Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah Imam Sajjad as ikut serta dalam berbagai perlawanan yang terjadi di zamannya? Jika jawabnya tidak, mengapa?


Jawaban:

Yang membedakan metode para Imam as berkaitan dengan masalah sosial politik adalah kondisi dan tuntutan yang ada di zaman mereka. Bukan disebabkan perbedaan pemahaman mereka terhadap masalah politik dan bukan karena perbedaan ilmiah, kekuatan jasamani atau kekuatan rohani.[1]

Pada zaman Imam Sajjad as terjadi beberapa perlawanan syiah dan Imam sama sekali tidak ikut serta secara langsung di dalamnya. Sebab ketidakikutsertaan Imam Sajjad as adalah:

1. Situasi dan kondisi yang sangat rawan pada masa itu.

Masa Imam Sajajd as adalah masa keputusasaan dari perjuangan bersenjata dan merupakan periode pemerintahan yang paling kelam dalam sejarah Islam. Tidak ada satu pun masa seperti masa Imam Sajjad yang mengalami guncangan luar biasa dalam bidang politik, sosial dan ekonomi. Pada masa itu, peristiwa tragis yang terjadi telah menghilangkan ketenangan dan keamanan. Kecemasan selalu mencekam dan harapan untuk hidup dengan kemuliaan telah hilang. Pemerintahan Umawi telah menunjukkan kezaliman dan kekejian yang luar biasa. Para penguasa yang otoriter dan haus darah seperti Abdul Malik, Hajaj dengan seenaknya menghina kesucian Islam dan tidak ada seorang pun yang berani memprotes mereka.

Abdul Malik berkata: “Demi Allah! Mulai saat ini, aku akan memenggal siapa saja yang mengajakku untuk bertakwa. Seorang wanita bernama Ummu Darra berkata kepadanya: Aku dengar kau minumarak setelah selesai beribadah?! Abdul Malik berkata: Bukan hanya arak, aku juga meminum darah rakyat.[2]

Mas’udi menulis: “Hajaj adalah salah satu pegawai Abdul Malik. Selama 20 tahun memerintah, para pelaku eksekusinya telah membunuh 20 ribu orang”.[3]Ya, kehidupan politik pada zaman Imam Sajjad as sangat mengkhawatirkan. Ketakutan dan kengerian mencekam semua penduduk. Para penguasa Umawi hanya menuruti keinginan sendiri dan tidak aka satu pun hukum yang berlaku bagi mereka. Yang menjadi poros pemerintahan mereka adalah perasaan para raja, keinginan para mentri dan orang-orang di sekitar mereka. Ciri-ciri utama pemerintahan Umawi adalah kekejaman politik dan mereka telah menjadikan kekejaman itu sebagai kebiasaan khusus pemerintahannya.

Imam sajjad as berada di dua jalan yang sulit; apakah bergerak membangkitkan kegemparan dan perasaan dan menciptakan peristiwa yang penuh dengan semangat. Atau beliau mengendalikan perasaan itu dengan baik dan menjaga kehidupan agama Islam, diri dan para pengikutnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa jalan pertama adalah jalan pengorbanan tetapi bagiseorang pemimpin ilahi pengorbanan saja tidak cukup. Pemimpin haru memiliki pandangan yang dalam, sabar dan memperhatikan setiap efek yang timbul dari langkah yang diambil. Dengan melihat situasi dan kondisi mencekam saat itu, Imam Sajjad as mampu memperkirakan bahwa semua perlawana yang bersenjata yang dilakukan pasti akan mengalami kekalahan.[4] Oleh karena itu, Imam memilih jalan kedua.

Jelaslah bahwa pada masa itu jiwa Imam dan orang-orang syiah berada dalam bahaya besar. Bahkan gerakan terkecil Imam dalam masalah keluarga sekalipun tidak tertutup dari mata-mata penguasa.

Sepanjang hidupnya, Imam Sajjad as sangat terluka lebih dari siapapun dikarenakan kezaliman penguasa. Dengan memahami situasi yang pahit dan tidak menyenangkan ini, Imam berdoa kepada Allah swt:

Betapa banyak musuh yang menghunus pedangnya menentangku, menajamkan pedangya untukku, racun-racun untukku telah dituangkan dalam cawan. Aku dijadikan serbuan panah-panah mereka. Mata-mata selalu mengawasiku agar mereka dapat melukaiku...[5]

2. Tidak memiliki pasukan yang jujur.

Salah satu faktor mengapa Imam tidak ikut serta dalam berbagai perlawanan Syiah adalah ketiadaan pasukan yang jujur, ikhlas, kuat dan dipercaya. Dalam berbagai krisis yang serius sedikit sekali orang yang tidak meninggalkan Imam sendirian. Saat mengisyaratkan kondisi ini, Imam Sajjad as bersabda: Di seluruh Mekkah dan Madinah hanya ada 20 orang yang menyayangi kami.[6]

3. Esensi politik dan akidah perlawanan.

Kesalahan besar perlawanan-perlawanan ini adalah tidak adanya perbandingan antara kenyataan dan kondisi yang tidak sesuai, minimnya manajemen dan cepat terpengaruh peristiwa yang terjadi. Dari sisi akidah, perlawanan ini juga tidak bisa disebut sebagai perlawanan asli syiah; sebab orang-orang seperti Abdullah bin Zubair telah berhasil mempengaruhi dan menguasai pasukan. Dan Imam tidak ingin orang seperti Abdullah bin Zubair yang haus kekausaan menjadi jembatan bagi kemenangan Imam. Maka, sebagain penyelewengan dan kesalahan politik maupun akidah di antara para pejuang perlawanan, seperti tidak meminta pendapat Imam Sajad as tetapi meminta pendapat Muhammad bin Hanafiah, membuat Imam mencegah diri untuk mengadakan hubungan langsung dan menolong mereka 100 persen. Imam as memang tidak membantu Perlawanan Madinah tetapi Imam as membantu perlawanan Mukhtar. Namun, karena Imam mengkhawatirkan efek dan akibat dari perlawanan ini, Imam tidak terang-terangan membantunya. Lebih dari yang lainnya, Imam Sajajd as adalah orang yang paling banyak mengecap kezaliman yang dilakukan penguasa, beliau adalah orang yang tetap tegar mempertahankan nilai-nilai Islam ketika berada di tempat Yazid yang kejam, beliau sangat sabar meski rantai-rantai besi mengikat tubuhnya, beliau yang ketika diancam oleh Ubaidalah malah berkata: Wahai ibnu Marjanah! Kau menakutiku dengan kematian?! Apakah kau tidak tahu bahwa mati di jalan agama adalah kebiasaan kami dan syahid di jalan Allah adalah kemuliaan keluarga kami?

Meskipun Imam Sajjad as tidak mengikuti perlawanan secara langsung, tetapi dengan ruh seperti ini Imam sebenarnya tidak seratus persen keluar dari percaturan politik. Ketika Imam Sajjad as merasakan bahwa pihak luar merendahkan kemuliaan Islam dan ummat, Imam tidak pernah meninggalkan langkah kecil apa pun untuk mencegahnya.

Dengan membimbing dan mendidik ummat dari sisi sosial serta perjuangan tidak langsung, Imam memulai aktivitasnya tanpa menyulut kecemasan penguasa sedikitpun:

1. Membela kemuliaan Islam di hadapan pihak luar.
2. Melanjutkan perjuangan dengan tagisan untuk para syuhada, menghidupkan kenangan mereka dan mengingatkan kembali tragedi Karbala yang mampu mengingatkan ummat kembali akan kezaliman dan kekejian yang dilakukan oleh pemerintahan Umawi.
3. Mendidik dan membimbing ummat dengan cara yang bijaksana dan cerdik sebab selain memiliki efek negatif bagi institusi penguasa tetapi sama sekali tidak menyulut perlakuan kejam mereka.
4. Menjelaskan pnegetahuan dan ajaran nislam dalam doa dan nasehat.

Karena Imam Sajajd as hidup dalam masa yang begitu mencekik sehingga tidak bisa menyampaikan pendapatnya terang-terangan, maka Imam menggunakan metode nasehat. Dan ini merupakan cara terbaik dalam menyebarkan pikiran dan pendapat beliau pada masa itu.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Imam Sajjad, Jamil Setayesgaran, penelitian grup sejarah, Intisyarat Ustan Quds Razawi, hal. 99.
2. Suyuthi,Tarikh Khulafa, Bahgdad, Maktabah Musanna, hal. 217.
3. Mas’udi, Marwajuz Zihab, Beirut, darul Andalus, jilid 3, hal. 36.
4. Sayyid Ali Khamene’i, Piswa-ye Shadiq, Tehran, Intisyarat Sayyid Jamal. Hal. 24.
5. Sahifah Sajjadiyah, doa ke-48.
6. Allamah Majlisi, Biharul Anwar, Maktabah Islamiah, jilid 46, hal. 143.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
4+6 =