Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah keyakinan agama Majusi, siapakah nabinya dan apa nama kitab sucinya?


Jawaban:

Sebagian besar ahli sejarah menyatakan bahwa Zoroaster adalah nabi kaum Majusi dan kitab sucinya adalah Avesta. Mas’udi menulis: “Zoroaster telah muncul di kota Balkh...Ia adalah orang Azarbaijan...Ia adalah nabi bagi kaum Majusi dan membawa kitab suci untuk mereka”. Menurut orang awam, kitab itu bernama Zamzamah. Tapi menurut kaum Majusi, kitab itu bernama Avesta.[1]

Dinwari juga menukil; Dikatakan bahwa Zoroaster, nabinya kaum Majusi, menemui Raja Gustap dan berkata: “Aku adalah nabi utusan Allah. Ia menyerahkan kitab suci kaum Majusi itu kepada sang Raja. Raja akhirnya beriman kepada Zoroaster dan memaksa rakyatnya untuk memeluk agama itu dan rakyat menerimanya dengan senang hati atau terpaksa”.[2]

Lama setelah itu, sebagian orientalis mengakui bahwa agama Majusi adalah ajaran Zoroaster dan nabinya bernama Zoroaster sedang kitabnya bernama Avesta. Mereka menyangka bahwa Zoroaster adalah nabi pertama yang membawa ajaran Tauhid di kalangan orang Iran. Sebagaimana penslis buku Tarikh-e Boston menulis: “Masyarakat awam Iran telah menyembah berbagi tuhan...namun pada abad keenam sebelum Masehi, muncullah seorang pemimpin ruhani besar bernama Zoroaster di kota Medes dan membawa agama yang menang, berakhlak dan bersumber pada tauhid”.[3]

Mengenai agama orang-orang Iran sebelum kemunculan Zoroaster, Jhon B.N menulis: ...kepercayaan umum masyarakat Iran dalam era kuno adalah sama dengan kepercayaan yang terdapat dalam kitab Veda dan mereka menyembah pencipta kekuatan yang mereka sebut dengan jin.[4]

Tentang kemunculan Zoroaster, ia berkata: Agama yang diajarkan oleh nabi Iran ini adalah sebuah ajaran tentang akhlak dan tauhid. Ia laksana Musa, nabi orang-orang Ibrani, yang membawa ajaran baru. Meskipun ia tetap menjadikan sebagian keyakinan kuno sebagai sumber ajarannya...[5]

Jawaban yang diberikan oleh para sejarawan islam tentang esensi ajaran Manjusi dan kemudian diterima oleh para orientalis tidak sesuai dengan sebagian bukti sejarah danmasih terus dipertanyakan apakah jika ajaran Majusi adalah ajaran Zoroaster itu sendiri, mengapa ia tetap dinamakan ajaran Majusi?

Kenyataannya adalah bahwa tidak ada dalil yang jelas tentang kesesuaian antara panamaan Majusi pada ajaran Zoroaster. Dan anggapan sebagian sejarawan islam dan beberapa orientalis bahwa ajaran Majusi sama dengan ajaran Zoroaster merupakan hasil dari laporan sejarah yang salah dan tidak adanya sumber utama dari kedua ajaran ini. Namun, dengan merujuk pada sumber hadis Syiah dan riwayat para Imam as, kita akan menemukan bahwa mereka telah menetapkan perbedaan antara kedua kelompok ini dan mencegah masyarakat agar tidak menganggap kedua ajaran ini sebagai satu agama yang sama. Sebgai contoh, terdapat sebuah riwayat panjang tentang pertanyaan seorang zindiq kepada Imam Shadiq as tentang berbagai hal. Ketika ia bertanya tentang nabinya kaum Majusi, Imam Shadiq as bersabda:
وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خلَا فِيهَا نَذِير[6]ٌ : “Tidak ada satu kaum pun yang tidak memiliki seorang pemberi petunjuk yang merupakan utusan Allah”. Kaum Majusi juga telah diutus seorang nabi yang membawa sebuah kitab suci. Tetapi mereka mendustakannya dan mengingkari kitabnya.

Zindiq bertanya: “Apakah nabinya adalah Khalid bin Sinan”? Beliau menjawab: “Khalid tak lain lain adalah seorang Arab Badui dan bukanlah seorang nabi”. Zindiq bertanya: “Apakah Zoroaster adalah nabinya kaum Majusi”? Imam bersabda: “Zoroaster muncul di antara kaum Majusi dengan membawa kitab Zamzamah dan mengaku sebagai nabi. Sebagian kaum Majusi menyakininya dan sebgain lagi mengingkarinya bahkan mengusirnya sampai akhirnya Zoroaster dibunuh oleh binatang buas di padang pasir”.[7]

Dalam hadis ini, Imam Shadiq as telah meletakkan perbedaan antara Majusi dan ajaran Zoroaster dan bersabda bahwa kaum Majusi juga memiliki nabi; tapi lanjutan hadis menunjukkan bahwa nabi mereka bukanlah Khalid bin Sinan atau Zoroaster, tapi orang lain lagi.

Dalam hadis lain, Imam Shadiq as bersabda: “Kaum Majusi memiliki seorang nabi yang telah mereka bunuh dan mereka bakar kitabnya. Kitab yang telah ditulis sang nabi di atas 12 ribu lembar kulit sapi disampaikan kepada kaumnya dan kitab itu diberi nama Jamasab”.[8]

Menurut kedua hadis di atas dan hadis-hadis lain yang terdapat dalam kitab-kitab hadis Syiah,[9] Zoroaster bukanlah pendiri agama Majusi dan agama mereka telah disampaikan oleh nabi yang lain. Dengan kata lain, ajaran Majusi tidak memiliki nabi bernama Zoroaster dan tidak memiliki kitab suci bernama Avesta. Agama Majusi dan Zoraster bukanlah agama yang sama (bukan sinonim), oleh karena itu kita tidak bisa menganggap Zoroaster juga sebagai ahli kitab dikarenakan rasulullah saww dan para Imam telah menganggap kaum Majusi sebagai ahli kitab.

Ketidaksamaan Majusi dan Zoroaster juga telah diterima dan diakui dalam sumber lain, sebagaimana pengarang Tajul Arus menulis: “...Majus memiliki wazn sabur adalah seorang pria yang memiliki telinga kecil dan telah menetapkan sebuah agama untuk masyarakatnya. Ia mengajak masyarakatnya untuk memeluk agama itu sehingga sebagian orang menyangka bahwa Zoroaster bukanlah orang Perisa; sebab Zoroaster muncul setelah Ibrahim sedangkan Majusi adalah agama kuno dan Zoroaster yang kemudian memperbarui dan mengubahnya. Kata Majus adalah turunan dari manj gusy (biji telinga)”.[10]

Dari kalangan orientalis, seperti pengarang buku Dinha-ye Iran-e Bastan juga menulis: “...telah dipastikan bahwa sebuah agama tauhid telah ada jauh sebelum munculnya Zoroaster. Bahkan setelah munculnya Zoroaster agama tauhid tetap langgeng tanpa bersentuhan sedikitpun dengan agama Zoroaster. Aku meletakkan perbedaan antara agama tauhid dan agama Zoroaster yang hanya membahas satu sisi saja dari agama tauhid”.[11]

Sesuai dengan pernyataan pengarang Tajul Arusy dan Dinha-ye Iran-e Bastan, Zoroaster adalah seorang reformis di kalangan Majusi. Sedang ajaran Zoroaster bersumber dari ajaran Majusi yang kemudian terus berkembang dengan berlalunya waktu. Dan akhirnya ajaran Zoroaster menjadi pengganti ajaran Majusi dan ajaran itulah yang dianggap mewakili agama Majusi. Oleh karena itu, banyak keyakinan dasar dalam agama Zoroaster bersumber dari ajaran Majusi dan untuk membahasnya, kita tidak boleh lalai dari agama Majusi. Namun kedekatan kedua agama ini tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk menganggap bahwa Zoroaster adalah seorang nabi dan Avesta adalah kitab sucinya.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Ali bin Husain bin Ali Mas’udi, Murawwij Zahab, jilid 1, hal. 237, Penelitian Abdul Amir Ali Muhimmina, Muassasah Ilmi, Beirut, 1411 H. Q.
2. Abu Hanifah Ahmad bin Dawud Dinwari, Akhbar Tawal, hal. 49, terjemahan Mahmud Mahdawi Damghani, tanpa nama penerbit, cetakan ketiga, 1368.
3. Charles Alexander Robinson, Tarikh-e Boston, hal. 214, Terjemahan Ismail Daulati Syahi, Intisyarat va Amuzes-e Inqilab-e Islami, cetakan awal, 1370.
4. Jhon B. N, Tarikh-e Jami-e Adiyan, ha. 450, terjemahan Ali Ashgar Hikmat, Intisyarat va Amuzs-e Inqilab-e Islami, cetakan kelima, 1370.
5. Idem, hal. 454.
6. Fathir, 24.
7. Allamah Muhammad Baqir Majlisi, Biharul Anwar, jilid 10, hal. 179, Beirut, Darul Ahya Tirasul Arabi, cetakan 3, 1403 H. Q, dan Ahmad bin Ali Tabharsi, Ihtijaj, Intisyarat Uswah, cetakan 2, jilid 2, hal. 236.
8. Syaikh Muhammad bin Hasan Thusi, At-Tahzib, Beirut, Darutta’arif lil Matbu’at, 1412, jilid 6, hal. 175.
9. Syaikh Hur Amili, Wasail Syiah, Muassasah ali Bait, cetakan dua, 1414, jilid 29, hal. 222.
10. Sayyid Muhammad Murthada Husaini, Tajul Arus, penelitian Muhamamd Tahani, Darul Hidayah, 139 Q, jilid 16, hal. 495.
11. Henric Samuel Neighbour, Dinha-ye Iran-e Bastan, terjemahan Syaifuddin Najm-e Abadi, Tehran, Markaz Irani Mutale’e-ye Farhang-giha, Tehran, 1359, hal. 25.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+3 =