Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa mungkin (baca: boleh) menafsirkan al-Quran berdasarkan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan yang terkini?


JAWABAN:

Al-Quran adalah firman Ilahi yang sekaligus mukjizat abadi Rasulullah saw., dan kemukjizatannya bersifat multi dimensi, di antaranya adalah dari sisi kefasihan, kesastraan, kandungan, undang-undang yang menjulang, subjek-subjek ilmiah, dan lain sebagainya. Dan yang dimaksud dengan kemukjizatan ilmiah al-Quran adalah di dalam al-Quran terdapat subjek-subjek pembahasan yang menyangkut dengan ilmu pengetahuan manusia, sekiranya subjek-subjek itu belum dilontarkan oleh siapa pun sebelum datangnya Islam, bahkan sebaliknya setelah sekian lama waktu berlalu dari masa turunnya al-Quran subjek-subjek ilmiah itu mulai terungkap. Maka keberadaan subjek-subjek ini di dalam al-Quran merupakan satu bentuk berita gaib, pengungkapan rahasia, dan mukjizat al-Quran. Contohnya adalah petunjuk al-Quran terhadap daya tarik bumi[1], tahapan-tahapan penciptaan manusia, [2] pembuahan awan dan tumbuh-tumbuhan, [3] dan perkawinan umum antara makhluk-makhluk alam semesta. [4]
Lebih dari seribu ayat di dalam al-Quran yang mengandung petunjuk tentang kosmologi, biologi, geologi, ilmu kedoteran dan lain sebagainya, dan untuk memahami serta menafsirkan semua itu kita memerlukan sains. Namun perlu diketahui bahwa ada tiga metode di sini:

1. Pembetotan ilmu-ilmu pengetahuan dari dalam al-Quran;
2. Penerapan secara paksa teori-teori ilmiah yang masih belum pasti terhadap al-Quran;
3. Penggunaan ilmu-ilmu pengetahuan (sains) untuk membantu dalam pemahaman al-Quran.
Metode yang pertama dan kedua adalah salah dan menyebabkan terjadinya penafsiran yang semena-mena berdasrkan kepada pendapat pribadi, sedangkan metode yang ketiga dibenarkan karena sangat membantu dalam pemahaman al-Quran secara lebih baik.
Tafsir ilmiah al-Quran dibolehkan dengan dua catatan:

1. Lahirnya sebuah ayat al-Quran menunjukkan subjek ilmiah;
2. Subjek ilmiah yang akan dijadikan rujukan adalah pasti, yakni teori-teori ilmiah yang kebenarannya sudah terbukti secara pasti.
Lalu, ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan subjek-subjek ilmiah terbagi kepada tiga kelompok:

1. Ayat-ayat yang membuktikan kemukjizatan ilmiah al-Quran sebagaimana contoh-contoh yang telah disebutkan di atas;
2. Ayat-ayat yang menunjukkan subjek-subjek ilmiah secara sangat mengagumkan, dengan katan lain sebelum datangnya Islam subjek-subjek itu sudah pernah disinggung secara berserakan dan dalam bentuk pandangan yang lemah, seperti petunjuk al-Quran tentang gerak bumi.
3. Ayat-ayat yang menunjukkan subjek-subjek ilmiah tanpa berarti kemukjizatan atau hal ilmiah yang luar biasa mengagumkan bagi al-Quran, seperti ajakan al-Quran kepada manusia untuk berpikir tentang binatang unta, gunung-gunung dan lain sebagainya. [5]
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. QS. 13: 2; 31: 10.
2. QS. 22: 5; 23: 12.
3. QS. 15: 22.
4. QS. 51: 49.
5. Untuk informasi lebih lanjut Anda bisa merujuk kepada referensi berikut:
1. Muhammad Ali Reza’i Isfahani, Dar Omadi bar Tafsire Ilmie Qur’on, Intisyorote Usweh, cetakan pertama, 1375;
2. Ibid, Pazchuhesyi dar I’joze Ilmiye Qur’on, Intisyorote Amin;
3. Ibid, Isyorote I’joz Omize Ilmiye Qur’on, Nasyre Ma’orif.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+4 =