Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Bolehkah Mengambil Berkah Dari Orang-orang Saleh? [1]


Berkah adalah tambahan, perkembangan, atau keberuntungan. Sedangkan tabaruk berarti meminta berkah pada sesuatu atau mencari berkah melalui sesuatu tersebut. [2] Adapun secara istilah, tabaruk yakni meminta berkah pada atau melalui sesuatu yang dianugerahi Allah swt. berupa keistimewaan dan kedudukan tertentu. Perbuatan ini bisa dalam bentuk sentuhan, ciuman, atau semacamnya seperti mencium tangan Rasulullah saw. saat hidup dan peninggalan beliau setelah wafat.
Tabaruk atau perbuatan mengambil berkah dari orang saleh, penghulu umat, tempat suci, dan lain sebagainya ditentang keras oleh Ibnu Taimiyah dan pengikut Wahabisme karena tergolong perbuatan syirik seperti yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah terhadap berhala sembahannya, mereka menindak tegas siapa saja yang hendak mengambil berkah dari peninggalan para nabi dan orang saleh baik dengan cara mengusap, menempelkan wajah, mencium atau pun yang lain, dan sikap mereka ini menimbulkan perselisihan antara mereka dan muslimin lainnya.
Saleh bin Fauzan, salah seorang mufti Wahabi mengatakan bahwa perbuatan sujud di atas tanah apabila dilakukan dengan tujuan mengharapkan berkah dan kedekatan padanya maka hal tersebut merupakan kesyirikan yang akbar. Adapun jika perbuatan itu dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri pada Allah swt. sambil meyakini keutamaan tanah tersebut – seperti tanah suci Masjidil Haram, Masjidin Nabi dan Masjidil Aqsa –maka hal itu adalah bid’ah… . [3] Ibnu Fauzan menjelaskan tabaruk adalah meminta berkah yang berarti kebaikan dan tambahan, maka sudah barang tentu permintaan harus ditujukan kepada pihak yang memiliki berkah tersebut dan mampu untuk memberikannya, tiada lain yang demikian adanya hanyalah Allah swt. yang menurunkan berkah dan menjamin kelestariannya. Oleh karena itu tabaruk ke tempat suci, peninggalan, bahkan orang hidup atau mati adalah terlarang, sebab itu perbuatan syirik atau … . [4] Menurut Ibnu Atsimain, perbuatan mencari berkah dari kain Ka’bah dan mengusapnya adalah bid’ah dengan alasan tidak ada hadis dari Rasulullah saw. tentang hal ini. [5] Dewan Tetap Mufti-mufti Wahabi menetapkan bahwa perhatian masyarakat terhadap masjid-masjid yang ada dengan mengusap dinding dan mihrabnya serta berharap berkah darinya adalah bid’ah dan merupakan satu bentuk kesyirikan serupa dengan yang dilakukan orang-orang kafir pada zaman Jahiliyah. [6] Fatwa Bin Baz; meletakkan Qur’an di dalam mobil dengan harapan berkah adalah perbuatan yang tidak berasal, tidak berdalil, dan tidak disyariatkan. [7]
Hanya saja, ketika ditimbang dan diselidiki lebih serius ternyata ada beberapa hal yang disepelekan dalam fatwa dan pernyataan di atas:
Hal pertama anggap saja benar tidak ada nash syariat yang secara jelas memperbolehkan tabaruk, akan tetapi menurut syariat perbuatan itu adalah baik karena di dalamnya terkandung pengagungan terhadap syiar-syiar Islam. Sehubungan dengan kuburan selain nabi nanti ada pembahasan tersendiri, adapun mengenai kuburan nabi-nabi hal itu dikarenakan mereka memiliki kehormatan dan kedudukan istimewa yang tidak akan hilang hanya karena mereka telah meninggal dunia. Imam Malik berkata pada Mansur bahwa kehormatan Rasulullah saw. saat beliau meninggal dunia seperti kehormatan beliau saat masih hidup [8]. Maka dari itu Rasulullah saw. ataupun orang-orang saleh tidak akan kehilangan kehormatannya lantaran mereka telah meninggal dunia.
Hal kedua jika memang pengagungan tergolong ibadah dan haram, penghormatan terhadap kuburan dan menciumnya tergolong ibadah dan syirik maka konsekuensinya adalah pengagungan terhadap Ka’bah, amalan thawaf di sekelilingnya, pengagungan terhadap Hajar Aswad, Hijr, Maqom Ibrahim, masjid, atau masyar dan menciumnya, pengagungan terhadap kedua orang tua dan merendah diri di hadapan mereka, perbuatan malaikat sujud kepada Adam, perbuatan saudara-saudara Yusuf as. dan kedua orang tuanya sujud kepada beliau, pengagungan tentara terhadap panglima mereka, pengagungan sahabat dan para khalifah terhadap Rasulullah saw., dan pengagungan pengikut Wahabi terhadap penghulu mereka sendiri juga tegolong syirik dan haram.
Hal ketiga bahwa sejarah para sahabat nabi saw. dan orang-orang saleh menentang pandangan Wahabisme yang mengharamkan perbuatan-perbuatan seperti menyentuh kuburan, menciumnya, menempelkan wajah padanya, dan mencari berkah dari tanahnya.

1. Fatimah Zahra bertabaruk pada tanah kuburan:
Ali bin Abi Thalib as. berkata ketika Rasulullah saw. selesai dikuburkan Fatimah datang dan berdiri di sisi kuburan beliau, kemudian dia mengambil segenggam tanah kuburan dan meletakkan tanah itu di kedua matanya sambil menangis dan melantunkan puisi yang berarti: Apa yang akan terjadi pada orang yang mencium tanah Ahmad (Rasulullah saw.)? jawabnya adalah sepanjang masa dia tidak akan merasakan malapetaka. Sungguh begitu banyak bencana yang menimpaku, andai bencana-bencana itu ditimpakan kepada hari niscaya hari akan berubah menjadi malam. [9]

2. Abu Ayyub al-Anshari bertabaruk pada kuburan Rasulullah saw.:
Dawud bin Abi Shaleh meriwayatkan bahwa suatu hari Marwan berjalan dan mendapati seorang lelaki sedang meletakkan wajahnya di atas kuburan, maka Marwan menarik lehernya seraya berkata: apa kamu tahu apa yang sedang kamu perbuat sekarang? Orang tersebut menghadapkan wajahnya kepada Marwan dan ternyata dia adalah Abu Ayyub al-Anshari, dia menjawab: iya aku tahu apa yang sedang aku lakukan, sungguh aku tidak sedang mendatangi batu melainkan aku sedang mengunjungi Rasulullah saw., aku mendengar beliau bersabda: “jangan kalian tangisi agama ketika dipimpin oleh ahlinya, tapi tangisilah agama ketika dipimpin oleh selain ahlinya” [10]. Hadis ini dinyatakan shahih oleh Hakim dalam Mustadraknya, begitu juga dengan Dzahabi. Subki mengatakan jika silsilah perawi hadis ini benar maka hukumnya perbuatan menyentuh dinding kuburan tidaklah makruh [11]. Amini mengatakan sesungguhnya hadis ini memberitahukan kepada kita bahwa larangan bertawassul (mencari perantara) kepada kuburan-kuburan suci adalah bid’ah Dinasti Umawi [12]. Abu Ayyub mengungkapkan pengalamannya yang lain ketika Rasulullah saw. masuk ke rumah kita maka saya segera mengantarkan hidangan kepada beliau, dan sewaktu saya membawa kembali wadah makan beliau maka saya dan istri mengambil berkah dari makanan yang tersentuh tangan beliau saw. [13]

3. Bilal bertabaruk pada kuburan Rasulullah saw.:
Suatu kala Bilal melihat Rasulullah saw. dalam mimpinya seraya berkata: Hai Bilal! Kenapa sikapmu ini yang lama berpaling dariku? Bukankah sudah tiba waktumu untuk menziarahiku?. Seketika itu pula Bilal terjaga dari tidurnya dalam keadaan sedih, kemudian dia menunggangi kendaraannya dan segera bergerak menuju Madinah, dia mendatangi kuburan Rasulullah saw., menangis, dan menempelkan tubuhnya ke kuburan … [14].

4. Ibnu Umar bertabaruk:
Ibnu Hamlah meriwayatkan bahwa Ibnu Umar sering meletakkan tangan kanannya di atas kuburan mulia Rasulullah saw., begitu juga dengan Bilal yang senantiasa menempelkan pipinya ke kuburan beliau [15].

5. Atha’ bertabaruk:
Mus’ab az-Zubairi berkata dirinya telah mendengar Ibnu Abi Zubair mengatakan bahwa Malik meriwayatkan hadis bahwa aku melihat Atha’ bin Abi Riyah masuk ke dalam masjid dan memeluk mimbar Rasulullah saw. dan kemudian menghadap kiblat [16]. Dzhabi menerangkan bahwa Atha’ adalah seorang imam, syekhul islam, mufti di haram, dia meriwayatkan hadis dari para sahabat, dan penyusun kitab-kitab induk hadis shahih meriwayatkan hadis darinya [17].

6. Ibnu Munkadir [18] (salah seorang tabiin) bertabaruk:
Suatu saat Ibnu Munkadir duduk bersama sahabat-sahabatnya, ketika itu dia terkena penyakit shimat (mulut seakan terbelenggu dan diam untuk masa yang panjang. Lisan al-Arab: 2/55.), maka dia berdiri dan menempelkan pipinya ke kuburan Rasulullah saw., ketika kembali dia dihina karena perbuatannya tadi dan akan mendapatkan bahaya, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, dia mengatakan kalau dirinya mendapatkan kesembuhan berkat kuburan Rasulullah saw. [19]. Dzahabi meriwayatkannya dengan teks yang sedikit berbeda: dia mengatakan kalau dirinya telah minta pertolongan pada kuburan Rasulullah saw. [20]
Muhammad Thahir Makki menjelaskan bahwa perbuatan tabaruk pada peninggalan-peninggalan Rasulullah saw. adalah perbuatan para sahabat yang kemudian dilanjutkan oleh tabiin serta orang-orang yang saleh dan beriman. Selain itu, perbuatan ini sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah saw. dan beliau tidak mengingkari ataupun mencegahnya, sikap beliau ini menjadi bukti pasti akan sahnya perbuatan tabaruk; karena jika memang perbuatan ini tidak diperbolehkan oleh syariat maka beliau pasti telah melarang mereka melakukan tabaruk, apalagi kita tahu bahwa mayoritas sahabat nabi adalah orang-orang yang mempunyai iman yang kuat dan mematuhi perintah serta larangan Rasulullah saw. [21]

PANDANGAN FUQAHA AHLI SUNNAH

1. Fatwa Ahmad bin Hanbal: Ibnu Jamaah pengikut mazhab Syafii menceritakan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dirinya bertanya kepada ayahnya perihal orang yang mengusap mimbar Rasulullah saw. dan berharap berkah dengan sentuhan dan ciumannya terhadap mimbar tersebut, dia juga melakukan hal yang sama terhadap kuburan dengan harapan pahala dari Allah swt., apa hukumnya? Ayahnya menjawab: tidak apa-apa. [22] Dalam kitab al-Ilal disebutkan kalau orang itu menghendaki kedekatan diri pada Allah swt. melalui perbuatan-perbuatan tersebut, ketika itu apa hukumnya? Ahmad bin Hanbal menjawab: tidak apa-apa. [23]
2. Ibnu Ula meriwayatkan suatu saat Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang perbuatan mencium kuburan Rasulullah saw. dan mimbar beliau, maka beliau menjawab tidak apa-apa perbuatan itu dilakukan. Ibnu Ula melanjutkan kalau dia memperlihatkan fatwa ini kepada Ibnu Taimiyah, Ibnu Taimiyah pun terkejut dengan fatwa ini seraya berkata: aku heran pada Ahmad, di sisiku dia adalah besar! Tapi di sisi lain ini adalah ucapan dia!! [24]
3. Fatwa Ramli Syafii: apabila seseorang mendapatkan kuburan nabi, wali, atau orang alim dan kemudian dia mengusap atau menciumnya dengan tujuan mencari berkah, maka ketahuilah perbuatan itu diperbolehkan. [25]
4. Dia juga mengatakan makruh hukumnya mencium dan mengusap peti yang diletakkan di atas kuburan, begitu pula makruh hukumnya mencium pintu gerbang masuk ketika ingin menziarahi kuburan para wali … Akan tetapi apabila perbuatan itu dilakukan dengan tujuan tabaruk maka hukumnya tidak makruh sebagaimana ayah juga berfatwa demikian … Mereka terang-terangan mengatakan bahwa apabila seseorang tidak sanggup mengusap Hajar maka disunahkan bagi dia untuk menunjuk atau menciumnya dengan tongkat. [26]
5. Fatwa Muhibbuddin at-Thabari as-Syafii: boleh hukumnya mencium dan mengusap kuburan, itu adalah perbuatan yang dilakukan juga oleh ulama yang saleh. [27]
6. Fatwa Syihabuddin al-Khofaji al-Hanafi: dalam komentarnya terhadap kitab Syifa ketika penulis sampai pada fatwa yang berbunyi makruh hukumnya mengusap dan mencium serta menempelkan dada ke kuburan dia mengatakan bahwa fatwa ini bukan hal yang disepakati. Oleh karena itu Ahmad dan Thabari mengatakan boleh hukumnya mencium dan memeluk kuburan. [28]
7. Ibnu Abi Shayf al-Yamani, salah seorang ulama Mekkah dan merupakan pengikut mazhab Syafii dinukil darinya bahwa boleh hukumnya mencium Mushaf dan penggalan-penggalan hadis serta kuburan orang-orang saleh. [29]
8. Fatwa Zarqani al-Maliki: hukumnya mencium kuburan mulia adalah makruh kecuali apabila dengan tujuan mencari berkah, dengan kata lain apabila perbuatan bertujuan mencari berkah maka tidak ada lagi larangan makruh. [30]
9. Al-Izami as-Syafii mengomentari perkataan Ibnu Taimiyah “Barangsiapa yang mengelilingi kuburan orang saleh atau mengusapnya maka dia telah melakukan salah satu dosa yang paling besar” sebagai berikut: Ibnu Taimiyah berkata tidak menentu, sesekali dia menyatakan perbuatan itu sebagai dosa besar, dan di lain kali mengatakannya syirik, dan terkadang pula menyebutnya salah satu hal yang serupa dengan itu. Sebetulnya para ulama, peneliti, dan fuqaha sudah sejak lama menyelesaikan pembahasan ini dan membukukannya beberapa abad yang lalu sebelum orang ini dilahirkan, tapi orang ini enggan untuk melakukan sesuatu kecuali menentang mereka semua, bahkan kemungkinan besar dia mengaku adanya ijma’ ulama dalam masalah yang dia katakan, padahal betapa banyak ijma’ yang sudah terjadi sebelum dia ada dan menentang perkataannya. Hal ini diketahui dengan baik oleh siapa saja yang menyelidiki perkataan dia dan perkataan-perkataan ulama sebelumnya atau bahkan juga ulama setelah dia yang menelusuri pendapat-pendapat ulama dan memiliki pemahaman yang benar serta budaya kritik yang sehat. Sebagai contoh perbuatan mengusap kuburan dan mengelilinginya yang sering dilakukan oleh muslimin pada umumnya, dalam hal ini ulama memiliki tiga pendapat: pembolehan secara mutlak, larangan secara mutlak tapi hanya sampai batas makruh yang berat dan tidak sampai batas haram, adapun pendapat yang ketiga adalah harus diperinci antara orang yang didominasi oleh kerinduan berat terhadap objek yang diziarahi dan tidak, adapun dalam kondisi pertama maka hilanglah hukum makruh tersebut, sedangkan untuk orang yang tidak didominasi oleh kerinduan tersebut maka hendaknya dia tinggalkan perbuatan itu. Kalau Anda perhatikan hal-hal yang digunakan Ibnu Taimiyah untuk mengkafirkan muslimin … semuanya kembali pada dua premis; premis mayornya benar yaitu semua ibadah kepada selain Allah swt. adalah syirik … adapun premis minornya salah yaitu semua panggilan terhadap mayit atau sesuatu yang gaib, mengelilingi atau mencium kuburan, menyembelih korban atau nazar untuk penghuni kuburan adalah ibadah kepada selain Allah swt. [31]
10. Ibnu Hajar: Sebagian ulama mengambil kesimpulan dari anjuran syariat untuk mencium Hajar Aswad bahwa boleh hukumnya mencium segala yang layak untuk diagungkan baik itu manusia atau yang lain … . [32]
11. Syekh Ibrahim al-Bajuri as-Syafii: makruh hukumnya mencium dan mengusap kuburan kecuali dengan tujuan tabaruk terhadap mereka (penghuni kuburan), ketika itu maka tidak ada larangan makruh lagi. [33]
12. Syekh Adwi al-Hamzawi al-Maliki mengatakan tidak diragukan lagi bahwa perbuatan mencium kuburan mulia (Rasulullah saw.) tidak lain untuk mencari berkah dari beliau, maka jelas perbuatan itu lebih utama daripada diperbolehkannya mencium kuburan para wali dengan tujuan mencari berkah (yakni, kalau mencium kuburan walia saja diperbolehkan apalagi mencium kuburan Rasulullah saw. [34]

RIWAYAT TENTANG HAL MENCIUM KUBUR

Diriwayatkan dalam kitab Kasyfu al-Irtiyab dari Kifayatu as-Sya’bi, Fatawa al-Ghoro’ib, Matholibu al-Mukminin, dan Khazanatu ar-Riwayah bahwa boleh hukumnya mencium kuburan ayah dan ibu, karena pernah seseorang datang pada Rasulullah saw. seraya berkata wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berjanji untuk mencium ambang pintu surga dan dahi bidadari, maka Rasulullah saw. memerintahkannya untuk mencium kaki ibu dan dahi ayahnya. Dia berkata wahai Rasulullah, bagaimana jika kedua orang tuaku sudah meninggal dunia? Beliau menjawab ciumlah kuburan mereka. Orang itu kembali bertanya bagaimana jika aku tidak tahu di mana kuburan mereka? Beliau menjawab tulislah dua garis, niatkan salah satunya sebagai kuburan ibumu dan yang satu lagi sebagai kuburan ayahmu, setelah itu ciumlah keduanya, dengan demikian maka jangan pernah kamu melanggar sumpahmu. [35]

TABARUK PADA PENINGGALAN-PENINGGALAN

Sejarah umat Islam dari dahulu sampai sekarang mencerminkan tabaruk mereka terhadap mimbar Rasulullah saw., tabaruk pada tempat beliau menunaikan ibadah shalat, tempat pijakan kaki beliau, benda-benda yang beliau sentuh, dan tabaruk pada tanah Madinah khususnya tanah kuburan Sayyidina Hamzah as. Berikut ini beberapa contoh dari catatan sejarah tersebut:

A. Tabaruk pada Mimbar

Dari sejak dulu, mimbar Rasulullah saw. mempunyai kehormatan dan kedudukan tersendiri di sisi orang-orang Islam sehingga sebagian fuqaha menolak untuk bersumpah di atasnya demi pengagungan mereka terhadapnya, selain itu umat Islam juga senantiasa bertabaruk padanya:
1. Bukhari menyebutkan Marwan menghakimi Zaid bin Tsabit dengan sumpah di atas mimbar Rasulullah saw. [36]
2. Aquli setelah menyebutkan mimbar Rasulullah saw. berkata sebenarnya mimbar ini telah usang bersamaan dengan berlalunya zaman, tapi kemudian sebagian khalifah dari Dinasti Abbasi memperbaharuinya kembali, di samping itu sisa-sisa kayu dari mimbar Rasulullah saw. diambil dan dibuat menjadi sisir untuk mengambil berkah darinya sebagaimana mereka (baca: sahabat-sahabat nabi) selalu menganggap penting untuk menyentuhnya. [37]
3. Dalam kitab al-Atsaru an-Nabawiyah disebutkan bahwa mimbar Rasulullah saw. senantiasa berada di posisinya sampai akhirnya terbakar, kebakaran ini merupakan tragedi yang sangat menyedihkan bagi penduduk kota Madinah, karena mereka tidak bisa lagi menyentuh mimbar Rasullah saw. yang biasanya beliau meletakkan tangan penuh berkah di atas mimbar tersebut, mereka juga tidak bisa lagi mengusap tempat pijakan dua telapak kaki beliau yang mulia. [38]
4. Yazid bin Abdullah bin Qasith [39] meriwayatkan dirinya menyaksikan sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. ketika telah menyelesaikan aktivitas di masjid maka mereka menuju mimbar beliau yang mulus dan terletak setelah kuburan beliau di sisi kanan mereka, kemudian mereka menghadap ke arah kiblat sambil berdoa. [40]
5. Syekh Ahmad bin Abdul Hamid – salah seorang tokoh pada abad kesepuluh – menyebutkan bahwa masyarakat selalu bertabaruk pada kayu mimbar Rasulullah saw. [41]
6. Samhudi berkata sesungguhnya di atas mimbar Rasulullah saw. dibuat lapisan mimbar semacam sampul yang kemudian di atasnya ditutupi lagi dengan pakaian dan selanjutnya di buat ruangan khusus, dari sana orang-orang memasukkan tangan mereka ke dalam dan menyentuh mimbar Rasulullah saw. dan mengambil berkah darinya. [42]

Fatwa Fuqaha tentang Hal Mengusap Mimbar

1. Diriwayatkan dari Malik dan Yahya bin Said al-Anshari, syekhnya Malik, begitu pula dari Ibnu Umar dan Ibnu Musayyib bahwa boleh hukumnya mengusap mimbar Rasulullah saw. [43]

2. Adapun hadis dari jalur Ahlulbait as. adalah hadis yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as. berkata: apabila kamu telah selesai berdoa di sisi kuburan nabi saw. maka hampirilah mimbar beliau dan usaplah dengan tanganmu serta raihlah dua bagian bawahnya, usapkan kedua mata dan wajahmu padanya karena sesungguhnya dikatakan bahwa hal itu adalah obat yang dapat menyembuhkan mata. [44]

3. Ishaq bin Ibrahim mengatakan salah satu hal yang harus diperhatikan oleh mereka yang sedang menunaikan ibadah haji adalah berjalan di Madinah dan berniat untuk melakukan shalat di Masjid Nabi saw., tabaruk dengan melihat raudhoh nabi, mimbar, kuburan, dan tempat duduk beliau, benda-benda yang pernah beliau sentuh, tempat-tempat pijakan dua telapak kaki beliau, tiang tempat beliau bersandar di sana dan Malaikat Jibril turun… . [45]

4. Ghazali berkata semua orang yang ditabaruki dengan melihatnya saat masih hidup ditabaruki juga dengan menziarahinya setelah dia wafat, dan boleh hukumnya menyiapkan perjalanan untuk tujuan itu. [46]

B. Tabaruk pada Tanah Kuburan dan Tanah Madinah

Terbukti bahwa muslimin senantiasa mengambil berkah dari tanah kuburan Rasulullah saw., kuburan Hamzah dan dari tanah Madinah pada umumnya, sebagaimana juga ada banyak bukti-bukti tekstual yang menegaskan tanah Madinah adalah obat segala penyakit atau obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta, obat penawar sakit kepala, dan lain sebagainya. Fuqaha juga mengeluarkan fatwa yang membolehkan perbuatan itu bahkan tidak hanya membolehkan tapi juga menganjurkannya:

1. Samhudi mengatakan mereka (baca: sahabat-sahabat nabi) dan selain mereka juga selalu mengambil tanah kuburan Rasulullah saw. sampai akhirnya Aisyah memerintahkan agar kuburan beliau segera diselamatkan dengan dinding penutup. [47]
Disebutkan bahwa alasan kenapa kuburan beliau ditutup dengan dinding tersebut adalah dikhawatirkan apabila perbuatan itu dibiarkan begitu saja maka tanah kuburan beliau akan habis dan kubah mulia beliau pun menjadi rusak. [48]

2. Samhudi setelah menyebutkan perbuatan muslimin yang bertabaruk pada tanah Madinah mengatakan bahwa mereka telah mencoba tanah kuburan Shuhaib (atau Shu’aib; nama tempat di Madinah) untuk mengobati penyakit demam. Kemudian Zarkasyi mengatakan bahwa ada pengecualian dalam larangan membawa tanah Madinah ke tempat lain – mengingat tanah Madinah adalah Haram – yaitu tanah Hamzah, karena semua orang sepakat dan serempak membawanya untuk pengobatan. [49]

3. Shanhaji berkata aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Yakut mengenai tanah kuburan yang biasa dibawa orang-orang untuk mengambil berkahnya, apa boleh melarang perbuatan mereka tersebut? Dia menjawab apa yang mereka lakukan hukumnya adalah boleh, dan sampai sekarang pun mereka senantiasa bertabaruk pada kuburan ulama, syuhada (para syahid yang gugur di jalan Allah swt.), dan orang-orang yang saleh sebagaimana orang-orang terdahulu juga membawa tanah kuburan Sayyidina Hamzah. [50]

4. Ibnu Farhun menyebutkan bahwa orang-orang sekarang mengambil tanah dekat lokasi pemakaman Sayyidina Hamzah dan kemudian dibuat menjadi khiriz yang menyerupai tasbih. Ibnu Farhun menjadikan perbuatan ini sebagai bukti boleh hukumnya membawa tanah Madinah. [51]

Hadis-Hadis tentang Pengobatan dengan Tanah Madinah

1. Samhudi berkata kita telah meriwayatkan hadis yang berbunyi “debu Madinah adalah obat penyakit kusta” dalam kitab Ibnu Najjar dan al-Wafa’u li Ibni Jauzi.

2. Hadis dari Sa’d dalam kitab Jami’u al-Ushul karya Ibnu Atsir menceritakan bahwa ketika Rasulullah saw. pulang dari perang Tabuk, sekelompok orang beriman yang tertinggal datang hendak menemui beliau sehingga menyebabkan debu-debu bertebaran di angkasa, ketika itu maka sebagian orang yang bersama beliau menutup hidung mereka dengan kain tapi sebaliknya Rasulullah saw. membuka cadar dari wajah beliau seraya bersabda: “demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya di debu ini ada obat untuk segala penyakit”.

3. Hadis dari Abu Salamah mengatakan dirinya mendapatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi “debu Madinah dapat memadamkan kusta”.
Kita sendiri menyaksikan orang yang mencari kesembuhan melalui tanah Madinah untuk penyakit kusta yang membahayakan banyak orang, mereka keluar ke timbunan tanah putih yang terletak di Bathhan jalan menuju Quba’, mereka menempelkan tubuh mereka ke tanah dan menjadikannya tempat tidur, hal itu betul-betul bermanfaat bagi mereka.

4. Ibnu Zubalah dan Yahya bin Hasan bin Ja’far Alawi dan Ibnu Najjar – yang mana dua orang tersebut juga melalui jalur dia – meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mendatangi daerah Balharits dan ternyata penduduknya dalam keadaan sangat lemah, betul-betul kelelahan dan seperti orang yang kacau pikiran, maka beliau berkata pada mereka ada apa dengan kalian wahai Bani Harits sampai kelihatan lemah dan kelelahan? Mereka menjawab wahai Rasulullah, kita terkena penyakit demam yang berat. Rasulullah saw. berkata lagi bagaimana hubungan kalian dengan – tanah – Shu’aib? Mereka pun balik bertanya wahai Rasulullah, apa yang bisa kita perbuat dengan Shu’aib? Beliau menjawab kalian ambil tanah Shu’aib lalu tuangkan dalam air dan salah seorang dari kalian meludah di dalamnya seraya menyebutkan kalimat: bismillah, turobu ardhina bi riyqi ba’dhina, syifa’un li maridhina, bi idzni robbina (artinya: dengan nama Allah, tanah bumi kami dengan ludah sebagian dari kami adalah obat bagi orang kami yang sedang sakit dengan izin Tuhan kami). Mereka lakukan hal itu dan akhirnya mereka sembuh dari demam.
Ibnu Najjar Aqabah menyebutkan bahwa Abul Qasim bin Yahya Alawi mengatakan Shu’aib adalah lembah Bathhan setelah Majisyuniyah, di sana terdapat lubang yang biasanya orang-orang mengambil tanah dari situ, dan sampai sekarang pun apabila seseorang terserang wabah maka dia mengambil tanah dari sana.
Ibnu Najjar menambahkan kalau suatu hari dia sendiri melihat lubang tersebut, di saat itu juga orang-orang sedang mengambil tanah dari sana dan mereka menyebutkan bahwa mereka telah mencobanya dan memperoleh kesehatan darinya. Ibnu Najjar berkata aku pribadi juga mengambil tanah dari sana.
Sampai hari ini lubang tersebut masih ada dan dikenal secara turun menurun bahwa masyarakat mengambil tanah dari sana serta membawanya untuk pengobatan, aku juga telah mengirim tanah itu ke sebagian teman, seperti halnya mereka juga menyebutkan tumbuhan Haram untuk pengobatan.
Ketika Zarkasyi menyebutkan larangan memindah tanah Haram kecuali tanah Hamzah as. dengan alasan adanya kesepakatan salaf dan khalaf untuk membawanya dengan tujuan pengobatan dari sakit kepala, maka Samhudi berkata aku heran pada ungkapan Zarkasyi, lalu bagaimana dengan tanah Shu’aib (kenapa dia tidak menyebutkannya juga)?!. [52]

C. Tabaruk pada Logam dan Emas yang disentuh Nabi saw.

1. Jabir bin Abdillah mengisahkan suatu saat aku bersama Rasulullah saw. … pada waktu itu aku mengendarai unta yang tiba-tiba sakit, Rasulullah saw. menghampiriku saat aku berada di urutan terakhir dari rombongan seraya bertanya ada apa denganmu wahai Jabir? Aku pun menjawab kalau untaku sakit, maka beliau meraih ekor unta tersebut dan membentakkannya. Aku terus berjalan dan tidak terasa ternyata aku sudah berada di baris paling depan … ketika kita sudah dekat kota Madinah Rasulullah saw. kembali bertanya padaku bagaimana dengan untamu? Aku menjawab iya seperti ini, Rasulullah saw. berkata kalau begitu jual saja untamu padaku, aku pun menjawab tidak, melainkan unta ini untukmu … beliau berkata tidak, aku membelinya dengan beberapa ons, kendarai saja dulu dan kalau sudah sampai nanti bawa unta itu padaku. Jabir melanjutkan: ketika sampai ke Madinah aku serahkan unta ini dan Rasulullah saw. berkata kepada Bilal “hai Bilal, timbanglah satu ons untuk dia dan tambahkan lagi satu kirat. Jabir menyebutkan ini adalah kirat yang dilebihkan Rasulullah saw. untukku maka aku tidak akan memisahkannya dariku selama-lamanya sampai aku mati. Jabir berkata kalau dia telah menyimpan kirat kenangan itu dalam kantong dan senantiasa bersamanya sampai agressor Syam datang pada hari yang disebut dengan yaumul hurroh, mereka merampas apa saja yang mereka rampas. [53]
Itulah tadi kisah Jabir bin Abdillah al-Anshari seorang sahabat yang bertabaruk pada kirat pemberian Rasulullah saw. – itu pun di saat beliau masih hidup- bahkan dia tegaskan kalau dia akan senantiasa bersama kirat kenangan itu sampai meninggal dunia.

2. Hadis dari salah satu wanita yang keluar bersama Rasulullah saw. ke Khaibar dan memperoleh saham ghanimah perang dari beliau saw., dia berkata aku datang pada Rasulullah saw. bersama kelompok wanita dan kukatakan kepada beliau wahai Rasulullah, kami ingin sekali keluar bersamamu untuk menolong muslimin sekuat tenaga kami, beliau menjawab semoga Allah swt. memberkahi kalian, maka kita pun keluar bersama beliau, dan ketika Khaibar berhasil ditaklukkan beliau memberikan sedikit saham dari ghanimah perang kepada kita, beliau mengambil kalung ini dan meletakkannya di leherku maka demi Allah swt. aku tidak akan memisahkannya dariku selama-lamanya. Bahkan wanita itu mewasiatkan agar kalung itu dimakamkan bersamanya. [54]
Wanita sahabat nabi ini bertabaruk pada kalung yang pernah disentuh oleh tangan mulia Rasulullah saw. dan dia bangga dengan itu bahkan mewasiatkan agar kalung itu dikuburkan bersamanya. Tak seorang pun pada waktu itu yang mengingkari dan melarangnya atau menuduhnya dengan bid’ah, syirik, dan kafir.

D. Tabaruk pada Peninggalan Rasulullah saw.

1. Anas bin Malik berkata suatu saat aku melihat Rasulullah saw. bersama tukang cukur yang sedang mencukur rambut beliau, ketika itu para sahabat mengelilingi beliau berharap bisa merebut rambut beliau sehingga tidak ada satu helai rambut pun dari Rasulullah saw. yang jatuh pada waktu itu kecuali jatuh pada tangan salah seorang sahabat. [55]

2. Hadis dari Muhammad bin Sirin berkata kepada Ubaid: aku memiliki rambut Rasulullah saw. yang kudapat dari Anas, Ubaid pun berkomentar sungguh aku lebih suka memiliki rambut Rasulullah saw. walau hanya sehelai daripada aku memiliki dunia dan seisinya. [56]
3. Kabsyah meriwayatkan suatu saat Rasulullah saw. datang padanya dan minum dari geriba yang tergantung, maka dia segera berdiri menuju geriba itu dan memotong mulut permukaan geriba tersebut. [57] Ibnu Majjah melanjutkan bahwa wanita sahabat nabi itu ingin mendapat berkah dari tempat mulut mulia Rasulullah saw. [58] Tirmidzi menyatakan hadis ini sebagai hadis hasan dan shahih. [59] Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkannya dari Anas dari Ummu Sulaim. [60]

4. Sahl bin Sa’d menukil hadis untuk orang yang berada di sekitarnya bahwa ketika Rasulullah saw. duduk bersama sahabat-sahabatnya di Saqifah Bani Sa’idah beliau memintaku untuk menuangkan air, maka aku keluarkan gelas dan kuberi mereka minum dengan gelas itu. Perawi berkata ketika Sahl meriwayatkan hadis ini dia mengeluarkan gelas itu dan akhirnya kita pun minum dengan gelas tersebut. Perawi juga menyebutkan gelas itu masih bersama Sahl sampai Umar bin Abdul Aziz memintanya dan Sahl pun memberikan gelas itu kepadanya. Bukhari mengatakan kalau dia pernah melihat gelas itu di kota Bashrah dan minum dengannya, dia katakan gelas itu dibeli dari warisan Nadhr bin Anas dengan harga delapan ratus ribu. [61]

5. Tabaruk pada Rasulullah saw.: dalam sebuah riwayat dari Aisyah disebutkan bahwa setiap kali ada bayi yang baru lahir maka bayi itu didatangkan kepada Rasulullah saw. agar beliau memberi berkah kepadanya. [62]

6. Pengobatan dengan jubah Rasulullah saw.: Muslim menukil hadis dari Asma’ binti Abi Bakar … berkata ini adalah jubah Rasulullah saw., dia tunjukkan kepadaku jubah hijau kaisar raja parsia, kerahnya terbuat dari bahan sutera, begitu pula dua sisi jubah itu dijahit dengan bahan sutera. Kemudian Asma’ berkata jubah ini sebelumnya ada di tangan Aisyah sampai akhirnya kupegang, ketika ada padaku maka karena Rasulullah saw. pernah menggunakannya jubah itu kita cuci untuk orang sakit agar berobat dengannya. [63] Anda juga bisa membaca penjelasan tambahan dari Nawawi bahwa Asma’ tetap hidup sampai tahun tujuh puluh tiga hijriah, [64] puteranya Abdullah bin az-Zubair terbunuh dan Aisyah juga meninggal sebelum tahun enam puluh hijriah, itu berarti kisah dia – seorang wanita sahabat nabi – mencari kesembuhan dari jubah Rasulullah saw. berlangsung – sedikitnya – dari tahun enam puluh sampai tahun tujuh puluh tiga hijriah dan disaksikan langsung oleh para sahabat yang lain seperti Husein bin Ali as., Ibnu Abbas, Jabir bin Abdillah, Zaid bin Arqam, dan Anas bin Malik, tidak ada hadis yang mencatat adanya protes atau larangan dari mereka terhadap perbuatan Asma’ tersebut dan itu berarti perbuatan yang dilakukan oleh Asma’ adalah jelas-jelas boleh dan tidak pernah dipermasalahkan. Adapun yang sebenarnya terjadi adalah larangan atau pengharaman hal-hal seperti itu mulai terdengar sejak hari munculnya keanehan-keanehan Ibnu Taimiyah dan setelah itu dilanjutkan oleh aliran putera Abdul Wahab, mulai dari saat itu perbuatan mencari penyembuhan dari jubah Rasulullah saw. atau semisalnya dinyatakan haram dan perbuatan syirik!!! Fatwa pembolehan dihapus (naskh) dengan fatwa al-Harrani!! Maha Suci Allah dari kesalahan-kesalahan ini.
Itulah tadi beberapa contoh dari sejarah Islam tentang tabaruk pada peninggalan Rasulullah saw. Bahkan Bukhari dalam karyanya “Shahih” mengkhususkan satu bab berjudul “peninggalan-peninggalan Rasulullah saw. seperti baju perang, tongkat, pedang, wadah makan, cincin … rambut, sepatu dan … yang setelah beliau wafat ditabaruki oleh para sahabat dan tabiin serta yang lain”. [65] Nawawi dalam komentarnya terhadap kitab Shahih Muslim mengomentari hadis Atban bin Malik yang meminta Rasulullah saw. untuk melaksanakan shalat di tempatnya dengan tujuan nantinya tempat itu akan dia jadikan sebagai musholla pribadinya, bahwa hadis ini memberikan banyak pelajaran di antaranya adalah tabaruk pada orang-orang shaleh itu sendiri, tabaruk pada peninggalan-peninggalan mereka, shalat di tempat-tempat mereka shalat serta mengambil berkah darinya. [66] Ibnu Hajar mengomentari hadis ini bahwa alasan kenapa Rasulullah saw. meminta izin pada waktu itu karena beliau diundang untuk shalat agar tuan rumah bisa bertabaruk pada tempat beliau shalat. Oleh karena itu akhirnya tuan rumah meminta beliau untuk shalat di tempat yang dia inginkan dan sudah dia sediakan sebelumnya. [67] Ungkapan yang sama juga datang dari Qadhi Aini dalam kitab Umdatu al-Qori dan Syekh Shadiq Hasan Khan dalam kitab Aunu al-Bari.

Kisah Fakihani Bertabaruk pada Sandal yang Dinisbatkan pada Nabi saw.

Seorang muhadis bernama Jamaluddin Abdullah bin Muhammad Anshari [68] menceritakan bahwa suatu kala kita bepergian bersama syekh kita Tajuddin al-Fakihani [69] ke arah Damaskus, dia berniat menziarahi sandal Rasulullah saw. yang berada di Darul Hadis al-Asyrafiyah Damaskus, ketika itu saya juga bersamanya, dan ketika Fakihani melihat sandal mulia tersebut maka dia merendahkan kepalanya seraya menciumi sandal itu dan menmpelkan wajah padanya sambil mengucurkan air mata dan berpuisi yang artinya: andai saja dikatakan kepada Majnun apakah engkau memilih Laila dan pertemuan dengannya atau memilih dunia dan apa saja yang ada di dalamnya niscaya dia akan menjawab selayang debu dari tanah pijakan sandal Laila lebih kucintai daripada dunia seisinya untuk diriku dan lebih dapat mengobati malapetaka-malapetaka yang menimpaku. [70]

Kisah Ibnu Umar

Nafi’ mengatakan jika kamu melihat Ibnu Umar saat membuntuti Rasulullah saw. pasti kamu akan berkata dia adalah orang gila. [71] Nafi’ menceritakan bahwa Ibnu Umar senantiasa mengikuti jejak Rasulullah saw. di setiap tempat beliau shalat, bahkan pernah Rasulullah saw. turun dan berteduh di bawah pohon maka sejak itu Ibnu Umar komitmen dengan pohon tersebut, dia selalu menyiraminya dengan air agar jangan sampai pohon itu mengering. [72] Malik meriwayatkan bahwa Ibnu Umar selalu mengikuti urusan Rasulullah saw., jejak dan keadaan beliau, dia sangat perhatian dengan masalah ini dan dikhawatirkan dia akan kehilangan akalnya karena sikap perhatian tersebut. [73] Nafi’ juga menceritakan ketika Ibnu Umar dalam perjalanan menuju Mekkah dia memerintahkan binatang kendaraannya untuk mengulangi langkah-langkahnya seraya berkata: siapa tahu tapak kakimu mengenai tapak kaki kendaraan Rasulullah saw. [74] Ibnu Umar juga selalu bertabaruk pada tempat duduk Rasulullah saw. di mimbarnya. [75] Ibrahim bin Abdurrahman bin Abdul Qari berkata dia pernah melihat Ibnu Umar meletakkan tangannya di atas tempat duduk Rasulullah saw. di mimbar kemudian dia tempelkan tangan itu di wajahnya. [76]

Kisah Muhammad bin al-Munkadir

Muhammad bin al-Munkadir [77] mendatangi sebuah lokasi dari ruang tengah masjid kemudian dia mengusap-usap tubuhnya ke tempat itu dan berbaring di atasnya, maka dia ditanya tentang apa yang dia lakukan tersebut dan dia menjawab sesungguhnya aku melihat Rasulullah saw. di tempat ini. [78]

Kisah Ma’mun

Ma’mun berkata pada Yahya bin Aktsam ada seorang lelaki yang datang padaku dengan membawa potongan kayu atau hal yang serupa dengan itu yang mungkin harganya tidak lebih dari satu dirham, entah orang itu berkata kalau barang yang dia bawa adalah milik Rasulullah saw. atau beliau pernah meletakkan tangan di atasnya atau beliau telah menyentuhnya, meskipun menurutku orang itu bukan orang yang terpercaya dan tidak ada bukti yang menunjukkan kejujurannya akan tetapi karena aku mempunyai minat dan cinta yang sangat kuat maka aku pun menerimanya, aku beli barang itu dari dia dengan harga kurang lebih seribu dinar, dan kemudian aku letakkan di muka dan mataku, aku bertabaruk dengan melihat dan menyentuhnya, aku juga mencari kesembuhan darinya ketika aku atau orang terdekatku sakit, karena itu aku menjaganya seperti aku menjaga diriku sendiri padahal barang itu tidak lain adalah kayu yang tidak berbuat apa-apa dan tidak memiliki keutamaan apa-apa, hanya saja rasa cinta yang muncul karena konon barang itu pernah disentuh Rasulullah saw. membuatku jadi bersikap seperti itu. [79]
Saya tambahkan bahwa Yahya bin Aktsam yang disebutkan dalam cerita di atas adalah salah satu imam sunah dan ulama yang diterima oleh masyarakat pada waktu itu sebagaimana ditegaskan juga oleh Ibnu Katsir. [80] Dia adalah jaksa agung, fakih, allamah, dan imamul ijtihad sebagaimana diriwayatkan oleh Dzahabi. [81]
Itulah Ma’mun yang kadangkala disebut-sebut sebagai orang yang memerintahkan keadilan, mempunyai perilaku yang tersanjung, karakter yang diberkahi, jiwa yang fakih, dan tergolong ulama besar!. Seperti yang Anda perhatikan dia bertabaruk pada benda-benda yang berkaitan dengan Rasulullah saw., dia percaya bahwa perbuatan mencari berkah adalah sah, boleh dan tidak perlu diperdebatkan lagi, bahkan dia menceritakan pengalamannya ini kepada Yahya bin Aktsam yang merupakan salah satu dari ulama’ dan fuqaha terkemuka pada masa itu, Yahya juga tidak menolak perbuatan itu melainkan dia menetapkannya sebagai perbuatan yang boleh untuk dilakukan.

E. Tabaruk pada Batu dari Rumah Fatimah sa.

Yahya bin Ibad meriwayatkan ketika Fatimah puteri Husein beserta suaminya yang bernama Hasan bin Hasan diusir dari rumah siti Fatimah Zahra sa. puteri Rasulullah saw. dan kemudian rumah itu dihancurkan maka Hasan mengirim anak tertuanya bernama Ja’far untuk pergi ke lokasi rumah itu seraya berkata carilah batu yang sifatnya demikian dan demikian, apakah mereka juga memasukkan batu itu ke gedung mereka? Ja’far mengintai mereka sedang membongkar barang-barang yang ada di sana sampai akhirnya mereka keluarkan batu itu, maka Ja’far membeberkan kejadian tersebut pada ayahnya dan setelah mendengar berita itu ayah Ja’far langsung bersujud seraya berkata itu adalah batu tempat Rasulullah saw. shalat setiap kali beliau datang ke rumah puterinya Fatimah sa., atau tempat shalat Fatimah sa. itu sendiri – Yahya bin Ibad agak ragu antara dua hal itu –. Ali bin Musa ar-Ridho mengatakan bahwa di atas dua batu itulah Fatimah Zahra sa. melahirkan kedua puteranya Hasan dan Husein as.. Yahya juga berkata aku tidak melihat di antara kita ada orang yang lebih utama daripada Husein bin Abdullah bin Abdullah bin Husein, setiap kali dia ada keluhan pada tubuhnya maka dia menyingkap kerikil dari batu tersebut lalu mengusapkannya. [82]
Kalau batu itu saja mendapat berkah karena Fatimah Zahra sa. melahirkan kedua puteranya Hasan dan Husein as. di atasnya dan karena dia atau ayahnya Rasulullah saw. shalat di sana, apalagi tanah yang mendekap tubuh Rusulullah saw.? apa tidak pantas untuk dicari berkah darinya dan dilakukan acara doa di sana kepada Allah swt. agar Dia kabulkan segala permintaan?!

F. Tabaruk pada Batu dari Marwah

Razin, maula Ali bin Abdillah bin Abbas, meriwayatkan bahwa Ali menulis surat padanya agar dia kirimkan potongan dari Marwah untuk dijadikan tempat sujud ketika shalat. [83]

G. Kuburan dan Jenazah yang ditabaruki

. Kuburan Sa’d bin Mu’adz. Di dalam riwayat disebutkan ada orang yang mengambil tanah dari kuburan Sa’d dan terus pergi, kemudian ketika dia melihatnya lagi ternyata tanah itu sudah menjadi misik yang wangi. [84]

2. Kuburan Abdullah al-Haddani. Dia terbunuh pada tahun seratus delapan puluh tiga hijriah pada hari yang dikenal dengan yaumu at-tarwiyah. Orang-orang sering mengambil tanah kuburannya seakan tanah itu adalah misik dan mereka letakkan di pakaian yang mereka kenakan. [85]

3. Kuburan al-Kurkhi yang terkenal. Ibnu Jauzi mengatakan jelas-jelas orang bertabaruk pada kuburan al-Kurkhi di Baghdad. Ibrahim al-Harbi mengatakan itu adalah kuburan yang terkenal dan merupakan obat yang mujarab. [86]

4. Kuburan Ahmad bin Hanbal. Dia adalah imam madzhab Hanabilah yang meninggal dunia pada tahun dua ratus empat puluh satu hijriah, kuburannya jelas, terkenal, diziarahi dan juga ditabaruki. [87]

5. Kuburan Khidhr bin Nashr al-Arbali, fakih bermazhab Syafii yang wafat pada tahun lima ratus enam puluh tujuh hijriah. Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Khallikan bahwa kuburan Khidhr bin Nashr selalu diziarahi dan aku sendiri pernah menziarahinya tidak hanya sekali, aku juga melihat masyarakat berduyun-duyun pergi ke sana dan mencari berkah darinya. [88]
Pada akhirnya kalau kita telusuri kehidupan sahabat Rasulullah saw., tabiin, dan muhadditsin (ahli-ahli hadis mencakup perawi atau penyusun buku-buku induk dan rujukan hadis terdahulu) ternyata kita dapati mereka bertabaruk pada peninggalan-peninggalan Rasulullah saw., ada yang bertabaruk pada sehelai rambut beliau, ada juga yang mencari berkah dari permukaan mulut geriba yang menempel mulut beliau, sandal yang beliau pakai, tempat pijakan telapak kaki unta yang beliau kendarai, kayu mimbar beliau berpidato, tanah kuburan beliau dimakamkan, dan seterusnya. Mereka yang bertabaruk juga bukan orang-orang biasa, di antara mereka ada juga sahabat, tabiin, imam-imam hadis, penyusun buku-buku induk hadis Shahih atau Sunan beserta masyikhah mereka, dan juga para faqih.
Setelah menyimak semua ini aneh sekali apabila Ibnu Taimiyah dan pengikut-pengikutnya masih berani mengkafirkan orang yang bertabaruk pada kuburan-kuburan atau khususnya pada kuburan Rasulullah saw., apa Ibnu Taimiyah siap menerima konsekuensi ucapannya yang di antaranya adalah mengkafirkan sahabat Nabi saw, tabiin, penyusun kitab-kitab Shahih dan Sunan, dan segenap fuqaha dari dulu sampai sekarang?!!

6. Kuburan Nur Din Mahmud bin Zanki (w. 569 H). Ibnu Katsir menyebutkan kuburannya yang berada di Damaskus diziarahi orang dan peziarah menggundul kepalanya di jendela lokasi pemakaman, mereka juga mencari pewangian dari kuburan tersebut dan setiap orang yang lewat pasti bertabaruk padanya. [89]

7. Pengikut-pengikut Ibnu Taimiyah juga bertabaruk pada jenazah Ibnu Taimiyah itu sendiri dan bahkan pada air yang digunakan untuk memandikan jenazah tersebut. Perilaku ini menimbulkan pertanyaan apakah pengikut-pengikut Ibnu Taimiyah adalah orang-orang musyrik dan ahli bid’ah – selama mereka tetap meyakini perbuatan tabaruk adalah syirik dan bid’ah – mengingat mereka bersungguh-sungguh untuk menyentuh dan mengusap jenazah Ibnu Taimiyah?! Pertanyaan berikutnya yang muncul apakah yang mengiringi jenazah Ibnu Taimiyah pada waktu itu adalah orang-orang musyrik dan tidak ada seorang muslim pun yang menghadiri jenazah dia?! Atau malah sebaliknya hukum diperbolehkannya perbuatan tabaruk atau mengusap benda-benda mulia merupakan hal yang sejak lama tersimpan dalam hati dan benak umat Islam, sedangkan fatwa larangan dan pengharamannya diyakini sebagai fatwa yang bertentangan dengan kepercayaan umat Islam dan merupakan ucapan yang tidak bersandar pada ajaran-ajaran Allah swt.?
Perlu diketahui bahwa tasyyi’ (pengantaran atau iringan) jenazah Ibnu Taimiyah saat itu ramai sekali sehingga jalan-jalan menjadi sempit karena masyarakat datang berbondong-bondong dari setiap gang dan berdesak-desakan serta berebut untuk melemparkan saputangan dan serban mereka ke tandu mayit demi mendapat berkah darinya, di samping itu kayu ranjang tempat pemandian Ibnu Taimiyah patah lantaran banyaknya orang yang bergantungan padanya bahkan mereka meneguk air yang digunakan untuk memandikan jenazahnya demi mendapat berkah dan keberuntungan … mereka juga membeli bidara yang tersisa setelah pemandian jenazah dan membagi-bagikannya di antara mereka. Dikatakan juga bahwa jahitan penyimpan zibaq (sejenis logam cair) yang digantungkan ke tubuhnya untuk mengusir kutu atau serangga terbeli dengan harga seratus lima puluh dirham. [90]

8. Masyarakat bertabaruk pada kuburan Bukhari. Subki menyebutkan dalam ceritanya tentang kejadian wafat dan proses penguburan Bukhari bahwa tanah kuburannya selalu diambil orang sampai akhirnya liang kuburnya kelihatan, di saat yang sama pada waktu itu penjagaan kuburan dengan pengawal yang standby di sana tidaklah mungkin, tidak ada cara lain bagi kita untuk menjaganya kecuali dengan memasang kayu yang berbentuk jaring atau berbelit sehingga tidak ada lagi orang yang bisa sampai pada kuburan tersebut. [91]

9. Tabaruk pada Yahya bin Mujahid (366 H). Ibnu Basykuwal menyebutkan dia adalah zahid (berarti: orang yang tidak tergantung pada dunia) pada zamannya, nasik (berarti: orang yang senantiasa dalam keadaan beribadah) terkemuka di negerinya, orang yang dimintai berkahnya dan kepada doanya orang meminta tolong atau perlindungan … . [92]

10. Tabaruk pada permadani. Subki menceritakan ketika ayahku tinggal di balairung Darul Hadis al-Asyrafiyah pada tahun enam ratus empat puluh dua hijriah dia keluar ke ruang besar di malam hari menuju peninggalan yang mulia seraya menempelkan mukanya ke permadani, permadani ini sudah ada sejak zamannya Asyraf yang kemudian menjadi nama tempat itu, dulu Nawawi selalu duduk di atasnya saat-saat dia masih mengajar … . [93]

11. Tabaruk pada Dawudi. Dzahabi menukil dari Sam’ani bahwa Dawudi adalah tokoh masyayekh Khurasan … jarak berfarsakh-farsakh pantas untuk ditempuh demi mendapatkan berkah darinya … . [94] Saya katakan bahwa kalimat ini dihapus – dari kitab al-Ansab – demi menghormati keramat Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab serta fatwa-fatwa mereka yang penuh berkah!!!

12. Daru Quthni bertabaruk pada Qawwas. Daru Quthni sendiri mengatakan kita sering bertabaruk pada Abul Fath al-Qawwas di saat dia masih kecil. [95]

13. Tabaruk pada kayu. Dalam sebuah riwayat Muhammad bin Yusuf al-Bukhari al-Hafidz berkata suatu saat kita haji bersama Yahya bin Mu’in dan berhasil memasuki kota Madinah pada malam jumat, tapi tiba-tiba Yahya bin Mu’in meninggal dunia. Di pagi harinya ternyata masyarakat sudah mendengar berita kedatangan dia dan kematiannya sehingga mereka langsung berkumpul, lalu Bani Hasyim datang dan memerintahkan agar kayu-kayu yang digunakan untuk memandikan Rasulullah saw. segera dikeluarkan untuk upacara pemandian Yahya, tapi mayoritas orang pada waktu itu enggan untuk melakukannya sehingga menimbulkan perdebatan, akhirnya Bani Hasyim menegaskan kami lebih dekat pada Rasulullah saw. dan menurut kami Yahya memiliki kelayakan untuk dimandikan di atas kayu-kayu tersebut, dengan demikian maka Yahya dimandikan di atas kayu-kayu yang pernah digunakan saat memandikan Rasulullah saw. dan kemudian jenazahnya dikuburkan pada hari jumat tahun dua ratus tiga puluh tiga hijriah. Abbas ad-Dawriy mengatakan Yahya meninggal dan diusung di atas kayu-kayu Rasulullah saw. [96]

14. Tabaruk pada saluran air. Ghazali berkata dalam tata cara berziarah kepada Rasulullah saw. di antaranya adalah hendaknya peziarah mendatangi sumur Uwais karena disebutkan bahwa Rasulullah saw. meludah di dalam sumur itu, sumur Uwais terletak di sisi masjid, dan hendaknya peziarah berwudhu’ dengan air sumur itu serta meminumnya. Disebutkan juga bahwa masjid dan masyhad di kota Madinah ada pada tiga puluh tempat yang diketahui oleh penduduk setempat, dan hendaknya sebisa mungkin paziarah mengunjungi masing-masing dari tempat itu. Begitu pula hendaknya dia mengunjungi saluran air yang terkadang Rasulullah saw. berwudhu’ di sana dan meminum airnya, sekitar ada tujuh saluran air yang biasanya orang mencari kesembuhan di sana dan juga bertabaruk padanya saw.
Apa penduduk Samarqand yang hidup pada tahun dua ratus lima puluh enam hijriah adalah kafir dan musyrik karena mereka bertabaruk pada kuburan Muhammad bin Ismail al-Bukhari?! Dan apakah dia disucikan, dimandikan, dikafani, dihantar dan dikuburkan oleh orang-orang kafir? Dan apakah semua contoh-contoh yang telah kami berikan dari para sahabat nabi, tabiin, tabiut tabiin (generasi setelah tabiin), dan …. mengabarkan penyimpangan mereka dari ajaran tauhid (peng-Esa-an Allah swt.) kepada kita?!!.
Berani sekali menyerang dan menuduh muslimin seperti ini? Terus ke manakah takwa dan kesucian dalam berbicara? Di manakah posisi pikiran atau anggapan semacam ini dalam ajaran Islam dan sunah Nabi saw.?!!. Menurut hemat kami kiranya cukup sampai di sini dulu bukti-bukti tekstual sejarah yang kami bawakan untuk menunjukkan bahwa perbuatan tabaruk pada kuburan muslimin atau peninggalan-peninggalan mereka adalah termasuk hal-hal yang sudah umum dan biasa dilakukan umat Islam dari sejak zaman Rasulullah saw. sampai sekarang dan tidak ada satu faqih pun yang memberikan fatwa haram untuk perbuatan ini melainkan sebaliknya mereka jelas-jelas membolehkan bahkan menganjurkannya (mustahab).
Perhatikanlah ucapan Dzahabi setelah menukil pengalaman Abdullah bin Ahmad yang berkata aku melihat ayahku mengambil sehelai rambut Nabi saw. kemudian dia letakkan rambut itu di mulut sambil dia ciumi, dia juga meletakkannya di kedua mata lalu memasukkannya ke dalam air dan dia minum air itu untuk mendapat kesembuhan, aku juga pernah melihatnya mengambil mangkuk besar Rasulullah saw. dan mencucinya kemudian dia minum air dengan mangkuk tersebut … . bagaimana mungkin seseorang berani fasih berbicara mengingkari Ahmad di saat terbukti bahwa Abdullah telah bertanya pada ayahnya mengenai orang yang mengusap mimbar Rasulullah saw. dan menyentuh kamar beliau? Dan ayahnya (Ahmad) menjawab perbuatan itu boleh-boleh saja. Semoga Allah swt. melindungi kita dan kalian semua dari pandangan Khawarij dan dari bid’ah-bid’ah.

TABARUK MENURUT PANDANGAN AL-QUR’AN

Al-Qur’an menejelaskan bahwa Allah swt. memberi berkah kepada sebagian orang, ruang dan waktu, dengan sendirinya maka ayat-ayat yang berhubungan dengan berkah ini terbagi pada tiga kategori sebagai berikut:

A. Berkah dalam Person

1. Allah swt. berfirman tentang Nabi Nuh as. dan para pengikutnya:

قِيْلَ يَا نُوْحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَ بَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَ عَلَی اُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ ﴿ هود: 48 ﴾

Artinya: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat dengan (pertolongan) Kami dan beberapa keberkatan atasmu dan atas umat-umat yang bersamamu.” (QS. Hud: 48).
2. Allah swt. berfirman tentang Nabi Isa as.:

وَ جَعَلَنِيْ مُبَارَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُ وَ اَوْصَانِيْ بِالصَّلَاةِ وَ الزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ﴿ مريم: 31 ﴾

Artinya: “Dan Dia menjadikan aku orang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan aku shalat dan zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam: 31).
3. Allah swt. berfirman tentang Nabi Musa as.:

فَلَمَّا جآءَهَا نُوْدِيَ اَنْ بُوْرِكَ مَنْ فِيْ النَّارِ وَ مَنْ حَولَهَا ﴿ النمل: 8 ﴾

Artinya: “Maka tatkala Musa mendatanginya, dia diseru bahwa telah diberkahi siapa yang di dekat api itu dan siapa yang berada di sekitarnya.” (QS. an-Naml: 8).
4. Allah swt. berfirman tentang Nabi Ibrahim as. dan puteranya Ishaq as.:

وَ بَارَكْنَا عَلَيْهِ وَ عَلَی اِسْحَاقَ ﴿ الصافات: 113 ﴾

Artinya: “Dan Kami berkahi atasnya (Ibrahim) dan atas Ishaq.” (QS. as-Shoffat: 113).
5. Allah swt. juga berfirman tentang Ahlulbait Nabi saw. atau Ahlulbait Ibrahim as.:
رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِ اِنَّهُ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ﴿ هود: 73 ﴾

Artinya: “Rahmat Allah dan keberkatan-Nya atas kalian hai ahlulbait, sesungguhnya Dia Maha Terpuji lagi Maya Mulia.” (QS. Hud: 73).

B. Berkah dalam Ruang

1. Allah swt. berfirman tentang Mekkah:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَ هُدًی لِلْعَالَمِيْنَ ﴿ آل عمران: 96 ﴾

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula didirikan untuk manusia adalah (Baitullah) yang ada di Mekkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96).
2. Allah swt. berfirman tentang Masjidil Aqsha dan sekitarnya:

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَی بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَی الْمَسْجِدِ الْاَقْصَی الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ ﴿ الإسراء: 1 ﴾

Artinya: “Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. al-Isra’: 1).

C. Berkah dalam Waktu

Allah swt. berfirman tentang malam Qadar (Lailatul Qodar):

اِنَّا اَنْزَلْنََاهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ ﴿ الدخان: 3 ﴾

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, sesungguhnya Kami adalah memberi peringatan.” (QS. ad-Dukhan: 3).
Di samping itu, perbuatan tabaruk atau mencari berkah dari peninggalan para nabi as. sudah ada dari sejak dulu dan telah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya. Hal ini disinyalir pula oleh al-Qur’an seperti :

1. Allah swt. menceritakan kisah Nabi Ya’qub as. yang bertabaruk pada baju puteranya Nabi Yusuf as.:

اِذْهَبُوْا بِقَمِيْصِيْ هذَا فَاَلْقُوْهُ عَلَی وَجْهِ اَبِيْ يَاْتِ بَصِيْرًا ﴿ يوسف: 93 ﴾

Artinya: “Pergilah kalian dengan (membawa) bajuku ini, lalu letakkanlah ke wajah ayahku niscaya dia akan melihat kembali.” (QS. Yusuf: 93).
Mendengar perintah Nabi Yusuf as. maka saudara-saudaranya pergi membawa pakaian tersebut dan menyerahkannya pada ayah mereka Ya’qub, ayah yang menjadi buta karena terpisah dari anaknya dan karena tangisan yang tiada akhir, ketika saudara-saudara Yusuf datang membawa bajunya maka Ya’qub meletakkan baju tersebut di matanya dan berkat baju itu beliau bisa melihat kembali. Tentu saja Allah swt. mampu memberikan penglihatan secara langsung, namun karena alam ini adalah alam sebab dan akibat dan sebab itu ada yang materi dan juga ada yang maknawi maka kebijakan Allah swt. menetapkan berkah untuk para nabi dan orang saleh serta peninggalan mereka sehingga dapat menambah kepercayaan dan kedekatan masyarakat pada mereka yang berarti masyarakat akan meniru mereka dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.

2. Allah swt. menceritakan Bani Israil yang bertabaruk pada peti yang menyimpan peninggalan-peninggalan keluarga Nabi Musa as. dan Nabi Harun as., kisah itu dimuat ketika al-Qur’an menceritakan nabi Bani Israil yang memberitakan kerajaan Thalut sebagai berikut:

اِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ اَنْ يَاْتِيَكُمْ التَّابُوْتَ فِيْهِ سَكِيْنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَ بَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مَوسَی وَ آلُ هَارُوْنَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ﴿ البقرة: 248﴾

Artinya: “Sesungguhnya tanda kerajaannya itu akan kembali kepada kalian Tabut (peti) yang di dalamnya terdapat yang menenangkan hati dari Tuhan kalian dan peninggalan yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh malaikat.” (QS. al-Baqarah: 248).
Peti (Tabut) inilah yang digunakan oleh ibu Nabi Musa as. untuk melepas beliau di air sesuai dengan perintah Allah swt., peti ini mempunyai kehormatan tersendiri di sisi Bani Israil sampai batas mereka juga bertabaruk padanya. Nabi Musa as. sebelum meninggal dunia menyimpan alwah (papan-papan wahyu) dan baju perangnya serta tanda-tanda kenabian di dalam peti itu dan menitipkannya pada penerus beliau bernama Yusya’. Peti ini kemudian disimpan oleh Bani Israil, dan selama peti itu masih bersama mereka maka mereka senantiasa berada dalam kemuliaan dan kesejahteraan, tapi manakala mereka melakukan dosa dan tidak lagi menghormati peti itu maka Allah swt. menyembunyikan peti tersebut. Setelah berapa lama waktu berlalu, akhirnya mereka meminta peti itu dari salah seorang nabi, lalu Allah swt. menjadikan Thalut sebagai raja mereka dan tanda kerajaan dia adalah peti tersebut.
Zamakhsyari menafsirkan bahwa Tabut itu adalah peti Taurat, dan setiap kali Nabi Musa as. hendak berperang maka beliau mengeluarkannya di hadapan Bani Israil untuk memberi ketenangan kepada mereka dan dengan melihat itu maka mereka tidak bermalas-malasan dalam perang … . [97] Yang jelas bisa disimpulkan dari kisah Qur’an ini adalah Bani Israil juga merupakan umat yang bertabaruk pada peninggalan nabi, yaitu pada Tabut yang ditinggalkan oleh Nabi Musa as.

BERKAH DAN SHALAWAT

Kelompok ayat pertama di atas menjelaskan personal-personal yang diberkahi, dan untuk melengkapi ayat-ayat itu kami mengajak Anda menyimak dua hadis saja dari sekian hadis-hadis Rasulullah saw. yang menegaskan bahwa Muhammad saw. dan Ahlulbaitnya as. adalah manusia-manusia yang diberkahi:

1. Rasulullah saw. mengajarkan kita bagaimana caranya mengucapkan shalawat yang baik dan benar, yaitu:

اَلّلهُمَّ صَلِّ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَی اِبْرَاهِيْمَ، وَ بَارِكْ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَی اِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ... . [98]

Artinya: “Ya Allah, kirimkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana telah Kamu kirimkan shalawat kepada Ibrahim, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kamu telah berkahi Ibrahim di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

2. Cara shalawat yang baik dan benar juga dinukil dalam kitab Shahih Bukhari sebagai berikut:

اَلّلهُمَّ صَلِّ عَلَی مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَ رَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَی اِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ عَلَی آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَی اِبْرَاهِيْم َ [99]

Artinya: “Ya Allah, kirimkanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana telah Kamu kirimkan shalawat kepada Ibrahim dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kamu telah berkahi Ibrahim.”
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Tulisan ini disadur dari dua tulisan berjudul tabaruk yang termuat dalam dua kitab: Rowafidu al-Iman ila Aqo’idi al-Islam, Najmuddin Tabasi, hal. 37-62. Wahabiyat, Ali Asghar Ridhwani, hal. 434-445.
2. Lisanu al-Arob: jilid 10, hal. 390. Sihahu al-Lughoh: jilid 4, hal. 1075. An-Nihayah: jilid 1, hal. 120.
3. Al-Muntaqo min Fatawa as-Syekh Sholeh bin Fauzan: jilid 2, hal. 86.
4. Al-Bidah: hal. 28-29.
5. Majmu’ al-Fatawa li-Ibni Atsimain : no. 366.
6. Al-Lajnatu ad-Da’imatu lil-Buhutsi al-Ilmiyati wa al-Ifta’i: 3091.
7. Fatawa Islamiyah: jilid 4, hal. 29.
8. Kasyfu al-Irtiyab: 343.
9. Irsyadu as-Sari: 3/352. Al-Ithafu lis-Syabrowi: 90. Wafa’u al-Wafa’: 4/104. Masyariqu al-Anwar: 63. Al-Fatawa al-Fiqhiyyah li-Ibni Hajar: 2/18. As-Sirotu an-Nabawiyah: 2/340. Kasyfu al-Irtiyab: 347. Al-Mawahibu al-Laduniyah: 3/400.
10. Mustadroku al-Hakim: 4/560, no. 8571. Wafa’u al-Wafa’: 4/1404.
11. Wafa’u al-Wafa’: 4/1404. Kasyfu al-Irtiyab: 347.
12. Al-Ghodir: 5/15.
13. Al-Bidayah wa an-Nihayah: 3/201. Tarikhu Ibnu Hisyam: 2/144.
14. Siyaru A’lami an-Nubala’: 1/208. Usudu al-Ghobah: 1/208. Syifa’u as-Siqom: 39.
15. Kasyfu al-Irtiyab: 436. Syarhu as-Syifa’: 2/199. Wafa’u al-Wafa’: 4/1405.
16. Siyaru A’lami an-Nubala’: 8/54.
17. Ibid: 5/78.
18. Dzahabi menyebutkan dia adalah imam, hafidz, pemimpin, syekhul islam, dilahirkan pada tahun tiga puluhan, meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw., Sulaiman, Abi Rafi’ dan … . Shihah Sittah juga meriwayatkan hadis darinya. Ibnu Mu’in dan Abu Hatim menyatakan dia sebagai orang yang dipercaya (tsiqoh) … . Siyaru A’lami an-Nubala’: 5/352.
19. Wafa’u al-Wafa’: 2/444. Al-Ghodir: 5/151.
20. Siyaru A’lami an-Nubala’: 3/213. Hal yang menarik perhatian dan juga disayangkan adalah komentator-komentator kitab Siyaru A’lami an-Nubala’ terpengaruh oleh aliran pemikiran Wahabi, oleh karena itu ketika mereka sampai pada hadis-hadis seperti ini mereka langsung mencemarinya tanpa pertimbambangan sebelumnya; kadang kala mereka mengatakan silsilah perawi hadis ini lemah, di kala lain mereka menolaknya dengan alasan berlawanan dengan apa yang mereka anggap sebagai akidah Islam, padahal tidak lain itu adalah pemikiran Wahabisme.
21. Tabaruku as-Shohabah bi Atsari ar-Rosul saw.: 7.
22. Wafa’u al-Wafa’: 4/1414.
23. Al-Jami’u fi al-Ilali wa Ma’rifati ar-Rijal: 3/32, no. 250.
24. Wafa’u al-Wafa’: 3/1414.
25. Dikisahkan oleh Syibromalisi dari Syekh Abi Dhiya’ (w. 1078) dalam kitab Hasyiyatu al-Mawahibi al-Laduniyah dan Kanzu al-Matholib lil-Hamzawi: 219.
26. Ibid.
27. Asna al-Matholib: 1/171. Wafa’u al-Wafa’: 4/1407.
28. Syarhu as-Syifa: 3/171. Wafa’u al-Wafa’: 4/1404. Al-Ghodir: 5/135.
29. Al-Ghodir: 5/153.
30. Syarhu al-Mawahib: 8/315.
31. Furqonu al-Qur’an: 133. Al-Ghodir: 5/154.
32. Wafa’u al-Wafa’: 4/1405.
33. Syarhu al-Fiqhi as-Syafii: 1/276. Al-Ghodir: 5/154.
34. Kanzu al-Matholib: 20. Al-Ghodir: 5/154. Masyariqu al-Anwar: 1/140.
35. Kasyfu al-Irtiyab: 350.
36. Shohih Bukhori: 3/243.
37. Kitabu at-Tabaruk, Allamah Ahmadi: 139.
38. Al-Atsaru an-Nabawiyah: 31.
39. Mereka berkata tentang dia adalah imam, faqih, dan terpercaya. Diriwayatkan pula dari penyusun Sihah Sittah bahwa dia adalah orang yang terpercaya, faqih, sering dimintai perotolongan dalam berbagai pekerjaan karena sifat amanat yang dia miliki dan juga penguasaan dia terhadap ilmu fikih, dia meninggal pada tahun 122 H. (Siyaru A’lami an-Nubala’: 5/266).
40. At-Thabaqotu al-Kubro: 1/13. Wafa’u al-Wafa’: 4/1401.
41. Umdatu al-Akhyar: 135.
42. Wafa’u al-Wafa’: 2/39.
43. As-Shorimu al-Munakka: 132. Wafa’u al-Wafa’: 4/1403. Lihat pula beografi Yahya dalam kitab Siyaru A’lami an-Nubala’: 5/468, dan dalam jilid 8 hal. 54 disebutkan dari Atha’ bahwa dia memeluk mimbar Rasulullah saw. dan kemudian menghadap kiblat.
44. Wasa’ilu as-Syi’ah: 10/270, bab 7, hadis 1.
45. As-Shorimu al-Munakka: 148.
46. Ihya’u al-Ulum: 1/258.
47. Wafa’u al-Wafa’: 1/544.
48. Ibid.
49. Wafa’u al-Wafa’: 1/69.
50. Wafa’u al-Wafa’: 1/161.
51. Wafa’u al-Wafa’: 1/161.
52. Wafa’u al-Wafa’: 1/69.
53. Musnadu Ahmad: 3/314. Sunanu an-Nasa’i: 7/289.
54. As-Sirotu al-Halabiyah: 2/770.
55. Jami’u al-Usul: 4/102. Para sahabat juga berebut untuk mendapatkan tetesan sisa wudlu’ Rasulullah saw. dan digunakan untuk pengobatan. Al-Bukhori: 3/35, no. 187. Tarikhu at-Thobari: 3/275.
56. Ibid.
57. Al-Jami’u as-Shohihu li at-Tirmidzi: 4/306, no. 1492.
58. Sunanu Ibnu Majjah: 2/1132, no. 3423.
59. Al-Jami’u as-Shohihu li at-Tirmidzi: 4/306.
60. Musnadu Ahmad: 3/119.
61. Fathu al-Bari: 101-103.
62. Al-Isti’ab: 1/5 dari Shohih Muslim.
63. Shohihu Muslim: 3/314, kitabu al-libas.
64. Thobaqotu Ibnu Sa’d: 8/255. Al-Mustadroku ‘ala as-Shohihayn: 4/65. Siyaru A’lami an-Nubala’: 2/295.
65. Shohihu Bukhori: jilid. 4, hal. 46.
66. Al-Minhaju fi Syarhi Shohih Muslim: jilid 5, hal 161.
67. Fathu al-Bari: jilid 1, hal.518.
68. Anda bisa lihat beografi dia dalam kitab Mu’jamu al-Muallifin: 6/115.
69. Dalam beografi dia dikatakan dia adalah seorang fakih yang ahli dalam hadis, ilmu usul dan bahasa arab, dia meninggal pada tahun 731 H. salah satu karyanya adalah at-Tuhfatu al-Mukhtarotu fi ar-Roddi ‘ala Munkari az-Ziaroh. (Mu’jamu al-Muallifin: 7/299).
70. Ad-Dibaju al-Mudzahab: 187. Al-Ghodir: 5/155.
71. Siyaru A’lami an-Nubala’: 3/213. Hilyatu al-Awliya’: 1/310.
72. Siyaru A’lami an-Nubala’: 3/213. Usudu al-Ghobah: 3/341.
73. Siyaru A’lami an-Nubala’: 3/213.
74. Siyaru A’lami an-Nubala’: 3/237. Hilyatu al-Alwliya’: 1/310.
75. Wafa’u al-Wafa’: 4/1406.
76. Al-Mughni li-Ibni Qudamah: 3/599.
77. Muhammad bin al-Munkadir dinyatakan sebagai orang yang terpercaya (tsiqoh) oleh Ibnu Mu’in dan Abu Hatim, penyusun-penyusun Shihah Sittah juga meriwayatkan darinya dan mereka berkata bahwa dia adalah hafidz (penghafal), imam, dan dia tergolong tambang kejujuran serta orang-orang saleh berkumpul di sekelilingnya. (Siyaru A’lami an-Nubala’: 5/358).
78. Wafa’u al-Wafa’: 4/1406. Siyaru A’lami an-Nubala’: 5/359. Perlu diketahui bahwa dia melihat Rasulullah saw. di tempat itu di alam mimpi dan bukan saat terjaga, karena dia adalah tabi’I dan tanggal lahirnya sekitar tahun tiga puluhan hijriah.
79. Tarikhu Baghdad karya Thoyfur: 45.
80. Al-Bidayatu wa an-Nihayah: 10/316. dia juga dikenal dengan hal-hal lain yang bisa Anda lihat dalam kitab Siyaru A’lami an-Nubala’: 12/10.
81. Siyaru A’lami an-Nubala’: 10/279, menurut sebagian orang tidak ada pertentangan antara Yahya bin Aktsam adalah orang yang selalu memerintahkan keadilan dan di saat yang sama dia peminum arak: 10/276, meskipun komentator kitab ini berusaha membelanya seperti biasanya dia lakukan di komentar-komentar yang dia tuliskan.
82. Kasyfu al-Irtiyab: 352. Wafa’u al-Wafa’.
83. Wafa’u al-Wafa’: 1/115.
84. At-Thobaqotu al-Kubro: 3/10. Siyaru A’lami an-Nubala’: 1/289. Dia adalah sayyidu al-kabir (tuan agung) Abu Amr al-Anshari yang konon ketika dia mati arsy turut bergetar. Lihat juga pada kitab Siyaru A’lami an-Nubala’: 1/279. di kalangan kita dia adalah sahabat besar, bisa Anda lihat pada kitab Mu’jamu Rijali al-Hadis: 8/91. Tanqihu al-Maqol: 2/21. Mustadrokatu Ilmi ar-Rijal: 4/43.
85. Hilyatu al-Awliya’: 2/258. Tahdzibu at-Tahdzib: 5/310.
86. Shofwatu as-Shofwah: 2/324.
87. Mukhtashoru Thobaqoti al-Hanabilah: 14.
88. Al-Bidayatu wa an-Nihayah: 12/353. lihat juga al-Ghodir: 5/203.
89. Al-Bidayatu wa an-Nihayah: 12/353. lihat juga al-Ghodir: 5/203, bahwa dia adalah sultan pemilik negeri Syam, mereka katakana dia adalah pejuang di Eropa yang senantiasa memerintahkan hal-hal yang baik (baca: ma’ruf), dunia bukanlah apa-apa di mata dia, dan dia berhasil mengembalikan lebih dari lima puluh kota dari kekuasaan orang-orang kafir … al-Bidayatu wa an-Nihayah: 12/306.
90. Al-Bidayatu wa an-Nihayah: 14/136. al-Kuna wa al-Alqob: 1/237.
91. Thobaqotu as-Syafiiyah: 2/233. Siyaru A’lami an-Nubala’: 12/467.
92. Siyaru A’lami an-Nubala’: 16/245.
93. Thobaqotu as-Syafiiyah: 8/396.
94. Siyaru A’lami an-Nubala’: 18/223. Al-Ansab: 2/448.
95. Siyaru A’lami an-Nubala’: 16/475. Tarikhu Baghdad: 14/327.
96. Siyaru A’lami an-Nubala’: 11/91-95.
97. Tafsir Kasyyaf: jilid 1, hal. 293.
98. Shahih Muslim: kitabu as-sholah, babu as-sholatu ‘ala an-nabi saw ba’da at-tasyahhudi, jilid 1, hal. 350, hadis 65.
99. Shahih Bukhori: jilid 3, hal. 119, kitabu at-tafsir, tafsiru suroti al-ahzab.




Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
10+7 =