Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah keyakinan terhadap syafaat tidak akan mengubah ilmu dan iradah Allah?


Jawaban:

Untuk menjelaskan berbagai dimensi hal ini, kita harus memperhatikan beberapa hal. Rasyid Ridha, penulis tafsir Al-Manar, dengan mengajukan dalil akli berusaha mengkritik tentang syafaat: ia berkata: Adalah hal yang jelas bahwa hukum Allah adalah keadilan itu sendiri dan terbentuk berdasarkan maslahat ilahi. Di sisi lain, makna syafaat dalam urf masyarakat adalah bahwa orang pemberi syafaat (perantara), dengan hak yang dimilikinya, membebaskan orang yang melakukan kesalahan dari hukumun yang telah ditetapkan. Jika hukum kedua yang muncul di bawah naungan syafaatlah yang adil maka hukum pertama bertentangan dengan hal itu. Maka akan muncul dua kondisi:

1. Hendaknya kita menganggap bahwa Allah tidak adil karena telah mengeluarkan hukum pertama yang bertentangan dengan keadilan. Sedang kita tahu bahwa zat Allah maha suci dari hal itu.

2. Jika dikatakan Allah adil tapi ilmu dan pengetahuan Allah tidak memadai dan sekarang melalui jalan pemberian syafaat dan perantara ilmu alah mengalami perubahan. Dan kesimpulannya, hukum baru pun dinilai cukup adil. Pengandian ini juga salah karena ilmu Allah adalah zat Allah itu sendiri dan zat Allah tidak mengalami perubahan. Jika kita andaikan bahwa hukum pertama adalah keadilan itu sendiri dan hukum kedua bertentangan dengan itu dan hanya dikarenakan kecintaan kepada para pemberi syafaat Allah rela menginjaki keadilan itu dan kemudian memberikan hukum baru, maka pengandaian ini tidak sesuai dengan keadilan Ilahi. Maka menerima masalah syafaat akan membuat kita berhadapan dengan berbagai masalah sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh dalil akli.[1]
Jawaban untuk hal ini, harus dikatakan bahwa isykal ini muncul karena penulis mencampurbaurkan antara perubahan dalam ilmu dan iradah ilahi dengan perubahan dalam (obyek) maudhu’, ma’lum (sesuatu yang jelas) dan maksud (murad). Yang harus diketahui bahwa yang berubah adalah kondisi orang yang berdosa, bahwa ia telah berubah sehingga ia layak mendapatkan rahmat Ilahi. Tidak lebih dari itu. Jadi ilmu dan iradah Ilahi tidak mengalami perubahan sama sekali. Masalah syafaat sama seperti masalah taubah yang mana ketika berhadapan dengan dua obyek yang berbeda, Allah menunjukkan dua iradah yang berbeda tapi keduanya sesuai. Pertama memnghukum pendosa dan kedua, mengampunkan dosa orang yang bertaubat. Jadi Allah memiliki dua iradah dan Allah tahu bahwa orang yang berbuat dosa ini akan berubah dan ia akan masuk dalam iradah Allah yang kedua. Maka ilmu dan iradah Allah tidak berubah tetapi ada dua iradah yang berbeda berhubungan dengan dua obyek yang berbeda dan keduanya tidak saling bertentangan. Bahkan keduanya adalah keadilan Allah itu sendiri.
Oleh karena itu ilmu dan iradah Allah tidak berubah tetapi ilmu dan iradah baru melingkupi masalah yang baru. Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa saat malam tiba maka kegelapan akan menyelimuti seluruh t empat. Berdasarkan ilmu ini kita memiliki iradah untuk menggunakan peralatan alektrik seperti lampu. Dan setelah terbitnya matahari kita akan mematikan lampu. Dalam contoh ini, kita memiliki dua ilmu malam tidak memiliki cahaya dan siang memiliki cahaya. Dan berdasarkan ilmu ini kita telah memilih dua iradah dan pekerjaan: ketika malam kita menyalakan lampu dan siang hari ita mematikannya. Dalam contoh ini ilmu dan iradah kedua dengan ilmu dan iradah pertama tidaklah berada dalam posisi saling bertentangan, bahkan sesuai dengan kondis kedua obyek yang berbeda. Tidak bisa kita sebutkan bahwa bayangan yang kita lihat dari jauh adalah pohon. Ketika kita mendekatinya baru kita menyadari bahwa kita salah dan bayangan itu bukanlah pohon tetapi hewan. Di sinilah terjadi pertentangan antara ilmu yang kedua dengan ilmu yang pertama.[2]

Semua masalah yang berkaitan dengan syafaat pasti. Sejak zaman azali Allah tahu bahwa si fulan akan memiliki berbagai kondisi dan berdasarkan kondisi itu terbentuklah iradah khusus tentangnya. Oleh karena itu terciptalah iradah yang berbeda berdasarkan banyaknya perubahan obyek. Maka ilmu pertama Allah dan iradah-Nya tidak mengalami kesalahan dan perubahan tetapi setiap ilmu Allah tentang obyek adalah benar dan setiap iradah sekaitan dengan obyek adalah penuh hikmah dan memiliki maslahat.[3]
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Al-Manar, Rasyid Ridha, Mesir, Darul Manar, 1373 H, cetakan IV, jilid 1, hal. 308.
2. Tafsir Mizan, jilid 1, hal. 65.
3. Mansyur-e Jawid, jilid 8, hal. 97-98.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
10+3 =