Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa maksud dari pembubuhan kata “Islam” pada ujung sebuah nama disiplin ilmu pengetahuan seperti Kedokteran Islam, Ekonomi Islam dan lain sebagainya?


Apa maksud dari pembubuhan kata “Islam” pada ujung sebuah nama disiplin ilmu pengetahuan seperti Kedokteran Islam, Ekonomi Islam dan lain sebagainya? Apakah itu artinya di dalam jurusan ilmu tersebut hanya harus merujuk hadis dan ayat yang bersangkutan, atau harus dilakukan eksperimen atasnya, atau maksudnya adalah dari ayat dan hadis bisa ditarik metode-metode tertentu seperti metode kedokteran di dalam Islam?

JAWABAN:

Literatur Islam —yang meliputi hadis dan ayat— memuat ilmu-ilmu dan metode-metode. Perbedaannya adalah hal-hal yang bersangkutan dengan epistemologi dan hukum syariat merupakan batas maksimal; sebab ajaran-ajaran langit berada di luar jangkauan manusia, jika tidak disampaikan melalui para nabi dan media wahyu niscaya manusia tidak akan menemukan jalan ke sana. Adapun hal-hal yang bersangkutan dengan sains adalah batas minimal, sebab Tuhan berkehendak agar ilmu-ilmu dan metode-metode, yang empiris dan bersifat indrawi serta dapat diperoleh manusia melalui usaha yang dinamis, diraih oleh manusia itu sendiri.
Walaupun demikian, mengingat bahwa ayat-ayat al-Quran memiliki berbagai konsep dan lapisan ilmiah yang berlimpah, dan hadis-hadis juga terbentang sangat luas, maka dengan melakukan penelitian terhadapnya, perenungan dan kemudian menemukan hubungan yang terjalin antara tema-tema yang disajikan di sana niscaya akan menghasilkan petunjuk-petunjuk ilmiah dan metodologis yang banyak berkenaan dengan ilmu-ilmu empiris, sekiranya penemuan-penemuan ilmiah sesuai dengan ayat dan hadis maka tingkat kepastian atau kepercayaannya menjadi berlipat ganda. Perlu juga diingat bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang terbukti tidak boleh (baca: mungkin) bertentangan dengan keterangan ayat dan hadis yang otentik, dan jika hal itu muncul maka hanya ada dua kemungkinan, yang pertama adalah pemahaman kita yang salah terhadap ayat atau hadis, dan yang kedua adalah penelitian ilmiah kita yang baru sampai batas hipotesa dan belum mencapai pembuktian yang pasti.
Pada hasilnya, sampai batas mana ilmu-ilmu yang tersaji di dalam ayat dan hadis dilibatkan dalam penemuan-penemuan ilmiah maka sampai batas itu pula dia menyerap warna keislaman dan pantas menerima bubuhan akhir “Islam”. Adapun mengenai ilmu-ilmu murni dan dasar seperti matematika, kimia, dan fisika, sejauh mana usaha para ilmuan bermotivasi gerak dari Tuhan dan ke arah Tuhan maka sejauh itu pula warana keislaman, ketuhanan dan kelayakan aktivitas ilmiah mereka.
Patut juga untuk diketahui bahwa apa yang dipaparkan oleh ajaran agama dan al-Quran di bidang ilmu-ilmu humanioris dan sosial adalah himpunan dari harus dan tidak harus atau yang sudah terbukti baik secara rasional maupun tekstual, dan posisi agama dalam pemeliharaan himpunan itu adalah jelas. Bagian ini biasa disebut dengan ideologi.
Adapun metode-metode dan atau ilmu-ilmu merupakan eksperimen-eksperimen manusia untuk menopang pandangan ideologi baik di medan kehidupan personal maupun sosial. Eksperimen, sebagaimana maklum dari namanya, senantiasa dalam kondisi proses kesempurnaan, perbaikan, dan penelitian ulang.
Kita dapati beberapa proposisi di dalam literatur Islam yang memuat metode. Dan metode bisa saja berubah dalam kaitannya dengan transisi-transisi sosial, sebagaiamana struktur kekuasaan politik dan pemisahan tugas-tugas badan di dalam sistem politik pemerintahan Islam berubah-ubah sesuai dengan eksperimen dan metode yang terbaik, sementara ideologi tetap saja harus dan tidak harus yang bersifat abadi dan tidak akan mengalami perubahan kecuali dalam skala yang sangat terbatas.
Ketika aliran-aliran ekonomi, politik, manajemen, sosial, pendidikan dan lain-lain dibentuk berasaskan Islam, lalu metode dan eksperimen juga diperbantukan untuk mencari tahu cara penerapan tuntunan-tuntunan ideologi, maka pembubuhan akhiran “Islam” terhadap ilmu tersebut dibenarkan. Adapun jika di sebuah bidang ilmu kita tidak mendapati nilai-nilai ideologi dalam jumlah yang cukup, dan metode-metodenya juga tidak diperbantukan untuk merealisasikan nilai-nilai tersebut, maka pembubuhan akhiran “Islam” terhadap ilmu itu sama sekali tidak beralasan.
Tugas kita di dalam orientasi-orientasi ilmiah dan jurusan-jurusannya —khususnya ilmu-ilmu humaniora dan sosial— adalah merujuk kepada teks ayat dan hadis lalu menafsirkan atau mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi yang ada. Sedangkan di bidang-bidang ilmu dan eksperimen manusia yang independen atau diperbantukan untuk ideologi, tugas kita adalah mengenali ilmu dan eskperimen tersebut lalu mengidentifikasi pandangan agama menganai hukum pemakaiannya; boleh atau tidak.

Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+3 =