Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah kepercayaan Zoroaster juga merupakan bagian dari agama-agama samawi?


Jawaban:

Jawaban pertanyaan di atas tergantung pada jawaban dari pertanyaan lain. Yaitu pertanyaan apakah kepercayaan Majusi juga merupakan agama samawi atau tidak. karena kepercayaan Zoroaster dan Majusi terdapat hubungan yang snagat erat. Tanpa memisahkan keduanya maka akan sulit untuk menentukan apakah kedua kepercayaan itu termasuk agama samawi atau tidak.

Sejarah awal Islam memperlihatkan bahwa pertanyaan tentang samawi atau tidaknya sebuah kepercayaan di antara muslimin dimulai ketika Rasulullah saww, berdasarkan firman Ilahi, membagi kelompok non muslim dalam dua bagian setelah beliau menetapkan landasan pemerintahan islami di Madinah dan mulai meluasnya daerah perbatasan pemerintahan yang baru ini.Dalam menghadapi kedua kelompok ini, terdapat dua langkah yang berbeda dalam menjalin hubungan dengan mereka:

Kelompok pertama adalah kaum musyrikin. Mereka menyekutukan Allah dan membuat berhala yang kemudian mereka sembah. Rasulullah saww telah berdakwah pada kelompok ini untuk memeluk agama Islam. Jika mereka tidak menerima dakwah Rasulullah saww maka sesuai perintah allah, beliau berperang dengan mereka.[1]

Kelompok kedua adalah mereka yang telah disebut Qur’an sebagai ahli kitab yang mengaku bahwa telah turun kitab suci dari sisi Allah untuk mereka dan Qur’an sendiri mengakui kitab suci yang turun itu. Oleh karena itu, Rasulullah saww memiliki cara tersendiri ketika berhadapan dengan mereka. Yakni, setelah Rasulullah saww berdakwah kepada mereka agar mereka memeluk Islam. Jika mereka tidak menerima dakwah Rasulullah saww maka mereka tidak boleh memrangi kaum muslim dan sesuai perintah Ilahi, beliau cukup mengambil jizyah (upeti) dari mereka.[2]

Dari perbedaan dalam menghadapi kaum musyrik dan ahli kitab inilah akhirnya timbul soal, siapakah sebenarnya yang disebut sebagai ahli kitab? Dengan memperhatikan ayat 14 surah Haj yang telah membagi masyarakat dalam 3 kelompok: mukminin, ahli kitab dan musyrikin, pertanyaan ini setidaknya telah cukup terjawab. Allah swt bersabda: “Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat”.[3]

Menurut ayat ini, orang-orang Yahudi, Masihi, Shaabi-in dan Majusi bukanlah bagian dari musyrikin tapi termasuk dalam golongan ahli kitab. Dan sunnah rasulullah saww juga telah menunjukkan bahwa Rasulullah saww telah menghadapi keempat kelompok ini sesuai dengan hukum ahli kitab yang jika mereka tidak menerima Islam maka mereka harus membayar jizyah (upeti).

Dengan adanya kitab Taurat dan Injil maka kita dapat dengan mudah menerima mereka sebagai ahli kitab. Namun kita akan sulit menerima Shabi-in sebagai ahli kitab, khususnya Majusi yang merupakan agama resmi kerajaan Sasania pada masa Emperatur Iran.[4] Sebab penduduk jazirah Arab tidak pernah melihat adanya kitab yang diyakini kaum Majusi. Di sisi lain, mereka lebih melihat Majusi sebagai agama yang menyembah dua tuhan dan tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa agama Majusi adalah agama samawi dan agama tauhid. Oleh karena itu, muncullah pertanyaan di kalangan muslimin dan kalangan lainnya di Jazirah Arab, apakah Majusi adalah agama samawi dan memiliki kitab suci? Masalah ini menyebabkan sebagian musyrikin berusaha untuk memanfaatkan keberadaan Majusi dalam hal jizyah (upeti) meskipun menurut mereka Majusi adalah penyembah dua tuhan dan tergolong pada musyrikin. Maka musyrikin mengirim surat kepada Rasulullah saww dan meminta beliau untuk mengambil jizyah juga dari kaum Musyrik dan membiarkan mereka bebas melakukan penyembahan. Rasulullah saww mengirimkan jawaban bahwa beliau tidak akan menerima jizyah dari selain ahli kitab. Dalam jawabannya keada Rasulullah saww, kaum Musyrik menulis: “Kau berkata bahwa kau tidak akan mengambil jizyah dari selain ahli kitab padahal kau mengambil jizyah[5] dari kaum Majusi Hajar”.[6] Rasulullah menjawab: “Agama Majusi memiliki nabi yang telah dibunuh dan memiliki kitab suci yang telah ditulis di atas 12 ribu kulit sapi. Tapi kitab suci itu telah dibakar”.[7]

Setelah wafatnya Rasulullah saww, sebagian pendukung Khulafa tidak mampu mempercayai bahwa kaum Majusi adalah golongan ahli kitab sehingga mereka berusaha mengeluarkan mereka dari kategori ahli kitab. Tapi pada akhirnya Khulafa melakukan perbuatan yang terhadap kaum Majusi sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rsulullah saww dan hanya mengambil jizyah dari mereka.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Taubah: 5.
2. Taubah: 29.
3. Haj: 17.
4. Murthada Muthahhari, majmu’e Asar, Khidmat Mutaqabel-e Islam va ran, Tehran, Intisyarat Shadra, cetakan ketiga, 1377, jilid 14, hal. 157.
5. Hajar adalah ibukota Bahrain yang terletak di timur laut Jazirah Arab dan bagian barat daya Teluk Persia.
6. Siqqatul Islam Kulaini, Al-Kafi, jilid 4, hala. 14, sesuai nukilan dari CD Nur 2.
7. Idem.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
9+2 =