Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah peranan penantian dalam kesempurnaan umat Islam?


Jawaban:

Penantian zuhur adalah gabungan antara iman dan keyakinan hati pada wilayah dan kemunculan sang poros alam imkan; semangat dan keinginan untuk mencapai kehidupan yang suci dan damai di bawah naungan penyelamat alam; harapan untuk mendirikan pemerintahan universal dunia di bawah aturan alam yang benar; usaha menyadarkan diri dan masyarakatnya untuk menyambut kemunculan utusan ilahi. Ringkasnya, penantian adalah api yang menyala dalam hati para penanti yang juga menjadi kesedihan karena berpisah dari sang Imam.

Hal penting yang harus dibahas sebelum masuk dalam pernanan penantian dalam kesempurnaan ummat adalah makna dan tasawwur yang jelas dan sesuai tentang mafhum penantian. Tidak bisa dipungkiri bahwa jika kita hanya mencukupkan diri pada makna umum penantian maka penantian tidak akan memiliki peran apa pun dalam kesempurnaan masyarakat. Bahkan ia akan menjadi perusak dan penyeleweng dan bahkan akan membuat masyarakat jatuh dalam dekadensi dan kesesatan. Namun jika kita kita memahami makna penantian secara hakiki dan disertai karakteristiknya serta kita mampu membedakan manakah penantian hakiki dan penantian kosong, maka kita akan dapat menggambarkan jalan yang jelas dan terang bagi diri kita dan masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kesempurnaan. Para penanti hakiki adalah mereka yang:

Pertama, berusaha keras untuk mendidik hawa nafsunya, menghiasi dirinya dengan akhlak dan prilaku islami, melaksanakan semua kewajiban individu dan sosialnya serta menjalankan semua aturan ilahi.

Kedua, mengeluarkan semua hukum dan aturan sosial, politik dan ekonomi Islam untuk kemudian diamalkan dengan sempurna, mengejewantahkan pengaruh sempurna hukum tersebut pada seluruh dunia,[1] menyampaikan semua keberhasilan di bidang sosial, politik, budaya dan ekonomi kepada seluruh alam dan menunjukkan dengan baik bahwa tujuan utama agama Islam dan Imam yang sedang kita nanti itu tak lain adalah mencapai pertumbuhan, kesempurnaan dan keselamatan manusia.

Dengan kalimat lain, apa yang dilakukan seorang penanti hakiki di zaman ghaibat adalah perbuatan, amal dan kewajiban yang sama yang harus dilakukannya di saat Imam hadir. Bahkan bisa saja tanggung jawab dan risalahnya lebih penting dan lebih sulit. Dinukil dari rasulullah saww: Amal ummatku yang paling utama adalah penantian faraj (zuhurnya Imam Mahdi as).[2]

Bagaimanapun juga, kewajiban seorang penanti hakiki adalah sangat berat sebagaimana dalam hadis diibaratkan dengan seseorang yang sedang sibuk berjuang di medan perang sedang darah dari tubuhnya juga sedang mengalir. Ali bin Abi Thalib as bersabda: Siapa yang menantikan tegaknya pemerintahan kami maka ia seperti orang yang darahnya mengalir di jalan Allah.[3]

Maka kami akan mengisyaratkan beberapa faedah penantian dalam kesempurnaan masyarakat islami:

1. Dalam kehidupan individu dan sosialnya, semua manusia memerlukan sebuah nikmat bernama penantian.
Jika ruh harapan manusia pada masa depan diambil maka kehidupannya akan mati dan tidak memiliki tujuan. Adapun penantian itu sesuai dengan keinginan dan iradah masyarakat, beraneka ragam dan berbeda-beda. Jika tujuan atau keinginan manusia lebih suci dan tinggi maka penantiannya akan lebih berharga dan mulia. Karena setiap penantian pasti dibarengi dengan kerja dan usaha, maka aktivitas yang dilakukan oleh si penanti pastilah mulia dan bernilai. Di sinilah masyarakt islami, terutama masyarakat Syiah harus merasa bangga dengan akidahnya tentang penantian. Sebab mereka sedang menanti junjungan yang merupakan sosok yang paling mulia di muka bumi ini. Ia adalah poros alam imkan, rukun langit dan bumi, penanggung jawab atas urusan ummat dan yang menyediakan berbagai kebutuhan materi dan rohani manusia.

Dalam sebuah negara yang penduduknya setiap subuh sampai malam melakukan aktivitas kehidupan (baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik dan militer) yang dibarengi dengan harapan bahwa pada suatu hari nanti akan datang seorang manusia suci, makshum dan sempurna yang merupakan keturunan Rasulullah saww dan akan menyelesaikan kesulitan mereka, pastilah penduduk akan melaksanakan akivitasnya dengan semangat dan keinginan yang kuat. Ya, harapan pada sebuah hari yang di dalamnya tidak ada kemiskinan dan kemalangan, tidak ada diskriminasi, perpecahan dan kelas-kelas sosial, tidak ada batas antara orang fakir dan orang kaya, tidak ada batas antara orang yang lemah dan orang yang mampu. Semua orang akan memiliki kedudukan yang sama, tidak memiliki kesulitan dan unek-unek dan dapat menikmati semua fasilitas kesejahteraan, budaya, sosial dan keamanan.

Harapan inilah yang menyebabkan masyarakat saat ini lebih bersemangat, lebih berharap dan bersabar dalam menghadapi kesulitan dan kekurangan yang saat ini dihadapi. Namun harus diperhatikan bahwa tujuan mulia Islam dan berdirinya pemerintahan ilahi tidak hanya terbatas dalam masalah ekonomi, politik dan sosial saja. Tapi akhir kesempurnaannya tak lain adalah tujuan penciptaan Allah yaitu kesempurnaan dan keselamatan abadi manusia dan jalan menuju pertemuan dengan Allah. Maka kesimpulannya adalah bahwa penantian faraj dan harapan akan tepenuhintya janji Allah menjadi sebab kegembiraan, kemawasdirian, pertumbuhan dan kemuliaan sebuah masyarakat. Dan ini tak lain adalah janji yang telah diberikan Allah swt kepada orang-orang yang saleh:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ [4]

“Sebagaimana dalam Zabur, setelah Kami sebutkan zikr (Taurat) bahwa sesungguhnya bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh”.

2. Menciptakan semangat perlwanan menentang kezaliman penguasa.
Mungkin yang menjadi penyebab mengapa kaum muslimin tidak pernah mundur dalam peperangan melawan orang-orang zalim, para pengkhianat dan selalu menetang setiap kesesatan baik di awal munculnya Islam hingga saat ini adalah masalah penantian. Yakni harapan tibanya hari kemunculan sang penyelamat alam yang akan mengembalikan hak-hak orang yeang dizalimi, akan memenangkan Islam murni dari penguasa kafir dan akan menegakkan bendera tauhid dan keadilan di muka bumi.

Ya, kabar gembira dan janji inilah yang membuat kaum muslimin tetap kokoh dan sabar ketika berhadapan dengan berbagai peristiwa sepeprti berkuasanya Bani Umayyah, perang salib, kekejaman yang dilakukan pada orang-orang Syiah, juga para penguasa di zaman ini seperti rezim Pahlevi dan penjajahan yang terjadi di abad ini. Dan masalah penantian inilah yang menyebabkan kaum muslimin bangkit berjihad melawan penjajah dan penguasa zalim. Dan hasil dari jihad, kesyahidan dan perlawanan ini adalah kemenangan yang tak terhingga dan akhirnya janji Allah tentang berkuasanya kaum muslimin yang lemah di seluruh dunia akan terlaksana.

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ[5]

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”.

Maka ummat yang memiliki penantian yang seperti ini dan selalu memiliki ruh perjuangan, jihad, isar dan syahadah ketika berhadapan dengan kezaliman, akan selalu tumbuh, semakin sempurna dan mulia. Sebab ia mengetahui bahwa kemenangannya tergantung pada kesiapan ruhnya perbaikan diri dan kesiapan masyarakatnya dengan menyediakan perlengkepan milter serta perlengkapan perang.

3. Penantian tergantung pada usaha menghidupkan dan mengamalkan kewajiban serta aturan Islam.
Ketika telah disepakati bahwa seseorang atau sebuah masyarakat adalah penanti hakiki Sang Akhir zaman, maka ia harus memeprsiapkan dirinya dengan sempurna dari segala sisi; dan inilah yang menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat agama. Kewajiban paling penting dari seorang muslim yang sedang menanti adalah melaksanakan semua hukum dan aturan Islam dalam semua dimensi seperti sosial, budaya, ekonomi, politik, militer dan lain sebagainya.

Agar fondasi bagi kemunculan Ima Mahdi as lebih banyak tersedia maka wajib bagi para ulama dan pakar untuk menyebarkan ajaran murni Islam ke seluruh dunia dengan segala usaha[6] dan wajib pula bagi orang awam untuk mengamalkan syariat Islam dan selalu berusaha menghiasi dirinya dengan hukum Islam dalam segala dimensinya sehingga hati Imam Mahdi as ridha pada diri dan masyarakatnya. Dalam hadis dari Imam Shadiq as disebutkan: “Siapa saja yang suka menjadi penolong Qaim afs, hendaklah ia menanti, bertakwa dan menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik dan terus berusaha mengamalkan ini semua sambil menanti kemunculan Qaim…”[7]

4. Penantian dan perang melawan kefasikan dan kemungkaran.
Salah satu makna penting dari penantian adalah ketidakridhaan dan lepas tangan dari situasi yang ada berupa kefasikan dan kemungkaran. Di sisi lain, para penanti hakiki meyakini bahwa untuk mempercepat kemunculan Imam Mahdi as harus tercipta fondasi yang kuat
يخرج الناس من المشرق فيوطءون للمهدي يعني سلطنه [8]


Maka setiap individu masyarakat harus memperbaiki dirinya dan keluarganya serta tidak boleh lalai akan dosa-dos, kerusakan dan kehinaan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Ia harus selalu melakukan amar makruf dan nahyi munkar dan bangkit melawan setiap kefasikan dan kemunkaran yang ada; sebab dengan mengamalkan kewajiban ini akan semua tugas agama akan tercipta dan semua hukum ilahi akan terlaksana dengan benar. Karena salah satu tujuan utama Imam Mahdi as adalah masalah ini, maka setiap mukmin, sebagaimana imamnya, tidak boleh lalai dari kewajiban penting ini. Allah swt bersabda: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.[9]

Tidak bisa dipungkiri bahwa ummat yang selalu berusaha mencari ridha pemimpin hakikinya dan menantikan kemunculannya, akan selalu berusaha dengan segala kekuatannya akan berperang melawan setiap bentuk kefasikan dan kemungkaran yang mencemari masyarakat dan akan memerangi segala sesuatu yang menyebabkan masyarakat terhalang dari rahmat dan berkah Imam juga akan berperang melawan setiap hal yang menyebabkan tertundanya kemunculan sang Imam.
Kesimpulannya adalah bahwa masyarakat penanti yang memiliki ruh yang sehat dan penuh semangat dan setiap saat selalu bereprang dengan segala bentuk kefasikan dan kemungkaran, selalu berusaha menghidupkan aturan Islam dengan segala usaha, pasti akan selalu mencari jalan kesempurnaan dan keselamatan.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Ibrahim Amini, Dadgustares-e Jahan, Intisyarat Safaq, hal. 251.
2. Hasan bin Sya’bah Harani, Tahful Uqul, Qom, Intisyarat Jame’eh Mudarrisin, hal. 37; Syaikh Shaduq, Kamaluddin, Qom, Intisyarat Darul Kutub Islamiah, 1395 Q, jilid 2, hal. 644.
3. Syaikh Shaduq, Kamaluddin, jilid 2, hal. 645.
4. Anbiya: 105.
5. Qashash: 5.
6. Ibrahim Amini, idem, hal. 251.
7. Muhammad Baqir Majlisi, idem, jilid 52, hal. 140.
8. Majlisi, Muhammad Baqir, Biharul Anwar, jilid 51, hal. 78, Muassasah Wafa, Beirut, Libanon.
9. Al-Imran: 104.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
5+4 =