Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |

|


AHMAD RASIM NAFIS
(Mesir-Syafi’i)



(Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)


Dia lahir pada tahun 1372 Hijriah di Kota al-Manshurah Republik Arab Mesir, ayahnya seorang guru dan kakeknya adalah salah satu ulama di Universitas al-Azhar as-Syarif yang rutin memberikan ceramah di Masjid al-Qaryah dan mempunyai forum khusus yang menjadi tempat perkumpulan dan pertemuan orang-orang terpelajar, di sana mereka menimba berbagai ilmu agama, fikih dan sastra darinya.

Situasi Pertumbuhan Ahmad Rasim Nafis

Doktor Ahmad mengatakan “Kedua mataku terbuka lebar menatap nama buku-buku terbaru ... , kala itu seringkali terjadi diskusi dan persaingan seputar puisi dan sastra di dalam rumahku, almarhum ayahku bersaing dengan kawan-kawan penyair dan sastrawannnya yang pada masa itu mereka hidup bersama di kota al-Manshurah ... , dalam pada itu aku mewarisi perasaan cinta membaca dan belajar dari ayah sekaligus kakekku, sejak kecil aku membaca semua buku yang jatuh ke tanganku, hanya ada satu buku yang tidak berhasil aku baca seutuhnya, yaitu buku yang berjudul “Abna’u ar-Rosul fi Karbala” karya penulis mesir Khalid Muhammad Khalid, hal itu karena aku langsung menangis saat aku memegang dan membacanya sehingga aku tidak sanggup untuk melanjutkan membacanya ...

Situasi Akademis Ahmad Rasim Nafis

Ahmad Rasim Nafis melanjutkan pendidikannya di universitas, di sana mereka bergabung dalam organisasi mahasiswa, menurutnya itu tempat paling sesuai yang akan membuka lebar peluang bagi dirinya untuk beraktivitas di bidang kebudayaan, dan nyatanya dari sana kemudian mentalitas dia menyaksikan berbagai pergulatan intelektual dan politis yang memadati negeri Mesir pada awal dekade tujuh puluhan.
Dia menggambarkan situasi periode itu bahwa gelombang komunisme senantiasa aktif mengingat posisi yang diperolehnya di masa Nasiriah. Realitas yang sebenarnya adalah kapasitas publikasi gelombang ini melebihi kapasitas gelombang itu sendiri, sementara gelombang religius (agama) bergerak secara malu-malu tapi tetap berusaha untuk menempati sebagian posisi, maka sudah barang tentu terjadi pertentangan antara dua gelombang tersebut, terlebih lagi bahwa gelombang kiri (komunisme) bergerak provokatif di tengah masyarakat yang luas.
Lalu Ahmad menjelaskan pada tahun 1975 M, setelah sekian banyak provokasi dari kelompok kiri akan tetapi sebaliknya kelompok muslim memperoleh kemenangan mutlak atas mereka di pemilihan umum mahasiswa dan pada akhirnya kepemimpinan universitas kedokteran di al-Manshurah pada saat itu jatuh ke tangan kelompok muslim untuk selang waktu 2 tahun berturut-turut.

Pengalaman Pertama Melihat Syiah

Revolusi Islam di Iran mencapai kemenangan pada tahun 1979 M. Fenomena akbar ini sangat menarik perhatian Ahmad Rasim Nafis ke arah bangsa muslim Iran yang menahan peluru dengan dada mereka dan meneguk cawan kesyahidan serta berkumpul dengan penuh semangat di sekitar pemimpin mereka sehingga pada akhirnya mereka pun berhasil meraih kemenangan.
Doktor Ahmad mengatakan “Dadaku serasa sesak dan hatiku tidak bisa menerima jika bangsa ini dikatakan sesat secara keyakinan sebagaimana hal itu dinyatakan oleh sebagian orang yang tidak obyektif ... dan saat kami berusaha menerbitkan buku kecil yang isinya pembelaan terhadap revolusi Islam di Iran maka sebagian teman-teman yang aktif bersama kami di bidang kebudayaan menolak tindakan ini, tentunya pada saat itu saya hanya bisa berdiam dan di sana tidak ada referensi informatif untuk masalah ini”.

Caci-maki Umum atas Syiah

Perlahan-lahan Ahmad Rasim Nafis memperjuangkan sikapnya membela revolusi Islam Iran, sikap itu terus berjalan sampai kemudian terjadi perang Irak-Iran.
Dalam hal ini Ahmad Rasim mengatakan “Pada tahun 1982-1985 M perang Irak-Iran berada pada puncaknya, tiba-tiba penggunaan sebagian minyak keluar dari jalur yang sudah ditentukan dan mendanai pembelanjaan alat-alat perang Irak, ... pada saat itu pula pihak Mesir mencurahkan hujan deras buku-buku kuning yang menyerang muslimin syiah, kelompok Salafi memainkan perannya yang biasa dalam menyerang muslimin syiah dan mengumbar kebatilan-kebatilan ideologi mereka. Dan sudah barang tentu mereka bergerak melalui jalur yang biasa mereka lalui, bahkan mereka berusaha menginspirasi masyarakat luas bahwa di balik kesyiahan Republik Islam Iran tersembunyi unsur ke-parsia-an yang menentang Islam arabik!. Kenyataan ini sendiri mengungkap jelas pandangan kelompok Ba’tsi Irak yang menunggangi punggung kelompok Salafi”.

Faktor-faktor Pemilihan Mazhab Ahli Bayt as.

Ahmad Rasim Nafis menjelaskan faktor-faktor yang mendorong dia untuk meninggalkan mazhabnya yang lama dan memeluk mazhab Syiah Suatu hari, di musim panas tahun 1984 M kami sekeluarga berpikinik, lalu secara tidak disengaja aku bertemu dengan sebuah buku di salah satu perpustakaan setempat, buku itu berjudul “Limadza Ikhtartu Madzhaba Ahli al-Bayt” (Kenapa Aku Memilih Mazhab Ahli Bayt), aku mohon ijin untuk membawanya, dan tidak ada seorang pun yang mempedulikannya atau mengetahui isi buku tersebut, aku bawa buku itu dan kubaca, lalu aku terkejut dan kemudian terkejut lagi, bagaimana mungkin seorang ulama (baca alim) al-Azhar –yaitu Syekh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki– yang menulis buku ini berpindah dari mazhab yang sebelumnya dia yakini ke mazhab Ahli Bayt as., pertanyaan ini sempat menghentikan detak jantungku untuk sementara, dan aku aku berkata kepada diriku sendiri “Orang ini mempunyai nilai tersendiri yang harus dihormati”. Saat itu aku tidak memutuskan sesuatu apapun, dan aku tetap menjaga buku itu.
Setahun kemudian, dan di lokasi yang sama, aku menemukan buku yang kedua berjudul “Khulafa’ ar-Rosul al-Itsna Asyar”, aku membacanya sampai mengerti, tapi saat itu pun aku masih belum meyakini sesuatu, tetapi aku merasa secara perlahan-lahan diriku semakin dekat dengan pemikiran Ahli Bayt as.
Hari-hari terus berlalu, sampai akhirnya diselenggarakan pameran buku di Universitas Kedokteran Kota al-Manshurah, aku jalan-jalan di sana dan kutemukan sebuah buku yang berjudul “al-Imam Ja’far as-Shodiq” karya Abdul Halim al-Jundi, cetakan Majma’ al-Buhus al-Islamiyah, tahun 1997 M.
Aku katakan kepada diriku lagi “Ini adalah buku tentang Imam Ja’far Shadiq yang ditulis oleh penulis Mesir yang bermazhab Ahli Sunnah dan diterbitkan oleh yayasan yang resmi pra revolusi Islam Iran”. Aku mengambil buku itu dan kubaca, tiba-tiba diriku diguncangkan oleh informasi-informasi buku itu mengenai Ahli Bayt as. yang ditindas oleh pemerintahan-pemerintahan yang zalim, dan informasi-informasi itu ditutup-tutupi oleh para ulama karena masyarakat tidak sanggup mendengar Ahli Bayt (keluarga) Nabi Muhammad saw. disebut secara baik.
Melihat informasi-informasi itu memotivasiku untuk menengok kembali dua buku yang telah kubaca sebelumnya, aku perhatikan semua maklumat yang ada di dua buku itu dan ternyata semua maklumat itu berasal dari referensi Ahli Sunnah, dengan demikian maka aku katakan lagi kepada diriku “Apa mungkin orang-orang muslim syiah berdusta dan menuduhkan hal-hal yang tidak benar kepada massa! Maka dari itu, sebaiknya kita buka referensi-referensi yang otentik”. Setelah itu aku melakukan kajian yang luas dan mendalam atas semua buku yang bersangkutan, baik yang ada di perpustakaan pribadiku maupun buku-buku yang ada di perpustakaan Himpunan Pemuda-pemuda Muslim, dan pada akhirnya aku menemukan kebenaran maklumat-maklumat tersebut.

Tahap Pemilihan Mazhab Syiah

Doktor Ahmad Rasim Nafis mengatakan “Tidak lama setelah beberapa minggu melakukan kajian yang efektif dan membandingkan mazhab Ahli Sunnah dengan mazhab Ahli Bayt as. (Syiah), problem keyakinanku ini betul-betul aku rasakan, lalu aku bertemu dengan salah satu teman lamaku yang aku rasa dia juga mengetahui tentang persoalan yang aku hadapi, kemudian kami bersama-sama mengkaji sebagian huku-hukum fikih yang diperlukan untuk meluruskan amal-ibadah kami.
Saat itu aku sedang sibuk menyelesaikan desertasi doktoralku, bahkan aku sampai meliburkan kunjungan-kunjunganku agar aku bisa lebih konsentrasi mengerjakan tugas ini. Kemudian aku diterima pada bulan April tahun 1986 M. Aku mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian doktoral di bidang Ilmu Kedokteran Umum. Sejak itu pula aku menalaah buku-buku yang bersangkutan dan satu-satunya hiburanku ketika aku bosan membaca buku-buku kedokteran adalah membaca buku-buku Ahli Bayt as.

Reaksi Sosial

Tanpa ada selang waktu yang lama setelah tersebarnya berita kesyiahan doktor Ahmad Rasim Nafis dirinya dituduh sesat dan gila oleh orang-orang yang bermentalitas tertutup, sebagian yang lain berperan dalam menjatuhkan kepribadian dan merusak nama baiknya di tengah masyarakat sehingga hal itu membuat banyak pihak yang memutuskan hubungan mereka dengannya.
Ahmad Rasim Nafis mengatakan “Aku sering bertanya-tanya kepada diriku sendiri apa rahasia di balik kedengkian dan permusuhan terhadap siapa saja yang memilih garis Ahli Bayt Nabi Muhammad saw. dan memangnya apa dosa atau kesalahan orang yang bermazhab Syiah”.
Dia melanjutkan ceritanya “Persekongkolan orang-orang itu berubah dalam bentuk yang berbeda, sebagian di antara mereka bersikeras agar aku dipecat dari pekerjaanku di univeritas, mereka kerahkan seluruh kemampuan dan menggunakan segala cara dan sarana yang ada di tangan mereka untuk mencapai tujuan itu. Itulah sebabnya aku terlembat menyelesaikan kuliah doktoralku dari tahun 1987 M sampai dengan 1992 M, enam tahun lamanya mereka menekanku melalui penggembosan tugas-tugasku sampai dengan kebutuhan sehari-hari hidupku dengan harapan mereka dapat memaksaku untuk berubah keyakinan kembali, akan tetapi mereka sama sekali tidak bisa menggoyahkan keyakinanku terhadap mazhab Ahli Bayt as.

Karya-karya Ahmad Rasim Nafis

1. At-Thoriqu ila Madzhabi Ahli al-Bayt as. (Jalan Menuju Mazhab Ahli Bayt as.). diterbitkan oleh Markaz al-Ghodir, Bairut, 15418 H 1997 M.
Dalam prakata penerbit disebutkan Penulis di dalam buku ini menceritakan kronologi perjalanan dan jerih payah dia sampai kepada makrifat dan kebenaran, perjalanan yang panjang dimulai dari awal kehidupannya di tengah keluarga yang intelektual, lalu dilanjutkan kepada perjalanannya di sekolah, lingkungan dan universitas, begitu pula masa-masa kehidupan dia yang sarat dengan fenomena ...
Musafir atau pejalan ini akhirnya sampai juga kepada kesimpulan bahwa bahtera keselamatan umat Islam terwujud dalam Ahli Bayt Nabi saw., maka beruntunglah siapa saja yang memperoleh hidayah sampai ke bahtera keselamatan ini dan mengikuti jalan mereka (Ahli Bayt as.).
Isi buku ini bisa dibagi kepada dua bagian Bagian pertama memaparkan proses pengenalan penulis terhadap mazhab Syiah, dan bagian yang kedua membahas persoalan imamah atau kepemimpinan khusus yang dalam pada itu dia mendukung keimaman Ahli Bayt as. berdasarkan al-Qur’an dan sunnah nabi, di sana dia juga menjelaskan perdamaian yang diputuskan oleh Imam Hasan as. dan revolusi dipimpin oleh Imam Husein as.

2. ‘Ala Khutho al-Husein. (Di atas Langkah-langkah Imam Husein). Diterbitkan oleh Markaz al-Ghodir, Bairut, 1418 H 1997 M.
Dalam prakata penerbit disebutkan Penulis memulai tulisannya dengan menukil dan menjelaskan mimpi Rasulullah saw. yang mengungkap kenyataan bahwa akan muncul raja-raja jahat yang menaiki mimbar beliau setelah beliau wafat. Maka dari itu beliau memperingatkan mereka akan fenomena masa depan tersebut dan mengajak mereka untuk membela cucu beliau Imam Husein as., lalu penulis menjelaskan siapa kelompok munafik dan memperinci maksud dari kenyataan mimpi rasul tersebut. Di pasal pertama dia membahas putra-putra pohon yang terkutuk, yakni orang-orang yang senantiasa menebar fitnah di dunia Islam, lalu di pasal kedua dia menerangkan kebangkitan pemimpin-pemimpin jahat sekaligus cara dan landasan perbuatan mereka, kemudian di pasal ketiga dia menjelaskan revolusi Imam Husein as. dan menyebutnya sebagai kebangkitan demi menjaga agama; di pasal ini dia membahas revolusi Karbala secara panjang dan lebar serta dengan urutan sebagai berikut Pendahuluan, keputusan dan penentuan garis, penyempurnaan elemen-elemen pergerakan, hijrah kedua dari Mekkah ke Kufah, di perjalanan menuju Karbala. Dan di paragraf ini dia mengkritik pandangan-pandangan Ibnu Katsir yang berusaha menutup-nutupi hakikat kebenaran dan menentangnya. Lalu pasal keempat dia memberi tema “Karbala Kebangkitan Bersama Umat Yang Tertindas”, di sini dia menyatakan bahwa sikap Imam Husein as. adalah tolok ukur dan teladan. Sikap ini terwujud dalam perlawanan imam yang haq atas imam yang batil sehingga hakikat menjadi nyata dan bukti kebenaran menjadi tegak serta umat menjadi bebas dari penindasan.
Sejenak Bersama Buku ‘Ala Khutho al-Husein as.
Buku ini terinspirasikan oleh tragedi Karbala yang merupakan perlawanan atas kaum penindas, dan buku ini membantu sekali orang-orang yang berusaha mencari kebenaran, dan dia mengibaratkan langkah-langkah yang diambil oleh Imam Husein as. dengan hijrah kedua yang mengulang kembali perjalanan hijrah kakek beliau Nabi Muhammad al-Musthofa saw. dari kota Mekkah ke kota Madinah al-Munawarah.
Kita mulai saja dengan paparan buku ini tentang peperangan antara Islam dan Dinasti Umayyah di Shiffin
Aku pernah melihat kawasan Shiffin; tempat yang terletak di dekat sungai Furat antara Syam dan Irak. Adapun kejadian perang Shiffin yang terjadi antara bala tentara Imam Ali as. –yang merupakan pemimpin umat Islam yang sah– melawan pasukan kaum yang sesat dan zalim yang dipimpin oleh Muawiyah putra wanita pemangsa hati (Hindun yang mencabik-cabik hati Sayidina Hamzah dan mengunyah serta memuntakannya) dan menterinya yang tertinggi yaitu Amr bin Ash.
Pertentangan berlangsung antara nilai-nilai Islam sejati –yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw. dan kemudian diterapkan pula oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.– melawan kelompok zalim yang dipimpin oleh putra wanita pemangsa hati beserta Amr bin Ash. Kami juga akan memaparkan beberapa contoh dari persilatan lidah dan tingkah lagu dua pihak yang bertentangan tersebut, dan setelah itu kita akan saksikan sendiri akhir daripada pertentangan ini.
Syiar Kelompok Penabur Fitnah Yang Melawan Kepemimpinan Yang Sah
Muawiyah bin Abi Sufyan mengangkat slogan pembelaan terhadap darah Usman bin Affan, tapi apakah putra wanita pemangsa hati dan menterinya ini betul-betul ingin menuntut balas darah Usman Di sini kami mengajak Anda untuk sama-sama membuka lembaran-lembaran sejarah.
Ibnu Jarir Thabari menyebutkan di dalam buku sejarahnya “Kala Usman terbunuh, Nu’man bin Basyir menyodorkan gamis Usman kepada penduduk kota Syam, lalu Muawiyah meletakkan gamis itu di atas mimbar dan kemudian dia menulis pengumuman berita untuk disampaikan ke berbagai kota. Maka masyarakat berbondong-bondong menghampiri gamis itu, mereka menangis selama satu tahun sementara gamis itu tetap ada di atas mimbar. Para pria penduduk Syam berjanji untuk tidak tidur seranjang dengan istri-istri mereka sampai ketika pembunuh-pembunuh Usman dituntut balas dan dibunuh, mereka berkumpul disekitar gamis Usman yang diletakkan di atas mimbar tersebut”.
“Lalu Muawiyah berjalan di tengah kerumunan masyarakat seraya mengumbar slogan bahwa Ali bin Thalib (as.) adalah orang yang telah membunuh Usman [1]”. Itulah slogan yang digembar-gemborkan oleh mereka, tapi apakah slogan ini betul-betul sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya Marilah terlebih dulu menelaah biografi Amr bin Ash.
Slogan dan Kenyataannya, Obsesi Untuk Menjadi Penguasa
Thabari meriwayatkan “Ketika berita terbunuhnya Usman sampai ... dia mengatakan “Aku adalah Abu Abdillah orang yang telah membunuh Usman bin Affan ...”. Thabari melanjutkan “Lalu, ketika dia mendengar berita bahwa masyarakat berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib maka dia naik pitam dan berhari-hari dia menanti apa yang akan diperbuat oleh masyarakat. Dia juga mendengar perjalanan Thalhah dan Zubair serta Aisyah seraya berkata “Aku menanti dan melihat saja apa yang mereka perbuat”. Tapi kemudian dia mendengar berita bahwa Thalhah dan Zubair telah terbunuh juga. Kenyataan itu mengguncang dirinya, lalu dia berkata “Muawiyah yang sekarang berkuasa di Syam tidak sudi berbait kepada Ali, andaikan aku mendekatkan diriku kepada Muawiyah”. Itu berarti Muawiyah lebih dia senangi daripada Ali bin Thalib. Setelah itu ada seorang yang berkata kepada Amr bin Ash bahwa Muawiyah sedang membesar-besarkan kejadian pembunuhan Usman bin Affan dan memprovokasi massa untuk menuntut balas darahnya yang tumpah. Maka Amr bin Ash mengatakan “Panggillah Muhammad dan Abdullah untuk datang kemari”, ketika kedua-duanya datang Amr bin Ash berkata kepada mereka “Telah sampai kepada kalian apa yang terjadi dengan pembunuhan Usman ... begitu pula tentang baiat massa terhadap Ali dan sebaliknya tekad Muawiyah untuk melawan Ali. Lalu apa pendapat kalian Adapun Ali, menurutku tidak ada baiknya ada di sisi dia, dia adalah orang yang tidak akan mengikutsertakan orang lain dalam urusannya”. Abdullah bin Amr mengutarakan pendapatnya “Menurutku sebaiknya kamu menahan diri dan duduk di rumahmu sampai masyarakat selesai berkumpul di sisi imam dan kemudian kamu juga berbaiat kepadanya”, lalu Muhammad bin Amr juga mengutarakan pendapatnya “Kamu adalah salah satu taring-taring Arab, aku tidak bisa melihat mereka berkumpul dalam masalah ini sementara kamu tidak bersuara dan juga tidak disebut-sebut”. Maka Amr bin Ash mengatakan “Adapun kamu wahai Abdullah, kamu perintahkan aku untuk hal yang baik dan juga lebih selamat bagiku di akhirat dan pula untuk agamaku. Sedangkan kamu wahai Muhammad, kamu perintahkan aku untuk hal yang lebih mulia bagi duniaku dan bahaya untuk akhiratku”. Lalu Amr bin Ash keluar bersama kedua anaknya tersebut dan mendatangi Muawiyah. Di kota Syam mereka menyaksikan penduduknya mendukung Muawiyah untuk menuntut balas darah Usman bin Affan.
Amr bin Ash berkata kepada penduduk Syam “Kalian benar, tuntutlah balas darah khalifah yang terzalimi”, tapi Muawiyah tidak mempedulikan kata-kata Amr tersebut, itulah maka kedua anaknya mengingatkan “Bukankah kamu saksikan sendiri Muawiyah sama sekali tidak mempedulikan kata-katamu, sebaiknya berpalinglah kepada yang lain”. Kemudian Amr mendatangi Muawiyah seraya berkata “Demi Allah, aneh sekali dirimu, aku mendukungmu sementara kamu berpaling dariku, sungguh demi Allah apabila kami berperang bersamamu niscaya kita akan menuntut balas darah khalifah, sungguh kamu mengetahui masa lalu, keutamaan dan kekerabatan orang yang sedang kamu perangi, tapi kita hanya menginginkan dunia ini”.Dengan demikian maka Muawiyah berdamai dengan Amr dan memberi perhatian kepadanya. [2]
Itulah tadi sekilas tentang kepribadian menteri tertinggi Muawiyah anak wanita pemangsa hati, dia sendiri termasuk orang yang menentang Usman bin Affan dan menyatakan dirinya adalah “Abu Abdillah yang telah membunuh Usman”, dan dia orang yang mengaku bergabung dengan putra wanita pemangsa hati tidak lain hanya karena dunia.
Adapun tentang Muawiyah, “pemilik gamis” yang kemudian istilah ini menjadi misal bagi klaim-klaim bohong, kiranya dalam kesempatan ini cukup dengan menukil pidatonya yang menunjukkan niat jahat. Abu al-Faraj al-Isfahani meriwayatkan di dalam bukunya Maqotilu at-Tholibin “Ketika pemerintahan jatuh ke tangan Muawiyah, dia berjalan sampai ke tempat yang bernama Nukhailah, lalu dia memerintahkan masyarakat untuk berkumpul di sana dan kemudian dia berpidato panjang sebelum akhirnya dia masuk ke kota Kufah. Salah satu potongan pidatonya adalah “Tidak ada umat yang berselisih sepeninggal nabi mereka kecuali ahli batil di antara mereka menang atas ahli haq ...” tapi kemudian Muawiyah menyesali telah berkata seperti itu maka dia memberikan pengecualian seraya berkata “Kecuali umat ini, sesungguhnya umat ini adalah ...”. “Sungguh demi Allah aku tidak memerangi kalian agar kalian menunaikan ibadah shalat, puasa, haji, atau pun zakat, karena kalian pasti melakukan semua itu, sesungguhnya aku perangi kalian dengan tujuan menjadi penguasa atas kalian, dan sungguh Allah telah menganugerahiku kekuasaan itu di saat kalian enggan untuk menerimanya”. [3]
Berdasarkan data-data otentik di atas, apakah Muawiyah putra wanita pemangsa hati dan menterinya yang tertinggi yaitu Amr bin Ash betul-betul ingin menuntut balas darah Usman atau sesungguhnya tujuan mereka tidak lain adalah kekuasaan! Tidak diragukan lagi yang kedua adalah benar, dan tujuan jahat mereka tidak bisa tercapai kecuali dengan cara menghinakan diri muslimin. Oleh karena itu tujuan hakiki pergerakan Muawiyah dan Amr bin Ash adalah kekuasaan atas massa dan penghinaan terhadap orang-orang yang mukmin, dan tentunya tujuan ini jauh berbeda dari slogan yang mereka gembor-gemborkan yaitu menuntut balas orang-orang yang telah membunuh Usman bin Affan.

Sarana Persekongkolan Untuk Berkuasa

Sarana dan prasarana yang digunakan oleh Muawiyah putra wanita pemangsa hati untuk merealisasikan tujuan-tujuan setaniknya (yakni menegakkan pemerintahan orang-orang yang muncul sebagai kera di dalam mimpi Rasulullah saw. yang melawan pemerintahan Ilahi) adalah
Yang pertama suap dan iming-iming kedudukan. Contohnya, Muawiyah berusaha menyuap Qais bin Sa’d bin Ubadah yang diangkat oleh Imam Ali bin Abi Thalib untuk menjadi gubernur di Mesir, dia mengirimkan surat kepada Qais “Wahai Qais, jika kamu mampu bergabung menjadi orang yang menuntut balas darah Usman maka lakukan hal itu. Ikutilah perintah kami niscaya kekuasaan dua Irak akan kuserahkan kepadamu ... begitu pula aku akan berikan kekuasaan Hijaz kepada siapa saja dari keluargamu yang kamu cintai, tentunya semua itu dengan catatan selama aku masih menjadi penguasa, dan mintalah apa saja yang kamu inginkan selain itu kepadaku, karena sesungguhnya tidak ada satu pun yang kamu minta dariku kecuali aku pasti mengabulkan permintaanmu itu”. [4]
Qais bin Sa’d bin Ubadah tidak termakan oleh tawaran-tawaran Muawiyah putra wanita pemakan hati, sebaliknya dia mengirimkan jawaban yang mematikan atas surat kiriman Muawiyah, di dalam suratnya dia mengatakan “Bismillahirrohmanirrohim, surat dari Qais bin Sa’d bin Ubadah untuk Muawiyah bin Abi Sufyan. Aku heran melihat tipu-dayamu dan keserekahanmu terhadapku, begitu pula saat melihat usahamu menjatuhkan pandanganku, apa kamu merayuku untuk keluar dari sikap taat terhadap manusia yang paling layak untuk pemerintahan, yang paling lantang mengatakan kebenaran, yang paling lurus jalannya, dan yang paling dekat dengan Rasulullah saw. lalu sebaliknya kamu ajak aku untuk mentaatimu yang berarti taat kepada orang yang paling tidak layak untuk pemerintahan, yang paling lantang menyuarakan kebatilan, yang paling menyimpang jalannya, dan yang paling jauh dari Allah swt. serta rasul-Nya saw., keturunan orang-orang sesat yang menyesatkan, dan merupakan salah satu tagut anak buah iblis ...”. [5]
Yang kedua Teror politis. Contohnya, di dalam buku sejarah karya Thabari disebutkan “Lalu Ali mengutus Malik Asytar untuk menjadi amir di Mesir, dan ketika sampai di Qalzam dia meneguk minuman madu yang ternyata di dalamnya terdapat racun mematikan, lalu berita kejadian ini sampai ke telinga Muawiyah dan Amr bin Ash, maka Amr berkata “Sungguh Allah juga mempunyai prajurit-prajut dari jenis madu”. [6]
Ketiga Pemalsuan dan penipuan. Thabari menyebutkan “Muawiyah mengarang buku yang kemudian dinisbatkan kepada Qais secara dusta, lalu dia membacakan buku itu kepada penduduk Syam”. [7]
Keempat Menyerang rakyat sipil, membunuh wanita dan anak-anak. Ibnu Jarir Thabari menyebutkan
1. Pada tahun itu, Muawiyah mengirim Sufyan bin Auf bersama enam ribu prajurit dan memerintahkannya untuk menyerang Hait dan kemudian mereka melewati Anbar dan Mada’in serta menyerbu penduduknya”. [8]
2. Muawiyah mengutus Abdullah bin Mas’adah al-Farazi bersama seribu tujuh ratus prajurit ke kawasan Taima dan memerintahkannya untuk menarik sedekah (pajak) harta dari siapa saja yang mereka lewati dan membunuh siapa saja yang menolak untuk membayarnya. Lalu Abdullah bersama pasukannya mendatangi Mekkah dan Madinah serta memberlakukan hal yang serupa di sana”. [9]
3. Muawiyah mengutus Dhahhak bin Qais dan memerintahkannya untuk bergerak ke arah Waqishah dan menyerang siapa saja yang taat kepada Ali, Muawiyah mengirimkan tiga ribu prajurit bersamanya, dan kemudian dia merampas kekayaan masyarakat dan membunuh siapa saja yang dia kehendaki, lalu dia bergerak menuju Tsa’labiyah dan menyerang penduduknya yang mendukung Ali dan merampas kekayaan mereka, kemudian terus bergerak sampai ke Qathqathanah, di sana dia mendatangi Amr bin Umais bin Mas’ud yang termasuk dalam barisan Ali, ketika itu dia bersama keluarga sedang dalam perjalanan untuk haji, maka Dhahhak menyerang dia beserta rombongannya dan menghalangi perjalanan hajinya, maka ketika berita kejadian ini sampai ke telinga Ali, beliau langsung mengerahkan Hujr bin Adi al-Kindi beserta empat ribu pasukan. Hujr menyerbu mereka, sembilan belas dari pihak Dhahhak tewas dan dua orang syahid dari pasukan Hujr. Lalu ketika malam tiba, Dhahhak melarikan diri bersama pasukannya”. [10]
4. Pada tahun 40 H. Muawiyah mengirimkan Busr bin Abi Artaah bersama tiga ribu tentara ke Hijaz, pada waktu mereka tiba di Madinah, Abu Ayub al-Anshari masih menjabat sebagai gubernur yang diangkat oleh Ali bin Abi Thalib di sana, dia melarikan diri dari bahaya pasukan Busr. Dari sana Busr bergerak menuju kota Yaman, dan pada saat itu Ubaidullah bin Abbas bertugas sebagai gubernur yang ditetapkan oleh Ali, ketika dia mengetahui niat dari kedatangan Busr ke kota itu dia lari ke kota Kufah dan mendatangi Ali, maka Ali memerintahkan Abdullah bin Abdulmadan Harisi untuk menjalankan tugas di Yaman, tapi Busr mendatanginya dan membunuh dia sekaligus anaknya. Bahkan ketika Busr menemukan famili Ubaidullah bin Abbas dia menyembelih dua bocah kecil mereka, menurut sebagian riwayat disebutkan bahwa Busr menemukan kedua anak Ubaidillah bin Abbas berada di naungan seorang pria dari suku Kananah, dan ketika Busr berniat untuk membunuh kedua anak itu pria tersebut mengadu Untuk apa kamu ingin membunuh dua bocah kecil ini sementara mereka tidak bersalah Kalau kamu betul-betul ingin membunuhnya maka kamu juga harus membunuhku. Busr menjawab dengan ringan Aku akan lakukan itu. Pertama dia bunuh pria dari suku Kananah tersebut, lalu dia menyembelih kedua anak Ubaidullah bin Abbas. Dan di sepanjang perjalannya ke Yaman dia telah membunuh banyak sekali dari syi'ah Ali. [11]
Itulah tayangan sekilas tentang tujuan-tujuan pemerintah Dinasti Umayyah berikut kekejaman dan cara-cara yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak ada bedanya antara Muawiyah, Saddam dan Hittler. Bagi mereka, tujuan membolehkan segala cara, bahkan bisa dikatakan bahwa anak wanita pemakan jantung yang hidup pada masa kenabian Rasulullah saw. lebih parah keadaannya daripada Saddam Husein yang telah membantai kaum wanita dan anak-anak serta menggunakan senjata kimia untuk memberantas manusia-manusia tak berdosa, sebab minimal Saddam tidak pernah melihat Rasulullah saw., tidak pernah mendengar suara beliau, dan tidak pernah diklaim oleh sebagian sejarawan sebagai penulis wahyu atau klaim-klaim lain yang mencampur aduk kebenaran dengan kebatilan.
Syi’ar Pemerintahan Umat Yang Sah; “dan perangilah mereka hingga tidak ada fitnah dan jadilah agama itu semuanya bagi Allah” (QS. 8 39)
Kubu seberang adalah pasukan kebenaran, pasukan pemerintah Islam yang sah, yaitu kepemimpinan Ahli Bayt as., lambang mereka pada waktu itu adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., beliaulah yang berjihad untuk menjaga Islam agar tetap murni dan jernih seperti yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw.
Inilah tujuan yang sesungguhnya dari semua pengorbanan yang mereka lakukan.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. dan pendukug-pendukung setianya adalah bintang orang-orang mukmin yang tulus di antara sahabat-sahabat Rasulullah saw.
Ibnu Abil Hadid di dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghoh menukil pidato Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dari Kitab Shiffin karya Nashr bin Muzahim, dia meriwayatkan bahwa beliau mengawali pidatonya di Shiffin dengan pujaan dan pujian atas Allah swt. lalu berkata “amma ba’du, ... sungguh setan selalu hadir dan menyodorkan kebatilan untuk kalian. Sadarlah bahwa seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, maka janganlah kalian saling bertikai dan berdebat, ketahuilah bahwa syariat-syariat agama adalah satu, jalan-jalannya tepat, siapa saja yang menerimanya maka telah bergabung bersama kebenaran dan barangsiapa yang memisahkan diri darinya berarti dia tergelincir dan siapapun yang meninggalkannya berarti dia pembangkang. Orang muslim tidak berkhianat ketika diberi amanat, tidak muslim tidak ingkar ketika berjanji, dan tidak berdusta ketika bertutur. Kami adalah Ahli Bayt kasih sayang, tutur kami jujur, tingkah kami utama, penutup para nabi berasal dari kami, pemimpin-pemimpin islam ada di antara kami, dan di antara kami pula para pengusung kitab suci al-Qur’an.
Ketahuilah bahwa kami mengajak kalian kepada Allah swt. dan rasul-Nya saw., mengajak kalian kepada jihad melawan musuh-Nya dan bersikap tegas dalam menjalankan urusan-Nya, mengajak kalian untuk memperoleh ridhonya, untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji di rumah-Nya, berpuasa di bulan Ramadan, dan membagikan harta rampasan fai’ kepada orang-orang yang berhak.
Sadarilah bahwa adalah hal yang aneh bin ajaib ketika Muawiyah putra Abu Sufyan dari suku Umayyah dan Amr bin As dari suku Sahm memprovokasi massa atas nama pencarian agama –menurut mereka berdua–, sementara sungguh kalian telah mengtahui bahwa aku tidak sama sekali tidak pernah menentang Rasulullah saw. dan membangkang perintah beliau, aku jaga beliau dengan nyawaku di saat-saat tidak ada satupun pahlawan yang berani untuk melakukan pengorbanan itu, Allah swt. telah memuliakanku dengan kesatriaan, segala puja dan puji bagi-Nya. Sungguh ketika Rasulullah saw. sedang dicabut nyawanya kepala beliau berada di atas pangkuanku, aku lakukan upacara pemandian jasad beliau dengan tanganku sendiri dan dibolak balik oleh malaikat muqarrabin yang menyertaiku. Demi Allah, tidak ada satu umatpun yang berselisih setelah kematian nabi mereka kecuali yang ahli batil akan menang atas mereka yang ahli haq, hanya dalam kasus-kasus tertentu yang dikehendaki Allah swt. yang tidak mengalami kekalahan itu”. [12]
Cikal Bakal Kekuasaan Dinasti Umayyah Yang Dibenci Oleh Islam
Kala itu telah datang dinasti fulan untuk berkuasa, yaitu dinasti yang dimimpikan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai orang-orang yang naik ke atas mimbar beliau dan melompat-lompat seperti kera, yaitu orang-orang yang tidak mau menerima tanggungjawab apapun, tidak lain merekalah yang telah melemahkan kekuasaan keluarga Nabi Muhammad saw. atas hati-hati masyarakat dan memposisikannya tidak lebih dari konsultan pada saat darurat, merekalah yang menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai urutan keenam di antara dewan yang mereka beri nama syura, dalam pada itu Ali as. berkata “Sejak kapan ada keraguan tentang kedudukan diriku jika dibandingkan dengan orang pertama mereka –yakni Abu Bakar– sehingga aku di sejajarkan dengan lima orang seperti mereka –yang berada di dalam dewan syura–!”, merekalah yang mempersiapkan sarana dan prasarana kekuasaan Muawiyah di Syam, dan ketika mereka melihat kebesaran serta kekuasaannya di sana maka dengan rendah diri mereka katakan “Kita tidak akan memerintahmu dan juga tidak akan melarangmu”, seakan-akan Muawiyah putra wanita pemakan jantung manusia ini merupakan pengecualian dalam penerapan agama, merekalah yang berminat sekali untuk menyingkirkan Ahli Bayt Nabi dari harta-harta yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai milik mereka (Ahli Bayt), mereka rebut tanah fadak dari tangan Fatimah Zahra putri nabi dan mereka cegah Ahli Bayt dari hak khumus, merekalah yang berminat sekali untuk memberikan apa saja kepada Dinasti Umayyah untuk memperkuat kekuasaan dan mendirikan daulat mereka, mereka berikan khumus dari ghanimah perang Afrika kepada Marwan bin Hakam dan Ibnu Abi Sarah, merekalah yang mengobarkan api fitnah di perang Jamal, dan begitulah seterusnya. Mereka semua harus bertanggungjawab atas malapetaka yang muncul di dunia Islam ini, Allah swt. berfirman
وَقِفُوهُمْ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ الصافات 24-26

Artinya “Dan tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban, mengapa kalian tidak tolong menolong, bahkan –sebaliknya– mereka pada hari itu menyerahkan diri”. (QS. 37 24-26).
Syariat Raja-Raja Bejat
Ada baiknya jika kita telusuri beberapa contoh kecil dari penerapan syariat islam! dengan pola Dinasti Umayyah yang merupakan cita-cita bagi orang-orang yang terkecoh di masa kini
1. Penghalalan Khamar.
Ahmad bin Hambal meriwayatkan di dalam kitab Musnadnya bahwa Abdullah bin Buraidah mengatakan Suatu saat aku dan ayahku memasuki tempat tinggal Muawiyah, lalu kami duduk bersama di atas sofa, tak lama kemudian para pembantu menghidangkan makanan dan kita pun segera menyantapnya, setelah itu mereka menghidangkan minuman-minuman yang keras dan memabukkan, Muawiyah langsung meminumnya dan kemudian ayahku juga minum, lalu dia berkata Sudah lama aku tidak meminum khamar, tepatnya semenjak Rasulullah mengharamkannya. [13]
2. Penghalalan Riba.
Malik, Nasa’i dan para ahli hadis lainnya meriwayatkan dari Ata’ bin Yasar bahwa Muawiyah menjual semangkuk emas atau perak dengan barang sejenis yang timbangannya lebih banyak, seketika itu juga Abu Darda’ –radliallohu anhu–mengatakan Aku telah mendengar Rasulullah saw. melarang penjualan seperti ini kecuali dengan timbangan yang sama. Lalu Muawiyah menanggapinya dengan berkata Menurutku perniagaan seperti ini boleh-boleh saja hukumnya. [14]
3. Pembantaian Sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Tanpa Dosa.
Allah swt. berfirman
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعً المائدة 32

Artinya Karena itu Kami tetapkan kepada Bani Israil bahwa sesungguhnya barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena hukuman pembunuhan atau karena membuat kerusakan di bumi maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. (QS. 5 32).
Thabari meriwayatkan di dalam buku sejarahnya bahwa Muawiyah menugaskan Mughirah bin Syu’bah untuk memerintah di Kufah dan berpesan kepadanya Jangan lupa kamu harus senantiasa mencaci maki Ali dan menjauhi syiahnya, sebaliknya kamu harus senantiasa memuji pendukung Usman dan mendekati mereka. Mughirah menjabat di Kufah selama tujuh tahun lebih sekian bulan, sebetulnya perangai dia baik, hanya saja dia tidak pernah lupa mencaci maki Ali dan mengutuk komplotan pembunuh Usman, sebaliknya dia selalu mendoakan rahmat dan pengampunan untuk Usman serta menyanjung sahabatnya. Setiap kali Hujr bin Adi mendengar kata-kata itu dari mulut Mughirah dia berkata Sungguh bukan demikian halnya, melainkan kalianlah yang dihina dan dikutuk oleh Allah. Sesungguhnya Allah swt. berfirman “Jadilah kalian orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah” [15], dan aku bersaksi bahwa orang yang kalian caci maki dan hina sungguh lebih pantas untuk disanjung, sedangkan orang yang puji-puji itu lebih pantas untuk dihina. [16] Kondisi ini terus berjalan sampai kemudian Ziyad memimpin Kufah, dia mengatakan hal yang sama dengan apa yang sebelumnya dikatakan oleh Mughirah, dan seperti biasanya Hujr juga menentang perkataan itu sebagaimana pada masa kekuasaan Mughirah, bagi Ziyad perbuatan Hujr ini merupakan kelancangan, oleh karena itu dia segera menginformasikan kejadian ini kepada Muawiyah, dan Muawiyah memerintahkan dia untuk menangkap Hujr, menyiksa, memancung dan bahkan melecehkan jenazahnya.
Hujr bin Adi bukan satu-satunya bukti kezaliman daulat tiran Bani Umayyah yang menurut anggapan orang-orang yang bodoh mereka adalah para penguasa yang memerintah dan menghakimi sesuai dengan syariat Islam. Siang dan malam Dinasti Umayyah senantiasa berusaha untuk memadamkan cahaya Allah, dan pada saat yang sama para imam suci Ahli Bait as. berjalan di atas garis besar penegakan daulat Mahdi yang dinanti, walaupun pada kenyataannya harus tertunda setelah beberapa abad setelah mereka. Dinasti Umayyah bersikeras untuk menciptakan kehancuran di dalam tubuh Islam dan memberantas tokoh sekaligus nilai-nilai keislaman, sebaliknya Ahli Bait Muhammad saw. bersikeras untuk melestarikan norma-norma Islam yang sejati dan menekankan bahwa tahap persiapan untuk menegakkan daulat Imam Mahdi sama sekali bukan tahap kevakuman yang negatif, melainkan harus dengan cara melestarikan norma-norma sampai kemunculan Mahdi.
Di antara panji-panji politik Muawiyah adalah sebagai berikut
a- Kutukan terhadap Ahli Bait as., khususnya laknat kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. di atas mimbar-mimbar pidato, baik di waktu terang maupun petang.
b- Peningkatan posisi para musuh dan pesaing Ahli Bait as. dengan cara membuat hadis-hadis palsu yang dituduhkan kepada Rasulullah saw.
c- Pemberantasan orang-orang syi’ah yang mendukung Ahli Bait as., seperti Hujr dan Amr bin Hamiq, bahkan pembantaian siapa saja penentang mereka yang dianggap berbobot walaupun bukan dari kalangan syi’ah, seperti Sa’ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Khalid bin Walid.
d- Politik suap dan iming-iming.
Kangker politik inilah yang kemudian menjalar ke tubuh umat Islam.
Sistem Kerajaan Dinasti Umayyah
Sejak awal, Muawiyah putra wanita pemangsa jantung manusia ini bermaksud untuk mengangkat Yazid untuk meneruskan sistem kerajaan yang dia bangun sebagai ganti dari sistem pemerintahan umat Islam pada waktu itu sampai selama-lamanya, ada berbagai versi periwayatan tentang momentum yang tepat untuk menggulirkan ide pengangkatan ini dan terus mengesahkannya, seperti rekayasa penjilatan yang dilakukan oleh Mughirah bin Syu’bah atau ketaatan Dhohhak bin Qais kepada Muawiyah. Dalam pada itu berbagai cara ditempuh oleh Muawiyah untuk menyukseskan suksesi ini, di antaranya melakukan propaganda tanpa batas, membangun perusahaan yang memproduksi keutamaan bagi pihak dia, dan menyuap atau jika masih tidak ampuh juga maka meneror siapa saja yang dianggap sebagai pesaing atau penentang keputusan ini, walau dalam kubu mereka sendiri seperti Abdurrahman bin Khalid bin Walid atau Said bin Usman bin Affan.
Suksesi yang ingin dilakukan oleh Muawiyah ini menghadapi berbagai rintangan karena memang sistem kerajaan seperti ini berlaku di luar pemerintahan umat Islam seperti Romawi, sedangkan muslimin pada waktu itu lebih akrab dengan sistem syura yang mereka anggap sebagai undang-undang dasar, walaupun pada kenyataannya sistem ini sendiri tidak jelas dan tidak berjalan sesuai yang mereka bayangkan, lebih lagi bahwa Yazid adalah orang yang betul-betul bejat dan sama sekali tidak memiliki keistimewaan menjadi pemimpin. Maka dari itu Muawiyah melakukan segala cara untuk merealisasikan keinginannya dan di antara cara dia yang paling berhasil adalah politik cerai beraikan massa agar kamu berkuasa. [17]
Revolusi Huseini
Umat Islam, yang pada saat itu hanyut dibawa fitnah dan tenggelam di dalam kezaliman Dinasti Umayyah, sangat membutuhkan sikap huseini yang menentang kezaliman dan bukan sekedar berbicara tentang kebenaran melainkan melakukannya, bukan pula sekedar melakukannya untuk disaksikan oleh segelintir orang dan tidak diketahui oleh yang lain melainkan melakukannya secara istimewa sehingga senantiasa terukir di bumi dan terlukis di hati manusia yang paling dalam. Umat Islam, bahkan seluruh umat manusia sangat membutuhkan cahaya cemerlang ini untuk senantiasa memberi petunjuk jalan dan batas-batas pemisah antara kebenaran dan kebatilan, antara keridhoan Allah dan murkanya.
Unsur-unsur pergerakan sudah lengkap, dan adalah keharusan bagi Husein pada waktu itu untuk melakukan pergerakan dan revolusi. Secara pribadi, Husein bukan tidak bisa menghindarkan diri dari revolusi dan bersikap –contohnya– seperti Ibnu Umar yang berbaiat karena terpaksa kepada Yazid lalu membuat riwayat-riwayat pemebenaran atas sikap tersebut, beliau lebih mampu untuk melakukan hal-hal seperti itu, tapi di situlah letak perbedaan keluarga suci Nabi saw. dengan yang lain, bukan pribadi, keluarga ataupun kelompok yang berharga bagi mereka, lebih berharga dari itu semua adalah agama dan nasib umat kakeknya Muhammad saw., dengan adanya semua unsur pergerakan dan revolusi yang dapat menyelamatkan umat Islam dari kebinasaan dan cengkraman tiran untuk selama-lamanya maka walau harus mengorbankan jiwa, raga, harta, keluarga dan sahabatnya beliau tetap menunaikan tugas agung itu dengan sebaik mungkin. [Diringkas dan diterjemahkan oleh dari tulisan situs www.aqaed.com].



1. Tarikhu al-Umam wa al-Muluk, Thabari 3561, Muassasah al-A’lami, Bairut.
2. At-Thobari 3559-560.
3. Maqotil at-Tholibin 76-77, Muassasah al-A’lami, Bairut, 1408 H 1987 M.
4. Tarikh at-Thobari 3552, Muassasah al-A’lami, Biarut.
5. Ibid. 3552-553.
6. Ibid. 3554.
7. Ibid. 3554.
8. Ibid. 4103.
9. Ibid.
10. Tarikhu al-Umam wa al-Muluk, Ibnu Jarir Thabari 4104.
11. Ibid. 4 107.
12. Syarh Nahj al-Balaghoh, Ibnu Abil Hadid, di bawah penelitian Muhammad Abu Fadhl Ibrahim 5 181, cetakan pertama, Darul Jabal, Bairut, 1407 H- 1987 M.
13. Musnad Ahmad bin Hanbal 5 407 hadis 23005, cetakan Darul Kutub al-Ilmiyah, Bairut, 1413 H- 1993 M.
14. Sunan al-Nasa'i bi Syarhi al-Suyuthi 7 279, Darul Kutub al-Ilmiyah; al-Muwattho' karya Malik bin Anas, di bawah penelitian Muhammad Fu'ad Abdul Baqi 2 634 hadis 33, Darul Kutub al-Ilmiyah, Bairut.
15. QS. An-Nisa’4 135.
16. Tarikh al-Thobari 4 188-190. Muassatul A’lami lil Matbu’at, Bairut.
17.Untuk menambah wawasan dan memperkuat referensi Anda dalam persoalan ini, bacalah buku-buku sebagai berikut al-Imamah wa al-Siyasah, karya Ibnu Qutaibah Dainuri yang diteliti oleh Ali Syirazi, jilid 1, halaman 188, 191-192; al-Isti’ab fi Makrifati al-Ashab, karya Qurtubi, jilid 2, halaman 373-374; Tarikh al-Umam wa al-Muluk, karya Tobari, jilid 4, halaman 171; al-Kamil fi al-Tarikh, karya Ibnu Atsir, jilid 3, halaman 214-216. Dll.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
1+2 =