Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah perbedaan antara akhlak Quran dan akhlak sekuler?


Jawaban:

Akhlak adalah sebuah topik yang tidak bisa didefenisikan tanpa adanya pandangan dunia. Antara pandangan dunia dan akhlak, terdapat hubungan saling mempengaruhi; sebab di satu sisi akhlak adalah ilmu juz’i dan berada di bawah ilmu kulli pandangan dunia. Maka akhlak dalam Sekularisme memiliki perbedaan yang sngat jauh dengan akhlak Qur’an. Untuk lebih memahami masalah ini, sebaiknya kita membahas terlebih dahulu beberapa kata:
Akhlak.
Akhlak (اخلاق) adalah jamaknya khulk (خلق) yang mempunyai wazn (قفل) dan khuluk yang mempunyai wazn (افق). Kedua kata ini pada dasarnya kembali pada satu akar kata. Khuluk (خلق) berarti bentuk dan perawakan dan wajah yang bisa dilihat oleh mata dan khulk (خلق) berarti kekuatan , keberanian dan sifat batin yang dapat dilihat dengan mata batin.[1] Maka dapat dikatakan bahwa Akhlak adalah sekumpulan sifat ruh dan bathin[2] yang menyampaikan manusia pada kesempunaan dan kebahagiaan.[3]

Ilmu Akhlak

Ilmu Akhlak Teori adalah ilmu yang membahas tentang nafsu yang bersifat baik atau buruk serta perbuatan yang sesuai dengan keduanya seraya menunjukkan metode untuk memperoleh nafsu yang bersifat baik, melakukan amalan yang disukai serta menjauhi nafsu yang bersifat buruk.[4]
Sekuler.
Kata sekuler berasal dari bahasa Latin Seculais dan berasal dari kata seculum yang berarti dunia berhadapan dengan surga. Dalam bahasa Arab, علامنيه diterjemahkan menjadi Saintisme dan Rasionalisme. Dan sebagian orang menganggap bahwa kata علامنيه merupakan kata turunan dari عالم dan diterjemahkan menjadi duniawi. Masyarakat sekulerberarti masyarakat yang bebas dari agama, hanya mengikuti akal, menyenagi kebebsan, kemudahan dan kearifan umum.[5] Dengan kata lain, pandangan sekuler dapat dibagi atas beberapa bagian:

1. Masyarakat harus diatur dengan ilmu dan akal, bukan oleh alam spiritual.

2. Agama hanya memiliki dimensi pribadi, dan manajemen pemerintahan, politik dan akhlak masyarakat hanya berdasarkan ilmu dan akal.

3. Sekularisme mengakui pemerintahan rakyat bukan pemerintahan Tuhan.

4. Dasar Sekularisme adalah menghilangkan kesucian dan meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki kesucian.[6]

5. Sumber Sekularisme adalah Rasionalisme, Saintisme dan Humanisme.[7]

Pribadi seperti Luter dan Calon telah menciptakan kondisi bagi terpisahnya agama dari akhlak dan politik dengan mengajukan sistem akhlak yang di dalamnya seruan nurani menjadi sumber prilaku akhlaki. Pada tahun 1541, Calon mengajukan darft undang-undang kepada gereja yang di dalamnya terdapat pengurangan aktivitas agama dalam hal pemerintahan.[8]
Dan saat Qur’an menyebutkan bahwa masalah akhlak adalah bagian dari tujuan dasar nubuwwah maka kehidupan yang beruntung menurut Qur’an adalah kehidupan yang berada di bawah naungan akhlak dan kehidupan yang sia-sia serta rusak adalah kehidupan yang tidak disertai dengan akhlak.[9]
Untuk lebih memahami perbedaan antara akhlak Qur’an dan akhlak sekuler, kita akan menganalisa keduanya:

1. Yang menjadi penyokong dalam sekuler adalah nurani dan akal manusia yang merupakan tolak ukur kebaikan dan keburukan, bukan perintah ilahi dan kitab suci[10] dengan kata lain, terpisahnya urusan akhlak dan alami dari tawassul kepada Allah.[11]
Menurut pandangan Islam, keberadaan akal dan nurani adalah sebuah realita dan bisa menjadi motif yang baik untuk mencapai tarbiah nafsu dan keutamaan akhlaki. Tapi penyokong ini memiliki kekurangan; sebagai contoh: nurani bisa saja dibohongi, nurani menjadi terbiasa karena bterjadinya pengulangan hal-hal yang buruk. Nurani bisa kehilangan warnanya dan seterusnya akan kehilangan kepekaan dirinya dan bahkan malah bertentangan dengan nilai-nilai mulia. Meskipun nurani dan akal amali memiliki kesucian dan cukup penting tapi sebagaimana akal nazari, ia juga bisa salah dan manusia tidak bisa hanya bersandar pada keduanya. Manusia membutuhkan penyokong yang lebih kuat yang tidak bisa ditipu dan tidak akan pernah salah.[12]
Hanya motif ilahi yang memiliki motif kuat, pengaruh dan terhindar dari kesalahan dan kekurangan karena bersumber dari wahyu. Dan di sini yang menjadi guru akhlak adalah Zat suci Allah. الرَّحْمَنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ 13
Selain itu, akal tidak mampu memahami semua hakikat ghaib dan hubungan dunia dengan akhirat. Akal hanya memiliki kemampuan pandangan global dan tidak memiliki kemampuan pandangan juz’i.[14]

2. Insan memiliki hak atau tanggung jawab (mukallaf).
Akhlak sekularis berdasar pada poin yang menyatakan bahwa manusia memiliki hak dan selalu berusaha mendapatkan haknya bukan tanggung jawab; dan manusia sekuler selalu berusaha memperoleh haknya melalui ilmu, akal dan kebijakan.[15]
Dalam Qur’anul Karim dan sunnah makshumin as dapat dilihat dengan jelas tentang keharusan dan ketidakharusan, wujud dan ketiadaan. Mereka telah memberikan peringatan secara implisit dan memberikan ancaman bahwa mereka yang melalui jalan yang salah akan hancur. Dan di samping itu, mereka juga tak lupa menunjukkan jalan yang benar..
Tidaklah demikian bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara keharusan dan ketidakharusan, wujud dan ketiadaan. Namun dalam qiyas kita tidak mungkin bisa memiliki dua premis tentang wujud, tapi kesimpulannya adalah keharusan. Jika salah satu premis adalah wujud dan premis lainnya adalah harus, maka kesimpulannya adalah harus.
Misalnya, Allah adalah pemberi nikmat bagi manusia (premis awal). Manusia harus bersyukur kepada wali nikmat (premis kedua). Maka kesimpulannya adalah: Manusia harus bersyukur kepada Allah dan tunduk kepadanya.[16] Maka dari kumpulan satu keharusan akhlaki dan satu wujud nazari diperoleh kesimpulan satu keharusan akhlaki. Dengan kalimat yang lebih mudah dapat dikatakan bahwa semua keharusan dan ketidakharusan Qur’an sesuai dengan fitrah dan jiwa manusia, bukanlah sebuah tanggung jawab dan pemaksaan. Dan yang menjamin hak, kehidupan dunia dan akhirat, kebahagiaan dan kehancuran manusia dirumuskan dalam bentuk keharusan dan ketidakharusan. Namun sebab dipakainya istilah mukallaf bagi ummat dalam fiqh Islam adalah karena manusia melihat keharusan dan ketidakharusan agama sebagai sebuah penyulit dan pembawa masalah. Dan kesulitan karena melakukan atau meninggalkan suatu pekerjaan lebih dekat dengan perasaan manusia. Namun dengan pandangan yang dalam tentang taklif-taklif ini serta poin penting tentang tujuan penciptaan manusia untuk meraih kesempurnaan dan keselamatan, sedang tujuan ini baru bisa tercapai dengan melaksanakan keharusan dan ketidakharusan agama, maka kita akan menemukan bahwa taklif-taklif dan keutamaan merupakan kemuliaan bagi jiwa manusia, bukan tanggung jawab.
Akhlak sekuler menggambarkan bahwa ahkam merupakan hal yang terpisah dari fitrah dan jiwa manusia serta menganggapnya sebagai pemaksaan bagi manusia. Oleh karena itu mereka menolak bahwa bayad dan nabyad agama adalah merupakan gerakan yang membimbing manusia menuju kesempurnaan dan keselamatan.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Mufradat Raghib, di bawah kata (خلق)
2. Nashir Makarim Syirazi, Akhlak dar Qur’an, Qom, Madrasah Imam Ali bin Abi Thalib as, cetakan 1, tahun 1377, jilid 1, hal. 24.
3. Majalah Ma’rifat, No. 15, tahun 1374, No. 3, Periode 4, hal. 4-17.
4. Muhammad Ali Da’i Neza, Akhklaq Sekularism dar Ruyaruyi Ba Fiqh va Fuqaha, Majalah Aftab, No. 20, Aban 1381, hal. 90, dikutip dari Faiz Kasyani, Almuhajjah Baiza, jilid 1, hal. 59.
5. Adbul rasul Bayat, Farhang-ge Wazeh-ha, Tehran, Muassasah Andiseh va Farhang Dini, cetakan awal, 1381, hal. 327.
6. Silahkan rujuk: Abdullah Nashri, Intizar-e Basyar az Din, Tehran, Muassasah Andisyeh va Farhang-ge Dini, cetakan awal, 1381, hal. 327.
7. Muhammad Ali Da’i Nezad, Majallah Sabah, No. 7-8, Markaz Mutala’at va Pezuhas-ha-ye Farhang-giye Hauzahm, hal. 53.
8. Abdullah Nashri, idem, hal. 357.
9. Surah Ashr, Ayat 1. Silahkan rujuk: Abdullah Ajawi Amuli, Akhlak dar Qur’an, Qom, Intisyarat Isra’, jilid 10, hal. 131.
10. Silahkan rujuk: Abdul Karim Sourus, Makna va Mina-ye Sekularism, Majalah Kiyan, No. 26, Murdad dan Syahriwar 1374, Tahun 5, hal. 4-13, dan Ma’isyat va Fazilat, idem, No. 25, hal. 2-11; Majalah Ma’rifat, No. 15, hal. 4-17.
11. Nashir Makarim Syirazi, Akhlak dar Qur’an, jilid 1, hal. 84.
12. Majalah Kiyan, No. 26, hal. 6.
13. Arrahman, ayat 1-2, Silahkan rujuk: Abdullah Jawadi Amuli, Akhlak dar Qur’an, jilid 1, hal. 139.
14. Muhammad Ali Da’i Nezad, idem, hal. 57.
15. Silahkan rujuk: Abadul Karim Sorous, idem.
16. Abdullah Jawadi Amuli, idem, hal. 42.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+5 =