Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa perbedaan antara metode pemerintahan Imam Zaman as dengan pemerintahan Imam yang lain pemerintahan Rasulullah saww. Kenapa?


Jawaban:

Banyak hadis yang menyebutkan bahwa metode Imam Mahdi as sama dengan metode kakeknya Rasulullah saww. Sebagai contoh, kami akan membawakan beberapa hdius:
Rasulullah saww bersabda: Salah satu ahli baitku akan bangkit dan akan melakukan sunnah dan caraku.[1]
Beliau bersabda: Qaim berasal dari keturunanku dan nama serta sebutannya sama denganku. Sikapnya seperti sikapku dan prilakunya seperti prilakuku. Ia akan mengajak ummat pada ketaatan, agamaku dan Qur’an.[2]
Salah satu sahabat Imam Shadiq as bernama Abdullah bin ‘Atha berkata: Aku bertanya kepada Imam: Seperti apakah cara dan metode Mahdi as? Imam bersabda: Ia akan melaksanakan cara dan metode yang sama yang telah dilakukan oleh Rasulullah saww.[3]
Namun dalam beberapa hadis kita juga membaca bahwa terdapat perbedaan antara cara dan metode bliau dengan Rasulullah saww. Hadis terseut antara lain:

1. Imam Shadiq as bersabda: Beliau membangun Islam mulai dari nol.[4]
2. Dari Imam Shadiq as, Abu Khadijah menukil: Ketika Qaim muncul, beliau akan datang dengan perintah yang baru sebagaimana Rasulullah saww dalam permulaan Islam membawa perintah yang baru.[5]
3. Imam Shadiq as bersabda: Ketika Qaim muncul maka akan muncul pula perintah baru, kitab baru, prilaku dan penghakiman yang baru yang dirasakan sulit bagi orang Arab.6
Ayatullah Ibrahim Amini, dalam tafsir tentang riwayat ini menulis bahwa: Pada masa ghaibat, banyak terjadi bid’ah danm ahkam Qur’an dan Islam telah ditakwilkan dan ditafsirkan sesuai dengan selera sendiri. Sangat banyak hudud dan ahkam dilupakan seolah-olah Islam tidak pernah ada sama sekali. Ketika Mahdi as muncul, beliau membatalkan semua bid’ah dan menghidupkan ahkam Allah sebagaimana telah diturunkan. Hudud Islam dilaksanakan dengan teliti. Jelaslah bahwa agenda seperti ini adalah sesuatu yang baru bagi masyarakat. Masyarakat yang telah meninggalkan rukun dan dasar islam yang kokoh hanya mencukupkan diri dengan islam secara zahir. Di pasar-pasar, gang-gang dan rumah-rumah tidak ditemukan asar Islam, akhlak dan aturan sosial masyarakat tidak bisa disebut berasal dari Islam. Mereka tidak memperdulikan sifat jelek bahkan menganggap hal-hal haram sebagai hal-hal yang boleh dengan berbagai dalil tipuan. Mereka hanya mencukupkan diri dengan membaca zahir Qur’an. Jika Imam Zaman as muncul dan berkata kepada mereka: Anda sekalian telah jauh dari hakikat Islam dan telah mntafsirkan dan mentakwilkan Qur’an dan hadis nabi bertentangan dengan hakikat yang sebenarnya. Mengapa kalian hanya mencukupkan diri dengan zahirnya, bukan dengan hakikatnya? Kalian tidak menyesuaikan amal dan perbuatan kalian dengan agama. Padahal kalian seharusknya melakanakan aturan akhlak dan sosial Islam dan tidak melaksanakan hal-hal yang bertentangan dengan yang wajib. Tinggalkanlah fulan bid’ah; maka agama yang demikian ini bagi mereka adalah sesuatu yang baru dan sangat menakutinya bahkan sama sekali menganggapnya bukan ajaran agama Islam. Karena mereka telah membayangkan Islam dalam bentuk yang lain.[7]

Berkaitan hal ini, Ayatullah Nashir Makarim Syirazi juga berkata: Jelaslah bahwa barunya agenda dan metode ini dikarenakan metode ini telah membawa mazhab baru bersama dirinya. Bahkan dengan mengeluarkan semua tumpukan khurafat, penyimpangan dan tafsir yang salah, sehingga seolah-olah muncul bangunan yang benar-benar bartu. Salah satu risalah beliau adalah menghiasi Islam atau dengan kata lain kembali membangun istana megah Islam yang keseluruhan bangunannya dalam telah banyak berubah baik dalam bidang akidah, akhlak, sosial, budaya dan politik sebagaimana yang telah disinyalir dalam riwayat bahwa bangunan baru itu diibaratkan sebagai agama baru. Penghakiman yang dilakukan bleiau berdasarkan aturan pengadilan Muhammad sawa, dawud as dan Sulaiman as. Hal ini mengisyaratkan poin penting bahwa beliau juga menggunakan timbangan lahiriah pengadilan Islam seperti iqrar dan saksi para saksi. Beliau juga akan menggunakan kekuatan jiwa dan ilmiah untuk menemukan siapa orang yang sebenarnya bersalah sebagaimana contoh peristiwa yang terjadi di zaman Dawud as. Selain itu, pada saat itu ilmu, pengetahuan, teknik dan produksi untuk menemukan orang yang bersalah sudah maju sedemikian rupa hanya sedikit orang yang bersalah yang mampu meninggalkan jejak kakinya.
Ayatullah Nashir Makarim menekankan bahwa: Saya ulangi sekali lagi adalah hal yang salah jika kita membayangkan zaman pemerintahan beliau semua masalah akan dipecahkan melalui mukjizat. Sebab mukjizat memiliki hukum tersendiri dan hanya digunakan dalam kondisi dharuri untuk membuktikan kebenaran dakwah rasulullah saww, bukan untuk mengatur kehidupan sehari-hari dan kehidupan normal manusia; karena tidak ada seorang nabi pun yang menggunakan mukjizat untuk mencapai tujuan ini,.Oleh karena itu, metode pemerintahan beliau adalah demikian bukan melalui jalan mukjizat.[8]
Sebagai kesimpulan, dikarekan perhiasan yang telah diikat oleh penguasa yang tidak layak pada Islam sepanjang sejarah dan bid’ah tak terhitung yang telah muncul, Imam berusaha menunjukkan hakikat Islam yang sebenarnya. Sedang ummat berpikir bahwa aturan baru, metode baru dan pengadilan yang baru selain Islam telah muncul. Maka metode Imam Mahdi as adalah metode Rasulullah saww dan Ali as dan para imam lainnya.[9]
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Biharul Anwar, jilid 51, hal. 82.
2. Isbatul Huda, Hur Amili, jilid 7, hal. 110.
3. Idem.
4. Biharul Anwar, jilid 52, hal. 353.
5. Isbatul Huda, jilid 1, hal. 110.
6. Idem, hal. 75.
7. Dadgustarese Jahan, Ibrahim Amini, Intisyarat Saqaf, Pasal Saat Zuhur.
8. Enqelab-e Jahan-ye Mahdi, Nashir Makarim Syirazi, Intisyarat Hadaf, Pasal Saat Zuhur.
9. Untuk pengetahuan lebih lanjut silahkan rujuk Enqelab-e Jahan-ye Mahdi, Nashir Makarim Syirazi, Intisyarat Hadaf, Dadgustarese Jahan, Ibrahim Amini, Intisyarat Saqaf, Mahdi as; Furug-e Taban-e Welayat, Muhammad Mahdi Istihardi, Intisyarat Masjid Muqaddas Jamkaran; Imam Zaman as, Luthfullah Shafi Gulpaigani.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+10 =