur’an sebagai standar bagi tulisan-tulisan Aal-Qur’an yang lain dan juga untuk menyatukan bacaan al-Qur’an itu sendiri. Hal ini terjadi pada masa kekhalifahan Usman bin Affan.
Apabila diperhatikan, ternyata mayoritas ulama muslim tidak menerima pendapat yang mengatakan al-Qur’an telah dibukukan sejak zamannya Rasulullah saw.. Hanya sebagian kecil dari mereka saja yang punya keyakinan al-Qur’an telah dikumpulkan –sesuai dengan urutan yang ada sekarang– pada zaman Rasulullah saw. dan mereka menolak secara total tiga tahapan tersebut atau juga pembukuan al-Qur’an pada zaman khalifah. Salah satu dari mereka adalah Ayatullah Khu’I [1], Ayatullah Hasan Zadeh Amuli [2], Dr. Subhi Shaleh [3], dan lain-lain.
Berkenaan dengan topik ini, Ayatullah Khu’i menjelaskan beberapa poin di bawah ini:

1. Hadis-hadis yang menjadi landasan pengumpulan al-Qur’an pada zaman selain Rasulullah saw. saling bertentangan antara satu sama yang lain. Sebagian menyebutkan zamannya Abu Bakar, sebagian lagi menyebutkan zamannya Umar, dan sebagian yang lain menyebutkan zamannya Usman.

2. Riwayat-riwayat itu bertentangan dengan hadis-hadis yang menunjukkan pengumpulan al-Qur’an pada zaman Rasulullah saw.

3. Riwayat-riwayat itu bertentangan dengan hukum akal yang mengharuskan Rasulullah saw. memberikan perhatian khusus terhadap penulisan dan pengumpulan al-Qur’an.

4. Riwayat-riwayat itu bertentangan dengan ijmak muslimin yang menyatakan kepastian al-Qur’an secara mutawatir.

5. Pengumpulan al-Qur’an pasca Rasulullah saw. tidak dapat menolak klaim perubahan al-Qur’an secara sempurna.
Di sisi lain, kelompok yang tidak percaya akan pembukuan al-Qur’an pada zaman Rasulullah saw. menjawab kritikan-kritikan tersebut di atas dan sebaliknya mereka percaya bahwa al-Qur’an adalah fenomena historis dan bukan masalah rasional. Oleh karena itu, di dalam permasalahan ini yang bisa dijadikan landasan adalah teks-teks historis.
Mereka menjawab pertanyaan “Kenapa al-Qur’an tidak dibukukan pada zaman Rasulullah saw.?” dengan sebagai berikut: Rasulullah saw. amat perhatian dengan penataan dan pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an, akan tetapi pengumpulan dan penataan surat-surat terjadi setelah beliau meninggal. Hal itu disebabkan masih adanya penantian turunnya wahyu al-Qur’an pada masa hidup beliau. Oleh karena itu, dengan adanya kontunuitas turunnya wahyu pada masa hidup Rasulullah saw. maka tidak mungkin dilakukan pengumpulan al-Qur’an pada waktu itu sampai menjadi satu jilid kitab yang sempurna. Itulah sebabnya kenapa Rasulullah saw. ketika melihat tanda-tanda pasti kematian beliau dan terputusnya wahyu maka beliau berwasiat kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. untuk mengumpulkan al-Qur’an.
Tapi sayang, al-Qur’an yang dikumpulkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. setelah wafatnya Rasulullah saw. tidak diakui oleh penguasa pada waktu itu sehingga masyarakat Islam tidak mempunyai kitab suci al-Qur’an yang resmi selama 25 tahun Hijriah! Kendatipun pada waktu itu terdapat juga mushaf-mushaf al-Qur’an milik sahabat-sahabat besar nabi saw.
Menurut pandangan ini, setelah Rasulullah saw. wafat, para sahabat besar mengerahkan ilmu dan kemampuannya untuk mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an dan menertibkan surat-suratnya, masing-masing dari mereka meletakkan ayat dan surat tersebut dalam mushafnya sendiri-sendiri. Dengan demikian dan juga dengan meluasnya kawasan pemerintahan Islam maka jumlah mushaf-mushaf itu bertambah banyak.
Sebagian dari mushaf-mushaf itu terbiasi oleh posisi sahabat yang mengumpulkannya sehingga dia menduduki posisi yang tinggi pula. Contohnya adalah mushaf Abdullah bin Mas’ud yang merupakan rujukan penduduk Kufah, mushaf Abu Musa Asy’ari di Bashrah, Mushaf bin Aswad di Damaskus sangat dihormati oleh penduduk setempat. Pengumpul-pengumpul al-Qur’an dan juga mushaf-mushaf hasil pengumpulan mereka berjumlah banyak dan saling tidak berhubungan, ditambah lagi dengan perbedaan mereka dari sisi penguasaan, potensi, dan kemampuan dalam melakukan tugas mulia tersebut. Itu berarti naskah masing-masing dari mereka tidak sama baik dari sisi metode, penyusunan, bacaan, dan lain sebagainya.
Perbedaan ini menimbulkan perselisihan di tengah masyarakat. Dan perselisihan itu menjalar sampai ke pusat kekhalifahan yaitu Madinah, di sana para guru mengaji al-Qur’an mengajarkannya dengan berbagai macam. Fenomena ini membuat para sahabat menuntut Usman bin Affan agar menyatukan mushaf-mushaf al-Qur’an yang ada pada waktu itu. Maka Usman pertama-tama dia menugaskan satu kelompok yang terdiri dari empat orang yaitu Zaid bin Tsabit, Sa’id bin As, Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Tapi berhubungan ketentuan itu ditentang oleh sebagian sahabat maka Usman menambahkan delapan orang lagi pada kelompok tersebut. Pada waktu itu, yang tugas utama dikte (imla’) ayat-ayat al-Qur’an diemban oleh sahabat besar Nabi saw. Ubay bin Ka’b. Kemudian kelompok ini mengumpulkan mushaf-mushaf al-Qur’an dari segala penjuru luas negara Islam, dan dari mushaf-mushaf itu mereka menyediakan satu Al-Qur’an (yang dikenal dengan sebutan Mushaf Usmani). Lalu semua mushaf-mushaf yang terkumpul itu dibakar atau direndam di dalam air yang mendidih sesuai dengan perintah khalifah ketiga Usman bin Affan.
Mushaf Usmani ini kemudian disalin menjadi berapa naskah lalu dikirim ke pusat-pusat penting negara Islam beserta qari’ yang menguasai naskah Mushaf Usmani agar muslimin hanya memperbanyak dan mengajarkan al-Qur’an sesuai dengan naskah tersebut. [4]
Urutan surat-surat al-Qur’an setelah al-Fatihah dalam Mushaf Usmani adalah sebagai berikut: Surat-surat panjang, kemudian surat-surat ma’in (surat-surat yang umumnya lebih dari seratus ayat), surat-surat matsani (surat-surat yang umumnya kurang dari seratus ayat), dan surat-surat mu’dholat (surat-surat yang pendek). Pengurutan surat-surat al-Qur’an –yang berdasarkan panjang dan pendeknya surat-surat tersebut dalam mushaf-mushaf resmi usmani– terjadi pada zamannya Usman Bin Affan. Akan tetapi, ada juga kelompok yang berpendapat bahwa pengurutan ini dilakukan sesuai petunjuk Rasulullah saw. dan sudah terjadi pada zaman beliau. Di samping itu, ada pula kelompok lain yang pendapatnya pertengahan antara dua kelompok sebelumnya, mereka yakin bahwa pembukuan dan pengurutan surat-surat al-Qur’an terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw., tapi sebagian surat-surat al-Qur’an seperti hawamim dan musabbihat seperti urutannya yang ada sekarang sudah populer sejak zamannya Rasulullah saw. [5]
Imam-imam suci Ahlulbayt as. mendukung al-Qur’an yang ada dan menganjurkan pengikut mereka untuk membaca al-Qur’an sesuai dengannya. Allamah Thaba’ Thaba’i dalam hal ini menuliskan: “Sebelumnya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. sudah mengumpulkan dan menyusun al-Qur’an sesuai dengan urutan turunnya [6] dan beliau memamerkan kepada masyarakat pada waktu itu. Akan tetapi hasil jerih payah beliau tidak diakui oleh mereka dan bahkan beliau tidak diikutsertakan dalam pengumpulan masyhur yang pertama dan kedua. Di saat yang sama, beliau tidak menentang, beliau menerima mushaf yang dikumpulkan oleh khalifah dan selama beliau masih hidup –bahkan sewaktu beliau memegang kendali pemerintahan– tidak menunjukkan perbedaan atau penentangan. Hal yang sama dilakukan oleh imam-imam suci as. yang lain, mereka mendukung al-Qur’an yang ada dan di dalam keterangan-keterangan mereka senantiasa merujuk pada al-Qur’an tersebut, mereka juga menganjurkan pengikut-pengikut (syiah) mereka agar mengikuti bacaan (qiro’ah) masyarakat ...”. [7] Itulah sebabnya kenapa sekarang Mushaf Usmani menjadi satu-satunya mushaf yang resmi dunia Islam.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Tarjumatul Bayan, jilid 1, hal. 346.
2. Fashlul Khithab, hal. 46.
3. Mabahitsun fi Ulumil Al-Qur’an, hal. 73.
4. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa baca dalam buku:
1. Makrifat, Muhammad Hadi, Torikhe Al-Qur’an, hal. 84-139.
2. Ramyar, Muhammad, Torikhe Al-Qur’an, hal. 407.
5. Hujjati, Sayid Muhammad Baqir, Pazhuhesyi dar Torikhe Al-Qur’an.
6. Perkataan Allamah ini menunjukkan bahwa urutan surat-surat yang ada sekarang tidak dibuat pada zamannya Rasulullah saw., karena kalau memang demikian (sudah dibuat pada zaman beliau saw.) maka itu berarti Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. membukukan Al-Qur’an dalam bentuk yang berbeda dengan susunan pada zaman Rasulullah saw.
7. Anda bisa lihat refrensi berikut ini:
1. Makrifat, Muhammad Hadi, Ulume Qur’oni, hal. 119.
2. Hujjat, Sayid Muhammad Baqir, Pazhuhesyi dar Torikhe Qur’one Karim, hal. 235.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+3 =