Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah sejarah Islam merupakan masyarakat yang maju?


Jawaban:

Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum muslim telah melewati masa yang penuh dengan kemuliaan dan kehormatan, bukan dari sisi bahwa mereka pernah menjadi penguasa dunia tetapi menurut almarhum Adibul Mamaluk Farahani: Kaum muslim mengambil upeti dari para raja dan mengambil gelombang dari laut, sebaba bisa banyak dilihat penguasa dunia yang setelah beberapa hari memaksakan kekuatannya kepada orang lain kemudian hilang laksana air laut. Bahkan karena mereka membawa perubahan dalam dunia yang luasdan telah membangun peradaban besar dan mewah dan selama beberapa abad menjadi penyuluh umat manusia dan sampai saat ini masih diangg ap sebagai salah satu dari lingkaran cemerlang peradaban manusia dan sejarah peradaban merasa bangga memilikinya.[1] Selama berabad-abad kaum muslim memegang supremasi dalam ilmu pengetahuan, industri, falsafah, seni, akhlak dan aturan sosial. Peradaban Eropa yang besar dan mengagumkan yang dapat dilihat saat ini, yang menakjubkan akal dan saat ini memegang supremasi dunia, menurut pengakuan para peneliti jujur Barat, telah mengambil dasar dari peradaban Islam yang megah.[2]

Gustave Lebon berkata: Sebagian dari orang-orang Eropa malu untuk mengaku bahwa sebuah kaum kafir (yaitu muslimin) telah menjadi penyebab Masihi Eropa keluar dari kejahilan maka mereka merahasiakan dan menutupinya. Tetapi pendapat ini tidak berdasar dan cukup disesalkan, bahkan dapat dengan mudah dibantah.

Pengaruh akhlaki mereka (muslimin) ang telah menaklukkan kerajaan Romawi telah masuk dalam metode manusia dan pengaruh logika mereka telah membuka pintu gerbang ilmu, tekhnologi dan falsafah bagi Eropa yang tidak tahu apa-apa dan kemudian sampai 600 taun guru-guru kita adalah kaum muslim.[3] Untuk sebuah kemajuan dan transfer budaya, ilmu dan revolusi kebdayaan, 600 tahun adalah waktu yang cukup baik karena sebuah bangunan dan sebuah lingkungan dengan bersandar pada kemajuan sebuah kebudayaan dapat menemukan dirinya dan ikut mencapai kemajuan. Bahkan saat ini sekarang ia dapat membanggakan peradabannya itu, tekhnologi dan industrinya kepada dunia. Peradaban Eropa saat ini telah mengalami kemajuan demikian pesat dengan fondasi dasar islami.

Ilmuwan Barat berkata: Kemunculan dan kejatuhan peradaban Islam adalah sebuah peristiwa besar sejarah. Selama 5 abad (81-597 H Q/700-1200 M) Islam telah menjadi pemimpin dunia dari sisi kekuatan, aturan, ekspansi daerah, akhlak mulia dan kesempurnaan tingkat kehidupan, undang-undang yang adil dan……menghormati keyakinan orang lain, sastra dan penelitian ilmiah.[4]

Dunia Islam telah mempengaruhi dunia Masihi dalam berbagai hal. Eropa telah mengambil makanan, minuman, obat, senjata, ciri-ciri keluarga, bakat seni, peralatan industri, perdagangan, peraturan dan kebiasaan melaut dari Islam. Dan umumnya kata itu dipinjam dari kaum muslim. Ulama mereka (kaum muslim baik dari Persia, Arab dengan tidak memperhatikan kesukuan) mengetahui ilmu Matematika, Biologi, Kimia dan Astronomi dan bahkan telah meyempurnakannya dan kemudia ditransfer ke Eropa. Ibnu Sina dan Ibdnu Rusydi adalah dua filosof dan tabib besar islam, telah meletakkan sinarnya dalam falsasah Eropa dan kelayakan mereka juga cukup dipercaya layaknya ilmuwan Yunani. Pengaruh islami ini telah membuka berbagai jalan perdagangan, perang salib, terjemah ribuan kitab daribahasa Arab ke bahasa latin dan hijrahnya beberapa ilmuwan ke Andalus. Pengakuan ini adalah untuk kebesaran ilmu dalam dunia Islam karena Eropa telah mengirimkan banyak mahasiswa ke dunia Islam untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Hanya dalam masa keemasannya yang singkat, sebuah masyarakat islam dapat melahirkan orang-orang terkenal dalam berbagai bidang seperti politik, sastra, geografi, ejarah, matematika, astronomi, kimia, falsafah dan pengobatan. [5]

Selama 500 tahun, para dokter islam menjadi pemimpin di dunia kedokteran. Para filosof islam telah mengarang berbagai buku berharga untuk kemajuan ilmu kedokteran, membangun berbagai rumah sakit dan pusat pengobatan di berbagai kota, menjaga para pasien, memberikan obat dengan gratis, melakukan berbagai pembedahan untuk beberapa penyakit. Ini semua adalah contoh dari kemajuan masyarakat Islam di dunia.[6]

Berabad-abad kaum Masihi menjadi saksi bahwa kaum muslim selalu mengambil alih wilayah Masihi dan kaum Masihi terus-menerus masuk dalam pengaruhnya. Hasil dari bentrokan ini secara mutlak mengutungkan dunia Barat; sebab dalam perang Salib dunia Timur kalah dan Barat menjadi pewaris ilmu dan industri muslimin. Sebaliknya, dunia Isam yang telah menjadi pencipta berbagai ilmu berubah menjadi peradaban lemah dan tidak memiliki apa-apa setelah serangan Mongol dan pertikaian internal. Sedangkan dunia Barat yang sebelumnya kalah dengan melakukan usaha kontinu dan berbagai percobaan telah mempelajari rasa haus ilmu dan keinginan untuk maju dari musuhnya dan akhirnya memasuki area ilmiah. Dan mereka telah berhasilmelewati zaman Renaisanse dengan sempurna.[7]

Peradaban islami dan masyarakat islami yang telah dimulai ejak tahun 81-597 H/700-1200 M memeiliki puncak kejayaan dalam berbagai bidang ilmu dan tekhnologi. Ilmu terapan, baik kedokteran, kimia, fisika, geografi, biologi dan sosiologi pernah berada di puncak kejayaan dan para ilmuwan ilmu ini cukup aktif mengajar, menulis buku dan melakukan penelitian. Dan jejak mereka yang luas telah dinikmati dunia dan ilmu ini dapat dipelajari oleh semua negara tetangga dan penuntut ilmu dari berbagai belahan dunia yang datang menemui mereka.[8] Khususnya negara-negara Eropa yang telah mengirimkan para mahasiswa ke Andalus, Baghdad, Rey dan lain-lainnya untuk mempelajari berbagai ilmu dan pengetahuan. Dalam periode ini, dunia Barat sedang berada dalam cengkeraman zaman kegelapan dan pemikiran gereja yang tidak memiliki sisi ilmiah dan teknologi sedikitpun. Sebaliknya, dunia Islam telah memilki ilmuwan yang tak ada tandingannya seperti Ibnu Sina, Khawarazmi, Farabi, Muhammad zakarya Razi, Abu raihan Biruni, Hakim Umar Khayyam, Ibnu Khaldun, Kindi dan lain sebagainya dan mereka menyebarkan ilmu pengetahuan tanpa dibatasi oleh apapun[9] dan di sisi lain, para pemimpin Islam dipuji-puji. Dalam bidang ilmu sosial seperti ilmu sosiologi, psikologi, sastra, fiqh, sejarah, geografi dan lain-lain, telah lahir imuwan-ilmuwan terbaik; Idrisi, Yaqut Hamawi, Biruni merupakan ahli geografi besar dan telah menulis buku yang cukup banyak dalam bidang ilmu lainnya.[10]

Dalam periode ini, Sastra di dunia Timur juga mengalami masa kejayan dalam bidang kefasihan dan keindahan bahasa. Para penyair dan sastrawan di masa ini tidak ada tandingannya dalam sejarah; penyair seperti Firadusi, Rawadki, Gaznanwi, Sana’I, Jami, Maulawi, Sa’di, Hafiz yang berada dalam pemerintahan Islam telah melantunkan syair dalam bahasa Arab.[11]

Dalam periode ini pula, terdapat sejarawan yang sulit dicari tandingannya seperti Ibnu Ishaq, Thabari, Mas’udi, Ibnu Nadim, Dinwari, Ya’qubi dan lain-lain yang menulis sejarah dengan metode yang terbaik. Selain mencatat sejarah, mereka juga memiliki keahlian dalam ilmu lain seperti ilmu perbintangan dan sastra dan ini cukup mempengaruhi hasil karya mereka.[12]
Dalam ilmu teoritis seperti Filsafah, Matematika, musik, Aritmatika, seni, melukis dan membuat patung, dunia Islam berada pada puncak kemauan dan merupakan sumber ide bagi dunia Barat. Khayyam dan Khawarazmi merupakan ahli matematika dalam dunia Islam.[13]
Dalam ilmu fisika dan kimia, Ibnu Hisyam adalah ahli fisika terbesar dan Jabir bin Hayyan adalah ahli kimia terbesar pada zaman ini.[14]

Kota-kota islam cukup makmur, dengan arsitektur yang indah, bangunan megah dan apik, merupakan pemandangan indah dari emperatur islami yang dapat disaksikan oleh dunia barat. Barat selalu berangan-angan untukmengelilingi kota-kota islami dan untuk itulah mereka mengirim orang-orang seperti Marcopolo. Mereka mengelilingi kota-kota islami dan menulis memori perjalanannya. Dari kalangan ilmuwan islam juga tidak ketinggalan melakukan perjalanan seperti Nashir Khesru, Ibnu Batutah dan Sa’di Muqaddasi dan mereka melaporkan kondisi kota-kota islami yang indah yang semuanya menunjukkan bahwa kemajuan dunia arstektur dan kemakmuran kota-kota islami.[15]

Sekolah-sekolah agama dan sekolah lainya, masjid-masjid pasti memiliki perpustakaan besar dengan arsitektur islami yang indah. Dan hal ini adalah salah satu bukti kemajuan masyarakat islam dan keudian Barat meniru hal ini saat membangun pusat-pusat kajian ilmiah dan college-collegenya mirip dengan sekolah-sekolah di dunia islam.[16]

Dari sisi ekonomi, pertanian dan peternakan, masyarakat islam merupakan produsen dan pengimport berbagai hasilke seluruh dunia. Tekhnologi pertanian ditransfer dari Spanyol ke eropa timur, Barat dan Eropa pusat. Damaskus belajar bagaimana cara bertani gandum, kismis, delima, kapas, kurma dan lain-lainnya dari daerah-daerah asia islam dan mengajarkannya kepada masihi Eropa. Perawatan kebun, pembuatan irigasi, peternakan di seluruh dunia Islam mengalami perkembangan pesat dan perekonomian Islam berada pada puncak pertumbuhannya.[17]

Penemuan tambang emas, perak, besi dan lain sebagainya sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi. Tenunan karpet, tirai bersulam emas, pakaian sutra, syal dan berbagai pakaian katun, wool, pakaia beraneka warna banyak ditemukan di pabrik-pabrik dunia islam dan masihi Eropa dalam hal ini benar-benar tergantung pada dunia Islam.[18]
Industri kertas pertama kali dibuka dalam masyarakat Islam. Pabrik kertas pertama di daerah islam dibuka pertama kali di kota Baghdad pada tahun 178 H/794 M oleh Fadhl bin Yahya, mentri Haru ar-Rasyid. Kemudian kaum muslim membawa kertas ke Sicilia dan Spanyol kemudian sampai ke Italia dan Prancis. Penemuan ini telah mempermudah penulisan buku dan membawa perubahan besar dalam melestarikan dan pengajaran ilmu pengetahuan dan cetak ulang buku mengalami kemajuan setelah temukannya kertas. Di kota-kota banyak terdapat perpustakaan yang memiliki buku-buku yang cukup banyak dan perpustakaan ini selalu terbuka untuk para penuntut ilmu. Di perpustakaan juga disediakan kertas untuk para pembaca untuk mencatat hal-hal yang perlu.[19]

Baitul Hikmah adalah perpustakaan umum pertama yang didirikan di dunia Islam. Di kota Cordova dan Cairo juga dibangun perpustakaan yang cukup besar.[20] Selain perpustakaan umum, di dunia islam juga terdapat banyak perpustakaan khusus, seperti Darul Ilmi Syapur di Baghdad, perpustakaan Shahib bin Ibad (385 M) yang memiliki lebih dari 117 ribu buku. Di kota Bukhara pada masa kerajaan Samania terdapat perpustakaan besar yang tak ada tandingannya dikelola oleh Ibnu Sina mewakili Nuh Samani. Di Arab, al-Muayyad memiliki perpustakaan dengan 100 ribu jilid buku. Di Syiraz, Azaduldulah membangun sebuah perpustakaan besar. Di kota Rey, Hirat, Samarkand dan Tasykand telah dibangun perpustakaan besar. Sayyid Murtadha memiliki 300 ribu buku spesialisasi dalam perpustakaan miliknya. Syaikh Thusi juga memiliki perpustakaan yang di dalamya terdapat ribuan jilid buku.[21]Terdapat ribuan perpustakaan di Mesopotamia dan negara-negara Islam yang merupakan indikator perkembangan ilmu dalam masyarakat Islam.[22]

Berbagai sekolah dan universitas Islam di dunia Islam juga mengalami kemajuan pesat.[23] Dunia Masihi dan negara-negara Eropa mengikuti sekolah-sekolah dunia Islam dan mereka pun mulai mendirikan sekolah dan di sana diajarkan ilmu-ilmu sebagaimana yang diajarkan di sekolah-sekolah di dunia Islam berdasarkan terjemahan berbagai buku dan pengajarnya adalah orang sudah terlatih.[24]

Berdasarkan pengakuan beberapa ilmuwan Barat yang adil, dunia Islam memiliki masyarakat yang maju dan telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan merupakan pemimpin duia selama tujuh abad. Mereka menganggap bahwa kemajuan ini dicapai berkat ayat Qur’an dan hadis Nabi saww karena kaum muslim telah diseru pada menuntut ilmu, berfikir dan persatuan.[25]
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Murtadha Muthahhari, Insan va Servat, Tehran, Shadra, cetakan keenam, 1361, hal. 6. Ahmad Kesrui, Dar Pramun-e Tarikh, Intisyarat Firdaus, 1377, hal. 134.
2. Idem, hal. 8.
3. Idem, hal. 9.
4. Will Durrant, Tarikh-e tamaddun, Tehran, Intisyarat Ilmi va Farhanggi, cetakan keempat, 1373, jilid 4, hal. 433.
5. Idem, hal. 433 dan 426. Collin Ranon, Tarikh-e Ilmi Cambridge, terjemahan Hasan Afsar, Tehran, penerbit Markaz, cetakan kedua, 1371, hal. 300 dan 326-378. Muhammad Ibrahim Ayati, Tarikh-e hukumat-e Muslimin dar Urupa, Tehran, Intisyarat Danesygah Tehran, cetakan kedua, 1363, hal 94 dan 169, 176 dan 222 dan 229.
6. Collin Ranon, idem, hal. 300. Zabihullah Syafa, Tarikh-e Adabiyat dar Iran, Tehran, Amir Akbir, cetakan ke-13, 1372, hal. 344, 347 dan 303-343. Ibnu Jabir, SafarNameh, Masyhad, Astan-e Quds, cetakan awal, 1370, hal. 321-422.
7. Will Durrant, idem, hal. 435.
8. Idem, hal. 313, 314 dan 319, Collin Ranon, idem, hal. 317 dan 323.
9. Will Durrant, idem, hal. 303-329 dan 407. Collin Ranon, idem, hal. 326. Zabihullah Syafa, idem, hal. 289-292, 293-299, 338-347. Ibnu Nadim, Al-Fihrist, terjemahan Reza Tajaddud, Tehran, Intisyarat Sana’I, cetakan awal, 1343, hal. 474 dan 465, 472, 493, 531 dan 535.
10. Will Durrant, idem, hal. 418 dan Collin Ranon, idem, hal. 320.
11. Zahibullah Syafa, idem, jilid 1, hal. 2 dan 3.
12. Ibnu Nadim, idem, hal. 425.
13. Idem, hal. 304, 309, 345, 350, 355, 360.
14. Idem, hal. 310-311, 315, 319, 418, 419. Collin Ranon, idem, hal. 329 dan 332. Ibnu Nadim, idem, hal. 321-324, 634, 637 dan 641.
15. Nashir Khesru Qabadiyani, Safar Nameh, Tehran, Syarikat Sahami Kitabha-ye Jibi va Amir Kabir, cetakan ke-9, hal. 44-125. Ibnu Jabir, idem, hal 321-424. Will Durrant, idem, hal. 291-298.
16. Nurulllah Kasa’I, Madares Nezamiah, Tehran, Amir kabir, cetakan kedua, 1363, hal. 82-230. Abdurrahman Ghanimah, Danesygahha-ye Buzurg, Tehran, Danesygah, cetakan kekdua, 1382, hal. 49-168.
17. Will Durrant, idem, hal. 380.
18. Idem, hal. 379-383.
19. Idem, hal. 304. Ustadz Kazhim Mudir Syaneh Ci, Kitab va Kitabkhaneh dar Islam, Masyhad, Astan-e Quds, cetakan awal, 1374, hal. 71. Collin Ranon, idem, hal. 376.
20. Nashir Kazhim Syaneh Ci, idem, hal. 80-82, 99-100. Yusuful Asy, Kitabkhanehha-ye Umumi va Nimeh Umumi-ye Arabi dar Qurun-e Wustayi, Masyhad, Astan-e Quds, cetakan awal, hal. 51.
21. Idem, hal. 100-107. Yusuful Asy, idem, hal. 197, 204 dan 265.
22. Ysusful Asy, idem, hal. 80-279.
23. Nurullah Kasayi, idem, hal. 82-219.
24. Abdurrahim Ghanimah, idem, 50-165.
25. Will Durrant, idem, jilid 4, bagian kedua, hal, 815-821.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
2+4 =