Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa yang dimaksud dengan hijab? Dalam pandangan al-Qur’an dan hadist, hijab dan pakaian islami memiliki jenis dan dimensi apa saja?


Jawaban:

Dari sisi bahasa, hijab mempunyai makna penghalang, tirai dan pakaian.[1] Namun makna penutup lebih banyak digunakan dibanding dengan makna lainnya.[2]Dari sisi mafhum, kata ini memberikan makna pakaian karena tirai adalah sarana berpakaian. Tetapi setiap pakaian belum tentu hijab. Pakaian yang bisa disebut hijab adalah pakaian yang memang menutupi.[3]
Dalam tulisan ini yang dimaksud dengan hijab adalah pakaian islami wanita. Sebagai salah satu hukum Islam yang wajib, wanita harus menutupi dirinya ketika ia melakukan hubungan sosial dengan pria seraya menghindari segala bentuk pameran tubuh. Oleh karena itu, hijab sebagai pakaian wanita Islam mempuyai dimensi positif dan negatif. Dimensi positifnya adalah kewajiban menutupi badan dan dimensi negatifnya adalah adalah keharaman bagi wanita untuk menunjukan tubuh kepada selain muhrimnya. Kedua dimensi ini harus selalu berdampingan sehingga hijab islami ini bisa terwujud. Mungkin saja dimensi awal terwujud sedang dimensi kedua tidak ada, maka dalam hal ini tidak bisa dikatakan bahwa hijab islami telah terwujud.
Kita sering menyaksikan banyak sekali wanita berhijab yang memakai warna yang cerah, indah serta menarik perhatian yang memberikan keindahan khusus bagi tubuhnya. Dan ketika pakaian itu melekat di tubuh wanita, keindahan tubuhnya akan terlihat, bahkan seolah ia tidak memakai pakaian.[4] Pakaian seperti ini sangat jauh dari ruh hijab.
Jika secara umum, semua pakaian dan penghalang dari perbuatan dosa kita sebut sebagai hijab, maka hijab akan memiliki berbagai bagian dan perbedaan. Salah satu bagiannya adalah hijab pikiran dan ruh. Misalnya keyakinan terhadap ilmu islami seperti tauhid, nubuwwah merupakan salah satu mishdaq yang benar dari hijab pikiran dan ruh yang dapat mencegah kesalahan dan dosa pikiran atau ruh, seperti kufr dan syirik.
Selain itu, di dalam al-Qur’an disebutkan juga jenis lain dari hijab berupa prilaku manusia, seperti hijab dalam memandang yang telah dianjurkan kepada pria dan wanita ketika berhadapan dengan non muhrim.
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ [5]

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya".
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ [6]

Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka”.
Jenis lain dari hijab dalam Qur’an adalah hijab dalam ucapan wanita ketika berhadapan dengan non muhrim.
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ[7]

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya”.
Jenis lain dari hijab dalam Qur’an adalah hijab dalam prilaku wanita ketika berhadapan dengan non muhrim. Wanita telah diperintahkan untuk berjalan sedemikian rupa sehingga perhiasaan yang dipakainya tidak menarik perhatian lawan jenis.
وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ[8]

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan”.
Maka jelaslah bahwa maksud dari hijab islami adalah pakaian dan batasan yang ada dalam hubungan sosial wanita dan pria yang bukan muhrim, dalam berbagai bentuk berbeda seperti cara berpakaian, memandang, berbicara dan berjalan.
Oleh karena itu, hijab dan pakaian wanita pada hakikatnya merupakan penghalang dan penolak bagi wanita ketika berhadapan dengan pria non muhrim yang memiliki niat untuk mempengaruhi dan merusak kesucian wanita.
Mafhum penghalang dan penolak juga terdapat dalam akar kata iffah.[9] Oleh karena itu, dua kata hijab dan iffah memiliki arti yang sama sebagai penghalang dan penolak. Adapun perbedaan antara penghalang dan penolak dalam kata hijab dan iffah adalah seperti perbedaan zahir dan bathin. Yakni penghalang dan penolak hijab berkaitan dengan zahir sedang penghalang dan penolak dalam iffah berkaitan dengan bathin. Iffah adalah satu bentuk kondisi jiwa, dan dengan memperhatikan efek zahir pada bathin dan efek bathin pada zhahir, maka iffah merupakan salah satu karakteristik umum manusia.[10] Oleh karena itu antara hijab, pakaian zhahir, penolakan bathin pada manusia saling mempengaruhi yakni jika hijab dan pakaian zhahir semakin baik, maka hijab model ini akan memberikan efek yang lebih kuat dalam mendidik ruh bathin iffah. Sebaliknya jika iffah bathin semakin kuat maka hijab dan pakaian zhahir akan lebih baik ketika berhadapan dengan non muhrim. Al-Qur’an Majid telah menjelaskan dengan sangat indah tentang pengaruh ini.
Pertama Qur’an memberikan izin kepada para wanita tua untuk tidak memakai pakaian penutup seperti cadur dengan syarat tidak disertai niat tabarruj dan pamer ketika berhadapan dengan non muhrim. Namun pada akhirnya Qur’an berkata: Tapi jika kamu hendak mempertahankan iffah, jika pakaian semisal cadur pun tidak dilepaskan, hal itu akan lebih baik.
وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ[11]

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Selain hubungan di atas, terdapat hubungan tanda dan pemilik tanda, di antara pakaian zhahir dan iffah bathin. Maksudnya, ukuran hijab zhahir merupakan tanda dari tahap khusus dari iffah bathin pemakai hijab. Tapi ini tidak berarti bahwa setiap wanita yang memakai hijab dan pakaian zhahir pasti memiliki iffah dan kesucian.
Dengan memperhatikan poin-poin di atas, dapat diberikan jawaban yang jelas pada orang-orang yang mengajukan isykal dan menunjukkan kegagalan hijab, dengan mengambil contoh kesalahan yang dilakukan oleh sebagian wanita berhijab. Karena musykil wanita berhijab yang melakukan kesalahan adalah lemahnya hijab batin, iman dan kurangnya keyakinan terhadap efek positif hijab dan pakaian zhahir. Telah kami singgung bahwa hijab islami memiliki dimensi yang luas dan salah satu dimensi yang paling penting adalah hijab bathin dan pikiran yang akan membuat wanita memiliki iman dan akidah yang kuat ketika berhadapan dengan dosa. Sedang hijab pikiran ini merupakan fondasi utama hijab-hijab lainnya, misalnya hijab dan pakaian zhahir. Karena pikiran dan akidah manusialah yang menjadi penentu bagi tingkah lakunya.
Tentu saja, sebagaimana hijab dan pakaian zhahir tidak berarti bahwa sang wanita pemakai hijab memiliki semua tahapan iffah, adanya iffah tanpa memperhatikan pakaian zhahir juga tidak bisa dibayangkan. Wanita atau pria yang setengah telanjang atau telanjang tidak bisa dianggap memiliki iffah karena telah kita sebutkan bahwa pakaian zhahir adalah salah satu alamat dan pertanda keiffahan sedang di antara ukuran iffah dan hijab terdapat hubungan saling mempengaruhi.
Sebagian orang juga menganggap bahwa hubungan antara hijab dan iffah seperti hubungan antara akar dan buah. Maksudnya adalah bahwa hijab adalah buah dari iffah dan iffah adalah akar hijab. Mungkin saja sebagian orang memiliki hijab zhahir tetapi ia tidak mampu membangun iffah dan kesucian bathin. Dalam hal ini, maka hijabnya hanyalah penutup dan pakaian zhahir. Di sisi lain, ada orang yang selalu sibuk mengatakan bahwa ia memiliki iffah tapi tidak behijab, misalnya dengan berkata: Hatiku bersih dan Allah hanya berurusan dengan hati. Manusia seperti ini hendaklah memperhatikan poin penting ini dalam pikirannya bahwa bathin yang suci akan menumbuhkan zhahir yang suci pula. Tidak mungkin hati yang suci akan menghasilkan buah tidak suci seperti minus hijab.
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِدًا [12]

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana”.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Jauhari, Shihahul Lughah, الحجاب: الستر . Fayumi, Misbahul Munir, حجبه حجبا من باب قتل: منعه و منه قيل للستر الحجاب لانه يمنع المشاهده
2. Dalam Qur’an, kata ini telah disebutkan 8 kali dan lebih banyak memiliki makna penjaga, pencegah, penghalang dan tirai.
3. Ustad Muthahhari, Masaleye Hijab, hal. 78.
4. Allamah Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, majalah Payam-e Zan, (Jawan, Warzes wa Hijab), No. 74, hal. 19.
5. Surah Nur (24), ayat 30.
6. Idem, ayat 31.
7. Surah Ahzab(33), ayat 32.
8. Surah Nur (24), ayat 31.
9. العفه: الكف عما لا يحل و لا يجمل. ابن منظور لسان العرب
العفه: حصول حاله للنفس تمتنع بها عن غلبه الشهوه. راغب اصفهاني. معجم مفرادت الفاظ القرآن.
عف عن الشيئ: امتنع عنه. فيومي. المصباه المنير.
10. Silahkan rujuk: Khesru Baqiri, Negahi Dubar-e beTarbiyat-e Islami, tentang karakter umum manusia, hal. 66-73.
11. Surah Nur, ayat 60; Kami mengartikan siyab sebagai cadur karena di dalam berbagai riwayat siyab telah diartikan sebagai jilbab. Pada pmebahasan selanjutnya, akan jelas bahwa makna jilbab adalah cadur. Untuk lebih mengetahui riwayat yang mengartikan siyab dalam ayat itu sebagai cadur, silahkan rujuk: Wasail Syiah, juz 14, Bab Muqaddamah Nikah, bab110, bab Peraturan bagi Wanita.
12. Surah A’raf(7), ayat 58



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+10 =