Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Apakah yang dimaksud dengan bada'? dan apa dalil-dalil yang membuktikan kebenaran bada'?


ARTI DAN DEFINISI

Bada’ (بَدَاء) dalam bahasa Arab berarti kemunculan dan ketersingkapan setelah kesamaran atau ketersembunyian, kata ini juga berarti pengetahuan setelah kebodohan, dan arti yang ketiga untuk kata ini adalah perubahan pendapat. [1] Berkaitan dengan ini Syekh Thusi menuliskan: Bada’ berarti tampak. Oleh karena itu mereka (orang-orang arab) mengatakan bada lana suwrul madinah [2], artinya tembok kota telah tampak bagi kita.
Adapun secara terminologis ulama’ syiah, ahli hadis, dan kalangan teolog bada’ mempunyai makna tersendiri yang berbeda dengan arti-arti di atas sehingga penyandaran makna ini kepada Allah swt. adalah seyogyanya; di sini bada’ berarti menetapkan keberadaan sesuatu dan menghendaki untuk menciptakannya sesuai dengan maslahat tertentu, menghapus ketetapan dan mengadakan sesuatu dalam kondisi dan waktu tertentu, serta menambah atau mengurangi ketika keputusan dan kehendak pasti Ilahi yang tidak bisa diganggu gugat lagi tidak berperan di sana. [3]

URGENSI KAJIAN

Dalam sejarah Islam, penyandaran bada’ kepada Allah swt. termasuk salah satu problem rumit yang selalu mengundang pertikaian pendapat dan kesulitan-kesulitan lain, penyandaran itu sadar atau tidak sadar telah dijadikan alasan bagi kelompok tertentu untuk menuduh golongan syiah kafir dan menganggap bada’ sebagai rembasan intelektual dari yahudi yang konsekuensinya menyifatkan kebodohan kepada Tuhan. Itulah mengapa sepanjang sejarah ulama’ syiah membawakan kajian ini di dalam buku-buku keyakinan dan etika mereka di samping karena urgensi kajian juga demi membela keyakinan dan menepis tuduhan terhadap mereka serta menjawab apa yang sebenarnya. Bahkan sebagian tokoh pengikut syiah menulis buku khusus tentang topik ini yang ada dua puluh lima nama telah disebutkan oleh pengarang kitab adz-Drai’ah ila Tashonifi as-Syi’ahi. [4]

TUDUHAN TAK SEPATUTNYA

Para penentang aliran syiah dan pengikut Ahli Bait as. menuduhkan hal-hal yang tidak sepatutnya kepada mereka dengan bersandarkan pada interpretasi subjektif dan berat sebelah terhadap keyakinan syiah yang dikenal dengan bada’:

1. Bada’ merupakan salah satu dari pemikiran yahudi yang berhasil dipopulerkan oleh Abdullah bin Saba’ [5] di tengah kalangan syiah dan konsekuensi keyakinan itu adalah penyifatan bodoh dan lupa kepada Tuhan yang otomatis membuat mereka jadi kafir dan atheis.

2. Khayyath, salah seorang tokoh Mu’tazilah menuduhkan beberapa pendapat kepada Syiah kemudian berkata: semua orang syiah meyakini bada’ yang artinya adalah Allah memberitahu Diri-Nya akan melakukan sesuatu tapi kemudian terjadi bada’ atau kejelasan pada-Nya yang membuat Dia mengurungkan Diri untuk melakukan sesuatu tersebut … . [6]

3. Abul Hasan Asy’ari (w. 309 HQ.) berkaitan dengan keyakinan kelompok Rafidhah (istilah yang dia juga gunakan untuk menyebut madzhab Syiah) menuliskan: kelompok Rafidhah dalam hal keyakinan terhadap bada’ terbagi pada tiga golongan yakni golongan pertama adalah mereka yang membenarkan bada’ pada Diri Allah swt., yakni ketika Allah swt. hendak melakukan sesuatu perbuatan kemudian Dia mengurungkannya maka itu berarti telah terjadi bada’ pada Diri-Nya; golongan yang kedua adalah mereka yang meyakini apabila Allah swt. mengetahui sesuatu yang Dia sembunyikan dari makhluk-Nya maka di sana bisa berlaku bada’ akan tetapi apabila Dia telah memberitahukannya maka di sana bada’ bukan lagi yang dibenarkan. Bagaimana pun juga kelompok ini tetap membenarkan bada’ pada Diri Tuhan; sedangkan golongan ketiga dari syiah adalah mereka yang sama sekali tidak membenarkan bada’ pada Diri Allah swt. [7] Abul Hasan Asy’ari mengulangi hal yang serupa di bagian lain bukunya.

4. Pengarang buku adz-Dzari’ah setelah menyebutkan arti bahasa bada’dan menjelaskan maksudnya bada’ adalah perubahan pendapat atau dengan kata lain perolehan ilmu baru bagi seseorang yang sebelumnya tidak dia ketahui dan hal ini sering dialami oleh masyarakat mengatakan bahwa oleh karena bada’ dengan arti demikian identik dengan kebodohan dan kelemahan maka tidak mungkin disifatkan kepada Allah swt. dan madzhab Syiah Imamiyah yang – tidak seperti kelompok lainnya – menyucikan Allah swt. dari banyak hal maka secara yakin madzhab ini juga menyucikan Allah swt. dari kebodohan dan kelemahan. Kemudian dia menyimpulkan: oleh karena itu, tuduhan Balkhi dalam tafsirnya terhadap Syiah Imamiyah meyakini bada’ dalam artian yang identik dengan kebodohan dan kelemahan ini sebagaimana terdapat di awal Tibyan adalah fitnah yang sangat besar. [8] Lalu dia menambahkan: bada’ seperti makna yang diyakini oleh Syiah Imamiyah harus pula diyakini oleh setiap orang muslim menentang Yahudi yang mengatakan یَدُ اللهِ مَغلُولَة ; artinya tangan Allah swt. terbelenggu … . [9]
Patut sekali untuk ditanyakan kepada penentang madzhab Syiah: manakah buku syiah kredibel dan diakui dari penulis syiah yang memuat keyakinan seperti ini? Siapa yang menyifati Allah swt. bodoh dan lemah?! Sudah barang tentu para penentang ini tidak memiliki informasi yang benar tentang keyakinan Syiah dan salah dalam memahami konsep bada’ perspektif Syiah, selain itu mereka juga sama sekali tidak tahu tentang madzhab Ahli Bait dan riwayat-riwayat dari penghulu Syiah yang jelas-jelas menegasikan sifat bodoh pada Diri Tuhan dan menyangkal tuduhan terhadap mereka telah menyandarkan sifat bodoh khususnya dalam konteks bada’. Satu contoh, Imam ja’far Shadiq as. bersabda: ingkari dan hindarilah siapa saja yang beranggapan bahwa Allah swt. terjadi bada’ (kejelasan) tentang sesuatu pada Diri-Nya yang tidak Dia ketahui kemarin. [10]
Fakhrur Razi (atau sesuai dengan panggilan sebagian ulama besar adalah imamul musyakkikin yakni pemimpin kelompok skeptikus) menukil ucapan Sulaiman bin Jarir Zaidi dalam buku yang berjudul al-Muhasshol bahwa para imam syiah meninggalkan dua hal untuk para pengikutnya sehingga tak seorangpun dapat mendominasi mereka, dua halitu adalah taqiyah dan bada’. Kemudian dia melanjutkan: mereka menjelaskan bada’ demikian bahwa apabila (imam-imam) mereka berkata kekuasaan akan segera jatuh ke tangan kita tapi hal itu tidak terealisasi maka mereka akan beralasan telah terjadi bada’ pada Diri Allah swt. yang artinya Allah swt. merubah tekad dan kehendak-Nya … . [11]
Khojeh Nashirud Din Thusi menjawab pernyataan Fakhrur Razi tadi dengan ungkapan singkat sebagai berikut: Syiah sama sekali tidak memiliki keyakinan semacam ini. [12] Di samping itu hadis-hadis dari para imam suci as. tentang bada’ menyangkal semua tuduhan yang dialamtkan pada Syiah; di antaranya hadis dari Imam Ja’far Shadiq as. sebagaimana tersebut di atas dan hadis lain dari beliau yang berarti: sesungguhnya Allah adalah Ilmu tanpa kebodohan di dalam-Nya dan Kehidupan tanpa kematian di dalam-Nya serta Cahaya tanpa kegelapan di dalam-Nya. [13] Imam Musa Kadzim as. bersabda: Allah swt. senantiasa mengetahui segala sesuatu sebelum segala sesuatu itu diciptakan. [14] Di lain tempat Imam Ja’far Shadiq as. juga bersabda: barangsiapa yang beranggapan bahwa Allah swt. terjadi bada’ pada-Nya tentang sesuatu yang berarti bada’ penyesalan maka dia di sisi kami tergolong orang yang kafir terhadap Allah Maha Agung. [15] Di hadis lain beliau bersabda: bagi Allah swt. tidak akan pernah terjadi bada’ (kejelasan) akan sesuatu kecuali sebelumnya sudah ada dalam ilmu Dia, sesungguhnya bagi Allah swt. tidak akan terjadi bada’ karena kebodohan. [16]
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as. ditanya oleh seseorang: apakah hari ini terjadi sesuatu yang tidak diketahui oleh Allah swt. kemarin? Beliau menjawab: tidak, siapa saja yang berkata demikian maka Allah swt. akan menghinakannya. Kemudian beliau ditanya: memangnya apa saja yang telah terjadi dan akan terjadi diketahui oleh Allah swt.? Beliau menjawab: tentu demikian, Allah swt. mengetahuinya sebelum diciptakan dan bahkan sebelum segala sesuatu diciptakan. [17]
Dapat dimengerti dari hadis-hadis ini bahwa bada’ dalam artian bodoh tidak mungkin disandarkan kepada Allah swt. bahkan menjadi keharusan bagi semua orang untuk menyangkal dan menjauhi siapa saja yang berkata demikian; karena sebenarnya dia adalah orang kafir!!!. Oleh sebab itu bagaimana mungkin dengan adanya hadis-hadis yang jelas ini mereka menuduh pengikut madzhab Ahli Bait as. sebagai orang yang berkeyakinan Allah swt. tidak mengetahui sebelum terjadinya sesuatu dan baru mengetahui saat sesuatu itu telah terjadi!!.

BADA’ PERSPEKTIF QUR’AN

Kata bada’ sering kali digunakan dalam Qur’an dengan arti tampak dan jelas seperti dalam ayat 47 dan 48 surat az-Zumar, ayat 121 surat Thaha, ayat 34 surat Yusuf, dan ayat 11 surat Fathir. Tapi ada juga ayat-ayat Qur’an yang menjelaskan makna terminologis bada’ itu sendiri, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Surat ar-Ra’du ayat 39:
یَمحُو اللهُ مَا یَشَاءُ وَ یُثبِتُ وَ عِندَهُ اُمُّ الکِتَابِ ﴿ الرعد: 39 ﴾

Artinya: “Allah hapuskan apa saja yang Dia kehendaki dan Dia tetapkan (apa saja yang Dia kehendaki pula) dan di sisi-Nya ada ummulkitab”.
Mufassir-mufassir Ahlisunnah seperti Thabari, Qurthubi, dan Ibnu Katsir setelah menyebutkan ayat ini menukil sebuah riwayat yang isinya suatu saat khalifah kedua Umar bin Khattab thawaf mengeliling rumah Allah swt. seraya berkata: “ya Allah, apabila Kamu sebelumnya mencatatku di golongan orang-orang yang bahagia maka tetapkanlah aku di sana, dan apabila Kamu telah mencatatku di golongan orang-orang yang celaka dan dosa maka hapuslah aku dari sana serta tetapkan aku dalam golongan mereka yang bahagia dan diampuni, karena sesungguhnya Kamu menghapuskan apa saja yang Kamu kehendaki dan menetapkan (apa saja yang Kamu kehendaki pula) serta di sisimu ada ummulkitab.
Ucapan yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud sahabat Rasulullah saw. sebagaimana pula diriwayatkan ucapan yang mirip dari Abu Wa’il [18]. Marhum Allamah Majlisi meriwayatkan sebuah permohonan atau doa – tanpa menyebutkan siapa pemohon atau pendoanya – yang berarti: “apabila sebelumnya aku tergolong orang-orang yang celaka maka hapuslah aku dari golongan mereka dan tulislah tergolong orang-orang yang bahagia, permohonan ini karena Engkau berfirman dalam kitab suci yang Engkau turunkan pada nabi-Mu Muhammad saw.: یَمحُو اللهُ مَا یَشَاءُ وَ یُثبِتُ وَ عِندَهُ اُمُّ الکِتَاب [19] .

2. Surat al-An’am ayat 2:
هُوَ الَّذِی خَلَقَکُم مِن طِینٍ ثُمَّ قَضَی اَجَلاً وَ اَجَلٌ مُسَمًّی عِندَهُ ﴿ الأنعام: 2 ﴾

Artinya: “Dia yang menciptakan kalian dari tanah, sesudah itu Dia menentukan ajal, dan ajal yang ditentukan pada sisi-Nya”.
Kata ajal yang pertama dalam ayat ini berarti dari tempo dari mulai lahir sampai mati, adapun kata ajal yang kedua berarti ajal yang ada pada sisi Allah swt. yang tidak diketahui kecuali oleh Diri-Nya. Andaikan seseorang takut kepada Allah swt. lalu bersilaturahmi maka Allah swt. mengurangi berapa saja yang Dia kehendaki dari umur barzakh orang tersebut dan menambahkan umur dunianya. Sebaliknya apabila dia membangkang atau memutus hubungan silaturahmi maka Allah swt. mengurangi berapa saja yang Dia kehendaki dari umur dunia orang tersebut dan menambahkan umur barzakhnya. [20]
Ibnu Katsir setelah menukil perkataan Ibnu Abbas berkomentar: ucapan Ibnu Abbas ini sesuai dengan riwayat yang dibawakan oleh Ahmad bin Hanbal, Nasa’i, dan Ibnu Majjah. Mereka meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: terkadang seseorang terhalang dari rejeki karena dosa yang dia perbuat, dan tidak ada satupun yang mampu mengembalikan takdir kecuali doa, dan tidak ada selain perbuatan baik yang dapat menambah umur. [21]

3. Surat Yunus ayat 98:
فَلَو کَانَت قَریَةٌ آمَنَت فَنَفَعَهَا اِیمَانُهَا اِلَّا قَومَ یُونُس لَمَّا آمَنُوا کَشَفنَا عَنهُم عَذَابَ الخِزیِ فِ الحَیَاةِ الدُّنیَا وَ مَتَّعنَاهُم اِلَی حِینٍ ﴿ یونس: 98 ﴾

Artinya: “Mengapa tiada beriman (penduduk) suatu negeri lalu imannya memberi manfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka beriman Kami hilangkan dari mereka azab yang hina dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang ditentukan”.
Ayat ini menjelaskan bagaimana siksa yang sebelumnya telah diputuskan bagi kaumnya Nabi Yunus diurungkan karena perbuatan taubat mereka.

BADA’ PERSPEKTIF HADIS SYIAH

Apa yang bisa dimengerti dari hadis-hadis Syiah tentang bada’ khususnya berkaitan dengan ilmu Allah swt. adalah ilmu Allah swt. ada dua macam: yang pertama adalah ilmu tertutup yang khas milik Dzat Rububiyah Allah swt. dan tidak akan pernah mengalami perubahan, dan dari sinilah bada’ bermuara. Abu Bashir meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as. bersabda: sesungguhnya ilmu Allah ada dua macam, yang pertama adalah ilmu tertutup dan tersimpan yang tidak diketahui oleh siapapun selain Diri-Nya dan dari sinilah bada’ bersumber, adapun yang kedua adalah ilmu yang Dia ajarkan kepada malaikat, rasul dan nabi-Nya. [22] Sulaiman Mirwazi juga meriwayatkan hadis yang serupa dengan hadis ini dari Imam Ali Ridho as. [23]
Imam Ja’far Shadiq as bersabda: Allah swt. tidak mengutus seorang nabi kecuali Dia mengambil tiga keriteria darinya yaitu: ikrar akan penghambaan terhadap Allah swt., menghindari arca, kesyirikan dan penyerupaan Allah swt. serta yakin bahwa Allah swt. mendahulukan apa saja yang Dia kehendaki dan menunda apa saja yang Dia kehendaki pula. [24] Diriwayatkan pula oleh Rayyan bin Shalt, salah satu sahabat imam as., bahwa beliau bersabda: Allah swt. tidak mengutus nabi kecuali dia telah mengharamkan minuman keras dan ikrar terhadap bada’ pada Diri Allah swt. [25] Imam Ja’far Shadiq as. bersabda: andaikan masyarakat tahu pahala yang terdapat dalam percakapan seputar bada’ niscaya mereka tidak akan pernah merasa lelah untuk membincangkannya. [26] Zurarah meriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as. bersabda: Allah swt. tidak pernah disembah melalui sesuatu yang sebanding dengan bada’. [27] Hisyam bin Salim meriwayatkan hadis dengan kandungan yang sama dan sedikit perbedaan dalam kata-kata dari Imam Ja’far Shadiq as.: Allah swt. tidak pernah diagungkan melalui sesuatu yang sebanding dengan bada’.[28] Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa: setiap nabi tidak diutus kecuali dia berikrar lima hal di hadapan Allah swt.: bada’, kehendak (Allah), sujud, penghambaan dan ketaatan (pada Allah swt.). [29]
Cukup kiranya untuk mengetahui pentingnya kajian tentang bada’ dalam pandangan Syiah bahwa hampir semua buku teologi Syiah memuat kajian ini dan sebagaimana telah kami informasikan sebelumnya bahwa pengarang kitab adz-Dzari’ah menyebutkan dua puluh lima nama buku dan skripsi yang ditulis khusus mengenai topik ini. [30] Mulla Shadra, filsuf terkemuka Syiah mengatakan bada’ sebagai ideologi, prinsip, dan pendirian imam-imam suci as. [31]

BADA’ PERSPEKTIF LITERATUR HADIS AHLI SUNNAH

Pada pasal sebelumnya yakni bada’ perspektif Qur’an telah kita tunjukkan hadis-hadis dari buku-buku tafsir dan riwayat yang diakui oleh kalangan Ahli Sunnah, dan ternyata semua hadis-hadis Ahli Sunnah tentang bada’ menjelaskan arti bada’ persis seperti yang dipercayai oleh Syiah. Kenyataan lain yang menguatkan keyakinan tentang bada’ adalah termuatnya hadis-hadis ini dalam kitab-kitab induk hadis shahih Ahli Sunnah yang dikenal dengan sebutan shihah, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Ibnu Katsir meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, Nasa’I dan Ibnu Majjah bahwa Rasulullah saw. bersabda: terkadang seseorang terhalang dari rejeki karena dosa yang dia perbuat, dan tidak ada satupun yang mampu mengembalikan takdir kecuali doa, dan tidak ada selain perbuatan baik yang dapat menambah umur. [32]

2. Di dalam kitab Shahih Bukhori, bab tentang perluasan rezeki melalui silaturahmi (juz kedelapan), begitu pula dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: siapa saja yang ingin umurnya panjang dan rezekinya lapang maka hendaknya dia bersilaturahmi. [33]

3. Bukhari juga meriwayatkan dari Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik meriwayatkan dari Rasulullah saw. bersabda: siapa saja yang ingin rezekinya lapang dan umurnya panjang maka hendaknya dia bersilaturahmi. [34]

4. Di dalam Shohih Bukhori bab doa untuk menambah harta dan berkah kepadanya terdapat riwayat dari Umu Sulaim yang berkata kepada Rasulullah saw.: wahai Rasulullah, Anas adalah pembantumu maka mohon doakan dia. Maka beliau berdoa: ya Allah, limpahkan harta dan keturunan kepadanya, dan berkatilah apa yang Engkau anugerahkan kepadanya. [35]

BADA’ PERSPEKTIF TOKOH-TOKOH SYIAH

Syekh Mufid terkadang mengatakan dalam karya-karyanya yang berharga demikian: madzhab Syiah Imamiyah sepakat dalam keyakinan tentang bada’ dan sebenarnya tidak ada perbedaan di antara umat Islam dalam hal penyandaran bada’ kepada Allah swt.; hal ini dapat dibuktikan melalui berbagai bukti-bukti tekstual. [36] Tapi terkadang dia berkata: fuqaha (pakar-pakar fikih) Syiah Imamiyah berijma’ dalam hal bada’, hanya saja bada’ dalam hal pemindahan seseorang dari posisi kenabian ke luar, pemindahan seseorang dari posisi keimaman ke luar atau perubahan orang yang beriman menjadi tidak beriman adalah bada’ yang tidak mungkin disandarkan kepada Allah swt. [37]
Dia berkeyakinan bada’ adalah ketampakan atau kejelasan perbuatan-perbuatan Tuhan yang tidak masuk dalam perkiraan atau perhitungan selain-Nya dan bukan berarti perubahan pendapat Tuhan atau kedatangan ilmu baru bagi Dia yang sebelumnya tidak ada. [38] Menurut Syekh Mufid permasalahan bada’ sudah menjadi kesepakatan umat Islam dan perselisihan kecil yang terjadi hanya berkisar pada kata-kata, adapun selain itu maka mereka tidak berbeda pendapat. Menurut dia keyakinan terhadap bada’ adalah keyakinan terhadap konsep naskh yang diyakini oleh semua orang muslim; seperti kefakiran pasca kekayaan dan pematian pasca penghidupan. [39]
Allamah Majlisi setelah panjang lebar membahas masalah ini berkata: alasan mengapa para imam as. memberikan perhatian ekstra kepada topik ini adalah kejumudan intelektual atau kepercayaan Yahudi yang mengatakan: Tuhan telah selesai dari urusan penciptaan dan pengaturan alam, untuk selanjutnya Dia tidak lagi berurusan dengan sistem pengaturan alam semesta!, Begitu pula karena kepercayaan sebagian dari kelompok Mu’tazilah yang mengatakan: Allah menciptakan tambang, tumbuhan, binatang dan manusia secara sekaligus, sedangkan lebih dulu atau lebih akhirnya sesuatu dari ciptaan-ciptaan itu pada hakikatnya kembali pada kemunculan mereka dan bukan pada kejadian, keberadaan, pengadaan atau penciptaan mereka. Baik Yahudi maupun sebagian kelompok Mu’tazilah tadi telah menyingkirkan Allah swt. dari kekuasaan terhadap alam dan kerajaan-Nya, padahal menurut tuntunan asasi para imam suci Ahli Bait as. Allah swt. senantiasa dalam urusan dan penciptaan: کُلُّ یَومٍ هُوَ فِی شَأنٍ . 40
Syekh Shaduq dalam kitab I’tiqodatnya menyebutkan bahwa orang-orang yahudi mengatakan “Tuhan telah selesai dari urusan penciptaan dan pengaturan alam!” tapi kita mengatakan bahwa Allah swt. setiap saat berurusan, dan tidak ada satu urusan pun yang mencegah Dia dari urusan lain; Dia menghidupkan, mematikan, menciptakan, memberi rezeki, dan melakukan apa saja yang Dia kehendaki, یَمحُو اللهُ مَا یَشَاءُ وَ یُثبِتُ وَ عِندَهُ اُمُّ الکِتَابِ .41 Dan di dalam kitab Tauhid Shaduq menuliskan: bada’ bukan berarti penyesalan sebagaimana anggapan orang-orang bodoh, jelas Allah swt. Maha Suci dan Tinggi dari makna-makna yang seperti ini. [42]
Syekh Mufid dalam syarah (komentar)nya terhadap kitab Aqo’idnya Syekh Shaduq mengatakan: kadang-kadang satu hal sudah ditetapkan untuk sesuatu tertentu tapi secara bersyarat, dan ketika syarat atau kondisi itu berubah maka ketetapan itu juga dapat berubah, Allah swt. berfirman dalam surat al-An’am ayat 2 ثُمَّ قَضَی اَجَلاً وَ اَجَلٌ مُسَمًّی عِندَهُ (Artinya: sesudah itu Dia menentukan ajal dan ajal yang ditentukan pada sisi-Nya.). Berdasarkan ayat ini dapat dikatakan bahwa ajal ada dua macam, pertama adalah ajal yang pasti dan yang kedua adalah ajal bersyarat; yakni ajal yang di dalamnya dapat terjadi penambahan atau pengurangan sebagaimana Allah swt. juga berfirman:
وَ مَا یُعَمَّرُ مِن مُعَمَّرٍ وَ لاَ یُنقَصُ مِن عُمُرِهِ اِلاَّ فِی کِتَابٍ ﴿ فاطر: 11 ﴾

Artinya: “dan tiada dipanjangkan umur seseorang yang panjang umur dan tidak dikurangi umurnya melainkan dalam Kitab” (QS. Fathir: 11).
Anda juga bisa lihat hal yang seirama dalam surat al-A’raf ayat 69 yang bersyarat sesuai dengan ayat 11 dan 12 surat Nuh.
Seperti yang sebelumnya pernah kami bawakan, Syekh Thusi di dalam kitabnya yang berjudul Iddatu al-Ushul mengatakan: bada’ secara bahasa berarti kemunculan atau ketampakan, itulah kenapa orang arab berkata بَدَا لَنَا سُورُ المَدِینَةِ (tembok kota telah tampak bagi kita). Kemudian Syekh Thusi berargumentasi dengan ayat 48 surat az-Zumar dan ayat 11 surat Fathir.
Marhum Majlisi ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan penduduk kota Rey menuliskan pada perkataan Sayid Murtadha: bahwa yang dimaksud dengan bada’ adalah naskh itu sendiri. [43]
Allamah Thaba’ Thaba’i di dalam kitab tafsir al-Mizan berulang kali menyinggung pembahasan tentang bada’, salah satunya ketika dia menafsirkan ayat-ayat tadi dia menukil sebuah hadis dari Imam Ali Ridho as. berkenaan dengan qadha dan qadar yang isinya adalah: selama sebuah keputusan belum ditandatangi oleh Allah swt. dan masih pada tahap takdir (qadar) maka boleh jadi Dia mengurungkan Diri untuk merealisasikan keputusan itu meskipun ilmu dan kehendak-Nya sudah mengarah ke sana, akan tetapi apabila keputusan itu sudah mencapai tahap tanda tangan atau kepastian (qadha) maka tidak mungkin lagi bada’ terjadi di sana. Pada akhir pembahasan Allamah mengatakan: kesimpulan dari pembahasan qadha dan qadar adalah apa saja yang berhubungan dengan qadha adalah pasti dan tidak mungkin berubah, sementara apa saja yang berhubungan dengan qadar adalah masih mungkin berubah, dan sabda Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. yang berbunyi “aku lari dari qadha Allah swt. ke qadar-Nya” ingin menunjukkan masalah ini. [44]

BADA’ DI ALAM NYATA SEPERTI NASKH DI ALAM LEGISLASI

Mayoritas ulama dan teolog Syiah meyakini kesamaan antara bada’ dan naskh. Ibnu Rawandi di dalam kitab al-Fadhihah li al-Mu’tazilahi mengatakan: guru-guru teologi dan para peneliti Syiah meyakini bada’ persis seperti Mu’tazilah meyakini naskh. Perbedaannya hanya terbatas pada kata dan nama, bukan pada inti permasalahan. [45]
Qadhi Abdul Jabbar, tokoh Mu’tazilah, berkata: Mu’tazilah mempercayai naskh dan bada’ karena kehendak Allah swt. mengikuti faktor dan tujuan sehingga pembaharuan – yakni perubahan dalam kehendak Allah swt. – adalah hal yang mungkin terjadi. [46] Dia menjawab bantahan orang lain tentang naskh dengan menegaskan bahwa ini adalah bada’ itu sendiri, apa yang sebenarnya mustahil terjadi pada Allah swt. adalah bada’ dalam ilmu-Nya sementara perubahan dalam kehendak Allah swt. tidak sama dengan perubahan dalam ilmu-Nya.
Seiring dengan itu Syekh Mufid mengatakan perselisihan yang terjadi pada permasalahan bada’ hanya berkutat pada kata yang digunakan, dan sebenarnya bada’ adalah kepercayaan yang diyakini oleh umat Islam atas nama naskh atau sepadannya. [47]
Syekh Shaduq mengartikan bada’ dengan naskh, dan maksud dari kalimat “terjadi bada’ pada Allah swt.” adalah Allah swt. menampakkan perkara naskh (perubahan dan pergantian) kepada hamba-hambanya, dan sama sekali bukan berarti ada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi bagi Allah swt. dan kemudian berubah menjadi tampak jelas bagi-Nya.
Dapat dimengerti bahwa menurut Syekh Shaduq bada’ berarti kemunculan atau kejelasan yang tidak lain adalah naskh itu sendiri. [48] Kendatipun dia mengaitkan bada’ pada kejadian, pembaharuan, penciptaan dan pengadaan Allah swt., dia berkata: hukumnya meyakini bada’ adalah wajib, dan maksud dari bada’ adalah Allah swt. menciptakan sesuatu kemudian membinasakannya dan menciptakan sesuatu yang lain, begitu pula Allah swt. menetapkan syariat tertentu kemudian menghapuskan syariat-syariat yang sebelumnya seperti pergantian kiblat, dan urusan Allah swt. tidak mencegah-Nya dari urusan yang lain. [49]
Syekh Thusi juga mengartikan bada’ dengan naskh dan berkenaan dengan kalimat “terjadi bada’ pada Allah swt.” menurut dia itu penggunaan secara majaz, dia katakan abda berarti adzharo yakni menampakkan; itu berarti Allah swt. menampakkan urusan naskh atau pergantian dan perubahan kepada hamba-hamba-Nya. Dia juga mengatakan bada’ berarti penyesalan dan berpaling dari pendapat pertama atau muncul pendapat baru yang sebelumnya tidak ada, bada’ dengan arti ini digunakan pula oleh al-Qur’an seperti:
ثُمَّ بَدَا لَهُم مِن بَعدِ مَا رَأَوُا الآیَاتِ لیَسجُنَنَّهُ ﴿ یوسف: 35 ﴾

Artinya: “Kemudian muncul pikiran mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf as.)”. (QS. Yusuf: 35).
Adapun karena Allah swt. tidak mungkin mengalami pendapat baru atau perubahan kehendak dan bahkan pada prinsipnya segala bentuk perubahan pada Diri Allah swt. adalah mustahil maka ulama Syiah Imamiyah menolak bada’ dengan arti ini pada Diri Allah swt., oleh karena itu mereka menakwil bada’ yang digunakan untuk Allah swt.
Al-marhum Mudzoffar mengartikan bada’ dengan ketampakan dan kemunculan pendapat baru, tapi dia mengatakan bahwa Maha Suci Allah swt. dari bada’ dengan arti yang seperti ini. [50] Mirdamad, filsuf terkemuka, mengartikan bada’ dengan naskh, dia mengatakan bahwa naskh berlaku pada hukum tasyari’i dan hukum taklifi, sementara bada’ hanya berlaku pada alam nyata, dengan kata lain naskh adalah bada’ legislasi dan bada’ adalah naskh di alam nyata. Mirdamad melanjutkan: pada hakikatnya naskh bukan berarti penarikan hukum dari wadahnya yang nyata melainkan berarti akhir dari hukum tasyri’i dan taklifi serta habisnya masa berlaku hukum tersebut. Adapun hakikatnya bada’ adalah habisnya masa keberadaan sesuatu di alam nyata, berakhirnya iluminasi atau anugerah keberadaan, terbatasnya tempo keberadaan sesuatu tersebut, dan penentuan tempo anugerah keberadaan, dan bukan berarti suatu akibat atau fenomena menghilang dan binasa pada masa keberadaan dan kehadirannya. [51] Majlisi mengaku Sayid Murtadha ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan penduduk kota Rey mengatakan bada’ adalah naskh. [52]

KESIMPULAN

Bada’ merupakan salah satu pendirian ideologi Syiah. Keyakinan ini jelas dan tidak bisa diragukan lagi mengingat bukti-bukti ayat Qur’an dan hadis baik dari Syiah maupun Ahli Sunnah. Tentunya harus diperhatikan bahwa keputusan (qadha) Allah swt. ada dua macam: yang pertama adalah keputusan pasti yang tidak mungkin berubah dan yang kedua adalah keputusan bersyarat yang mungkin berubah sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat 27 surat al-An’am, 35 surat Yusuf, 33 surat Jatsiyah, dan lain-lain.
Sebagian orang beranggapan penggunaan kata bada’ di mana saja berarti penyesalan dan dengan dasar ini pula mereka menuduh Syiah sesat. Tuduhan mereka bisa disebabkan oleh beberapa faktor: faktor pertama adalah kedengkian dan permusuhan mereka terhadap Syiah yang membuat mereka tidak mempedulikan ideologi Syiah yang teliti dan sebenarnya. Faktor kedua, mereka rancu dalam pembahasan sehingga mereka tidak sanggup untuk menyerap pandangan Syiah secara benar dan tepat. Dan faktor ketiga adalah mereka tidak mempelajari jerih payah Syiah untuk menyangkal tuduhan yang tidak benar terhadap Allah swt. berikut juga literatur hadis-hadis sahih dari para imam suci as. dan keuntungan yang dihasilkan dari keyakinan terhadap bada’.
Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Mufrodat; Misbahu al-Munir; al-Munjid; Aqrobu al-Mawarid; dan lain-lain di kategori huruf Ba’.
2. Iddatul Usul.
3. Ogho Buzurg Tehrani, ad-Dzari’ah ila Tashonifi as-Syi’ah, jilid 3, hal 51-57.
4. Ibid.
5. Majlisi, Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 92, dan catatan kaki halaman 92 dan 93.
6. Dzahir Ihsanul Lohi, as-Syi’ah wa as-Sunnahi, hal. 63.
7. Abul Hasan Asy’ari, al-Intishoru wa ar-roddu ‘ala Ibni ar-Rowandi al-Mulihid, hal 14.
8. Adz-Dzari’ah, jilid 3, hal. 51-52.
9. Ibid.
10. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 111; Kulaini, Ushul Kafi, jilid 1, hal. 148.
11. Khojeh Nashirud Din Thusi, Talkhisu al-Muhasshol (Naqdu al-Muhasshol), hal. 221-222.
12. Ibid.
13. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 84.
14. Ushul Kafi, jilid 1, hal. 107, bab tentang sifat-sifat Dzat Allah swt.
15. Mudzoffar, Aqoidu as-Syiah, hal. 22.
16. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 121.
17. Ibid, jilid 4, hal. 92
18. Abu Wa’il adalah Syaqiq bin Muslamah Asadi Kufi, menurut pernyataan kitab Tahdzibu at-Tahdzib jilid 10 halaman 354 dia adalah orang yang terpercaya dan mukhadhram (yakni mengalami dua periode jahiliyah dan Islam), dia meninggal dunia pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz pada usianya yang keseratus tahun.
19. Biharu al-Anwar, jilid 98, hal 162.
20. Tafsir Qurthubi, jilid 9, hal. 329.
21. Muqaddimatu Sunani Ibni Majjah, bab kesepuluh, hadis ke90.
22. Al-Bayan, hal. 387.
23. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 108.
24. Ushulu al-Kafi, jilid 1, hal. 147.
25. Ibid, hal. 148.
26. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 108; Tauhidu Shoduq, hal. 334.
27. Biharu al-Anwar, jilid 1, hal. 107.
28. Ushulu al-Kafi, jilid 1, hal. 146.
29. Tauhidu Shoduq, hal. 333.
30. Adz-Dzari’ah ila Tashonifi as-Syi’ah, jilid 3, hal. 51-53.
31. Mulla Shadra, al-Asfar al-Arba’ah, jilid 6, hal. 398; Mulla Shadra, asy-Syawahidu ar-Rububiyyah, isyraq ke12, masalah ke9, hal. 57.
32. Ibnu Katsir, Muqaddimatu Sunani Ibni Majjah, bab kesepuluh, hadis ke90.
33. Shohih Bukhori, jilid 3, hal. 34; Shohih Muslim, hal 1982, hadis ke20.
34. Fani Isfahani, Bado’ az nadzare Syieh, terjemahan Sayid Muhammad Baqir Bani Sa’id Langarudi, hal. 119-126, menukil dari Shahih Bukhori bab doa.
35. Ibid.
36. Awa’ilu al-Maqolati wa al-Fushuli al-Mukhtaroti wa …
37. Ibid.
38. Al-Masa’il al-‘Akbariyah, hal. 222 dan 224.
39. Awa’ilu al-Maqolat, hal. 92; I’tiqodatu Shoduq, catatan kaki halaman 39.
40. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 129-130.
41. I’tiqodot e Shaduq, terjemahan Muhammad Hasani, hal. 37-38; Aqo’idu as-Shoduq, Hasyiyatu Kitab “Babu Hadi ‘Asyar”, hal. 73.
42. Tauhidu Shoduq, hal. 335.
43. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 129.
44. Allamah Thaba’ Thaba’I, al-Mizan, jilid 19, hal. 13.
45. Dinukil dari Ibnu Khayyath dalam kitab al-Intishor, hal. 92.
46. Al-Mughni, bagian tentang irodah (kehendak Tuhan), hal. 175-176.
47. Awa’ilu al-Maqolat, hal. 92.
48. Tauhidu Shoduq, hal. 335-336.
49. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 124; Hawasyi e Bihar; I’tiqodat e Shaduq, terjemahan Sayid Muhammad Qal’eh Kuhneh, hal. 37-38.
50. Aqo’idu al-Imamiyah, hal. 69.
51. Dinukil dari Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 126-127; al-Bada’ ‘Inda as-Syi’ah, Majalleh e Tahqiqot e Islomi, tahun kedua, penulis artikel: Zaryob Khu’i.
52. Biharu al-Anwar, jilid 4, hal. 129.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
9+5 =