Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah makna خلود (kekekalan) yang d Qur’an sesuai dengan keadilan Ilahi?


Jawaban:

Tentang خلود Raghib Isfahani mengartikannya sebagai berikut: خلود adalah sesuatu yang terjaga dari kerusakan, tetap ada selamanya dan segala sesuatu yang lebih lambat berubah; orang Arab menyebutnya dengan خلود; sebab orang tidak cepat tua disebut dengan مخلّد . Dan dalam Qur’an, penghuni surga telah digambarkan sebagai orang-orang yang kekal; sebab ketuaan, penyakit dan berbagai kerusakan tidak menimpa mereka. Mereka selalu berada dalam keadaan muda dan mereka tidak akan mengalami kematian dan ketiadaan.[1]

Ibnu Fars juga berkata: “خلد menunjukkan kestabilan dan kelaziman dan جنة الخلد (surga yang tinggi) berasal dari bab ini”.[2]
Zamakhsyari, mufassir dan ahli lughat juga berkata: خلد berarti kestabilan dan keberadaan selamanya yang tidak akan diakhiri dengan fana.[3] Oleh karena itu, kata seperti شجرة الخلد dan جنة الخلد yang terdapat dalam Qur’an adalah penjelas mafhum abadi, bukan hanya masa yang lama.

خلود (kekakalan) dalam Qur’an.

Para mufassir dan ahli kalam, dengan berpegang pada ayat dan riwayat, memiliki pendapat yang sama bahwa pada dasarnya tidak ada keraguan tentang adanya azab abadi, meskipun terdapat dalam berbagai mishdaq dan individu yang memiliki azab demikian. Berbagai ayat tentang خلود telah muncul dalam Qur’an dalam berbagai bentuk:
وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيم4 (dan bagi mereka azab yang kekal). [5]إِنَّكُم مَّاكِثُونَ (Kamu akan tetap tinggal di neraka ini). [6]وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka).

Sebagian dari mutakallimin yakin bahwa خلود dalam ayat-ayat tersebut berarti istirahat yang panjang dan waktu yang lama, bukan berarti kekal dan abadi; namun sebagian mufassir dan mutakallimin meganggap pendapat ini salah. Sebab, banyak ayat yang telah menjelaskan tentang خلود. Bahkan dalam ayat-ayat yang lain, kata ابدا juga ditambahkan yang secara zhahir menunjukkan azab kekal dan selamanya.
Begitu juga ayat-ayat tentang surga, seperti pernyataan: خالدين فيها ابدا yang menunjukkan kekalnya nikmat surga, bukan menunjukkan waktu yang lama.

Pernyataan-pernyataan seperti ini juga muncul ketika ur’an berbicara tentang azab neraka. Misalnya:

وَمَن يَعْصِ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ[7]

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan”.

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا[8]

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya”.[9]
Yang pasti, sebagian ayat Qur’an tentang خلود adalah untuk orang-orang khusus saja.

Sekarang coba kita lihat apakah خلود dalam Jahannam sesuai dengan keadilan Ilahi?. Mungkin saja seseorang bertanya bagaimana mungkin seseorang melakukan perbuatan buruk tapi kemudian harus kekal di dalam Jahannam? Apakah dosa tidak sesuai dengan siksaan? Bukankah Allah telah berfirman:[10] وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا (Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa):[11] جَزَاء وِفَاقًا (Pembalasan yang setimpal). Oleh karena itu siksaan harus sesuai dengan ukuran dosa, tidak lebih banyak. Maka mengapa Allah menyiksa seseorang dengan kekal? Apakah ini sesuai dengan keadilan Allah?

Tuntutan kedilan adalah bahwa harus terdapat kesesuaian antara balasan dan amal. Dengan memperhatikan berbagai ayat dan riwayar dapat dipahami dengan jelas bahwa kekekalam sebagian orang dalam kekal di neraka sama sekali tidak bertentangan dengan keadilan ilahi. Kami akan menyampaikan beberapa jawaban:

1. Perbuatan fisik manusia adalah terbatas dan sementara, namun perbuatan hati selamanya kekal dan abadi. Sedang perbuatan yang kekal akan memiliki pengaruh yang kekal pula. Kepercayaan dan keyakinan adalah poros dan dasar dari sebuah amal (pekerjaan); sebab amal itu bersumber dari keyakinan dan bangkit dari ruh manusia. Hakikat manusia adalah nafsu dan ruhnya dan ruh tidak akan pernah mati, ia kekal dan tidak mengalami ketuaan atau kemudaan. Maka hendaklah azab ruh itu kekal.

Oleh karena itu, dalam berbagai hadis disebutkan bahwa balasan terhadap sebuah amal sesuai dengan niatnya. Ketika niat sudah menjadi malakah bagi ruh, maka ia tidak akan pernah terpisah dari ruh. Karena ruh kekal maka azabnya kekal dan tidak akan terputus.

Pembicaraan yang terjadi antara seorang Yahudi dan Rasulullah saww dengan jelas telah menunjukkan hal ini. Yahudi berkata: Jika Allah tidak melakukan perbuatan zalim, bagaimana mungkin seseorang yang melakukan dosa hanya dalam beberapa hari tapi ia akan kekal selamanya di dalam api neraka? Rasulullah saww bersabda: Sebab ia telah berniat untuk terus melakukan dosa jika ia memiliki umur yang panjang. Niat seperti ini lebih buruk dari perbuatan dosa itu sendiri. Kekalnya seseorang di dalam surga juga disebabkan oleh niat bahwa ia akan selalu mentaati Allah dan niat seperti ini lebih baik dari ketaatan itu sebdiri. Oleh karena itu, berdasarkan kaidah umum bahwa amal berdasarkan pada niat dan pikiran, maka ahli surga akan kekal di dalam surga dan ahli neraka akan kekal di dalam neraka. Karena allah sat telah bersabda: Wahai Rasulullah! Sampaikanlah, setiap orang akan melakukan perbuatan yang sesuai dengan bangunan esensial dan alaminya. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan syafaat.[12]

Imam Shadiq as juga telah bersabda demikian.[13] Mungkin saja seseorang berkata bahwa niat dan rencana tidak bisa menjadi pembenar bagi semua siksaan ini. Karena riwayat juga telah mengisyaratkan hal ini bahwa jika seorang manusia berencana melakukan sebuah amal buruk tapi tidak melakukannya, maka Allah tidak menuliskan dosa baginya.

Sebagai jawabannya, harus dikatakan bahwa azab kekal hanya dperuntukkan bagi mereka yang telah memiliki rencana, iradah dan niat untuk melakukan dosa. Bahkan azab abadi ini adalah diperuntukkan bagi orang yang telah berdosa, telah menutup semua jalan keluar dan telah memenuhi dirinya dengan penentangan dan ketidakpatuhan. Oleh karena itu, bukan hanya niat yang mempengaruhi خلود namun خلود diperuntukkan bagi orang yang memiliki ruh kotor, jiwa penentangan dan telah merencanakan untuk melakukan dosa.[14]
Maka dalam riwayat yang berasal dari Rasulullah saww, beliau telah menggunakan ayat [15]قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ sebagai dalil. Istidlal Rasulullah saww ini memakai dasar bahwa maksiat dan ibadah merupakan bagian esensial manusia dan manusia tidak akan dihisab hanya karena niatnya. Maka yang dimaksud dengan niat pastilah sebuah bentukkakidah yang disertai dengan amal perbuatan. Imam Shadiq as bersabda[16]: “Keutamaan niat lebih banyak dari amal itu sendiri. “Ketahuilah, bahwa niat adalah amal itu sendiri”. Kemudian Imam Shadiq as membacakan ayat قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ.

Maka manusia yang berdosa di dunia sebenarnya telah mencari neraka bagi dirinya dan di akhirat ia akan memperoleh neraka yang sebenarnya. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang disebut Qur’an dengan ungkapan: وَلَوْ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنْهُ [17] (Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya).

Siksaan-siksaan dan azab-azab ini bukanlah akibat dari penentangan dalam waktu yang singkat, tapi merupakan akibat dari perbuatan manusia yang selalu berbuat dosa dan dosa itu telah menjadi malakah bagi dirinya.[18]

2. Azab abadi dikarenakan dosa besar.
Sebagian dosa merupakan dosa besar yang bahkan tidak bisa terhapus dengan azab dan siksaan abadi. Sebagai contoh, jika seseorang menekan tombol hanya dalam satu detik untuk meledakkan bom namun jutaan manusia mati karenanya, tentu saja di setiap pengadilan yang sehat dan adil, ia akan dijatuhi hukuman seumur hidup dan tidak akan ada yang berkata: karena perbuatannya hanya dalam tempo satu detik maka hukumannya juga harus sesuai dengan perbuatannya.[19]Maka kita tidak bisa menganalisa dosa dari sudut pandang waktu, tapi kita harus melihat peranannya dalam sejarah, bagi manusia lainnya dan generasi-generasi berikutnya. Terkadang diamnya seseorang dalam waktu yang sangat singkat dapat menyesatkan generasi berikutnya. Sebagai contoh, jika ulama Yahudi dan Nasrani yang sebenarnya telah mengenal Rasulullah saww[20] tidak menutup-nutupi kebenaran dan dengan jelas mengatakan kepada kaum masihi dan yahudi bahwa rasulullah saww adalah nabi yang telah dijanjikan kapada kita dalam Taurat dan Injil, maka generasi mereka berikutnya tidak akan terhalang untuk beriman kepada Rasulullah saww dan saat ini kita tidak akan memiliki jutaan manusia tersesat yang memiliki nama Yahudi dan Masihi.[21]

3. Pengaruh wadh’i dan takwini dari perbuatan.
Jawaban lain yang bisa diajukan untuk syubhat di atas adalah bahwa balaan atas dosa terdiri atas dua jenis:

a. Terkadang, balasan atas perbuatan buruk sesuai dengan perjanjian atau kesepakatan. Misalnya pembuat hukum berkata: Jika sebuah perbuatan buruk dilakukan maka hukumannya adalah demikian. Dalam hal ini, harus terdapat kesesuaian antara perbuatan dan hukuman.

b. Sebagian hukuman pada dasarnya merupakan pengaruh dari sebuah perbuatan dan merupakan sifat takwini dari perbuatan tersebut atau merupakan hasil amal perbuatan di hadapan manusia. Maka dalam hal ini, tidak ada aturan tentang kesesuaian balasan dengan perbuatan, baik itu berkaitan dengan pengaruh perbuatan di dunia atau di akhirat. Sebagai contoh: Jika dikatakan kepada seseorang: Jangan menggunakan narkoba dan sejenisnya dan jangan minum minuman keras karena dalam waktu yang singkat lambung, otak dan ruhmu akan rusak. Lalu jika ia tetap menggunakannya dan menghadapi masalah, maka ia akan mengalami masalah ini seumur hidupnya. Azab akhirat juga demikian bahkan lebih tinggi dari conto ini. Pengaruh takwini sebuah amal bisa saja melingkupi manusia selamanya karena akhirat adalah kekal dan perbuatan baik atau buruk akan selalu kekal bersama dengan manusia. Sedang siksaan hari kiamat memiliki dimensi takwini dan sesuai dengan sifat perbuatan:

ذُوقُواْ عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلاَّ بِمَا كُنتُمْ تَكْسِبُونَ [22]

“Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan”.

Oleh karena itu, siksaan dan perbuatan memiliki hubungan takwini di dunia yang lain; yakni terbakar dalam api adalah pengaruh alami dosa dan merupakan sifat dosa yang tidak akan terpisah dari dosa itu sendiri. Hubungan antara siksaan dan amal bukanlah sebuah perjanjian atau kesepakatan dan si pendosa menganggapnya sebagai perjanjian yang zalim.

4. Pejelmaan amal
Jawaban ini lebih teliti dan tepat dari jawaban sebelumnya; sebab siksaan adalah dosa itu sendiri dan terdapat kelaziman antara dosa dan siksan itu sendiri. Siksaan adalah perbuatan di dunia yang telah mengganti pakaiannya dan menjelma menjadi pakaian akhirat. Siksaan dan nikmat di akhirat adalah hakikat dari perbuatan kita dunia dan merupakan batin dari tingkah laku kita. Amal perbuatan memiliki dua bentuk: bentuk duniawi dan bentuk ukrawi. Bentuk ukhrawi perbuatan tersembunyi dalam batin perbuatan itu. Di akhirat, bentuk duniawi amal menjadi hilang dan bentuk ukhrawinya akan muncul.[23] Sebagai contoh, sebagaimana rasa asin dan sifat basah tidak bisa terpisah dari garam dan air, perbuatan baik dab buruk manusia juga merupakan bagian eensial manusia dan tidak akan bisa terpisah dari manusia. Oleh karena itu, pendosa akan selalu disiksa. Qur’an bersabda:[24] لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ : “(Janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan). Yakni, siksaan ini adalah perbuatan yang kembali kepada kalian”.[25]
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Raghib Isfahani, Mufradat, Beirut, Darussamiah, cetakan awal, 1412 H, hal. 291.
2. Ibnu Fars, mu’jam Maqabis al-Lughah, Beirut, Darul Kutub Ilmiah, cetakan awal, 1420, jilid 1, hal. 207.
3. Zamaksyari, Kasyaf, Qom, Maktab A’lam Islami, ctakan awal, 1414, jilid 1, hal. 110.
4. Maidah: 37.
5. Zukhruf: 77.
6. Baqarah: 167.
7. Nisa: 14.
8. Jin: 23.
9. Abdullah Jawadi Amuli, Ma’ad dar Qur’an, Qom, Markaz Nasyr Isra, cetakan awal, 1381, hal. 488.
10. Syura: 40.
11. Naba’: 26.
12. Shaduq, Tauhid, Qom, Mansyurat Jame’eh-ye Mudarrisin, cetakan 6, 1416, hal.398.
13. Arusi hawizi, Tasir Nurussaqalain, Qom, Muassasah isma’iliyan, cetakan 4, 1373, jilid 3, hal. 214.
14. Nashir Makarim Syirazi, Jahan pas az Marg, Qom, Intisyarat Suru, cetakan kedua, 1376, hal. 285.
15. Isra: 84.
16. Arusi Hawizi, tafsir nurussaqalain, jilid 3, hal. 214.
17. An’am: 28.
18. Abdullah Jawadi Amuli, idem, hal. 292.
19. Idem.
20. Baqarah: 146.
21. Muhsin Qiraati, Ma’ad, Qom, Intisyarat Islami, 1363, hal. 448.
22. Yunus: 52.
23. Ja’far Subhani, Ma’ad-e insan va Jahan, Qom, daftar Matab Islamiah, cetakan 2, 1373, hal. 259.
24. Tahrim: 7.
25. Sayyid Ali Akbar Qursyi, Qamus Qur’an , Tehran, Darul Kutub Isamiah, cetakan 8, 1378, jilid 2, hal. 279.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
8+10 =