Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa pengaruh hubungan ilegal antar pria dan wanita dalam ruh, iman dan keyakinan para pemuda?


Jawaban:

Insting seksual adalah salah satu insting yang tersembunyi dalam diri manusia dan sebagaimana insting yang lainya, insting seksual juga menginginkan kebutuhan alaminya dan manusia terpaksa harus memenuhinya.

Tapi yang membuat manusia lebih utama dari hewan adalah bahwa dalam diri manusia akal manusia masih menguasai perbuatannya. Karena dalam diri manusia terdapat berbagai insting yang sesuai dengan hikmah dan tujuan penciptaan, maka kebahagiaan dan ketenangan manusia akan tercapai jika manusia memberikan jawaban yang seimbang pada semua insting yang dimilikinya.

Jika manusia hanya memperhatikan satu insting saja dan lebih mengutamakannya dibanding insting akal dan fitrah lainnya, maka akan terjadi pertumbuhan yang tidak seimbang—misalnya pertumbuhan tangan yang berlebihan dan bagian tubuh yang lain akan berhenti pertumbuhannya. Maka tubuh akan menjadi jelek dan cacat.

Efek negatif hubungan ilegal di antara para pemuda.

1. Hilangnya kemuliaan insani dan tenggelam di dalam syahwat.

Jika manusia menjadikan pemenuhan insting seksual sebagi tujuan hidupnya, maka tidak akan memperhatikan bahwa ada jalan khusus untuk memenuhinya. Menurutnya, semua faktor yang lebih cepat memenuhi insting adalalah faktor yang baik seperti lirikan, hubungan ilegal, anoni, melihat gambar atau filim porno, dan lain-lain. Meskipun semua itu bertentangan dengan akal dan agama dan akan berakhir dengan hancurnya kemuliaan manusia dan masyarakat.[1]

Faktor asli penyebab penyelewengan akhlak dan lemahnya keyakinan di Barat adalah cara berfikir model ini, yakni pandangan yang bebas tentang insting. Masalah ini menyebabkan semua nila-nilai insani terinjak-injak dan manusia berada dalam jalan yang sesat.
Pada hakikatnya, masalah dan kerusakan akhlak seperti pembunuhan, kejahatan, menjual diri, kerusakan jiwa, goyahnya hubungan keluarga dan lainb sebagainya adalah sebab dari berkuasanya insting, hubungan yang bebas dan bercampur baur antara pria dan wanita serta hilangnya nilai-nilai mulia insaniah.

2. Hilangnya ketenangan jiwa dan munculnya kecemasan dan stress.

Hubungan bebas dan ilegal akan menyebabkan kerusakn jiwa manusia dan mengotori fitrahnya yang suci dengan dosa. Sebagian orang seperti Frued[2] dan Russel[3] menyarankan manusia untuk mencapai ketenangan jiwa dan menghilangkan problem kejiwaan dengan melakukan kebebasan seksual. Namun hasil yang diperoleh sangat bertentangan dnegan hal itu.

Hal ini tidak hanya menjadi masalah di Barat tapi di berbagai masyarakat lain yang mengikuti gaya hidup Barat setiap hari statistik kerusakan dan penyakit jiwa serta kejahatan yang berasal dari kegagalan seksual semakin meningkat.
Ustad Muthahhari ra menganggap bahwa meluasnya rangsangan seksual adalah penyebab asli terjadinya penyimpangan akhlak dan tenggelamnya manusia dalam syahwat. Beliau berkata: Hubungan seperti ini semakin meningkatkan gelora dan tekanan seksual dan keinginan seksual itu berubah menjadi sebuah kehausan ruhani dan keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Menurut pandangan agama, insting seksual seperti api yang jika semakin diberi bahan baku maka nyalanya akan semakin besar dan insting ini tidak akan terpuaskan secara sempurna. Maka adalah sesuatu yang salah jika kita menyangka bahwa tarikan seksual memiliki tekanan khusus yang kemudian akan tenang.Dalam hal ini, tidak akan ada pria yang akan puas dengan memiliki wanita-wanita berwajah cantik dan tidak akan ada wanita yang akan puas dengan menarik perhatian pria dan merebut hatinya dan pada akhirnya tidak akan ada manusia yang nafsunya terpuaskan. Di sisi lain, permintaan yang tidak terbatas, tidak terpenuhi dan setiap hari selalu merasa kehilangan akan berakhir dengan kerusakan dan penyakit jiwa sebagaimana yang bisa disaksikan di Barat saat ini.[4]

3. Mengurangi keinginan untuk menikah dan membangun kehidupan yang terhormat.

Para pemuda yang sebelum menikah telah mencicipi hubungan ilegal dan telah mengotori kesucian ruh serta bathinnya tidak akan memeliki keinginan yang kuta untuk menikah dan ia akan sulit untuk memilih pasangannya; sebab di satu sisi ia akan curiga pada semua orang[5] dan di sisi lain ia akan sulit menghilangkan kesenangan masa yang lalu setelah pernikahannya. Keinginan akan variasi menyebabkan jiwanya sakit dan bahkan sering setelah pernikahan ia kembali melakukan perbuatan fasad. Will Durrant berkata: Perbuatan fasad setelah menikah lebih sering ditimbulkan oleh kebiasaan sebelum menikah.[6]

4. Lemahnya keyakinan dan iman.

Banyak ayat dan riwayat yang mengisyaratkan tentang akibat buruk dari mengikuti hawa nafsu dan syahwat. Manusia telah dilarang untuk mengikuti hawa nafsu.
Langkah pertama dalam hubungan ilegal adalah pandangan dan lirikan yang dipenuhi dengan hawa nafsu. Dalam Qur’an, Allah telah melarang manusia yang beriman dari pandangan yang dipenuhi dengan hawa nafsu.[7] Qur’an menyatakan bahwa melanggar perintah Allah akan menyebabkan manusia merugi di dunia dan di akhirat dan akan menyebabkan kejatuhan manusia. Sebagaimana Imam Ali as bersabda: Hikmah dan syahwat tidak akan berkumpul dalam satu hati.[8]

Dalam riwayat lain beliau bersabda: Tidak ada yang menghancurkan taqwa sebagaimana dominasi syahwat menghancurkan iman.[9]
dengan memperhatikan ayat dan riwayat di atas, jelaslah bahwa manusia hanya akan mampu mencapai kebahagiaan dan keselamatan jiwanya dengan mengamalkan ajaran Islam dan ia akan semakin dekat dengan Allah swt. Sedang melanggar aturan ilahi dan tidak melaksanakan batas-batas islami dalam hubungan dengan orang lain, manusia akan semakin jauh dari rahmat ilahi dan akan terseret dalam kefasiqan dan kesesatan.
Penerjemah: Mukhlisin Turkan (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Muhammad Rizha Amin Zadeh, Islam va Irza’e Garize-ye Jinsi, Qom, Dar Roh-e Haq, cetakan 1, 1377, hal. 12.
2. Silahkan rujuk: Charles Cador, dkk, Nazariyehha-ye Jam’iyat, terjemahan Ahmad Rizwani, bagian ketiga, hal. 378; Untukmelihat pendapat Frued dan Russel silahkan rujuk: Akhlaq-e Jensi dar Islam va Jahan-e Garb, Murthada Muthahhari, Tehran, Intisyarat Shadra, hal. 20-50.
3. Silahkan rujuk: Bertarnd Russel, Jahani keh mi Syenasam< terjemahan Ruhullah Abbasi, Tehran, Syarekat Sahami Kitabha-ye Jibi, 1357, hal. 70.
4. Muthada Muthahhari, Mas’alaye Hijab, Qom, cetakan 4 dan 2, Intisyara Shadra, 1374, hal. 84-87.
5. Ayatullah Makarim, Muskelat-e Jensi-ye Javanan, Qom, Intisyarat Nasl Javan, tanpa tanggal, hal. 31.
6. Will Durrant, Lezat Falsafah, Tehran, Nasyr e Danesju, hal. 94.
7. Baqarah: 30-31.
8. Muhammad Mahdi Rei Syahri, Mizanul Hikmah, Qom, Intisyarat Daftar Tablighat Islami, jilid 10, hal. 386.
9. Idem.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
9+3 =