Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apa yang dimaksud dengan Mushaf Fathimah sa.? Apa isinya? Apa mungkin Malaikat Jibril turun kepada selain Nabi? Dimanakah mushaf itu sekarang?


Jawaban:

Untuk memasuki pembahasan ini, ada beberapa poin yang perlu dijelaskan:

1. Esensi Mushaf Fatimah sa.

Di zaman sekarang, kata Mushhaf lebih banyak digunakan untuk makna Al-Qur’an; tapi secara bahasa, kata ini berarti sekumpulan kertas atau lembaran yang terdapat di antara dua jilid, sekarang benda itu lebih sering disebut dengan kitâb atau buku. [1]
Untuk itu, yang dimaksud dengan Mushaf Fatimah adalah kitab atau buku beliau, sebagaimana hal itu tertera juga di dalam literatur hadis Ahli Sunnah. Para perawi seperti Ubai bin Ka’ab juga mendukung realitas keberadaan kitab itu. [2]
Berdasarkan keterangan singkat di atas, kita bisa mengetahui kesalahan orang-orang seperti Iji di dalam kitab Mawâqif, dan Jurjani di dalam kitab Syarh Al-Mawâqif yang menuduh bahwa Syi’ah meyakini Al-Qur’an selain Al-Qur’an yang populer di tengah masyarakat muslim, yaitu Al-Qur’an yang disandarkan kepada Sayidah Fatimah Zahra sa., jelas pernyataan semacam ini sama sekali tidak berlandaskan pada literatur hadis Syi’ah dan rancu dalam mengartikan kata Mushhaf. [3]
Mengenai esensi Mushaf Fatimah, di dalam literatur hadis Syi’ah terdapat banyak riwayat yang menjelaskan isi, ukuran, waktu dan kronologi penulisannya. Sekilas tampak ada pertentangan antara hadis-hadis itu, tapi jika diperhatikan lebih teliti lagi, semuanya terpadu dan bisa dipertemukan. [4]
Sebagian hadis menyebutkan isi Mushaf itu tidak sama dengan isi Al-Qur’an, [5] sebagiannya lagi menyebutkan di dalam Mushaf itu terkandung masalah seperti wasiat Sayidah Fatimah Zahra sa., [6] musibah yang akan dialami keturunan beliau sepanjang zaman, [7] berita tentang kejadian-kejadian yang akan datang, [8] dan tentang raja-raja atau penguasa-penguasa yang akan memerintah di muka bumi [9].
Sebagian hadis yang lain menyebutkan bahwa Mushaf Fatimah sa. memuat seluruh hukum halal dan haram. [10] Menurut sebagian hadis, Imam Ja’far Shadiq as. memberitakan fenomena-fenomena sejarah yang akan datang, seperti kemunculan kaum Zindiq, kemudian beliau menyandarkan berita itu kepada Mushaf Fatimah. [11]
Hadis-hadis itu tidak saling bertentangan; karena, mungkin saja semua kandungan yang tersebut di atas memang ada dalam Mushaf Fatimah, dan masing-msing dari kelompok hadis itu hanya menyinggung sebagian dar isi Mushaf tersebut.

2. Kronologi penulisan Mushaf Fatimah.

Masalah terpenting tentang Mushaf Fatimah ini adalah masa dan kronologi penulisannya serta hubungan Sayidah Fatimah Zahra sa. dengan Malaikat Jibril atau malaikat-malaikat yang lain. Di dalam beberapa hadis disinyalir bahwa, ‘Rasulullah Saw. mendiktekan isi kitab itu, sedangkan Imam Ali as. menuliskannya.’ [12]
Mengenai kenapa kemudian kitab atau Mushaf itu disebut sebagai Mushaf Fatimah adalah karena kitab itu dijaga oleh Sayidah Fatimah Zahra sa., atau karena beliaulah perantara sampainya sebagian isi kitab itu kepada Imam Ali as.
Menurut hadis-hadis yang lain, Mushaf itu adalah hasil dikte dan wahyu langsung Allah Swt. kepada Sayidah Fatimah Zahra. [13] Sebagiannya lagi menerangkan bahwa sepeninggal Rasulullah Saw., Allah Swt. mengutus malaikat kepada Sayidah Fatimah Zahra untuk melipur lara atas kepergian ayahnya; malaikat itu memberitahukan posisi Rasulullah Saw. di surga dan berbicara tentang berbagai hal dengan beliau. Kemudian, Sayidah Fatimah Zahra sa. menukil apa yang telah disampaikan oleh malaikat itu kepada Imam Ali as. dan beliau pun menuliskannya. [14] Ada sebagian hadis yang menegaskan bahwa malaikat yang diutus oleh Allah Swt. untuk datang kepada Sayidah Fatimah Zahra sa. itu adalah Malaikat Jibril. [15]
Di antara hadis-hadis di atas juga tidak ada pertentangan yang tidak mungkin dipertemukan; karena, bisa disimpulkan bahwa Allah Swt. telah mengutus salah satu malaikatnya (Jibril) kepada Sayidah Fatimah Zahra sa. untuk menyampaikan hal-hal tertentu. Kemudian beliau mengisi sebagian kitab atau Mushafnya dengan hal-hal yang beliau terima langsung dari sang ayah; Rasulullah Saw., dan sebgiannya lagi beliau isi dengan hal-hal yang beliau terima langsung dari malaikat utusan Allah Swt. (Jibril).

3. Kemungkinan turunnya Malaikat Jibril.

Kendala lain yang muncul di sekitar hadis-hadis itu adalah berkenaan dengan putusnya hubungan wahyu pasca kepergian Rasulullah Saw. Dengan kata lain, Muslimin berkeyakinan bahwa beliau adalah penutup para nabi dan rasul, maka sepeninggal beliau terputuslah hubungan wahyu antar langit dan bumi. Oleh karena itu, bagaimana mungkin ada malaikat yang turun kepada Sayidah Fatimah Zahra sa. dan berbicara dengan beliau?
Dalam rangka menjawab pertanyaan di atas, harus dikatakan bahwa menurut ayat-ayat Al-Qur’an, turunnya malaikat dan hubungan Allah Swt. dengan selain nabi-Nya melalui malaikat dan wahyu adalah sesuatu yang mungkin terjadi; sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang hubungan antara malaikat dan Siti Maryam, [16] Allah Swt. juga menyebut hubungan-Nya dengan ibu Nabi Musa as. sebagai wahyu. [17]
Ketika hubungan via malaikat atau wahyu dengan wanita-wanita seperti ibu Nabi Musa as. dan Siti Maryam adalah sesuatu yang diterima oleh Al-Qur’an dan Islam, maka kemungkinan hubungan itu terjadi pada Sayidah Fatimah Zahra sa. juga pasti diterima, mengingat bahwa beliau dinyatakan oleh Rasulullah Saw. sebagai penghulu seluruh wanita di alam semesta dari awal sampai akhir zaman.
Yang dimaksud dengan putusnya hubungan wahyu antara langit dan bumi setelah Rasulullah Saw. wafat adalah, putusnya hubungan Allah Swt. dengan seseorang dalam kapasitasnya sebagai nabi atau rasul-Nya; bukan putusnya hubungan Allah Swt. via wahyu atau malaikat secara total dengan manusia.
Menurut hadis-hadis Syi’ah, ada hubungan istimewa antara imam-imam suci Ahli Bait as. dengan Allah Swt., [18] di dalam literatur hadis Ahli Sunnah juga ada sebagian orang yang disebut dengan kata Muhaddats; yakni, orang yang mempunyai hubungan tertentu dengan malaikat dan menerima hadis (pembicaraan) darinya. [19]

4. Dimanakah Mushaf itu sekarang?

Menurut hadis-hadis Syi’ah, Mushaf Fatimah di sepanjang masa ada di tangan para imam suci as.; berpindah dari satu imam ke imam yang selanjutnya, selain mereka tidak ada yang menggapainya. Berdasarkan Mushaf itu terkadang mereka memberitakan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. [20]
Perlu juga diketahui bahwa kitab-kitab yang akhir-akhir ini terbit dengan judul Shohîfah Al-Zahrô’ [21] bukanlah Mushaf Fatimah yang tersebut di atas; karena, kebanyakan isi kitab-kitab itu adalah doa-doa yang disandarkan kepada Sayidah Fatimah Zahra sa., bukan hal-hal yang dijelaskan oleh hadis-hadis Syi’ah sebagai kandungan Mushaf Fatimah.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Husain Jalali, Sayid Muhammad Ridha, Tadwîn Al-Sunnah Al-Syarîfah, hal. 76.
2. As’ad Abud, Shohîfah Al-Zahrô’, hal. 56 – 58.
3. Ma’ruf Hasani, Hasyim, Sîroh Al-A’immah Al-Itsnâ ‘Asyar, jld. 1, hal. 98 dan 99.
4. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihâr Al-Anwâr, (Tehran: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah), jld. 26, hal. 38 dan 48.
5. Ibid., hal. 38 dan 39.
6. Ibid., hal. 43.
7. Ibid., hal. 41.
8. Ibid., hal. 44.
9. Husain Jalali, Sayid Muhammad Ridha, Tadwîn Al-Sunnah Al-Syarîfah, hal. 77.
10. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihâr Al-Anwâr, (Tehran: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah), jld. 26, hal. 37.
11. Ibid., hal. 44.
12. Ibid., hal. 41, 42 dan 49.
13. Ibid., hal. 39.
14. Ibid., hal. 44 dan 48.
15. Ibid., hal. 42.
16. QS. Alu Imran [3.: 42, 43 dan 45].
17. QS. Al-Qashash [28.: 7].
18. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihâr Al-Anwâr, (Tehran: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah), jld. 26, hal. 66 dan 97.
19. A‘yân Al-Syî‘ah, jld. 1, hal. 314 dan 315.
20. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihâr Al-Anwâr, (Tehran: Dar Al-Kutub Al-Islamiyah), jld. 26, hal. 38 – 48.
21. Seperti: As’ad Abud, Shohîfah Al-Zahrô’; Qayyumi Isfahani, Jawad, Shohîfah Al-Zahrô’.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
5+1 =