Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa yang dimaksud dengan tahaddi (تحدی)? Apakah tahaddi adalah hal yang sering dilakukan di kalangan orang Arab sebelum datangnya al-Qur’an?


Jawaban:

sebelum membahas lebih jauh haruslah diperhatikan bahwa salah satu cara untuk mengetahui kebenaran klaim seseorang adalah bahwa pengklaim mampu membawakan dalil yang membenarkan klaimnya. Semakin penting klaim yang disebutkan maka dalil dan buktinya harus semakin kuat. Rasulullah saww telah membawakan berbagai dalil dan bukti bagi kebenaran dakwahnya selama bertahun-tahun yang oleh al-Qur’an disebut sebagai ayat[1] dan bayyinah[2]. Dan kemudian masyarakatlah yang menyebutnya sebagai mukjizat dan para penentang dakwah rasulullah diajak untuk berkompetisi dan membawa surah semisal al-Qur’an.

Jenis mukjizat tergantung kondisi zaman dan tempat di mana nabi berada. Imam Ridha as, saat menganalisa berbagai mukjizat para nabi bersabda:

Ketika Allah mengutus Musa as, sihir dan para penyihir cukup berkuasa pada saat itu. Oleh karena itu Allah mengirimkan sesutu kepada mereka yang berada di luar kemampuan mereka dan mengalahkan para penyihir itu serta menyempurnakan hujjah-Nya. Ketika Isa as diutus, pada saat itu terdapat penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan masyarakat membutuhkan tabib. Allah mengirimkan sesuatu kepada mereka yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Allah menghidupkan kembali orang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang menderita penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dan Allah telah menyempurnakan hujjatnya kepada masyarakat. Allah swt mengutus Muhammad saww ketika khutbah dan ucapan yang menawan serta fasih dan baligh cukup berkembang di saat itu. Allah mengirimkan kepada mereka nasehat dan hikmah yang menduduki puncak dan kebalighan untuk membatalkan ucapan mereka dan menyempurnakan hujjat pada masyarakat.[3]

Sebelum masuk ke dalam pembahasan inti, maka sebaiknya kita mengetahui makna tahaddi secara etimologis dan terminologis.

Tahaddi secara etimologis dan terminologis.

Secara etimologis, tahaddi berarti menginginkan perang dan kesamaan[4] dan secara terminologis adalah seseorang yang mengajak orang lain untuk membawa sesuatu yang sama seperti apa yang diucapkannya, dilakukannya attau yang dituliskannya. Salah satu rukun mukjizat al-Qur’an adalah tahaddi maksudnya pengklaim kenabian harus mengajak orang lain untuk berkompetisi membawa yang semisal dengan mukjizat yang dimilikinya. Tahaddi terdiri atas qiyas dan burhan, dengan penjelasan sebagai berikut:
Jika kitab suci ini bukan kalam Allah, maka berarti ia adalah kalam manusia. Jika memang kalam manusia dan kalian adalah manusia, hendaklah kalian juga bisa membawa kalam yang semisal dengan al-Qur’an. Jika kalian mampu membawa yang semisalnya, maka terbuktilah bahwa ia adalah kalam manusia. Dan jika kalian tidak mampu, maka jelaslah bahwa ia bukan kalam manusia dan merupakan sebuah mukjizat yang berfungsi sebagai bukti kenabian dan kerasulan pembawa kalam.[5]

Adanya Motif untuk Membawa yang semisal al-Qur’an.

Para penentang al-Qur’an memiliki motif yang paling besar dalam usaha membawakan yang semisal dengan al-Qur’an. Mereka adalah orang-orang yang fasih dan baligh tetapi mereka sangat ta’assub dengan adab dan kebiasaan mereka, terutama kebudayaan menyembah berhala, kesukuan, keras kepala dan sombong. Al-Qur’an menyebutkan bahwa adab dan kebiasaan mereka itu tidak benar,[6] dan menganggap perbuatan menyembah berhala sebagai perbuatan yang berbau khurafat[7] serta menyalahkan kesombongan mereka.[8] Ayat tahaddi juga memberikan semangat kepada mereka untuk membawa yang semisal dengan al-Qur’an sedang al-Qur’an menghubungkan kebahagiaan dan keselamatan abadi dengan menerima atau menolak al-Qur’an,[9] semangat untuk mencari bantuan dari mana saja yang dapat membantu menciptakan yang semisal dengan al-Qur’an,[10]dugaan sebagai pembohong di saat mereka tidak mampu membawa yang semisal dengan al-Qur’an[11] dan puluhan motif lainnya.[12]

Kegagalan para Penentang untuk Membawakan yang semisal al-Qur’an.

Berbagai kitab sejarah dan ilmu Qur’an telah menyebutkan bebrapa orang yang berusaha membawakan yang semisal dengan al-Qur’an. Tetapi mereka sendiri memahami kemukjizatan al-Qur’an ketika meneliti al-Qur’an. Tetapi dengan contoh yang mereka berikan membuat mereka menjadi malu karena telah membuktikan ketidakmampuan manusia untuk membawakan yang semisal dengan al-Qur’an. Ajakan untuk membawakan yang semisal dengan al-Qur’an adalah tahaddi universal dan abadi. Sampai saat ini pun, tahaddi ini masih berlaku dan sebagai ganti berbagai perang politik, ekonomi dan lain sebagainya, para penentang memenuhi tahaddi al-Qur’an tersebut.[13]

Kebiasaan Tahaddi di kalangan Arab.

Pada saat al-Qur’an turun, kafasihan dan kebalighan bahasa telah mencapai puncaknya sehingga para penyair berkumpul di pasar Akaza dan membacakan syair indahnya. Tujuh syair terbaik akan dipilih dan digantungkan di dinding Ka’bah (dikenal sebagai Muallaqat Sab’a). Dalam hal ini, salah satu ilmuwan berkata: Bangsa Arab memiliki kebiasaan menantang orang lain untuk mengalahkan kasidah atau syairnya. Al-Qur’an juga menggunakan kebiasaan ini dan menantang orang lain untuk membawakan yang semisal dengannya atau sebagia dari al-Qur’an. Tapi al-Qur’an menyebutkan bahwa manusia tidak akan mampu melakukannya.[14]

Contoh tahaddi yang biasa dilakukan bangsa Arab dapat dilihat dalam syair kuno miliki Tamim bin Muqbal:

اذا مت عن ذکر القوافی فلن تری
لها قائلا بعدی اطب و اشعر

Jika mulutku tidak lagi mengucapkan syair, maka kalian tidak akan menemukan orang yang lebih mahir mengucapkan syair selain aku, dan tidak ada penyair yang lebih ahli dari aku.[15]
Walid bin Mughairah Fakr makzhumi, yang dikenal sebagai orang terfasih di kalangan Arab, meskipun sangat menentang dan membenci Rasulullah saww, terpaksa mengakui bahwa al-Qur’an lebih tinggi dari kalam manusia.

Tentang kalam Allah yang dibacakan oleh Rasulullah saww, ia berkata: Kata-katanya membawa kemanisan tersendiri, keindahan dan kesegaran luar biasa, cabang-cabangnya penuh dengan buah dan akarnya sangat kokoh, ucapan yang lebih tinggi dari ucapan lainnya dan tidak ada ucapan yang mampu mengalahkannya.[16]

Allamah Shadr Balaghi dalam mukaddimah tafsir kitab tafsirnya menyebutkan bahwa aspek inilah yang lebih jelas bagi bagsa Arab saat itu akan kemukjizatan al-Qur’an dibanding aspek lainnya.[17]

Dalam hal ini, Sayyid Quthub berkata; Usaha terpentingku dalam bidang al-Qur’an adalah untuk menjelaskan aspek seni dan karakter sastra al-Qur’an dan menemukan ide-ide cemerlangnya. Menurutku, bangsa Arab pada awalnya memang tertarik pada kebesaran sastra al-Qur’an dan kalam indah ini telah mempengaruhi kedalam jiwa mereka dan membangkitkan jiwa mereka.[18]

Kesimpulannya adalah bahwa dakwah al-Qur’an untuk membawakan yang semisal dengannya adalah sebuah dakwah universal. Namun, meskipun bangsa Arab sangat fasih dan baligh sebelum turunnya al-Qur’an dan saling menantang sesamanya dalam syair dan khutbah, tetapi mereka tidak mampu membawa yang semisal al-Qur’an. Dan sampai saat ini, tidak ada seorang pun yang mampu melakukannya dan tidak akan ada yang mampu melakukannya.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Mukminun: 50 dan Isra: 101.
2. An’Am: 157.
3. Uyunu Akhbarur Rdha, dikutip dari Nashir Makarim Syirazi, Payam-e Qur’an, cetakan 2, Musim semi 74, jilid 8, hal. 115-116.
4. Ali Akbar Dahkhuda, Lughat nameh, Tehran, Instisyarat-e Danesygah Tehran, Musim semi 73, jilid 4, hal. 5660.
5. Jawdi Amuli, tafsir-e Muazu;i-ye Qur’an-e Karim, Qom, Intisyarat-e Isra, cetakan 1, 1378, hal. 138.
6. Shad: 2, Maryam: 97.
7. Najm: 23.
8. Haj: 9.
9. Baqarah: 24.
10. Isra: 88, hud: 13, Yunus: 39.
11. Baqarah: 25.
12. Silahkan rujuk Muhammad Taqi Misbah yazdi, Qur’an Syensi, Qom, Intisyarat-e Muassase-ye Amuzesyi va Parwares-e Imam Khomeini, cetakan 1, Musim semi 1376, jilid 1.
13. Idem, hal. 140,. Makarim Syirazi, idem: hal. 140. Muhammad hai Makrifat, Attamhid fi Ulumil Qur’an, Qom, Muassah an-Nasyr Islami, cetakan 1, 1416, jilid 4, hal. 227-261. Hasan rfan, E’jaz dar Qur’an Karim, Daftar-e Mutaleat-e Tarikh va Maaref-e Islami, cetakan 1, 1379.
14. Musthafa Shadiqurrafi’, I’jazul Qur’an wal balagunnubuwwah, Intisyarat Darul Kutubu Arabi, 1393, hal. 169. Muhammad Baqir Saiidi Rausyan, Mu’jezeh Syenasi, hal. 216-217
15. Silahkan rujuk: Syaikh Abdul Qhir Jarjani, Dalailu I’jaz fil Qur’an, terjemahan dan catatan pinggir Sayyid Mahmud Radmanesy, Intisyarat-e Quds-e Razawi, 1368, hal. 599-615.
16. Nashir Makarim Syirazi, idem, hal. 88. saiidi rausyan, idem, hal. 128-170.
17. Allamah Shad Balaghi , Tafsir Alaurrahman, mukaddimah, hal. 4.
18. Sayyid Quthub, Musyahidul Qiyamah fil Qur’an, Darussyuruq, 1415, hal. 9.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+10 =