Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah mengharapkan syafaat dari Rasulullah saww dapat menyebabkan syirik kepada Allah?


Jawaban:

Anggapan ketidaksesuaian syafaat dangan tauhid adalah isykal yang sering dilontarkan oleh Wahabi. Berdasarkan akidah ini, Wahabi memaksakan hal tersebut kepada muslimin.[1] Karena masalah ini memiliki efek yang buruk dan memiliki dimensi politik dan sosial, tidak hanya sekedar dimensi akidah, kita akan membahasnya dari sudut pandang Qur’an, hadis Nabi saww dan akal.

Pandangan Wahabi

Wahabi, dengan sikapnya yang berlebih-lebihan dalam tauhid dan penjelasan yang salah tentangnya, telah menentang sejumlah akidah pasti agama seperti: tawassul, tabarruk, tabarri, memohon pertolongan dari arwah para Nabi dan auliya Allah dan syafaat. Itulah sebabnya, semua firqah Islam yang meyakini akidah ini dianggap musyrik oleh Wahabi. Bahkan jiwa dan harta mereka dianggap halal. Wahabi berkata: mengharapkan syafaat dari Nabi saww berarti menyembah beliau dan menyembah kepada selain Allah adalah syirik. Maka mengharapkan syfaat dari Nabi termasuk ke dalam syirik. Dalam hal ini Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri faham Wahabi, berkata:
Manusia dapat terbebas dari syirik dengan mengenal 4 kaidah:

1. Kaum musyrik diperangi oleh Nabi saww meskipun mereka mengakui bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam semesta.[2]

2. Kesalahan kaum musyrik hanyalah karena mereka menyembah berhala dengan dalil bahwa berhala memiliki syafaat di sisi Allah.[3]

3. Nabi saww memerangi semua kaum musyrik, baik mereka yang menyembah berhala, malaikat atau para Nabi.

4. Maka kaum musyrik di era kita (semua firqah Islam selain Wahabi) lebih buruk daripada kaum musyrik di zaman jahiliyyah karena mereka yang hidup di zaman jahiliyyah melakukan perbuatan syirik ketika mereka berada dalam kesulitan.[4] Sedangkan kaum musyrik di era sekarang malah syirik dalam keadaan yang sulit atau tidak sulit.[5] Wahabi begitu jauh terjerat dalam mugalathah hingga mereka menganggap bahwa hanya merekalah yang memiliki image Islam yang hakiki. Lebih jauh lagi, dengan kesimpulan yang salah dari Qur’an dan ucapan Nabi saww, mereka berkata: Qur’an dan sunnah telah menunjukkan bahwa siapa saja yang menjadikan para malaikat atau para nabi atau Ibnu Abbas atau Abu Thalib atau sejenisnya sebagai perantara di antara dirinya dengan Allah, maka mereka adalah kafir dan musyrik, darah dan jiwa mereka adalah halal. Meskipun mereka mengucapkan syahadatain, mengerjakan shalat dan puasa.[6]
Karena tidak menguasai ayat-ayat Qur’an tentang kufr, iman, syarat-syarat pemberi syafaat dan yang diberi syafaat, Wahabi menganggap syafaat sebagi syirik. Maka mereka menganggap kaum muslimin yang meyakini syafaat sama dengan penyembah berhala di zaman jahiliyyah meskipun para penyembah berhala itu adalah orang-orang yang meyakini penciptaan (khaliqiyyah), pemeliharaan (rububiyyah) dan pemberian rezeki (raziqiyyah). Kesalahan mereka hanyalah karena mereka memiliki keyakinan akan syafaat. Harus disebutkan bahwa:

1. Ayat tentang syafaat disebutkan 31 kali dalam Qur’an dan setiap ayat telah menjelaskan masalah syafaat dengan baik. Dengan memperhatikan ayat-ayat ini, kita tidak akan tersesat dan kita tidak akan menyamakan syafaat dengan penyembahan berhala.[7]

2. Dengan beberapa dalil, Qur’an telah mencela kaum musyrik; pertama mereka menganggap bahwa berhala-berhala yang merupakan makhluk yang tidak memiliki kecerdasan, tuli dan buta mampu memberikan efek(asar)[8]. Kedua mereka menganggap bahwa berhala-berhala memiliki rububiyyah di samping pemeliharaan (tadbir) yang dilakukan Allah.[9]
Terkadang, ucapan mereka saling bertentangan. Sebagai contoh, mereka berkata: Kami menyembah berhala-berhala untuk mendapatkan syafaat di sisi Allah. Poin yang paling penting adalah bahwa mereka menganggap syafaat berhala-berhala itu tidak tergantung pada izin Allah.[10] Ungkapan Qur’an
من دون الله yang selalu muncul berkaitan dengan musyrikin, menunjukkan bahwa musyrikin menganggap bahwa ada makhluk lain selain Allah yang memberikan syafi’ dan ini adalah syirik dalam rububiyyah.
Dِengan bersandar pada ayat Qur’an فلا تدعو مع الله احدا Wahabi berkata: setiap permohonan kepada selain Allah adalah syirik. Dalam hal ini, harus disebutkan bahwa larangan atas permohanan kepada selain Allah yang berakhir pada syirik bukanlah permohonan secara mutlak. Jika bersifat mutlak, maka semua manusia sejak zaman Nabi adam as sampai saat ini yang hidup bersama dan saling berhubungan serta saling memohon pertolongan antar sesamanya adalah musyrik. Tapi maksudnya adalah larangan menyembah selain Allah, dan ini telah disebutkan pada bagian ayat sebelumnya yaitu:لمساجد الله yang menunjukkan hakikat ini. Maksud ayat ini adalah jangan menyamakan sesuatu dengan Allah sebagaimana ayat

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ [11]

juga menjadi penjelas ayat itu.[12] Maka, yang menjadi sebab kesesatan mereka adalah bahwa mereka tidak mampu menentukan batasan ayat-ayat Qur’an. Kami malah menemukan buku-buku mu’tabar dari cendikiawan Saudi yang membedakan antara syafaat yang berbau syirik dan syafaat ilahi. Dalam tafsir ayat :

أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاء قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُون قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ [13]

Bahkan mereka mengambil pemberi syafa'at selain Allah.Katakanlah:"Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?"
Katakanlah:"Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuannya.Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi.Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan"
Ibnu Qayyum berkata:

Dalam Qur’an Allah memberi kabar bahwa syafaat adalah milik Dia yang merupakan raja langit dan bumi supaya Ia menyayangi hamba-hamba-Nya dan ia memberikan izin pada siapa saja yang diinginkan-Nya untuk memberikan syafaat. Jadi pada hakikatnya, syafaat adalah milik Allah dan syafaat jenis ini bertentangan dengan syafaat syirik yang diyakini oleh kaum musyrik dan Allah tidak mengabaikan syafaat syirik tersebut.[14]
Dalam buku yang disebut di atas, terdapat banyak hadis yang berkaitan dengan syafaat. Sebagai contoh, Jabir bin Abdullah Anshari yang merupakan salah satu sahabat Nabi saww mengatakan bahwa Nabi saww bersabda:
Allah memberikan lima karakteristik kepadaku yang tidak pernah diberikan kepada orang selainku. Salah satunya adalah اعتيت الشفاعه . Dalam hadis yang lain beliau bersabda: Aku adalah pemberi syafaat pertama di surga.[15]
Dua buku mu’tabar Ahli Sunnah yaitu Shahih Bukhari dan Musim juga menyebutkan banyak hadis berkaitan dengan syafaat dan hadis-hadis tersebut adalah hadis mutawatir.[16]

Syafaat dari Sudut Pandang Akal

Permohonan bantuan yang diajukan oleh orang yang berada di posisi bawah kepada orang yang berada di posisi atas adalah suatu hal yang lumrah dan alami. Dan sampai saat ini tidak satu pun orang bijak yang mengatakan bahwa memohon bantuan memiliki makna yang sama dengan menyembah sedang orang yang dimintai bantuan tadi adalah orang yang disembah. Pada hakikatnya syafaat adalah satu bentuk permohonan dari orang yang berdosa dan malang kepada orang yang memiliki kemuliaan di sisi Ilahi. Sebagaimana mempercayai berbagai sebab di alam ciptaan, misalnya efek(asar) sinar matahari dan tetesan hujan pada perkembangan tumbuhan, tidak bertentangan dengan tauhid, demikian juga halnya dengan syafaat. Karena efek yang ditimbulkan oleh semua sebab ini adalah sesuai dengan izin Allah. Demikian juga halnya dalam dunia syariat, keberadaan sebab dalam pengampunan dan magfirah yang sesuai dengan izin Allah tidak bertentangan dengan tauhid bahkan menekankan tauhid itu sendiri.[17] Syafaat adalah masalah yang logis dan merupakan wasilah untuk menghapuskan hukuman atau meraih derajat yang lebih tinggi. Dalam hal ini, Allamah Thabathaba’i berkata:
Jika manusia ingin mencapai kesempurnaan dan kebaikan materi dan maknawi tapi ia tidak memiliki tolak ukur sosial, kesiapan dan peralatannya, atau ia ingin menghilangkan kejelekan dari dirinya; kejelekan yang muncul akibat perbuatannya sedang ia tidak mampu melaksanakan kewajibannya, hendaknya ia bertawassul dan mengharapkan syafaat.[18]
Singkatnya, jika hakikat syafaat dan poin-poin tarbiyah syafaat dipaparkan maka manusia akan memahami bahwa syafaat mampu menumbuhkan harapan dalam hati orang yeng berdosa hingga ia kembali kepada Tuhannya. Dan semua orang yang berakal dan adil akan memberikan kesaksian akan kebenaran syafaat. Orang yang berdosa akan menyuburkan harapannya agar ia bisa mendapatkan syafaat Muhammad dan keluarganya.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Sebagai contoh peristiwa pahit iniadalah pembunuhan masyarakat Madinah, Karbala dan Najaf serta perusakan makam para Imam di Baqi’. Silahkan rujuk: Ali Ashgar Faqihi, penerbit Isma’iliyan.
2. Kasyful Irtiyab, Sayyid Muhsin, Amin Amili, penerbit Perpustakaan Besar Islami, cetakan III, juz 2, halaman 246
3. Yunus: 65
4. Yunus 18
5. Ankabut: 65
6. Risala-ye Arba’ Qawa’id, Muhammad bin Abdul Wahab, hal. 24 diambil dari Kasyful Irtiyab, hal. 163.
7. Payam-e Qur’an, Makarim Syirazi dkk, juz 6, hal. 509-519.
8. Ra’d: 49, Ankabut: 18.
9. Zumar: 3, Yunus: 18.
10. Payam-e Qur’an, jilid 6, hal. 543.
11. A’raf: 194.
12. Mansyur-e Jawid, Ja’far Subhani, juz 8, hal. 132.
13. Zumar: 43-44
14. Muassasah Nazrat an-Na’im, bekerjasama dengan 30 ilmuwan Saudi, Jedah, Darul Wasilah, 1417, jilid 6, hal. 2366.
15. Idem, hal. 2372.
16. Hadis ini membatalkan perkataan orang-orang yang mengira bahwa syafaat dalam Islam Islam berasal dari agama-agama sebelumnya. Sedang apa yang diperoleh dari kitab suci mereka adalah syafaat di dunia. Silahkan rujuk: Danesh Nameh-I Qur’an, Baha’uddin Khuramsyahi, juz 2, hal. 1322.
17. Payam-e Qur’an, MakarimSyirazi dkk, jilid 6, hal. 539.
18. Tafsir Mizan, jilid 1, hal. 158.



Komentar Anda

husein mulyadi - [2013-04-30]
Assalamu\'alaikum Wr. Wb... Allahuma sholiala Muhammad wa Ali Muhammad Dengan hormat, demi untuk menunjang dan meingkatkan pengetahuan dan ilmu dari Rosulullah dan Ahlulbaitnya diwilayah kami, kami memohon kepada Pimpinan Sadeqin untuk dapat mengitimkan buku-buku dari ahlulbait yang berbahasa indonesia tentang Aqidah, Ahlaq dan ke Imamahan. demikian permohonan kami, atas perhatiannya kami ucapkan ribuan terima kasih. Semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Rosulullah Saaw dan Ahlulbaitnya yang suci. Wassalamu\'alaikum Wr Wb

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+2 =