Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |

|


ABU QASIM MUHAMMAD ANWAR KABIR
(Bangladesy – Wahabi)



Muhammad Anwar Kabir lahir pada tahun 1970 M. di Bangladesy, [1] dia mendapat gelar pendidikan S1 di jurusan pertanian, dan S2 di bidang ilmu politik dan peradaban Islam.
Dia beralih dari mazhab Wahabi ke mazhab Ahli Bait as. pada tahun 1991 M. di kota Daka, Bangladesy.

Renungan Sejarah Islam

Abu Qasim –panggilan akrab Muhammad Anwar Kabir- mengatakan, ‘Aku tumbuh di tengah keluarga beragama dan konservatif yang berkeyakinan bahwa komitmen terhadap ajaran agama dan bimbingannya adalah sesuatu yang fundamental dan tidak boleh untuk diabaikan. Itulah sebabnya pengetahuan-pengetahuan dasar agama; baik pokok maupun cabang, telah aku kuasai secara baik, sehingga dampaknya terasa sekali dalam pola hidupku.
Salah satu dampak yang ditanamkan oleh pendidikan itu dalam diriku adalah, keinginan yang kuat untuk membaca sejarah Islam, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan para sahabat dan khalifah, aku betul-betul menikmati saat membaca sejarah Nabi Muhammad Saw., para khalifah dan kisah-kisah para nabi yang lain as.
Tapi di sana ada hal-hal tertentu yang membuat keruh keinginan ini, sehingga membuatku hidup dalam keadaan benci dan jijik terhadap hal-hal yang kubaca tersebut!’

Awal Perkenalan dengan Mazhab Ahli Bait as.

Abu Qasim Muhammad Anwar Kabir melanjutkan, ‘Setelah berapa tahun dari wisudaku, aku bekerja sebagai penerjemah di beberapa koran dan media cetak Bangladesy. Lalu, secara kebetulan aku mendapatkan terjemahan kitab tafsir Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qur’ân karya Allamah Thaba’thaba’i, aku melihat metode penafsirannya berbeda dengan tafsir-tafsir lain yang pernah kubaca, aku menemukannya sebagai tafsir yang bermetode baru; mempertemukan masa lalu dan masa sekarang.
Maka dari itu, kitab tafsir ini adalah buku pertama Syi’ah yang jatuh ke tanganku, sewaktu aku membaca bagian-bagian pembahasannya tentang sejarah maka aku bertekad untuk mengubah kepercayaanku yang sebelumnya, sebagaimana pula aku juga menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang selama ini menggantung di benakku, khususnya tentang sejarah periode Usman bin Affan.

Bani Umayyah Sepanjang Sejarah

Siapa saja yang teliti membaca sejarah Bani Umayyah dan perilaku mereka, pasti tahu bahwa mereka berusaha dengan segala cara untuk menempelkan diri mereka dengan Rasulullah Saw., untuk itu mereka melemparkan isu kalau diri mereka termasuk Quraisy dan seketurunan dengan Rasulullah Saw.! Mereka tanamkan Muawiyah sebagai paman orang-orang mukmin! Mereka juluki Usman bin Affan dengan pemilik dua cahaya karena kawin dengan dua anak tiri perempuan Rasulullah Saw., [2] dan lain sebagainya.
Di saat mereka melihat Usman bin Affan dalam kapasitasnya sebagai salah satu dari Khulafa’ Rasyidin lebih diterima di tengah kaum Muslimin, maka mereka berusaha menyusup ke jantung kekuasaan melaluinya, mereka kerahkan para pemalsu hadis, pembohong dan pemfitnah untuk mengarang keutamaan-keutamaan tertentu bagi Usman.
Seperti terdapat dalam riwayat Abu Hurairah yang mengatakan, ‘Suatu saat aku datang ke tempat Ruqayah putri Rasulullah (Saw.) istri Usman, ketika itu dia memegang sisir seraya berkata, ‘Baru saja Rasulullah (Saw.) keluar dari sini, tadi aku menyisir rambutnya lalu beliau bersabda, ‘Bagaimana menurutmu Abu Abdillah (yakni, Usman bin Affan)?’ aku jawab, ‘Baik.’ Lalu beliau bersabda lagi, ‘Muliakanlah dia, karena dia termasuk sahabat yang paling mirip akhlaknya/ ciptaannya denganku.’
Kebohongan hadis ini jelas sekali! Hakim Nisyaburi mengomentarinya dengan pernyataan, ‘Secara sanad hadis ini terhitung shahih, tapi secara matan (teks dan kandungan) hadis ini lemah sekali! Karena Ruqayyah meninggal pada tahun 3 hijriah, yaitu setelah kemenangan Muslimin di perang Badar, sedangkan Abu Hurairah baru masuk Islam 7 tahun pasca kemenangan mereka di perang Khaibar!’ [3] Dzahabi juga berkomentar, ‘Hadis ini shahih, tapi kandungannya munkar atau tertolak mentah-mentah, karena Ruqayyah mati pada masa perang Badar, sedangkan Abu Hurairah masuk Islam pada masa perang Khaibar!’ [4]
Demikianlah seterusnya keutamana-keutamaan yang disebutkan tentang Usman bin Affan.

Hakikat yang Sebenarnya tentang Kekerabatan Bani Umayyah dengan Nabi Muhammad Saw.

Kenapa Bani Umayyah membidik kekerabatan diri mereka dengan Nabi Muhammad Saw., karena mereka ingin mengelabuhi masyarakat, khususnya penduduk negeri Syam bahwa mereka termasuk keluarga beliau, mereka mengaku silsilahnya bertemu di kakek beliau yang bernama Abdu Manaf, tapi klaim ini patut untuk diragukan dan dicurigai!
Karena sesungguhnya Umayyah adalah budak romawi yang diangkat sebagai anak oleh Abu Syams, tradisi bangsa arab zaman itu adalah mereka menghubungkan anak angkat secara nasab kepada bapak angkatnya, sehingga penghubungan itu pun membawa dampak yang sama dengan hubungan seseorang dengan anak kandungnya sendiri. Terbukti bahwa Abu Thalib as. berkata tentang status Bani Umayyah:
Qodîman abûhum kâna ‘abdan li jaddinâ
Banî amatin syahlâ’ jâsya bihâ al-bahru [5]
Artinya, dahulu kala ayah mereka adalah seorang budak milik kakek kami, keturunan budak perempuan bermata biru yang dibawa laut kemari.
Abu Thalib adalah orang yang paling tahu tentang nasab atau keturunan kaumnya, terbukti tidak ada seorang pun yang menentang dia dalam hal ini, karena memang tidak ada alasan apa pun untuk mengingkari kenyataan ini.
Kenyataan ini juga didukung oleh pernyataan Amirul Mukminin Ali as. dalam surat yang dilayangkannya kepada Muawiyah, di sana beliau menyebutkan secara tegas bahwa:
Wa laisa al-shorîh ka al-lashîq
Artinya, asli tidaklah sama dengan mitasi. Dengan kata lain orang yang jelas sebagai keluarga tidaklah sama dengan orang yang ditempel-tempelkan padanya.
Beliau mengeluarkan pernyataan ini ketika menjawab surat Muawiyah yang mengklaim diri bahwa, ‘aku dan kamu sama-sama keturunan Abdu Manaf.’ [6]
Oleh karena itu, masalah penghubungan anak angkat secara nasab kepada bapak angkatnya adalah tradisi yang populer di kalangan bangsa arab zaman itu; sebagai contoh lain, Dzakwan dianggap sebagai keturunan Umayyah saat dia diangkat sebagai anak olehnya, padahal semula dia adalah budaknya dan sama sekali bukan famili atau kerabat. [7]
Namun demikian, Bani Umayyah menjadikan masalah ketergolongan mereka dalam keluarga Quraisy sebagai selimut untuk menutupi perbuatan-perbuatan keji mereka yang tampak jelas manifestasinya pada masa kekuasaan Usman bin Affan, karena pada waktu itu mereka adalah golongan yang mengelilingi dia atas nama keluarga dan kerabat, dengan itu mereka menungganginya dan mengendalikannya ke mana pun mereka suka!

Tuntut Balas Muslimin atas Usman

Ketika Muslimin memperhatikan perilaku Usman bin Affan, mereka menyaksikan secara nyata bahwa dia memutarbalikkan hukum Allah Swt., meliburkan had-had-Nya, mengubah sunnah nabi-Nya Saw. dan melecehkan Al-Qur’an dengan cara membakar mushaf-mushafnya. Untuk itu, mereka terpanggil untuk bangkit melawan penguasa yang menyimpang tersebut.
Di antara hal-hal yang mengundang reaksi keras dan tuntut balas Muslimin terhadap Usman adalah sebagai berikut:
1. Dukungan dia terhadap orang-orang murtad dan orang-orang yang diusir oleh Rasulullah Saw. dari pemerintahan Islam.
Dalam pada ini, Usman memberi peluang besar kepada orang-orang yang murtad dan terkutuk secara langsung oleh Rasulullah Saw. pada masa kekuasaannya, bahkan dia memberi mereka kedudukan-kedudukan di pemerintahannya! Orang-orang itu antara lain adalah pamannya sendiri yang bernama Hakam bin Ash, padahal Rasulullah Saw. telah mengusirnya dari kota Madinah tapi sebaliknya; Usman mengembalikannya ke kota suci itu dengan penuh penghormatan, dia memberinya seratus ribu dirham dari Baitul Mal Muslimin! [8]
Tindakan sembrono itu sampai membuat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. beserta rombongan sahabat yang lain, seperti Ammar bin Yasir, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf datang kepadanya seraya berkata, ‘Kamu masukkan Hakam beserta rombongannya ke Madinah, padahal Nabi Saw. telah mengusir mereka dari sana, sungguh kami ingatkan kamu akan Allah dan Islam serta hari kebangkitanmu, karena sungguh bagimu kebangkitan dan tempat kembali. Sadarlah bahwa para penguasa sebelummu tidak ada yang melakukan perbuatan seperti ini ...’ [9]
Si pengecut licik yang termasuk orang paling mengganggu dan melecehkan Rasulullah Saw. ini telah dikutuk oleh beliau berulang kali, antara lain beliau bersabda, ‘Sesaat 0lagi akan masuk ke ruangan kalian ini seorang lelaki yang terkutuk, sesaat itu pula masuklah Hakam bin Ash ke sana.’ [10], suatu ketika Hakam minta ijin untuk masuk ke tempat Rasulullah Saw., maka beliau bersabda, ‘Ijinkanlah dia untuk masuk, laknat Allah atasnya dan atas apa yang keluar dari sulbinya, kecuali yang beriman dari mereka, tapi betapa sedikitnya orang beriman yang keluar dari sulbinya.’ [11], beliau juga pernah bersabda, ‘Hendaknya dia tidak berdomisili denganku di satu negeri sampai selama-lamanya.’ [12]
Usman bin Affan tidak peduli dengan itu semua; sabda maupun tindakan Rasulullah Saw., melainkan dia kembalikan musuh-musuh beliau tersebut ke Madinah!
2. Mengangkat salah satu dari orang yang murtad menjadi menteri dalam pemeritahannya.
Abdullah bin Abi Sarah adalah orang yang murtad dan pembohong yang mendustakan banyak hal kepada Allah Swt., [13] meskipun demikian Usman bin Affan mengangkat dia sebagai menteri dalam pemerintahannya, dia melantiknya sebagai gubernur Mesir. Semua itu karena Abdullah bin Abi Sarah adalah saudara sesusunya!
Padahal, Rasulullah Saw. telah menghalalkan darahnya untuk ditumpahkan bahkan mengelurkan perintah eksekusinya walau dia bergantung di tabir Ka’bah. Usman tetap saja tidak peduli dengan keputusan Rasulullah Saw. sebagaimana dia juga tidak peduli bahkan menentang firman Allah Swt. yang berbunyi:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ (المجادلة: 22)

Artinya: Tiadalah engkau dapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling mencintai dengan siapa yang melawan Allah dan Rasul-Nya, walaupun mereka itu bapak-bapak mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka.’ (QS. Al-Mujadalah [58]: 22).
3. Mengangkat orang fasik sebagai gubernur kota Kufah.
Walid bin Aqabah adalah orang yang fasiq tapi pada saat yang sama merupakan saudara seibu Usman bin Affan. Untuk itu, walau pun fasiq tapi Usman tetap mengangkat dia menjadi gubernur kota Kufah. [14]
Akibatnya adalah, Walid mengimami shalat jamaah subuh dalam keadaan mabuk sampai empat raka’at, sempat pula dalam keadaan itu dia melantunkan puisi:
‘Alaqo al-qolbu al-rubâbâ
ba‘da mâ syâbat wa syâbâ
Artinya, kalbu ini tetap saja terpikat pada Rubaba, walaupun dia sudah tua dan hati ini pun juga sudah menua.
Melihat salah kaprah itu, makmum-makmum di sekitarnya mengingatkan bahwa dia memimpin shalat jama’ah subuh sampai empat rakaat, dia menjawab, ‘apa kalian ingin aku tambahkan beberapa rakaat lagi untuk itu?!’ kemudian dia muntah di mihrab karena terlalu banyak minum arak. [15]
Dia gemar sekali dengan penyihir yang bermain-main di hadapannya, nyaris saja dia mengelabuhi masyarakat dengan sihir tapi kemudian Jundab datang membunuhnya demi melaksanakan perintah Syariat. [16] Salah satu kebiasaan buruk gubernur angkatan Usman bin Affan ini adalah mabuk-mabukkan bersama Abu Zubaid Tha’i yang beragama Kristen, pernah suatu saat dia berjalan bersamanya di depan masjid dan mengobrol sambil mabuk-mabukan. [17]
Usman tidak peduli dengan tingkah laku saudara seibunya itu, bahkan dia membelanya! Ketika ada sekelompok orang penduduk Kufah mendatangi Usman dan mengadukan sepak terjang anak ibunya itu, dia malah ingin menimpakan bencana kepada mereka. Aisyah marah sekali saat mendengar berita itu, dia menentang Usman dan termasuk orang yang paling keras terhadapnya! Bahkan dia mengeluarkan salah satu baju Rasulullah Saw. seraya menggantungkannya di rumah dan berkata kepada orang-orang yang mengunjunginya, ‘Ini adalah baju Rasulullah (Saw.), belum rusak, tapi Usman sudah merusak sunnah beliau.’ [18] dia tetap murka padanya walau setelah terbunuh! Terbukti waktu berita terbunuhnya Usman sampai kepada dia di Mekkah, dia berkata, ‘Allah telah mengasingkannya, hal itu karena tingkah lakunya sendiri, dan tiadalah Allah zalim atas hamba-hamba-Nya. [19] menurut riwayat lain dia berkata, ‘Allah telah mengasingkannya, dia dibunuh oleh dosanya sendiri, dan Allah membinasakannya karena perbuatannya sendiri.’[20]
4. Mengangkat orang terkutuk sebagai menteri dalam pemerintahannya.
Usman bin Affan mengangkat misanannya yang terkutuk; Marwan bin Hakam, sebagai menteri sekaligus menantunya, dia pasrahkan kendali segala urusan sampai-sampai Marwan dapat mengarahkan dia semaunya. Kenyataan ini disaksikan baik oleh orang dalam maupun orang luar.
Abdurrahman bin Aswad mengatakan, ‘Semoga Allah menjelekkan Marwan! Usman keluar ke tengah masyarakat dan memberi mereka kerelaan seraya menangis di atas mimbar ... kemudian dia masuk ke rumah, lalu Marwan juga masuk ke sana, tidak lama kemudian dia berhasil mengalihkan Usman dari pendapatnya dan menggantikannya dengan apa yang dia inginkan.’ [21]
Amirul Mukminin Ali as. menyalahkan Usman karena tunduk pada Marwan, beliau berkata, ‘Apa kamu rela pada Marwan sementara dia tidak akan rela padamu kecuali setelah menyimpangkanmu dari agama dan akal sehatmu sendiri, membuatmu seperti unta bertandu yang bisa digiring ke mana saja, demi Allah! Marwan bukanlah orang yang patut diperhitungkan dalam hal agama maupun dirinya, demi Allah! Aku melihatnya akan menjerumuskanmu dan tidak akan menyelamatkanmu.’ [22]
Diriwayatkan pula dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. bahwa beliau berkata kepada Abdurrahman bin Aswad tentang Usman, ‘Dia telah dipermainkan oleh Marwan! Dia menjadi kendali di tangan Marwan yang bisa diarahkan ke mana saja olehnya, itu pun setelah dia tua dan setelah bersahabat lama dengan Rasulullah Saw.’ [23]
Istri Usman sendiri mengakui hal itu, dia berkata kepadanya, ‘Kamu patuhi Marwan sehingga dia bisa menggiringmu ke mana saja dia suka.’ [24]
Tidak cukup sampai di situ saja, Usman bahkan telah mendekatkan Marwan dan memberinya sesuatu yang tidak pernah terlintas di benak Marwan sendiri; dia memberinya pajak seperlima negeri Mesir, pajak seperlima dari ghanimah Afrika, dan memberinya tanah Fadak [25] yang dirampas dari tangan Fatimah Zahra sa. setelah diberikan oleh Rasulullah Saw. kepadanya.
Kendali semua urusan pemerintah pada waktu itu ada pada tangan Marwan, dia atur perkara Muslimin sesuka hatinya, sampai-sampai ketika fitnah pembunuhan Usman terjadi dia berkata kepada Muslimin yang berkumpul di sana, ‘Apa gerangan kalian berkumpul di sini, seolah-olah kalian datang untuk merampok sesuatu! Jelek sekali muka-muka ini! Setiap orang mendapat sesuatu sesuai ijin pemiliknya, kecuali orang yang kuinginkan! Kalian datang untuk merebut milik kami dari cengkraman kami! Enyahlah kalian dari sini, sungguh demi Allah! Apabila kalian menghendaki hal itu atas kami, niscaya akan kami kerahkan hal-hal yang tidak menyenangkan atas kalian, jangan kalian berharap baik dari konsekwensi pendapat kalian ini, pulanglah ke rumah kalian masing-masing, karena sungguh kami tidak mungkin terkalahkan terhadap apa yang sekarang ada pada genggaman kami.’ [26]
5. Memberi kekuasaan kepada sanak familinya atas rakyat.
Usman bin Affan memberi kekuasaan kepada sanak familinya; Bani Umayyah dan Alu Abi Mu’ith, atas rakyat, dia sediakan lahan bagi mereka untuk berbuat apa saja terhadap rakyat! Dengan itu, dia telah merealisasikan apa yang pernah diprediksikan oleh Umar bin Khatthab, ‘Apabila dia berkuasa, maka dia akan memberikan kekuasaan kepada keluarga Abu Mu’ith atas rakyat, dan jika itu dia lakukan maka mereka akan membantai rakyat.’ [27]
Dalam pada ini, Amirul Mukminin Ali as. berkata di sela-sela pidato Syiqsyiqiyahnya:
Ilâ an qôma tsâlitsu al-qoumi nâfijan hidhnaihi, baina natsîlihi wa mu‘talafih, wa qôma ma‘ahu banû abîhi yakhdhomûna mâla Allôhi khidhmata al-ibil-i nibtata al-robî‘, ilâ an intakatsa ‘alaihi fatluh, wa ajhaza ‘alaihi ‘amaluh, wa kabat bihi bithnatuh. [28]
Artinya: Kemudian orang yang ketiga berkuasa karena hasil syura, dia berada di jalur pemenuhan perut dan pengosongannya serta meninggikan bahu-bahunya, bersama keturunan bapaknya dia bangkit seperti unta yang melahap rumput hijau segar dengan rakus, melahap baitul mal besar-besaran. Bertahun-tahun hal itu terus berjalan sampai akhirnya ajal dia tiba dan seluruh rencananya gagal, dia dihabisi oleh sepak terjang dan ditindih oleh keserakahannya sendiri.
Inilah karakteristik orang-orang terdekat Usman dan pejabat-pejabat pemerintahannya, mereka tidak menghendaki kebaiknya urusan Muslimin dan tidak pula amanat memegang kekuasaan, di antara mereka tidak ada siapa pun kecuali orang yang terkutuk, fasik, murtad atau orang bodoh yang tidak tahu menahu tentang persoalan masyarakat dan politik negara. [29]
6. Menghabisi nyawa sejumlah sahabat Nabi Saw. dan melecehkan kehormatan mereka.
Usman bin Affan telah melecehkan kehormatan sahabat besar Nabi Saw. yang bernama Ammar bin Yasir, tepatnya ketika Ammar berdiri di hadapan Usman untuk mengingatkan kelancangannya terhadap Muslimin, maka Usman berkata kepada Ammar, ‘Ini adalah harta Allah (baitul mal), aku berikan kepada siapa saja yang aku mau, dan aku cegah dari siapa saja yang aku mau pula!’ Maka Ammar bin Yasir berdiri lagi seraya berkata, ‘Aku orang pertama yang menentang perilakumu ini.’ Usman marah dan berkata, ‘Lancang sekali dirmu wahai putra Sumayyah!’ kemudian orang-orang Bani Umayyah menyerang Ammar dan memukulinya sampai pingsan. Ammar berkata, ‘Ini bukan untuk pertama kalinya aku teraniaya demi Allah.’ [30]
Di dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Ammar bin Yasir dipukuli, perutnya sampai terbelah dan salah satu tulang rusuknya patah! [31]
Padahal, tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda tentang Ammar bin Yasir:
Muli’a ‘Ammâru îmânan ilâ masyâsyih. [32]
Artinya: Ammar telah dipenuhi iman sampai pangkalnya.’
Beliau juga telah bersabda tentangnya:
Man sabba ‘Ammâron yasubbuhu Allôhu, wa man yantaqishu ‘Ammâron yantaqishuhu Allôhu, wa man yasfahu ‘Ammâron yasfahuhu Allôh. [33]
Artinya: Barangsiapa yang mencaci Ammar maka Allah akan mencacinya, dan barangsiapa yang mencela Ammar maka Allah akan mencelanya, dan barangsiapa yang merendahkan Ammar maka Allah akan merendahkannya.
Contoh lain pelecehan Usman terhadap sahabat besar Nabi Saw. adalah pelecehannya terhadap Abu Dzar, tepatnya ketika dia perintahkan tentaranya untuk mendatangkan Abu Dzar dari Madinah –tempat pengasingannya yang pertama- ke Syam dengan kondisi yang mengenaskan, setelah itu Usman mengasingkannya lagi ke daerah mati dan terpencil yang bernama Rabadzah, sampai akhirnya sahabat besar Nabi saw. (Abu Dzar) meninggal dunia di sana dalam keadaan terasingkan! [34] semua kesulitan itu ditimpakan padanya hanya karena dia mengatakan kebenaran, memerintahkan kebaikan, dan menolak kebatilan.
Padahal Rasulullah Saw. telah bersabda tentang Abu Dzar:
Ma aqollat al-ghobrô’ wa lâ azdollat al-khodhrô’ min rojulin ashdaqu lahjatan min Abî Dzar. [35]
Artinya: Tiada tanah yang mengusung dan hehijauan yang menaungi seorang lelaki yang lebih jujur tutur katanya daripada Abu Dzar.
Usman bin Affan juga memanggil Abdullah bin Mas’ud secara paksa lalu membakar Mushaf-nya dan mencegahnya dari jatah baitul mal. Dia juga mengasingkan Amir bin Abdi Qais dari kota Basyrah ke negeri Syam untuk menghindari sepak terjangnya. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Muslimin yang dia usir dari negeri mereka sendiri ke negeri yang lain, seperti Malik Asytar Nakha’i, Malik bin Ka’ab, Kumail bin Ziyad, Tsabit bin Qais, Sha’sha’ah bin Sauhan, Amr bin Hamiq Khuza’i dan lain-lain hanya karena mereka tidak setuju dengan penyimpangan para penguasa yang dilantiknya, [36] seperti Sa’ad bin Ash yang ditugaskan oleh Usman di Kufah, dia berkata, ‘Daerah besar sekitar kota ini adalah kebun untuk Quraisy.’ Seketika itu juga Malik menanggapinya, ‘Apa kamu kira bahwa daerah besar sekitar kota yang dikaruniakan Tuhan kepada kita dengan pedang-pedang kita ini adalah kebun untukmu dan sukumu sendiri?!’ [37]
7. Bermain dengan Baitul Mal Muslimin.
Usman bin Affan mengelola Baitul Mal semaunya sendiri, dia dahulukan keluarga dan sanak familinya daripada yang lain, karena itu berbagai musibah dan malapetaka datang menimpanya.
Dia berikan puluhan ribu dirham kepada pamannya, Hakam bin Ash yang diusir oleh Rasulullah Saw. dari Madinah, dia hadiahkan empat ratus ribu dirham kepada Khalid bin Asid, dia serahkan pasar di tengah kota kepada misanannya, Haris bin Hakam, padahal itu adalah tempat yang disedekahkan Rasulullah Saw. untuk Muslimin, dia berikan hadiah berlimpah kepada keluarga Hakam, perhiasan emas dan perak kepada wanita-wanita dan anak-anak perempuannya, dia gunakan uang Baitul Mal juga untuk merehabilitasi rumah-rumah dan istana mereka, dan lain sebagainya. [38]

Menyikapi Realitas dengan Jiwa Yang Kritis dan Terbuka

Abu Qasim Mhuammad Anwar Kabir mengatakan, ‘Semua yang kubaca tetnang Usman bin Affan ini membuatku bingung dan tercengang! Aku bertanya pada diri sendiri; lantas mana keadilan dalam pembagian saham Baitul Mal? Mana jasa pejuang-pejuang terdahulu Islam? Mana kepedulian untuk menjaga kepentingan umat Muslimin?!
Hal yang membuat keberatanku semakin bertambah terhadap tingkah laku itu adalah, pembenaran irrasional yang diajukan oleh sebagian orang untuk membela tingkah laku Usman dan pejabat-pejabatnya tersebut. Untuk itu, aku bertekad untuk konsentrasi membaca sejarah periode sejarah Muslimin yang sensitif ini. Ternyata, aku menemukan hal-hal baru yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya; bahwa khalifah Usman bin Affan menutup mata dari hal-hal penting itu dan mengabaikannya, bahkan terbukti juga bagiku bahwa sebagian tindakan keji dan kotor itu dilakukan berdasarkan perintah dia sendiri!!
Abu Qasim melanjutkan, ‘Hilanglah di mataku gaun kesucian dan sakralitas yang pernah aku pandang sebelumnya untuk lelaki ini, khususnya setelah aku tahu bahwa dia tidak mejatuhi hukuman kisas apalagi melaksanakannya terhadap Ubaidullah bin Umar bin Khathab setelah membunuh tiga orang yang tidak berdsoa! Hatiku terasa terenyuh sekali saat membaca teks yang tertera di dalam kitab Thobaqôt Ibnu Sa’ad yang menyebutkan, ‘Ketika Usman bertemu dengan Ubaidullah setelah melakukan perbuatan keji itu, dia berkata kepadanya, ‘Sungguh Tuhan membunuhmu, kamu telah bantai seorang lelaki yang melakukan shalat, anak kecil dan satu lagi orang yang berada di bawah perlindungan Rasulullah Saw., sungguh tidak ada benarnya membiarkanmu begitu saja.’ Perawi mengatakan, ‘Aku heran sekali pada Usman saat dia berkuasa, bagaimana mungkin dia rela untuk meninggalkan penjahat itu begitu saja! Tapi aku tahu bahwa Amr bin Ash telah masuk kepadanya dan memalingkan dia dari keinginan untuk menjatuhi dan melaksanakan hukum kisas kepada penjahat tersebut.’ [39]
Aku sungguh heran sekali saat membaca pernyataan ini! Aku heran sekali bagaimana Usman mengijinkan dirinya untuk memaafkan pembunuh kejam itu hanya karena ada seorang yang membujuknya untuk mengurungkan hukuman itu. Lalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri; memangnya apa dosa bocah kecil itu?! Bagaiamana Usman bisa mengijinkan dirinya untuk membiarkan darah pembunuh itu tanpat kisas?! Dengan perbuatan itu terbukti bagiku bahwa Usman telah berpaling dari ayat-ayat muhkam Allah Swt., berpaling dari sunnah Nabi-Nya Saw. yang jelas, dan sebaliknya; tunduk terhadap pendapat orang lain dalam hukum kisas!
Dari persoalan ini, begitu pula persoalan-persoalan lain seperti tragedi berdarah Asyura, ketertindasan keluarga suci Nabi saw. dan pengasingan mereka, terbukti bagiku bahwa Ahli Bait as. yang disucikan oleh Allah Swt. dari segala dosa dan noda lebih berhak untuk menjadi khalifah dan pemimpin umat Islam daripada mereka, berpegang teguh kepada selain Ahli Bait as. akan membawa manusia menuju kesesatan.
Oleh karena itu, saya tinggalkan keyakinan yang saya warisi sebelumnya dan saya umumkan diri sebagai pemeluk mazhab Ahli Bait as. pada tahun 1991 di ibukota Balngladesy, Daka.



1. Bangladesy terletak di pusat selatan Asia, penduduknya melebihi 150 juta orang, 87 %nya adalah muslim, adapun selebihnya beragama Hindu, Buda, dan Kristen. Sedangkan jumlah orang syi’ah di sini, walaupun sedikit tapi patut untuk diperhitungkan.
2. Banât Al-Nabî Ummu Robâ’ibih, Sayid Ja’far Murtadha Ameli.
3. Al-Mustadrok, Hakim Nisyaburi, jld. 4, hal. 52 (6845).
4. Talkhîsh Al-Mustadrok li Al-Dzahabî fî Hâmisy Al-Mustadrok: Dzikru Ruqoyyah binti Rosûlillâh Saw.
5. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 15, hal. 234; Al-Ghodîr, Amini, jld. 7, hal. 361.
6. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 3, hal. 17; jld. 15, hal. 119; Manâqib Âli Aî Thôlib, Ibnu Syahr Asyub, jld. 2, hal. 362; Al-Ghodîr li Al-Amînî, jld. 3, hal. 245.
7. Al-Istî‘âb, Ibnu Abdil Bar, biografi Walid bin Aqabah, jld. 4/ 1552 (2721).
8. Al-Ma‘ârif, Ibnu Qutaibah, hal. 194; Al-‘Aqd Al-Farîd, Ibnu Abdu Rabbih, jld. 5, hal. 35; Muhâdhorôt Al-Udabâ’, Raghib, jld. 2, hal. 476.
9. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, menukil dari Waqidi, jld. 3, hal. 30; Al-Syâfî fî Al-Imâmah li Al-Syarîf Al-Murtadhô, jld. 4, hal. 268, menukil dari Waqidi juga; Al-Milal wa Al-Nihal, Syahrestani, jld. 1, hal. 26.
10. Musnad Al-Bazzâr, jld. 6, hal. 344 (2352); Musnad Ahmad, jld. 2, hal. 163 (6520).
11. Al-Mustadrok, Hakim Nisyaburi, jld. 4, hal. 528 (8484); Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah, Ibnu Katsir, jld. 6, hal. 178; Majma‘ Al-Zawâ’id, Haitsami, jld. 5, hal. 242; Al-Sîroh Al-Halabiyah, Halabi, jld. 1, hal. 509.
12. Al-Sîroh Al-Halabiyah, Halabi, jld. 1, hal. 509.
13. Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah, menurut versi riwayat yang lain Sa’id bin Abi Sarah, adalah salah satu orang munafikin yang dibebaskan, saudara sesusu Usman bin Affan, dia masuk Islam kemudian ragu, kafir dan murtad atau keluar dari Islam serta bergabung lagi dengan orang-orang Musyrik di Mekkah. Setelah Fathu Mekkah, Rasulullah Saw. menghalalkan darahnya untuk ditumpahkan, lalu Usman bin Affan datang kepada beliau di masjid dan meminta agar dia dimaafkan, beliau diam saja, Usman mengulangi permintaannya lagi tapi beliau tetap diam saja, lalu Usman mengulanginya lagi untuk ketiga kali, tapi beliau juga tetap diam saja, kemudian beliau bersabda, ‘Dia untukmu.’ Lalu, ketika mereka berdua pergi, beliau bersabda kepada para sahabatnya, ‘Bukankah telah aku katakan bahwa siapa saja yang melihatnya maka hendaknya dia membunuhnya?.
14. Siyar A‘lâm Al-Nubalâ’, Dzahabi, jld. 13, hal. 585; Al-Tsiqôt, Ibnu Habban, jld. 3, hal. 429 (1409).
15. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 17, hal. 230; Al-Aghônî, Abu Faraj, jld. 5, hal. 139; Musnad Ahmad, jld. 1, hal. 144 (1229); Al-‘Aqd Al-Farîd, Ibnu Abdi Rabbih, jld. 5, hal. 57.
16. Al-Târîkh Al-Kabîr, Bukhari, jld. 2, hal. 222 (2268); Siyar A‘lâm Al-Nubalâ’, Dzahabi, jld. 3, 176; Al-Istî‘âb, Ibnu Abdulbar, jld. 1, hal. 259.
17. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, menukil dari Al-Aghônî, jld. 17, hal. 236; Al-Aghônî, Abu Faraj, jld. 5, hal. 146.
18. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 6, hal. 215.
19. Ibid., jld. 6, hal. 216.
20. Ibid.
21. Târîkh Al-Thobarî, jld. 4, hal. 363.
22. Ibid., hal. 362.
23. Ibid., hal. 364.
24. Ibid., hal. 362.
25. Al-‘Aqd Al-Farîd, Ibnu Abdi Rabbih, jld. 5, hal. 36; Al-Thobaqôt, Ibnu Sa’ad, jld. 3, hal. 47; Al-Milal wa Al-Nihal, Syahrestani, jld. 1, hal. 26.
26. Târîkh Al-Thobarî, jld. 4, hal. 362.
27. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 12, hal. 259; Al-Imâmah wa Al-Siyâsah, Ibnu Qutaibah, jld. 1, hal. 43.
28. Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, Pidato Syiqsyiqiyah.
29. Seperti misanannya, Abdullah bin Amir yang diberi kekuasaan atas dua daerah Bashrah dan Persi, sementara dia masih baru berusia 15 tahun dan tidak pernah mengemban tugas pemerintahan sebelumnya. Lihat: Al-Kâmil fî Al-Târîkh, Dzahabi, jld. 3, hal. 99; Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah, Ibnu Katsir, jld. 7, hal. 111.
30. Al-Bad’ wa Al-Târîkh, jld. 5, hal. 203; Ansâb Al-Asyrôf, Baladziri, jld. 6, hal. 161.
31. Al-Istî‘âb, Ibnu Abdil Bar, jld. 3, hal. 1136; Al-Imâmah wa Al-Siyâsah, Ibnu Qutaibah, jld. 1, hal. 51; Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah, Ibnu Katsir, jld. 7, hal. 122; Al-Bad’ wa Al-Târîkh, Maqdisi, jld. 5, hal. 209; Al-Showâ‘iq Al-Muhriqoh, Ibnu Hajar, jld. 1, hal. 335; Ansâb Al-Asyrôf, Baladziri, jld. 6, hal. 163.
32. Al-Mustadrok, Hakim Nisyaburi, jld. 3, hal. 442 (5680), Shohîh, Ibnu Habban, jld. 15, hal. 552 (7076).
33. Fadhô’il Al-Shohâbah, Nasa’i, jld. 1, hal. 50 (166); Al-Mustadrok, Hakim Nisyaburi, jld. 3, hal. 441 (5675); Fadhô’il Al-Shohâbah, Ibnu Hanbal, jld. 2, hal. 860 (1604); Al-Mu‘jam Al-Kabîr, Thabrani, jld. 4, hal. 112 (3832).
34. Al-Thobaqôt, Ibnu Sa’d, jld. 4, hal. 177; Al-Milal wa Al-Nihal, Syahrestani, jld. 1, hal. 26; Al-Showâ‘iq Al-Muhriqoh, Ibnu Hajar, jld. 1, hal. 334; Siyar A‘lâm Al-Nubalâ’, Dzahabi, jld. 2, hal. 77; Al-Istî‘âb, Ibnu Abdulbar, jld. 1, hal. 253; Târîkh Al-Thobari, jld. 2, hal. 107.
35. Sunan Ibnu Mâjjah, jld. 1, hal. 65; Al-Mustadrok, Hakim Nisyaburi, jld. 3, hal. 387 (5467); Sunan Al-Tirmidzî, 134/ 3801; Musnad Ahmad, jld. 2, hal. 175 (6630).
36. Al-Kâmil fî Al-Târîkh, Ibnu Atsir, jld. 3, hal. 139; Târîkh Al-Thobari, jld. 4, hal. 326; Ansâb Al-Asyrôf, Baladziri, jld. 6, hal. 167; Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 3, hal. 42 – 43.
37. Târîkh Al-Thobari, jld. 4, hal. 323; Târîkh Ibnu Kholdûn, jld. 2, hal. 140; Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 2, hal. 129.
38. Al-‘Aqd Al-Farîd, Ibnu Abdi Rabbih, jld. 5, hal. 36; Al-Sîroh Al-Halabiyah, Halabi, jld. 2, hal. 272; Syarh Nahj Al-Balâghoh, Ibnu Abi Hadid, jld. 1, hal. 198; Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah, Ibnu Katsir, jld. 7, hal. 122; Târîkh Abî Al-Fidâ’, jld. 1, hal. 235.
39. Al-Thobaqôt, Ibnu Sa’d, jld. 3, hal. 272; Târîkh Al-Thobarî, jld. 4, hal. 239; Sunan Al-Baihaqî, jld. 8, hal. 108 (16083); Al-Kâmil fî Al-Târîkh, Ibnu Atsir, jld. 3, hal. 70.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
7+4 =