Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah mukjizat muncul melalui kaidah sebab akibat dan aturan alam ataukah muncul tanpa memiliki sebab?


Jawaban:

harus dikatakan bahwa mukjizat dan tidak muncul melalui aturan alam tetapi dapat dikatakan sebagai sebuah kekecualian dalam aturan alam. Seperti dinginnya api dirasakan oleh Nabi Ibrahim as[1], kelahiran Nabi Isa as tanpa adanya ayah[2], berbicaranya Nabi Isa saat masih di buaian[3] dan lain sebagainya.

Adalah hal yang berbeda antara menerima hukum sebab akibat dan menerima sebab khusus. Dalam alam semesta, terdapat berbagai makhluk yang membutuhkan makhluk lainnya dan ia tidak akan muncul jika makhluk lain tidak ada. Aturan ini adalah jelas dan tidak dapat diragukan. Tetapi terdapat berbagai akibat lain yang membutuhkan sebab lain pula. Kaidah falsafah menyebutkan bahwa akibat memerlukan sebab. Kaidah ini menyifati akibat secara umum, bukan sebuah sebab khusu untuk akibat khusus. Adalah tugas ilmu pengetahuan untuk mengetahui berbagai sebab melalui penelitian seksama. Ketidakmampuan kita mengetahui berbagai sebab bukanlah dalil bahwa sebab itu tidak ada tetapi dikarenakan adanya kekurangan dalam penelitian kita.

Menerima mukjizat sama sekali tidak berarti mengingkari hukum sebab akibat atau menerima pengecualian dalam hukum sebab akibat. Sebab,

Pertama: sebagaimana mukjizat dinisbahkan kepada Allah, maka mukjizat memiliki sebab yang memberikan wujud baginya. Maksudnya, menerima mukjizat berarti menerima sebab akibat dari Allah. Dalam hal mukjizat, terdapat sebab-sebab lain yang tidak kita ketahui selain sebab-sebab alami.

Kedua: Sebab gaib yang menjadi penyebab kemunculan hal alami tidak mengingkari hukum sebab akibat (pengaruh hal gaib pada kemunculan hal alami). Misalnya iradah Nabi saww dan wali lainnya dalam kemunculan ebuah fenomena adalah cukup berpengaruh dan tidak ada satupun hukam ilmiah yang mengingkarinya.[4]

Al-Qur’anul Karim merupakan mukjizat Rasulullah saww. Di dalam al-Qur’an, selain terdapat tahaddi utuk menciptakan kitab seperti al-Qur’an[5], terdapat juga tahaddi untuk menciptakan 10 surah[6] dan bahkan satu surah.[7]Hal ini menunjukkan bahwa al-selain Qur’anul Karim memiliki isi, kefasihan dan kebalighan, al-Qur’an juga memiliki mukjizat dari sisi susunan dan manusia tidak akan mampu membuat yangs emisal dengan al-Qur’an.

Dengan kata lain, kemukjizatan al-Qur’an adalah substansi al-Qur’an itu sendiri bukan dari sisi lafaz zahirnya. Sebab jika al-Qur’an hanya memiliki kemukjizata dari sisi lafaz semata, maka kaum Arab pada zaman itu itu juga mampu membuat yang semisal Qur’an dari sisi lafaz dengan menggunakan percakapan dan urf yang dimilikinya. Karena barang siapa yang memiliki kekuatan atas suatu materi maka ia belum tentu ia mampu membuat susunan dari materi yang dimilikinya.[8] Sebagaimana jika seseorang berkata: Mengapa si fulan yang bisa membuat pedang malah kalah dalam perang? Padahal agar bisa menang melawan musuh dalam peperangan, selain harus memiliki alat (pedang) juga dibutuhkan keberanian, iradah, kekuatan dan lain sebagainya.[9]

Sebagian mukjizat para nabi hanya terbatas dalam waktu dan bagi pribadi tertentu, seperti menghidupkan orang mati, tongkat Nabi Musa as, dan lain sebagainya. Dan sebagian mukjizat seperti al-Qur’an yang kekal, abadi dan mendunia.[10]

Di sini perlu diperhatikan beberapa ciri lain mukjizat seperti kesesuaian dalam mukjizat. Salah satu ciri-ciri mukjizat adalah bahwa mukjizat memiliki kemiripan dengan tekhnologi yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Selain itu kekekalan mukjizat juga mengikuti kondisi agamanya, maksudnya jika agama memang terbatas pada zaman tertentu, maka mukjizat juga terbatas pada zaman tertentu pula. Dan jika agama adalah agama yang abadi maka mukjizat juhga akan mengikutikeabadian agama.

Jika kita memperhatikan zaman Nabi Musa as, pada zaman itu sihir cukup merajalela. Oleh karena itu mukjizat Nabi Musa as sesuai dengan hal ini pula, misalnya tongkat Nabi Musa as yang dilemparkan dalam rangka menunjukkan mukjizat dankemudian tongkat itu berubah menjadi ular dan semua ular buatan ahli sihir ditelannya. Oleh karen itulah, maka para penyihir lah yang pertama kali beriman kepada Nabi Musa as setelah menyaksikan mukjizat Nabi Musa as. Dan mereka berkata: آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ [11] sebab pemilik sihir mengetahui tehnik dan rahasia serta dasar dari sihirnya. Sehingga mereka dengan lebih mudah dapat menerima dan membenarkan mukjizat Nabi Musa as. Dan karena agama Nabi Musa as terbatas pada zaman tertentu, maka mukjizat itu juga terbatas. Demikian juga mukjizat Nabi Isa as dan nabi-nabi lainnya.

Saat Islam muncul, seni sastra dalam masyarakat Arab sedang mencapai puncaknya dan memerkamemiliki ahli bahasa yang memiliki kelebihan dalam kefasihan dan kebalighan bahasa. Mereka dianggap sebagai tuhannya ucapan dan dihargai dengan baik. Ada banyak pasar yang disediakan khusus untuk membacakan syair-syair indah mereka. Saat itulah Rasulullah saww diutus dan ucapan yang dibawa beliau membuat para ahli bahasa saat itu kaget. Dan sebagaimana agama Islam adalah agama abdi, maka mukjizat Rasulullah saww juga kekal dan abadi.[12]

Dalam Ushul Kafi terdapat riwayat dari Imam kesepuluh as dan Imam menjelaskan tentang falsafah perbedaan mukjizat para nabi. Beliau bersabda: …dan Nabi Muhammad saww diutus ketika ahli bahasa dan orator sangat banyak, kemudian beliau membawakan nasehat dan peraturan dari Allah dan membatalkan ucapan-ucapan mereka serta menyempurnakan hujjah pada mereka.[13]

Nilai Kemukjizatan al-Qur’an.

Al-Qur’anul Karim memiliki nilai khusus jika dibandingkan dengan mukjizat Rasulullah saww yang lainnya dan mukjizat para nabi sebelumnya, antara lain:

1. Al-Qur’an adalah mukjizat yang berbicara; selain merupakan mukjizat, al-Qur’an juga merupakan kitab yang berisi syariat. Di sini, mukjizat dan syariat memiliki persatuan yang erat sedemikian rupa.

Ibnu Khaldun berkata: Kebanyakan mukjizat Rasulullah saww yang lain tidak sesuai dengan wahyu sehingga untuk membuktikan kebenaran wahyu, beliau menunjukkan mukjizat. Tetapi al-Qur’anul Karim adalah wahyu yang diklaim itu sendiri. Dengan kata lain, dalil dan madlul pih bersatu dalam mukjizat ini.[14]

Al-Qur’anul Karim adalah mukjizat yang berbicara dan tidak membutuhkan pengenlan. Al-Qur’an sendiri yang berdakwah, mencela para penentang dan menantang para penentang untuk berkompetisi dan dalam kompetisi itu, al-Qur’an telah menang. Oleh karena itu, meskipun beberapa abad telah berlalu sejak wafatnya Rasulullah saww, al-Qur’an masih meneruskan dakwahnya. Al-Qur’an adalah agama dan mukjizat, aturan dan juga bukti aturan.[15]

2. Kekekalan dan mencakup seluruh dunia. Alah satu keunggulan al-Qur’anul Karim adalah kekekalannya dan sifat mendunia. Al-Qur’an telah mematahkan batasan waktu dan tempat bahkan berada di atas waktu dan tempat. Setelah berlalu 1400 tahun, ia tetap memiliki wajah seperti ketika pertama kali muncul di daerah Hijaz dan saat ini masih menjelma di masa kita. Bahkan semakin waktu berlalu dan ilmu pengetahuan semakin meningkat, kemungkinan kita memperoleh manfaat darinya semakin banyak.[16] Kekekalan al-Qur’an berarti bahwa tidak perlu ia selalu bersama dengan pembawa mukjizat tetapis ia selalu menyampaikan kebenaran di setipa zaman.

3. Mukjizat ruhani: salah satu ciri-ciri al-Qur’an adalah sisi ruhani al-Qur’an. Mukjizat para nabi sebelumnya dan mukjizat Rasulullah saww yang lain memiliki aspek jasmani, seperti menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, menghidupkan orang mati, unta Nabi Shaleh dan lain sebagainya yang telah menakukkan mata dan telinga manusia. Tetapi huruf-huruf al-Qur’an yang berasal dari huruf biaa telah tersusun dalam kalimay yang mampu mempengaruhi hati dan jiwa manusia. Al-Qur’an mampu membuat ruh manusia dipenuhi oleh keajaiban dan kegembiraan, memaksa manusia untuk engakui kebesarannya dan satu-satunya mukjizat yang berhubungan dengan otak, pikiran dan ruh manusia. Keutamaan dan kelebihan mukjizat yang demikian atas mukjizat jasmani tentu saja tidak memerlukan penjelasn yang lebih.[17]
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Anbiya: 69
2. Maryam: 17.
3. Maryam: 30
4. Silahkan rujuk: Muhammad taqi Misbah yazdi, Maarif Qur’an, Qom, Muassasah dar Rah-e Haq, 1373, jilid 3, hal. 124-130.
5. Isra: 88.
6. Hud: 23.
7. Baqarah: 23.
8. Abul Qaim khu’I, idem, hal. 83.
9. Jawadi Amuli, Qur’an dar Rah-e Haq, Qom, Nasr-e Isra, cetakan 1, 1378, jilid 1, hal. 165.
10. Silahkan rujuk: Hasan Erfan, E’jaz dar Qur’an, Tehran: Daftar-e Mutalaat, cetakan 1, 1379. Muhammad Husain Thabathaba’I, E’jaz-e Qur’an, Intisyarat Raja, cetakan 1, 1362.
11. As-Syu’ara: 47.
12. Diambil dari Sayyid Abul Fazl Mir Muhammad Zarandi, Tarikh va Ulum-e Qur’an, Qom, Jamee-ye Mudarrisin, cetakan ketiga, 1373, hal. 185.
13. Syaikh Kulaini, Ushul Kafi, terjemahan Sayyid Jawad Mustafawi, Tehran, Daftar Nasr-e Farhang-ge Ahl-e Bait, jilid 1, hal. 28, hadis 20, bab akal dan jahil.
14. Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Qahirah: Daru Nihdhah, jilid 1, hal. 203. Muhammad hadi Ma’rifat, dengan suntingan, Qom, Intisyarat-e Jame-ye Mudarrisin, 1416 HQ, jilid 2, hal. 15.
15. Nashir Makarim Syirazi dkk, Tafsir Nemuneh, Tehran, darul Kutubul Islamiah, 1373, jilid 1, hal. 129-130.
16. Idem.
17. Idem, hal. 130.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
9+1 =